Showing posts with label pacar. Show all posts
Showing posts with label pacar. Show all posts

Saturday, October 11, 2025

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Cerita Seks Bersetubuh Hendra Dengan Pacarnya – Kota M terletak sekitar CERITA SEX 100-an kilometer dari kota kelahiran Hendra. Ke CERITA MESUM sanalah kini pemuda itu CERITA SEXmenuju, naik kendaraan umum bersama teman ayahnya, Paman Herman CERITA SKANDAL namanya, yg bersedia menampung Hendra selama ia mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi. Pagi masih basah dan agak berembun ketika keduanya berangkat ke terminal berjalan kaki.Sambil melangkah, Hendra mengenang perpisahannya tadi malam dengan Mita. Ada kesenduan di raut muka gadis manis itu, walaupun Hendra berusaha menghiburnya dengan bercanda. Lagipula, apa yg dirisaukannya? Toh, mereka hanya akan berpisah dua bulan.Bagi Hendra, tak apa lah berpisah dari Mita, karena ia merasa memerlukan konsentrasi penuh untuk persiapan masa depannya. Tetapi bagi Mita rupanya agak lain. Gadis itu merasa inilah awal dari sebuah perpisahan panjang yg tak terelakkan.Malam itu mereka meminta ijin untuk menonton. Kedua orangtua Mita mengijinkan, dengan perjanjian agar mereka pulang sebelum pukul 11. Tetapi, mereka membatalkan acara menonton, karena ternyata film yg tadinya mereka akan tonton telah diganti dengan sebuah film silat. Akhirnya mereka duduk saja di pinggir alun-alun dekat pantai.Ada sebuah tembok pendek pembatas alun-alun dengan jalan. Di sana lah keduanya duduk berayun-ayun kaki, menghadap ke selatan ke arah laut yg menghitam nun di sana.

Awan hujan tak tampak di langit, tetapi angin terasa mulai dingin. Hendra memeluk pundak kekasihnya.“Apa rencana kamu setelah kursus?” tanya Mita sambi memainkan kancing bawah jaketnya.“Mmmm …, belum tahu. Mungkin langsung ikut test seleksi,” jawab Hendra.Ia memang membicarakan kemungkinan ini dengan ayahnya beberapa waktu yg lalu. Ayah dan ibu juga setuju jika Hendra ingin ikut test langsung di lokasi perguruan tinggi yg ditujunya, di kota B. Tetapi, menurut kedua orangtuanya, keputusan ada di tangan Hendra setelah ikut kursus.“Berarti kamu langsung ke B…,” ucap Mita sambil mengibaskan rambut yg menutupi mukanya.“Ya,.. senang sekali kalau bisa ikut test di sana. Aku ingin sekali melihat kampusnya. Kata orang, kampus itu besar sekali, berkali-kali lebih besar dari alun-alun ini!” jawab Hendra bersemangat.Ia merasa, ikut ujian seleksi di kampus itu akan menambah motivasi dan kemungkinan lulus.“Tetapi, itu berarti kita tak akan bertemu lagi,” bisik Mita.Hendra menoleh. Memandang kekasihnya yg kini menunduk. Rambutnya yg legam tergerai menutup wajahnya. Dengan lembut, Hendra mencoba menyibak rambut itu. Mita mengelak. Hendra mencoba lagi, Mita tetap mengelak, bahkan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.“Apa maksudmu?” tanya Hendra.Mita menggeser duduknya menjauh, lalu menghadapkan tubuhnya ke Hendra. Wajahnya serius, “Maksudku,… kita akan berpisah semakin lama. Lalu, kalau diterima di perguruan tinggi,… kamu dan aku akan sama-sama sibuk kuliah. Kemungkinan, kita tak akan bertemu lagi dalam waktu satu atau dua tahun. Atau mungkin lebih.”“Ya,… agaknya begitu,” ucap Hendra pelan.Ia memang juga punya dugaan yg sama, tetapi apa yg bisa dilakukannya? Bukankah sekolah tinggi-tinggi adalah keinginan mereka berdua? Kalau mereka terpaksa berpisah karena keinginan itu, apa yg bisa mereka lakukan?“Lalu kita akan saling melupakan…,” bisik Mita, matanya berkaca-kaca.“Kenapa saling melupakan?” sergah Hendra.“Karena kita akan sama-sama sibuk kuliah…”“Tetapi kita bisa saling menyurati. Kita bisa … ““Tetap saja….,” Mita memotong dengan cepat, “Kita tetap akan saling menjauh tanpa kita sengaja.”“Kita masih bisa bertemu lagi, Mita.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Aku pasti itu!” ucap Hendra mencoba tegas, walau ia sendiri tak tahu apakah suaranya betul-betul kedengaran tegas.Ia sendiri ragu, apakah memang ada kepastian di masa depan? Bukankah masa depan selalu samar-samar?Mita menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya dalam desah yg keras.“Yah .. pasti kita bertemu lagi, tetapi mungkin sebagai dua orang yg berbeda…” ucapnya pelan.Hendra terdiam. Tiba-tiba ia sadar, betapa ia tak kuasa mengatur aliran kehidupan. Betapa kecilnya ia menghadapi dunia yg begitu luas, yg berada di luar batas kendalinya. Ia ingin sekolah dan menjadi arsitek ulung, tetapi untuk itu ia harus meninggalkan banyak sekali kenangan manis.Tdk hanya Mita, tetapi juga Susi adik satu-satunya, ayah dan ibunya, teman-temannya, sungai tempatnya berenang, pantai yg menyimpan jutaan memori, hutan kenari, kota kecil yg damai ….. banyak sekali!“Melamun apa?” teguran Paman Herman di sampingnya membuat Hendra tersentak.Tak terasa, mereka sudah sampai di terminal. Hendra tersipu sambil berbohong, mengatakan bahwa ia sedang membaygkan kota M.Paman Herman tersenyum, lalu menepuk pundaknya.“Jangan bohong. Kamu pasti sedang melamunkan pacarmu,” ucapnya sambil tertawa pelan.“Yah,.. yg itu juga kulamunkan, sambil membaygkan kota M,” jawab Hendra tak mau kalah.Paman Herman tertawa lebih keras.Mereka naik ke kendaraan umum yg sudah menunggu. Hendra duduk dekat jendela, sementara teman ayahnya turun lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman. Hendra Hermanl di atas mobil, melanjutkan lamunannya.Setelah bosan duduk di alun-alun, Mita dan Hendra berjalan-jalan menyusur pantai. Pada malam hari, terutama di saat libur sekolah seperti ini, dan jika hujan tdk turun, pantai selalu ramai oleh warung-warung dan orang yg berjalan-jalan. Anak-anak tampak berlarian main kejar-kejaran.

Sekelompok orang tampak duduk mengelilingi sepasang lelaki bermain catur diterangi lampu petromaks.Di tempat lain, sekelompok remaja bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Berpasang-pasang kekasih tampak juga berjalan-jalan seperti halnya Hendra dan Mita. Sekali-kali mereka berpapasan dengan orang yg dikenal, saling bertegur sapa, atau sejenak berhenti untuk bercakap berbasa-basi.Mita dan Hendra lebih banyak diam sambil berjalan. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, terutama tentang telah tibanya saat perpisahan. Masing-masing mencoba mencari apa saja kah makna perpisahan itu? Tetapi mereka berdua hanya menemukan satu: perpisahan itu menyakitkan. Memedihkan. Membuatmu tak berdaya.Mita menggamit tekan kekasihnya, meremas pelan, lalu bertanya memecah keheningan,“Apakah kamu mencintai ku?”“Ya,” jawab Hendra pendek. Sial! Mengapa pendek sekali jawaban itu? umpat Hendra dalam hati. Tetapi, lalu seberapa panjang kah seharusnya? Satu kalimat? Dua kalimat? Satu halaman surat? Seberapa kah?“Kenapa kamu tdk pernah mengatakannya?” tanya Mita lagi.“Kenapa?” malah Hendra balik bertanya.“Aku yg bertanya duluan. Kamu, koq, malah bertanya kembali,” sergah Mita.“Ya. Aku juga bertanya sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakannya,”“Lalu, apa jawabnya?” desak Mita.“Aku tak tahu. Tetapi kenapa itu jadi persoalan, Mita? Aku memang tak pernah mengucapkannya. Aku tak bisa. Tak pandai,” jawab Hendra agak kesal.Mita menghentikan langkah. Hendra terpaksa juga ikut berhenti. Mereka telah berada agak jauh dari keramaian. Suara ombak berdebur keras.

Semakin terdengar keras di tengah keheningan.Mita memegang kedua tangan Hendra, menghadapnya dengan muka tengadah, memandang dengan mata beningnya. Sebagian rambut menutupi mukanya, melintang di hidungnya yg bangir, di bibirnya yg ranum, di pipi berlesung-pipitnya.Ah, Hendra melihat kecantikan semata di tengah samar-samar malam. Melihat sinar kerinduan di mata itu, bagai bintang-bintang berpijar lembut. Melihat seraut wajah tempat ia melabuhkan impian-impiannya. Mengapa semuanya tampak begitu mengesankan saat engkau harus berpisah?Mita terpejam merasakan nafas kekasihnya dekat sekali menerpa wajahnya. Bibir Hendra perlahan menyentuh bibirnya. Kedua tangan mereka saling meremas. Angin keras mengibarkan jaket-jaket mereka. Ciuman kali ini terasa sangat lembut, selembut awan putih di langit biru.Sangat hangat, sehangat mentari di pagi yg cerah. Mesra dan manja mengalunkan kerinduan. Mita membuka mulutnya, mengundang kekasihnya datang merasuki seluruh jiwa-raganya. Datang lah kekasih, reguk habis rinduku, bawa daku terbang setinggi mungkin.Keduanya berdiri rapat. Hendra mengulum mesra bibir kekasihnya, menghirup harum-sedap nafasnya, menggigit manja lidahnya yg nakal. Mita membuka sedikit matanya, memandang wajah Hendra yg dekat sekali di depannya. Sebentar lagi ia akan pergi jauh, gumam Mita dalam hati. Sebentar lagi wajah itu hanya akan ada di dompet ku, menjadi sebuah potret kekasih yg mungkin juga akan segera lusuh karena terlalu sering disentuh.Sambil membalas ciuman kekasihnya, diam-diam Mita merekam wajah itu sedetil mungkin. Mematrinya di benak. Ah, Hendra ….. dahinya yg selalu serius. Matanya yg tajam-tegas. Tulang pipinya yg mengguratkan ketakmenyerahan. Hidungnya yg menggemaskan (aku senang sekali mencubit hidung itu!). Bibirnya yg selalu bergairah. Selalu!Hendra melepaskan ciumannya, membuka mata dan menemukan sepasang mata kekasihnya memandang mesra. Ia berbisik,“Mita, aku ingin bercumbu malam ini. Mari kita pergi dari sini…”Mita tertawa pelan,“Kemana kamu hendak membawa ku?” tanyanya sambil memeluk leher Hendra.Hendra melihat sekeliling. Pantai tampak sepi, tetapi juga terlalu menakutkan di tengah malam seperti ini. Tdk di sini. Hendra memutuskan untuk mengajak Mita ke sebuah tempat yg selama ini menjadi “persembunyian” mereka: sebuah pondok di tengah kebun kopi. Tetapi lokasinya ada di sisi lain dari kota, sehingga untuk ke sana mereka perlu berjalan cepat.“Ke sana?” Mita bertanya ketika melihat Hendra diam saja.Ah, gadis ini memang bisa membaca pikiran ku, ucap Hendra dalam hati.“Ayo, kita ke sana…,” kata Hendra bergairah, menggulung kaki celananya dan menarik tangan Mita untuk meninggalkan pantai. Mita tertawa kecil, mengikuti tarikan tangan ke kasihnya. Sebentar kemudian mereka telah berlari-lari menyebrang jalan, menelusuri alun-alun menuju tengah kota. Lalu, di depan kantor camat mereka berbelok, melintasi persawahan, berjalan beriringan sambil sekali-sekali bercanda. Malam semakin larut….“Waahhh… melamun lagi!” Paman Herman telah naik kembali ke mobil.Hendra terperanjat dan tersipu lagi. Sialan! Lamunannya terpotong di tengah jalan.

“Nih,… makan kacang goreng supaya tdk terlalu banyak melamun,” ujar Paman Herman sambil menyodorkan sebungkus kacang.Hendra mengucapkan terimakasih dan mulai memasukkan beberapa butir ke mulutnya.Paman Herman lalu mengajak mengobrol, bertanya-tanya tentang sekolah Hendra. Terpaksa lah Hendra menimpalinya, menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap. Paman Herman lalu juga bercerita tentang dirinya dan anak-anaknya yg masih kecil.Tentang kota M yg katanya tumbuh pesat karena menjadi pusat perdagangan bagi kota-kota kecil sekitarnya. Paman Herman ini seorang pedagang yg konon sedang naik daun. Ia sering mundar-mandir ke ibukota mengurus bisnisnya. Hendra senang juga mendengar ulasannya tentang lika-liku bisnis, walaupun dunia itu sangat asing baginya.Tetapi ketika mobil mulai bergerak, Paman Herman berhenti bercerita. Bahkan tak lama kemudian ia terlihat terkantuk-kantuk. Baru 10 menit mobil melaju, Paman Herman telah menyandarkan kepalanya di jok dan tertidur nyenyak. Hendra masih mengunyah kacang, memandang ke luar jendela, melihat betapa kotanya dengan cepat terHermanl di belakang.Tanpa sadar, ia melamunkan lagi peristiwa semalam …..Pondok itu tetap sepi dan tetap bagai magnit, menarik kedua remaja itu untuk datang berkunjung, walau setiap kali pula mereka ingin menghindar. Mungkin juga bagai lampu yg menarik laron-laron terbang mendekat. Kalau terlalu dekat, pastilah mereka akan hangus terbakar, bukan? Tetapi bagaimana jika laron-laron itu sudah terbakar api asmara sebelum menghampiri sang lampu?Mita dan Hendra mengendap-endap mendekat, sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang melintas. Tampaknya tdk ada seorang pun di sekitar. Hendra menggenggam erat tangan kekasihnya, perlahan-lahan mendekati pondok. Serangga malam menghentikan musik mereka setiap kali sepasang remaja ini melangkah. Tetapi setelah mereka berlalu, serangga itu kembali ramai memperdengarkan musik mereka.Hendra langsung mengajak Mita masuk. Pondok itu tentu saja gelap gulita. Setelah beberapa saat, barulah mata mereka bisa menyesuaikan diri, bisa melihat ruang kosong dengan dipan kayu itu. Hendra segera duduk, dan Mita segera naik ke pangkuannya.Mereka langsung berciuman, tanpa bertukar kata lagi.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya


Cerita Sex Nafas Mita sudah memburu sejak tadi, bukan hanya karena harus berjalan cepat dan setengah berlari, tetapi juga karena ia memang selalu bergairah jika berduaan dengan Hendra.Ciuman mereka tak lagi lembut-mesra seperti ketika di pantai tadi, melainkan bergelora, saling pagut dan saling mengulum. Nafas mereka berdua berdesahan, saling menyerobot seperti hendak saling mengalahkan. Kedua pasang bibir mereka saling menekan memilin, bergantian menghisap-hisap. Kedua lidah mereka bergelut bergelung seperti dua naga kecil yg bermain-main di taman basah dan hangat yg adalah mulut mereka.Berkali-kali Mita seperti tersedak, tak tahan diperlakukan begitu bergairah oleh kekasihnya. Tetapi berkali-kali pula ia kembali mengulum bibir pemuda itu, membiarkan lidahnya bermain semakin jauh ke dalam mulutnya, menyentuh langit-langitnya, menimbulkan rasa geli dan hangat.Seperti biasanya, Mita hanya memakai kaos tebal dan jaket, tanpa beha. Dengan leluasa, tangan Hendra segera menelusup menelusuri bukit-bukit indah di balik kaos itu. Bukit-bukit yg naik turun, membusung penuh, kenyal-padat, hangat. Tangan Hendra langsung gemas meremas, memijat, menekan. Jari-jarinya bermain ringan di atas kedua puting yg telah menegang tegak.Mita pun mengerang merintih merasakan kedua budah dadanya bagai dipenuhi uap panas, bergulung-gulung seakan badai yg sedang melanda bumi. Sambil memeluk leher Hendra, gadis itu membusungkan dadanya, memajukan seluruh tubuhnya, menghenyakkan kedua payudaranya di tangan kekasihnya. Ia ingin diremas lebih keras lagi, lebih bergairah lagi.Mulut Hendra meninggalkan mulut Mita, kini menciumi lehernya yg jenjang. Menciumi kulit mulus-lembut nan harum di bawah telinganya. Menggigit cuping telinga itu, membuat Mita terkejut, tetapi juga sangat senang. Apalagi kemudian Hendra menggigit pula lehernya, pelan-pelan saja. Oh, geli sekaligus nikmat rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti disengat-sengat bara kenikmatan yg membangkitkan api birahi semakin besar.Mita memajukan duduknya, mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga mulut Hendra kini semakin turun. Cepat-cepat Mita mengangkat kedua tangannya, membiarkan Hendra menaikkan kaosnya.

Segera dua payudara gadis yg kenyal-padat itu terpampang, indah sekali dalam keremangan malam, putih bersih bagai bersinar.Hmmm,… Hendra menenggelamkan wajahnya di lembah harum di antara dua bukit indah itu. Hmmm …, tubuh Mita selalu penuh keharuman sabun wangi, dan juga bedak yg biasa dipakai bayi. Hmmm …., sungguh menggairahkan rasanya menciumi dada ranum yg agak basah oleh keringat itu. Dengan gemas, digigitnya sedikit daging di pangkal salah satu payudara itu. Mita mengerang. Mita merintih.“Uuuh ….,” Mita merintih ketika mulut Hendra naik dan mengulum puting sebelah kiri.Tubuh gadis itu menggelinjang ke kiri.“Aaaah ….,” Mita mengerang ketika Hendra meremas payudara sebelah kanan. Tubuh gadis itu bergeser ke kanan.Begitulah terus. Ke kiri. Ke kanan. Ke kiri ke kanan. Gerakan-gerakan Mita menimbulkan gesekan nikmat di bawah sana, di tempat selangkangannya yg terhenyak rapat di pangkuan Hendra. Ada cairan bening tipis mengalir pelan dari dalam tubuhnya, membasahi celana dalamnya. Ada rasa hangat turun bersama aliran itu. Ada rasa geli-nikmat yg merayap perlahan ke seluruh penjuru tubuh.Dengan satu tangannya yg masih bebas, Hendra menyingkap rok Mita lebih ke atas, sehingga antara dia dan gadis itu kini hanya ada seutas kain nilon tipis yg telah basah di sana-sini. Setelah itu, tangan Hendra masuk menelusup dari belakang. Mita mengerang merasakan tangan itu membawa kehangatan ke bagian belakang tubuhnya yg penuh-padat itu.Mita merintih ketika Hendra meremas-remas bagian itu, seakan-akan sedang memeras buah hendak mengambil airnya. Gadis itu semakin memajukan duduknya, semakin rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke pangkuan Hendra. Malam terasa semakin panas. Keringat muncul di beberapa bagian tubuh keduanya; di ketiak, di punggung, di tengkuk.Lalu celana dalam Mita terlepas sudah, entah oleh tangan Hendra atau oleh tangannya sendiri. Tdk jelas lagi, siapa melakukan apa dalam pergumulan bergairah yg tak terkendal ini. Kedua tangan Hendra kini ada di bawah. Yg satu meremas-remas di belakang, yg lain menelusup ke depan. Mita mengangkat tubuhnya, tdk lagi duduk di pangkuan Hendra, memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada kedua tangan pemuda itu.Hendra pun segera memanfaatkan keleluasaan itu. Jari-jarinya mengusap-menelusupi kewanitaan Mita yg terasa panas membara.

Cerita Seks Gadis itu menggelinjang hebat ketika merasakan ujung jari Hendra menyentuh-nyentuh bagian-bagian yg sangat sensitif di bawah sana.Rasanya, bagian-bagian itu telah berubah seluruhnya menjadi ujung saraf belaka, tdk dilapisi apa-apa. Sehingga setiap sentuhan, seberapa pun ringannya, sanggup mengirimkan sentakan-sentakan kenikmatan ke seluruh tubuh.Lalu celana panjang Hendra juga telah terbuka. Sekali lagi, entah siapa yg melakukannya. Mungkin Hendra, mungkin Mita, mungkin keduanya. Kejantanan Hendra tahu-tahu juga sudah di luar, tegak berdenyut. Mita meraihnya dengan gemas, tersentak merasakan betapa panasnya otot-kenyal yg menggairahkan itu.Hendra mengerang ketika merasakan tangan halus lembut meremasnya di bagian yg sangat sensitif, di ujung yg telah sedikit basah pula. Lalu tangan Mita menuntun kejantanan Hendra ke depan kewanitaannya.Oh, Mita menggosok-gosok kewanitaannya dengan otot-kenyal padat panas itu. Oh, rasanya nikmat sekali bagi keduanya. Menggelitik-gelitik, menimbulkan geli nikmat di mana-mana.Dengan kedua tangannya yg kokoh, Hendra kini menopang tubuh Mita. Kedua telapak tangannya menjadi tumpuan dari pantat gadis itu, sementara dengan tangannya Mita terus menggosok-gosokkan kejantanan Hendra. Pelan-pelan, kewanitaannya terasa semakin menguak, semakin membuka.Apalagi cengkraman tangan Hendra juga ikut merentangkan bagian bawah itu, membuatnya semakin terbuka. Kejantanan yg kenyal-tegang itu kini menelusuri permukaan kewanitaan Mita, menimbulkan rasa geli yg sangat nikmat. Membuat liangnya semakin basah dan licin. Berdenyut-denyut pula.Sesekali, ujung kejantanan Hendra menelusup sedikit ke dalam. Oh,… Mita terpejam merasakan tusukan-tusukan kecil menyeruak ke dalam tubuhnya. Ahhh …, Hendra juga terpejam merasakan ujung-ujung sarafnya seperti dibelai-belai mesra.Betapa hangat, basah dan licin permukaan liang kewanitaan itu. Betapa halus, bagai sutra. Mita mengerang-merintih, terus memainkan otot-kenyal di tangannya, menggosok ke depan ke belakang, memutar-mutar.Lalu pelan-pelan Hendra menurunkan tubuh Mita, ….. cuma sedikit saja, mungkin cuma tiga senti. Tetapi itu sudah cukup membuat Mita tersentak, mengerang “Aaah…”, merasakan sebuah benda tumpul hangat menyeruak ke dalam tubuhnya. Rasanya sedikit pedih, tetapi juga geli dan nikmat.

Bercampur baur. Mengejutkan.“Jangan, Hendra….,” desah Mita sambil berusaha mengangkat tubuhnya. Tetapi entah kenapa, ia tak sanggup melakukan hal itu. Rasa nikmat di bawah sana menahannya untuk bergerak. Maka akhirnya ia cuma menggeliat-geliat.Hendra mengerang pelan. Oh,.. hangat sekali di dalam sana. Ia merasakan ujung kejantanannya dibalut entah oleh apa. Terasa sempit tetapi juga licin, mencekal erat tetapi juga berdenyut-denyut. Dengan kedua tangannya, Hendra mempertahankan posisi tubuh Mita yg kini bagai mengambang: antara atas dan bawah, antara kenikmatan dan kekhawatiran.Mita merasakan nikmat luar biasa datang dari liang kewanitaannya yg kini bagai tersumbat sebentuk otot-kenyal. Tak sadar, ia menggoygkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menyebabkan si sumbat menyeruak dinding-dinding bagian dalam kewanitaannya, menimbulkan kenikmatan tambahan.Hendra tetap menahan tubuh Mita agar tdk melesak lebih ke bawah. Diam-diam ia khawatir akan apa yg mereka lakukan. Ia takut jika seluruh kejantanannya masuk dan merusak sesuatu di dalam sana, walau ia sendiri tak tahu, ada apa di dalam sana.“Aaaaaah!”, tiba-tiba Mita mengerang.Orgasmenya datang bagai banjir bandang. Kedua kakinya mengejang, dan ia ingin merapatkan pahanya, menjepit kejantanan Hendra untuk menimbulkan kenikmatan yg lebih lagi. Tetapi tangan pemuda itu sangat kokoh mencengkram tubuhnya, sehingga akhirnya Mita hanya menyerah saja.Membiarkan tubuhnya berguncang-guncang ketika ia mencapai klimaks yg sedap itu. Kedua tangan Mita mencengkram bahu Hendra. Tubuhnya meregang. Matanya terpejam erat, mulutnya setengah terbuka, mengeluarkan keluh berkepanjangan,“Nggggggg….”.Bersamaan dengan itu, Hendra merasakan ujung kejantanannya bagai dipilin-diremas oleh daging kenyal hangat yg bergerak-gerak liar. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh Mita yg sedang bergetar hebat. Keringat Hendra membasahi badannya, karena tubuh gadis itu tdklah ringan.

Apalagi kalau sedang meregang-mengejang seperti ini.Lalu, Hendra merasakan klimaksnya datang, ketika Mita masih mengerang-merintih dengan kedua tangan mencengkram bahunya. Cepat-cepat Hendra mengangkat tubuh gadis itu, walaupun Mita terdengar memprotes. Ia masih cukup waras untuk tdk menumpahkan cairan cintanya di dalam. Dengan satu gerakan, ia menggeser duduknya. Kejantanannya lepas dari cengkraman permukaan liang yg sebetulnya sangat menjanjikan kenikmatan itu.Mita pun akhirnya sadar apa yg dihindari Hendra. Gadis itu cepat-cepat menggeser ke arah berlawanan. Ia melihat ke bawah, ke arah otot-kenyal yg masih tegak dan seperti bergerak-gerak menggeliat. Oh,.. cepat-cepat diraihnya bagian tubuh Hendra yg tadi memberikan kenikmatan di tubuhnya itu. Cepat-cepat ia meremas, ingin berpartisipasi dalam pencapaian klimaksnya.“Aaaaah!” Hendra mengerang panjang, merasakan tubuhnya bagai disentak-sentak ketika cairan-cairan cinta memancar kuat dari kejantanannya.Tangan Mita yg halus terasa menambah nikmat pancaran itu, sekaligus menampung cairan-cairan kental panas yg berebut keluar.Mita terduduk di samping Hendra, dengan tangan tetap mencengkram, merasakan getaran-gejolak klimaks kekasihnya. Hendra berkali-kali mengerang, dengan tubuh meregang dan kedua tangan bertelektekan di dipan. Mita merasakan otot-kenyal berdenyut-denyut dalam genggamannya. Menakjubkan sekali!Betapa kuatnya klimaks Hendra kali ini, menyebabkan tubuhnya seperti dioyak-oyak, tulang-tulangnya seperti lepas, ototnya seperti meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di dipan, diikuti Mita yg berbaring di sebelahnya. Keduanya masih telanjang di bagian bawah, terengah-engah seperti habis berlari sepanjang hari.

Tangan Mita tetap menggenggam di bawah sana, senang bisa menampung tumpahan cinta kekasihnya. Hangat dan licin rasanya.Lamunan Hendra buyar ketika mobil yg ditumpanginya membelok tajam, menyebabkan tubuh Paman Herman membentur tubuhnya. Lelaki setengah baya itu tetap tertidur, cuma menggumam tak jelas, lalu kembali menegakkan tubuhnya di sandaran kursi.Hendra menghela nafas panjang. Kota kelahirannya semakin jauh terHermanl. Mobil melesat laju di jalan raya antarkota. Di kiri-kanan jalan, sawah luas terbentang, menghijau bagai hamparan karpet . Langit tampak biru dibercaki awan putih. Puluhan burung bangau tampak terbang ke arah selatan.Hendra tiba di kota M menjelang sore. Rumah Paman Herman cukup besar dan Hendra mendapat kamar di belakang, dekat dapur dan gudang. Setelah beristirahat sebentar, Paman Herman mengajak Hendra membicarakan agenda mereka untuk dua bulan mendatang.

Mendengar kata dua bulan, Hendra mengeluh dalam hati. Lama sekali rasanya dua bulan itu.Lalu, keesokan harinya Hendra diantar Paman Herman ke tempat kursus yg telah ramai oleh pemuda sebayanya. Ruang belajar tampak jauh lebih besar dari kelas di sekolah di kota kelahirannya. Teman-teman barunya juga jauh lebih banyak, dan jauh lebih banyak tingkah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bertingkah seperti layaknya remaja kota besar, memakai kaca mata hitam segala. Hendra tersenyum simpul melihat salah seorang dari mereka memakai kacamata secara terbalik. Pastilah itu kacamata pinjaman!Demikianlah, hari-hari berikutnya Hendra sibuk mengikuti kursus di kota M dan mulai bisa melupakan hal-hal lain. Konsentrasinya penuh ke pelajaran, dan hanya sekali-sekali ia teringat akan Mita dan kota kelahirannya. Hari-hari pun terasa semakin cepat berlalu. Demikian lah Cerita Porno Kisah Pengalaman Hendra Bersetubuh Dengan Pacarnya oleh Cerita sex hot

Wednesday, October 8, 2025

Cerita Seks Pacarku yang Hot Sejak SMU

Cerita Seks Sebut saja nama aku Rinti. Aku tertarik‘ tuk membagi pengalaman aku pada pembaca Cerita Seks Asli. Saat ini aku kuliah di akademi besar swasta di Bandung. Pengalaman ini aku natural 1 tahun yang kemudian tepatnya Oktober 2017.

Cerita Sex Terlengkap 2018 Aku tercantum anak yang pandai berteman. Tetapi sayang mayoritas sahabat aku di kuliahan rata- rata laki- laki. Perihal ini disebabkan pacar aku 1 kelas dengan saya. Jadi susah buat memandang kesana serta kesini. Aku pacaran pacar aku( sebut saja namanya Ina) dikala itu nyaris 5 tahun, tetapi saat ini kita udah putus.

Kami pacaran dari SMU, serta ikatan suami- istri telah kerap kami jalani. Sampai sesuatu dikala pada bulan september aku berjumpa dengan sahabat lama di sma serta satu kuliahan dengan aku. Sebut saja namanya Ziya. Dikala smu Ziya tercantum anak yang sangat menawan di sekolah. Sesuatu kebanggaan untuk kalangan laki- laki bila sukses bergaul terlebih jadi pacarnya. Tetapi cuma orang- orang tertentu saja yang dapat jadi temannya. Dalam bergaul dia senantiasa memilih- milih, terlebih dalam jadi pacar. Dikala itu juga saya tidak sukses jadi temannya.


Normal bila ia tidak ingin bergaul dengan ku sebab saya cuma laki- laki biasa yang memiliki tampang biasa pula. Ziya merupakan wanita idola disekolah kami. Nyaris seluruh anak dari kelas 1- 3 memahami ia. Ia tercantum anak orang kaya serta pintar. Jika dibilang dimensi badannya nyaris mendekati sempurna ditambah dengan terdapatnya tahi lalat di dasar bibir. Bibirnya tipis serta dimensi dadanya juga estimasi kira- kira 34B. ditambah dengan tubuhnya yang sempurna serta kulitnya yang kuning bersih.

Peristiwa ini terjalin pada dini september, dikala aku bersama dengan Ina hendak makan siang di balik kampus. Tidak terencana kami berdua berpapasan dengan Ziya. Kami juga senyum duluan serta setelah itu dibalas dengan senyuman serta perkataan oleh Ziya.“ Masih awet yah dari sma”? katanya. Kami cuma membalas perkataan ia dengan senyuman saja. Memandang body nya yang aduhai membuat aku mau mempunyai ia, tetapi mana bisa jadi pikir ku.

Keesokan harinya aku terlambat kuliah serta tidak diijinkan masuk oleh dosen, sebab aku terlambar lebih dari 15 menit. Dengan jengkel aku memaki- maki dosen dalam hati, sebab jarak dari rumah ke kuliahan lumayan jauh. Tidak terencana kala turun dari tangga aku memandang Ziya lagi duduk di teras sendirian. Dikala itu aku memberanikan diri buat menyapa ia, mumpung gak terdapat Ina. Aku langsung duduk disebelah Ziya serta mengatakan,“ ga terdapat kuliah Zi”? tanyaku. Ziya langsung menanggapi“ ga terdapat dosen tuh”?“ kalian sendirian, mana Ina”? tanya ia.“ ga terdapat, saya sendirian”. Dikala itu ga terencana saya ngelihat ke bagian dadanya sebentar. Ya ampun, antara kancing atas serta bawahnya sedikit kebuka serta nampak wujud dadanya yang kuning bersih. Dikala itu saya langsung memandang wajahnya lagi sembari jantung ini berdetak lebih keras, serta kamipun melanjutkan pembicaraan kira- kira 1/ 2 jam lamanya.

Sehabis itu aku masuk kuliah jam 09. 30. Di dalam kelas aku tidak dapat kosentrasi belajar, benak senantiasa tertuju pada muka serta dada Ziya yang kenyal. Dalam hati ku berfikir, gimana triknya tuk dapatin Ziya serta bodinya. Sepanjang 1 jam saya berfikir terus, serta saya mulai bisa ilham tuk deketin ia. Sehabis itu kususun rencana serapi bisa jadi supaya gak nampak kalo seluruh itu telah saya atur.

Kembali kuliah gak terencana saya ketemu dengan Ziya. Ia lagi memandang papan pengumuman. Saya diam sebentar sebab ku akui saya pula grogi separuh mati. Sehabis agak tenang sedikit saya mulai mendekati ia.“ Hei, lagi mengapa?” tanyaku.“ hei, ketemu lagi, lagi liat pengumuman nih.” Jawab ia.“ eh Zi, tau gak jalur pasir pogor dimana?” tanyaku. Sesungguhnya saya telah ketahui dimana jalur pogor itu. Terencana saya seleksi jalur itu sebab jalur pasir pogor melewati rumahnya dahulu.

“ Kalo ga salah di deket Ciwastra deh? Emang mo mengapa kesana?” jawab ia. Wah kena pula nih, pikir ku.“ mo ketemu temen saya di situ, Hanya ga tau jalannya kemana. Kalo ga salah rumah kalian di wilayah Ciwastra kan?” pancing saya.“ iya, emang mengapa?”“ Anterin donk kesana, ntar saya anter balik dech ke rumah kalian”.“ gimana yah, soalnya temenku terdapat yang mo nganterin balik, tetapi ya udah dech saya ngomong bentar ama temen saya, kalian tunggu aja di kopma yah?” jawab ia. Wuihh, rencana ku sukses nih.

Tidak hingga 10 menit Ziya mendatangi ku yang lagi duduk bersama temenku.“ mari, ingin balik saat ini?” dengan gesit saya berdiri serta berangkat bersamanya. Temanku cuma bengong, sebab tidak menyangka saya hendak jalur bareng ama Ziya. Kami berangkat mengarah tempat parkir mobil, sebab saya dikala itu mengenakan mobil Feroza.

Di tengah ekspedisi kami cuma berdialog menimpa masa sma serta menimpa ina. Tetapi tiap pembicaraan menuju pada Ina, saya senantiasa bilang kalo saya telah putus dari Ina. Serta saya bilang ama Ziya biar jangan ungkit- ungkit permasalahan Ina lagi. Mobil terencana kuperlambat biar saya bisa bicara lebih lama dengan ia. Serta dikala itu, kancing pakaian atasnya terbuka serta ia duduk sembari miring ke pintu mobil. Sehingga kelihatanlah BH nya yang bercorak gelap. Aduh ma, ucapku. Ngga terasa kontolku telah membeku. Ku coba diam sejenak, sebab jika salah sedikit sikapku hingga kandas pula tuk dapetin bodinya.

Sehabis ditunjukin jalur pasir pogor, saya juga mengantarnya balik. Sesampai nya didepan pintu rumah yang cukup elegan, dia mengatakan sembari tersenyum.“ makasih yah, dah mo nganterin. Mo masuk dahulu ga ke rumah?” wah peluang nih pikirku. Tetapi rencana sih wajib senantiasa kujalanin.“ ga deh Zi, makasih. Lain kali aja yah, saya mesti ke pasir pogor lagi nih. Oh ya, esok balik jam berapa? Bareng ayo?” pancing saya.“ Esok saya balik jam 9. 30, ya udah kalo ingin nganterin tungguin di papan pengumuman esok yah?” wah, rencana awal saya berhasil nih. Tinggal jalanin rencana ke 2.

Besoknya saya telah stand by di papan pengumuman. Serta tidak lama setelah itu Ziya tiba menghampiriku.“ mo nganterin lagi nih, kalo ingin saat ini aja”, tanyanya.“ mari dech saat ini aja”. Jawabku. Dalam hati ini pula deg- degan banget. Bukan sebab ingin jalur ama Ziya, tetapi khawatir ketahuan ama Ina. Wah dapat berabe nih urusan kalo ketahuan. Kesimpulannya kamipun kembali samaan. Di tengah ekspedisi kembali kami ngobrol hingga terbahak- bahak. Memanglah saya pintar buat membuat orang lain ketawa, serta kuakui seperti itu kelebihan ku dalam menaklukan hati perempuan. Ditengah tawa kami akupun mulai bertanya kesukaan ia? Dikala itu terpikir oleh ku buat mengajak ia berenang, sebab dengan berenanglah saya bisa memandang bodinya secara langsung. Memanglah Ziya sepanjang di smu tidak sempat 1 kali juga turut pelajaran berenang, entah mengapa?“ ingin kemana lagi ntar habis nganterin saya?”“ Saya ingin berenang nih Zi, kalian dapat berenang gak?” pancing saya.“ gak dapat nih” jawab ia.

“ Ya udah, kalian ingin berenang samaan ga ama saya, ntar saya ajarin dech” jawab saya.“ tetapi saya gak memiliki pakaian renang, soalnya saya gak suka renang sih”! Katanya.“ yah kalian cari dahulu donk, ntar kalo ga terdapat kan beda urusannya lagi, jadi esok jam 2 sore yah?” tanyaku.“ iya deh jam 2 sore jemput saya di rumah yah” jawabnya. Setelah itu saya anterin ia balik kerumahnya. Setelah itu saya cuma tertawa kecil serta menggumam,“ udah kena perangkap saya nih, tinggal rencana ke 3 nih esok. Wah, udah kebayang wujud dadanya, pahanya serta sentuhan tangannya dikala saya ajarin ia berenang esok, terlebih tangannya di tumbuhin bulu- bulu halus”.

Besoknya kamipun berangkat berenang samaan ke pemandian Cipaku. Dikala ubah pakaian saya telah membayangkan wujud dadanya, pahanya yang putih serta lain- lainlah benak ku dikala itu. Dikala ketemu hati ku langsung berdetak lebih kencang, sebab Ziya yang terdapat di depanku saat ini lagi mengenakan pakaian renang. Serta dadanya mulai nampak sedikit menyembul ditambah dengan pahanya yang indah banget. Suerr, kontolku dikala itu langsung tegang terlebih ia menggandeng tanganku mengarah tempat penyimpanan tas di samping kolam renang.

Setelah itu saya juga langsung masuk ke kolam renang serta disusul oleh ia. Serta dikala itu mulai saya mengajari ia sebatas saya dapat. Dikala memegang tangannya terasa jantung berdetak lebih kilat. Tangannya halus banget. Ditambah senyuman bibirnya yang tipis serta merah. Nyaris 1/ 2 jam saya mengajari ia berenang. Tetapi kontol ini masih tegang terus. Pada dikala saya lagi mengajari ia berenang tidak senggaja ia menyenggol batang kemaluanku sebab dikala itu saya lagi mengajari ia style katak. Saya malu banget, sebab khawatir dipikir Ziya, belom apa- apa telah tegang duluan. Tetapi saya coba buang benak itu jauh- jauh.

Dikala itu saya telah tidak dapat mengatur diri lagi. Dengan terencana dikala ia nyaris tenggelam terencana saya peluk serta dekatkan kontolku di depan ataupun di balik ia. Serta dengan terencana pula saya berupaya supaya tanganku sekali- kali menimpa dadanya ia. Rencana ku sukses, kami terus menjadi akrab saja. Tetapi saya ngga ketahui, apa bisa jadi dia suka ama saya, ataupun cuma sebatas sahabat. Kami berenang nyaris 2 jam.

Setelah itu saya terlebih dulu mengajaknya kembali sebab hari nyaris malem jam 6 malam. Kami makan di hoka- hoka bento yang terdapat di jalur setia budi. Serta dalam ekspedisi kembali juga kami masih tertawa bersama. Dalam hatiku mengatakan, sebentar lagi kalian masuk dalam dekapan ku Zi! Sesampainya di rumah Ziya, dia mengajak saya masuk biar minum the dulu. Peluang ini tidak ku sia- siakan lagi. Inilah rencana akhirku. Saya masuk serta duduk disebelah ia sembari posisi 1/ 2 tidur. 15 menit kami mengobrol. Otak ku berbalik terus dikala kami ngobrol bersama. Dalam benak ku, gimana saya bisa memegang ia, sebaliknya dari Ziya tidak terdapat sinyal sama sekali pada ku.

Hingga jam 7. 20 saya masih terdiam. Hingga sesuatu dikala Ziya bertanya padaku.“ maaf yah kalo ini nyakitin kalian, hanya saya ingin nanya. Mengapa kalian kok dapat hingga putus dari Ina, kan ia orang nya baik banget”. Wah dengan persoalan itu saya mulai bisa ilham lagi.“ ga tau deh Zi, saya pula bimbang. Saya ngerasa kita ngga sesuai lagi dech”. Kataku. Dengan perasaan pilu saya coba genggam tangan ia sembari mengatakan,” tetapi kalian jangan bilang siapa- siapa kalo saya sama Ina udah putus yah, please..” Ya ampun saya deg- degan banget dikala itu, tetapi saya coba berlagak tenang. Ia hanya diam dikala saya pegang tangannya.“ Tenang aja kok, saya dapat jaga rahasia”.

Nafsu ku telah tidak terkontrol lagi, terlebih ruang tamu dikala itu terutup rapat. Serta dikala itu penunggu rumah yang lain lagi asyik nonton TeleZisi. Tanganku dikala itu lagi mengenggam tangannya. Serta lama- lama lahan saya mengusap bulu halus yang terdapat di tangannya serta mengusapnya lambat- laun sambikl mengatakan,“ kalian menawan banget Zi, saya seneng banget dapat samaan ama kalian”. Lama- lama kulihat gerakan tangan, muka serta kakinya ia. Nyatanya ia telah risau. Merasa terdapat jawaban saya meneruskan elusanku, sembari kucoba dekatkan bibirku ke bibirnya ia. Senggaja saya mengecup secara lama- lama serta lembut serta diiringi desahan napas lama- lama. Memanglah saya pintar dalam memicu wanita, sebab saya telah pengalaman dari Ina.

Setelah kukecup bibirnya secara lama- lama ia memejamkamkan mata serta terasa getaran kakinya yang mulai risau.

Lama- lama kukecup bibir lagi. warnanya kali ini ciuman ku berbalas pula. dia balik mencium ku dengan lembut. lama- lama ku lepas ciuman ku di bibirnya serta bergerak mengarah lehernya. meski saya telah terangsang banget tetapi saya masih dapat berfikir apa yang mesti saya jalani lagi tuk dapetin body nya. ciumanku bergerilya disekitar leher serta dekat kuping. terdengar nafasnya yang telah memburu. Lambat- laun tanganku memegang pipinya secara lembut, lehernya serta berupaya memegang toketnya yang aduhai. saya usap toket Ziya dari luar pakaian. dia masih diam dengan mata tertutup. dengan lama- lama tanganku masuk ke dalam bajunya melalui dasar serta tanganku mulai menimpa BH nya. ku coba angkat sedikit BHnya secara lambat- laun. serta terasa dikala itu toket Ziya telah dalam genggamanku. kuusap serta kepelintir putingnya secara lama- lama. dikala itu pula kucoba tangan yang satu lagi tuk membuka kancing bajunya. sehabis kubuka bajunya terlihatlah Bh yang bercorak gelap, dengan gunung kembar yang indah banget dibaliknya. dikala itu nafsu ku telah tidak terkendali lagi. kontolku telah ngaceng banget.

Tetapi saya belum puas saat sebelum memandang memeknya. kucoba tuk buka rok nya secara lama- lama, serta nampak pula gundukan daging di balik celana dalam hitamnya. saya terdiam sebentar sebab tidak menyangka Ziya wanita yang menawan banget, serta cuma orang- orang tertentu saja yang dapat mendekatinya saat ini telah bugil di depan mataku.

“ Aghh.. kalian kok ini sih an” desahnya. saya hanya tersenyum puas. serta kucoba tuk menarik tangannya ke arah kontolku. serta memanglah telah terencana sleting celanaku sudag saya buka. serta merosotlah celanaku. warnanya Ziya telah bernafsu banget. diangkatnya bajuku serta di lepaskannya celan dalamku.

Saat ini matanya telah terbuka serta memandang kontolku yang cukup gede.“ ihh.. gede banget yang kalian an”? saya coba bangkit berdiri supaya ia ingin mengulum kontolku.“ kalian ingin cium kontolku kan”? tanpa menunggu komando lagi kepala Ziya ku arahkan ke kontolku yang telah keras banget. diciumnya lambat- laun kontolku serta dijilatinnya kontolku.“ muahh.. mchh..” terdengar bunyi dari mulutnya yang tipis.“ terus Zi.. achh.. terus.. lezat banget loh.., kalian pinter banget Zi.. achh..”

Pikiranku telah tidak bisa kukontrol lagi. 15 menit telah lalu. serta lama- lama ku angkat badannya ke atas kursi ruang tamu serta kutidurkan. kucium lehernya terus turun ke mengarah susunya yang kenyal serta indah.“ gilaa banget nih cewe bodynya, susunya, pantatnya yang kenyal, terlebih bulu- bulu yang cukup banyak serta halus”. gumamku dalam hati”. kucium toketnya yang cukup besar serta kenyal.“ muachh.. muachh..”“ aduh an.. terusin.. achh..” ia mengerang terus. sembari ku jilatin toketnya, tangan kananku lambat- laun mengarah memeknya. Astaga.. basahh banget nih.. terus ku elus dengan lembut serta ku belai klitorisnya yang telah mencuat.

“ Achh.. euhh..” dia mengerang keenakan. lama- lama ciumanku turun kebawah vaginanya. ku jilatin memeknya yang basah. mhh.. mhhachh.. ia menarik kepalaku serta mengejang.“ acchh an, kayanya saya ingin berkemih nih..”“ kencingin aja Zi, itu bukan berkemih kok yang mo keluar, itu namanya ingin orgasme..”“ achh an, ennaak banget nih.., ahh.. terusin sayang kata nya”. saya tersenyum kecil dikala dia memanggilku dengan kata sayang.“ hahaha.. kalian udah masuk dalam genggamanku saat ini Zi..” kataku dalam hati.“ achh.. terusin an.. terusin yah sayang.. katanya”. kujilatin memeknya terus serta teruss..“ ohh indahnya memekmu Zi. beruntung banget saya dapat dapetin memek dari wanita secantik kalian” kataku dalam hati. kali ini dia merapatkan kakinya serta kembali mengejang. ahh.. an kayanya saya ingin keluar lagi nihh.. achh..”

“ Keluarin aja seluruhnya sayang.. terus keluarin aja..” kataku. sehabis kurasa lumayan, mulai ku arahkan kontolku yang telah keras serta panas ke memeknya Ziya.“ tahan bentar yach kalo sakit.. ntar pula tidak sakit lagi kok..” kataku pada Ziya. kumasukan kontolku lambat- laun ke memeknya. achh.. erangku sebab kontolku masih agak sulit masuknya. maklumlah memek perawan awal kali tentu sulit simasukinnya.“ achh.. ohh.. masukin langsung aja dech an..” pintanya.“ kalian ngga hendak nyesel Zi..?“ ga hendak kok, saya rela ama kalian diambilnya”.“ Achh.. terus..” dengan sedikit kekuatan kutekan kontolku kian kedalam. serta saat ini telah masuk seluruh kontolku kedalamnya.“ ohh.. hangat banget memeknya..”“ aduh sakit an.. akhh..”

Terasa darah fresh keluar dari vaginanya serta membasahi bajunya yang memanglah telah terencana kusimpan dibawah pantatnya.“ ya ampunn.. banyak banget darahnya nih..” gumamku dalam hati. tidak perduli dengan darah yang mengucur saya enjot ia lambat- laun, serta kelama- lamaan maikin kencang.“ achh.. ohh.. ahh.. terusin an.. kian lama kian lezat nih.. achh.. genjotanku kian ku percepat lagi. achh.. ohh lezat banget.. terusin yahh..” nyaris 15 menit saya menggumuli ia. lambat- laun ku genjot ia secara pelan serta pelan. sehingga ia dapat menikmatinya.“ pelan- pelan aja yah Zi, supaya saya dapat cium toket kalian”.



Sembari menggesek- gesek kontolku kedalam vaginanya. kucium lambat- laun puting toketnya. kuatru lambat- laun gesekan ku. serta tidak lama setelah itu terdengar dia mengerang serta mengejang.“ achh.. kaya terdapat yang ingin keluar nih.. achh.. aduh ingin keluar nihh..”“ kembali kuatur gesekanku secara lama- lama supaya dia dapat keluar”. serta benar saja sebentar setelah itu ia hadapi orgasme buat ke 2 kalinya.“ achh.. achh.. ohh.. ingin keluar nih.. ann.. achh..”

Ziya telah hadapi orgasme lagi saya sebentar lagi ingin keluar. sehabis kurasa lumayan hingga kupercepat gerakan kontolku ke memeknya ia.“ achh.. ingin keluar lagi nih an.. achh..”“ bentar lagi saya pula ingin keluar nih Zi.. ahh” erangku.“ keluarin didalem aja yah ann.. achh..”


Meski ia telah bersedia menerima mani ku di vaginanya, tetapi saya tidak sebodoh itu, saya masih ga ingin terikat oleh ia. dengan menaikkan kecepatan saya terus mengenjot ia terus menjadi kilat.“ achh.. saya ingin keluar nihh.. kalian ingin minum mani ku kan.. achh.”“ mengapa gak dikeluarin di dalam aja sih, ya udah ga pa pa kok di mulut ku pula.”“ achh.. terusinn.. ann saya juga

ingin keluar lagi nih.. achh..”“ saya pula ingin keluar nih Zi..” serta dikala itu kamipun keluar bertepatan.“ achh.. kuangkat langsung kontolku yang telah nyaris menyemburkan mani.. achh.. kukocokan kontolku ke arah mulut serta dadanya ia.

“ croot.. crott.. spermaku membasahi mulut serta susunya”.“ achh.. srepp.. lezat banget mani kalian an.. cape banget nih.. liat tuh badanku sampe keringatan seluruh.” saya cuma tersenyum serta mengatakan.“ tetapi lezat kan..” kubersihkan cairan spermaku dengan tissue nya. serta dia juga berangkat kekamar mandi tuk mensterilkan tubuhnya. achh.. lega banget hatiku sehabis dapetin wanita yang sempat jadi idola di smu dahulu. Sehabis Ziya mensterilkan tubuhnya sayapun memohon ijin kembali dahulu sebab jam telah jam 8. 50. ntar bapanya dapat curiga lagi.

peristiwa ini terus berulang- ulang hingga dikala aku masih mengetik cerita ini. Meski antara kami hingga saat ini belum terdapat status pacaran, melainkan cuma sahabat biasa.