Showing posts with label cerita seks cewek cantik. Show all posts
Showing posts with label cerita seks cewek cantik. Show all posts

Monday, November 24, 2025

Diary Cerita Sex ku: Ngewe dengan Pembantuku Ani

Diary Cerita Sex ku – Sepeninggal Lastri, kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Ani. Ani berambut lurus sebahu, berperawakan sedang , berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm , badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan tetek yang besarnya sedang saja. Yang agak istimewa dari penampilan Ani adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal.

Hari pertama kedatangannya , saat memperkenalkan diri , ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, ” akh, nakal juga nih… “. Ternyata Ani ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah.

Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Ani cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan ; dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.

Suatu malam sepulang kerja, Ani seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuk saya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus dibalik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada dibawah pintu tersebut.





” hah….” , saya kaget juga, karena disitu terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang men-jinjit menempel dipintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip , oleh siapa lagi kalau bukan Ani. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi ; saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian saya, meremas-remas sehingga saya pun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus meng-kocok-kocok saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara dibelakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas.
“Naah…lo….rasain ” , kata saya dalam hati. Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan kearah belakang untuk menaruh pakaian kotor.
“pep…..pak….. bapak mau emm.. makan”, sapa Ani ,
“oh… enggak Ni, sudah makan… tolong bikinkan kopi saja”, jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Ani terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.
“eeh…kamu kenapa Ni,…..sakit yaa ?”, tanya saya
“ah , tidak pak….. saya cuma sedikit pusing aja”, jawab Ani
“Iyaa…Ni….saya juga sedikit pusing… apa kamu bisa mijitin kepala saya”
“beb…bis…bisa pak”, jawab Ani tergagap, sembari matanya terus menerus melirik kearah saya yang menyembul. Sayapun masuk kekamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya; setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk disofa didepan televisi sambil menunggu Ani membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja didepan saya.
“Ni….tolong nyalakan tv-nya”
Ani berjalan kearah televisi untuk menyalakan , saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Ani dari balik dasternya. “wah….boleh juga”, terasa denyutan di saya, nafsu saya mulai memuncak.
“Ni…. tolong kecilkan sedikit suaranya”, kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Ani sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol tv tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali , Ani ternyata tidak memakai BH dan puting teteknya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar.
“lagi sedikit Ni….” kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh , denyutan di saya pun makin keras saja.
“Ayo ..Ni..pijitin kepala saya” kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Ani mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.
“nah..gitu….baru enak, kata saya lagi, “tapi film-nya kok jelek banget yaa…”
“iya..pak…film-nya film tua..” katanya.
“kamu mau lihat film baru”, kata saya sambil langsung berdiri dan menuju kearah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Ani kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut. Cerita Dewasa

Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba lawan mainnya , tangan Ani mengejang dikepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat keatas kearah Ani; terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker. Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan dikepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru memburu. Ani terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya.

Saya langsung saja berdiri dan menuju kebelakangnya; sarung saya jatuhkan kelantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Ani, menjilat-jilat sambil menggigit pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak kearah teteknya yang menantang dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Ani tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan kekiri. Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas; Ani diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan saya ke lubang memeknya. Saat kepala saya mulai memasuki memeknya yang sudah basah, Ani sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga saya terbenam seluruhnya.

“aaaaaaaakh…..pak” , desah Ani lirih, “ennnaaaak….paaaaak”
Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik saya. Waah…. memek Ani bagaikan menjepit saya dan seperti tidak mau melepaskan saya. Memek Ani ternyata sempit sekali dan saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Ani yang mulus, plak….plak….plak….. saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Ani.

Mulut Ani menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya , matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh , dari pinggang keatas condong kedepan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan. Bila saya menekan saya untuk membenamkannya lebih dalam kelubang memeknya, Ani segera mendorong pantatnya kebelakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian. Aah ….. Ani, ternyata luar biasa enaknya memek kamu. Saya benar-benar menikmati tubuh dan memek Ani. Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Ani mengejang , kedua kaki nya juga mengejang serta terangkat kebelakang . Memeknya meremas dan menghisap-hisap saya dengan keras dan berusaha untuk menelan saya seluruhnya.

Baca juga: Diary Cerita Sex ku: Ketagihan Seks

“aaaaaaaaaaaaahhhhh …..” desah Ani panjang Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan saya kuat-kuat kedalam memek Ani. Saya pun melepaskan cairan mani saya kedalam lubang memek Ani yang begitu hangat dan menghisap.
“hhhhheeeeeeeeeh” creeet…….creettt…..creet tttt Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk kearah sandaran sofa dengan posisi saya masih ada di dalam jepitan memek Ani. Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan kearah belakang ; Ani langsung berbelok kekamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, ” terima kasih yaa… pak” dan sambil tersenyum nakal ia meremas saya. Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kekamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas. Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
” looo ..” , pikir saya ” kok isteri saya tidak bekerja hari ini”
Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho…. ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus saya tetapi Ani yang sedang menunduk untuk mencium saya, yang sudah keras dan tegang.
“Ni….. ayo naik kesini”, kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Ani sudah tidak memakai apa-apa dibalik dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium memeknya yang wangi, sedangkan Ani langsung juga mengulum saya dimulutnya yang kecil; waah Ani langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya.

Saya mulai menjilat-jilat memeknya dan sesekali mengulum serta mempermainkan klentitnya dengan lidah saya, Ani tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya, “hheeeh….heeeehhh” Dari lubang memeknya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat ….. mmmh…enaknya… Setelah itu saya tarik Ani untuk jongkok di atas badan saya, sedangkan saya tetap terlentang dan Ani mulai menurunkan badannya dengan lubang memeknya yang sempit itu tepat kearah batang saya yang sudah sangat tegang sekali.

“hhhheeehhhh”….cleeeep, batang saya masuk langsung kedalam lubang memeknya dan terbenam sampai keujung biji saya, “oooohh enak bener Ni….memek kamu” kata saya, Ani sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan….. Batang saya terasa mau putus karena enaknya memek Ani, benar-benar nikmat sekali permainan dipagi hari ini; Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas teteknya yang keras. “ooooh …. Ani….ennaaaak” Ani kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, memeknya tetap menjepit batang saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut…..Akh , akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang saya sedalam-dalamnya dilubang memek Ani , badan Ani pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme. Pagi hari itu saya dan Ani bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya. Cerita Seks

Sejak pagi itu, saya selalu dibangunkan oleh isapan lembut dari mulut mungil Ani, kecuali bila hari libur dimana isteri saya berada di rumah.

Kami rasa hanya itu saja Cerita Dewasa Gairah Sex Ani Si Pembantu yang Ganjen yang dapat kami berikan kepada anda, semoga anda menyukai cerita yang baru kami berikan pada kesempatan hari ini.

Thursday, November 13, 2025

Cerita Seks ku: Ngewe dengan Selir Pak RT

 Cerita Seks ku – Aku anak tunggal namaku Ferry umurku saat ini 17 tahun aku duduk di bangku SMU swasta di kotaku, sering aku tinggal di rumah sendirian diman Bapakku adalah pengusaha sukses yang cukup sibuk dalam mengelola bisnisnya skadang ibuku juga ikut bersama bapak.

Aku akan berbgai pengalaman pertama hubungan seks dengan wanita dan ini untuk pertama kalinya, aku tinggal di komplek kelas menengah di sampingku rumah di diami oleh kepala RT orangnya cukup berpengaruh di komplek tersebut.

Umurnya sekitar 60 tahun. tapi masih kelihatan gagah. Pak RT mempunyai dua orang istri. Yang pertama namanya Tante Ida, wanita keturunan arab, kulitnya hitam manis, bodinya langsing. Meskipun usianya sudah 40-an, Tante Ida masih kelihatan cantik, dia sangat pintar merawat diri.

Dengan Tante Ida, Pak RT mempunyai dua orang putri yang cantik-cantik, yang sulung namanya Erni sedangkan adiknya namanya Ana, umur keduanya hampir sebaya denganku. Istri keduanya namanya Tante Yuni, orang Bandung, kulitnya putih bersih.

Wajahnya mirip bintang sinetron Titi Kamal. Bodynya aduhai, montok, padat berisi. Mungkin karena dia sering fitness, apalagi Tante Yuni senang berpakaian sexy yang menonjolkan lekuk-lekuk tubuhnya. Membuat laki-laki yang memandangnya terangsang dan ngeres.

Tante Yuni orangnya supel dan pintar bergaul, sering dia ngobrol-ngobrol dengan anak muda seusiaku, termasuk aku.

Kejadian ini bermula ketika orang tuaku pergi seminggu keluar kota untuk keperluan bisnisnya. Aku ditinggal sendirian dirumah. Sedangkan pembantuku dipecat ibuku tiga hari sebelumnya karena ketahuan mencuri uang ibuku. aku yang sendirian merasa kesepian.



Aku duduk diruang tamu sambil berkhayal. Untuk menghilangkan kesepianku, kuputar VCD porno yang baru aku pinjam dari temanku. Filmnya tentang seorang cewek bule yang sedang disetubuhi dua orang negro.

Satu orang negro sedang dikulum kontolnya, sedangkan yang satunya lagi sedang ngentot cewek bule itu dari belakang dengan posisi nungging. Sekitar 20 menit mereka berganti posisi, satu orang negro sedang rebahan diranjang sambil memasukkan kontolnya kelubang anus cewek bule itu, yang telentang diatasnya.

Sedangkan negro yang satunya lagi sedang menggenjot vagina cewek itu. Desahan dan erangan mereka membuatku terangsang. Kuraba-raba celana pendekku (aku sudah tidak pakai celana dalam), kontolku mengeras.

Semakin lama kuraba semakin keras. Kukocok-kocok naik turun. Birahiku memuncak ingin disalurkan, tapi aku tidak tahu harus kemana menyalurkannya.

“Lagi ngapain Dan?” suara seorang wanita mengejutkankuCerita Selingkuh

Ternyata Tante Yuni sudah berdiri disamping pintu. Dia berpakaian sangat sexy, dengan kaos ketat dan rok super mini. Dia memandang karah celanaku. Saking terkejutnya aku lupa menaikkan celanaku, sehingga dia dengan bebas bisa melihat kontolku yang sedang tegang penuh, mengacung-acung.

“Maaf.. maaf.. Tante” sahutku terbata-bata.
“Akh, nggak apa-apa kok, kamu kan udah gede”.
“Wah, kontolmu gede banget, udah pernah dimasukkin kevaginanya cewek belum?” tanyanya cuek.
“Be.. belum pernah Tante” sahutku.
“Mau nggak dimasukin ke punya Tante?, Tante pingin nih ngerasain kontolmu” katanya meminta.

Kemudian dia menutup pintu dan menguncinya. Dia berjalan mendekat kearahku. Duduk disampingku.

“Tapi saya belum pernah Tante” jawabku.
“Tante ajarin, mau kan?” katanya sedikit memaksa.

Tanpa menunggu jawabanku, dia menaikkan kedua kakinya kepangkuanku. Tangannya meraba-raba kontolku, aku gemetar. Baru kali ini kontolku dipegang seorang wanita. Dia mendekatkan wajahnya kewajahku, diciumnya bibirku.

Lidahku diisapnya. Aku membalas isapannya. Lidahku dan lidahnya tumpang, tindih saling isap. sesekali isapannya diarahkan keleherku. ditariknya tanganku, diletakannya dikedua buah dadanya yang sudah mengeras.

Kuremas-remas buah dadanya, dia menggelinjang keenakan. Kutarik kaos ketatnya, aku terperangah, dia tidak memakai BH, buah dadanya padat dan kenyal. Kulepaskan isapan lidahnya, kuisap buah dadanya, dia melenguh, sambil tangannya terus mengocok-ngocok kontolku.

Beberapa menit berlalu, dia berdiri, lalu melepaskan rok mininya. Maka terpampanglah pemandangan yang luar biasa. Aku bisa melihat dengan jelas vaginanya yang merah merekah, sangat indah. dicukur rapi dan bersih.

Kemudian dia berlutut dilantai, dihadapanku. Wajahnya didekatkan keselangkanganku. Ditariknya celana pendekku. Bibirnya mendekati kepala kontolku, dan mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya.

“Akkh.. aow.. oohh.. nikmat Tante, enakk.. sekali” aku mengerang ketika dia mulai mengulum kontolku.

Hampir seluruh batang kontolku masuk kemulutnya yang sexy. Kontolku keluar masuk dimulutnya. Nikmat sekali. Tak ketinggalan, buah pelirkupun diseruputnya. Puas mengulum kontolku, kemudian Tante Yuni berdiri dihadapanku.

Vaginanya berada pas diwajahku. Dia menarik kepalaku, mendekatkannya pada vaginanya. Aku mengerti maksudnya, minta dijilati vaginanya. Kujulurkan lidahku. Aku mulai dengan menjilati pangkal pahanya, terus mendekati bibir vaginanya.



“Aow.. oohh.. nikmat.. sayang, teruss.. terus” dia mendesah-desah ketika aku memasukkan lidahku ke lubang vaginanya.

Kusedot-sedot, kugigit-gigit kelentitnya. Dijepitnya kepalaku. Hampir seluruh isi vaginanya kujilati, vaginanya basah.

“Akkhh.. akuu.. nggak kuatt.. sayang, kita mulai aja” ajaknya. cerita hot tante

Dia menurunkan tubuhnya perlahan-lahan kepangkuanku. Dipegangnya kontolku, diarahkannya tepat kelubang vaginanya. Dia mulai memasukkan kontolku sedikit demi sedikit. Semakin lama semakin dalam.

Sudah setengah batang kontolku masuk. Sampai disini dia berhenti sejenak mengatur posisi. Kakinya berlutut disofa. Aku tak mau ketinggal, kuambil kesempatan. Kusodokkan kontolku.

Dia menjerit ketika kontolku amblas dilubang vaginanya. Dia mulai menaikturunkan pantatnya dipangkuanku. Kontolku serasa dijepit dan dipijit-pijit lubang vaginanya yang sempit.

“Gimana sayang enak khan?” tanyanya.
“Enakk sekali Tante, vagina Tante sempit sekali” jawabku.
“Sudah lama sekali Tante tidak merasakannya sayang”.
“Pak RT tak pernah memberiku kepuasan” dia menggerutu.
“Emangnya Pak RT impoten Tante?” tanyaku.
“Iya, iya sayang” jawabnya singkat.

Kupeluk pinggangnya erat-erat. Bibirku menghisap-hisap buah dadanya. Kubantu gerakkannya dengan menyodok-nyodokan pantatku keatas. Dia mengerang-erang merasakan nikmat. Matanya merem melek.

Semakin lama semakin cepat dia menggerak-gerakkan pantatnya, sesekali pantatnya diputar-putar. Aku merasakan nikmat yang tiada tara. Kontolku serasa dipelintir vaginanya. Sudah sekitar 30 menit kami berpacu dalam kenikmatan. Nafasnya dan nafasku saling memburu. Peluh kami bercucuran. 

“Akh.. oohh.. aku tidak kuat sayang, akuu.. mauu.. keluarr” dia menjerit-jerit.

Kurasakan vaginanya berkedut-kedut.

“Akuu.. juga Tante” sahutku ngos-ngosan.
“Keluarin didalem aja sayang, aku ingin punya anak darimu” pintanya memelas.

Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak di lubang vaginanya.

“Kamu puas khan sayang?” tanyanya.
“Puas sekali Tante” sahutku pendek.

Kami beristirahat sejenak. Kemudian kekamar mandi untuk membersihkan badan. Siraman air membuat badanku segar kembali.

“Aku pingin lagi sayang, kamu mau khan?” tanyanya meminta..

Aku tidak menjawabnya. Kubopong tubuhnya, kubawa kekamarku dan kurebahkan diranjangku. aku merangkak diatas tubuhnya dengan posisi ssungsang. Selangkanganku berada diatas wajahnya, sedangkan wajahku tepat diatas vaginanya.

Aku mulai menjilati dinding vaginanya. Dia menggerinjal-gerinjal dan menjepit kepalaku. Seluruh dinding vaginanya kujilati. Kucari-cari tititnya. Kusedot-sedot dengan lidahku. Sesekali kugigit. Dia meringis.

Dengan jari-jariku kutusuk-tusuk lubang anusnya. Sesekali kujilati lubang anusnya. Tante Yuni tak mau ketinggalan. Dia menjilati kontolku, dari kepala sampai pangkal kontolku tak luput dari jilatannya.

Sstt! Aku mendesah ketika dia mengulum kontolku. Dia sangat lihai memainkan lidahnya. Kontolku yang tadi mengecil, sedikit demi sedikit mengeras didalam mulutnya. luar biasa kenikmatan yang kudapatkan.
Tante Yuni memang benar-benar profesional. Seluruh batang kontolku dijilatinya.

“Oohh.. aku tidak tahan sayang, kita mulai aja” pintanya.

Kuturunkan tubuhku dari tubuhnya. Aku berdiri dipinggir ranjang. Kutarik tubuhnya kepinggir, hingga kedua kakinya menjuntai. Aku mendekatkan kontolku kelubang vaginanya. Sedikit demi sedikit kontolku masuk kelubang vaginanya.

Sstt! Dia mendesis. Sudah seluruh batang kontolku amblas ditelan lubang vaginanya yang basah dan memerah. Kugoyang-goyangkan pantatku. Tante Yuni membantuku dengan menggoyang-goyangkan tubuhnya. aku merasakan sensasi yang luar biasa. 10 menit berlalu, kuganti posisi. Kutarik kontolku. Kakinya kunaikkan keduanya. Aku memasukkannya lagi. Dan mulai menggenjotnya.

“Akhh.. akuu.. mauu.. keluarr.. sayang” dia mengerang.

Vaginanya berkedut-kedut. Vaginanya menjepit kontolku.

“Akhh.. aku keluarr.. sayang” dia melenguh.

kurasakan vaginanya basah oleh cairan. Tante Yuni telah mencapai orgasme sedangkan aku belum apa-apa. Kubalikkan tubuhnya. Kuminta dia menungging. dia menuruti aja perintahku. Kudekatkan kontolku yang masih tegang ke lubang anusnya.




Friday, October 31, 2025

Cerita Seks dengan Istri Tettangga yang Gacor di Ranjang

Ini adalah Pengalaman Ngentot Cerita Sex Dengan Istri Tetangga merupakan pengalaman sex yang sangat susah untuk di lupakan. kali ini berdasarkan pengalaman dari pengirim cerita yang tidak mau di sebutkan nama nya , untuk menghormati itu kami menggunakan nama palsu dalam kali ini.Untuk itu silahkan langsung di simak cerita nya.

Sudah bertahun-tahun kegiatan ronda malam di lingkungan tempat tinggalku berjalan dengan baik. Setiap malam ada satu grup terdiri dari tiga orang. Sebagai anak belia yang sudah bekerja aku dapat giliran ronda pada malam minggu.

Pada suatu malam minggu aku giliran ronda. Tetapi sampai pukul 23.00 dua orang temanku tidak muncul di pos perondaan. Aku tidak peduli mau datang apa tidak, karena aku maklum tugas ronda adalah sukarela, sehingga tidak baik untuk dipaksa-paksa. Biarlah aku ronda sendiri tidak ada masalah.

Karena memang belum mengantuk, aku jalan-jalan mengontrol kampung. Biasanya kami mengelilingi rumah-rumah penduduk. Pada waktu sampai di samping rumah Pak Fikri, aku melihat kaca nako yang belum tertutup. Aku mendekati untuk melihat apakah kaca nako itu kelupaan ditutup atau ada orang jahat yang membukanya. Dengan hati-hati kudekati, tetapi ternyata kain korden tertutup rapi.

Kupikir kemarin sore pasti lupa menutup kaca nako, tetapi langsung menutup kain kordennya saja. Mendadak aku mendengar suara aneh, seperti desahan seseorang. Kupasang telinga baik-baik, ternyata suara itu datang dari dalam kamar. Kudekati pelan-pelan, dan darahku berdesir, ketika ternyata itu suara orang bersetubuh. Nampaknya ini kamar tidur Pak Fikri dan istrinya. Aku lebih mendekat lagi, suaranya dengusan nafas yang memburu dan gemerisik dan goyangan tempat tidur lebih jelas terdengar. “Ssshh… hhemm… uughh… ugghh, terdengar suara dengusan dan suara orang seperti menahan sesuatu. Jelas itu suara Bu Fikri yang ditindih suaminya. Terdengar pula bunyi kecepak-kecepok, nampaknya penis Pak Fikri sedang mengocok liang vagina Bu Fikri.

Aduuh, darahku naik ke kepala, penisku sudah berdiri keras seperti kayu. Aku betul-betul iri membayangkan Pak Fikri menggumuli istrinya. filmbokepjepang.sex Alangkah nikmatnya menyetubuhi Bu Fikri yang cantik dan bahenol itu.

Cerita Seks dengan Istri Tettangga yang Gacor di Ranjang


“Oohh, sshh buuu, aku mau keluar, sshh…. ssshh..” terdengar suara Pak Fikri tersengal-sengal. Suara kecepak-kecepok makin cepat, dan kemudian berhenti. Nampaknya Pak Fikri sudah ejakulasi dan pasti penisnya dibenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Fikri. Selesailah sudah persetubuhan itu, aku pelan-pelan meninggalkan tempat itu dengan kepala berdenyut-denyut dan penis yang kemeng karena tegang dari Fikri.

Sejak malam itu, aku jadi sering mengendap-endap mengintip kegiatan suami-istri itu di tempat tidurnya. Walaupun nako tidak terbuka lagi, namun suaranya masih jelas terdengar dari sela-sela kaca nako yang tidak rapat benar. Aku jadi seperti detektip partikelir yang mengamati kegiatan mereka di sore hari. Biasanya pukul 21.00 mereka masih melihat siaran TV, dan sesudah itu mereka mematikan lampu dan masuk ke kamar tidurnya. Aku mulai melihat situasi apakah aman untuk mengintip mereka.

Apabila aman, aku akan mendekati kamar mereka. Kadang-kadang mereka hanya bercakap-cakap sebentar, terdengar bunyi gemerisik (barangkali memasang selimut), lalu sepi. Pasti mereka terus tidur. Tetapi apabila mereka masuk kamar, bercakap-cakap, terdengar ketawa-ketawa kecil mereka, jeritan lirih Bu Fikri yang kegelian (barangkali dia digelitik, dicubit atau diremas buah dadanya oleh Pak Fikri), dapat dipastikan akan diteruskan dengan persetubuhan. Dan aku pasti mendengarkan sampai selesai. Rasanya seperti kecanduan dengan suara-suara Pak Fikri dan khususnya suara Bu Fikri yang keenakan disetubuhi suaminya.

Hari-hari selanjutnya berjalan seperti biasa. Apabila aku bertemu Bu Fikri juga biasa-biasa saja, namun tidak dapat dipungkiri, aku jadi jatuh cinta sama istri Pak Fikri itu. Orangnya memang cantik, dan badannya padat berisi sesuai dengan seleraku. Khususnya pantat dan buah dadanya yang besar dan bagus. Aku menyadari bahwa hal itu tidak akan mungkin, karena Bu Fikri istri orang. Kalau aku berani menggoda Bu Fikri pasti jadi masalah besar di kampungku. Bisa-bisa aku dipukuli atau diusir dari kampungku. artikelbokep.com Tetapi nasib orang tidak ada yang tahu. Ternyata aku akhirnya dapat menikmati keindahan tubuh Bu Fikri.

Pada suatu hari aku mendengar Pak Fikri opname di rumah sakit, katanya operasi usus buntu. Sebagai tetangga dan masih bujangan aku banyak waktu untuk menengoknya di rumah sakit. Dan yang penting aku mencoba membangun hubungan yang lebih akrab dengan Bu Fikri. Pada suatu sore, aku menengok di rumah sakit bersamaan dengan adiknya Pak Fikri. Sore itu, mereka sepakat Bu Fikri akan digantikan adiknya menunggu di rumah sakit, karena Bu Fikri sudah beberapa hari tidak pulang. Aku menawarkan diri untuk pulang bersamaku. Mereka setuju saja dan malah berterima kasih. Terus terang kami sudah menjalin hubungan lebih akrab dengan keluarga itu.

Sehabis mahgrib aku bersama Bu Fikri pulang. Dalam mobilku kami mulai mengobrol, mengenai sakitnya Pak Fikri. Katanya seminggu lagi sudah boleh pulang. Aku mulai mencoba untuk berbicara lebih dekat lagi, atau katakanlah lebih kurang ajar. Inikan kesempatan bagus sekali untuk mendekatai Bu Fikri.


“Bu, maaf yaa. ngomong-ngomong Bu Fikri sudah berkeluarga sekitar 3 tahun kok belum diberi momongan yaa”, kataku hati-hati.

“Ya, itulah Dik Dodi. Kami kan hanya lakoni. Barangkali Tuhan belum mengizinkan”, jawab Bu Fikri.

“Tapi anu tho bu… anuu.. bikinnya khan jalan terus.” godaku.

“Ooh apa, ooh. kalau itu sih iiiya Dik Dodi” jawab Bu Fikri agak kikuk. Sebenarnya kan aku tahu, mereka setiap minggunya minmal 2 kali bersetubuh dan terbayang kembali desahan Bu Fikri yang keenakan. Darahku semakin berdesir-desir. Aku semakin nekad saja.

“Tapi, kok belum berhasil juga yaa bu?” lanjutku.

“Ya, itulah, kami berusaha terus. Tapi ngomong-ngomong kapan Dik Dodi kimpoi. Sudah kerja, sudah punya mobil, cakep lagi. Cepetan dong. filmbokepjepang.sex Nanti keburu tua lhoo”, kata Bu Fikri.

“Eeh, benar nih Bu Fikri. Aku cakep niih. Ah kebetulan, tolong carikan aku Bu. Tolong carikan yang kayak Ibu Fikri ini lhoo”, kataku menggodanya.

“Lho, kok hanya kayak saya. Yang lain yang lebih cakep kan banyak. Saya khan sudah tua, jelek lagi”, katanya sambil ketawa.

Aku harus dapat memanfaatkan situasi. Harus, Bu Fikri harus aku dapatkan.

“Eeh, Bu Fikri. Kita kan nggak usah buru-buru nih. Di rumah Bu Fikri juga kosong. Kita cari makan dulu yaa. Mauu yaa bu, mau yaa”, ajakku dengan penuh kekhawatiran jangan-jangan dia menolak.

“Tapi nanti kemaleman lo Dik”, jawabnya.

“Aah, baru jam tujuh. Mau ya Buu”, aku sedikit memaksa.

“Yaa gimana yaa… ya deh terserah Dik Dodi. Tapi nggak malam-malam lho.” Bu Fikri setuju. Batinku bersorak.


Kami berehenti di warung bakmi yang terkenal. Sambil makan kami terus mengobrol. Jeratku semakin aku persempit.

“Eeh, aku benar-benar tolong dicarikan istri yang kayak Bu Fikri dong Bu. benar nih. Soalnya begini bu, tapii eeh nanti Bu Fikri marah sama saya. Nggak usaah aku katakan saja deh”, kubuat Bu Fikri penasaran.

“Emangnya kenapa siih.” Bu Fikri memandangku penuh tanda tanya.

“Tapi janji nggak marah lho.” kataku memancing. Dia mengangguk kecil.

“Anu bu… tapi janji tidak marah lho yaa.”

“Bu Fikri terus terang aku terobsesi punya istri seperti Bu Fikri. Aku benar-benar bingung dan seperti orang gila kalau memikirkan Bu Fikri. Aku menyadari ini nggak betul. Bu Fikri kan istri tetanggaku yang harus aku hormati. Aduuh, maaf, maaf sekali bu. aku sudah kurang ajar sekali”, kataku menghiba. Bu Fikri melongo, memandangiku. sendoknya tidak terasa jatuh di piring.

Bunyinya mengagetkan dia, dia tersipu-sipu, tidak berani memandangiku lagi.

Sampai selesai kami jadi berdiam-diaman. putri77.org Kami berangkat pulang. Dalam mobil aku berpikir, ini sudah telanjur basah. Katanya laki-laki harus nekad untuk menaklukkan wanita. Nekad kupegang tangannya dengan tangan kiriku, sementara tangan kananku memegang setir. Di luar dugaanku, Bu Fikri balas meremas tanganku. Batinku bersorak. Aku tersenyum penuh kemenangan. Tidak ada kata-kata, batin kami, perasaan kami telah bertaut. Pikiranku melambung, melayang-layang. Mendadak ada sepeda motor menyalib mobilku. Aku kaget.

“Awaas! hati-hati!” Bu Fikri menjerit kaget.

“Aduh nyalib kok nekad amat siih”, gerutuku.

“Makanya kalau nyetir jangan macam-macam”, kata Bu Fikri. Kami tertawa. Kami tidak membisu lagi, kami ngomong, ngomong apa saja. Kebekuan cair sudah. Sampai di rumah aku hanya sampai pintu masuk, aku lalu pamit pulang.

Di rumah aku mencoba untuk tidur. Tidak bisa. Nonton siaran TV, tidak nyaman juga. Aku terus membayangkan Bu Fikri yang sekarang sendirian, hanya ditemani pembantunya yang tua di kamar belakang. Ada dorongan sangat kuat untuk mendatangi rumah Bu Fikri. Berani nggaak, berani nggak. Mengapa nggak berani. Entah setan mana yang mendorongku, tahu-tahu aku sudah keluar rumah. Aku mendatangi kamar Bu Fikri.

Dengan berdebar-debar, aku ketok pelan-pelan kaca nakonya, “Buu Fikri, aku Dodi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik tempat tidur, lalu sepi. Mungkin Bu Fikri bangun dan takut. Bisa juga mengira aku maling. “Aku Dodi”, kataku lirih. Terdengar gemerisik. Kain korden terbuka sedikit. Nako terbuka sedikit. “Lewat belakang!” kata Bu Fikri. Aku menuju ke belakang ke pintu dapur. Pintu terbuka, aku masuk, pintu tertutup kembali. Aku nggak tahan lagi, Bu Fikri aku peluk erat-erat, kuciumi pipinya, hidungnya, bibirnya dengan lembut dan mesra, penuh kerinduan. Bu Fikri membalas memelukku, wajahnya disusupkan ke dadaku.


“Aku nggak bisa tidur”, bisikku.

“Aku juga”, katanya sambil memelukku erat-erat.

Dia melepaskan pelukannya. Aku dibimbingnya masuk ke kamar tidurnya. Kami berpelukan lagi, berciuman lagi dengan lebih bernafsu. “Buu, aku kangen bangeeet. Aku kangen”, bisikku sambil terus menciumi dan membelai punggungnya. Nafsu kami semakin menggelora.

Aku ditariknya ke tempat tidur. Bu Fikri membaringkan dirinya. Tanganku menyusup ke buah dadanya yang besar dan empuk, aduuh nikmat sekali, kuelus buah dadanya dengan lembut, kuremas pelan-pelan. Bu Fikri menyingkapkan dasternya ke atas, dia tidak memakai BH. Aduh buah dadanya kelihatan putih dan menggung.

Aku nggak tahan lagi, kuciumi, kukulum pentilnya, kubenamkan wajahku di kedua buah dadanya, sampai aku nggak bisa bernapas. Sementara tanganku merogoh kemaluannya yang berbulu tebal. Celana dalamnya kupelorotkan, dan Bu Fikri meneruskan ke bawah sampai terlepas dari kakinya.

Dengan sigap aku melepaskan sarung dan celana dalamku. Penisku langsung tegang tegak menantang. Bu Fikri segera menggenggamnya dan dikocok-kocok pelan dari ujung penisku ke pangkal pahaku. Aduuh, rasanya geli dan nikmat sekali.

Aku sudah nggak sabar lagi. Aku naiki tubuh Bu Fikri, bertelekan pada sikut dan dengkulku.

Kaki Bu Fikri dikangkangkannya lebar-lebar, penisku dibimbingnya masuk ke liang vaginanya yang sudah basah. Digesek-gesekannya di bibir kemaluannya, makin lama semakin basah, kepala penisku masuk, semakin dalam, semakin… dan akhirnya blees, masuk semuanya ke dalam kemaluan Bu Fikri. Aku turun-naik pelan-pelan dengan teratur.

Aduuh, nikmat sekali. Penisku dijepit kemaluan Bu Fikri yang sempit dan licin. filmbokepjepang.sex Makin cepat kucoblos, keluar-masuk, turun-naik dengan penuh nafsu. “Aduuh, Dik Dodi, Dik Dodii… enaak sekali, yang cepaat.. teruus”, bisik Bu Fikri sambil mendesis-desis. Kupercepat lagi. Suaranya vagina Bu Fikri kecepak-kecepok, menambah semangatku.

“Dik Dodiii aku mau muncaak… muncaak, teruus… teruus”, Aku juga sudah mau keluar. Aku percepat, dan penisku merasa akan keluar. Kubenamkan dalam-dalam ke dalam vagina Bu Fikri sampai amblaas.

Pangkal penisku berdenyut-denyut, spermaku muncrat-muncrat di dalam vagina Bu Fikri. Kami berangkulan kuat-kuat, napas kami berhenti. Saking nikmatnya dalam beberapa detik nyawaku melayang entah kemana. Selesailah sudah. Kerinduanku tercurah sudah, aku merasa lemas sekali tetapi puas sekali. Kucabut penisku, dan berbaring di sisinya. Kami berpelukan, mengatur napas kami. Tiada kata-kata yang terucapkan, ciuman dan belaian kami yang berbicara.

“Dik Dodi, aku curiga, salah satu dari kami mandul. Kalau aku subur, aku harap aku bisa hamil dari spermamu. Nanti kalau jadi aku kasih tahu. Yang tahu bapaknya anakku kan hanya aku sendiri kan. Dengan siapa aku membuat anak”, katanya sambil mencubitku. Malam itu pertama kali aku menyetubuhi Bu Fikri tetanggaku. Beberapa kali kami berhubungan sampai aku kimpoi dengan wanita lain. Bu Fikri walaupun cemburu tapi dapat memakluminya.

Keluarga Pak Fikri sampai saat ini hanya mempunyai satu anak perempuan yang cantik. Apabila di kedepankan, Bu Fikri sering menciumi anak itu, sementara matanya melirikku dan tersenyum-senyum manis. Tetanggaku pada meledek Bu Fikri, mungkin waktu hamil Bu Fikri benci sekali sama aku. Karena anaknya yang cantik itu mempunyai mata, pipi, hidung, dan bibir yang persis seperti mata, pipi, hidung, dan bibirku.



Seperti telah anda ketahui hubunganku dengan Bu Fikri istri tetanggaku yang cantik itu tetap berlanjut sampai kini, walaupun aku telah berumah tangga. Namun dalam perkimpoianku yang sudah berjalan dua tahun lebih, kami belum dikaruniai anak. Istriku tidak hamil-hamil juga walaupun penisku kutojoskan ke vagina istriku siang malam dengan penuh semangat.

Kebetulan istriku juga mempunyai nafsu seks yang besar. Baru disentuh saja nafsunya sudah naik. Biasanya dia lalu melorotkan celana dalamnya, menyingkap pakaian serta mengangkangkan pahanya agar vaginanya yang tebal bulunya itu segera digarap. Di mana saja, di kursi tamu, di dapur, di kamar mandi, apalagi di tempat tidur, kalau sudah nafsu, ya aku masukkan saja penisku ke vaginanya.

Istriku juga dengan penuh gairah menerima coblosanku. Aku sendiri terus terang setiap saat melihat istriku selalu nafsu saja deh. Memang istriku benar-benar membuat hidupku penuh semangat dan gairah.

Tetapi karena istriku tidak hamil-hamil juga aku jadi agak kawatir. Kalau mandul, jelas aku tidak. Karena sudah terbukti Bu Fikri hamil, dan anakku yang cantik itu sekarang menjadi anak kesayangan keluarga Pak Fikri.

Apakah istriku yang mandul? Kalau melihat fisik serta haidnya yang teratur, aku yakin istriku subur juga. Apakah aku kena hukuman karena aku selingkuh dengan Bu Fikri? aah, mosok. Nggak mungkin itu. Apakah karena dosa? Waah, mestinya ya memang dosa besar. Tapi karena menyetubuhi Bu Fikri itu enak dan nikmat, apalagi dia juga senang, maka hubungan gelap itu perlu diteruskan, dipelihara, dan dilestarikan.

Untuk mengatur perselingkuhanku dengan Bu Fikri, kami sepakat dengan membuat kode khusus yang hanya diketahui kami berdua. Apabila Pak Fikri tidak ada di rumah dan benar-benar aman, Bu Fikri memadamkan lampu di sumur belakang rumahnya. Biasanya lampu 5 watt itu menyala sepanjang malam, namun kalau pada pukul 20.00 lampu itu padam, berarti keadaan aman dan aku dapat mengunjungi Bu Fikri. (Anda dapat meniru caraku yang sederhana ini. Gratis tanpa bayar pulsa telepon yang makin mahal).

Karena dari samping rumahku dapat terlihat belakang rumah Bu Fikri, dengan mudah aku dapat menangkap tanda tersebut. Tetapi pernah tanda itu tidak ada sampai 1 atau 2 bulan, bahkan 3 bulan. Aku kadang-kadang jadi agak jengkel dan frustasi (karena kangen) dan aku mengira juga Bu Fikri sudah bosan denganku. Tetapi ternyata memang kesempatan itu benar-benar tidak ada, sehingga tidak aman untuk bertemu.

Pada suatu hari aku berpapasan dengan Bu Fikri di jalan dan seperti biasanya kami saling menyapa baik-baik. Sebelum melanjutkan perjalanannya, dia berkata, “Dik Dodi, besok malam minggu ada keperluan nggak?”

“Kayaknya sih nggak ada acara kemana-mana. Emangnya ada apa?” jawabku dengan penuh harapan karena sudah hampir satu bulan kami tidak bermesraan.

“Nanti ke rumah yaa!” katanya dengan tersenyum malu-malu.

“Emangnya Pak Fikri nggak ada?” kataku. Dia tidak menjawab, cuma tersenyum manis dan pergi meneruskan perjalanannya. Walaupun sudah biasa, darahku pun berdesir juga membayangkan pertemuanku malam minggu nanti.


Seperti biasa malam minggu adalah giliran ronda malamku. Istriku sudah tahu itu, sehingga tidak menaruh curiga atau bertanya apa-apa kalau pergi keluar malam itu. Aku sudah bersiap untuk menemui Bu Fikri. Aku hanya memakai sarung, (tidak memakai celana dalam) dan kaos lengan panjang biar agak hangat.

Dan memang kalau tidur aku tidak pernah pakai celana dalam tetapi hanya memakai sarung saja. Rasanya lebih rileks dan tidak sumpek, serta penisnya biar mendapat udara yang cukup setelah seharian dipepes dalam celana dalam yang ketat.

Waktu menunjukkan pukul 22.00. Lampu belakang rumah Bu Fikri sudah padam dari Fikri. Aku berjalan memutar dulu untuk melihat situasi apakah sudah benar-benar sepi dan aman. Setelah yakin aman, aku menuju ke samping rumah Bu Fikri.

Aku ketok kaca nako kamarnya. filmbokepjepang.sex Tanpa menunggu jawaban, aku langsung menuju ke pintu belakang. Tidak berapa lama terdengar kunci dibuka. Pelan pintu terbuka dan aku masuk ke dalam. Pintu ditutup kembali. Aku berjalan beriringan mengikuti Bu Fikri masuk ke kamar tidurnya.

Setelah pintu ditutup kembali, kami langsung berpelukan dan berciuman untuk menyalurkan kerinduan kami. Kami sangat menikmati kemesraan itu, karena memang sudah hampir satu bulan kami tidak mempunyai kesempatan untuk melakukannya. Setelah itu, Bu Fikri mendorongku, tangannya di pinggangku, dan tanganku berada di pundaknya. Kami berpandangan mesra, Bu Fikri tersenyum manis dan memelukku kembali erat-erat. Kepalanya disandarkan di dadaku.

“Paa, sudah lama kita nggak begini”, katanya lirih. Bu Fikri sekarang kalau sedang bermesraan atau bersetubuh memanggilku Papa. Demikian juga aku selalu membisikkan dan menyebutnya Mama kepadanya. Nampaknya Bu Fikri menghayati betul bahwa Ani, anaknya yang cantik itu bikinan kami berdua.

“Pak Fikri sedang kemana sih maa”, tanyaku.

“Sedang mengikuti piknik karyawan ke Pangandaran. Aku sengaja nggak ikut dan hanya Ani saja yang ikut. Tenang saja, pulangnya baru besok sore”, katanya sambil terus mendekapku.

“Maa, aku mau ngomong nih”, kataku sambil duduk bersanding di tempat tidur. Bu Fikri diam saja dan memandangku penuh tanda tanya.

“Maa, sudah dua tahun lebih aku berumah tangga, tetapi istriku belum hamil-hamil juga. Kamu tahu, mustinya secara fisik, kami tidak ada masalah. Aku jelas bisa bikin anak, buktinya sudah ada kan. Aku nggak tahu kenapa kok belum jadi juga. Padahal bikinnya tidak pernah berhenti, siang malam”, kataku agak melucu. Bu Fikri memandangku.

“Pa, aku harus berbuat apa untuk membantumu. Kalau aku hamil lagi, aku yakin suamiku tidak akan mengijinkan adiknya Ani kamu minta menjadi anak angkatmu. Toh anak kami kan baru dua orang nantinya, dan pasti suamiku akan sayang sekali. Untukku sih memang seharusnya bapaknya sendiri yang mengurusnya. Tidak seperti sekarang, keenakan dia. Cuma bikin doang, giliran sudah jadi bocah orang lain dong yang ngurus”, katanya sambil merenggut manja. Aku tersenyum kecut.

“Jangan-jangan ini hukuman buatku ya maa, Aku dihukum tidak punya anak sendiri. Biar tahu rasa”, kataku.

“Ya sabar dulu deh paa, mungkin belum pas saja. Spermamu belum pas ketemu sama telornya Rini (nama istriku). Siapa tahu bulan depan berhasil”, katanya menghiburku.


“Ya mudah-mudahan. Tolong didoain yaa…”

“Enak saja. Didoain? Mustinya aku kan nggak rela Papa menyetubuhi Rini istrimu itu. Mustinya

Papa kan punyaku sendiri, aku monopoli. Nggak boleh punya Papa masuk ke perempuan lain kan. Kok malah minta didoain. Gimana siih”, katanya manja dan sambil memelukku erat-erat. Benar juga, mestinya kami ini jadi suami-istri, dan Ani itu anak kami.

“Maa, kalau kita ngomong-ngomong seperti ini, jadinya nafsunya malah jadi menurun lho. Jangan-jangan nggak jadi main nih”, kataku menggoda.

“Iiih, dasar”, katanya sambil mencubit pahaku kuat-kuat.

“Makanya jangan ngomong saja. Segera saja Mama ini diperlakukan sebagaimana mestinya. Segera digarap doong!” katanya manja.

Kami berpelukan dan berciuman lagi. Tentu saja kami tidak puas hanya berciuman dan berpelukan saja. Kutidurkan dia di tempat tidur, kutelentangkan. Bu Fikri mandah saja. Pasrah saja mau diapain. Dia memakai daster dengan kancing yang berderet dari atas ke bawah. Kubuka kancing dasternya satu per satu mulai dari dada terus ke bawah. Kusibakkan ke kanan dan ke kiri bajunya yang sudah lepas kancingnya itu. Menyembullah buah dadanya yang putih menggunung (dia sudah tidak pakai BH).

Celana dalam warna putih yang menutupi vaginanya yang nyempluk itu aku pelorotkan. Aku benar-benar menikmati keindahan tubuh istri gelapku ini. Saat satu kakinya ditekuk untuk melepaskan celana dalamnya, gerakan kakinya yang indah, vaginanya yang agak terbuka, aduh pemandangan itu sungguh indah. Benar-benar membuatku menelan ludah. Wajah yang ayu,buah dada yang putih menggunung, perut yang langsing, vagina yang nyempluk dan agak terbuka, kaki yang indah agak mengangkang, sungguh mempesona. Aku tidak tahan lagi. Aku lempar sarungku dan kaosku entah jatuh dimana. Aku segera naik di atas tubuh Bu Fikri. Kugumuli dia dengan penuh nafsu. Aku tidak peduli Bu Fikri megap-megap keberatan aku tindih sepenuhnya. Habis gemes banget, nafsu banget sih.

“Uugh jangan nekad tho. Berat nih”, keluh Bu Fikri.

Aku bertelekan pada telapak tanganku dan dengkulku. Penisku yang sudah tegang banget aku paskan ke vaginanya. Terampil tangan Bu Fikri memegangnya dan dituntunnya ke lubang vaginanya yang sudah basah. Tidak ada kesulitan lagi, masuklah semuanya ke dalam vaginanya. Dengan penuh semangat kukocok vagina Bu Fikri dengan penisku. Bu Fikri semakin naik, menggeliat dan merangkulku, melenguh dan merintih. Semakin lama semakin cepat, semakin naik, naik, naik ke puncak.

“Teruuus, teruus paa.. sshh… ssh…” bisik Bu Fikri


“Maa, aku juga sudah mau… keluaarr”,

“Yang dalam paa… yang dalamm. Keluarin di dalaam Paa… Paa… Adduuh Paa nikmat banget Paa…, ouuch..”, jeritnya lirih yang merangkulku kuat-kuat. Kutekan dalam-dalam penisku ke vaginanyanya. Croot, cruuut, crruut, keluarlah spermaku di dalam rahim istri gelapku ini. Napasku seperti terputus. Kenikmatan luar biasa menjalar kesuluruh tubuhku. Bu Fikri menggigit pundakku.

Dia juga sudah mencapai puncak. Beberapa detik dia aku tindih dan dia merangkul kuat-kuat. Akhirnya rangkulannya terlepas. Kuangkat tubuhku. Penisku masih di dalam, aku gerakkan pelan-pelan, aduh geli dan ngilu sekali sampai tulang sumsum. Vaginanya licin sekali penuh spermaku. Kucabut penisku dan aku terguling di samping Bu Fikri. Bu Fikri miring menghadapku dan tangannya diletakkan di atas perutku. Dia berbisik,

“Paa, Ani sudah cukup besar untuk punya adik. Mudah-mudahan kali ini langsung jadi ya paa. Aku ingin dia seorang laki-laki. Sebelum Papa Fikri mengeluh Rini belum hamil, aku memang sudah berniat untuk membuatkan Ani seorang adik. Sekalian untuk test apakah Papa masih joos apa tidak. Kalau aku hamil lagi berarti Papa masih joosss. Kalau nanti pengin menggendong anak, ya gendong saja Ani sama adiknya yang baru saja dibuat ini.”
Dia tersenyum manis. Aku diam saja. menerawang jauh, alangkah nikmatnya bisa menggendong anak-anakku.

Wednesday, October 29, 2025

Cerita Seks Ngewe dengan Asisten Dokter Gigi yang Super Hot

Cerita Seks – Aku, Asep Riyanto(nama samaran), dipanggil singkat Asep. Setelah kerja 2 tahun lebih, aku dipindahtugaskan ke kota B ini, tidak seramai kota besar asalku, tapi cukup nyaman. Aku dipinjamkan rumah kakak perempuanku yg bertugas mendampingi suaminya di luar negeri. Sekaligus menjaga dan merawat rumahnya, ditemani seorang mbok setengah tua yg menginap, dan tukang kebun harian yang pulang tengah hari.

Dua bulan sudah aku tinggal di rumah ini, biasa-biasa saja. Oya, rumah ini berlantai dua dengan kamar tidur semuanya ada lima, tiga di lantai bawah dan dua di lantai atas. Lantai atas untuk keluarga kakakku, jadi aku menempati lantai bawah. Di samping kamar tidurku ada ruang kerja. Aku biasa kerja disitu dengan seperangkat komputer, internet dan lain-lain.

Suatu ketika, aku kedatangan seorang dokter gigi, drg Triono, ditemani asistennya, Siti. Mereka mau mengkontrak satu kamar dan garasi untuk prakteknya. Untuk itu perlu direnovasi dulu. Aku menghubungi kakakku melalui sarana komunikasi yang ada, minta persetujuan. Dia membolehkan setelah tanya-tanya ini itu. Maka mulailah pekerjaan renovasi dan akan selesai 20 hari lagi.

Sementara itu, drg Triono menugaskan Siti untuk tinggal di kamar tidur yg dikontrak juga, disamping garasi yg hampir siap disulap jadi ruang praktek. Mulailah kisah dua anak manusia berlainan jenis dan tinggal serumah….

Sudah dua minggu Siti tinggal di rumah ini. Dia biasanya membawa makan sendiri, seringkali aku ikut makan bersama dia kalau kebetulan masakan mbok dirasa kurang. Siti berlaku biasa saja mulanya, dan aku tidak berani lancang mendekatinya. Siti berperawakan hampir sama tinggi denganku, tidak gemuk tetapi tidak kurus. Selalu berpakaian tertutup sehingga aku tidak berhasil melihat bagian yang ingin kupandang. Wajahnya cukup manis.

Suatu hari, mbok minta ijin pulang kampung setelah bekerja 9 bulan lebih tanpa menengok anak cucunya. Aku mengijinkan mbok pulang. Mbok akan minta tolong pembantu tetangga menyediakan makanan untuk aku selama mbok pulang.

Nah, pagi hari itu aku mengantar mbok ke setasiun bus dengan mobil kantorku, baru pulang untuk mengambil berkas dan berangkat lagi ke kantor. Siti pergi ke klinik dokter gigi Triono dengan motor, biasanya jam setengah delapan pagi sudah kabur dan pulang jam lima atau enam petang, bergantung kepada banyaknya pasien. Untuk praktisnya, masing-masing membawa kunci rumah sendiri.

Sore hari setelah mbok pergi itu suasana rumahku sepi. Aku pulang jam empat sore dan sempat melihat-lihat kebun dan mengambil daun-daun kering lalu membuangnya di tempat sampah. Siti baru sampai di rumah sekitar jam setengah enam, tanpa aku tahu. Dia ternyata ada di jendela memandangku bekerja di kebun. Ketika matahari sudah doyong ke Barat, aku baru melihat ke jendela dan nampak Siti tersenyum di baliknya. Segera aku masuk rumah. “Sudah lama kamu datang, Siti?” Dia mengangguk. “Aku melihat kamu bekerja di kebun, suatu pemandangan indah, laki-laki rajin bekerja keras… Kagum aku dibuatnya.”

Aku tertawa sendiri, lalu masuk kamar untuk mandi. Kamar mandiku ada dalam kamar tidur, jadi aku bebas berjalan telanjang masuk keluar atau dengan melilitkan handuk saja, seperti sore itu. Keluar kamar mandi, aku terkejut, karena Siti ada dalam kamar tidurku. “Aku masuk tanpa permisi, maaf ya, kamu marah?” Aku jawab, “ Ah tidak, masak marah sih, disambut perempuan seksi dan manis…? Aku mau tukar baju, kamu mau tetap di sini atau…?” Siti tersipu. “Oh, mau buka handuk, gitu? Aku tunggu di sofa, mau ada perlu sama kamu.” Siti keluar kamar.

Aku mengenakan kaos oblong dan celana boxerku, lalu menghampiri Siti di sofa, duduk di sebelahnya. Dia menjauh. “Kamu sudah mandi, aku belum… nanti kamu nggak betah di dekatku..” Aku cuma senyum saja. “Ada pelu bicara apa, Siti…?” Dia bimbang sebentar, lalu, “Aku mau numpang mandi di kamar mandimu. Ada shower air hangat kan? Water heater di kamar mandiku rusak, mbok belum sempat panggil tukang…” Sambil senyum, aku jawab, “Tentu, silahkan saja, tapi pintu kamar mandi jangan dikunci, sulit membukanya. Tenang, aku tidak akan mengintip kamu mandi, jangan takut…” Siti tertawa, “Tidak ngintip tapi langsung melihat…? Mana ada laki-laki membuang kesempatan.” Aku malu mendengarnya. “Ah, kamu bisa saja…” itu jawabku sambil memegang bahunya. “Tuh, mulai ya,..?” katanya sambil setengah berlari masuk kamarnya mengambil handuk dan lain-lain.

Dua puluh menit berlalu, Siti sudah kembali duduk disampingku. Bau wangi menyergap hidungku. “Eh, Asep, mau nggak antar aku beli kacang rebus atau goreng di simpang jalan?” Segera aku mengiyakan.

Lima menit kemudian Siti dan aku sudah bergandengan tangan berjalan ke penjual kacang, sekitar 500 meter jauhnya. Sepulangnya, tangan Siti menggandeng lenganku dan aku sempat merasakan buah dada kanannya menyentuh lengan kiriku. Serrr, darahku berdesir, jantungku berdegub kencang. Ibu—ibu di warung dekat situ nyeletuk, “Wah bu dokter sudah punya calon suami… selamat ya?” Siti tertawa kecil. Ibu-ibu itu sudah akrab dengan Siti, mempersilahkan mampir untuk suatu pertanyaan tentang kesehatan giginya. Sempat terdengar Siti melayani salahsatu dari mereka sambil menyoroti mulut si pasien kampung itu dengan batere kecil, lalu menyuruhnya datang ke klinik besok pagi. Semua pertanyaan dijawab dengan ramah. Aku jadi kagum dengan keramahan Siti. Pantes kliniknya ramai setiap hari. Cerita Selingkuh

Pulang rumah, aku dan Siti duduk di seputar meja makan sambil menikmati kacang rebus dan goreng. Sementara itu aku tetap mencuri-curi pandang wajahnya, atau turun ke dadanya. Tetap tidak kelihatan apapun. Siti seorang perempuan yang tetap menjaga kesusilaan, pikirku. Jadi, apakah aku bisa menikmatinya, waduh, mengajaknya tidur bersama, pikiranku melayang ke arah hal-hal yang erotis. Siti menyudahi makan kacang karena kenyang, katanya, lalu bangkit pergi ke tempat sikat gigi (wastafel). Aku merapikan meja makan, lalu menyusul Siti untuk sikat gigi di sampingnya.

Tanganku mulai nakal. Aku nekad menyentuh bokongnya, meremas lalu merangkul pinggangnya. Siti seakan kaget, lalu menepis tanganku sambil sedikit menatapku sementara mulutnya masih penuh busa.

Siti berkata, “Jangan mulai nakal… “ Lalu dia membalas mencubit bokongku dan meninju punggungku. “Nih, rasakan, ya…” Dia mencubit berkali-kali dan meninju juga. Lama-lama aku merasa sakit juga, lalu kutangkap tangannya dan kutarik tubuhnya mendekat, tetapi dia berontak dan lari ke sofa. Selesai sikat gigi, aku duduk disebelahnya. “Kamu masih marah, Siti?” Dia menutup matanya, lalu… menubruk dadaku seraya menangis. Aku heran sekali. “Kamu ini…. Kamu ini… bikin aku gemes! Aku jadi nggak tahan lagi. Dadamu basah ya, dengan air mataku. Buka saja kaosmu…” Aku menurut, dia kembali membenamkan wajahnya di dadaku, lidahnya menjilati putingku. Bibirnya menciumi dadaku ke kiri dan ke kanan samapi ke lipatan ketiakku. Ketika lidahnya mau menjilat ketiakku, segera kurapatkan sehingga dia gagal. Wajahnya nampak kecewa. Berbisik, “Kenapa? Nggak mau ya?” Aku jawab, “Nanti kamu nggak tahan baunya, bau keringat laki-laki. Siti, aku ada permintaan…” Siti menjawab lirih, “Minta apa? “ Kujawab, “Mau nggak kamu tidur di kamarku bersama aku?” Siti diam saja, tidak mau menjawab. Wajahnya sudah ditarik menjauh. Aku takut dia marah. Lalu berbisik, “Kalau aku bilang… tidak mau, kamu marah?” Aku jawab, “Aku tetap membujuk sampai kamu mau. Sinar mata dan wajahmu mengatakan kamu mau…”

Tiba-tiba Siti bangkit dan berjalan ke kamarnya. Di pintu masuk kamar, dia memalingkan wajahnya lalu menggapai aku supaya mendekat. Aku segera bangkit, menuju kamarnya. “Kamu saja yang tidur di sini, mau?” Aku menggelengkan kepala. “Kamar mandi untuk kamu kan ada di kamar tidurku,gampang untuk segala keperluan…” Siti tersenyum mengangguk. “Kalau begitu, kamu tunggu di kamar, ya, nanti aku menyusul kamu.” Jantungku hampir berhenti berdetak mendengarnya. (Siti mau lho, tidur denganku…!)

Segera aku berjalan ke kamarku, lalu merapikan ranjang, meletakkan dua handuk melintang di atasnya. Tak lupa mengoleskan krim tahan lama pada kepala kemaluanku, lalu memakai sarung setelah melepaskan semua pakaian.

Belum satu menit, Siti sudah berdiri di depan pintu kamar. Melihat aku memakai sarung, dia berkata, “Kamu ada sarung lagi? Aku ingin memakai. Rasanya praktis ya?” Aku mengangguk lalu membuka lemari pakaian, mengambil sarung lagi, kuserahkan kepada Siti. Dia membawa sarung itu masuk kamar mandi, melirik manis sambil berkata, “Jangan ikut masuk, ya?” Aku tertawa saja, lalu berbaring bertelanjang dada sampai pinggang. Sarung itu menutup bagian bawah setelah pinggang. Siti keluar kamar mandi dengan sarung menutup bagian dada sampai pinggul. Dia meletakkan pakaiannya, termasuk BH dan celana dalam kuning, di meja. Dia melirik lalu tersenyum, “Lihat BH dan celana dalamku? Nih, biar puas melihatnya.” Dia mendekati aku lalu memamerkan BH dan celana dalamnya ke dekat wajahku. Aku mendekatkan hidungku pada celana dalamnya, tetapi dengan cepat dia menariknya sambil tertawa.

Dua detik kemudian, dia merebahkan diri di sebelahku. Aku melihat wajahnya, berpandang-pandangan selama beberapa puluh detik. Kudekatkan bibirku pada pipi, dahi, lalu… ke bibirnya. Dia melumati bibirku, perlahan mulanya. Lalu perlahan membuka mulutnya, sehingga kini mulutku bisa mengisap mulutnya sambil bergoyang ke kiri ke kanan, lalu lidahku bertemu lidahnya. Siti menghembuskan napasnya seperti tersengal, lalu kembali mengisap mulutku bergantian. Lengannya merangkulku, dan kini, yah, benarlah, dadaku bersentuhan dengan buah dada Siti yang kencang mencuat dan berputing keras. Dalam berahi yang makin membara, aku dan Siti sudah tidak memikirkan apa-apa lagi. Tiga gerakan cukuplah melepas sarung-sarung itu, sehingga tubuh Siti yang telanjang bulat sudah nempel erat dengan tubuhku. Dia mendorongku sehingga telungkup di atas tubuhku yang telentang, sambil terus mengisap dan mengisap dan mengisap mulut seraya bergoyang-goyang ke kiri kanan dan buah dadanya menekan menggeser-geser di dadaku. Aku sudah terbawa ke awan yang tinggi. Lenganku merangkul tubuhnya erat-erat, jembut Siti bergesekan dengan jembutku, aduh bukan main nafsuku berbaur dengan nafsu Siti. Kemaluanku yang sudah keras itu bergesekan dengan bibir kemaluan Siti, pahanya bergerak-gerak sebentar menjepit pahaku sebentar menindih dan entah gerakan apa lagi.

Sebelas menit kemudian Siti melepaskan diri, mengangkat tubuhnya sambil memandangku. “Bagaimana rasanya, enak dan nikmat..?” Aku jawab, “Bukan main… Siti, oh ina, buah dadamu.. padat mencuat, aku nikmati sekali. Kamu merasa nggak… jembut kita beradu? Jembutmu yg lebat, menambah nikmatnya….” Belum sempat kalimatku selesai, Siti sudah menindihku lagi, kali ini dia membuka lengannya sehingga lidahku bisa menjilat ketiaknya yang halus tidak berambut. Kuciumi ketiak Siti beberapa saat, dan tubuhnya menggelinjang. “Ohh, Asep.. Asep… geli sekali rasanya…” Aku pindah ke ketiak yang satu lagi, dan Siti kembali menggelinjang. “Kamu doyan ya, menilat ketiak cewek?” Kujawab, “Ketiakmu harum dan indah bukan main. … Siapa bisa tahan membiarkan tidak dicium?” Kujilati terus kedua ketiaknya, dan Siti mengaduh-aduh penuh nikmat. Didadaku masih terasa buah dadanya menggeser-geser. Pinggulnya bergoyang terus, sampai suatu ketika, dia setengah berteriak, “Asep… aku nggak tahan…. Ayo kamu di atasku…”



Cerita Seks Ngewe dengan Asisten Dokter Gigi yang Super Hot


Aku memutar tubuhku sehingga kini berada di atas tubuh Siti. Kedua lengannya merangkul punggungku, “Duh,.. tubuhmu sungguh kekar… aku sangat menikmati…. Ohh….” Sekarang aku menindih buah dadanya, sambil mulutku mengisap-isap dan isap mulutnya. Lidah Siti masuk ke dalam mulutku dan kuisap, alu giliran lidahku menelusuri mulutnya. Siti mengggelinjang, lalu membuka kedua pahanya. “Masukkan kemaluanmu…. pelan-pelan ya, besar sekali kemaluanmu… ooohhh… sudah… sudah masuk semuanya… oohh nikmatnya… nikmatttt sekali…..” Pinggulnya bergoyang naik turun makin cepat seiring dengan gerakan naik turun pinggulku. Terasa kemaluanku dijepit dan disedot kemaluannya. Aku mengeluh, “Siti, kemaluanmu sempit… duhh nikmatnya dijepit dan… disedot kemaluanmu… ooohhh Siti…” Dia menjawab, “Asep.. jangan keluar dulu ya…. Aku masih ingin lama nih, menikmati … persetubuhan ini..” Lalu menggelinjang hebat ke kiri ke kanan, mulutnya tertutup rapat dalam mulutku dan mengeluarkan suara lenguhan seorang perempuan yang sedang penuh nikmat.

Gerakan tubuhku dan Siti menimbulkan bunyi kecupak-kecupak saat kemaluanku menembus jembut dan kemaluannya yang sudah basah. Aku bertanya, “Siti, boleh kujilat jembutmu,…kemaluanmu….?” Segera dia menggelengkan kepala, meski mulutnya masih dalam mulutku. “Jangan sekarang,… jangan dilepasss… nanti saja… oohh,… nikmatnya…” Aku menggeserkan tubuh Siti kesamping, supayua dia tidak kepayahan menanggung beban tubuhku. Dia berbaring disampingku sambil lidahnya terjulur minta diisap. “Siti,…. Aku minta ludahmu…” Dia menjulurkan lidahnya, kali ini penuh ludahnya. Segera kuisap dan kusedot mulutnya dan kuisap ludahnya semua. Siti menggelinjang. “Kamu di bawah, mau…” Aku menggeser kembali, telentang di bawahnya. Tubuh Siti seluruhnya menindih tubuhku, buah dadanya kembali bergeser-geser. Kemaluanku berhasil masuk dari bawah, dibantu tangan Siti. Siti mengdesah, “Ooohh… aduhhh… nikmatnya, aduuhh… kemaluanmu memenuhi…. Kemaluanku penuh kemaluanmu, ohhh… terus, Asep, terus genjot dari bawah…. Oohh…. Ohhh, nikmat sekali, …. “Gerakan tubuh Siti dan aku makin cepat sampai, “ Aku tidak…. Tidak tahan lagi…. Mau keluar…. Oohhh… keluar… Asep…! Aku sudah keluar…. teruskan, teruskan…. Masih nikmat…. Mau lagi.. Asep…. Kemaluanmu… nikmat sekali….. adu jembut, nambah nikmat…. Aku mau keluar lagiiiii…! Asep, aku … nggak tahan, …keluar lagi, sudah dua kali… sekarang kamu dong, semprotkan manimu… ooohhh… ohh… terus Asep, kamu harus puasss…” Aku bergerak terus, tetapi pengaruh krim tahan lama membuatku tidak gampang keluar.

Aku berbisik, sambil lidahku menjilati lehernya, “Siti, masih nikmat… atau mau ke kamar mandi dulu, lalu berbaring sambil istirahat 30 menit dan ….. mulai babak kedua…?” Siti berbisik mesra. “Aku mau, Asep, berkali-kali semalam suntuk bersetubuh dengan kamu…. Sekarang ke kamar mandi dulu… “ Dia beringsut mau turun ranjang, tangannya menggapai tissue lalu mengelap kemaluannya. Llau berjalan beringsut sambil terus memegang tissue di kemaluannya. Aku menyusul dia. Kemaluanku basah dengan air mani Siti, tetapi tidak sampai mengucur.

Di kamar mandi, Siti berbisik, “Asep, kamu… hebat… sebagai laki-laki, bisa memuaskan aku berkali-kali.” Aku menjawab, “Baru dua kali, Siti… “ Dia tersenyum, berbisik, “Semalam suntuk bisa berapa kali, ya? Aku kepningin terus, berahiku tidak…. tidak terbendung, sudah ditahan berhari-hari. Untung mbok pergi ya, jadi kita bebas ….” Aku menunduk, lalu kuserbu kemaluannya, kuciumi jembutnya, kujilati kemaluannya sampai dia kembali mengeluh nikmat. “Duhh, Asep, … kamu merangsang lagi… ooh… ohh, aku terangsang… ayo balik ranjang… tapi, aku mau mengisap kemaluanmu dulu… waduh, sudah tegang lagi…” Mulutnya mengulum, mengisap kemaluanku beberapa menit. “Sitiaa…. Sudah, sudah, nanti aku crot dalam mulutmu, saying sekali. Lebih nikmat crot di dalam kemaluanmu…” Siti tertawa, “Nggak kuat ya? Pakai krim lagi? Biar kuat berjam-jam?” Aku mengangguk lalu memeluk tubuh Siti, buah dadanya kembali nempel dipinggangku. “Siti,… merasakan buah dadamu, sungguh nikmat…”

Sampai di ranjang, kembali dia menindihku. “Kamu di bawahku dulu ya… Eh, belum pakai krim?” Aku beringsut ke meja lalu mengoleskan krim di kepala kemaluanku. “Nih, sudah pakai krim. Tidak takut crot dulu, sejam lagi rasanya.” Kembali tubuhku ditindih Siti, mulutnya kembali menyeruput mulutku, buah dadanya bergerak ke kiri kanan di dadaku, aduh nikmat sekali. “Kamu nafsu lagi, Siti?” Dia mengangguk, “Ya, kali ini sampai sejam baru aku keluar…. Ketiga keempat, kelima….”

Aku menikmati posisi begini (sebutannya Woman on top missionary sex) selama sekitar 25 menit, terus menerus menyeruput mulut Siti, menelan ludahnya, merangkul erat tubuhnya, mencengkeram bokongnya yang aduhai, dan seterusnya. Siti juga menikmati perannya, memandang wajahku dengan sayu, menjulurkan lidahnya, masuk ke mulutku seraya menelusuri seluruh rongga mulutku, mengisap, mengisap, menyedot, menyedot, terus menerus. Pinggulnya bergerak ke kiri ke kanan, maka terasalah jembutnya bergesekan dengan jembutku, pahanya kadang-kadang menuruni pahaku supaya kemaluanku bisa menggeser-geser kemaluannya yang sudah basah itu.

Setelah sekitar 25 menit itu, Siti melenguh dan mendorongku supaya bergeser ke samping, lalu berbisik, “Kamu naik ke atas ya… aku sudah nggak tahan, ingin dimasuki kemaluanmu…. Yang lama dan dalam,… jangan cepat-cepat, …. putar pinggulmu, nah gitu….ooh… nikmatnya, Asep, terus… nikmatttt sekali…. Mauku sih yang lama,…. terus, … sekarang kemaluanmu… benamkan ke dalam kemaluanku, terus….. yang dalam… ohh, ohh, mmm… mmm…” Mulutnya kusedot sedot terus, dan dia membalas sedotanku, jadi cuma bisa mengeluarkan suara … mmm…. mmmm…. ahh… ahhh.. Sementara dadaku menindih buah dadanya, sungguh nikmat sekali. Buah dada yang mencuat dan kencang. Tiap lelaki pasti akan menikmatinya dalam posisiku ini. Aku sendiri mendesah kencang sambil menggerakkan pinggulku, naik turun dan putar-putar. “Tin… ooohh… jembut…. jembut kita…. beradu… nikmat sekali ya…?” Siti mendesah dalam mulutku, mmm… lalu menjawab, “Betul… jembut ketemu jembut…. dadamu menindih buah dadaku… nikmat sekali, Asepppp… aku nggak tahan lagi… aku mau keluar lagi … Asepppp…. aku … keluar… crot crot…. Oohhh… nikmatnya….” Lengannya melingkari tubuhku dengan kencang. “Asep,… tubuhmu… enak sekali kurangkul… kekar, … begitu jantan… nikmat sekali.. jangan lepas dulu ya…. teruskan, Asepppp… aku masih bisa lagi, … “ Aku gerakkan pinggulku naik turun terus, kurasakan batang kemaluanku disedot dan dijepit kemaluan Siti… Kemaluannya berkedut-kedut… Untung aku pakai krim tahan lama. Siapa sih bisa tahan kemaluannya dijepit dan disedot begitu. Sekitar 12 menit, Siti kembali mengeluh panjang dalam mulutku, lalu pinggulnya mengejang keras dan… terasa lagi cairan hangat membasahi kemaluanku di dalam kemaluan Siti. Dia terengah-engah, sambil mengisap mulutku dia berbisik, “Asep… aku sudah keluar… empat kali ya?” Aku menjawab, “Ya, baru empat kali. Masih mau empat kali lagi sampai pagi?”

Siti berbisik, “Istirahat dulu yuk, setelah bersih-bersih di kamar mandi. Kamu hebat sekali, ya, belum keluar juga air manimu. Nanti aku mau mengisapnya ya, sisa-sisa air manimu, dalam mulutku, kalau sudah keluar dalam kemaluanku….” Dia menuntunku jalan ke kamar mandi sambil menempelkan buah dadanya di sampingku… Perasaanku sudah tidak karuan, lelaki menghadapi perempuan yang nafsunya besar dan tidak dapat dibendung lagi. Di kamar mandi, Siti mendekatkan wajahnya ke wajahku sambil menjilati pipi dan leherku. “Asep…. kamu jantan tulen… aku ingin terus dipeluk dan diapakan saja sampai pagi… “ Lalu menyabuni kemaluannya dan mengusap kemaluanku, dan menyirami lalu mengelap dengan handuk. Siti berbisik, “Mau kuisap… kemaluanmu?” Aku menolak, takut ngecrot di kamar mandi, lalu kepeluk dia menuju ranjang lagi.

Kembali dia telungkup di atas tuuhku, lalu berbisik, “Mau main 69?” Aku mau, lalu dia menggeserkan tubuhnya, berbalik arah. Buah dadanya menggeser di dada dan perutku. Mulutku sekarang persis berhadapan dengan jembut dan kemaluannya, yang segera kujilat. Begitu juga dia, mulutnya menelusuri biji kemaluanku, lalu batangnya, dan menjilati kepalanya sebelum mengulum dengan penuh gairah. Dia mendesah ketika merasakan jembutnya kuciumi dan bibir kemaluan yang berwarna merah itu kujilati dengan sama gairahnya. Posisi ini berlangsung selama sekitar 10 menit, ketika aku merasakan puncak kenikmatanku nyaris sampai, lalu kuminta dia balik arah lagi. Kembali mulutku mengisap mulutnya, berbau jembut dan terasa agak asin. Dengan gairah penuh dia mengisap mulutku, menjulurkan lidahnya masuk keluar untuk beradu dengan lidahku. Buah dadanya bergerak kiri kanan di dadaku, nikmat sekali rasanya. Aku berjanji pada diriku sendiri tidak akan main dengan boneka seks lagi. Kalah nikmat dibandingkan tubuh Siti. Lenganku melingkari punggung Siti, bokongnya kucengkeram dan kuelus. Siti mengerang, “Aku nafsu lagi, Asep…. kamu begitu pinter… membangkitkan berahiku…”

Dia mendorongku ke samping lalu menarik tubuhku sampai menindih tubuhnya. Kembali kutindih buah dadanya, begitu nikmat. Mulutku mengisap mulutnya, dan kemaluanku masuk ke dalam kemaluannya, jembutku bergesekan dengan jembutnya. Pinggulku naik turun, perlahan lalu tambah kencang. Selang lima menit, Siti sudah kelojotan, mengerang dalam mulutku, lengannya mencengkeram punggungku, pinggulnya bergerak cepat naik turun dan kesamping, dan… Siti menjerit tertahan dalam mulutku. Kemaluannya kembali memuntahkan cairan hangat, kurasakan kemaluanku disiram cairan hangat. Dia sampai puncaknya lagi.

Cerita Seks Ngewe dengan Asisten Dokter Gigi yang Super Hot


Dalam kondisi seperti itu, dia tetap memeluk aku. “Asepppp… terus yuk… aku masih bisa keluar lagi. Jangan lepas kemaluanmu, teruskan… 10 menit lagi aku crot… kamu juga kan? Aku merasakan kemaluanmu sudah kedut-kedut. Ayo sama-sama keluar, biar puas bareng…mau?” Aku mendesah sambil terus bergerak pelan, pinggulku naik turun. “Kamu ini, Siti… manis sekali… wajahmu bikin aku nafsu, buah dadamu bikin aku nggak tahan…. Ti, rasanya aku mau keluar nih, mana tahan sih, merasakan nikmatnya semua ini?” Siti senyum mendengar kata-kataku, lalu memandangku. “Aduhai, Asep… kamu pemuda ganteng… jantan, … pandai membangkitkan nafsu perempuan … ayo terus… aku mau nih…. ooh… nikmatnya…” Tubuh Siti menggelinjang dibawah tubuhku, mulutnya menyedot mulutku, menyedot terus… buah dadanya bergoyang ditindih dadaku.

Aku sudah tidak tahan lagi. Tadi lupa mengolesi krim tahan lama sekembali dari kamar mandi. Tuuhku bergerak naik turun dengan cepat, mengeluarkan bunyi kresek-kresek dan kecupak-kecupak ketika mulutku mengisap mulutnya dan jembutku beradu dengan jembutnya. “Siti,… buah dadamu… bikin akau tidak tahannn… aku mau keluar nih…” Siti mendesah, “Ayo, terus…. Aku juga mau keluar lagi… oohhh…. Asep… mmm… ouww…. nikmat sekaliii…. “ Aku sampai puncaknya. “Sitiaa…. Aku keluar…. Aku keluar… oohhh… nikmatnya buah dadamu, jembutmu, kemaluanmu… oouww…. “ Maka crot-crot-crotlah air maniku dalam kemaluannya. Aku ingat pesannya supaya disisakan air mani untuk masuk mulutnya. Kuarahkan kemaluanku ke mulutnya dan…. crot-crot lagi dua tetes air mani dalam mulut Siti.

Baca juga: Cerita Mesum ku Bersama Cewek Gadis PKL yang Sangean

Beberapa menit aku tergolek di atas tubuh Siti, mengatur napas. Siti juga begitu. Siti puas empat kai rasanya, dan aku satu kali. Dia berkata sambil senyum manis, “Asep, kita sama-sama keluar ya? Sama-sama puas? Besok malam mau lagi? Saban malam… Aku ini perempuan penuh nafsu, ya? Aku sayang kamu, bakal jadi cinta.” Lalu berdua aku ke kamar mandi, membersihkan tubuh, lalu tidur sampai subuh.

Tuesday, October 28, 2025

Cerita Mesum ku Bersama Cewek Gadis PKL yang Sangean

Cerita Mesum – Cerita Seks ini adalah cerita dewasa yang mana ku alami sendiri. Pembaca Cerita Dewasa Sebelumnya, Aku perkenalkan diri, waktu itu Aku ber usia 27 tahun, masih single lah, bukannya tidak laku lho tetapi memang Aku masih ingin bebas. Kata orang, wajah Aku cukup ganteng dengan badan atletis. Bekerja di suatu instansi pemerintah di kota Surabaya. Bekerja pada Bagian Sekretariat yang mengurusi surat-surat masuk dan mencatat segala keperluan dinas atasan ( sektretaris), juga mengetik surat-surat, karena memang Aku cukup terampil dalam penggunaan komputer yang terkadang memberi pelajaran mengenai pengoperasian komputer di luar kantor. Seperti biasanya, suatu instansi pemerintah selalu ada siswa-siswi yang melakukan Praktek Kerja Lapangan (PKL) yang memang merupakan bagian dari kurikulum yang harus dijalani oleh setiap murid. Pagi itu sekitar pukul 09:00 Aku sedang mengetik suatu nota untuk dikirim ke suatu instansi lain, tiba-tiba Aku didatangi oleh 3 siswi lengkap dengan seragam sekolahnya.

“Selamat pagi, Pak!” sapa mereka dengan kompak dan ramah. “Pagi.., ada yang bisa Aku bantu?” jawab Aku dengan ramahnya. “Begini Pak.., kami ingin menyakan apakah di sini masih menerima anak sekolah untuk PKL?” “Oooh.. kalian dari sekolah mana?” tanya Aku. “Saya dari SMK X pak.. dan ini surat permohonan kami dari sekolah.”, kata mereka sambil menyerahkan surat permohonan kepada Aku. Lalu Aku baca, di sana tertulis nama-nama mereka, setelah selesai Aku menatap mereka satu persatu. “Coba, Aku ingin tahu nama-nama kalian dan ketrampilan apa yang kalian miliki?” tanya Aku sok pintar. “Nama Aku Tasya Pak, yang ini Desy dan yang itu Tasya Pak..”, mereka juga menjelaskan bahwa mereka bisa menggunakan komputer walaupun belum terampil, karena di sekolahnya diberikan ketrampilan komputer. Si Tasya memiliki postur tubuh yang agak kurus dengan bentuk wajah bulat dan memiliki bentuk payudara yang hampir rata dengan dadanya. Si Desy agak gemuk dan pendek tetapi memiliki payudara yang besar, dan yang satu ini memiliki postur tubuh yang agak tinggi dari teman-temannya, sangat cantik dan sexy seperti bintang mega sinetron dengan bulu-bulu halus di tangannya, warna kulit kuning langsat dengan wajah yang imut-imut dan bibir yang merah serta payudara yang montok, ukurandadanya 34B.

Wah.. pikiran Aku jadi kotor nih (maklum walaupun Aku tidak pernah berhubungan badan, tetapi Aku sering nonton BF). Umumnya mereka semua memiliki wajah yang cantik, kulit putih dan bersih. “Begini ya adik-adik, kebetulan di sini memang belum ada yang PKL, tetapi akan Aku tanyakan pada atasan Aku dulu..”, kata Aku, “Nanti, seminggu lagi, tolong adik-adik kesini untuk menunggu jawaban.” lanjut Aku sambil tidak henti-hentinya memandangi wajah mereka satu persatu. Setelah berbasa-basi sedikit, akhirnya mereka pulang. Aku menghadap atasan yang kebetulan sedang baca koran, maklum pegawai negeri kan terkenal dengan 4D (datang, duduk, diam dan duit). Setelah bicara ala kadarnya, atasan Aku menyetujui dan Aku lah yang disuruh memberi tugas apa yang harus mereka kerjakan nanti. “Tolong, nanti kamu yang mengawasi dan memberi arahan pada mereka.” kata atasan Aku. “Tapi jangan diarahin yang ngga-ngga lho..” Aku agak bingung dibilang seperti itu. “Maksud Bapak?” “Iya, tadi Aku sempat lihat, mereka cantik-cantik dan Aku perhatikan mata kamu ngga lepas-lepas tuh.”

“Ah, Bapak bisa aja, Aku ngga ada maksud apa-apa, kecuali dia mau diapa-apain.” kata Aku sambil bercanda dan tertawa. “Dasar kamu..”, jawab atasan Aku sambil ketawa. Memang, walaupun dia atasan Aku tetapi di antara kami tidak ada batas, maklum atasan Aku juga mata keranjang dan rahasia bahwa dia sering main perempuan sudah merupakan rahasia kami berdua. Seminggu kemudian, mereka bertiga kembali ke kantor. Setelah itu Aku jelaskan bahwa mereka bisa PKL di sini dan langsung mulai bekerja. Setelah itu Tasya dan Desy Aku tugaskan di bidang lain, sedangkan Tasya, Aku suruh membantu pekerjaan di ruangan Aku. Kebetulan ruangan Aku tersendiri. Memang sudah Aku rancang sedemikian rupa agar selalu dapat menikmati keindahan tubuh Tasya yang saat itu kelihatan cantik dan sexy dengan rok yang agak ketat di atas lutut. Lalu Aku mengantar Tasya dan Desy ke ruangan lain untuk membantu karyawan yang lain, sedangkan Tasya Aku suruh menunggu di ruangan Aku. Setelah itu Aku kembali ke ruangan. “Apa yang harus Aku kerjakan, Pak?” tanya Tasya ketika Aku sudah kembali. “Kamu duduk di depan komputer dan tolong bantu Aku mengetik beberapa nota.” sembari memberikan beberapa lembar kertas kerja pada nya.

“Dan tolong jangan panggil Aku Bapak, Aku belum Bapak-bapak lho, panggil saja Bang Rino.” kata Aku sambil bercanda. “Baik Bang Rino, tetapi tolong ajarkan Aku mengetik, karena Aku belum mahir menggunakan komputer.” Aku mulai memberi arahan sedikit tentang cara mengetik sambil tidak henti-hentinya memandangi wajah Tasya tanpa sepengetahuannya. Aku berdiri di sampingnya sambil menikmati. Sebentar-sebentar mencuri pandang ke arah payudaranya yang kelihatan dari atas karena kerahnya agak terbuka sedikit. Nampak sekali kelihatan belahan payudaranya yang putih mulus tertutup bra warna coklat muda. Apalagi ditambah dengan paha yang sangat sexy, mulus dan kuning langsat yang roknya naik ke atas ketika duduk. Tanpa disadari, kemaluan Aku berdiri tegak. Pikiran kotor Aku keluar, bagaimana caranya untuk bisa menikmati keindahan tubuh anak SMK ini. Di hari pertama ini, Aku hanya bisa bertanya-tanya tentang sekolah dan keluarganya dan terkadang bercanda sambil menikmati keindahan tubuhnya. Ternyata Tasya adalah anak yang enak diajak bicara dan cepat menyesuaikan dengan lingkungan. Terkadang Aku suka mengarahkan ke cerita yang porno-porno dan dia cuma tersipu malu. Selama itu, Aku juga berpikir bagaimana caranya untuk merasakan kenikmatan tubuh Tasya. Aku merencanakan untuk membuat strategi, karena besok atasan Aku akan dinas ke luar kota beberapa hari sehingga Aku bebas berdua dengannya.

Pada hari ketiga, pagi-pagi Tasya sudah datang dan kebetulan atasan Aku sedang dinas ke Bandung selama 5 hari. Seperti biasa, dia selalu menanyakan apa yang bisa dia kerjakan. Inilah kesempatan Aku untuk melaksanakan rencana yang sudah disiapkan dengan pikiran kotor Aku, apalagi ketika dia sedang duduk di kursi, tanpa disadari atau disengaja, duduknya agak mengangkang, sehingga dapat terlihat jelas celana dalamnya yang berwarna putih di antara pahanya yang putih mulus. “Gini aja Sya, kebetulan hari ini kayaknya kita lagi ngga ada kerjaan.. gimana kalau kita lihat berita-berita di internet?” kata Aku mulai memancing. “Kebetulan tuh Bang Rino, tolong dong sekalian ajarin tentang internet!” pintanya, Nah kebetulan nih, “Beres.. yuk kita masuk ke ruangan atasan Aku, karena internetnya ada di ruangan bos Aku.” “Ngga enak Bang, nanti ketahuan Bapak.” “Kan Bapak lagi dinas ke luar kota, lagian ngga ada yang berani masuk kok selain Aku.” jawabku sambil sebentar-sebentar melihat celana dalamnya yang terselip di antara pahanya. Benda pusaka Aku sudah tegang sekali, dan sepertinya Tasya sempat melihat ke arah celana Aku yang sudah berubah bentuk, tetapi cepat-cepat dialihkannya. Lalu kami berdua masuk ke ruangan atasan Aku sambil menutup, lalu menguncinya. "Bang.. kenapa dikunci?” tanya Tasya merasa tidak enak. “Sengaja.. biar orang-orang menyangka kita tidak ada di dalam. Lagian kan nanti ganggu kita aja.” “Ih, Bang pikirannya kotor, awas ya kalau macam-macam sama Tasya!” katanya mengancam tetapi dengan nada bercanda. Lalu kami berdua tertawa, sepertinya dia tidak curiga kalau Aku ingin macam-macam dengannya.

Tasya Aku suruh duduk di kursi dan Aku duduk di sebelahnya, di atas sandaran kursi yang diduduki oleh Suzy. Seperti hari-hari sebelumnya, Aku dapat melihat dengan bebas paha dan payudara Tasya tanpa sepengetahuannya. Agar Tasya tidak curiga, Aku mengajari cara membuka internet dan memulai langkah awal dengan melihat-lihat berita. “Sya.. kamu tahu ngga kalau di internet kita bisa melihat cerita dan gambar-gambar porno?” tanya Aku mulai memasang strategi. “Tahu sih dari teman-teman, tetapi Aku ngga pernah lihat karena memang tidak tahu cara menggunakan internet.. tetapi kalau lihat gambar gituan dari majalah sih pernah.” katanya malu-malu. “Nah ya.. anak kecil sudah ngeliat yang macam-macam.” kata Aku bercanda sambil memegang pundaknya dan dia diam saja sambil tertawa malu-malu. “Kalau Aku lihatin cerita-cerita dan gambar porno di internet mau ngga?” pinta Aku. “Mau sih, tetapi jangan dibilangin ke teman-teman Tasya ya Bang..! Kan malu.” “Percaya deh, Aku ngga bakalan nyeritain ke teman-teman kamu.” Aku mulai membuka cerita porno di www.ceritasexhot.net Tasya mulai membacanya dengan penuh perhatian. Lama-lama, Aku pun melihat wajah Tasya agak berubah dan sedikit gemetar serta agak menegang pertanda dia mulai terangsang, Aku dengan perlahan-lahan mulai meraba pundaknya. Sengaja Aku lakukan dengan perlahan untuk memberikan rangsangan dan agar jangan terkesan Aku ingin mengambil kesempatan. Nampaknya mulai berhasil karena dia diam saja.

Baca juga: Cerita Seks Bersama Pembantuku yang Sering Buatku Lemas

Sedangkan kemaluan Aku yang sudah tegang menjadi semakin tegang. Setelah Tasya membaca beberapa cerita lalu Aku bukakan gambar-gambar porno. “Iiih.. gambarnya fulgar banget Bang..”. “Itu sih belum seberapa, karena hanya gambar doang..” kata Aku mulai memancing. “Kalau kamu mau, Aku punya film-nya.” lanjut Aku. “Ngga ah, Aku takut ketahuan orang.”, sepertinya dia masih takut kalau ada orang lain masuk. “Percaya deh sama Aku, lagian cuma film, kecuali kalau kita yang begituan.” “Nah kan Bang Rino mulai nakal..”, katanya dengan nada menggoda dan membuat pikiran Aku semakin jorok saja dan kamipun berdua tertawa. Aku kemudian membuka VCD porno yang memang sengaja sudah Aku siapkan di dalam CD Room komputer Aku mulai memutarnya dan beberapa saat terlihat adegan seorang wanita sedang mengulum kemaluan dua orang negro. Sedangkan kemaluan si wanita di masuki dari belakang oleh seorang pemuda bule. Tasya kelihatan diam saja tanpa berkedip, malah posisi duduknya mulai sudah tidak tenang. “Kamu pernah lihat film ginian ngga Sya..” tanyaku padanya “Belum pernah Bang, cuma gambar-gambar di majalah saja” jawabnya dengan suara agak gemetar. Sepertinya dia mulai terangsang dengan adegan-adengan film tersebut. “Kalau gitu Aku matiin saja, ya Sya? Nanti kamu marah lagi..” kataku pura-pura sok suci namun tetap mengelus-ngelus pundaknya. “Aah ngga apa-apa kok Bang, sekalian buat pelajaran, tetapi Tasya jangan dimacem-macemin, ya Bang?” dia khawatir “Iya.. iya..” kataku untuk menyakinkan, padahal dalam hati, si otong sudah tidak tahan. Secara perlahan-lahan tangan Aku mulai memegang dan mengelus tangannya, dia diam saja dan tidak ada tanda-tanda penolakan.

Yang anehnya, dia diam saja ketika Aku merapatkan duduknya dan Aku pegang tangannya yang berbulu halus dan Aku taruh di atas pahasaya. Matanya tetap tertuju pada adegan film dan suaranya memang sengaja Aku buat agak keras terdengar agar lebih nafsu menontonnya. Terdengar suara rintihan dan erangan dari di wanita, ketika kemaluannya di sodok-sodok oleh si negro dengan kemaluan yang sangat besar dan panjang, sedangkan mulutnya dengan lahap mengulum batang kemaluan si Bule. Kini Tasya semakin tidak tenang duduknya dan terdengar nafasnya agak berat bertanda nafsunya sedang naik. Kesempatan ini tidak Aku sia-siakan. Tangan Tasya tetap berada di atas paha Aku, lalu tangan kiri Aku mulai beraksi membelai rambutnya, terus ke arah lehernya yang jenjang. Tasya kelihatan menggelinjang ketika lehernya Aku raba. “Acchh.. Bang Rino, jangan, Tasya merinding nih..” katanya dengan nada mendesah membuat Aku semakin bernafsu. Aku tetap tidak peduli karena dia juga tidak menepis tangan Aku, malah agak meremas paha Aku. Tangan kiri Aku juga tidak diam, Aku remas-remas tangan kanan Tasya dan sengaja Aku taruh tepat di atas kemaluan Aku. “Sya, kamu cantik deh, kayak bintang film itu” kata Aku mulai merayu. “Masa sih Bang?” sepertinya dia terbuai dengan rayuan Aku. Dasar anak masih 17 tahun.

“Bener tuh, masa Aku bohong, apalagi payudaranya sepertinya sama yang di film.” “Ih.. Bang Rino bisa aja” katanya malu-malu. Adegan film berganti cerita di mana seorang wanita mengulum 2 batang kemaluan dan kemaluan wanita itu sedang dijilati oleh lelaki lain. Tangan Tasya semakin keras memegang paha dan tangan Aku. “Kamu terangsang ngga Sya?” tanyaku memancing. Dia menoleh ke arah Aku lalu tersenyum malu, wah.. wajahnya nampak kemerahan dan bibirnya terlihat basah, apalagi di tambah wangi parfum yang di pakainya. “Kalau Bang, terangsang ngga?” dia balik bertanya. “Terus terang, aku sih terangsang, ditambah lagi nonton sama kamu yang benar-benar cantik ” rayu Aku, dan dia hanya tertawa kecil. “Saya juga kayaknya terangsang Bang,” katanya tanpa malu-malu. Melihat situasi ini, tangan Aku mulai meraba ke arah lain. Perlahan-lahan Aku arahkan tangan kanan Aku ke arah payudaranya dari luar baju seragam sekolahnya. Sedangkan tangan kiri, Aku jatuhkan ke atas pahanya dan Aku raba pahanya dengan penuh perasaan.



Tasya semakin menggelinjang keenakan. Mulus sekali tanpa cacat dan pahanya agak merenggang sedikit. “Aaahh, jangan Bang, Tasya takut, Tasya belum pernah beginian, nanti ada orang masuk mass.. oohh..” katanya sambil tangan kanannya memegang dan meremas tangan kanan Aku yang ada di atas pahanya yang sedang Aku raba, sedangkan tangan kirinya memegang sandaran kursi. Terasa sekali bahwa Tasya juga terangsang akibat Aku perlakukan seperti itu, apalagi ditambah dengan adegan film siswi anak sekolah Jepang yang dimasuki vaginanya dari belakang oleh seorang gurunya di ruangan kelas Aku yang sudah tidak tahan lagi, tidak peduli dengan kata-kata yang diucapkan Tasya. Karena Aku tahu bahwa dia sebenarnya juga ingin menikmatinya. Tangan kanan Aku makin meremas-meremas payudara sebelah kanannya. “Oohh Maass.. jaangaan Maas.. ohh..” Tasya semakin mendesah. Badan Tasya makin menggelinjang dan dia rapatkan badan serta kepalanya ke dada Aku. Tangan kiri Aku pindah untuk meraba wajahnya yang sangat cantik dan manis.

Turun ke leher terus turun ke bawah dan membuka dua kancing seragamnya. Terlihat gundukan belahan payudaranya yang putih dan mengencang di balik BH-nya. Tangan Aku bermain di sekitar belahan dadanya sebelah kiri, Aku remas-remas lalu pindah ke payudaranya yang sebelah kanan. “Ooohh.. Maas Bimoo.. oohh.. jaangaann.. mmhh..” Aku semakin bernafsu mendengar suara rintihannya menahan birahi yang bergejolak. Dadanya semakin bergetar dan membusung ketika Aku semakin meremas dan menarik BH-nya ke atas. Terlihat putingnya yang kecil dan berwarna merah yang terasa mengeras. Tangan kanan Aku yang sejak tadi meraba pahanya, secara perlahan-lahan masuk ke balik roknya yang tersingkap dan meraba-raba celananya, yang ketika Aku pegang ternyata sudah basah. “Ooohh.. Mass enakk.. teerruuss.. aahh..” Kepala Tasya mendongak menahan birahi yang sudah semakin meninggi. Terlihat bibir merah membasah. Secara spontan, Aku cium bibirnya, ternyata dibalas dengan buasnya oleh Tasya. Lidah kami saling mengulum dan Aku arahkan lidah Aku pada langit-langit bibirnya. Semakin tidak menentu saja getaran badan Tasya. Sambil berciuman Aku pegang tangan kirinya yang di atas selangkangan dan Aku suruh dia untuk meraba batang kejantanan Aku yang sudah menegang dan kencang di balik celana panjang.

“Mmmhh.. mmhh..” Aku tidak tahu apa yang akan dia ucapkan karena mulutnya terus Aku kulum dan hisap. Segera Aku lepas semua kancing seragamnya sambil tetap menciumi bibirnya. Tangan Aku membuka BH yang kaitannya berada di depan, terlihat payudaranya yang putih bersih dan besar dan perutnya yang putih tanpa cacat. Aku raba dan Aku remas seluruh payudaranya. Hal ini membuat Tasya semakin menggelinjang. Tiba-tiba, Tasya menarik diri dari ciuman Aku. "Bang.. jangan diterusin, Tasya ngga pernah berbuat seperti ini.” sepertinya dia sadar akan perbuatannya. Dia menutupi payudaranya dengan seragamnya. Melihat seperti ini, perasaan Aku was-was, jangan-jangan dia tidak mau meneruskan. Padahal Aku sedang hot-hotnya berciuman dan meraba-raba tubuhnya. Tetapi birahi Aku yang tinggi telah melupakan segalanya, Aku mencari akal agar Tasya mau melampiaskan birahi yang sudah sampai ke ubun-ubun. “Jangan takut Sya, kita kan ngga akan berbuat jauh, Aku cuma mau merasakan keindahan tubuh kamu.” “Tapi bukan seperti ini caranya.”

“Bukannya kamu juga menikmati Sya?” “Iya, tetapi Tasya takut kalau sampai keterusan, Bang!” “Percaya deh, Bang tidak akan berbuat ke arah sana.” Tasya terdiam dan memandangi wajah Aku, lalu Aku membelai rambutnya. Aku tersenyum dan dia pun ikut tersenyum. Sepertinya dia percaya akan kata-kata Aku. Film telah habis dan Aku mematikan komputer. Aku berdiri dan secara tiba-tiba, Aku mengangkat tubuh Tasya. “Maass, Tasya mau dibawa kemana?” dia berpegangan pada pundak Aku. Baju seragamnya terbuka lagi dan nampak payudaranya yang montok. “Kita duduk di sofa saja.” Aku angkat Tasya dan Aku pangku dia di sofa yang ada di dalam ruangan bos. “Sya kamu cantik sekali..” rayu Aku dan dia hanya tersenyum malu. “Boleh Aku mencium bibir kamu..?” dia diam saja dan tersenyum lagi. Semakin cantik saja wajahnya. “Tapi janji ya Bang Rino ngga akan berbuat seperti di film tadi?” “Iya Aku janji” Tasya terdiam lalu matanya terpejam. Dengan spontan Aku dekati wajahnya lalu Aku cium keningnya, terus pipinya yang kiri dan kanan, setelah itu Aku cium bibirnya,ternyata dia membalas. Aku masukkan lidah Aku ke dalam rongga mulutnya. Birahinya mulai bangkit lagi. Tasya membalas ciuman Aku dengan ganas dan nafsunya melumat bibir dan lidah Aku. Tangannya meremas-remas kepala dan pundak Aku. Ciuman berlangsung cukup lama sekitar 20 menit. Sengaja tangan Aku tidak berbuat lebih jauh agar Tasya percaya dulu bahwa Aku tidak akan berbuat jauh. Setelah Aku yakin Tasya sudah lupa, tangan Aku mulai meraba perutnya yang telah terbuka. Lalu perlahan-lahan naik ke payudaranya. “Aaahh.. Mass teruuss..” desahnya.

Ternyata birahinya mengalahkan kekuatirannya. Dengan penuh kelembutan Aku sentuh putingnya yang sudah mengeras. “Aaahh.. aahh.. mmhh..” Aku semakin meningkatkan kreatifitas Aku. Putingnya Aku pilin-pilin. Badan Tasya menggelinjang keenakan, bibir Aku turun ke bawah, Aku jilati lehernya yang jenjang. “Ooouuhh Mass, teruuss, enaak Maass.” Tasya terus mengeluh keenakan membuat libido Aku makin meningkat. Kemaluan Aku terasa tegang sekali dan terasa sakit karena tertekan pantat Tasya. Lalu Aku rebahkan dia di sofa sambil tetap menciumi seluruh wajahnya. Lalu Aku jilati payudaranya sebelah kanan. “Maass Bimoo..” Tasya berteriak keenakan. Aku jilati putingnya dan Aku hisap dengan keras. “Aahh.. oouhh.. terruuss oohh.. enaakk.” Nampak putingnya semakin memerah. Lalu gantian putingnya yang sebelah kiri Aku hisap. Seperti bayi yang kehausan, Aku menyedotputingnya semakin keras. Tasya makin menggelinjang dan berteriak-teriak. Tangan kiri Aku lalu mulai meraba pahanya, Aku buka pahanya, terus tangan Aku meraba-raba ke atas dan ke arah selangkangannya. Jari Aku menyentuh kemaluannya di atas celana dalam yang sudah basah. Awalnya dia bilang “Oouhh Maass jangaann..” tetapi kemuidan, “Oouughh Maass terruuss..” Aku masukkan jari tangan Aku ke mulut Tasya, lalu dihisapnya jari Aku dengan penuh nafsu. “Mmmhh..” mulut Aku terus tiada henti menghisap-hisap puting payudaranya secara bergantian.

Tangan Aku terus menekan-nekan kemaluan Tasya. Sambil Aku hisap, tangan kanan meremas-remas payudaranya, sedangkan tangan kiri,Aku masukkan jari telunjuk ke sela-sela celana dalamnya. “Maass.. oohh.. janggaan oughh.. mmhh..” Tasya terus mendesah-desah. Tangannya meremas-remas sofa. Setelah puas meremas-remas payudaranya, Aku pegang dan Aku tuntun tangannya untuk memegang kemaluan Aku yang sudah tegang di balik celana panjang. Tanggan Tasya diam saja di atas celana Aku, lalu tangannya Aku dekap di kemaluan Aku. Lama-kelamaan Tasya mulai meremas-remas sendiri kemaluan Aku. “Oohh Sya.. enak Sya.. terus Sya..” walaupun kaku mengelusnya tetapi terasa nikmat sekali. Jari tangan kiri Aku pun terus meraba kemaluannya, terasa bulu-bulu halus dan masih jarang. Jari tangan Aku tepat berada di atas vaginanya yang sudah sangat basah, Aku tekan tangan Aku dan jari telunjuk Aku masukkan perlahan-lahan untuk mencari clitorisnya. Tubuh Tasya semakin menggelinjang, pantatnya naik turun.

“Maass, jangan Maas.. Tasya ngga kuat Maass.. ooughh.. aahh” Aku tahu Tasya akan mendekati klimak sebab tangannya mencengkeram erat kemaluan Aku. “Maass.. aahh..” tiba-tiba tubuh Tasya mengejang hebat, tubuhnya bergetar kuat, tanda dia telah mencapai klimak. Tubuhnya langsung lemas tidak berdaya, matanya terpejam. Aku kecup bibirnya dengan lembut, lalu matanya perlahan terbuka. "Bang.. Tasya sayang kamu.” “Saya juga sayang kamu Sya” Aku kecup lagi bibirnya dan dia pun membalas sambil tersenyum. Aku lihat di payudaranya terdapat beberapa tanda merah bekas Aku hisap. “Ihh.. Bang nakal, tete Tasya dibikin merah..” dibiarkannya dadanya terlihat dengan bebas tanpa ditutupi. “Habis tete kamu montok dan gemesin sih.. besar lagi.” kataku sambil mengusap wajahnya yang berkeringat. "Bang, kok anunya ngga keluar cairan kaya di film tadi sih..?” tanyanya tiba-tiba. Rupanya dia benar-benar belum mengenal seks. Kebetulan nih untuk melanjutkan jurus yang kedua. “Kamu pengen punyaku keluar air mani?” tanyaku. “Iya, Tasya pengen lihat, kayak apa sih?” Tanpa pikir panjang, langsung saja Aku buka celana panjang dan CD Aku. Langsung saja kejantanan Aku keluar dengan tegaknya. Ukuran punya Aku lumayan besar, besar dan panjang sekitar 18 cm. Tasya langsung terbelalak matanya melihat senjata Aku yang ingin menagih kenikmatan yang ditunggu-tunggu.

“Ya ampun Bang.. besar banget punya Bang..” Aku raih tangan Tasya dan Aku suruh dia meraba dan mengocoknya. Tampak Tasya agak gugup dan gemetar karena baru sekali melihat langsung dan memegang burung laki-laki. “Aah.. Sya enak banget, terus Sya.. ahh..” Lama kelamaan Tasya terbiasa dan merasa pintar mengocoknya. Aku remas-remas payudaranya. "Bang, ahh.. Tasya masih lemas.. ahh..” “Sya, cium dong punyaku” pinta Aku. Langsung saja dia menciumi batang kejantanan Aku, mungkin dia belajar dari film tadi. “Terus Sya, emut Sya biar keluar aahh.. kamu pintar Sya.. emut Sya..” pinta Aku lagi. “Ngga mau, Tasya ngeri, lagian ngga cukup di mulut Tasya” Posisi Tasya duduk di sofa, sedangkan Aku berdiri menghadap Tasya. Aku remas buah dada Tasya, “Ahh Maass..” Ketika dia membuka mulutnya, langsung saja Aku masukkan batang kemaluan Aku ke mulutnya dan Aku keluar masukkan batang kejantanan Aku. “Mmmhh.. mmhh..” Tasya sepertinya kaget, tetapi Aku tidak peduli, justru Tasya yang sekarang menyedot batang kejantanan Aku. “Aaahh.. Sya kamu pintar Sya.. terus ah.. enaak..” Aku yang juga baru pertama kali berbuat seperti itu, sebenarnya sudah ingin keluar, tetapi sekuat tenaga Aku coba tahan. Tasya rupanya sudah lupa diri, dia semakin bernafsu mengulum dan menyedot batang kemaluan Aku, sedangkan kedua tangannya memegang pantat Aku. Cepat sekali dia belajar. Aku membungkuk dan kedua tangan meremas paha Tasya, lalu Aku buka kedua belah pahanya, Tasya mengerti lalu merenggangkan pahanya sambil mengangkat pahanya. Segera Aku buka resleting roknya dan Aku angkat roknya sehingga nampak CD yang berwarna putih.

Tangan kanan Aku segera meraba dan menekan-nekan belahan vaginanya yang tertutup CD, sudah basah. “Mmhh.. mmhh..” Tasya menggelinjang dan terus mengulum-ngulum, tampak mulutnya yang kecil mungil agak keSyaahan. Aku buka baju seragam dan BH-nya, dia melepas kulumannya dan Aku rebahkan tubuhnya di sofa panjang. Aku tarik roknya ke bawah sehingga tinggal CD-nya yang tersisa, lalu Aku membuka baju sehingga Aku telanjang bulat alias bugil. Mata Tasya terpejam, segera Aku lumat bibirnya dan dia pun membalas. Tangannya kirinya tetap memegang batang kejantanan Aku dan tangan kanannya meremas-remas pundak Aku. Sedangkan tangan kanan Aku membelai-belai rambutnya dan tangan kiri tetap meraba CD Tasya yang sudah sangat basah. Aku masukkan tangan ke dalam CD-nya, terus turun ke bawah tepat di belahan vaginanya, lalu jari-jari Aku bermain-main di belahan vaginanya yang sudah banjir. “Aaahh Maass.. oughh.. ohh..” dia terus menggelinjang. Pantatnya naik-turun mengikuti gerakan tangan. Mulut dan tangan kanan Aku langsung mengisap dan meremas-remas tetenya. “Aaahh Maass.. teruuss.. aahhgghh..” desahnya. Tangan Tasya meremas-remas burung Aku yang sudah tegang segera ingin masuk ke sarangya Tasya. Segera Aku buka celana dalamnya. Dan mulut Aku mulai turun ke bawah mencium perutnya dan perlahan-lahan Aku ciumi bulu-bulu halus dan vaginanya. Tangan Tasya meremas-remas rambut Aku. Aku buka belahan vaginanya dan nampak kelentitnya yang mungil berwarna merah. Segera Aku jilat dan hisap kelentitnya. “Aaagghh Maass oouhh.. oughh..” kepala Tasya mendongak dan bergerak ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan yang luar biasa yang baru sekali dialaminya, begitu juga dengan Aku.

Aku sedot liang vaginanya yang masih perawan dan berwarna merah. “Oouhh.. Mass, Tasya ngga kuat mass.. oohh.. aahh..” tiba-tiba tubuh Tasya bergetar hebat, pantatnya bergerak ke atas dan bergetar keras. “Aaahh..” Tasya mencapai klimak yang kedua kalinya. Aku hisap semua cairan yang keluar dari lubang vaginanya. Kemudian tubuhnya kembali lemas, matanya terpejam. Segera Aku buka pahanya lebar-lebar dan arahkan batang kejantanan Aku tepat di liang vaginanya. Tasya merasakan sesuatu yang menekan kemaluannya. Matanya terbuka sayu dan lemas. "Bang.. jangan maass, Tasya masih perawan.” katanya tetapi pahanya tetap terbuka lebar. “Katanya Tasya pengen ngelihat punya Bang keluar cairan.” “Iya, tetapi Tasya ngga pernah beginian, Tasya ngeri dan takut sakit..” “Jangan kuatir, Bang pasti pelan-pelan.” Segera Aku basahi batang kemaluan Aku dengan ludah, setelah itu Aku arahkan ke lubang vaginanya, setelah pas, perlahan-lahan Aku tekan masuk, sempit sekali rasanya. “Achh Mass sakit..” tampak wajahnya menahan sakit “Pelan-pelan Bang, sakit!” segera berhenti aksi Aku mendengar keluhannya. Setelah dia mulai tenang, Aku tekan sekali lagi. “Akhh.. Maass.. pelan-pelan.” tangannya memegang sofa dengan kuat. “Tenang Sya, jangan tegang, nanti juga enak.” Kemudian Aku lumat bibir Tasya, dan dia pun membalas, segera Aku tekan lagi sekuat tenaga. Aku mencoba sekali lagi, lalu melenceng keluar. Tidak putus asa, Aku coba lagi.

“Achh.. Mass Rino, sakit!” Aku tidak peduli dengan teriakannya, dengan lebih agak keras Aku tekan kemaluan Aku dan, “Bless..” torpedo besar Aku masuk setengah, terasa ada yang robek di lubang kemaluannya. kepala Tasya mendongak ke atas menahan sakit, Aku diamkan beberapa saat, lalu Aku tekan lagi dan masuklah semua batang kejantanan Aku ke sarang Tasya. “Achh Bang.. sakiitt.. pelan-pelan Bang.” Aku berhenti sebentar, lalu Aku coba masukkan lagi. Semakin dia berteriak, semakin bertambah nafsu Aku. Lalu Aku tekan sekuat tenaga dan masuklah semua senjata keperkasaan Aku. Aku keluarkan pelan-pelan dan Aku masukkan lagi dan seterusnya. “Ahh.. ahh.. Mass sakit.. teruuss ahh.. mmhh..” Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan. Rupanya dia mulai terangsang lagi. Semakin lama, Aku percepat goyangan. Tangan Aku meremas-meremas payudaranya. “Ohh Sya.. kamu cantiik Sya..” “Mass, teruss Mass, akhh.. Tasya ngga kuat Mass.. aghh..” pantatnya ikut naik turun mengikuti irama pantat Aku yang naik turun. Aku merasakan nikmat yang tiada tara.

Terasa ada sesuatu yang kuat ingin keluar dari alat vital Aku, rupanya Aku akan segera klimaks. “Maass.. oougghh Mass, Tasya ngga tahaan.. oughh Bang Bimoo.. aahh!” Tasya berteriak histeris sambil tubuhnya bergetar dan pada saat yang bersamaan keluarlah air mani Aku menyembur dengan deras ke dalam vagina Tasya. “Ooughh Sya Aku keluaarr, oohh.. creet.. crreet.. creett..” sperma Aku mengalir dengan kencang, tubuh Aku bergetar dan berguncang hebat. Tangan Tasya mencengkeram erat pundak Aku dan Aku mendekap erat tubuh Tasya yang putih mulus. Setelah itu kami berdua langsung lemas. Terasa ada sesuatu yang menarik-narik dan menjepit batang kejantanan Aku. Terasa hangat batang kemaluan Aku. Banyak sekali cairan yang keluar. Mata Tasya terpejam merasakan kenikmatan yang ketiga kalinya. Tubuhnya benar-benar tidak berdaya dan pasrah. Tubuh kami tetap berpelukan dan kejantanan Aku tetap di dalam kemaluannya. Aku ciumi bibir dan seluruh wajahnya. Setelah itu Aku lepas tubuhnya dan dari lihat batang Aku dan vaginanya ada cairan darah perawan yang menetes di bibir vagina dan sofa. Sesaat kemudian, nampak Tasya menitikkan air mata.

"Bang.. kenapa kita melakukan ini, Tasya sudah tidak perawan lagi..” dia terus mengeluarkan air mata. Aku terdiam, dalam hati menyesal, mengapa Aku sampai lupa diri dan betapa teganya telah menodai seorang gadis yang bukan milik Aku. Aku seka air matanya sambil mencoba menenangkannya. “Maafkan Aku Sya, Aku lupa diri, Aku akan mempertanggung-jawabkan perbuatan Aku Sya.” "Bang, peluk Tasya Bang..” segera Aku peluk dia dan cium keningnya. Dia pun memeluk Aku dengan eratnya. Tubuh kami masih bugil, “Tasya sayang Bang bimo” “Saya juga sayang kamu” jawab Aku. Setelah itu dia tersenyum, tetapi air matanya tetap mengalir, Aku seka air matanya. Setelah puas saling berpelukan, kami segera memakai pakaian. Bercak darah Tasya mengenai sofa atasan Aku. Aku ambil sapu tangan dan mengelap hingga bersih. "Bang, Tasya mohon jangan ceritakan ini pada siapa-siapa!” “Saya ngga akan cerita pada siapa-siapa, ini adalah rahasia kita berdua.” Setelah semua rapih, kami kembali berpelukan. Setelah itu kami keluar dari ruangan bos. Tidak begitu lama, teman-temannya masuk dan mengajaknya pulang. Besok paginya, Tasya datang duluan dan ketika Aku masuk, “Selamat pagi Mas” dia memberi salam. Ah, senyumnya manis sekali, “Selamat pagi sayang” Aku hampiri dia dan kecup keningnya lalu bibirnya. Dia membalas ciuman tadi.

Ah, indah sekali hari ini. Tasya masih PKL 2 minggu lagi. Perbuatan kami kemarin bukan membuat kami insyaf, kami berdua melakukan lagi di ruangan bos, di meja, di kursi, di balik pintu, dengan posisi berdiri atau doggie style, seperti yang pernah kami lihat di film BF. Terkadang Tasya Aku suruh membolos dan janjian di hotel. Kami sering melakukannya dari pagi hingga sore. Ternyata Tasya orang yang hiperseks dan gampang terangsang. Benar-benar kenikmatan yang tiada tara, kami tidak pernah menyesali. Setelah 2 minggu berlalu, mereka telah selesai PKL, hubungan kami tetap berlanjut hingga akhirnya, dia di jodohkan oleh orang tuanya. Demikianlah cerita seks terkini. Nah itu dia Cerita Mesum ku Bersama Cewek Gadis PKL yang Sangean, semoga betah baca disini ya ^_^