Showing posts with label cewe seksi. Show all posts
Showing posts with label cewe seksi. Show all posts

Wednesday, December 17, 2025

Enaknya Nge Seks Bersama Mantanku

 Cerita Seks  Gina merupakan mantan kekasihku beberapa tahun lampau. Ia menikah dengan pria lain tahun 1996, aku menyusul dua tahun kemudian, saat itu Gina sudah mempunyai anak satu. Kami berpisah baik-baik, dan sesudahnya kami masih berhubungan. Aku juga kenal baik dengan suaminya. Aku dan Gina sama-sama kerja di perusahaan konsultan. Sesudah menikah ia bertugas di salah satu proyek, sedangkan aku di head office, sehingga kami lama tidak ketemu.

ini terjadi pada pertengahan tahun 2000, saat ia kembali bertugas di Head office menjadi sekretaris salah seorang expert kami dari Hongkong. Aku sering berhubungan kerja dengannya. Semula kami bersama dalam tugas. Lama-lama berlanjut untuk hal-hal di luar kerjaan, hingga tidak terasa kebiasaan dulu kembali muncul. Misalnya makan siang. Seperti dulu waktu masih pacaran, sering ia ‘mencomot’ lauk dari piringku, atau sesuatu yang ia makan diberikan separuh ke piringku. Kebiasaanku menyiapkan sendok dan minuman untuknya, atau menghabiskan makanannya juga menjadi kegiatan rutin, seolah hal yang wajar saja dalam hubungan kami.

Untungnya teman-teman sekantor juga menganggapnya wajar. Sering juga kami ngobrol soal rumah tangga, suami(nya), istri(ku), dan anak-anak (kami). Tidak ada cerita jelek, semua baik-baik saja. Tapi di balik yang ‘baik-baik’ tersirat kerinduan (atau kecewaan?) tersembunyi. Dalam suasana seperti itulah hubungan kami berlanjut dan menghasilkan kisah-kisah yang sebagian kucuplik di sini, khusus yang punya kesan mendalam untukku. Pertama: Saung Ikan Mas Hari itu bossnya Gina sedang ke tempat client.

Si boss bawa mobil sendiri, maka seperti biasa Gina memanfaatkan mobil kantor yang menganggur buat jalan-jalan. Driver-nya cs kami, jadi ia mengajakku bergabung cari makan siang di luar. ( “Kamu yang traktir yaa..” katanya). Pukul 11.30 kami bertiga berangkat ke Cwie Mie Fatmawati. Baru sampai di Prapatan Pejaten (kantor kami di Buncit), si boss menelpon minta supaya driver-nya menyusul karena tidak enak badan. Maksudnya minta disupiri pulang.Driver kami turun sambil mengomel, minta uang taksi ke Gina terus menyusul bossnya di sekitar blok M. Gina menggantikan pegang kemudi (dulu, Gina yang mengajariku bawa mobil) dan melanjutkan perjalanan.

“Kalo dulu, sambil nyetir gini biasanya aku dipijitin..” Gina mulai membuka kenangan.
“Sekarang juga boleh..” kataku, sambil mengusap lututnya, biasanya aku pindah ke belakang, memijat leher dan pundaknya dari belakang, dan tentu saja berakhir di payudaranya.
“Jangaan ahh, kacanya terang..” kata Gina.

Usapan di lutut memang lebih aman dari pandangan mobil lain. Dari desahan ‘ahh’-nya kurasakan bahwa Gina menikmatinya.

“Kita ke saung aja yuk..!” lanjut Gina.

Saung merupakan istilah kami berdua untuk sebuah restoran pemancingan di sekitar Ragunan.Aku tidak menjawab, hanya semakin meningkatkan sentuhan di lutut dan ke atas ‘sedikit’ sambil mata tetap waspada memantau kiri kanan takut dilongok pengendara motor. Gina dengan trampil meluncurkan mobil di sepanjang jalan dengan meminimalkan penggunaan kopling supaya paha kirinya lebih mudah terjangkau jari-jariku.

“Berapa tahun aku tidak nyentuh ini..” kataku saat jariku mulai nyelusuri pinggiran CD-nya.

Gina agak tergetar oleh sentuhanku itu, sambil mendesis ia mengoyangkan kakinya.

“Kamu bangun enggak Mas..?” katanya (ia memanggilku ‘Mas’).
“Liat aja,” jawabku.

Ia melirik dan terkikik melihat tonjolan yang mengeras di celanaku.

“Hihihi.. masih mempan juga..”


“Masih dong, remasanmu belum ada duanya..” Restoran itu terletak di pinggir kolam, dihubungkan ke beberapa saung (gubuk dari bambu) di tengah kolam dengan jembatan kayu.

Saung beratap rumbia ukuran 2,5 m x 2,5 m itu diberi pagar bambu rapat setinggi 60 cm. Bagian atasnya terbuka sehingga dapat dipantau dari jauh, tapi dilengkapi krey bambu yang jarang-jarang, dan dapat diturunkan ‘kalau perlu’, juga disediakan bantal duduk. Tidak ada pengunjung lain. Kami meniti jembatan kayu, memilih saung yang paling jauh dari kasir, dan memesan makanan yang paling cepat saji. Tidak lupa kami minta krey diturunkan. Begitu pelayan pergi, aku segera menjatuhkan pantatku di sebelahnya. Ia menyandar ke tiang bambu di pojok, bersila di bantal dengan cuek. Aku meneruskan elusanku yang terhenti, menyusuri pahanya yang terbuka.

“Mana dong yang keras-keras tadi, aku pegang..” katanya tanpa mempedulikan jariku yang sudah terbenam di dalam roknya.

Aku merapatkan duduk agar terjangkau tangannya. Ia menekan-nekan celana di bagian penisku dengan keempat jarinya.Dengan hati-hati sabukku dibuka, lalu zipku diturunkan. Dari sela- sela baju dan singlet, dirogohnya penisku yang sudah mengeras lalu diusapnya lembut.

“Segini aja dulu, biar gampang ditutup,” katanya saat aku mau menurunkan celana panjang.Rasa nikmat yang halus merambat seperti aliran setrum dari selangkanganku, menjalar ke kaki, badan terus ke otak. Kami duduk berdampingan, aku selonjor dengan penis mencuat keluar dari celana, sementara paha kiri Gina menopang di atas paha kananku, kirinya mengusap lembut batangku sementara sambil menikmati elusannya, tangan kananku melakukan eksplorasi ke permukaan vaginanya yang terbungkus CD.

Percumbuan ringan itu terhenti ketika pelayan datang membawa pesanan.Aku menaikkan zipku kembali seraya merapatkan jaket.

“Sana kamu ke kamar mandi Mas, CD sama singletnya dikantongin aja. Sabuknya masukin tas,” ia berbisik memerintahku (Dari dulu aku suka ‘perintah- perintahnya’ Ia membereskan makanan sementara aku ke kamar mandi, membukai semua sesuai instruksi dan mencuci batangku supaya dingin dan segar kembali.

Keluar kamar mandi, aku berpapasan dengan Gina menuju ke tempat yang sama sambil mengedipi aku. Sambil menunggu, membayangkan ulah Gina batangku yang baru didinginkan mengeras lagi. Aku tidak menyentuh makanan, hanya minum Aqua untuk mengurangi bau mulut. Gina datang langsung duduk di bantal lagi.

“Udah lega.. ganjelnya udah masuk sini semua.. Beha, CD..” Gina melemparkan tasnya. Aku kembali merapat.
“Jangan deket-deket, kelihatan dari kasir,” ia mencegah.

Tangan kiriku beralih ke perutnya, pelan-pelan menggeser ke atas.Semua ‘daleman’ Gina sudah tersimpan dengan aman di dalam tas. Gina mengeluh saat tanganku menyentuh bulatan kenyal itu, menggeser posisi sehingga dapat mengawasi kasir di seberang, sekaligus memudahkan aku ‘bekerja’. Ia kembali mendesah lirih saat kusentuh putingnya. Darahku bergejolak merasakan lembutnya buah dada Gina. Beda dengan dulu, sekarang lebih berisi karena menyusui. Aku tidak berani mencium bibir atau mendekapnya karena kepala kami kelihatan sayup dari restoran.

Perlahan kubuka kancing blus dengan menyisakan satu kancing paling atas (Gina biasa begitu supaya cepat ‘memberesinya’) hingga aku dapat leluasa menciumi perutnya.Buah dada Gina mengembang segar, putingnya yang menonjol sudah mulai mengeras, coklat dilingkari semburat merah jambu. Dengan lembut jariku mengelus puting itu. Kuremas tubuh Gina dengan penuh perasaan. Lidahku menjelajahi perutnya, membuat Gina mendesah-desah dengan mata setengah terpejam. Bersembunyi di balik blus longgarnya, ciumanku beralih ke buah dada. Lidahku berputar-putar menyapu lingkaran merah di seputar puting, lalu diteruskan dengan mengulum ujungnya.

Sementara itu tanganku menjelajahi gunung yang sebelahnya. Gina semakin merintih-rintih menikmati sentuhanku. Birahinya semakin menggelora. Sambil tetap menciumi puting susu, tangan kiriku pindah menelusuri paha Gina sambil tangan lainnya menyusup ke belakang, membuka kaitan roknya. Sentuhan dan rabaanku akhirnya sampai ke pangkal pahanya yang tidak terbungkus apa apa.Usapanku pada bukit lembut yang ditumbuhi bulu halus membuat birahi Gina menggelegak, meluap ke seluruh nadi dan pori-pori. Ketika tanganku menyelusup ke celah kewanitaannya yang basah, Gina makin menggeliat tidak terkendali.

“Ahh.. Mass, ahh..” Gina merintih tidak karuan, sementara sekujur tubuhnya mulai dirangsang nikmat yang tidak tertahankan. 

Dengan hati- hati rok Gina kusingkapkan, pahanya yang mulus sudah menganga menantikan sentuhan lebih jauh.Celah di pangkal paha Gina yang ditutupi rambut halus, merekah indah. Kepalaku menyusup ke dalam roknya yang tersingkap, Gina mengangkangkan pahanya lebar-lebar seraya menyodorkan pangkal pahanya, memudahkanku mencapai lembahnya. Jariku mengusap-usap celah itu yang mulai basah dan menebal, sementara lidahku menciumi pinggiran bulu-bulu kemaluannya. Gina mengerang keenakan saat jari-jariku menggetar dan memilin kelentitnya.

“Akh.. Mas, gila..! Udah dong Mass..!” Jari-jariku membasahi kelentit Gina dengan cairan yang merembes keluar dari celahnya.

Setiap jariku mengorek lubang kemaluan untuk membasahi kelentit, Gina menggeliat kelojotan.Apalagi sambil membenamkan jari, aku memutar-mutarkannya sedikit. Sambil meremas rambutku yang masih menciumi pubisnya, Gina mencari- cari zipku, ketemu, terus dibukanya. Dan kemaluanku yang sudah menegang kencang terbebas dari ‘kungkungan’.Batangku tidak terlalu panjang, tapi cukup besar dan padat. Sementara ujungnya yang ditutupi topi baja licin mengkilat, bergerak kembang kempis. Di ujung topi itu, lubang kecilku sudah licin berair.

Sementara tubuh Gina makin melengkung dan tinggal punggungnya yang bersandar karena pahanya mengangkang semakin lebar, aku pun berusaha mencari posisi yang enak.Sambil menindih paha kirinya, wajahku membenam di selangkangan menjilati lipatan pangkal pahanya dengan bernafsu, dan tangan kiri tetap bebas menjelajahi liang kemaluannya. Pinggulku mendekat ke tubuhnya untuk memudahkan ia meraih batangku. Soal ‘keamanan lingkungan’ sepenuhnya kupercayakan kepada Gina yang dapat memandang sekeliling. Dengan gemas tangan Gina meraih tonggakku yang semakin tegak mengeras.

Jari-jarinya yang halus dan dingin segera menjadi hangat ketika berhasil menggenggam batang itu.
Ketika pangkal paha Gina mencuat semakin terbuka, ciumanku mendarat di pinggiran bibir vaginanya. Ciuman pada vaginanya membuat Gina bergetar.Ketika lidahku yang menjelajahi bibir kemaluan menggelitik kelentitnya, Gina semakin mengasongkan pinggulnya.Lalu.., tiba-tiba ia mengerang, kaki kanannya terlipat memiting kepalaku dan tangannya mencengkeram pangkal leherku, mendesakkan mulut vaginanya ke bibirku, dan mengejang di situ. Gina orgasme! Gina menyandar lemas di tiang pagar.

Tapi itu tidak berlangsung lama, segera didorongnya tubuhku telentang dan dimintanya merapat ke dinding bambu. Aku mengerti yang dimauinya, aku tahu orgasmenya belum tuntas, tapi aku masih ragu.Semula aku hanya ingin menawarkan kenikmatan lewat lidah dan jariku, tapi kini telanjur Gina ingin lebih.

“Kamu oke, Ki..?” tanyaku. Ia mengangguk.
“Aman..?” lanjutku sambil memutar biji mataku berkeliling. Ia kembali mengangguk.
“Ayo.. sini..!” kataku memberi kode tapak tangan menyilang, Gina langsung mengerti bahasa kami masa pacaran.

Ia mengangkang di atas badanku, jongkok membelakangiku dan kembali menghadap ke restoran. Ia mengangkat rok dan memundurkan pinggulnya hingga vaginanya tepat di mulutku. Tanganku yang menganggur merogoh saku, mengambil ‘sarung’ yang sudah kusiapkan, kuselipkan di tangan Gina.

“Ihh, udah siap-siap yaa..?” katanya, sambil mencubit batangku.

Dengan sebelah tangan bertumpu pada dinding bambu, Gina berjongkok di wajahku yang berkerudung roknya.Dengan mendesah ia menggerakkan pinggulnya, menyapukan vaginanya ke lidahku yang menjulur, kadang mendesak hidungku dengan tekanan beraturan.Tangannya sebelah lagi mengurut pelan penisku yang semakin tegang, lalu dengan susah payah berusaha memasang ‘sarung’ dengan sebelah tangan, gagal, malah dilempar ke lantai.Saat sapuan vaginanya di bibirku semakin kuat sementara lidahku yang menjulur sudah kebanjiran cairannya, pinggulnya ditarik dari mulutku, bergerak menuruni tubuhku ke arah selangkangan.

Aku tidak tinggal diam, vaginanya yang lepas dari lidahku kurogoh, kujelajahi dengan jari-jariku.Gina semakin menggelinjang, pahanya mengangkang mengharapkan datangnya tusukanku, sementara tangannya yang menggenggam mengarahkan kemaluan itu ke liang vaginanya yang sudah berdenyut keras.

“Mas.. masukin yaa..!” Gina merintih sambil menarik batang kemaluanku, sementara aku masih memainkan jari di kelentit dan liangnya.
“Hhh, kamu lepaass dulu.. Ini udah keras banget..!” Aku mengambil alih menggenggam tongkat.

Kusentuh dan kugosok-gosokkan otot perkasa yang ujungnya mulai basah itu ke kelentit Gina. Gina melenguh. Sentuhan dengan ujung kemaluan yang lembut dan basah membuat kelentitnya serasa dijilati lidah. Napas Gina semakin terengah-engah.Setelah puas membasahi kelentit, aku pindah ke mulut vagina. Kuputar- putarkan tongkat kenikmatanku di mulut lorong Gina. Membuatnya semakin kelojotan dan medesah dengan sendu. Ia berusaha menekan tapi terganjal tangan yang menggenggam batangku.

“Masukin dong Mas..!” Gina menjerit lirih.Dengan gemetar aku melepas tongkatku, topi bajaku menyentuh mulut vagina Gina.

Kemudian dengan hati-hati ia mendorong pelan-pelan, sampai kepala penisku membenam di liang itu. Aku mengerang, kepala kemaluanku seakan diremas oleh cincin yang melingkari liang sempit milik Gina.

“Uhh.. enak Yang..!” Gina tebeliak-beliak sambil melenguh ketika kemaluanku menyeruak masuk lebih dalam ke liang nikmatnya.

Dinding vaginanya yang lembut tergetar oleh nikmat yang menggelitik karena gesekan ototku.Gina kemudian pelan-pelan mengangkat pinggul, menarik keluar batang kemaluanku. Ia mendesis panjang. Menggumam sambil menggigit bibir. Demikian pula ketika mendorong, menelan tongkatku yang kembali membenam di liang vaginanya.Gina merasakan nikmat yang tidak habis-habisnya.

“Auughh.. Yang..! Teruus..!”
“E.. emhh.. kamu goyyaang teruss..!”Kemudian Gina memiringkan badannya, memberi kode padaku.

Ia ingin di bawah. Aku menjawab dengan mengangkat alis, sambil mata berkeliling.Ia mengangguk, artinya aman. Lalu, tanpa mencabut batangku, Gina berbaring pelan-pelan dan aku bangkit bertumpu pada palang dinding bambu. Dari sela-sela krey, di restoran tampak dua orang sedang asyik nonton TV membelakangi saung kami.Gina berbaring miring menghadap dinding pagar. Sebelah kakinya melonjor di lantai, sebelah lainnya mengait di palang bambu. Tanganku pindah memainkan klitoris, sementara batang kemaluanku keluar masuk di liang vagina Gina.Membuat birahi kami semakin menggelegak. Birahi yang makin memuncak membuat Gina dan aku terhanyut, tidak memperdulikan apa-apa lagi.

Gina kini telentang, ia meraih bantal untuk mengganjal pantat, memudahkan kocokan batang penis di liang vaginanya.Pinggul Gina dengan lincah berputar-putar, sementara aku semakin cepat mengayunkan pantat, menyebabkan gesekan penis dan vagina semakin terasa mengasyikkan. Tiba tiba Gina menegang. Pinggulnya menggelinjang dengan hebat.Matanya terbeliak dan tangannya mencakari pahaku dengan liar. Gerakannya semakin tidak beraturan, sementara kakinya membelit di pantatku.

“Akh.. cepetaan.. Yang..!” Gina mendesah-desah.
“Gila.. enaak banget..!” Ketika suatu desiran kenikmatan menyiram menjalari sekujur tubuhnya, ia menggelepar.
“Akuu.. keluaar.. laagii.. Yang.. kkamu..!” Cakaran itu sama sekali tidak menghentikan gerakanku yang tengah menikmati remasan-remasan terakhir vagina Gina di kepala dan batang kemaluanku.

Aku pun hampir mencapai orgasme. Lalu,

“Uhh.. aku keluaar Nik..!” Aku mengocok dengan cepat dan menggelepar- gelepar tidak beraturan.

Gerakan yang membuat Gina semakin melambung- lambung. Kemudian, kami berdua mengejang dengan saling mendesakkan pinggul masing-masing.Puncak birahi Gina menggelegak saat aku menumpahkan puncak kenikmatanku dalam-dalam membenam di vagina Gina yang meremas-remas dengan ketat, bersama semburan cairan kentalku. Beberapa saat kemudian, kami saling memandang dengan diam. Diam-diam pula kami gantian ke kamar mandi membersihkan sisa-sisa tisyu, menghabiskan makan dengan cepat (dan ternyata tidak habis). Sambil makan aku hanya bilang,

“Nik, kalau ada apa-apa semua tanggung jawabku.” Gina tidak menjawab hanya tersenyum, menggenggam tanganku erat sambil tersenyum penuh kasih.

Dalam perjalanan kembali ke kantor kami tidak banyak bicara.Hanya saat berpisah ia berbisik, “Terima kasih, aku bahagia. Tapi tolong lupakan..!”

Di Kantor Sejak peristiwa di saung itu aku berusaha untuk bersikap biasa, dia juga. Kami masih kerja bersama, makan siang sama-sama dan bercanda seperti biasa, terutama di depan teman-teman. Tapi kami menghindari percakapan yang lebih personal, apalagi membicarakan peristiwa itu. Kuat juga usahaku untuk melupakan hal itu, tapi yang ada aku makin sering melamunkannya. Membayangkan desahan dan rintihannya, gelinjang-gelinjangnya, terutama remasan liang nikmatnya di penisku.

Aku tidak dapat melupakannya! Semakin hari aku semakin tersiksa oleh bayangan Gina. Setiap kali lengan kami bergesekan, dan ini tidak dapat dihindarkan karena memang selalu bersama, getaran birahi menjalari tubuhku, dan berujung di selangkanganku yang mengeras. Ia sendiri nampaknya biasa saja.Suatu ketika dengan cuek ia menggayut di lenganku saat menaiki undakan ke kantin, burungku langsung menggeliat. Sesudahnya saat memesan makanan, sambil berdesakan ia menempelkan dadanya di lenganku.Aku langsung berkeringat, berusaha untuk tetap tenang ngobrol dengan yang lain di meja makan. Perlu setengah jam untuk ‘menenangkan’ burungku. Sampai suatu hari, ia datang ke tempatku.





Ruangku terbagi atas kotak bersekat setinggi dada.Setiap kotak berisi meja dan komputer untuk satu orang, yang kalau duduk tidak kelihatan, tapi kalau berdiri kelihatan sampai dada. Selain itu ada satu kotak yang agak besar berfungsi untuk ruang rapat, letaknya di ujung dan selalu sepi kecuali ada meeting. Ia menghampiriku saat aku sedang sendiri di ruang rapat.

“Yang, nanti bantuin yaa. Aku mau ngelembur.” Panggilan ‘Yang’ membuat darahku berdesir.
“Boleh. ‘Bor’-nya sapa yang mau dilempengin.” Aku melempar canda biar agak santai.

Istilah ‘ngelembur’ oleh orang kantoran seringkali dipanjangkan sebagai ‘nglempengin burung’.

“Nglempenginnya sih kamu buka internet aja. Aku sih bagian nglemesin..!” sahutnya cuek, sambil duduk di meja rapat, tepat di depanku.

Darahku berdesir, langsung kontak ke selangkangan dan mengeras. Aku menengok ke pintu masuk. Dua orang temanku sedang ngobrol asyik sekitar lima kotak dari tempatku, yang lain sedang keluar.

“Lagi sepi..!” katanya, menebak arah pandanganku.Lalu ia mengalihkan pandangannya ke bawah, arah celanaku.
“Tuuh.. lempeng..!” ia terkikik sambil menyentuh dengan kakinya.

Untuk menetralisir, aku duduk di kursi sambil melonggarkan bagian depan celanaku.

“Sorry, aku nggak bisa ngelupain kamu,” kataku sambil mencari posisi yang nyaman.
“Memangnya aku bisa..?” jawabnya.

Ia membuka pahanya sedikit sehingga aku makin blingsatan, memutar-mutar kursi yang kududuki sambil mengerakkannya maju mundur.

“Sini dong maju, aman kok..!” Aku memajukan kursi hingga pahanya tepat di depanku.

Tidak menyia-nyiakan tawaran yang kuimpikan siang malam, tanganku dengan gemetar mulai merayapi pahanya, tapi Gina menahannya.

“Sstt.. tunggu..!” ia mendorongku, lalu turun dari meja.

Gina menempelkan pantatnya di pinggiran meja setelah roknya disingkapkan sebatas pinggul.

“Biar gampang nutup kalo ada orang.” katanya.

Gina memang brilian dalam merancang ‘pengamanan’.Tanganku kembali menyusuri paha Gina, dengan berdebar-debar merayap terus ke dalam. Gina mulai mendesah, mengepalkan tangannya. Bibirku menciumi lututnya, dengan lidah kujelajahi sisi-sisi dalam pahanya hingga tanganku mencapai pangkalnya.Jariku menyusuri pinggiran CD-nya, tapi aku menyentuh bulu halus, celah basah, benjolan kecil, aku penasaran, kurenggangkan pahanya. Ternyata CD-nya dibolongi persis di sekitar vagina, terang saja jariku langsung menyentuh sasaran.

“Bolong..,” aku berbisik.
“Iya, biar gampang dipegang,” jawabnya.
“Kenapa nggak dilepas aja..?”
“Keliatan dong, ‘kan nyeplak di luar. Kalo gini ‘kan, kayaknya pake tapi bisa kamu pegang.” ia menjelaskan, lagi-lagi brilian! Aku mulai menggosok klitorisnya, sementara liangnya sudah semakin basah.

Gina mengangkangkan vaginanya, pahanya diangkat menopang di meja, kakinya sedikit jinjit. Dengan hati-hati lidahku kuselipkan di celah labia mayoranya, menyapu klitorisnya berulang-ulang. Jariku yang sudah basah oleh cairannya kubenamkan pelan-pelan di liangnya, kuputar-putar mencari ‘G-Spot’-nya. Saat kutemukan, G-spot- nya kugosok lembut dengan jari tengah, sementara dari luar lidahku memainkan bagian bawah klitoris.Tidak lama Gina langsung mengejang, menggenggam rambutku kencang. (Saat kami pacaran, aku belum tahu G-spot)

“Yang.. udaah..!” ia berbisik, memberikan saputangan untuk membersihkan jari, mulutku, dan liangnya, sekalian buat mengganjal celana bolongnya biar tidak netes-netes.

Tiba-tiba pandangan Gina berubah serius, dilanjutkan dengan omongan yang tidak jelas.

“Soalnya yang aku print kok laen sama yang dipegang bossku.” Aku bingung tapi langsung menimpali,
“Yang punyaku bener kok..” kataku sambil berdiri.

Benar saja, cewek-cewek Biro tempatku baru saja masuk ruangan.

“Ya udah, nanti dikopiin lagi aja,” lanjutnya sambil berjalan keluar,
“Terus yang ini jangan lupa disiapin..” saat melewatiku, tangannya menjulur meremas bagian depan celanaku.

Gina sempat ngobrol dulu dengan teman-temanku.Berbasa basi, lalu kembali ke ruangannya. Rasanya lama sekali menunggu sore. Jam 5 kantor bubar. Aku naik ke tempat Gina yang satu lantai di atasku. Gina sudah menunggu di ruangannya lalu mengajakku ke ruang komputer yang terletak di sebelah.Ia harus menyusun undangan seminar dari boss Hongkong-nya. Kubuatkan program konversi daftar client dari database ke format txt untuk di- merge dalam undangan, sementara Gina melakukan check ulang data undangan.Jam 7 malam satpam datang mengontrol seperti biasa. Gina memberitahu bahwa ia masih pakai ruang komputer sampai jam sembilan.

Aku sendiri makin asyik dengan programku, tidak menyadari kalau Gina sudah menghilang dari sebelahku.Sadarnya waktu HP-ku berbunyi, ternyata Gina telpon dari ruangannya di sebelah.

“Sini dong Mass..!” ia berbisik, membuat darahku kembali berdesir mengalir ke selangkangan.

Aku meng-execute programku lalu bergegas ke sebelah.Ruang di seberangku masih terang, tapi tempat Gina sudah gelap. Aku ragu-ragu, kucoba membuka ruang Gina, ternyata tidak terkunci, aku masuk langsung menutup pintu.

“Dikunci aja..” terdengar suara Gina berbisik lirih.Ruang itu terbagi jadi ruang pertama tempat Gina biasa duduk, ruang tengah untuk meeting, terus ruang ujung tempat bossnya.

Aku mengunci pintu terus menghampirinya di ruang tengah, tempat bisikan itu berasal.Dalam keremangan kulihat Gina duduk di meja meeting nyaris telanjang, hanya tersisa CD-nya.

“Buka baju Sayang, terus naik sini..!” Gina menyapa dengan lembut, sapaan yang membuat birahiku menggelegak.Gina duduk memeluk lutut kirinya yang ditekuk menopang dagu. Kaki kanannya terlipat di meja seperti bersila.

Di bawah cahaya lampu yang lemah menerobos dari luar, sosok Gina bagaikan bidadari yang sedang menanti cumbuan cahaya bulan. Aku berusaha tenang, membuka baju, sepatu, celana, lalu dengan berdebar melangkah keluar dari onggokan pakaian dan menyusul naik ke atas meja.Gina membuka tangannya, lutut kirinya juga rebah membuka. Aku mengusap pipinya dengan halus saat jari Gina menjelajahi leherku pelan, lalu dada, lalu naik mengelus lenganku, pelan dan lembut menyusuri bagian dalam lenganku ke arah ujung jari. Digenggamnya jari-jariku, dikecupnya lalu dibawa ke leher, dada, mendekapnya sesaat.

Lalu.. tiba-tiba aku telah terbenam dalam dekapannya.Dadanya yang bulat penuh menekan, memberikan kehangatan yang lembut ke dadaku, kehangatan yang menjalar pelan ke bawah perut. Tanganku mengusap punggung dan rambutnya, lalu entah gimana mulainya, tiba- tiba saja aku sudah menciumi lehernya.Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya, Gina menggelinjang geli. Kusodorkan bibirku untuk meraih mulutnya, ia merintih lirih dan merangkulku sambil mulutnya bergeser mencari bibirku, lalu kami berpagutan dengan lahap bagaikan kelaparan.

Pelukan dan ciuman ini yang sebenarnya paling kurindukan, yang tidak dapat dilakukan saat di saung atau di ruanganku. Cinta dan ketulusannya kini dapat kurasakan lewat peluk dan ciumannya. Gina terpejam manja saat kujelajahi mulutnya dengan lidahku, bibirnya langsung menyedot dan melumat lidahku dalam-dalam.

“Oohh, Yang..!” Gina mengeluh saat tanganku mulai merayapi tubuhnya, bermain di sekitar puting susu, turun ke perut menyelusup ke CD-nya.

Masih dalam pelukan ia merebahkan badan di meja dengan dialasi jasnya si Hongkong.Setelah rebah berdampingan kami mengendorkan pelukan, membebaskan tangan agar lebih leluasa. Kami saling menyentuh bagian-bagian sensitif yang masing-masing sudah sangat hapal. Gina memejamkan mata menikmati sentuhan-sentuhanku, sementara jarinya mengurut lembut batang penisku, dari pangkal ke atas, memutari helm lalu turun lagi ke pangkal, membuat batangku keras membatu.

“Yang..! Jilat..!” ia mendesah, aku mengerti maksudnya.

Aku bangkit, lalu bibirku mulai menciumi seluruh tubuhnya, mulai dari lengan sampai ke ujung jari, kembali ke ketiak, menyusuri buah dadanya ke tangan satunya.

“Yaanng, Nik kangen jilatanmu..!” Gina mengerang dan menggelinjang semakin kuat.

Saat jilatanku mencapai pangkal lengannya, Gina berbalik menelungkup. Kini lidahku menyusuri pundak, Gina terlonjak saat lidahku mendarat di kuduknya, lalu perlahan menjelajahi punggungnya. Saat jilatanku mencapai pinggiran CD-nya, Gina kembali menelentang lalu sambil membuka CD-nya, lidahku pelan-pelan menyusur pinggang, perut terus ke bawah.Paha Gina membuka, menyodorkan bukit kemaluannya yang menggunduk dengan belahan merekah ke hadapanku. Melewati pinggiran gundukannya, lidahku meluncur ke samping, menjilati paha luar sampai ke jari kaki, lalu kembali ke atas lewat paha bagian dalam.Sampai di pangkal, lidahku menjelajahi lipatan paha, memutari pinggiran bulu-bulu halusnya, lalu menyeberang ke paha sebelah. Gina melenguh keras.

Aku menjelajahi kedua lipatan pahanya bolak balik, kadang lewat gundukan bulu-bulunya, kadang lewat bawah liang vaginanya. Pahanya terkangkang lebar, sementara cairannya semakin membanjir. Lalu tangannya menggenggam rambutku, menyeret kepalaku dibenamkan ke tengah selangkangannya yang basah dipenuhi cairan kenikmatannya. Aku langsung menyedot kelentitnya. Gina tersentak,

“Yaangg.. kamu.. nakal..!” rintihnya menahan nikmat yang menggelora.Dengan bertumpu kedua tangan, lidahku kini menjelajah dengan bebas di celah vagina, menjilati klitorisnya dengan putaran teratur, lalu turun, menjelajahi liang kewanitaannya.

Gina mengejang sambil mengerang-erang.


“Yaang, udaah.. masukin..!” Gina mencengkeram leherku dan menyeretnya ke arah bibirnya

Aku mengambil posisi konvensional. Batangku yang sudah tegang mengeras menyentuh gerbang kenikmatan yang licin oleh cairannya.Gina tersentak saat kepala penisku menyeruak di bibir vaginanya. Kubenamkan kepala penisku sedikit demi sedikit, oh.. hangatnya vagina Gina. Dinding vaginanya mulai bereaksi menyedot-nyedot, remasannya yang selalu kurindukan mulai beraksi.Kutarik lagi penisku, pinggul Gina menggeliat seolah ingin melumatnya. Kubenamkan lagi batang penisku perlahan, Gina menaikkan pinggulnya ke atas, sehingga setengah batang penisku ditelan vaginanya.Pinggulnya diputar-putarkan sambil melakukan remasan nikmatnya.

“Ooogghh, Giink.. aduuhh..!” desahanku membuat Gina semakin semangat menaik-turunkan pinggulnya, membuat batang penisku seolah dipilin-pilin oleh liangnya yang masih sempit.
“Maass.. tekaann Maass..! Giinii.. hh.. nikmaatt.. sekali..!” Pinggul dan badannya semakin sexy, perutnya yang sedikit membesar membuat nafsuku semakin menjadi-jadi.

Aku setengah duduk dengan bertumpu pada dengkul menggenjot penisku keluar masuk vagina Gina yang semakin berdenyut.

“Creekk.. creekk.. blees..” gesekan penisku dan vaginanya bagaikan kecipak cangkul Pak tani di sawah berlumpur.
“Yaang, aduuhh, batangnyaa.. oohh.. Giin.. nggaak tahaan..!” Gina badannya bergetar, pinggulnya naik turun dengan cepatnya, miring ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan penisku.

Badan Gina berguncang-guncang keras, goyangan pantatnya tambah menggila dan lubangnya seakan mau memeras habis batang penisku. Spermaku rasanya sudah mengumpul di kepala penis, siap menyembur kapan saja, susah payah aku bertahan agar Gina mencapai klimaks lebih dulu.

“Teken teruuss..! Yuu bareng keluariin Maass..!” Goyangan kami makin menggila. Aku menusukkan batang penisku setengah, dan setiap coblosan ke delapan aku menekannya dalam-dalam. Akibatnya gelinjang pantat dan pinggul Gina semakin menjadi-jadi. Sambil mengelepar-gelepar keasyikan, matanya merem-melek.Kuciumi dan kulumat seluruh wajahnya, bibirnya, lidahnya, ludahnya pun kusedot dalam-dalam. Gina mencakar punggungku keras sekali sampai aku tersentak kesakitan. Itu tandanya ia mau mencapai klimaks. Kutahan mati-matian agar aku jangan muncrat dulu sebelum ia orgasme. Tiba-tiba,

“Yaanng.. oohh.. aduhh.. Giin.. keluaar.. oohh.. aduuh.. gilaa.. aahh. aahh.. uuhh.. uuhh.. uuhh..!” dia sekali lagi mencakariku, itu memang kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks luar biasa.

Aku tidak perduli punggungku yang baret-baret oleh cakarannya. Aku terus menggenjotkan penis dengan teratur sambil konsentrasi merasakan nikmat yang semakin mendesak-desak di ujung penisku. Suatu gelombang dahsyat bagaikan menyedot seluruh perasaanku menyembur dari ujung kemaluanku, memancar dalam dalam di liang vaginanya. Aku mengejang beberapa detik, lalu terkulai dalam pelukannya.Beberapa menit kami berdiam sambil pelukan, sampai batangku melemas dengan sendirinya. Aku turun dari tubuhnya. Gina turun dari meja, mengambil tisyu dan teko air dari meja si Hongkong. Lalu kami bersih-bersih organ masing-masing, kembali berciuman sambil saling mengenakan pakaian.

Selesai berpakaian Gina keluar duluan mengintip, dengan kodenya aku keluar kembali ke ruang komputer, di sana satpam sudah menunggu.Kukatakan aku dari kamar mandi, dan Gina tidak tau kemana.

“Kenapa..? aku dari bawah barusan.. lewat tangga.” Gina muncul di pintu, memberi penjelasan.
“Lho, saya juga lewat tangga..” kata satpam.
“Ooo.. Naiknya sih lewat lift depan,” Gina berkilah.Program transferku sudah berhenti proses.

Baca Juga : Cerita Seks: Teman Suamiku Menghamili Aku

Setelah beres-beres, mematikan komputer, AC, dan lainnya, aku, Gina dan satpam turun. Kuantar Gina sampai mobilnya.

Saturday, December 6, 2025

Cerita Seks ku : Ngewe dengan Anak SMA yang Hot

Cerita Seks – Saya seorang mahasiswa tahun terakhir di suatu universitas di Bandung, dan kini sudah final. Untuk ketika ini, saya tidak menemukan kursus lagi dan melulu melakukan tesis. Karena tersebut saya tidak jarang bermain ke lokasi kakak saya di Jakarta.

Suatu hari saya pergi ke Jakarta. Ketika saya mendarat di lokasi tinggal saudari saya, saya menyaksikan seorang tamu. Ternyata dia ialah teman kuliah kakak saya di masa lalu. Saya mengenalkan saudara wanita saya kepadanya. Rupanya dia paling ramah padaku. Dia berusia 40 tahun dan memanggilnya Sira. Dia pun mengundang saya guna pergi ke rumahnya dan diperkenalkan untuk istri dan anak-anaknya. Istrinya, Bimo, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Fitri, duduk di ruang belajar dua sekolah menengah kesatu.

Ketika saya pergi ke Jakarta saya tidak jarang pergi ke rumahnya. Dan pada hari Senin, saya ditugaskan oleh Sira guna merawat putrinya dan rumahnya sebab dia bakal pergi ke Malang. Ke lokasi tinggal sakit untuk mendatangi saudara istrinya. Menurutnya, ia menderita demam berdarah dan diasuh selama 3 hari. Karena tersebut ia meminta libur di kantornya sekitar 1 minggu. Dia pergi bareng istrinya, sedangkan putranya tidak muncul karena sekolah.

Setelah 3 hari di rumahnya, sebuah kali saya kembali dari lokasi tinggal saudara wanita saya. Sebab saya tidak terdapat hubungannya dan saya mengarah ke rumah Sira. Saya santai dan lantas menyalakan VCD. Selesaikan satu film. Ketika saya menyaksikan rak, saya menyaksikan sejumlah VCD porno di unsur bawah. Karena saya sendiri, saya menonton. Sebelum satu film habis, tiba-tiba pintu depan dibuka. Aku buru-buru mematikan televisi dan menempatkan bungkus VCD di bawah karpet.

“Halo, Ananta Oom …!” Fitri yang baru masuk tersenyum.
“Eh, bantu bayar guna orang Bajaj … Uang Fitri sepuluh ribu, kakaknya tidak kembali.”
Saya tersenyum dan mengangguk dan menunaikan Bajaj, yang melulu dua ribu rupiah.

Ketika saya pulang … pucat wajahku! Fitri duduk di karpet di depan televisi, dan mengobarkan video porno yang separuh jalan. Fitri menatapku dan tertawa geli.
“Ya! Oom Ananta! Begitu ya, bagaimana? Fitri tidak jarang diberi tahu oleh teman-teman di sekolah, namun belum melihatnya.”
Dengan gugup kuberitahu Fitri kamu belum cukup umur untuk nonton itu. Agen Poker Kiu Kiu
“Aahh, Oom Ananta. Jangan seperti itu! Hei, lihat … begitu saja! Gambar yang dibawa rekan Fitri ke sekolah bahkan lebih tajam.”

Tidak tahu mesti berbicara apa lagi, dan cemas Fitri bakal benar-benar melapor untuk orang tuanya. Saya pergi ke dapur untuk menciptakan minuman dan tidak mempedulikan Fitri terus menonton. Dari dapur aku duduk di teras belakang sambil menyimak majalah.

Sekitar jam 7 malam, saya terbit dan melakukan pembelian makanan. Ketika saya kembali, saya menyaksikan Fitri di perutnya di sofa menggarap pekerjaan rumah, dan … Ya Tuhan! Ia mengenakan daster yang pendek dan kurus. Tubuh mudanya yang telah mulai matang tampak jelas. Paha dan betisnya tampak putih mulus, dan bokongnya bulat dengan indah. Aku menelan ludah dan terus menyiapkan makanan. Cerita Seks

Setelah makanan siap, saya menelepon Fitri. Dan … sekali lagi, Tuhanku … jelas dia tidak menggunakan bra, sebab puting susunya menjulang di dasternya. Aku mulai gugup sebab penisku yang mulai “bergerak” kini benar-benar tegak dan menopang celanaku.

Setelah makan, sambil membasuh piring bareng di dapur, kami berdiri berdampingan, dan dari celah di daster, payudaranya yang estetis mengintip. Saat dia membungkuk, puting susu merah mudanya hadir dari celah. Saya mulai gugup. Setelah membasuh piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

“Oom, jajaki tebak. Hitam, kecil, kering, apa-apaan …!
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Mengubah … putih-biru-putih, kecil, ringan, apa …?”
Fitri mengerutkan kening dan menyerahkan tebakan bahwa seluruh kesalahan.
“Sungguh … Fitri mengenakan seragam sekolah, terlampau panas di Bajaj …!”
“Aahh … Oom Ananta mengolok-olok …!”
Fitri melompat dari sofa dan mengupayakan mencubit lenganku. Aku mengelak dan menangkis, namun dia terus menyerang seraya tertawa, dan … tersandung!

Dia jatuh ke pelukanku, menoleh padaku. Dia duduk tepat di atas kontolku. Kami megap-megap di posisi itu. Aroma tubuhnya membuatku terangsang. Dan aku mulai mencium lehernya. Fitri mendongak sambil menutup matanya, dan tanganku mulai meremas payudaranya.

Napas Fitri semakin terengah-engah, dan tanganku masuk salah satu pahanya. Pakaian dalamnya basah, dan jari saya mengelus belahan yang membayangi.
“Uuuhh … umhh …” Fitri bangkit. Bandar Poker Masterkiu
Kesadaran saya yang tinggal tidak banyak seperti memperingatkan bahwa apa yang saya jajaki lakukan ialah seorang gadis sekolah menengah, namun gariah saya telah menjangkau mahkota dan saya melepas daster dari atas kepalanya.
Aahh …! Fitri berbaring di sofa dengan tubuh yang hampir polos!

Saya langsung menghisap puting susu merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan sampai dada basah oleh air liur saya. Tangan Fitri mengelus bagian belakang kepala saya dan erangannya yang tercekik menciptakan saya semakin tidak sabar. Aku melepas pakaian dalamnya, dan … terdapat rambut kemaluannya yang jarang. Bulu kecil tersebut berkilau sebab cairan kemaluan Fitri. Aku segera mengubur kepalaku di tengah kedua paha.Hmmmmm Hmmmmmm Fitri menggelinjang saat kucium memeknya itu.
Ouugh ssSshhhhh Fitri mengangkat tubuhnya saat kujilat belahan memeknya yang masih kencang.
Lidah saya bergerak dari atas ke bawah dan bibir perangkat kelamin mulai terbuka. Sesekali lidahku akan membelai klitorisnya dan tubuh Fitri bakal melompat dan napas Fitri bakal tersedak. Tanganku mulai meremas remas kedua toketnya sehingga Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Cerita Dewasa

Ketika saya berhenti menjilat dan mengisap, Fitri berbaring terengah-engah, matanya tertutup. Aku bergegas membuka seluruh pakaianku, dan penisku diregangkan ke langit-langit, aku mengelus pipi Fitri. Bandar Domino 99
“Mmmhh … umhh … oohh …” saat Fitri membuka bibirnya, aku menjejalkan kepala kemaluanku.
Dengan sigap dia langsung mengulum kontolku. Tangan saya secara bergantian meremas dadanya dan mengelus kemaluannya.



Segera, penisku basah dan mengkilap. Aku tidak tahan lagi, aku naik ke tubuh Fitri dan bibirku menghancurkan bibirnya. Aroma penisku terdapat di mulut Fitri dan wewangian alat kelamin Fitri di mulutku, bertukar saat lidah anda terpelintir bersama.

Dengan tanganku, aku mengelus kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Fitri. Dan sebentar lantas merasakan tangan Fitri mengurangi pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam … msuk … hmm … msukin … Omm … huh … umm ..”
Perlahan penisku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Fitri menghela nafas semakin banyak. Segera kepala penisku ditekan, namun gagal sebab macet dengan sesuatu yang kenyal. Saya pun berpikir, apakah lubang kecil ini bisa menampung pangkal paha yang besar ini. Terus terang, ukuran pangkal paha saya ialah 15 cm, lebar 4,5 cm. Sedangkan Fitri masih di SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlampau kecil.

Tetapi dengan nafsu santap yang besar, saya mencoba. Akhirnya usaha saya berhasil. Dengan satu brengsek, hancurkan rintangan. Fitri menjerit sedikit, dahinya mengerutkan kening kesakitan. Kuku memegang erat kulit punggungku. Aku mengurangi lagi, dan menikmati ujung kemaluanku menyentuh tanah meskipun melulu 3/4 pangkal paha yang masuk. Lalu aku tetap tak bergerak, tidak mempedulikan otot-otot kemaluan Fitri terbiasa dengan benda-benda di dalamnya.

Sesaat lantas kerutan di dahi Fitri menghilang, dan aku mulai unik dan menekankan pinggulku. Fitri mengerutkan kening lagi, namun seiring masa-masa mulutnya berkibar.
“Ahhh … sshh … yeah … thenhh … mmhh … oh .. bagus … Oomm ..”
Aku melingkarkan lenganku di punggung Fitri, kemudian memutar tubuh kami sampai-sampai Fitri kini duduk di pinggulku. Tampak 3/4 penisku terjebak di kemaluannya. Tanpa di suruh Fitri langsung mengoyangkan pinggulnya. Sedangkan jari-jariku secara bergantian meremas dan menggosok dadanya, klitoris dan pinggulnya. Dan kami bersaing untuk menjangkau puncak.

Selama periode masa-masa tertentu, gerakan pinggul Fitri menjadi semakin tak waras dan dia menunduk dan bibir kami tertutup. Tangannya menjambak rambutku, dan kesudahannya pinggulnya tersentak berhenti. Terasa laksana cairan hangat di semua selangkanganku. 

Setelah tubuh Fitri rileks, aku mendorongnya ke belakang. Dan seraya menahannya, aku memburu puncakku sendiri. Ketika saya menjangkau klimaks, Fitri tentu menikmati semprotan air saya di lubangnya, dan dia mengeluh lemas dan menikmati orgasme keduanya.

Untuk masa-masa yang lama kami diam-diam terengah-engah. Dan tubuh kami yang basah oleh keringat masih bergerak bareng bergesekan satu sama lain. Menikmati sisa-sisa kesenangan orgasme.
“Oh, Oom … Fitri lemes. Tapi tersebut sangat bagus.”
Saya melulu tersenyum dan mengelus rambutnya dengan halus. Satu tangan lagi di pinggulnya dan meremas-remas. Saya pikir tubuh saya yang lelah sudah puas. Namun segera saya menikmati ayam yang menghampar naik lagi diapit oleh vagina Fitri yang masih paling kencang.

Saya segera membawanya ke kamar mandi, mencuci tubuh kami dan … pulang ke kamar guna melanjutkan putaran berikutnya. Sepanjang malam saya merasakan tiga orgasme, dan Fitri … berapa kali. Demikian juga, saat saya bangun di pagi hari, sekali lagi kami bergumul dengan kesukaan. Sebelum kesudahannya Fitri memaksa saya guna mengenakan seragam. Sarapan dan pergi ke sekolah.

Baca Juga : Cerita Seks ku Bersetubuh Pelunas Hutang

Kembali ke lokasi tinggal Sira, saya pergi ke cerita xxx sma kamar istirahat tamu dan segera merasa lelah. Di tengah istirahat saya, saya memiliki mimpi seolah-olah Fitri kembali dari sekolah. Pergi ke kamar dan melepas pakaiannya, kemudian melepas celana saya dan mengunyah penisku. Tapi tak lama lantas saya menyadari bahwa tersebut bukan mimpi. Dan saya menyaksikan rambutnya yang longgar dan bergerak mengikutinya naik turun. Saya melihat terbit dari ruangan dan tampaknya VCD menyala, dengan film kemarin. Ah! Merasakan teknik dia memberi saya “blowjob”, saya tahu bahwa dia baru saja belajar dari VCD.

Tuesday, October 28, 2025

Cerita Mesum ku Bersama Cewek Gadis PKL yang Sangean

Cerita Mesum – Cerita Seks ini adalah cerita dewasa yang mana ku alami sendiri. Pembaca Cerita Dewasa Sebelumnya, Aku perkenalkan diri, waktu itu Aku ber usia 27 tahun, masih single lah, bukannya tidak laku lho tetapi memang Aku masih ingin bebas. Kata orang, wajah Aku cukup ganteng dengan badan atletis. Bekerja di suatu instansi pemerintah di kota Surabaya. Bekerja pada Bagian Sekretariat yang mengurusi surat-surat masuk dan mencatat segala keperluan dinas atasan ( sektretaris), juga mengetik surat-surat, karena memang Aku cukup terampil dalam penggunaan komputer yang terkadang memberi pelajaran mengenai pengoperasian komputer di luar kantor. Seperti biasanya, suatu instansi pemerintah selalu ada siswa-siswi yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang memang merupakan bagian dari kurikulum yang harus dijalani oleh setiap murid. Pagi itu sekitar pukul 09:00 Aku sedang mengetik suatu nota untuk dikirim ke suatu instansi lain, tiba-tiba Aku didatangi oleh 3 siswi lengkap dengan seragam sekolahnya.

“Selamat pagi, Pak!” sapa mereka dengan kompak dan ramah. “Pagi.., ada yang bisa Aku bantu?” jawab Aku dengan ramahnya. “Begini Pak.., kami ingin menyakan apakah di sini masih menerima anak sekolah untuk PKL?” “Oooh.. kalian dari sekolah mana?” tanya Aku. “Saya dari SMK X pak.. dan ini surat permohonan kami dari sekolah.”, kata mereka sambil menyerahkan surat permohonan kepada Aku. Lalu Aku baca, di sana tertulis nama-nama mereka, setelah selesai Aku menatap mereka satu persatu. “Coba, Aku ingin tahu nama-nama kalian dan ketrampilan apa yang kalian miliki?” tanya Aku sok pintar. “Nama Aku Tasya Pak, yang ini Desy dan yang itu Tasya Pak..”, mereka juga menjelaskan bahwa mereka bisa menggunakan komputer walaupun belum terampil, karena di sekolahnya diberikan ketrampilan komputer. Si Tasya memiliki postur tubuh yang agak kurus dengan bentuk wajah bulat dan memiliki bentuk payudara yang hampir rata dengan dadanya. Si Desy agak gemuk dan pendek tetapi memiliki payudara yang besar, dan yang satu ini memiliki postur tubuh yang agak tinggi dari teman-temannya, sangat cantik dan sexy seperti bintang mega sinetron dengan bulu-bulu halus di tangannya, warna kulit kuning langsat dengan wajah yang imut-imut dan bibir yang merah serta payudara yang montok, ukurandadanya 34B.

Wah.. pikiran Aku jadi kotor nih (maklum walaupun Aku tidak pernah berhubungan badan, tetapi Aku sering nonton BF). Umumnya mereka semua memiliki wajah yang cantik, kulit putih dan bersih. “Begini ya adik-adik, kebetulan di sini memang belum ada yang PKL, tetapi akan Aku tanyakan pada atasan Aku dulu..”, kata Aku, “Nanti, seminggu lagi, tolong adik-adik kesini untuk menunggu jawaban.” lanjut Aku sambil tidak henti-hentinya memandangi wajah mereka satu persatu. Setelah berbasa-basi sedikit, akhirnya mereka pulang. Aku menghadap atasan yang kebetulan sedang baca koran, maklum pegawai negeri kan terkenal dengan 4D (datang, duduk, diam dan duit). Setelah bicara ala kadarnya, atasan Aku menyetujui dan Aku lah yang disuruh memberi tugas apa yang harus mereka kerjakan nanti. “Tolong, nanti kamu yang mengawasi dan memberi arahan pada mereka.” kata atasan Aku. “Tapi jangan diarahin yang ngga-ngga lho..” Aku agak bingung dibilang seperti itu. “Maksud Bapak?” “Iya, tadi Aku sempat lihat, mereka cantik-cantik dan Aku perhatikan mata kamu ngga lepas-lepas tuh.”

“Ah, Bapak bisa aja, Aku ngga ada maksud apa-apa, kecuali dia mau diapa-apain.” kata Aku sambil bercanda dan tertawa. “Dasar kamu..”, jawab atasan Aku sambil ketawa. Memang, walaupun dia atasan Aku tetapi di antara kami tidak ada batas, maklum atasan Aku juga mata keranjang dan rahasia bahwa dia sering main perempuan sudah merupakan rahasia kami berdua. Seminggu kemudian, mereka bertiga kembali ke kantor. Setelah itu Aku jelaskan bahwa mereka bisa PKL di sini dan langsung mulai bekerja. Setelah itu Tasya dan Desy Aku tugaskan di bidang lain, sedangkan Tasya, Aku suruh membantu pekerjaan di ruangan Aku. Kebetulan ruangan Aku tersendiri. Memang sudah Aku rancang sedemikian rupa agar selalu dapat menikmati keindahan tubuh Tasya yang saat itu kelihatan cantik dan sexy dengan rok yang agak ketat di atas lutut. Lalu Aku mengantar Tasya dan Desy ke ruangan lain untuk membantu karyawan yang lain, sedangkan Tasya Aku suruh menunggu di ruangan Aku. Setelah itu Aku kembali ke ruangan. “Apa yang harus Aku kerjakan, Pak?” tanya Tasya ketika Aku sudah kembali. “Kamu duduk di depan komputer dan tolong bantu Aku mengetik beberapa nota.” sembari memberikan beberapa lembar kertas kerja pada nya.

“Dan tolong jangan panggil Aku Bapak, Aku belum Bapak-bapak lho, panggil saja Bang Rino.” kata Aku sambil bercanda. “Baik Bang Rino, tetapi tolong ajarkan Aku mengetik, karena Aku belum mahir menggunakan komputer.” Aku mulai memberi arahan sedikit tentang cara mengetik sambil tidak henti-hentinya memandangi wajah Tasya tanpa sepengetahuannya. Aku berdiri di sampingnya sambil menikmati. Sebentar-sebentar mencuri pandang ke arah payudaranya yang kelihatan dari atas karena kerahnya agak terbuka sedikit. Nampak sekali kelihatan belahan payudaranya yang putih mulus tertutup bra warna coklat muda. Apalagi ditambah dengan paha yang sangat sexy, mulus dan kuning langsat yang roknya naik ke atas ketika duduk. Tanpa disadari, kemaluan Aku berdiri tegak. Pikiran kotor Aku keluar, bagaimana caranya untuk bisa menikmati keindahan tubuh anak SMK ini. Di hari pertama ini, Aku hanya bisa bertanya-tanya tentang sekolah dan keluarganya dan terkadang bercanda sambil menikmati keindahan tubuhnya. Ternyata Tasya adalah anak yang enak diajak bicara dan cepat menyesuaikan dengan lingkungan. Terkadang Aku suka mengarahkan ke cerita yang porno-porno dan dia cuma tersipu malu. Selama itu, Aku juga berpikir bagaimana caranya untuk merasakan kenikmatan tubuh Tasya. Aku merencanakan untuk membuat strategi, karena besok atasan Aku akan dinas ke luar kota beberapa hari sehingga Aku bebas berdua dengannya.

Pada hari ketiga, pagi-pagi Tasya sudah datang dan kebetulan atasan Aku sedang dinas ke Bandung selama 5 hari. Seperti biasa, dia selalu menanyakan apa yang bisa dia kerjakan. Inilah kesempatan Aku untuk melaksanakan rencana yang sudah disiapkan dengan pikiran kotor Aku, apalagi ketika dia sedang duduk di kursi, tanpa disadari atau disengaja, duduknya agak mengangkang, sehingga dapat terlihat jelas celana dalamnya yang berwarna putih di antara pahanya yang putih mulus. “Gini aja Sya, kebetulan hari ini kayaknya kita lagi ngga ada kerjaan.. gimana kalau kita lihat berita-berita di internet?” kata Aku mulai memancing. “Kebetulan tuh Bang Rino, tolong dong sekalian ajarin tentang internet!” pintanya, Nah kebetulan nih, “Beres.. yuk kita masuk ke ruangan atasan Aku, karena internetnya ada di ruangan bos Aku.” “Ngga enak Bang, nanti ketahuan Bapak.” “Kan Bapak lagi dinas ke luar kota, lagian ngga ada yang berani masuk kok selain Aku.” jawabku sambil sebentar-sebentar melihat celana dalamnya yang terselip di antara pahanya. Benda pusaka Aku sudah tegang sekali, dan sepertinya Tasya sempat melihat ke arah celana Aku yang sudah berubah bentuk, tetapi cepat-cepat dialihkannya. Lalu kami berdua masuk ke ruangan atasan Aku sambil menutup, lalu menguncinya. "Bang.. kenapa dikunci?” tanya Tasya merasa tidak enak. “Sengaja.. biar orang-orang menyangka kita tidak ada di dalam. Lagian kan nanti ganggu kita aja.” “Ih, Bang pikirannya kotor, awas ya kalau macam-macam sama Tasya!” katanya mengancam tetapi dengan nada bercanda. Lalu kami berdua tertawa, sepertinya dia tidak curiga kalau Aku ingin macam-macam dengannya.

Tasya Aku suruh duduk di kursi dan Aku duduk di sebelahnya, di atas sandaran kursi yang diduduki oleh Suzy. Seperti hari-hari sebelumnya, Aku dapat melihat dengan bebas paha dan payudara Tasya tanpa sepengetahuannya. Agar Tasya tidak curiga, Aku mengajari cara membuka internet dan memulai langkah awal dengan melihat-lihat berita. “Sya.. kamu tahu ngga kalau di internet kita bisa melihat cerita dan gambar-gambar porno?” tanya Aku mulai memasang strategi. “Tahu sih dari teman-teman, tetapi Aku ngga pernah lihat karena memang tidak tahu cara menggunakan internet.. tetapi kalau lihat gambar gituan dari majalah sih pernah.” katanya malu-malu. “Nah ya.. anak kecil sudah ngeliat yang macam-macam.” kata Aku bercanda sambil memegang pundaknya dan dia diam saja sambil tertawa malu-malu. “Kalau Aku lihatin cerita-cerita dan gambar porno di internet mau ngga?” pinta Aku. “Mau sih, tetapi jangan dibilangin ke teman-teman Tasya ya Bang..! Kan malu.” “Percaya deh, Aku ngga bakalan nyeritain ke teman-teman kamu.” Aku mulai membuka cerita porno di www.ceritasexhot.net Tasya mulai membacanya dengan penuh perhatian. Lama-lama, Aku pun melihat wajah Tasya agak berubah dan sedikit gemetar serta agak menegang pertanda dia mulai terangsang, Aku dengan perlahan-lahan mulai meraba pundaknya. Sengaja Aku lakukan dengan perlahan untuk memberikan rangsangan dan agar jangan terkesan Aku ingin mengambil kesempatan. Nampaknya mulai berhasil karena dia diam saja.

Baca juga: Cerita Seks Bersama Pembantuku yang Sering Buatku Lemas

Sedangkan kemaluan Aku yang sudah tegang menjadi semakin tegang. Setelah Tasya membaca beberapa cerita lalu Aku bukakan gambar-gambar porno. “Iiih.. gambarnya fulgar banget Bang..”. “Itu sih belum seberapa, karena hanya gambar doang..” kata Aku mulai memancing. “Kalau kamu mau, Aku punya film-nya.” lanjut Aku. “Ngga ah, Aku takut ketahuan orang.”, sepertinya dia masih takut kalau ada orang lain masuk. “Percaya deh sama Aku, lagian cuma film, kecuali kalau kita yang begituan.” “Nah kan Bang Rino mulai nakal..”, katanya dengan nada menggoda dan membuat pikiran Aku semakin jorok saja dan kamipun berdua tertawa. Aku kemudian membuka VCD porno yang memang sengaja sudah Aku siapkan di dalam CD Room komputer Aku mulai memutarnya dan beberapa saat terlihat adegan seorang wanita sedang mengulum kemaluan dua orang negro. Sedangkan kemaluan si wanita di masuki dari belakang oleh seorang pemuda bule. Tasya kelihatan diam saja tanpa berkedip, malah posisi duduknya mulai sudah tidak tenang. “Kamu pernah lihat film ginian ngga Sya..” tanyaku padanya “Belum pernah Bang, cuma gambar-gambar di majalah saja” jawabnya dengan suara agak gemetar. Sepertinya dia mulai terangsang dengan adegan-adengan film tersebut. “Kalau gitu Aku matiin saja, ya Sya? Nanti kamu marah lagi..” kataku pura-pura sok suci namun tetap mengelus-ngelus pundaknya. “Aah ngga apa-apa kok Bang, sekalian buat pelajaran, tetapi Tasya jangan dimacem-macemin, ya Bang?” dia khawatir “Iya.. iya..” kataku untuk menyakinkan, padahal dalam hati, si otong sudah tidak tahan. Secara perlahan-lahan tangan Aku mulai memegang dan mengelus tangannya, dia diam saja dan tidak ada tanda-tanda penolakan.

Yang anehnya, dia diam saja ketika Aku merapatkan duduknya dan Aku pegang tangannya yang berbulu halus dan Aku taruh di atas pahasaya. Matanya tetap tertuju pada adegan film dan suaranya memang sengaja Aku buat agak keras terdengar agar lebih nafsu menontonnya. Terdengar suara rintihan dan erangan dari di wanita, ketika kemaluannya di sodok-sodok oleh si negro dengan kemaluan yang sangat besar dan panjang, sedangkan mulutnya dengan lahap mengulum batang kemaluan si Bule. Kini Tasya semakin tidak tenang duduknya dan terdengar nafasnya agak berat bertanda nafsunya sedang naik. Kesempatan ini tidak Aku sia-siakan. Tangan Tasya tetap berada di atas paha Aku, lalu tangan kiri Aku mulai beraksi membelai rambutnya, terus ke arah lehernya yang jenjang. Tasya kelihatan menggelinjang ketika lehernya Aku raba. “Acchh.. Bang Rino, jangan, Tasya merinding nih..” katanya dengan nada mendesah membuat Aku semakin bernafsu. Aku tetap tidak peduli karena dia juga tidak menepis tangan Aku, malah agak meremas paha Aku. Tangan kiri Aku juga tidak diam, Aku remas-remas tangan kanan Tasya dan sengaja Aku taruh tepat di atas kemaluan Aku. “Sya, kamu cantik deh, kayak bintang film itu” kata Aku mulai merayu. “Masa sih Bang?” sepertinya dia terbuai dengan rayuan Aku. Dasar anak masih 17 tahun.

“Bener tuh, masa Aku bohong, apalagi payudaranya sepertinya sama yang di film.” “Ih.. Bang Rino bisa aja” katanya malu-malu. Adegan film berganti cerita di mana seorang wanita mengulum 2 batang kemaluan dan kemaluan wanita itu sedang dijilati oleh lelaki lain. Tangan Tasya semakin keras memegang paha dan tangan Aku. “Kamu terangsang ngga Sya?” tanyaku memancing. Dia menoleh ke arah Aku lalu tersenyum malu, wah.. wajahnya nampak kemerahan dan bibirnya terlihat basah, apalagi di tambah wangi parfum yang di pakainya. “Kalau Bang, terangsang ngga?” dia balik bertanya. “Terus terang, aku sih terangsang, ditambah lagi nonton sama kamu yang benar-benar cantik ” rayu Aku, dan dia hanya tertawa kecil. “Saya juga kayaknya terangsang Bang,” katanya tanpa malu-malu. Melihat situasi ini, tangan Aku mulai meraba ke arah lain. Perlahan-lahan Aku arahkan tangan kanan Aku ke arah payudaranya dari luar baju seragam sekolahnya. Sedangkan tangan kiri, Aku jatuhkan ke atas pahanya dan Aku raba pahanya dengan penuh perasaan.



Tasya semakin menggelinjang keenakan. Mulus sekali tanpa cacat dan pahanya agak merenggang sedikit. “Aaahh, jangan Bang, Tasya takut, Tasya belum pernah beginian, nanti ada orang masuk mass.. oohh..” katanya sambil tangan kanannya memegang dan meremas tangan kanan Aku yang ada di atas pahanya yang sedang Aku raba, sedangkan tangan kirinya memegang sandaran kursi. Terasa sekali bahwa Tasya juga terangsang akibat Aku perlakukan seperti itu, apalagi ditambah dengan adegan film siswi anak sekolah Jepang yang dimasuki vaginanya dari belakang oleh seorang gurunya di ruangan kelas Aku yang sudah tidak tahan lagi, tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan Tasya. Karena Aku tahu bahwa dia sebenarnya juga ingin menikmatinya. Tangan kanan Aku makin meremas-meremas payudara sebelah kanannya. “Oohh Maass.. jaangaan Maas.. ohh..” Tasya semakin mendesah. Badan Tasya makin menggelinjang dan dia rapatkan badan serta kepalanya ke dada Aku. Tangan kiri Aku pindah untuk meraba wajahnya yang sangat cantik dan manis.

Turun ke leher terus turun ke bawah dan membuka dua kancing seragamnya. Terlihat gundukan belahan payudaranya yang putih dan mengencang di balik BH-nya. Tangan Aku bermain di sekitar belahan dadanya sebelah kiri, Aku remas-remas lalu pindah ke payudaranya yang sebelah kanan. “Ooohh.. Maas Bimoo.. oohh.. jaangaann.. mmhh..” Aku semakin bernafsu mendengar suara rintihannya menahan birahi yang bergejolak. Dadanya semakin bergetar dan membusung ketika Aku semakin meremas dan menarik BH-nya ke atas. Terlihat putingnya yang kecil dan berwarna merah yang terasa mengeras. Tangan kanan Aku yang sejak tadi meraba pahanya, secara perlahan-lahan masuk ke balik roknya yang tersingkap dan meraba-raba celananya, yang ketika Aku pegang ternyata sudah basah. “Ooohh.. Mass enakk.. teerruuss.. aahh..” Kepala Tasya mendongak menahan birahi yang sudah semakin meninggi. Terlihat bibir merah membasah. Secara spontan, Aku cium bibirnya, ternyata dibalas dengan buasnya oleh Tasya. Lidah kami saling mengulum dan Aku arahkan lidah Aku pada langit-langit bibirnya. Semakin tidak menentu saja getaran badan Tasya. Sambil berciuman Aku pegang tangan kirinya yang di atas selangkangan dan Aku suruh dia untuk meraba batang kejantanan Aku yang sudah menegang dan kencang di balik celana panjang.

“Mmmhh.. mmhh..” Aku tidak tahu apa yang akan dia ucapkan karena mulutnya terus Aku kulum dan hisap. Segera Aku lepas semua kancing seragamnya sambil tetap menciumi bibirnya. Tangan Aku membuka BH yang kaitannya berada di depan, terlihat payudaranya yang putih bersih dan besar dan perutnya yang putih tanpa cacat. Aku raba dan Aku remas seluruh payudaranya. Hal ini membuat Tasya semakin menggelinjang. Tiba-tiba, Tasya menarik diri dari ciuman Aku. "Bang.. jangan diterusin, Tasya ngga pernah berbuat seperti ini.” sepertinya dia sadar akan perbuatannya. Dia menutupi payudaranya dengan seragamnya. Melihat seperti ini, perasaan Aku was-was, jangan-jangan dia tidak mau meneruskan. Padahal Aku sedang hot-hotnya berciuman dan meraba-raba tubuhnya. Tetapi birahi Aku yang tinggi telah melupakan segalanya, Aku mencari akal agar Tasya mau melampiaskan birahi yang sudah sampai ke ubun-ubun. “Jangan takut Sya, kita kan ngga akan berbuat jauh, Aku cuma mau merasakan keindahan tubuh kamu.” “Tapi bukan seperti ini caranya.”

“Bukannya kamu juga menikmati Sya?” “Iya, tetapi Tasya takut kalau sampai keterusan, Bang!” “Percaya deh, Bang tidak akan berbuat ke arah sana.” Tasya terdiam dan memandangi wajah Aku, lalu Aku membelai rambutnya. Aku tersenyum dan dia pun ikut tersenyum. Sepertinya dia percaya akan kata-kata Aku. Film telah habis dan Aku mematikan komputer. Aku berdiri dan secara tiba-tiba, Aku mengangkat tubuh Tasya. “Maass, Tasya mau dibawa kemana?” dia berpegangan pada pundak Aku. Baju seragamnya terbuka lagi dan nampak payudaranya yang montok. “Kita duduk di sofa saja.” Aku angkat Tasya dan Aku pangku dia di sofa yang ada di dalam ruangan bos. “Sya kamu cantik sekali..” rayu Aku dan dia hanya tersenyum malu. “Boleh Aku mencium bibir kamu..?” dia diam saja dan tersenyum lagi. Semakin cantik saja wajahnya. “Tapi janji ya Bang Rino ngga akan berbuat seperti di film tadi?” “Iya Aku janji” Tasya terdiam lalu matanya terpejam. Dengan spontan Aku dekati wajahnya lalu Aku cium keningnya, terus pipinya yang kiri dan kanan, setelah itu Aku cium bibirnya,ternyata dia membalas. Aku masukkan lidah Aku ke dalam rongga mulutnya. Birahinya mulai bangkit lagi. Tasya membalas ciuman Aku dengan ganas dan nafsunya melumat bibir dan lidah Aku. Tangannya meremas-remas kepala dan pundak Aku. Ciuman berlangsung cukup lama sekitar 20 menit. Sengaja tangan Aku tidak berbuat lebih jauh agar Tasya percaya dulu bahwa Aku tidak akan berbuat jauh. Setelah Aku yakin Tasya sudah lupa, tangan Aku mulai meraba perutnya yang telah terbuka. Lalu perlahan-lahan naik ke payudaranya. “Aaahh.. Mass teruuss..” desahnya.

Ternyata birahinya mengalahkan kekuatirannya. Dengan penuh kelembutan Aku sentuh putingnya yang sudah mengeras. “Aaahh.. aahh.. mmhh..” Aku semakin meningkatkan kreatifitas Aku. Putingnya Aku pilin-pilin. Badan Tasya menggelinjang keenakan, bibir Aku turun ke bawah, Aku jilati lehernya yang jenjang. “Ooouuhh Mass, teruuss, enaak Maass.” Tasya terus mengeluh keenakan membuat libido Aku makin meningkat. Kemaluan Aku terasa tegang sekali dan terasa sakit karena tertekan pantat Tasya. Lalu Aku rebahkan dia di sofa sambil tetap menciumi seluruh wajahnya. Lalu Aku jilati payudaranya sebelah kanan. “Maass Bimoo..” Tasya berteriak keenakan. Aku jilati putingnya dan Aku hisap dengan keras. “Aahh.. oouhh.. terruuss oohh.. enaakk.” Nampak putingnya semakin memerah. Lalu gantian putingnya yang sebelah kiri Aku hisap. Seperti bayi yang kehausan, Aku menyedotputingnya semakin keras. Tasya makin menggelinjang dan berteriak-teriak. Tangan kiri Aku lalu mulai meraba pahanya, Aku buka pahanya, terus tangan Aku meraba-raba ke atas dan ke arah selangkangannya. Jari Aku menyentuh kemaluannya di atas celana dalam yang sudah basah. Awalnya dia bilang “Oouhh Maass jangaann..” tetapi kemuidan, “Oouughh Maass terruuss..” Aku masukkan jari tangan Aku ke mulut Tasya, lalu dihisapnya jari Aku dengan penuh nafsu. “Mmmhh..” mulut Aku terus tiada henti menghisap-hisap puting payudaranya secara bergantian.

Tangan Aku terus menekan-nekan kemaluan Tasya. Sambil Aku hisap, tangan kanan meremas-remas payudaranya, sedangkan tangan kiri,Aku masukkan jari telunjuk ke sela-sela celana dalamnya. “Maass.. oohh.. janggaan oughh.. mmhh..” Tasya terus mendesah-desah. Tangannya meremas-remas sofa. Setelah puas meremas-remas payudaranya, Aku pegang dan Aku tuntun tangannya untuk memegang kemaluan Aku yang sudah tegang di balik celana panjang. Tanggan Tasya diam saja di atas celana Aku, lalu tangannya Aku dekap di kemaluan Aku. Lama-kelamaan Tasya mulai meremas-remas sendiri kemaluan Aku. “Oohh Sya.. enak Sya.. terus Sya..” walaupun kaku mengelusnya tetapi terasa nikmat sekali. Jari tangan kiri Aku pun terus meraba kemaluannya, terasa bulu-bulu halus dan masih jarang. Jari tangan Aku tepat berada di atas vaginanya yang sudah sangat basah, Aku tekan tangan Aku dan jari telunjuk Aku masukkan perlahan-lahan untuk mencari clitorisnya. Tubuh Tasya semakin menggelinjang, pantatnya naik turun.

“Maass, jangan Maas.. Tasya ngga kuat Maass.. ooughh.. aahh” Aku tahu Tasya akan mendekati klimak sebab tangannya mencengkeram erat kemaluan Aku. “Maass.. aahh..” tiba-tiba tubuh Tasya mengejang hebat, tubuhnya bergetar kuat, tanda dia telah mencapai klimak. Tubuhnya langsung lemas tidak berdaya, matanya terpejam. Aku kecup bibirnya dengan lembut, lalu matanya perlahan terbuka. "Bang.. Tasya sayang kamu.” “Saya juga sayang kamu Sya” Aku kecup lagi bibirnya dan dia pun membalas sambil tersenyum. Aku lihat di payudaranya terdapat beberapa tanda merah bekas Aku hisap. “Ihh.. Bang nakal, tete Tasya dibikin merah..” dibiarkannya dadanya terlihat dengan bebas tanpa ditutupi. “Habis tete kamu montok dan gemesin sih.. besar lagi.” kataku sambil mengusap wajahnya yang berkeringat. "Bang, kok anunya ngga keluar cairan kaya di film tadi sih..?” tanyanya tiba-tiba. Rupanya dia benar-benar belum mengenal seks. Kebetulan nih untuk melanjutkan jurus yang kedua. “Kamu pengen punyaku keluar air mani?” tanyaku. “Iya, Tasya pengen lihat, kayak apa sih?” Tanpa pikir panjang, langsung saja Aku buka celana panjang dan CD Aku. Langsung saja kejantanan Aku keluar dengan tegaknya. Ukuran punya Aku lumayan besar, besar dan panjang sekitar 18 cm. Tasya langsung terbelalak matanya melihat senjata Aku yang ingin menagih kenikmatan yang ditunggu-tunggu.

“Ya ampun Bang.. besar banget punya Bang..” Aku raih tangan Tasya dan Aku suruh dia meraba dan mengocoknya. Tampak Tasya agak gugup dan gemetar karena baru sekali melihat langsung dan memegang burung laki-laki. “Aah.. Sya enak banget, terus Sya.. ahh..” Lama kelamaan Tasya terbiasa dan merasa pintar mengocoknya. Aku remas-remas payudaranya. "Bang, ahh.. Tasya masih lemas.. ahh..” “Sya, cium dong punyaku” pinta Aku. Langsung saja dia menciumi batang kejantanan Aku, mungkin dia belajar dari film tadi. “Terus Sya, emut Sya biar keluar aahh.. kamu pintar Sya.. emut Sya..” pinta Aku lagi. “Ngga mau, Tasya ngeri, lagian ngga cukup di mulut Tasya” Posisi Tasya duduk di sofa, sedangkan Aku berdiri menghadap Tasya. Aku remas buah dada Tasya, “Ahh Maass..” Ketika dia membuka mulutnya, langsung saja Aku masukkan batang kemaluan Aku ke mulutnya dan Aku keluar masukkan batang kejantanan Aku. “Mmmhh.. mmhh..” Tasya sepertinya kaget, tetapi Aku tidak peduli, justru Tasya yang sekarang menyedot batang kejantanan Aku. “Aaahh.. Sya kamu pintar Sya.. terus ah.. enaak..” Aku yang juga baru pertama kali berbuat seperti itu, sebenarnya sudah ingin keluar, tetapi sekuat tenaga Aku coba tahan. Tasya rupanya sudah lupa diri, dia semakin bernafsu mengulum dan menyedot batang kemaluan Aku, sedangkan kedua tangannya memegang pantat Aku. Cepat sekali dia belajar. Aku membungkuk dan kedua tangan meremas paha Tasya, lalu Aku buka kedua belah pahanya, Tasya mengerti lalu merenggangkan pahanya sambil mengangkat pahanya. Segera Aku buka resleting roknya dan Aku angkat roknya sehingga nampak CD yang berwarna putih.

Tangan kanan Aku segera meraba dan menekan-nekan belahan vaginanya yang tertutup CD, sudah basah. “Mmhh.. mmhh..” Tasya menggelinjang dan terus mengulum-ngulum, tampak mulutnya yang kecil mungil agak keSyaahan. Aku buka baju seragam dan BH-nya, dia melepas kulumannya dan Aku rebahkan tubuhnya di sofa panjang. Aku tarik roknya ke bawah sehingga tinggal CD-nya yang tersisa, lalu Aku membuka baju sehingga Aku telanjang bulat alias bugil. Mata Tasya terpejam, segera Aku lumat bibirnya dan dia pun membalas. Tangannya kirinya tetap memegang batang kejantanan Aku dan tangan kanannya meremas-remas pundak Aku. Sedangkan tangan kanan Aku membelai-belai rambutnya dan tangan kiri tetap meraba CD Tasya yang sudah sangat basah. Aku masukkan tangan ke dalam CD-nya, terus turun ke bawah tepat di belahan vaginanya, lalu jari-jari Aku bermain-main di belahan vaginanya yang sudah banjir. “Aaahh Maass.. oughh.. ohh..” dia terus menggelinjang. Pantatnya naik-turun mengikuti gerakan tangan. Mulut dan tangan kanan Aku langsung mengisap dan meremas-remas tetenya. “Aaahh Maass.. teruuss.. aahhgghh..” desahnya. Tangan Tasya meremas-remas burung Aku yang sudah tegang segera ingin masuk ke sarangya Tasya. Segera Aku buka celana dalamnya. Dan mulut Aku mulai turun ke bawah mencium perutnya dan perlahan-lahan Aku ciumi bulu-bulu halus dan vaginanya. Tangan Tasya meremas-remas rambut Aku. Aku buka belahan vaginanya dan nampak kelentitnya yang mungil berwarna merah. Segera Aku jilat dan hisap kelentitnya. “Aaagghh Maass oouhh.. oughh..” kepala Tasya mendongak dan bergerak ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan yang luar biasa yang baru sekali dialaminya, begitu juga dengan Aku.

Aku sedot liang vaginanya yang masih perawan dan berwarna merah. “Oouhh.. Mass, Tasya ngga kuat mass.. oohh.. aahh..” tiba-tiba tubuh Tasya bergetar hebat, pantatnya bergerak ke atas dan bergetar keras. “Aaahh..” Tasya mencapai klimak yang kedua kalinya. Aku hisap semua cairan yang keluar dari lubang vaginanya. Kemudian tubuhnya kembali lemas, matanya terpejam. Segera Aku buka pahanya lebar-lebar dan arahkan batang kejantanan Aku tepat di liang vaginanya. Tasya merasakan sesuatu yang menekan kemaluannya. Matanya terbuka sayu dan lemas. "Bang.. jangan maass, Tasya masih perawan.” katanya tetapi pahanya tetap terbuka lebar. “Katanya Tasya pengen ngelihat punya Bang keluar cairan.” “Iya, tetapi Tasya ngga pernah beginian, Tasya ngeri dan takut sakit..” “Jangan kuatir, Bang pasti pelan-pelan.” Segera Aku basahi batang kemaluan Aku dengan ludah, setelah itu Aku arahkan ke lubang vaginanya, setelah pas, perlahan-lahan Aku tekan masuk, sempit sekali rasanya. “Achh Mass sakit..” tampak wajahnya menahan sakit “Pelan-pelan Bang, sakit!” segera berhenti aksi Aku mendengar keluhannya. Setelah dia mulai tenang, Aku tekan sekali lagi. “Akhh.. Maass.. pelan-pelan.” tangannya memegang sofa dengan kuat. “Tenang Sya, jangan tegang, nanti juga enak.” Kemudian Aku lumat bibir Tasya, dan dia pun membalas, segera Aku tekan lagi sekuat tenaga. Aku mencoba sekali lagi, lalu melenceng keluar. Tidak putus asa, Aku coba lagi.

“Achh.. Mass Rino, sakit!” Aku tidak peduli dengan teriakannya, dengan lebih agak keras Aku tekan kemaluan Aku dan, “Bless..” torpedo besar Aku masuk setengah, terasa ada yang robek di lubang kemaluannya. kepala Tasya mendongak ke atas menahan sakit, Aku diamkan beberapa saat, lalu Aku tekan lagi dan masuklah semua batang kejantanan Aku ke sarang Tasya. “Achh Bang.. sakiitt.. pelan-pelan Bang.” Aku berhenti sebentar, lalu Aku coba masukkan lagi. Semakin dia berteriak, semakin bertambah nafsu Aku. Lalu Aku tekan sekuat tenaga dan masuklah semua senjata keperkasaan Aku. Aku keluarkan pelan-pelan dan Aku masukkan lagi dan seterusnya. “Ahh.. ahh.. Mass sakit.. teruuss ahh.. mmhh..” Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Rupanya dia mulai terangsang lagi. Semakin lama, Aku percepat goyangan. Tangan Aku meremas-meremas payudaranya. “Ohh Sya.. kamu cantiik Sya..” “Mass, teruss Mass, akhh.. Tasya ngga kuat Mass.. aghh..” pantatnya ikut naik turun mengikuti irama pantat Aku yang naik turun. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.

Terasa ada sesuatu yang kuat ingin keluar dari alat vital Aku, rupanya Aku akan segera klimaks. “Maass.. oougghh Mass, Tasya ngga tahaan.. oughh Bang Bimoo.. aahh!” Tasya berteriak histeris sambil tubuhnya bergetar dan pada saat yang bersamaan keluarlah air mani Aku menyembur dengan deras ke dalam vagina Tasya. “Ooughh Sya Aku keluaarr, oohh.. creet.. crreet.. creett..” sperma Aku mengalir dengan kencang, tubuh Aku bergetar dan berguncang hebat. Tangan Tasya mencengkeram erat pundak Aku dan Aku mendekap erat tubuh Tasya yang putih mulus. Setelah itu kami berdua langsung lemas. Terasa ada sesuatu yang menarik-narik dan menjepit batang kejantanan Aku. Terasa hangat batang kemaluan Aku. Banyak sekali cairan yang keluar. Mata Tasya terpejam merasakan kenikmatan yang ketiga kalinya. Tubuhnya benar-benar tidak berdaya dan pasrah. Tubuh kami tetap berpelukan dan kejantanan Aku tetap di dalam kemaluannya. Aku ciumi bibir dan seluruh wajahnya. Setelah itu Aku lepas tubuhnya dan dari lihat batang Aku dan vaginanya ada cairan darah perawan yang menetes di bibir vagina dan sofa. Sesaat kemudian, nampak Tasya menitikkan air mata.

"Bang.. kenapa kita melakukan ini, Tasya sudah tidak perawan lagi..” dia terus mengeluarkan air mata. Aku terdiam, dalam hati menyesal, mengapa Aku sampai lupa diri dan betapa teganya telah menodai seorang gadis yang bukan milik Aku. Aku seka air matanya sambil mencoba menenangkannya. “Maafkan Aku Sya, Aku lupa diri, Aku akan mempertanggung-jawabkan perbuatan Aku Sya.” "Bang, peluk Tasya Bang..” segera Aku peluk dia dan cium keningnya. Dia pun memeluk Aku dengan eratnya. Tubuh kami masih bugil, “Tasya sayang Bang bimo” “Saya juga sayang kamu” jawab Aku. Setelah itu dia tersenyum, tetapi air matanya tetap mengalir, Aku seka air matanya. Setelah puas saling berpelukan, kami segera memakai pakaian. Bercak darah Tasya mengenai sofa atasan Aku. Aku ambil sapu tangan dan mengelap hingga bersih. "Bang, Tasya mohon jangan ceritakan ini pada siapa-siapa!” “Saya ngga akan cerita pada siapa-siapa, ini adalah rahasia kita berdua.” Setelah semua rapih, kami kembali berpelukan. Setelah itu kami keluar dari ruangan bos. Tidak begitu lama, teman-temannya masuk dan mengajaknya pulang. Besok paginya, Tasya datang duluan dan ketika Aku masuk, “Selamat pagi Mas” dia memberi salam. Ah, senyumnya manis sekali, “Selamat pagi sayang” Aku hampiri dia dan kecup keningnya lalu bibirnya. Dia membalas ciuman tadi.

Ah, indah sekali hari ini. Tasya masih PKL 2 minggu lagi. Perbuatan kami kemarin bukan membuat kami insyaf, kami berdua melakukan lagi di ruangan bos, di meja, di kursi, di balik pintu, dengan posisi berdiri atau doggie style, seperti yang pernah kami lihat di film BF. Terkadang Tasya Aku suruh membolos dan janjian di hotel. Kami sering melakukannya dari pagi hingga sore. Ternyata Tasya orang yang hiperseks dan gampang terangsang. Benar-benar kenikmatan yang tiada tara, kami tidak pernah menyesali. Setelah 2 minggu berlalu, mereka telah selesai PKL, hubungan kami tetap berlanjut hingga akhirnya, dia di jodohkan oleh orang tuanya. Demikianlah cerita seks terkini. Nah itu dia Cerita Mesum ku Bersama Cewek Gadis PKL yang Sangean, semoga betah baca disini ya ^_^

Sunday, October 26, 2025

Cerita Seks Bersama Cewek Salon Cantik

Diaryceritasexku - Sebut saja namaku Luigi, Aku adalah seorang Pria single/bujang, Disini saya akan menceritakan Cerita sex-ku yang sangat menarik. Cerita ini bermula dari ajakan seorang temanku untuk pangkas rambut di sebuah salon yang letaknya di sekitar Universitas ternama di Jakarta pada awal bulan oktober lalu. Dari ajakan temanku itu kini aku-pun tahu bahwa semua wanita yang bekerja di salon itu bisa dikencani.

Pada waktu tepatnya pada hari akhir pekan, Cerita Mendesah kami sepakat untuk ketemuan di salon X itu pada pukul 01:00 siang. Saat itu aku-pun segera bergegas pergi ke salon itu bermaksud untuk memangkas rambutku. Setelah beberapa waktu, akhrnya aku-pun sampai disalon itu. Saat itu aku melihat jam tanganku menunjukan pukul 1 kurang 5 menit, dan saat itu juga aku memutuskan untuk masuk kesalon itu.

Sewajarnya salon, saat itu suasana di salon itu terasa normal sekali dan tidak tidak ada hal yang ganjil sedikit-pun. Ketika aku masuk, saat itu aku-pun menuju pada receptionis. Cerita Mendesah Disana aku-pun mengatakan bahwa aku berniat untuk pangkas rambut. Dari balik meja receptionis itu seorang wanita cantik berkata padaku, agar aku menunggu sejenak karena saat itu pekerja salon sedang sibuk melayani para pelangganya.

Saat itu sembari menunggu antrian, aku-pun mencoba untuk melihat-lihat suasana salon itu dan sembari mencari temanku yang sebelumnya sudah berjanjian denganku. Namun saat itu temanku tidak ada. Kuakui bahwa hampir semua wanita yang bekerja di salon ini rata-rata cantik, putih dan mempunyai body yang sexy. Ditambah lagi rata-rata mereka masih muda, Cerita Mendesah kalau aku perkirakan umurnya sekitar 20-27 tahun.

Cerita Seks Bersama Cewek Salon Cantik

Melihat para wanita salon itu aku jadi teringat dengan omongan temanku, bahwa para wanita salon ini bisa diajak kencan. Berhubung aku aku baru pertama kali ke salon itu ragu, karena salon itu benar-benar seperti salon biasa tidak nampak jika ada ++ nya. Kira-kira setelah beberapa waktu aku menungguantrian, pada akhirnya aku mendapat gilirianku. Cerita Mendesah Saat itu reception berkata bahwa sekarang giliranku untuk pangkas rambut.

Receptionis itu saat itu menunjuk kekursi yang kosong dan aku bergegas menuju ke kursi itu. kemudian setelah aku duduk, tidak lama kemudian seorang wanita salon yang muda nan cantik datang kearahku dan memegang rambutku,

“ Mau model Mas, potong rambutnya ?, ” Cerita Mendesah ucapnya sembari melihatku lewat cermin, dengan masih tetap memegang rambutku.
“ Eummm apa yah Mba’, apa aja deh Mba” yang penting rapi, ” ucapku sekena-nya.

Lalu layaknya di salon pada umumnya, aku-pun kemudian diberi penutup badan untuk agar rambut yang dipangkas tidak mengenai bajuku. Pada awalnya suasana terasa kaku, namun saat itu aku mencoba untuk mencairkan suasana agar terasa relax,

“ Ngomong-ngomong, Cerita Mendesah udah berapa lama Mba’ kerja di sini?, ” tanyaku basa-basi.

“ Baru kog Mas, baru 5 bulan, ngomong-ngomong Mas baru pertama kali ya cukur di sini?, ” ucapnya sembari memangkas rambutku.

“ Iya nih Mba’, Cerita Mendesah kebetulan saya kemarin lewat dan melihat ada salon, ya udah deh akhirnya saya mau coba cukur di sini, lagian saya juga lagi janjian sama temen buwat ketemu disini Mba’, Eh… malah sampai sekarang belum datang juga ?, ” jawabku.

“ Ouhhh… ” jawabnya singkat dan berkesan cuek.
Tidak lama setelah itu pada akhirnya temanku-pun datang juga,

“ Woy… ” suara temanku semabri menepuk pundakku dari belakang.

“ Lama banget sih loe, Cerita Mendesah kemana aja loe ?, ” tanyaku.

“ Sory bray, tadi di jalan macet, yaudah gue pangkas rambut dulu yah bray… ” jawabnya sambil berlalu.

Temanku-pun berlalu begitu saja. Saat itu-pun pangkas rambut sembari mengobrol. Singkat cerita dari obrolan-obrolan itu kami-pun mulai relax. Dari obrolan kami, aku mengetahui bahwa dia bernama Nita, dan dia berusia baru berusia 21 tahun. Cerita Mendesah Nita tinggal di kost-kostsan sekitar salon itu. Kini akupun sudah selesai, kemudian aku-pun memberikan tips sekedarnya, sembari aku menanyakan apakah dia mau aku ajak keluar.

Saat itu Nita-pun menyetujui dan dia menulis nomor handphone-nya pada selembar kertas kecil. Setelah selsai aku tidak pulang begitu saja, saat itu aku masih mnunggu Roni temanku tadi. Cerita Mendesah Sembari menunggu Roni, aku-pun mengobrol dengan Nita, saat itu aku sempat diperkenalkan oleh beberapa teman-temanya. Teman Nita juga memang cantik, namun menurutku Nita-lah yang paling cantik.

Singkat cerita pada akhirnya kami-pun ketemuan pada hari Senin di tempat yang sudah kami sepakati sebelumnya. Setelah makan siang, kami nonton bioskop.Saat itu Nita terlihat cantik sekali. Cerita Mendesah Dalam hati aku berkata, cantik sekali Nita hari ini. Saat itu Nita yang mengenakan kaos ketat berwarna biru muda ditambah dengan rompi yang dikanNitgkan dan dipadu dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal. Kami serius mengikuti alur cerita film itu, hingga akhirnya semua penonton dikagetkan oleh suatu adegan.

Nita tampak kaget, terlihat dari bergetarnya tubuh dia. Entah ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan kanannya. Lama sekali aku memegang tangannya dengan sesekali meremasnya dan dia diam saja. Cerita Mendesah Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya, di tengah jalan Nita memohon kepadaku untuk tidak langsung pulang tapi putar-putar dulu. Kukabulkan permintaannya karena aku sendiri sedang bebas.

Lalu aku memutuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta. Cerita seks Mendesah Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Nita mengatakan.

“ Eummm… Gi, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang semua ini terlalu cepat, namu aku harus mengatakan hali ini ke kamu, Eeee… aku suka sama kamu Gi… ” ucapnya lirih.

Saat itu aku merasa seperti tersambar petir mendengar ucapnya itu, dan secara refleks aku-punmenengok kearah-nya. Cerita Mendesah Ketika itu nampaknya raut mukanya sangat serius dengan apa yang barusan dia katakan sembari matanya menatap tajam padaku,

“ Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan, Nit?, ” tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.

“ Aku nggak tau kenapa, aku merasa kalau kamu itu beda sama cowok-cowok yang pernah aku kenal sebelumnya, kamu itu baik, dan kayaknya kamu itu care banget sama cewek. Cerita Mendesah Aku nggak mau kalau setelah aku pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Gi. Aku nggak mau kehilangan kamu, ” ucap-nya panjang lebar.

“ Eummm… kalau aku boleh jujur sih, aku juga suka sama kamu, Nit… tapi langkah baiknya jika kita saling mengenal lebih dalam lagi baru nanti kita pacaran?, ” jawabku tegas.

“ Baiklah kalau itu mau kamu Gi, Eummm… aku boleh cium kamu nggak, ini bukti bahwa aku nggak main-main sama omonganku yang barusan Gi ?, ” ucapnya dengan wajah serius.

Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas jadi sesak. Cerita Mendesah Edan ini anak, seperti benar-benar! Sekali lagi, aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat dengan bola mata yang berwarna coklat, dia menatapku tajam dan serius sekali,

“ Emmm… Sekarang Nit ?, ” tanyaku sambil menatapnya.

Saat itu dia hanya menganguk dan, “ Okey, sekarang kamu boleh cium aku, ” ucapku sembari kembali ke jalanan.

Beberapa detik kemudian Nita-pun beranjak dari tempat duduknya dan mengambil posisi untuk memberi sebuah cium di pipi kiriku. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku sambil memeluk. Cerita Mendesah Lama sekali dia mencium dan ditempelkannya buah dada-nya di lengan kiriku. Beuhhh, empuk sekali kawan, mak nyosss. Buah dada-nya yang cukup menantang itu sedang menekan lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku jadi sangek gilak.

Sebagai laki-laki normal secara otomatis batang kejantananku pun menegang. Dengan pelan sekali, Nita berbisik,
“ Gi, aku suka sama kamu, ” ucapnya sembari dia kembali mencium pipiku dan tetap menekankan buah dada-nya pada lengan kiriku. Konsentrasiku buyar, Cerita Mendesah sepertinya aku benar-benar sudah horny dengan perlakuan Nita, dan beberapa kendaraan yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca filmku yang hanya 40%. Lalu,

“ Kamu horny ya, Gi?, ” ucapnya lirih.

Saat itu aku tidak menjawab, dan tangan kirinya saat itu mulai meraba tubuhku dan mengarah ke bawah, Cerita Mendesah saat itu aku sudah benar-benar horny. Sekali lagi Nita berbisik,

“ Gi, aku tahu kamu horny, boleh nggak aku lihat punya kamu ? emmm… punya kamu besar yah!, ” ucapnya.

Saat itu aku hanya mengangguk saja, akhirnya dibukalah celana panjangku dengan tangan kirinya, seperti dia agak kesulitan pada saat ingin membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggang setelah itu aku kembali memegang setir mobil. Cerita Mendesah Dielus-elus batang kejantananku yang sudah keras dari luar. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya ke dalam dan digenggamlah kejantananku.
“ Oughhhhh… ” desahku pelan.

Sedikit demi sedikit wajahnya bergerak. Pertama, ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah. Lalu dia-pun mencium leherku, saat itu dia sempat berhenti di bagian dadaku, mungkin dia menikmati aroma parfumku. Cerita Mendesah Lalu dia-pun semakin turun ke bawah. Beberapa kali Nita melakukan gerakan mengocok kejantananku. Pertama-tama dijilatinya pangkal batang kejantananku lalu berpindah naik ke atas.

Kini ujung lidahnya sudah berada pada bagian buah zakarku. Salah satu tangannya menyelinap di antara belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya. Nita melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke atas, perlahan-lahan. Setiap gerakan nyaris dalam beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian tengah, naik lagi. Ke bagian leher batangku. Kedua tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil. Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi.

Pelan-pelan setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap kali itu pula kulihat Nita masih tetap menjilati kejantananku dengan penuh nafsu. Sesaat Nita kulihat melepas tangannya dari kejantananku dan menyibakkan rambutnya ke samping. Cerita Mendesah Kini jemarinya kembali menarik bagian bawah batang kejantananku dan memiringkan kepalanya.

Cerita Seks Bersama Cewek Salon Cantik


Nita kemudian mulai menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku, dan kini mulailah merekahkan kedua bibirnya dengan perlahan lalu dia mulai memasukkan kepala kejantananku ke dalam mulutnya tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian dia-pun mulai menggerakan secara perlahan semakin jauh hingga di bagian tengah batang kejantananku. Saat itulah kurasakan kepala kejantananku menyentuh bagian lidahnya.

Tubuhku bergetar sesaat dan terdengar suara khas dari mulut Nita. Cerita Mendesah Kedua bibirnya sesaat kemudian merapat. Kurasakan kehangatan yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku. Perlahan-lahan kemudian kepala Nita mulai naik. Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik turun bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga ketika bibir dan lidahnya mencapai di bagian kepala, kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif.

Begitu sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan jilatan Nita begitu merasuk dan menggelitik seluruh urat-urat syaraf yang ada di sana. Kuraba punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah ke bawah. Cerita Mendesah Kudapatkan buah dada sebelah kanan, aku buka telapak tanganku mengikuti bentuk buah dada-nya yang bulat, kemudian aku meremas-nya dengan lembut.

Lalu aku buka satu persatu kanNitg rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan mengikuti bentuk buah dada-nya. Sambil tetap mengkulum, tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik baju ketatnya dari selipan celana panjangnya. Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik baju ketatnya, aku meremas-remas buah dada-nya yang masih terbungkus BRA.

Kmeudian aku-pun mulai meremas satu persatu buah dada-nya sambil mendesah menikmati kuluman pada kejantananku. Kuremas agak kuat dan Nita pun berhenti mengkulum sekian detik lamanya. Cerita Mendesah Kuelus-elus kulit dadanya yang agak menyembul dari BRA-nya dengan sesekali menyelipkan salah satu jariku di antara buah dada-nya yang kenyal,
“ Sssssss… Arh…. ” desahku nikmatku merasakn kuluman Nita yang makin cepat.

Aku turunkan BRA-nya yang menutupi buah dada sebelah kanan, aku dapat meraih putingnya yang sudah mengeras. Kupilin dengan lembut,

“ Oughhhhh… Sssss… ” desahnya melepas kuluman dan terdengar suara akibat melepaskan bibirnya dari kejantananku.

Menjilat, menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu seterusnya berulang-ulang. Aku tak mampu lagi melihat ke bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan mataku. Nita begitu luar biasa melakukannya. Tak sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit kejantananku. Cerita Mendesah Gila, belum pernah aku dihisap seperti ini, pikirku.

Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah ke mana. Tak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di tubuhku yang semakin tinggi. Aku berhenti sejenak meraba buah dada-nya. Kutengok ke bawah, tangan kanannya menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang kejantananku, dan dia terlihat tersenyum kepadaku,

“ Kamu luar biasa Nit… Oughhhhh… ” bisikku sambil menggeleng-gelengkan kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya.
Saaat itu Nita hanya tersenyum manis dan berkesan manja,

“ Nit, bisa keluar aku kalau kamu kayak gini terus, ” Cerita Mendesah bisikku lagi merasakan genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada kejantananku. Nita hanya tersenyum,

“ Kalau kamu udah nggak pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahan-tahan, ” jawabnya.
Lalu setelah itu Nita menjulurkan lidahnya keluar dan mengenai ujung batang kejantananku. Rupanya dia mengerti aku sedang berjuang untuk menahan orgasme-ku.

“ Ssss… Oughhhhh… ” Cerita Mendesah racauku sedikit keras menahan rasa ngilu bercampur nikmat.

Bukan kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku, terkadang dia memilin kedua puting susuku dengan jarinya. Terkadang dia juga melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak lalu melanjutkannya lagi. Semakin lama gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal untuk menahan orgasme.

Saat itu aku mengalihkan perhatianku dari buah dada-nya. Cerita Mendesah Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kanNitg celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di balik celana dalamnya. Aku dapat rasakan rambut kewanitaan-nya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam hati. Kuteruskan agak ke bawah. Nita mengubah posisinya, dengan merenggangkan kedua kakinya.

Hal ini memudah aku dapat menyentuh kewanitaan-nya. Beberapa saat telunjukku bermain-main di bagian atas kewanitaan-nya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. Cerita Mendesah 5, nikmat sekali rasanya, pikirku. Sesekali kumasukkan telunjukku ke dalam liang senggama-nya. Mulailah aku menjelajahi setiap sudut liang senggama Nita. Aku temukan sebuah kelentit di dalamnya, lalu aku umainkan clitoris itu dengan telunjukku.

Oughhhhh, pegal juga rasanya tangan kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku menikmati setiap kuluman Nita. Rasanya sudah beberapa tetes air maniku keluar. Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang olehnya. Cerita Mendesah Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari telunjuk dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan kedua jariku, Nita tampak melengkuh dan mendesah pelan.

Semakin lama semakin cepat aku mengeluar-masukkan kedua jariku di liang senggama-nya dan Nita beberapa menghentikan kuluman pada batang kejantananku sambil tetap memegang batang kejantananku. Entah sudah berapa orang yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar membiusku sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu.

Saat itu Nita kembali menjilat, menghisap dan mengkulum batang kejantananku dan entah sudah berapa lama kami melakukan ini. Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang dikerjakan Nita pada kejantananku. Kali ini Nita melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya hingga mengenai ujung kepala kejantananku lagi. Ia memutar-mutarkan lidahnya tepat di ujung lubang kejantananku.

Baca juga: Cerita Sexku Bersama Mama Mertuaku Hot

Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku bergetar namun ia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang kejantananku di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam,

“ Oughhhhh.. Nit… nikmat… Sssss… Ahhhh… ” desahku sambil melepaskan tangan kiriku dari liang senggama-nya.

Saat itu aku memegang kepalanya mengikuti gerakan naik turun, lalu,

“ Oughhhhh… Nit, aku udah nggak kuat nihhh… Arh… ” ucapku agak lirih menahan orgasme.

Namun gerakan Nita makin cepat dan beberapa kali dia buka matanya namun tetap mengkulum dan terdengar suara-suara dari dalam mulutnya,

“ Arhh… ” desahku keras diiringi dengan keluarnya air mani dari dalam batang kejantananku di dalam mulutnya.

Ketika itu keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap air mani yang keluar dari dalam kejantananku hingga akhirnya habis. Cerita Mendesah Nita tetap menjilati kejantananku dengan lidahnya. Dapat kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian kepala kejantananku. Oughhh, nikmat sekali rasanya. Setelah membersihkan seluruh air maniku dengan lidahnya, Nita bergerak ke atas.

Kulihat dia, tampak ada beberapa air maniku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi kirinya. Aku mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku, perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang kejantananku yang sudah lemas, Nita beranjak ke atas melumat bibirku, masih terasa air maniku. Sekian detik kami bercumbu dan aku memejamkan mata. Akhirnya Nita merapikan posisinya, lalu dia duduk dan merapikan pakaiannya.

Saat itu aku-pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku. Beberapa hari setelah itu, aku main ke kost Nita dan pada saat itu pula kami mengikat tali kasih. Cerita Mendesah Awal bulan Maret lalu Nita kembali dari Manado setelah 2 minggu dia berada di sana dan dia tidak kembali lagi bekerja di salon itu. Sekarang kami hidup bersama di sebuah tempat di daerah Grogol.

Kini Nita-pun diterima sebagai operator di salah satu perusahaan penyedia jasa komunikasi handphone. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang bekerja di sebuah perusahaan di daerah Kedoya tapi aku harus meninggalkan kostku. Cerita Mendesah Setelah kami hidup seatap, Nita mengakui padaku bahwa selama enam bulan ia bekerja di salon itu, ia pernah melayani pelanggannya dan dia mengatakan bahwa semua pekerja yang bekerja di salon itu juga pekerja seks.

Nita tidak mengetahui bagaimana asal mulanya. Nita sendiri tidak tahu apakah salon merupakan sebuah kedok atau seks adalah sebuah tambahan. Dia mengatakan bahwa untuk mengajak keluar salah satu karyawati di situ, Cerita Mendesah seseorang harus membayar di muka sebesar Rp 500.000. Rasanya Jakarta hanya milik kami berdua, tiap malam setelah mandi sepulang dari kerja atau setelah makan malam, kami melakukan hubungan seks.

Entah sampai kapan semua ini akan berakhir dan entah kapan kami akan resmi menikah. Kami sungguh menikmati setiap hari yang akan kami lalui dan telah kami lalui bersama. Cerita Mendesah Aku sungguh tidak peduli dengan asal-usulnya pekerjaan Nita sebab makin hari aku makin terbius oleh kenikmatan seks dan mataku seolah-seolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia.