Showing posts with label cerita seks sedarah. Show all posts
Showing posts with label cerita seks sedarah. Show all posts

Saturday, October 25, 2025

Cerita Sexku Bersama Mama Mertuaku Hot

Aku berusia 30 tahun, sebut saja namaku Herman, Pipit istriku Berusia 29 Tahun, Kami baru dikaruniai seorang anak lelaki yang lucu yang ku beri nama Fadli, berusia 2,5 tahun. Pada hari yang sudah kami tentukan aku sekeluarga berangkat ke Kota S. Penumpang kereta Argo Lawu tidak terlalu penuh! Mungkin, dikarenakan hari lMamar masih beberapa hari lagi, jadi aku istri dan anakku lebih leluasa beristirahat selama dalam perjalanan.

Jam 5:30 pagi kereta tiba di stasiun kota S, Kami di jemput Mama mertuaku dan pakde Botak sopir keluarga Mertuaku. Cerita Ngesex Sedarah Mama mertuaku begitu bahagianya dengan kedatangan kami, anak kami Fadli pun langsung dipeluk dan diciumi, maklum anak kami Fadli cucu lelaki pertama bagi keluarga bapak dan Mama mertuaku.



Akhirnya, kami sampai juga di desa LS tempat tinggal mertuaku, suasana desa yang cukup tenang langsung terasa, ditambah lagi rumah mertuaku yang begitu besar, hanya dihuni oleh Bapak dan Mama mertuaku saja. Cerita Ngesex Sedarah kelima anak bapak dan Mama mertuaku semuanya perempuan, dan sudah pada menikah semua! kecuali Adik iparku yang paling bungsu saja yang belum menikah! dan saat ini sedang menuntut ilmu di salah satu perguruan tinggi negri di kota Y.

“Bapak mana Ma? Tanya Pipit istriku”.
“Bapakmu lagi kerumah Bupati, Biasalah paling-paling ngomongin proyek!”, Jawab Mama mertuaku.
Mama mertuaku seorang wanita yang berumur kurang lebih 48 tahun, kulitnya putih bersih. Bapak dan Mama mertuaku menikah disaat usia mereka masih remaja, namun begitu, Mama mertuaku masih tetap terlihat cantik walaupun usianya hampir memasuki kepala lima. Istriku sendiri anak kedua dari 5 bersaudara.

Setelah mandi dan beristirahat kamipun makan pagi bersama. Cerita Ngesex Sedarah Kami bercerita kesana kemari sambil melepas lelah dan rasa rindu kami, tanpa terasa haripun sudah menjelang sore .
Selepas mahgrib bapak mertuaku kembali dari rumah bupati, kami pun kembali bertukar cerita, semakin malam semakin sepi padahal baru jam 8 malam. Maklumlah didesa!
“Ini minum wedang buatan Mama! Biar kalian segar saat bangun pagi harinya”.
Aku, istriku dan bapak mertuaku pun langsung memimum wedang buatan Mama mertuaku.
“Enak sekali Ma! apa ini Tanya Pipit istriku “.
“Itu wedang ramuan Mama sendiri! Gimana, seger kan?”

Kamipun melanjutkan obrolan kami kembali, kurang lebih setengah jam kami ngobrol, rasanya mata ini kok berat sekali. Istiku pamit menyusul anak kami yang sudah duluan tertidur. Aku mencoba bertahan dari rasa ngatuk! dan melanjutkan cerita kami, namun apa daya! rasa ngantuk ini sudah terlalu berat. Akupun pamit tidur pada bapak dan Mama mertuaku.

Sambil menguap aku berjalan menuju kamar tidur kami yang cukup besar, kulihat istri dan anakku sudah tertidur dengan nyenyaknya. Tumben dia nggak nungguin aku? Akupun langsung merebahkan diri karena rasa ngantuk yang begitu berat. Tak lama aku pun langsung tertidur.
Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku merasakan seperti ada yang menciumku, membelaiku, aku mencoba untuk membuka mataku, namun aku tetap tidak sanggup untuk membuka mataku ini. Rasanya seperti ada yang mengganjal dimataku, yang membuat aku terus tertidur.

Aku juga merasakan nikmat saat berejakulasi. Dan Aku berangapan bahwa semua ini hanya mimpi basah saja. Ketika pagi harinya aku terbangun, kulihat istri dan anakku masih lelap tertidur, aku ke kamar mandi untuk kencing! begitu aku melihat kemaluanku, ada bekas sperma kering? Kupegang kemaluanku dan jembutku kok lengket? ketika kucium, aku mengenal betul bau yang begitu kas, bau dari lendir kemaluan perempuan.

Aku berpikir kok mimpi basah ada bau lendir perempuannya?, apa semalam aku diperkosa setan? Saat kami semua sarapan pagi, aku hendak menceritakan peristiwa yang kualami semalam, tapi aku malu, takut ditertawakan, jadi aku diamkan saja peristiwa semalam.
Hari kedua disana, aku, istri dan anakku tamasya ke daerah wisata, kami pulang sudah malam. Cerita Ngesex Sedarah Seperti hari kemarin, setelah ngobrol-ngobrol dan istirahat Mama mertuaku memberi kami wedang buatannya, aku dan istrikupun langsung meminumnya. Herannya kurang lebih 30 menit setelah aku menghabiskan wedang buatan Mama mertuaku, rasa ngantuk kembali menyerang aku dan istriku.
Karena sudah tidak sanggup lagi menahan rasa ngantuk yang begitu sangat, kami berdua pamit hendak tidur, untungnya anak kami sudah tertidur dalam perjalanan pulang.

“Mas aku ngantuk! selamat tidur ya Mas!”.
Langsung istriku merebahkan badan dan tertidur dengan pulasnya. Akupun ikut tertidur. Apa yang kemarin malam terjadi, malam ini terulang kembali. Pagi harinya setelah aku melihat bekas sperma dan bekas lendir perempuan yang sudah mengering dan membuat kusut jembutku, aku bertanya tanya dalam hatiku?, apa yang sebenarnya terjadi?

Hari ketiga, aku tidak ikut pergi jalan jalan!, hanya istri anak serta Mama mertuaku saja yang pelesir ke tempat sanak pamily keluarga istriku. Aku hanya rebahan ditempat tidur sambil melamun dan mengingat kejadian yang kualami selama 2 malam ini. Apa ada mahluk halus yang memperkosaku disaat aku tidur? Kenapa setiap habis meminum wedang, aku jadi ngantuk? Cerita Ngesex Sedarah apa karena suasana desa yang sepi? Padahal aku biasanya kuat begadang, atau karena wedang?

Nanti malam aku coba untuk tidak meminum wedang buatan Mama, batinku. Berbagai pertanyaan muncul dalam benakku, karena lelah akhirnya akupun tertidur. Saat malam menjelang, kami sekeluarga berkumpul dan berbincang bincang. Seperti hari kemarin-kemarin pula, Mama mertuaku memberi kami wedang buatannya. Istri dan bapak mertuakupun sudah menghabiskan minumannya, sementara aku belum meminumnya.

“Kok nggak diminum Mas wedangnya”, tanya Mama mertuaku?
Aku memang mencoba untuk tidak meminum wedang tersebut, walaupun badan segar saat bangun tidur! namun aku berniat untuk tetap tidak memimumnya. Cerita Ngesex Sedarah Karena aku penasaran dengan apa sudah aku alami beberapa hari ini. Saat aku hendak meminumnya aku berpura pura sakit perut, sambil membawa wedang yang seolah olah sedang kuminum aku berjalan kearah dapaur menuju toilet. Padahal sesampainya dikamar mandi, aku langsung membuang wedang tersebut.

Aku berkumpul kembali ke ruang keluarga, kurang lebih tiga puluh menit! kulihat istiku dan bapak mertuaku sudah mengantuk dan berniat untuk tidur. Namun hal itu tidak terjadi denganku, apa karena aku tidak meminum wedang tersebut? Aku masih segar dan belum mengantuk. Aku pun berpura-pura seperti orang mengantuk, kami berdua pamit dan masuk kekamar, istrikupun mematikan lampu kamar dan menyalakan lampu tidur yang cukup nyaman dimata.

“Mas aku ngantuk sekali! Kamu nggak kepengen kan? Besok aja ya Mas! aku ngantuk sekali Mas”
Kukecup kening istriku dan dia pun langsung tertidur.
Aku masih melamun, Cerita Ngesex Sedarah kenapa hari ini aku tidak mengantuk seperti biasanya? Apa karena aku tidak meminum wedang buatan Mama? Hampir setengah jam setelah istriku terlelap, tiba-tiba aku mendengar suara langkah kaki menghampiri kearah kamarku! Langsung aku pura-pura tertidur. Kulihat ada yang membuka pintu kamarku, saat kubuka sedikit kelopak mataku ternyata Mama mertuaku! Mau apa beliau? Aku terus pura-pura tertidur. Untung lampu tidur dikamar kami remang-remang jadi ketika aku sedikit membuka kelopak mataku tidak terlihat oleh Mama mertuaku.

Deg.. jantungku berdebar saat Mama mertuaku menghampiriku, langsung mengelus elus burungku yang masih terbungkus celana pendek. Aku hendak menegurnya, namun rasa penasaran dengan apa yang terjadi 2 hari ini dan apa yang akan dilakukan Mama mertuaku membuat aku terus berpura-pura tertidur.

Mama mertuaku pun langsung menurunkan celana pendek serta celana dalamku tanpa rasa canggung atau takut kalau aku dan istri ku terbangun, atau mungkin juga mertuaku sudah yakin kalau kami sudah sangat nyenyak sekali.

Blass lepas sudah celanaku! Aku telanjang, jantungkupun makin berdebar, aku terus berpura-pura terdidur dengan rasa penasaran atas perbuatan Mama mertuaku. Aku menahan napas saat Mama mertuaku mulai menjilati dan mengulum kemaluanku, hampir aku mendesih, aku mencoba terus bertahan agar tidak mendesis dan membiarkan Mama mertuaku terus melanjutkan aksinya. Kemaluanku sudah berdiri dengan tegaknya, Mama mertuaku dengan asiknya terus mengulum kemaluanku tanpa tahu bahwa aku tidak tertidur. Jujur aku akui, bahwa aku juga sebenarnya sudah sangat terangsang sekali. Ingin rasanya saat itu juga, aku bangun, langsung menerkam, mencumbu dan menyetubuhi Mama mertuaku.

Kutahan semua gejolak birahiku, dan ku biarkan Mama mertuaku terus melanjutkan aksinya. Tiba-tiba Mama mertuaku melepas kulumannya dan bangkit berdiri, aku terus memperhatikannya, dan bless.. Cerita Ngesex Sedarah mertuaku melepas dasternya, ternyata dibalik daster tersebut mertuaku sudah tidak memakai BH dan celana dalam lagi.

Aku sangat berdebar, dag.. dig.. dug suara jantungku saat menyaksikan tubuh telanjang Mama mertuaku, apalagi ketika Mama mertuaku mulai naik ketempat tidur, langsung mengangkangiku tepat diatas burungku, makin tak karuan detak jantungku.
Digemgamnya kemaluanku, diremas halus sambil dikocok-kocok perlahan, kemudian di gesek-gesekan ke memek Mama mertuaku.

Aku sudah tidak tahan lagi! Ingin rasanya langsung kumasukan kontolku! Sambil berjongkok, burungkupun diarahkannya kelubang surga Mama mertuaku! perlahan-lahan sekali beliau menurunkan pantatnya memasukan burungku ke memeknya! sambil memejamkan mata menikmati mili demi mili masuknya burungku ke sarangnya.
“Ahh.. ahh nikmat”, jerit mertuaku, saat semua burungku telah amblas masuk tertelan memek Mama mertuaku.

Sambil terus berpura-pura tertidur aku menahan gejolak birahiku yang sudah memuncak.
“Ahh.. Mama mertuaku menjerit tertahan saat beliau mulai naik turun bergoyang menikmati rasa nikmat yang beliau rasakan.
Mama mertuaku terus menjerit, mendesah, Cerita Ngesex Sedarah tanpa takut aku, istri dan anakku atau bapak mertuaku terbangun.
Mama mertuaku terus bergoyang naik turun. Belum beberapa lama menaik turunkan pantatnya, tubuh Mama mertuaku mengejang.
“Ahh nikkmatt”, jerit panjang Mama mertuaku.

Rupanya Mama mertuaku baru saja mendapatkan orgasmenya.
Mama mertuaku langung rebah menindih tubuhku mencium bibirku membelai kepalaku seperti, seorang istri yang baru saja selesai bersetubuh dengan suaminya, aku langsung membuka mataku.
“Jadi selama ini aku tidak bermimpi! dan tidak pula tidur dengan mahluk halus!”.
Mama mertuaku bangkit karena kaget

“Mass ka.. mu ndak ti.. dur? kamu nggak meminum wedang yang Mama bikin?”.
“Tidak Ma! aku tidak meminumnya”, Cerita Ngesex Sedarah Mama mertuaku salah tingkah dan serba salah! mukanya memerah tanda beliau mengalami malu yang sangat luar biasa.
Aku bangkit dan duduk ditepi ranjang,
“Mass..”, Mama mertuaku menangis sambil duduk dan memeluk kakiku.
“Ammpuni Mama, Mass”.

Aku merasa kasihan melihat Mama mertuaku seperti itu, karena aku sendiripun sudah sangat terangsang akibat permainan Mama mertuaku tadi.
“Ma aku belum tuntas!”, aku angkat mertuaku, aku peluk, kucium bibirnya.
“Sudah Ma, jangan menangis!, aku juga menikmatinya kok Ma!”.
Kulepas bajuku, kami berdua sudah telanjang bulat, kupeluk Mama mertuaku dan kamipun berciuman dengan buasnya.

“Ahh Mas.. nikmat.. Mas..”, saat kuhisap dan kuremas tetek mertuaku yang sudah kendur..
“Ah.. Mas nikmat..”, kutelusuri seluruh tubuhnya, dari teteknya, terus kuciumi perutnya yang agak gendut.
“Ahh Mass”, jeritnya, saat kuhisap kemaluannya, kujilati itilnya sambil ku gigit gigit kecil.
Dua jarikupun terbenam di dalam memek Mama mertuaku, Cerita Ngesex Sedarah jeritan mertuaku makin tak terkendali, apalagi disaat dua jariku mengocok dan menari-nari dilubang memeknya dan lidahku menari nari di itilnya.
“Ahh.. Mass Mama mau keluar lagi.. ahh! Mama keluarr!, aarrgghh”, jerit Mama mertuaku.
Tanpa sadar kaki mertuaku menjepit kepalaku! Sampai sampai aku tidak bisa bernapas.
“Enak Ma?”

“Enak sekali Mas”. Kucium kembali mertuaku.
“Ma.. apa Pipit nanti nggak bangun?”
“Tenang Mas! Wedang itu merupakan obat tidur buatan Mama yang paling ampuh!”
“Tidak berbahaya Ma?”
“Tidak Mas”
Kugeluti kembali mertuaku.. kucium.. kuhisap teteknya. Cerita Ngesex Sedarah Kucolok-colok memeknya dengan dua jari saktiku.
“Oohh Mass masukin Mass Mama sudah nggak tahan lagi.. Mas”.
Dengan gaya konvensional langsung kuarahkan kontolku ke lubang surga Mama mertuaku, dan akhirnya masuk sudah.

Gambar Bersama Mama Mertuaku Hot


“Oh.. Mas nikmat sekali..”.
“Iya Ma.. aku juga nikmat.. memek Mama nikmat sekali.., goyang terus Ma..”.
Kamipun terus berpacu dalam nikmatnya lautan birahi. Aku mendayung naik turun dan Mama mertuaku bergoyang seirama dengan bunyi kecipak-kecipak dari pertemuan dua alat kelamin kami.
“Ohh Mas.. Mama mau keluar lagi..”.
Rupanya Mama mertuaku orang yang gampang meraih orgasme dan gampang kembali pulihnya, Cerita Ngesex Sedarah aku pun tak mau kehilangan moment.
“Tahan Maa!, sedikit lagi akuu juga keluarr..”, sambil kupercepat goyangan keluar masuk kontolku.
“Akk Mass, Mama sudah nggak kuatt”.
Dan serr serr aku merasakan kemaluanku seperti di siram air yang hangat rasanya. Akupun sudah tak kuat lagi menahan ejakulasiku!

“Mamau aacchh, cret.. cret.. cret..”, akupun rubuh memeluk Mama mertuaku.
“Ma!, jadi yang yang kemarin-kemarin itu Mama yang melakukannya?”
“Iya Mas, maafin Mama! Mama jatuh cinta sama Mas Herman sejak pertama kali Mama melihat Mas. Apalagi Bapak sudah lama terserang impotensi”.
“Kenapa harus seperti pencuri Ma?”.
“Mama takut ditolak Mas! lagi pula Mama malu, sudah tua kok gatel”.
“Apa semua mantu Mama, Mama perlakukan seperti ini?”.
Sambil melotot Mama mertuaku berkata, “Tidak Mas! Mas Herman adalah lelaki kedua setelah bapak, Mas lah yang Mama sayangi”. Kucium kembali mertuaku, kupeluk.

“Mulai besok Mama jangan pakai wedang lagi, untuk Mama, aku siap melayani, kapanpun Mama mau”.
Kamipun bersetubuh kembali, tanpa mempedulikan bahwa di sampingku, istri dan anakku tertidur dengan pulasnya. Tanpa istriku tahu! didekatnya aku dan Mamanya sedang menjerit jerit mereguk nikmatnya persetubuhan kami. Cerita Ngesex Sedarah Saat ayam berkokok dan jam menunjukan pukul 3:30 kami menyudahi pertarungan yang begitu nikmat, lalu Mama mertuaku dengan santai berjalan keluar dari kamar kami sambil berkata, “Mas Herman terima kasih!”.

Yah.. itulah awal hubungan sexku dengan Mama mertuaku, walaupun ada rasa sesal, namun rasa sesal itu lenyap tertelan nikmat yang kudapat, dan akupun jadi tahu bahwa wanita seusia Mama mertuaku sangat nikmat untuk di setubuhi. Nanti akan aku ceritakan kembali kisah persetubuhanku dengan mertuaku selama aku lMamaran di desa LS.
Pagi Harinya, saat aku terbangun waktu sudah menunjukan pukul 10:15, kulihat disampingku, istri dan anakku sudah tidak ada lagi. Ahh.., akupun termenung mengingat kejadian semalam, aku masih tidak menyangka. Mama mertuaku, orang yang sangat aku hormati, dan sangat aku kagumi kecantikannya, dengan suka rela menyerahkan tubuhnya kepadaku. Cerita Ngesex Sedarah Malah Mama mertuaku juga yang memulai awal perselingkuhan kami.

“Selamat pagi Ma”, sapaku saat kulihat di dapur istriku sedang membuatkan kopi untukku,
“Kok sepi pada kemana mah?”
“Kamu sih bangunnya kesiangan, Bapak pergi ke Wonogiri, Mama pergi ke pasar sama Fadli”.
Kupandangi wajah istriku, tiba-tiba saja terlintas bayangan wajah Mama mertuaku, akupun jadi terangsang, karena peristiwa semalam masih membekas dalam ingatanku.
“Ihh.. apa-apaan sih Mas.. jangan disini dong Mas..”, protes istriku saat kutarik lengannya, langsung kupeluk dan kulumat bibirnya..

“Mas.. malu.. ahh, nanti kalau Mama datang bagaimana?”
Aku yang sudah benar benar terbakar birahi, sudah tidak perduli lagi akan protes istriku, kuremas teteknya, ku lumat bibirnya, yang aku bayangkan saat itu adalah Mama mertuaku. Cerita Ngesex Sedarah Kubalik tubuh istriku, dalam posisi agak membungkuk, kusingkap ke atas dasternya kuturunkan celana dalamnya dan,
“Uhh Mas pelan pelan dong.”
Aku tak perduli, kuturunkan celanaku sebatas lutut, langsung kuarahkan burungku yang sudah tegak berdiri kelobang memek istriku.
“Mass.. pelan pelan.. dong.. sakit.. Mas.”
Semakin istriku berteriak, gairahkupun semakin meninggi, aku terus memaksa memasukan kontolku ke lubang memek istriku, yang belum basah benar.
“Ahh..”, jeritku, saat burungku amblas tertelan memek istriku.
Entahlah, saat itu aku merasakan gairahku begitu tinggi, langsung ku kugoyang maju mundur pantatku.

“Ahh nikmat Ndri..”, kugoyang dengan keras keluar masuk kontolku.
“Mas.. enak mass.”
Terus kugoyang maju mundur, mungkin karena terlalu bernafsu, baru beberapa menit saja, Cerita Ngesex Sedarah rasanya ejakulasiku sudah semakin dekat, denyutan di kontolku semakin membuat aku mempercepat kocokan kontolku di lubang memek istriku.
“Ndri .. aku mau keluarr nihh.”
“Tahann mass, jangan dulu.., tahan sayang”, pinta istriku.
Namun, semua permintaan istriku itu sia-sia, aku sudah tidak sanggup lagi menahan bobolnya benteng pertahananku, sedetik kemudian aahh, seluruh syaraf tubuhku menegang dan cret.. cret.. crett.. uhh.. aku menjerit tertahan sambil dengan erat kupeluk tubuh istriku dari belakang.
Kulihat, raut wajah kekecewaan diwajah Pipit istriku,
“Maaf.. ya.. sayang. aku sudah ngak tahan, aku terlalu bernafsu, habis kamu sexy sekali hari ini”, rayuku.

“Ndak apa-apa Mass..”, kukecup keningnya.
“Kamu aneh deh Mas?, ngak biasanya kamu kasar kayak tadi?”, tanya istriku sambil berlalu menuju kamar mandi.
Kasihan istriku. padahal saat bersetubuh dengannya, aku membayangkan, yang sedang kusetubuhi adalah Mama mertuaku.
Saat siang menjelang, setalah makan siang, Cerita Ngesex Sedarah istriku dijemput oleh teman-teman genknya waktu di SMA dulu, rupanya istriku sudah janjian untuk bertemu dengan teman-teman sekolahnya dulu, kebetulan salah satu sahabat karib istriku yang sekarang ini tinggal dilampung, saat ini sedang pulang kampung juga.

“Pada mau kemana nih?” Tanyaku
“Mumpung kita lapi pada kumpul nih Mas, kita mau jalan- jalan aja Mas. Ya.. Paling-paling ke kota S makan Soto gading”, Jawab mereka.
Setelah berbasa basi, mereka pamit padaku dan Mama mertuaku.
“Da.. da Fadli jagain mamah ya..”, kukecup anakku.
“Ma aku pergi dulu ya”, pamit istriku.
“Mas aku jalan jalan dulu yahh, bye Mas”
Saat aku masuk kedalam rumah aku lihat Mama mertuaku sedang mengunci pintu gerbang.
“Kok digembok Ma?

“Biar aman”, katanya, sambil berjalan dan masuk ledalam rumah, dan klik.. Pintu rumah pun di kunci oleh Mama mertuaku.
Aku dan Mama Mertuaku saling berpandangan, seperti sepasang kekasih yang lama sekali tidak berjumpa dan saling merindukan, entah siapa yang memulai aku dan Mama mertuaku sudah saling berpelukan dengan mesranya, Cerita Ngesex Sedarah Kukecup keningnya, dan kuremas remas bongkahan pantatnya.
“Mas Herman, Saat-saat seperti inilah yang paling Mama tunggu-tunggu”
kupandangi wajah Mama mertuaku, sunguh cantik sekali, kucecup kening mertuaku, kulumat bibirnya, kami berciuman dengan buasnya, saling sedot, saling hisap, kuangkat dan kulepas daster yang dipakai Mama mertuaku. Terbuka sudah, ternyata Mama mertuaku sudah tidak memakai Bh dan celana dalam lagi, kuhisap teteknya, kujilati inhci demi inchi seluruh tubuh Mama mertuaku.
“Ahh Mass, terus Mas.. sshh enak sayang..”

Kuajak Mama mertuaku pindah ke sofa.
“Kamu duduk Mas..”, dilepasnya kaos dan celanaku, aku dan Mama mertuaku sudah polos tanpa sehelai benangpun yang menempel ditubuh kami berdua.
“Ahh.. nikmat Ma.., ohh hisap terus Ma, hisap kontolku Ma.. ahh”
Nikmat sekali kuluman Mama mertuaku, kami berdua sudah lupa diri, saling merangsang saling meremas.
“Ohh.. Ma.., akupun bangkit untuk merubah posisi, Cerita Ngesex Sedarah kurebahkan Mama mertuaku dilantai, kakinya mengangkang, kupandangi memeknya, yang telah melahirkan istriku, kuhisap, kukecup dengan lembut memek Mama mertuaku, kujilati dengan penuh perasaan, kuhisap semua cairan yang keluar dari lubang sorga Mama mertuaku

“Ohh.. Mas.. jangan siksa Mama sayang.., Mass, Hermano.., masukin sekarang Mas.., Mama sudah mau keluar sayang”
Langsung kuarahkan batang kontolku kelubang surga Mama mertuaku. yang sudah pasrah dan siap untuk di sodok-sodok kontolku. Kugesek-gesek perlahan kontolku di itil Mama mertuaku yang sudah mengeras dan.. belss.. uhh, rintih Mama mertuaku saat kepala kontolku menerobos memasuki lubang nikmatnya.
“Ohh.., Mas masukin semuanya sayang.. jangan siksa Mama.. sayang..”
Lalu kuhentak dengan kasar.. ahh.. jerit mertuaku saat seluruh batang kontolku amblas meluncur dengan indahnya terbenam dijepit memek Mama mertuaku, yang rasanya membuat aku jadi ketagihan mengentoti Mama mertuaku. Cerita Ngesex Sedarah Kupeluk Mama mertuaku, kamipun saling melumat, kuangkat perlahan-lahan kontolku kuhujam kembali dengan keras.

“Aahh..”, jerit Mama mertuaku.
“Mas.. Herman.. entotin Mama Mass.. entotin Mama.. Mas .. ohh mass. puasin Mama.. sayang.., uhh ahh.”
Akupun semakin terangang dan bersemangat mendengar rintihan dan jeritan-jeritan jorok yang keluar dari mulut Mama mertuaku.
Kunaik turunkan pantatku dengan tempo yang cepat dan kasar.
“Ahh.. ahh .. Mama.., jeritku, aku mau keluar.. Maa.”
“Iyaa.. sayang Mama juga mau keluarr.”
Kupercepat kocokan keluar masuk kontol ku, plak.. plak.. plak..
“Mass.. ayo Mass.. keluar.. bareng.. sayang. Ahh..”
Tubuh Mama mertuaku pun mengejang, kakinya menjepit pinggangku.
“Mass ahh ahh”

“Mamau, arrgg”, jerit kami bersamaan saat nikmat itu datang seperti ombak yang bergulung gulung.
“Cret.. crett.. crett..”, kusirami rahim Mama mertuaku dengan spermaku.
Aku dan Mama mertuaku terus berpelukan menikmati sisa-sisa kenikmatan orgasme yang begitu dahsyat yang kami raih secara bersamaan,
“Ma..” kulihat Mama mertuaku masih memejamkan matanya, Cerita Seks Sedarah dengan nafas terengah-engah.
“Iya Mas..”

“Rasanya aku jatuh cinta sama Mama..”, kulihat Mama mertuaku tersenyum. manis sekali..
“Mama maukan jadi kekasihku Ma”.
Mama mertuakupun hanya tersenyum dan mengecup keningku dengan mesranya, sambil berkata, “Mas ini nikmat sekali..”, dikecup kembali keningku.
Hari itu sampai magrib menjelang kami berdua terus berbugil ria, aku dan Mama mertuaku seperti layaknya pengantin baru, yang terus menerus melakukan persetubuhan tanpa merasa bosan, tanpa lelah kami terus menumpahkan cairan nikmat kami, di dapur, dikamar tidur Mama mertuaku dan di kamar mandi. Yang paling dasyat, setelah aku dan Mama mertuaku, Cerita Ngesex Sedarah meminum jamu buatan Mama mertuaku. Badanku segar sekali, dan kontolku begitu keras dan kokoh.., kukocok kontolku dilubang surga Mama mertuaku, sampai banjir memek Mama mertuaku danIMama mertuaku memohon kepadaku agar aku memasukan kontolku di lubang anusnya.

Nikamat sekali .. saat kutembakan spermaku didalam liang anus Mama mertuaku.
Saat istriku kembali selepas isya, kusambut istriku dan teman temannya, setelah ber bincang bincang sebentar teman teman istriku pamit pulang. Istrikupun masuk menuju kamar hendak menaruh anak kami yang sudah lelap tertidur ke pembaringan.
“Mas aku taruh Fadli di kamar dulu ya..”, kulirik Mama mertuaku dan kuhampiri beliau sambil berbisik.
“Ma.., Pipit adalah istri pertamaku, dan Mama istri keduaku”, ujarku.
Mama mertuaku pun tersenyum dengan manisnya, sambil mencubit pinggangku. Hari itu benar benar dahsyat. Dua lubang, lubang memek dan lubang anus Mama mertuaku sudah aku rasakan.

Pada hari keenam lMamaran kami di desa Gl, aku dan istriku terpaksa harus pulang ke Jakarta, karena dikantor istriku ada keperluan mendadak dan membutuhkan kehadiran Istriku. Mau tidak mau aku dan Istriku membatalkan semua acara lMamaran kami di kota S.
Kulihat Mama mertuaku tampak sedih dan murung, beliau bilang sama Bapak mertuaku kalau beliau masih kangen sama kami, dan kalau menunggu hari raya nanti, rasanya terlalu lama buat beliau. Cerita Ngesex Sedarah Padahal itu adalah alasan Mama mertuaku, Mama mertuaku masih belum mau berpisah denganku, kurayu istriku agar membujuk Bapak mertuaku, berkat bujukan istriku akhirnya Bapak mertuaku membolehkan Mama mertuaku ikut kami ke Jakarta. Mama mertuaku sangat gembira sekali dan kulihat sekilas matanya melirik kearahku.

Besoknya Aku memesan tiket kereta Argo Dwipangga, karena hari itu hari kerja, maka Akupun dengan mudah memperoleh tiket, Aku membeli empat tiket dan sedikit oleh-oleh untuk teman teman kami. Sesampainya aku dirumah, kami pun langsung berkemas kemas merapikan barang bawaan kami., Jam sudah menunjukan pukul 6:30 sore. Cerita Ngesex Sedarah Saat aku hendak menuju kekamar mandi aku berpapasan dengan Mama mertuaku yang hari itu tampak cantik sekali, kubisikan kepadanya, agar Mama mertuaku tidak usah memakai celana dalam, Mama mertuakupun tersenyum penuh arti.

Dengan diantar Pakde Botak dan Bapak mertuaku Jam 8:30 malam kami tiba di stasiun Balapan, setelah menunggu sekitar kurang lebih setengah jam keretapun berangkat. Kuputar bangku tempat duduk kami, biar kami bisA saling berhadapan. Istriku duduk bersama anakku yang sudah teridur dipangkuan istriku sementara aku duduk bersama Mamamertuaku. Cerita Ngesex Sedarah Setelah lewat stasiun yogyakarta, kulihat bangku disamping tempat duduk lami kosong. Berarti sudah tidak ada penumpang.., akupun pindah tempat duduk di sebelah kami, ternyata penumpang kereta hari ini tidak begitu penuh.

Dinginnya AC di kereta membuat banyak penumpang yang menarik selimut dan tertidur dengan lelapnya. Kulihat istri dan Mama mertuaku pun sudah tertidur. Jam 2 pagi aku terbangun kulihat istri dan anakku masih tertidur, aku bangkit dengan perlahan lahan kucolek Mama mertuaku, beliau membuka matanya, sstt, akupun memberi kode kepada Mama mertuaku. perlahan lahan Mama mertuaku bangkit, kulihat istri dan anakku masih tertidur.

“Ma.. aku kepengen.. bisikku..”, Mama mertuakupun tersenyum, kami berjalan ke arah belakang melewati penumpang lain yang masih lelap tertidur.
Sesampainya kami di gerbong belakang, tepat dibelakang gerbong kami, ternyata hanya ada beberapa penumpang yang sedang terlelap dan masih banyak kursi yang kosong. Cerita Ngesex Sedarah Setelah mendapat tempat duduk yang kurasa aman kuputar bangku didepan biar aman dan lega bagian tengahnya.
Langsung kupeluk Mama mertuaku, kamipun saling berpagutan, kuremas tetek Mama mertuaku, dengan perasaan yang sangat berdebar, kubuka celanaku sampai sebatas lutut, kontolku sudah tegak dengan sempurna, kuangkat rok panjang Mama mertuaku.. woww ternyata Mama mertuaku sudah tidak memakai celana dalam lagi.

“Kamu yang suruh.. katanya”, sambil memencet hidungku.
Aku duduk di lantai kereta, Cerita Ngesex Sedarah badanku bersandarkan tempat duduk, Mama mertuakupun bangkit mengangkangiku, perlahan-lahan di arahkan memeknya ke burungku yang sudah tidak sabar menerima sarangnya. Diturunkan perlahan lahan dan bless.. amblas semua kontolku masuk kedalam tertelan lobang nikmat Mama mertuaku yag sudah sangat basah sekali.
“Ahh rintih kami bersamaan..”

Goncangan kereta api dan goyangan naik turun pantat Mama mertuaku menambah nikmatnya persetubuhan kami.
Dengan cepat Mama mertuaku menaik turunkan pantatnya, Cerita Ngesex Sedarah kami berdua bersetubuh dengan rintihan perlahan. takut kalau-kalau ada penumpang yang terbangun dan melihat perbuatan kami.
Hanya beberapa menit saja.., “Aahh, hh.. Mamau aku.. aku.. mau keluarr..”.
“Cret.. cret.. crett..”

Kuangkat badanku dan kupeluk dengan erat tubuh Mama mertuaku, tanpa sadar Mama mertuakupun mengigit pundakku saat ejakulasi dan orgasme bersamaan hadir melanda dua insan manusia yang sedang lupa diri dan dilanda asmara.

“Deg-deg-deg-deg”, suara jantungku, untungnya tidak ada seorangpun yang lewat.. modar mandir.
Buru buru Aku dan Mama mertuaku merapikan pakaian kami dan bergegas kembali kegerbong kami, Cerita Ngesex Sedarah kulihat anak dan istriku masih lelap tertidur, Aku dan Mama mertuaku kembali keposisi kami masing-masing dan tertidur dengan senyum penuh kepuasan.

 

Saturday, October 11, 2025

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Cerita Seks Bersetubuh Hendra Dengan Pacarnya – Kota M terletak sekitar CERITA SEX 100-an kilometer dari kota kelahiran Hendra. Ke CERITA MESUM sanalah kini pemuda itu CERITA SEXmenuju, naik kendaraan umum bersama teman ayahnya, Paman Herman CERITA SKANDAL namanya, yg bersedia menampung Hendra selama ia mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi. Pagi masih basah dan agak berembun ketika keduanya berangkat ke terminal berjalan kaki.Sambil melangkah, Hendra mengenang perpisahannya tadi malam dengan Mita. Ada kesenduan di raut muka gadis manis itu, walaupun Hendra berusaha menghiburnya dengan bercanda. Lagipula, apa yg dirisaukannya? Toh, mereka hanya akan berpisah dua bulan.Bagi Hendra, tak apa lah berpisah dari Mita, karena ia merasa memerlukan konsentrasi penuh untuk persiapan masa depannya. Tetapi bagi Mita rupanya agak lain. Gadis itu merasa inilah awal dari sebuah perpisahan panjang yg tak terelakkan.Malam itu mereka meminta ijin untuk menonton. Kedua orangtua Mita mengijinkan, dengan perjanjian agar mereka pulang sebelum pukul 11. Tetapi, mereka membatalkan acara menonton, karena ternyata film yg tadinya mereka akan tonton telah diganti dengan sebuah film silat. Akhirnya mereka duduk saja di pinggir alun-alun dekat pantai.Ada sebuah tembok pendek pembatas alun-alun dengan jalan. Di sana lah keduanya duduk berayun-ayun kaki, menghadap ke selatan ke arah laut yg menghitam nun di sana.

Awan hujan tak tampak di langit, tetapi angin terasa mulai dingin. Hendra memeluk pundak kekasihnya.“Apa rencana kamu setelah kursus?” tanya Mita sambi memainkan kancing bawah jaketnya.“Mmmm …, belum tahu. Mungkin langsung ikut test seleksi,” jawab Hendra.Ia memang membicarakan kemungkinan ini dengan ayahnya beberapa waktu yg lalu. Ayah dan ibu juga setuju jika Hendra ingin ikut test langsung di lokasi perguruan tinggi yg ditujunya, di kota B. Tetapi, menurut kedua orangtuanya, keputusan ada di tangan Hendra setelah ikut kursus.“Berarti kamu langsung ke B…,” ucap Mita sambil mengibaskan rambut yg menutupi mukanya.“Ya,.. senang sekali kalau bisa ikut test di sana. Aku ingin sekali melihat kampusnya. Kata orang, kampus itu besar sekali, berkali-kali lebih besar dari alun-alun ini!” jawab Hendra bersemangat.Ia merasa, ikut ujian seleksi di kampus itu akan menambah motivasi dan kemungkinan lulus.“Tetapi, itu berarti kita tak akan bertemu lagi,” bisik Mita.Hendra menoleh. Memandang kekasihnya yg kini menunduk. Rambutnya yg legam tergerai menutup wajahnya. Dengan lembut, Hendra mencoba menyibak rambut itu. Mita mengelak. Hendra mencoba lagi, Mita tetap mengelak, bahkan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.“Apa maksudmu?” tanya Hendra.Mita menggeser duduknya menjauh, lalu menghadapkan tubuhnya ke Hendra. Wajahnya serius, “Maksudku,… kita akan berpisah semakin lama. Lalu, kalau diterima di perguruan tinggi,… kamu dan aku akan sama-sama sibuk kuliah. Kemungkinan, kita tak akan bertemu lagi dalam waktu satu atau dua tahun. Atau mungkin lebih.”“Ya,… agaknya begitu,” ucap Hendra pelan.Ia memang juga punya dugaan yg sama, tetapi apa yg bisa dilakukannya? Bukankah sekolah tinggi-tinggi adalah keinginan mereka berdua? Kalau mereka terpaksa berpisah karena keinginan itu, apa yg bisa mereka lakukan?“Lalu kita akan saling melupakan…,” bisik Mita, matanya berkaca-kaca.“Kenapa saling melupakan?” sergah Hendra.“Karena kita akan sama-sama sibuk kuliah…”“Tetapi kita bisa saling menyurati. Kita bisa … ““Tetap saja….,” Mita memotong dengan cepat, “Kita tetap akan saling menjauh tanpa kita sengaja.”“Kita masih bisa bertemu lagi, Mita.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Aku pasti itu!” ucap Hendra mencoba tegas, walau ia sendiri tak tahu apakah suaranya betul-betul kedengaran tegas.Ia sendiri ragu, apakah memang ada kepastian di masa depan? Bukankah masa depan selalu samar-samar?Mita menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya dalam desah yg keras.“Yah .. pasti kita bertemu lagi, tetapi mungkin sebagai dua orang yg berbeda…” ucapnya pelan.Hendra terdiam. Tiba-tiba ia sadar, betapa ia tak kuasa mengatur aliran kehidupan. Betapa kecilnya ia menghadapi dunia yg begitu luas, yg berada di luar batas kendalinya. Ia ingin sekolah dan menjadi arsitek ulung, tetapi untuk itu ia harus meninggalkan banyak sekali kenangan manis.Tdk hanya Mita, tetapi juga Susi adik satu-satunya, ayah dan ibunya, teman-temannya, sungai tempatnya berenang, pantai yg menyimpan jutaan memori, hutan kenari, kota kecil yg damai ….. banyak sekali!“Melamun apa?” teguran Paman Herman di sampingnya membuat Hendra tersentak.Tak terasa, mereka sudah sampai di terminal. Hendra tersipu sambil berbohong, mengatakan bahwa ia sedang membaygkan kota M.Paman Herman tersenyum, lalu menepuk pundaknya.“Jangan bohong. Kamu pasti sedang melamunkan pacarmu,” ucapnya sambil tertawa pelan.“Yah,.. yg itu juga kulamunkan, sambil membaygkan kota M,” jawab Hendra tak mau kalah.Paman Herman tertawa lebih keras.Mereka naik ke kendaraan umum yg sudah menunggu. Hendra duduk dekat jendela, sementara teman ayahnya turun lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman. Hendra Hermanl di atas mobil, melanjutkan lamunannya.Setelah bosan duduk di alun-alun, Mita dan Hendra berjalan-jalan menyusur pantai. Pada malam hari, terutama di saat libur sekolah seperti ini, dan jika hujan tdk turun, pantai selalu ramai oleh warung-warung dan orang yg berjalan-jalan. Anak-anak tampak berlarian main kejar-kejaran.

Sekelompok orang tampak duduk mengelilingi sepasang lelaki bermain catur diterangi lampu petromaks.Di tempat lain, sekelompok remaja bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Berpasang-pasang kekasih tampak juga berjalan-jalan seperti halnya Hendra dan Mita. Sekali-kali mereka berpapasan dengan orang yg dikenal, saling bertegur sapa, atau sejenak berhenti untuk bercakap berbasa-basi.Mita dan Hendra lebih banyak diam sambil berjalan. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, terutama tentang telah tibanya saat perpisahan. Masing-masing mencoba mencari apa saja kah makna perpisahan itu? Tetapi mereka berdua hanya menemukan satu: perpisahan itu menyakitkan. Memedihkan. Membuatmu tak berdaya.Mita menggamit tekan kekasihnya, meremas pelan, lalu bertanya memecah keheningan,“Apakah kamu mencintai ku?”“Ya,” jawab Hendra pendek. Sial! Mengapa pendek sekali jawaban itu? umpat Hendra dalam hati. Tetapi, lalu seberapa panjang kah seharusnya? Satu kalimat? Dua kalimat? Satu halaman surat? Seberapa kah?“Kenapa kamu tdk pernah mengatakannya?” tanya Mita lagi.“Kenapa?” malah Hendra balik bertanya.“Aku yg bertanya duluan. Kamu, koq, malah bertanya kembali,” sergah Mita.“Ya. Aku juga bertanya sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakannya,”“Lalu, apa jawabnya?” desak Mita.“Aku tak tahu. Tetapi kenapa itu jadi persoalan, Mita? Aku memang tak pernah mengucapkannya. Aku tak bisa. Tak pandai,” jawab Hendra agak kesal.Mita menghentikan langkah. Hendra terpaksa juga ikut berhenti. Mereka telah berada agak jauh dari keramaian. Suara ombak berdebur keras.

Semakin terdengar keras di tengah keheningan.Mita memegang kedua tangan Hendra, menghadapnya dengan muka tengadah, memandang dengan mata beningnya. Sebagian rambut menutupi mukanya, melintang di hidungnya yg bangir, di bibirnya yg ranum, di pipi berlesung-pipitnya.Ah, Hendra melihat kecantikan semata di tengah samar-samar malam. Melihat sinar kerinduan di mata itu, bagai bintang-bintang berpijar lembut. Melihat seraut wajah tempat ia melabuhkan impian-impiannya. Mengapa semuanya tampak begitu mengesankan saat engkau harus berpisah?Mita terpejam merasakan nafas kekasihnya dekat sekali menerpa wajahnya. Bibir Hendra perlahan menyentuh bibirnya. Kedua tangan mereka saling meremas. Angin keras mengibarkan jaket-jaket mereka. Ciuman kali ini terasa sangat lembut, selembut awan putih di langit biru.Sangat hangat, sehangat mentari di pagi yg cerah. Mesra dan manja mengalunkan kerinduan. Mita membuka mulutnya, mengundang kekasihnya datang merasuki seluruh jiwa-raganya. Datang lah kekasih, reguk habis rinduku, bawa daku terbang setinggi mungkin.Keduanya berdiri rapat. Hendra mengulum mesra bibir kekasihnya, menghirup harum-sedap nafasnya, menggigit manja lidahnya yg nakal. Mita membuka sedikit matanya, memandang wajah Hendra yg dekat sekali di depannya. Sebentar lagi ia akan pergi jauh, gumam Mita dalam hati. Sebentar lagi wajah itu hanya akan ada di dompet ku, menjadi sebuah potret kekasih yg mungkin juga akan segera lusuh karena terlalu sering disentuh.Sambil membalas ciuman kekasihnya, diam-diam Mita merekam wajah itu sedetil mungkin. Mematrinya di benak. Ah, Hendra ….. dahinya yg selalu serius. Matanya yg tajam-tegas. Tulang pipinya yg mengguratkan ketakmenyerahan. Hidungnya yg menggemaskan (aku senang sekali mencubit hidung itu!). Bibirnya yg selalu bergairah. Selalu!Hendra melepaskan ciumannya, membuka mata dan menemukan sepasang mata kekasihnya memandang mesra. Ia berbisik,“Mita, aku ingin bercumbu malam ini. Mari kita pergi dari sini…”Mita tertawa pelan,“Kemana kamu hendak membawa ku?” tanyanya sambil memeluk leher Hendra.Hendra melihat sekeliling. Pantai tampak sepi, tetapi juga terlalu menakutkan di tengah malam seperti ini. Tdk di sini. Hendra memutuskan untuk mengajak Mita ke sebuah tempat yg selama ini menjadi “persembunyian” mereka: sebuah pondok di tengah kebun kopi. Tetapi lokasinya ada di sisi lain dari kota, sehingga untuk ke sana mereka perlu berjalan cepat.“Ke sana?” Mita bertanya ketika melihat Hendra diam saja.Ah, gadis ini memang bisa membaca pikiran ku, ucap Hendra dalam hati.“Ayo, kita ke sana…,” kata Hendra bergairah, menggulung kaki celananya dan menarik tangan Mita untuk meninggalkan pantai. Mita tertawa kecil, mengikuti tarikan tangan ke kasihnya. Sebentar kemudian mereka telah berlari-lari menyebrang jalan, menelusuri alun-alun menuju tengah kota. Lalu, di depan kantor camat mereka berbelok, melintasi persawahan, berjalan beriringan sambil sekali-sekali bercanda. Malam semakin larut….“Waahhh… melamun lagi!” Paman Herman telah naik kembali ke mobil.Hendra terperanjat dan tersipu lagi. Sialan! Lamunannya terpotong di tengah jalan.

“Nih,… makan kacang goreng supaya tdk terlalu banyak melamun,” ujar Paman Herman sambil menyodorkan sebungkus kacang.Hendra mengucapkan terimakasih dan mulai memasukkan beberapa butir ke mulutnya.Paman Herman lalu mengajak mengobrol, bertanya-tanya tentang sekolah Hendra. Terpaksa lah Hendra menimpalinya, menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap. Paman Herman lalu juga bercerita tentang dirinya dan anak-anaknya yg masih kecil.Tentang kota M yg katanya tumbuh pesat karena menjadi pusat perdagangan bagi kota-kota kecil sekitarnya. Paman Herman ini seorang pedagang yg konon sedang naik daun. Ia sering mundar-mandir ke ibukota mengurus bisnisnya. Hendra senang juga mendengar ulasannya tentang lika-liku bisnis, walaupun dunia itu sangat asing baginya.Tetapi ketika mobil mulai bergerak, Paman Herman berhenti bercerita. Bahkan tak lama kemudian ia terlihat terkantuk-kantuk. Baru 10 menit mobil melaju, Paman Herman telah menyandarkan kepalanya di jok dan tertidur nyenyak. Hendra masih mengunyah kacang, memandang ke luar jendela, melihat betapa kotanya dengan cepat terHermanl di belakang.Tanpa sadar, ia melamunkan lagi peristiwa semalam …..Pondok itu tetap sepi dan tetap bagai magnit, menarik kedua remaja itu untuk datang berkunjung, walau setiap kali pula mereka ingin menghindar. Mungkin juga bagai lampu yg menarik laron-laron terbang mendekat. Kalau terlalu dekat, pastilah mereka akan hangus terbakar, bukan? Tetapi bagaimana jika laron-laron itu sudah terbakar api asmara sebelum menghampiri sang lampu?Mita dan Hendra mengendap-endap mendekat, sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang melintas. Tampaknya tdk ada seorang pun di sekitar. Hendra menggenggam erat tangan kekasihnya, perlahan-lahan mendekati pondok. Serangga malam menghentikan musik mereka setiap kali sepasang remaja ini melangkah. Tetapi setelah mereka berlalu, serangga itu kembali ramai memperdengarkan musik mereka.Hendra langsung mengajak Mita masuk. Pondok itu tentu saja gelap gulita. Setelah beberapa saat, barulah mata mereka bisa menyesuaikan diri, bisa melihat ruang kosong dengan dipan kayu itu. Hendra segera duduk, dan Mita segera naik ke pangkuannya.Mereka langsung berciuman, tanpa bertukar kata lagi.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya


Cerita Sex Nafas Mita sudah memburu sejak tadi, bukan hanya karena harus berjalan cepat dan setengah berlari, tetapi juga karena ia memang selalu bergairah jika berduaan dengan Hendra.Ciuman mereka tak lagi lembut-mesra seperti ketika di pantai tadi, melainkan bergelora, saling pagut dan saling mengulum. Nafas mereka berdua berdesahan, saling menyerobot seperti hendak saling mengalahkan. Kedua pasang bibir mereka saling menekan memilin, bergantian menghisap-hisap. Kedua lidah mereka bergelut bergelung seperti dua naga kecil yg bermain-main di taman basah dan hangat yg adalah mulut mereka.Berkali-kali Mita seperti tersedak, tak tahan diperlakukan begitu bergairah oleh kekasihnya. Tetapi berkali-kali pula ia kembali mengulum bibir pemuda itu, membiarkan lidahnya bermain semakin jauh ke dalam mulutnya, menyentuh langit-langitnya, menimbulkan rasa geli dan hangat.Seperti biasanya, Mita hanya memakai kaos tebal dan jaket, tanpa beha. Dengan leluasa, tangan Hendra segera menelusup menelusuri bukit-bukit indah di balik kaos itu. Bukit-bukit yg naik turun, membusung penuh, kenyal-padat, hangat. Tangan Hendra langsung gemas meremas, memijat, menekan. Jari-jarinya bermain ringan di atas kedua puting yg telah menegang tegak.Mita pun mengerang merintih merasakan kedua budah dadanya bagai dipenuhi uap panas, bergulung-gulung seakan badai yg sedang melanda bumi. Sambil memeluk leher Hendra, gadis itu membusungkan dadanya, memajukan seluruh tubuhnya, menghenyakkan kedua payudaranya di tangan kekasihnya. Ia ingin diremas lebih keras lagi, lebih bergairah lagi.Mulut Hendra meninggalkan mulut Mita, kini menciumi lehernya yg jenjang. Menciumi kulit mulus-lembut nan harum di bawah telinganya. Menggigit cuping telinga itu, membuat Mita terkejut, tetapi juga sangat senang. Apalagi kemudian Hendra menggigit pula lehernya, pelan-pelan saja. Oh, geli sekaligus nikmat rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti disengat-sengat bara kenikmatan yg membangkitkan api birahi semakin besar.Mita memajukan duduknya, mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga mulut Hendra kini semakin turun. Cepat-cepat Mita mengangkat kedua tangannya, membiarkan Hendra menaikkan kaosnya.

Segera dua payudara gadis yg kenyal-padat itu terpampang, indah sekali dalam keremangan malam, putih bersih bagai bersinar.Hmmm,… Hendra menenggelamkan wajahnya di lembah harum di antara dua bukit indah itu. Hmmm …, tubuh Mita selalu penuh keharuman sabun wangi, dan juga bedak yg biasa dipakai bayi. Hmmm …., sungguh menggairahkan rasanya menciumi dada ranum yg agak basah oleh keringat itu. Dengan gemas, digigitnya sedikit daging di pangkal salah satu payudara itu. Mita mengerang. Mita merintih.“Uuuh ….,” Mita merintih ketika mulut Hendra naik dan mengulum puting sebelah kiri.Tubuh gadis itu menggelinjang ke kiri.“Aaaah ….,” Mita mengerang ketika Hendra meremas payudara sebelah kanan. Tubuh gadis itu bergeser ke kanan.Begitulah terus. Ke kiri. Ke kanan. Ke kiri ke kanan. Gerakan-gerakan Mita menimbulkan gesekan nikmat di bawah sana, di tempat selangkangannya yg terhenyak rapat di pangkuan Hendra. Ada cairan bening tipis mengalir pelan dari dalam tubuhnya, membasahi celana dalamnya. Ada rasa hangat turun bersama aliran itu. Ada rasa geli-nikmat yg merayap perlahan ke seluruh penjuru tubuh.Dengan satu tangannya yg masih bebas, Hendra menyingkap rok Mita lebih ke atas, sehingga antara dia dan gadis itu kini hanya ada seutas kain nilon tipis yg telah basah di sana-sini. Setelah itu, tangan Hendra masuk menelusup dari belakang. Mita mengerang merasakan tangan itu membawa kehangatan ke bagian belakang tubuhnya yg penuh-padat itu.Mita merintih ketika Hendra meremas-remas bagian itu, seakan-akan sedang memeras buah hendak mengambil airnya. Gadis itu semakin memajukan duduknya, semakin rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke pangkuan Hendra. Malam terasa semakin panas. Keringat muncul di beberapa bagian tubuh keduanya; di ketiak, di punggung, di tengkuk.Lalu celana dalam Mita terlepas sudah, entah oleh tangan Hendra atau oleh tangannya sendiri. Tdk jelas lagi, siapa melakukan apa dalam pergumulan bergairah yg tak terkendal ini. Kedua tangan Hendra kini ada di bawah. Yg satu meremas-remas di belakang, yg lain menelusup ke depan. Mita mengangkat tubuhnya, tdk lagi duduk di pangkuan Hendra, memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada kedua tangan pemuda itu.Hendra pun segera memanfaatkan keleluasaan itu. Jari-jarinya mengusap-menelusupi kewanitaan Mita yg terasa panas membara.

Cerita Seks Gadis itu menggelinjang hebat ketika merasakan ujung jari Hendra menyentuh-nyentuh bagian-bagian yg sangat sensitif di bawah sana.Rasanya, bagian-bagian itu telah berubah seluruhnya menjadi ujung saraf belaka, tdk dilapisi apa-apa. Sehingga setiap sentuhan, seberapa pun ringannya, sanggup mengirimkan sentakan-sentakan kenikmatan ke seluruh tubuh.Lalu celana panjang Hendra juga telah terbuka. Sekali lagi, entah siapa yg melakukannya. Mungkin Hendra, mungkin Mita, mungkin keduanya. Kejantanan Hendra tahu-tahu juga sudah di luar, tegak berdenyut. Mita meraihnya dengan gemas, tersentak merasakan betapa panasnya otot-kenyal yg menggairahkan itu.Hendra mengerang ketika merasakan tangan halus lembut meremasnya di bagian yg sangat sensitif, di ujung yg telah sedikit basah pula. Lalu tangan Mita menuntun kejantanan Hendra ke depan kewanitaannya.Oh, Mita menggosok-gosok kewanitaannya dengan otot-kenyal padat panas itu. Oh, rasanya nikmat sekali bagi keduanya. Menggelitik-gelitik, menimbulkan geli nikmat di mana-mana.Dengan kedua tangannya yg kokoh, Hendra kini menopang tubuh Mita. Kedua telapak tangannya menjadi tumpuan dari pantat gadis itu, sementara dengan tangannya Mita terus menggosok-gosokkan kejantanan Hendra. Pelan-pelan, kewanitaannya terasa semakin menguak, semakin membuka.Apalagi cengkraman tangan Hendra juga ikut merentangkan bagian bawah itu, membuatnya semakin terbuka. Kejantanan yg kenyal-tegang itu kini menelusuri permukaan kewanitaan Mita, menimbulkan rasa geli yg sangat nikmat. Membuat liangnya semakin basah dan licin. Berdenyut-denyut pula.Sesekali, ujung kejantanan Hendra menelusup sedikit ke dalam. Oh,… Mita terpejam merasakan tusukan-tusukan kecil menyeruak ke dalam tubuhnya. Ahhh …, Hendra juga terpejam merasakan ujung-ujung sarafnya seperti dibelai-belai mesra.Betapa hangat, basah dan licin permukaan liang kewanitaan itu. Betapa halus, bagai sutra. Mita mengerang-merintih, terus memainkan otot-kenyal di tangannya, menggosok ke depan ke belakang, memutar-mutar.Lalu pelan-pelan Hendra menurunkan tubuh Mita, ….. cuma sedikit saja, mungkin cuma tiga senti. Tetapi itu sudah cukup membuat Mita tersentak, mengerang “Aaah…”, merasakan sebuah benda tumpul hangat menyeruak ke dalam tubuhnya. Rasanya sedikit pedih, tetapi juga geli dan nikmat.

Bercampur baur. Mengejutkan.“Jangan, Hendra….,” desah Mita sambil berusaha mengangkat tubuhnya. Tetapi entah kenapa, ia tak sanggup melakukan hal itu. Rasa nikmat di bawah sana menahannya untuk bergerak. Maka akhirnya ia cuma menggeliat-geliat.Hendra mengerang pelan. Oh,.. hangat sekali di dalam sana. Ia merasakan ujung kejantanannya dibalut entah oleh apa. Terasa sempit tetapi juga licin, mencekal erat tetapi juga berdenyut-denyut. Dengan kedua tangannya, Hendra mempertahankan posisi tubuh Mita yg kini bagai mengambang: antara atas dan bawah, antara kenikmatan dan kekhawatiran.Mita merasakan nikmat luar biasa datang dari liang kewanitaannya yg kini bagai tersumbat sebentuk otot-kenyal. Tak sadar, ia menggoygkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menyebabkan si sumbat menyeruak dinding-dinding bagian dalam kewanitaannya, menimbulkan kenikmatan tambahan.Hendra tetap menahan tubuh Mita agar tdk melesak lebih ke bawah. Diam-diam ia khawatir akan apa yg mereka lakukan. Ia takut jika seluruh kejantanannya masuk dan merusak sesuatu di dalam sana, walau ia sendiri tak tahu, ada apa di dalam sana.“Aaaaaah!”, tiba-tiba Mita mengerang.Orgasmenya datang bagai banjir bandang. Kedua kakinya mengejang, dan ia ingin merapatkan pahanya, menjepit kejantanan Hendra untuk menimbulkan kenikmatan yg lebih lagi. Tetapi tangan pemuda itu sangat kokoh mencengkram tubuhnya, sehingga akhirnya Mita hanya menyerah saja.Membiarkan tubuhnya berguncang-guncang ketika ia mencapai klimaks yg sedap itu. Kedua tangan Mita mencengkram bahu Hendra. Tubuhnya meregang. Matanya terpejam erat, mulutnya setengah terbuka, mengeluarkan keluh berkepanjangan,“Nggggggg….”.Bersamaan dengan itu, Hendra merasakan ujung kejantanannya bagai dipilin-diremas oleh daging kenyal hangat yg bergerak-gerak liar. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh Mita yg sedang bergetar hebat. Keringat Hendra membasahi badannya, karena tubuh gadis itu tdklah ringan.

Apalagi kalau sedang meregang-mengejang seperti ini.Lalu, Hendra merasakan klimaksnya datang, ketika Mita masih mengerang-merintih dengan kedua tangan mencengkram bahunya. Cepat-cepat Hendra mengangkat tubuh gadis itu, walaupun Mita terdengar memprotes. Ia masih cukup waras untuk tdk menumpahkan cairan cintanya di dalam. Dengan satu gerakan, ia menggeser duduknya. Kejantanannya lepas dari cengkraman permukaan liang yg sebetulnya sangat menjanjikan kenikmatan itu.Mita pun akhirnya sadar apa yg dihindari Hendra. Gadis itu cepat-cepat menggeser ke arah berlawanan. Ia melihat ke bawah, ke arah otot-kenyal yg masih tegak dan seperti bergerak-gerak menggeliat. Oh,.. cepat-cepat diraihnya bagian tubuh Hendra yg tadi memberikan kenikmatan di tubuhnya itu. Cepat-cepat ia meremas, ingin berpartisipasi dalam pencapaian klimaksnya.“Aaaaah!” Hendra mengerang panjang, merasakan tubuhnya bagai disentak-sentak ketika cairan-cairan cinta memancar kuat dari kejantanannya.Tangan Mita yg halus terasa menambah nikmat pancaran itu, sekaligus menampung cairan-cairan kental panas yg berebut keluar.Mita terduduk di samping Hendra, dengan tangan tetap mencengkram, merasakan getaran-gejolak klimaks kekasihnya. Hendra berkali-kali mengerang, dengan tubuh meregang dan kedua tangan bertelektekan di dipan. Mita merasakan otot-kenyal berdenyut-denyut dalam genggamannya. Menakjubkan sekali!Betapa kuatnya klimaks Hendra kali ini, menyebabkan tubuhnya seperti dioyak-oyak, tulang-tulangnya seperti lepas, ototnya seperti meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di dipan, diikuti Mita yg berbaring di sebelahnya. Keduanya masih telanjang di bagian bawah, terengah-engah seperti habis berlari sepanjang hari.

Tangan Mita tetap menggenggam di bawah sana, senang bisa menampung tumpahan cinta kekasihnya. Hangat dan licin rasanya.Lamunan Hendra buyar ketika mobil yg ditumpanginya membelok tajam, menyebabkan tubuh Paman Herman membentur tubuhnya. Lelaki setengah baya itu tetap tertidur, cuma menggumam tak jelas, lalu kembali menegakkan tubuhnya di sandaran kursi.Hendra menghela nafas panjang. Kota kelahirannya semakin jauh terHermanl. Mobil melesat laju di jalan raya antarkota. Di kiri-kanan jalan, sawah luas terbentang, menghijau bagai hamparan karpet . Langit tampak biru dibercaki awan putih. Puluhan burung bangau tampak terbang ke arah selatan.Hendra tiba di kota M menjelang sore. Rumah Paman Herman cukup besar dan Hendra mendapat kamar di belakang, dekat dapur dan gudang. Setelah beristirahat sebentar, Paman Herman mengajak Hendra membicarakan agenda mereka untuk dua bulan mendatang.

Mendengar kata dua bulan, Hendra mengeluh dalam hati. Lama sekali rasanya dua bulan itu.Lalu, keesokan harinya Hendra diantar Paman Herman ke tempat kursus yg telah ramai oleh pemuda sebayanya. Ruang belajar tampak jauh lebih besar dari kelas di sekolah di kota kelahirannya. Teman-teman barunya juga jauh lebih banyak, dan jauh lebih banyak tingkah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bertingkah seperti layaknya remaja kota besar, memakai kaca mata hitam segala. Hendra tersenyum simpul melihat salah seorang dari mereka memakai kacamata secara terbalik. Pastilah itu kacamata pinjaman!Demikianlah, hari-hari berikutnya Hendra sibuk mengikuti kursus di kota M dan mulai bisa melupakan hal-hal lain. Konsentrasinya penuh ke pelajaran, dan hanya sekali-sekali ia teringat akan Mita dan kota kelahirannya. Hari-hari pun terasa semakin cepat berlalu. Demikian lah Cerita Porno Kisah Pengalaman Hendra Bersetubuh Dengan Pacarnya oleh Cerita sex hot

Tuesday, October 7, 2025

Cerita Sex: Manisnya Teman SMP ku yang Gila Seks

Diary Cerita Sex ku Pengalaman Ku Memiliki Sahabat SMP Yang Edan Sex– Pada waktu itu saya masih duduk di SMP kelas III, sempat terjalin peristiwa yang sangat mengasyikan serta lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, saya tercantum anak yang lumayan bandel serta sekolahku itu juga ialah sekolah yang banyak menampung para anak anak bandel, sehingga tanpa kusadari saya juga dapat dibilang cukup lebih banyak nakalnya dari pada baiknya. itu terdapat seseorang sahabat sekelasku yang bernama Stephanie. Stephanie memanglah wanita yang sangat dekat dengan laki- laki serta populer sangat nakal pula bandel. Tidak tidak sering sahabat sahabat juga merumuskan kalau ia wanita binal, sebab ia berpenampilan agak seronok dibanding sahabatnya, ialah dengan pakaian sekolah yang tidak dimasukkan ke dalam, melainkan cuma diikat antar ujung kain serta memakai rok yang sangat sedikit serta pendek, ialah satu telapak tangan dari lutut.


Fanni seseorang wanita yang lumayan manis dengan identitas besar yang pada waktu itu dekat 160 centimeter, berat tubuh 45 kilogram dengan kulit putih dan wujud wajah yang oval. Fanni mempunyai rambut sebahu, gelap tebal, pokoknya oke memiliki tuh doi. Sehabis bel kelas berbunyi yang tandanya masuk belajar, seluruh murid murid masuk ke kelas. Namun anehnya, 4 anak yang terdiri dari 3 laki- laki serta 1 wanita itu masih mengobrol di luar kelas yang tempatnya tidak jauh dari Toilet, serta kayaknya terjalin kesepatan diantara mereka. Sehabis pelajaran kedua berakhir, temanteman laki- laki yang bertiga itu memohon ijin keluar buat ke Toilet kepada guruku yang mengajar di pelajaran ketiga, sehingga membuatku curiga. Di dalam hatiku saya bertanya,“ Apa yang hendak mereka perbuat..?” Tidak lama sehabis sahabat sahabat laki- laki memohon ijin ke Toilet tadi, malah Fanni juga memohon ijin kepada guru yang kebetulan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang cukup boring.


Rasa penasaranku kian meningkat serta sahabat temanku pula terdapat yang bertanyatanya menimpa apa yang hendak mereka perbuat di Toilet. Sebab saya tidak bisa menahan rasa penasaranku, kesimpulannya saya juga memohon ijin buat ke Toilet dengan alibi yang tentu. Saat sebelum hingga di Toilet kulihat sahabat sahabat laki- laki kelasku yang bertiga itu kelihatannya lagi menunggu seorang. Tidak lama setelah itu nampak Fanni mengarah tempat sahabat sahabat laki- laki tersebut serta mereka bersama- sama masuk ke kamar Toilet secara bertepatan. Rasa penasaranku mulai meningkat, sehingga saya mendekati kamar Toilet yang mereka masuki. Terdengar suara keributan semacam perebutan santapan di ruangan tersebut. Kesimpulannya saya masuk ke kamar Toilet, secara perlahanlahan kubuka pintu kamar Toilet yang bersampingan dengan kamar Toilet yang mereka masuki, sehingga obrolan serta perbuatan mereka bisa terdengar dengan jelas olehku.“ Hai Tun, Sep, siapa yang hendak duluan..?” tanya Iwan kepada mereka. Dijawab dengan serentak dari mulut Fanni seseorang wanita, ia menanggapi dengan nada menantang,“ Mari.., siapa saja yang hendak duluan.

Cerita Sex: Manisnya Teman SMP ku yang Gila Seks


Saya mampu kok kalaupun kamu langsung bertiga..!” Saya bingung, apa sih yang mereka perundingkan, sampaisampai silih menunjuk serta menantang semacam itu. Tetapi saya senantiasa terdiam membisu sembari mencermati kembali, apa yang hendak terjalin. Sehabis itu, tidak lama setelah itu Toni menanggapi dengan nada ringan,“ Yah udah, jika begitu Kita bertiga bareng bareng ajah. Supaya rame..!” katanya. Langsung disambut perkataan Toni tersebut oleh Ika,“ Mari cepetan..! Nanti keburu kembali sekolah.” Serta kesimpulannya Utun juga berucap,“ Mari Kita mulai..!” Sehabis itu tidak terdengar suara obrolan mereka lagi, namun terdengar suara reslueting yang kayaknya dibuka serta pula suara orang membuka pakaian. Tidak lama setelah itu terdengar suara riang mereka bertiga dengan perkataan menanyakan pada Fanni,“ Hey Fanni.., Siapa sih yang sangat besar perlengkapan kelamin Kami bertiga ini..?” Fannipun menanggapi dengan nada malumalu,“ Kayanya sih Utun yang sangat gede, gelap lagi.” dengan sedikit nada menyindir serta langsung dijawab oleh Utun,“ Hey Ka..! Cepetan buka tuh pakaian Kalian, supaya cepet asyik sang Joni, Kita nih enggak kokoh lagi..!” Sehabis terdengar Fannimembuka bajunya, tidak lama setelah itu terdengar suara temanteman laki- laki bertiga, Utun, Asep, Iwan dengan nada ganas,“ Wauw.., benar benar body Kalian Fanni, kaya gadis turun dari langit..!” Tidak lama setelah itu Toni bertanya pada Fanni,“ Fanni.., jika Saya boleh tidak meraba buah dadamu ini yang bagaikan mangkuk mie ini Fanni..?” Fannipun menanggapi dengan nada enteng,“ Yah sok aja, yang berarti jangan dirusak ajah..!” Utun juga kayaknya tidak ingin kalah dengan Asep, ia juga bertanya,“ Fanni.., Saya bolehkan memasukkan perlengkapan kelaminku ke lubang gua rawamu ini kan Ka..?” sembari meraba- raba perlengkapan kelamin Ika. Fanni juga menanggapi dengan nada menekan, sebab perlengkapan kelaminnya kayaknya lagi diraba- raba oleh Utun,“ Aahh.. uhh.. boleh Tun.. asal jangan sangar yah tun..!” Serta terakhir terdengar suara Iwan yang tidak ingin kalah pula,“ Fanni.., Saya boleh kan menciumimu mulai dari bibir sampai lehermu Ka.., boleh kan..?” Fannimenjawab dengan nada semacam kesakitan,“ Awww.. Uuuhh.. iyaiya, boleh deh seluruhnya..!” Suarasuara tersebut terdengar olehku di samping kamar Toilet yang mereka isi, yang mayoritas suarasuara tersebut membuat aku risih mencermatinya, semacam,“ Aaahh.. eehh.. aawww.. eheh.. owwoowww.. nikmat..!” Serta tidak lama setelah itu terdengar suara Fanni,“ Kamu jangan sangat nafsu dong..!” kata Fannikepada temanteman laki- laki tersebut,“ Sebab Saya kan sendirian.., sebaliknya Kamu bertiga enggak sebanding dong..!” Namun mereka bertiga tidak menanggapi perkataan Fannitersebut, serta kesimpulannya terdengar suara jeritan kesakitan yang cukup keras dari Ika,“ Aaawww.., sakit..!” Fanni setelah itu melanjutkan dengan perkataan,“ Aduh Tun.., Kalian udah memperoleh keperawanan Aku..!” Dijawab dengan kilat oleh Utun,“ Gimana Ka..? Hebatkan Aku.” Sehabis itu Utun juga mendesah semacam kesakitan,“ Adu.. aduh.., kayanya perlengkapan kelaminku baret deh serta hendak menghasilkan cairan penyubur.” kata- katanya diperuntukan kepada temantemannya.


Tidak lama setelah itu Iwan bertanya kepada Ika,“ Fanni saya bosan hanya menyiumi Kalian aja Fanni.., Saya kan kepingin pula kaya Utun..!” Iwan juga langsung bertukar posisi, yang anehnya posisi Iwan tidak sama semacam yang dicoba Utun, ialah memasukkan perlengkapan kelaminnya ke lubang pembuangan( anus) dari balik, sehingga Fannitidak lama setelah itu menjerit kedua kalinya.“ Aaawww.. Iiihh.. nyeri ketahui Wan..! Kalian sih salah jalan..!” rintih Fannimenahan sakit. Namun kayaknya Iwan tidak menghiraukan perkataan Ika, serta terus saja Iwan berupaya mau semacam Utun, hingga perlengkapan kelaminnya menggapai klimaks serta menghasilkan cairan penyejuk hati. Cuma berlangsung sebentar, Iwan juga menjerit kesakitan serta perlengkapan kelaminnya juga dikeluarkan dari lubang pembuangan dengan berkata,“ Aaahh.., uuhh.., uuhh.., enaak Fanni, makasih. Kalian hebat..!” Toni yang setia cuma meraba- raba buah dada Stephani edan sekali- kali menggigit buah dada Ika.


Namun nyatanya kesimpulannya Toni bosan serta mau semacam kedua temannya yang menghasilkan cairan penyubur tersebut sembari mengatakan,“ Fanni.., Saya pula ingin kaya mereka dong, mari Ka..! Kita mainkan..” Fannimenjawab dengan nada lemas,“ Aduh Sep..! Kayanya Saya udah letih Sep, sorry yah Sep..!” Kesimpulannya Toni jengkel pada Fannidan langsung saja Toni menarik tangan Fannikepada perlengkapan kelaminnya dengan menyodorkan perlengkapan kelaminnya.“ Fanni.., pokoknya Saya enggak mo ketahui.., Saya pinggin kaya mereka berdua..!” Fannimenjawab dengan nada lemas,“ Aduh Sep.., gimana yah, Saya benar benar lemas Sep..!” Saya senantiasa terdiam di kamar Toilet tersebut. Terdapat dekat 45 menit bersinambung, serta saya juga berpikir apakah bisa jadi mereka berbuat oral seks sebab masih duduk di SMP. Perihal ini mendesak rasa penasaran tersebut buat memandang apa yang sesungguhnya terjalin. Kesimpulannya saya bisa memandang mereka dari atas, sebab kamar Toilet di sekolahku pada waktu itu tembok pembaginya tidak tertutup hingga dengan atas langit, sehingga saya bisa memandang mereka berempat. Sebab jengkel akibat Toni tidak dipadati permintaannya, kesimpulannya Toni menarik kepala Fannike depan perlengkapan kelaminnya yang telah mengencang tersebut. Toni mengatakan dengan nada mengecam kepada Fanni,“ Mari Fanni..! Kalo gitu kelomohi perlengkapan kelaminku sampai Saya merasakan enaknya semacam mereka..!” Sehabis berupaya memanjat buat memandang adgean secara langsung, saya bisa memandang dengan jelas. Fanniseorang wanita langsung saja mengerjakan apa yang disuruh oleh Asep, sebaliknya temannya yang berdua lagi, Utun serta Iwan duduk di lantai, tergeletak menahan rasa lezat bercampur sakit yang mereka rasakan tersebut. Tidak berlangsung lama, Toni mengatakan kepada Ika,“ Fanni.., ahh.. aah.. awas Fanni..! Saya hendak mengirimkan cairan penyuburku yang hebat ini..!” Kulihat Fannilangsung menyopotkan perlengkapan kelamin Toni dari mulutnya, serta nampak raut wajah Fanniyang sayu serta sendu bercampur gembira sebab bisa duit serta pilu sebab keperawanannya telah lenyap oleh mereka bertiga.


Bawah Toni lagi jengkel, Toni menyemprotkan cairan penyuburnya kepada Fannidan kedua temannya dengan mendesis kesakitan terlebih dulu.“ Aaahh.., uuhh.., Awas cairan penyuburku ini diterima yah..!” kata Toni sembari tangannya senantiasa mengocokkan penisnya. Kulihat Toni menyempotkan cairan penyubur itu dari perlengkapan kelaminnya secara agresif. Sehabis terdapat 15 menit sehabis Toni menghasilkan cairan penyuburnya, kulihat mereka langsung berpakaian kembali sehabis mereka menyopotkan bajubaju mereka hingga tidak tersisa sehelai kain juga. Saat sebelum mereka keluar, saya langsung kilat keluar dari kamar mandi tersebut secara perlahanlahan supaya tidak terdengar oleh mereka. Setelah itu saya mengarah ke kelas yang sudah mengawali pelajarannya dari tadi. Cuma berselang sebagian menit, mereka masuk ke kelas seorangseorang supaya tidak ketahuan oleh guru kami.


Hari itu tidak terasa lama hingga bel keluar sekolah berbunyi. Kulihat mereka bertiga sahabat cowokku, Asep, Iwan, Utun sedikit letih, semacam kehilangan napas serta anehnya mereka berjalan semacam kehilangan tenaga. Sebab saya suka iseng ke temen, saya langsung bertanya kepada mereka bertiga,“ Hey Kamu kayanya pada lemes banget. Habis ngebuat su.., sumur yah..?” Langsung dijawab dengan enteng oleh perwakilan mereka bertiga, ialah Asep,“ Iya Bie, lezat ketahui kalo ngegali sumur tersebut dengan ramerame..!”“ Ohh gitu yah..?” jawabku dengan tersenyum sebab ketahui apa yang mereka perbuat tadi. Tidak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Fanniberjalan sendirian dengan memegang tas kantongnya yang tiap hari tasnya senantiasa di atas pundaknya. Saat ini cuma dibawa dengan metode dijingjing olehnya. Langsung saja saya memanggilnya,“ Fanni


tunggu..!” Fanni menjawab dengan nada lemas,“ Terdapat apa Bie..?” Sebab saya pula mau iseng padanya, kulangsung bertanya,“ Fanni.., kayanya Kalian kecapean. Habis tertembak peluru nyasar yang menghajarmu, ya Fanni..?” Fannipun menanggapi dengan nada jengkel, bisa jadi apalagi tersindir,“ Yah.. Bie.., bukan peluru nyasar, tetapi burung gagak yang nyasar melanda sarang tawon serta goa Hiro, ketahui..!” Mendengar nadanya yang tersinggung, saya langsung memohon maaf kepada Ika.“ Fanni.., maaf.


Kok gitu aja dikira sungguh- sungguh, maaf yah Ka..?” kataku menenangkannya sembari tersenyum bersahabat. Sebab saya penasaran, saya langsung menyerempet menyerempet supaya terpepet.“ Fanni.., boleh enggak Fanni, Saya coba masuk ke goa Hiro tersebut..? Kayanya sih asyik.. dapat terbang kaya burung..!” pintaku sembari tertawa pelan. Sebab Fannisudah jengkel serta letih, Fannimenjawab,“ Apa sih Kalian Bie..? Kalian ingin goa Aku, nanti dong antri.., masih banyak burung yang ingin masuk ke goaku, ketahui..!” Serta kesimpulannya saya tertawa dengan rasa bahagia.


Efek Ekspedisi Dinas Terbaru


Cecilia merupakan salah seseorang manager pada bagian Treasury di suatu bank asing. Cecilia berusia 28 tahun, ia merupakan seseorang Sunda yang berasal dari wilayah Bogor. Cecilia sudah bersuami serta memiliki seseorang anak yang baru berusia 7 tahun. Badan Cecilia apat dikatakan kurus dengan besar tubuh kurang lebih 163 centimeter, dengan berat tubuhnya kurang lebih 49 kilogram. Buah dadanya berdimensi kecil namun padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis. Setibanya di Semarang, sehabis check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada sebagian nasabah, yang dicoba hingga dengan sehabis makan malam. Sehabis berakhir berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Andi serta Anita melanjutkan kegiatan mereka dengan duduk- duduk di bar hotel sembari mengobrol serta minum- minum. Cecilia pada awal mulanya diajak pula, tetapi sebab merasa sangat letih, serta di samping itu dia pula merasa tidak lezat mengusik mereka, hingga dia lebih dahulu kembali ke kamar hotel buat tidur. Menjelang tengah malam, Cecilia seketika terbangun dari tidurnya, perihal ini diakibatkan sebab dia merasa tempat tidurnya bergerak- gerak serta terdengar suara- suara aneh. Dengan lambat- laun Cecilia membuka matanya buat mengintip apa yang terjalin. Hatinya terkesiap memandang Andi serta Anita lagi bergumul. Keduanya terletak dalam kondisi polos sama sekali. Anita yang bertubuh kecil itu, lagi terletak di atas Andi semacam seperti seorang yang lagi menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan kilat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,


“ Ssshhh…, sshhh…”, sebab bisa jadi khawatir membangunkan Cecilia. Kedua tangan Andi lagi meremas- remas kedua buah dada Anita yang kecil namun padat berisi itu. Cecilia sangat panik serta terletak dalam posisi yang serba salah. Jadi ia cuma dapat terus berlagak semacam lagi tidur. Cecilia mengharapkan mereka kilat berakhir serta Andi lekas kembali ke kamarnya. Esok ia hendak menegur Anita supaya tidak melaksanakan perihal semacam itu lagi di kamar mereka. Sepatutnya mereka bisa melaksanakan perihal itu di kamar Andi sehingga mereka bisa melaksanakannya dengan leluasa tanpa tersendat oleh siapa juga. Dari bau whisky yang tercium, warnanya keduanya masih terletak dalam kondisi mabuk. Cecilia berupaya keras buat bisa tidur kembali, meski sesungguhnya dia merasa sangat tersendat dengan gerakan serta suara- suara yang ditimbulkan oleh mereka.


Pada dikala Cecilia mulai terlelap, seketika dia merasakan suatu lagi merayap pada bagian pahanya. Cecilia sangat kaget serta badannya mengejang, sebab pada dikala ia perhatikan, nyatanya tangan kanan Andi lagi berupaya buat mengusap- ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Cecilia berpura- pura masih terlelap serta berupaya mengintip apa yang sesungguhnya lagi terjalin. Warnanya game Andi serta Anita telah berakhir serta Anita dalam kondisi keletihan dan hadapi kepuasan yang baru dinikmatinya, telah tergolek tidur. Andi yang masih terletak dalam kondisi polos dengan posisi tubuh separuh tidur disamping Cecilia, sembari bertumpu pada siku- siku tangan kiri, tangan kanannya lagi berupaya menyingkap selimut yang dipakai Cecilia. Cecilia jadi sangat panik, pada awal mulanya ia hendak bangun serta menegur Andi buat menghentikan perbuatannya, hendak namun di pihak lain ia merasa tidak lezat sebab tentu hendak membuat Andi malu, sebab dipikirnya Andi melaksanakan perihal itu lebih diakibatkan sebab Andi masih terletak dalam kondisi mabuk. Kesimpulannya Cecilia memutuskan buat senantiasa berpura- pura tidur dengan harapan Andi hendak menghentikan kegiatannya itu. Hendak namun harapannya itu nyatanya percuma belaka, apalagi secara lambat- laun Andi bangkit serta duduk di samping Cecilia. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi badan Cecilia dengan lambat- laun serta dari mulutnya menggumam lama- lama,“ Psssttt sayang, ayo kubantu menikmati suatu yang baru…, nih.., kubantu membebaskan celana dalammu…, tidak baik jika tidur gunakan celana dalam”, sembari tangannya yang sebelumnya mengelus- elus bagian atas paha Cecilia bergerak naik serta memegang tepi celana dalam Cecilia, setelah itu menariknya dengan lambat- laun ke dasar meluncur di antara kedua kaki Cecilia. Tubuh Cecilia jadi kaku serta ia tidak ketahui wajib berbuat gimana.


Cecilia seakan- akan berganti jadi arca, pikirannya jadi hitam serta matanya dirasakannya berkunang- kunang. Andi memandang kedua gundukan bukit kecil dengan belahan kecil di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut gelap kecoklatan halus yang tidak sangat rimbun di antara paha atas Cecilia. Jari- jari Andi membuka satu persatu kancing daster Cecilia, sembari tangannya bergerak terus ke atas serta saat ini dia menyingkapkan segala selimut yang menutupi badan Cecilia, sehingga terlihatlah buah dada Cecilia yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil bercorak coklat tua. Saat ini Cecilia tergolek dengan badannya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang serta pantat yang penuh berisi, dan buah dada yang kecil padat serta belahan di antara paha atas yang membukit kecil, betul- betul sangat memicu nafsu birahi Andi. Andi telah tidak mampu menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Anita, saat ini bangkit lagi, tegang serta siap tempur. Semenjak dikala itu Andi berniat buat tidak hendak melepaskan Cecilia. Dia sangat berharga buat di perkenankan, Andi hendak menikmati badan Cecilia berulang- ulang pada malam ini. Kemolekan badan Cecilia sangat sayang buat ditaruh oleh Cecilia sendiri pikir Andi. Andi mendesak badan Cecilia serta mulai meremas- remas buah dada Cecilia yang sudah terbuka itu,


“ Dengerin sayang, you hendak aku ajarin menikmati suatu yang nikmat, asal you baik- baik nurutin apa yang hendak aku tunjukkan”. Pemahaman Cecilia mulai kembali secara lambat- laun serta dengan badan gemetar Cecilia lambat- laun membuka matanya serta mencermati Andi yang lagi merangkak di atasnya. Cecilia berupaya mendesak tubuh Andi sembari mengatakan,“ Andi, apa yang lagi kau jalani ini?”,“ Sadarlah Andi, saya khan telah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Sebab menyangka Andi terletak dalam kondisi mabuk, Cecilia berupaya membujuk serta menggugah pemahaman Andi. Hendak namun Andi yang sudah sangat terangsang memandang badan Cecilia yang molek halus lembut serta bugil di depan matanya mana ingin paham, terlebih penisnya sudah dalam kondisi sangat tegang.“ Edan! Cakep banget! Amati buah dadamu, padat banget. Sesuai sama seleraku! You emang pinter melindungi badanmu, sayang!”, kata Andi sembari memencet badannya ke badan Cecilia.


Cecilia berupaya bangun berdiri, hendak namun tidak dapat serta ia tidak berani sangat berperan agresif, sebab khawatir Andi hendak membalas berlaku agresif padanya.


Sebaliknya dalam letaknya itu saja dia telah tidak terdapat lagi mungkin buat lari.


Sembari menjilat bibirnya Andi tiduran di sisi Cecilia.“ Lin, lebih baik you menjajaki kemauanku dengan manis, jika tidak aku hendak maksa you serta aku perkosa you habis- habisan. Jika you nurutin, you hendak merasakan kenikmatan serta tidak hendak sakit”. Kemudian tangannya ditangkupkan di buah dada Cecilia, sembari meremas- remasnya dengan sangat bernafsu, sembari merasakan kehalusan serta kepadatan buah dada Cecilia.“ Bodi you oke banget!”, kata Andi.“ Coba you berbalik Cecilia!”. Lambat- laun dengan perasaan yang putus asa Cecilia berbalik membelakangi Andi. Serta dirasakanya tangan Andi saat ini terdapat di pantatnya meremas serta meraba- raba. Setelah itu Andi menyibakkan rambut Cecilia, serta dihirupnya leher Cecilia dengan hidungnya sedangkan lidahnya menelusuri leher Cecilia. Sembari melaksanakan perihal itu tangan Andi berpindah mengarah kemaluan Cecilia. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain- main, mengelus- elus serta menekan- nekan, sembari mengatakan,“ Kasihan you, Cecilia, tentu suami you tidak ketahui metode membahagiakan you?”,


“ Tetapi tenang aja sayang, dengan aku, you tidak bakalan dapat kurang ingat seumur hidup, you bakalan merasakan gimana jadi perempuan sejati!”. Sembari memutar kembali badan Cecilia.


Sehabis itu Andi mengambil tangan Cecilia serta meletakkannya di kemaluannya yang sudah sangat tegang itu. Kala merasakan tangannya memegang barang hangat yang besar lagi keras itu, badan Cecilia tersentak, belum pernah Cecilia bisa berpikir dengan jelas, terasa tubuhnya sudah ditelentangkan oleh Andi serta dengan kilat Andi sudah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Andi. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Andi kemudian melekatkan ujung penisnya ke bibir Miss V Cecilia,“ Apa you ingin aku masukin itu?”,


“ Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann…, Toomm…”, Cecilia dengan suara mengiba- iba masih berupaya berupaya membatasi hasrat Andi.


Cecilia berupaya mengeser pinggulnya ke samping, berupaya menjauhi penis Andi supaya tidak bisa menerobos masuk ke dalam liang kewanitaannya.


Sembari tersenyum Andi mengatakan lagi,


“ You tidak bisa kemana- mana lagi, lebih baik you diam- diam saja serta menikmati game aku ini..!”. Andi kemudian memajukan pinggulnya dengan kilat serta memencet ke dasar, sehingga penis besarnya yang sudah melekat pada bibir kemaluan Cecilia dengan kilat menerobos masuk ke dalam liang Miss V Cecilia dengan tanpa bisa dihalangi lagi.


Testis Andi mengayun- ayun menampar bagian dasar Miss V Cecilia, sedangkan Cecilia megap- megap sebab dorongan keras Andi. Cecilia belum sempat merasakan dikala semacam ini, tiap bagian badannya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang dikala ditindih oleh dada Andi. Dirinya telah kurang ingat jika lagi diperkosa, dia tidak hirau pada badan besar Andi yang lagi bergerak naik turun menindih badannya yang ramping. Cecilia mulai merasakan sesuatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian dasar badannya, vaginanya yang sudah terisi oleh penis besar serta panjang kepunyaan Andi, terasa menggelitik serta menyebar ke segala badannya, sehingga Cecilia cuma dapat menggeliat- geliat serta mendesis mirip orang kepedasan. Cecilia cuma berupaya menikmati segala rasa nikmat yang dialami badannya. Saat ini Cecilia berupaya buat berupaya aktif dengan turut menggerakkan pinggulnya menjajaki irama gerakan Andi di atasnya. Andi memandang Cecilia mengerang, merintih serta mengejang tiap kali dia bergerak. Serta Cecilia telah mulai terbiasa menjajaki gerakannya. Andi merasakan tangan Cecilia merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus- elus ke dasar serta meremas- remas pantatnya dan menariknya ke depan supaya terus menjadi merapat pada badan Cecilia. Andi terus menggosok- gosokkan penisnya pada klitoris Cecilia. Andi saat ini mau membuat Cecilia orgasme terlebih dulu. Cecilia terus menjadi terangsang serta tidak terkontrol lagi tiap kali bagian badannya bergerak menjajaki tekanan serta sodokan Andi, saat ini mukanya terbenam di dada bidang Andi, mulutnya megap- megap semacam ikan terdampar di pasir, dengan lambat- laun mulutnya beralih pada dada Bossnya serta sembari terus menjilat kesimpulannya datang pada puting susu Andi. Saat ini Cecilia secara refleks mulai menyedot serta menghirup puting susu Andi, sehingga tubuh Andi mulai bergetar pula saking merasa nikmatnya. Penis Andi terasa terus menjadi keras, sehingga Andi terus menjadi ganas saja menggerakkan pantatnya memencet pinggul Cecilia dalam- dalam. Cecilia merasakan vaginanya berkontraksi, sembari berupaya menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik segala bilik liang kemaluannya serta menjalar ke segala badannya. Perasaan itu kian lama kian kokoh menguasainya sehingga seakan- akan menutupi kesadarannya serta membawanya melayang- layang dalam kenikmatan yang tidak sempat dialaminya sepanjang ini serta tidak bisa dilukiskan maupun dijabarkan dengan perkata. Kenikmatan yang dirasakan Cecilia tercermin pada gerakan badannya yang meronta- ronta liar tanpa terkontrol bagaikan ikan yang menggelepar- gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,


“ Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”. Kedua pahanya melingkari pantat Andi serta dengan kokoh menjepit dan memencet ke dasar, diiringi badannya yang mengejang serta kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kokoh, betul- betul sesuatu orgasme yang dahsyat sudah menyerang Cecilia. Andi merasakan penisnya terjepit dengan kokoh oleh bilik kemaluan Cecilia yang berdenyut- denyut diiringi isapan kokoh seakan- akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan bilik Miss V Cecilia serta di ujung situ terasa terdapat“ tembok” yang mengelus kepala penisnya. Sehabis istirahat sejenak serta memandang Cecilia telah agak tenang, Andi mulai memompa lagi. Pompaan Andi kali ini lekas dibalas oleh Cecilia, pinggulnya bergerak- gerak“ aneh” tetapi efeknya luar biasa. Penis Andi serasa dilumat dari pangkal hingga kepalanya. Kemudian masih ditambah dengan alterasi, kala pinggul Cecilia menyudahi dari gerakan aneh itu, seketika Andi merasakan penisnya terjepit dengan kokoh serta dinding- dinding kemaluan Cecilia berdenyut- denyut secara tertib, dekat 4- 5 kali denyut menjepit, baru setelah itu bergoyang aneh lagi.


Wah, sesuatu sensasi menyerang perasaan Andi, sesuatu ikatan kelamin yang belum sempat dinikmatinya dengan perempuan manapun pula sepanjang ini. Menyesal Andi sebab tidak dari dulu- dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Cecilia kian bermacam- macam. Terkadang Andi malah memohon Cecilia menyudahi bergoyang buat hanya menarik napas panjang. Lumatan bilik kemaluan Cecilia pada penis Andi buatnya geli- geli serta serasa hendak‘ meledak’. Andi tidak mau cepat- cepat hingga, sebab masih mau menikmati. Cerita Seks.


“ elusan” Miss V Cecilia. Namun gerakan- gerakan di dalam liang kewanitaan Cecilia terus menjadi merajalela serta terus menjadi liar. Sampai kesimpulannya Andi wajib menyerah, tidak sanggup menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, terus menjadi kilat Andi bergerak mengimbangi goyangan pinggul Cecilia, terus menjadi terasa pula rangsangan yang hendak meletupkan lahar panas yang lagi mengarah klimaks, mendaki puncak, saat- saat yang sangat nikmat. Serta kesimpulannya, pada tusukan yang terdalam, Andi menyemprotkan maninya kuat- kuat di dalam liang kewanitaan Cecilia, sembari mengejang, melayang, bergetar. Pada detik- detik dikala Andi melayang tadi, seketika kaki Cecilia yang pada awal mulanya mengangkang, diangkatnya serta menjepit pinggul Andi kuat- kuat. Amat sangat kokoh. Kemudian badannya turut mengejang sebagian detik, mengendor serta terus mengejang lagi, lagi serta lagi…, Cecilia juga tidak mampu menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak- beliak, dan totalitas badannya bergetar dengan hebat tanpa terkontrol, bersamaan dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Cecilia.“ Toommm, aduuuh, Toomm, aahhhhh…, aaduuhh…, nikmaaatt.., Toomm….!”. Andi tersenyum puas memandang badan Cecilia terguncang- guncang sebab orgasme sepanjang 15 detik tanpa henti- hentinya. Setelah itu tangan Cecilia dengan eratnya memencet pantat Andi ke arah selangkangannya sembari kakinya menggelepar- gelepar ke kiri kanan. Andi juga terus menggerakkan penisnya buat menyikat klitoris Cecilia. Sehabis orgasmenya berakhir, badan Cecilia langsung terkulai lemas tidak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan serta kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Cecilia merasa bagian- bagian badannya seakan terlepas serta tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Sehabis gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Cecilia kembali ke alam nyata serta menyadari kalau ia lagi terkapar di dasar tindihan tubuh perkasa lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja membagikan kepuasan yang tiada tara padanya. Sesuatu perasaan malu serta menyesal melandanya, gimana ia dapat begitu mudah ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar serta Cecilia mulai menangis tersedu- sedu. Dengan badannya yang masih menghimpit tubuh Cecilia, Andi berupaya membujuknya dengan membagikan bermacam alibi antara lain sebab dia sangat banyak minum sehingga tidak bisa mengendalikan dirinya. Sembari membujuk serta mengelus- elus rambut Cecilia dengan lambat- laun penisnya mulai tegang lagi serta dengan halus penisnya yang memanglah sudah terletak pas di depan kemaluan Elis ditekan lambat- laun supaya masuk ke dalam kewanitaan Cecilia. Pada dikala merasakan penis Andi mulai menerobos masuk ke dalam kewanitaannya, Cecilia bereaksi sedikit dengan berupaya memberontak lemah tetapi kesimpulannya diam pasrah serta membiarkan penis besar tersebut masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. Dengan lambat- laun Andi menggerakkan tubuhnya naik- turun, sehingga lama- kelamaan badan Cecilia mulai terangsang kembali serta bereaksi, serta pergumulan kedua insan tersebut terus menjadi lama terus menjadi seru mendaki puncak kepuasan serta kenikmatan, terlupa hendak seluruh penyesalan. Pertarungan mereka terus bersinambung selama malam serta baru menyudahi menjelang fajar menyingsing keesokan harinya. Jam 10 pagi keduanya baru terbangun serta nampak Anita sudah berpakaian apik, lagi menikmati makan pagi paginya sembari mengerling ke arah mereka dengan senyum- senyum rahasia. Pada mulanya Cecilia merasa sangat malu terhadap Anita, tetapi memandang respon Anita yang semacam itu, seakan- akan mengajak bersekutu, kesimpulannya Cecilia. Demikian lah Cerita Seks Pengalaman Ku Memiliki Sahabat SMP Yang Edan Sex oleh Cerita sex hot 

Monday, October 6, 2025

Cerita Seks Bersama Teman Lamaku

Cerita Seks -  Mulanya aku jumpa tidak sengaja dengan teman yang sudah lama tidak bertemu. Aku mengenali temanku yang dulu kawan sepermainan di kampung. Dia tidak mengenaliku, tetapi aku masih ingat ciri-cirinya. Dia waktu itu sedang berdiri di pinggir jalan menunggu bus, sementara aku sedang jalan di kaki lima. Aku tegur dia “Gentar ya.”. 

Dia terkejut sambil mengernyit menatapku. “Iya, siapa ya,” tanyanya. Aku tidak menyebut namaku, tapi menyebut sepatah kata, “gua lempung”. “Hah kamu Ardian ya,” katanya sambil menjabat tanganku erat sekali. Sahabatku terlihat miskin. 

Bajunya lusuh dan bau keringatnya agak menyengat. “Mau kemana” tanyaku. “Pulang,” jawabnya singkat. Kami lalu ngobrol sebentar dan akhirnya aku memutuskan ikut ke rumahnya. Awalnya dia keberatan, karena malu rumahnya di dalam gang, kumuh. Namun aku memaksanya, sehingga dia tidak kuasa menolak. Sebenarnya aku bisa mencegat taxi agar lebih cepat ke tujuan, tetapi aku berusaha menyembunyikan keberadaanku, apalagi aku mengaku sedang mencari kerja. Ini setidaknya menjaga agar Gentar tidak minder terhadapku. 



 Kami naik bus yang penuh sesak, sekitar setengah jam Gentar mengajakku turun dan berjalan masuk ke gang, berliku-liku sampai gangnya kecil sekali sehingga untuk berpapasan saja harus saling memiringkan badan. Sebuah rumah, yang setengah berupa berupa bangunan tembok bata tidak berplester dan setengah atasnya anyaman bambu (tepas) yang sudah dilapisi kertas semen dan dicat. Lantainya semen biasa. Ada ruang tamu mungkin ukurannya sekitar 2 x 3 m lalu ada ruang di belakangnya yang mungkin itu kamar tidur. 

 Aku trenyuh melihat keadaannya, terlihat sangat miskin. Kami duduk di tikar. Gentar mengenalkan istrinya yang berpenampilan sederhana dan kelihatannya umurnya beda agak jauh dari Gentar. Jika Gentar sebaya aku sekitar 35 tahun, istrinya kelihatannya masih berusia di bawah 25 tahun. Istrinya biasa saja, tidak cantik, kulitnya sawo matang. Dia menyalamiku dan menyebut namanya Dina. Dari obrolan kami di ruang tamu yang bergaya lesehan, istrinya dikenalnya di wilayah tempat tinggalnya sekarang. Jadi Dina asli kelahiran kampung kumuh ini. 

 Mereka sudah 3 tahun berumah tangga, tetapi belum mendapat anak. Kami bertiga ngobrol ngalor – ngidul dan aku tetap berusaha menyembunyikan keadaan diriku. Aku berusaha mensejajarkan taraf hidupku dengan dia. Oleh karena itu, HP canggihku, aku sudah stel silent dan kusimpan di dalam tas. Itu semua aku kerjakan ketika mereka sedang sibuk di dalam rumah, mungkin mempersiapkan minuman kopiku. Aku sudah lama memiliki impian ingin merasakan hidup di tengah-tengah lingkungan kumuh rakyat jelata. Gentar yang secara kebetulan bertemu aku, memberi jalan masuk aku untuk mewujudkan keinginanku. Tanpa merasa canggung aku mengutarakan keinginanku mencari kamar kontrakan di daerah ini yang paling murah. 

Istri Gentar menyambut dengan mengatakan, cukup banyak, tinggal pilih saja. Pada saat itu juga aku minta diantar ketempat dimana-mana saja yang tersedia kontrakan itu. Setelah 4 – 5 tempat kami kunjungi sambil menelusuri gang-gang sempit, aku menemukan satu kamar yang letaknya diatas. Kamarnya hanya berukuran 2,5 x 2,5 m, yang merupakan rumah papan. Kamarnya kosong, tidak ada perabotan apa pun. Kamar mandi ada di bawah, yang merupakan fasilitas bersama untuk orang seisi rumah. Memang ada 2 kamar mandi untuk rumah ini yang mungkin dihuni oleh sekitar 10 orang. Biaya kontrakannya memang paling murah diantara semua yang diunjukin tadi. 

Aku tidak membayar langsung, tetapi memberi uang muka saja. Padahal di dompetku ada uang yang cukup untuk membayar lunas sekaligus setahun. Tapi ini aku tahan, agar tetap terlihat miskin. Sekitar 2 jam aku beranjang sana ke kediaman Gentar, aku lalu pamit. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tinggal di rumah saudara jauh. Di Jakarta ini aku sedang mencari kerja setelah tempat ku kerja di Jawa Tengah bangkrut. Padahal aku ke Jakarta untuk memeriksa operasional kantor cabangku yang ada 3 di kota ini. 

Aku membuka usaha di salah satu kota di Jawa Tengah dan di kota itulah aku tinggal bersama istri dan seorang anak. Dengan aset yang begitu besar seharusnya pakaianku perlente dan pastinya naik-turun mobil pribadi dari produk tahun mutakhir. Namun ketika aku bertemu dengan Gentar, aku sedang nyantai dengan blue jean buluk, kaos oblong hitam dan sendal jepit. Aku menyandang tas yang terbuat dari kain blacu dengan tulisan promosi dari produk tertentu. Aku memang sengaja tampil rada gembel, karena aku memang senang begitu. 

 Di Jakarta aku tinggal di apartemen sendirian. Kali ini aku akan tinggal di pemukiman kumuh dekat dengan rumah Gentar. Sebetulnya aku tidak punya pakaian yang bisa mendukung tampilan tinggal di daerah kumuh. Untuk menyempurnakan tampilanku, aku berburu pakaian bekas di pasar Senen. Beberapa hari kemudian saat agak sore,karena seharian aku pontang-panting dengan beban kerjaku. Sekitar jam 5 sore aku sudah sampai di daerah kumuh dan langsung menuju kamar kontrakanku. Aku temui pemilik kontrakan dan kubayar biaya sewa sebulan. Cerita Sex Aku masuk ke kamarku dan mengeluarkan handuk dan peralatan mandi. 



Untuk tidur aku menggelar matras gulungan yang biasa digunakan untuk anak-anak pecinta alam. Aku mencoba berbaring. Kamarku terasa gerah, karena tidak ada ventilasi. Sambil berbaring aku berpikir, berapa lama aku bisa tinggal dengan cara seperti ini. Aku mengenakan celana pendek, menyarungkan handuk, pakai kaos oblong yang kedodoran, memasukkan sabun dan sikat gigi serta pasta giginya di gayung. Aku turun untuk kekamar mandi. 

 Ternyata kamar mandi sedang terpakai semua. Si pemilik rumah memberi tahuku, kalau lagi penuh biasa antri. Dia menunjukkan bangku panjang di sisi rumah . Di situ sudah ada 2 orang yang sudah punya persiapan mandi. Sambil ngantri ke kamar mandi, akhirnya aku berkenalan dan kami ngobrol yang gak keruan juntrungnya. Sambil ngobrol aku menikmati pemandangan di dalam gang sempit, dimana anak-anak berlarian bermain, orang lalu lalang. Setengah jam kemudian giliranku tiba untuk masuk kamar mandi. 

Malam pertama aku tinggal di istana kumuh aku coba nikmati semaksimal mungkin. Meski suasananya gerah, aroma yang kurang enak serta berisik, dengan suara TV, motor, orang berbicara, anak-anak bermain, tetapi karena aku nikmati, rasanya ya nikmat-nikmat saja. Begitulah 3 hari aku berhasil menyesuaikan dengan kehidupan kaum jelata di daerah kumuh dan tidak ada seorangpun yang mencurigaiku, bahwa aku sebenarnya sedang menyamar Suatu sore aku duduk-duduk di depan rumah Gentar sambil merokok dan ngobrol. 

Terlihat oleh mataku seorang anak perempuan. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya juga putih. Jika dilihat dari tingginya anak ini masih tergolong kanak-kanak dipantaran usia 7 – 8 tahun. Ia menarik perhatianku karena anak sekecil itu dadanya sudah nyembul. Sambil menyembunyikan rasa antusiasku aku bertanya mengenai anak itu. Gentar tanpa mencurigaiku malah bercerita mengenai keluarga anak itu. 

Anak itu bernama Chyntia, anak tunggal dari single parent, ibunya keturunan China bekerja menerima cucian. Langsung muncul gagasan di kepalaku dan mengatakan ke Gentar, aku membutuhkan tukang cuci. Dia lalu berdiri mengajakku berjalan ke kontrakan ibu dari anak itu. Rupanya ibunya mendiami kamar kontrakan yang lebih parah keadaannya dari kamarku dan tidak jauh dari tempat tinggalku. Dia memperkenalkan diri Nana. 

Kelihatannya masih di tataran usia remaja, karena wajahnya belum terlihat terlalu emak-emak. Badannya pun belum melar. Wajahnya lumayan jugalah, tapi terlihat kurang terawat. Aku deal memakai jasa cuci dari si Nana. Aku minta dia mengambil cucian 2 kali seminggu, hari Selasa dan Jumat sore. Jika aku tidak ada dirumah pakaian kotorku kubungkus plastik dan diletakkan di depan pintu kamar. 

Pakaian yang sudah selesai akan aku ambil sendiri. Gentar bercerita bahwa suami si Nana sudah tewas di dor Polisi karena terlibat perdagangan narkoba. Nana anak yatim piatu, setelah dia kawin, kedua orang tuanya meninggal dan dia tidak memiliki saudara kandung, karena anak tunggal. Kasihan sebetulnya kalau melihat kehidupannya. Gentar bercerita bahwa istrinya sering memberi nasi bungkus, atau kue-kue, kalau kebetulan pulang pengajian ada bawa berkat. Tidak perlu lama, Dua kali dia mengambil cucian aku sudah akrab dengan Nana. Dia mau saja aku ajak ngobrol di kamar kontrakanku. Aku tertarik pada Nana karena dia punya bahan dasar yang cukup bagus. Artinya kalau dirawat dan dipoles akan terlihat cantik. 

Yang lebih menarik bagi ku adalah anak perempuan satu-satunya. Aku menggemari anak-anak yang menjelang remaja. Tujuanku tinggal di daerah kumuh ini sesungguhnya ya berburu lolita. Nana kutawari kerja sebagai pembantu. Aku mengaku ada temanku mencari pembantu. Dia langsung tanya gajinya berapa. Aku sebutkan suatu angka yang kutahu jumlah itu pasti sangat mencukupi bagi biaya hidup dia dan anaknya, bahkan mungkin berlebih. “Mau dong,” kapan bisa kerja, dari pada kerja ginian, duitnya gak seberapa,” katanya. 

 Syaratnya dia harus tinggal di dalam, masalah anak, tidak menjadi hambatan, bahkan anaknya akan dibiayai sekolah, jika si tuan rumah merasa cocok mempekerjakan Nana. “Aduh mau dong, ayo dong buruan,” katanya sambil menggamit lenganku dan menggoyang-goyangkan. Aku mengemukakan syarat, agar merahasiakan dia akan bekerja apa dan dimana. “ Kenapa emangnya,” tanya dia mengernyit. “Ya gak tahulah, kalau bisa terima syarat itu, besok akan saya antar dan langsung cabut dari rumah.,” kataku. Memikirkan iming-iming gaji yang lumayan dan kerjanya tidak berat, serta anaknya sekolah dibiayai, maka segala syarat yang aku ajukan itu bisa dia terima.