Showing posts with label cerita sex hot. Show all posts
Showing posts with label cerita sex hot. Show all posts

Saturday, December 6, 2025

Cerita Seks ku : Ngewe dengan Anak SMA yang Hot

Cerita Seks – Saya seorang mahasiswa tahun terakhir di suatu universitas di Bandung, dan kini sudah final. Untuk ketika ini, saya tidak menemukan kursus lagi dan melulu melakukan tesis. Karena tersebut saya tidak jarang bermain ke lokasi kakak saya di Jakarta.

Suatu hari saya pergi ke Jakarta. Ketika saya mendarat di lokasi tinggal saudari saya, saya menyaksikan seorang tamu. Ternyata dia ialah teman kuliah kakak saya di masa lalu. Saya mengenalkan saudara wanita saya kepadanya. Rupanya dia paling ramah padaku. Dia berusia 40 tahun dan memanggilnya Sira. Dia pun mengundang saya guna pergi ke rumahnya dan diperkenalkan untuk istri dan anak-anaknya. Istrinya, Bimo, 7 tahun lebih muda darinya, dan putrinya, Fitri, duduk di ruang belajar dua sekolah menengah kesatu.

Ketika saya pergi ke Jakarta saya tidak jarang pergi ke rumahnya. Dan pada hari Senin, saya ditugaskan oleh Sira guna merawat putrinya dan rumahnya sebab dia bakal pergi ke Malang. Ke lokasi tinggal sakit untuk mendatangi saudara istrinya. Menurutnya, ia menderita demam berdarah dan diasuh selama 3 hari. Karena tersebut ia meminta libur di kantornya sekitar 1 minggu. Dia pergi bareng istrinya, sedangkan putranya tidak muncul karena sekolah.

Setelah 3 hari di rumahnya, sebuah kali saya kembali dari lokasi tinggal saudara wanita saya. Sebab saya tidak terdapat hubungannya dan saya mengarah ke rumah Sira. Saya santai dan lantas menyalakan VCD. Selesaikan satu film. Ketika saya menyaksikan rak, saya menyaksikan sejumlah VCD porno di unsur bawah. Karena saya sendiri, saya menonton. Sebelum satu film habis, tiba-tiba pintu depan dibuka. Aku buru-buru mematikan televisi dan menempatkan bungkus VCD di bawah karpet.

“Halo, Ananta Oom …!” Fitri yang baru masuk tersenyum.
“Eh, bantu bayar guna orang Bajaj … Uang Fitri sepuluh ribu, kakaknya tidak kembali.”
Saya tersenyum dan mengangguk dan menunaikan Bajaj, yang melulu dua ribu rupiah.

Ketika saya pulang … pucat wajahku! Fitri duduk di karpet di depan televisi, dan mengobarkan video porno yang separuh jalan. Fitri menatapku dan tertawa geli.
“Ya! Oom Ananta! Begitu ya, bagaimana? Fitri tidak jarang diberi tahu oleh teman-teman di sekolah, namun belum melihatnya.”
Dengan gugup kuberitahu Fitri kamu belum cukup umur untuk nonton itu. Agen Poker Kiu Kiu
“Aahh, Oom Ananta. Jangan seperti itu! Hei, lihat … begitu saja! Gambar yang dibawa rekan Fitri ke sekolah bahkan lebih tajam.”

Tidak tahu mesti berbicara apa lagi, dan cemas Fitri bakal benar-benar melapor untuk orang tuanya. Saya pergi ke dapur untuk menciptakan minuman dan tidak mempedulikan Fitri terus menonton. Dari dapur aku duduk di teras belakang sambil menyimak majalah.

Sekitar jam 7 malam, saya terbit dan melakukan pembelian makanan. Ketika saya kembali, saya menyaksikan Fitri di perutnya di sofa menggarap pekerjaan rumah, dan … Ya Tuhan! Ia mengenakan daster yang pendek dan kurus. Tubuh mudanya yang telah mulai matang tampak jelas. Paha dan betisnya tampak putih mulus, dan bokongnya bulat dengan indah. Aku menelan ludah dan terus menyiapkan makanan. Cerita Seks

Setelah makanan siap, saya menelepon Fitri. Dan … sekali lagi, Tuhanku … jelas dia tidak menggunakan bra, sebab puting susunya menjulang di dasternya. Aku mulai gugup sebab penisku yang mulai “bergerak” kini benar-benar tegak dan menopang celanaku.

Setelah makan, sambil membasuh piring bareng di dapur, kami berdiri berdampingan, dan dari celah di daster, payudaranya yang estetis mengintip. Saat dia membungkuk, puting susu merah mudanya hadir dari celah. Saya mulai gugup. Setelah membasuh piring, kami berdua duduk di sofa di ruang keluarga.

“Oom, jajaki tebak. Hitam, kecil, kering, apa-apaan …!
“Ah, gampang! Semut lagi push-up! Khan ada di tutup botol Fanta! Mengubah … putih-biru-putih, kecil, ringan, apa …?”
Fitri mengerutkan kening dan menyerahkan tebakan bahwa seluruh kesalahan.
“Sungguh … Fitri mengenakan seragam sekolah, terlampau panas di Bajaj …!”
“Aahh … Oom Ananta mengolok-olok …!”
Fitri melompat dari sofa dan mengupayakan mencubit lenganku. Aku mengelak dan menangkis, namun dia terus menyerang seraya tertawa, dan … tersandung!

Dia jatuh ke pelukanku, menoleh padaku. Dia duduk tepat di atas kontolku. Kami megap-megap di posisi itu. Aroma tubuhnya membuatku terangsang. Dan aku mulai mencium lehernya. Fitri mendongak sambil menutup matanya, dan tanganku mulai meremas payudaranya.

Napas Fitri semakin terengah-engah, dan tanganku masuk salah satu pahanya. Pakaian dalamnya basah, dan jari saya mengelus belahan yang membayangi.
“Uuuhh … umhh …” Fitri bangkit. Bandar Poker Masterkiu
Kesadaran saya yang tinggal tidak banyak seperti memperingatkan bahwa apa yang saya jajaki lakukan ialah seorang gadis sekolah menengah, namun gariah saya telah menjangkau mahkota dan saya melepas daster dari atas kepalanya.
Aahh …! Fitri berbaring di sofa dengan tubuh yang hampir polos!

Saya langsung menghisap puting susu merah muda, berganti-ganti kiri dan kanan sampai dada basah oleh air liur saya. Tangan Fitri mengelus bagian belakang kepala saya dan erangannya yang tercekik menciptakan saya semakin tidak sabar. Aku melepas pakaian dalamnya, dan … terdapat rambut kemaluannya yang jarang. Bulu kecil tersebut berkilau sebab cairan kemaluan Fitri. Aku segera mengubur kepalaku di tengah kedua paha.Hmmmmm Hmmmmmm Fitri menggelinjang saat kucium memeknya itu.
Ouugh ssSshhhhh Fitri mengangkat tubuhnya saat kujilat belahan memeknya yang masih kencang.
Lidah saya bergerak dari atas ke bawah dan bibir perangkat kelamin mulai terbuka. Sesekali lidahku akan membelai klitorisnya dan tubuh Fitri bakal melompat dan napas Fitri bakal tersedak. Tanganku mulai meremas remas kedua toketnya sehingga Putingnya sedikit membesar dan mengeras. Cerita Dewasa

Ketika saya berhenti menjilat dan mengisap, Fitri berbaring terengah-engah, matanya tertutup. Aku bergegas membuka seluruh pakaianku, dan penisku diregangkan ke langit-langit, aku mengelus pipi Fitri. Bandar Domino 99
“Mmmhh … umhh … oohh …” saat Fitri membuka bibirnya, aku menjejalkan kepala kemaluanku.
Dengan sigap dia langsung mengulum kontolku. Tangan saya secara bergantian meremas dadanya dan mengelus kemaluannya.



Segera, penisku basah dan mengkilap. Aku tidak tahan lagi, aku naik ke tubuh Fitri dan bibirku menghancurkan bibirnya. Aroma penisku terdapat di mulut Fitri dan wewangian alat kelamin Fitri di mulutku, bertukar saat lidah anda terpelintir bersama.

Dengan tanganku, aku mengelus kepala kemaluanku ke celah di selangkangan Fitri. Dan sebentar lantas merasakan tangan Fitri mengurangi pantatku dari belakang.
“Ohhmm, mam … msuk … hmm … msukin … Omm … huh … umm ..”
Perlahan penisku mulai menempel di bibir liang kemaluannya, dan Fitri menghela nafas semakin banyak. Segera kepala penisku ditekan, namun gagal sebab macet dengan sesuatu yang kenyal. Saya pun berpikir, apakah lubang kecil ini bisa menampung pangkal paha yang besar ini. Terus terang, ukuran pangkal paha saya ialah 15 cm, lebar 4,5 cm. Sedangkan Fitri masih di SMP dan ukuran lubang kemaluannya terlampau kecil.

Tetapi dengan nafsu santap yang besar, saya mencoba. Akhirnya usaha saya berhasil. Dengan satu brengsek, hancurkan rintangan. Fitri menjerit sedikit, dahinya mengerutkan kening kesakitan. Kuku memegang erat kulit punggungku. Aku mengurangi lagi, dan menikmati ujung kemaluanku menyentuh tanah meskipun melulu 3/4 pangkal paha yang masuk. Lalu aku tetap tak bergerak, tidak mempedulikan otot-otot kemaluan Fitri terbiasa dengan benda-benda di dalamnya.

Sesaat lantas kerutan di dahi Fitri menghilang, dan aku mulai unik dan menekankan pinggulku. Fitri mengerutkan kening lagi, namun seiring masa-masa mulutnya berkibar.
“Ahhh … sshh … yeah … thenhh … mmhh … oh .. bagus … Oomm ..”
Aku melingkarkan lenganku di punggung Fitri, kemudian memutar tubuh kami sampai-sampai Fitri kini duduk di pinggulku. Tampak 3/4 penisku terjebak di kemaluannya. Tanpa di suruh Fitri langsung mengoyangkan pinggulnya. Sedangkan jari-jariku secara bergantian meremas dan menggosok dadanya, klitoris dan pinggulnya. Dan kami bersaing untuk menjangkau puncak.

Selama periode masa-masa tertentu, gerakan pinggul Fitri menjadi semakin tak waras dan dia menunduk dan bibir kami tertutup. Tangannya menjambak rambutku, dan kesudahannya pinggulnya tersentak berhenti. Terasa laksana cairan hangat di semua selangkanganku. 

Setelah tubuh Fitri rileks, aku mendorongnya ke belakang. Dan seraya menahannya, aku memburu puncakku sendiri. Ketika saya menjangkau klimaks, Fitri tentu menikmati semprotan air saya di lubangnya, dan dia mengeluh lemas dan menikmati orgasme keduanya.

Untuk masa-masa yang lama kami diam-diam terengah-engah. Dan tubuh kami yang basah oleh keringat masih bergerak bareng bergesekan satu sama lain. Menikmati sisa-sisa kesenangan orgasme.
“Oh, Oom … Fitri lemes. Tapi tersebut sangat bagus.”
Saya melulu tersenyum dan mengelus rambutnya dengan halus. Satu tangan lagi di pinggulnya dan meremas-remas. Saya pikir tubuh saya yang lelah sudah puas. Namun segera saya menikmati ayam yang menghampar naik lagi diapit oleh vagina Fitri yang masih paling kencang.

Saya segera membawanya ke kamar mandi, mencuci tubuh kami dan … pulang ke kamar guna melanjutkan putaran berikutnya. Sepanjang malam saya merasakan tiga orgasme, dan Fitri … berapa kali. Demikian juga, saat saya bangun di pagi hari, sekali lagi kami bergumul dengan kesukaan. Sebelum kesudahannya Fitri memaksa saya guna mengenakan seragam. Sarapan dan pergi ke sekolah.

Baca Juga : Cerita Seks ku Bersetubuh Pelunas Hutang

Kembali ke lokasi tinggal Sira, saya pergi ke cerita xxx sma kamar istirahat tamu dan segera merasa lelah. Di tengah istirahat saya, saya memiliki mimpi seolah-olah Fitri kembali dari sekolah. Pergi ke kamar dan melepas pakaiannya, kemudian melepas celana saya dan mengunyah penisku. Tapi tak lama lantas saya menyadari bahwa tersebut bukan mimpi. Dan saya menyaksikan rambutnya yang longgar dan bergerak mengikutinya naik turun. Saya melihat terbit dari ruangan dan tampaknya VCD menyala, dengan film kemarin. Ah! Merasakan teknik dia memberi saya “blowjob”, saya tahu bahwa dia baru saja belajar dari VCD.

Saturday, October 11, 2025

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Cerita Seks Bersetubuh Hendra Dengan Pacarnya – Kota M terletak sekitar CERITA SEX 100-an kilometer dari kota kelahiran Hendra. Ke CERITA MESUM sanalah kini pemuda itu CERITA SEXmenuju, naik kendaraan umum bersama teman ayahnya, Paman Herman CERITA SKANDAL namanya, yg bersedia menampung Hendra selama ia mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi. Pagi masih basah dan agak berembun ketika keduanya berangkat ke terminal berjalan kaki.Sambil melangkah, Hendra mengenang perpisahannya tadi malam dengan Mita. Ada kesenduan di raut muka gadis manis itu, walaupun Hendra berusaha menghiburnya dengan bercanda. Lagipula, apa yg dirisaukannya? Toh, mereka hanya akan berpisah dua bulan.Bagi Hendra, tak apa lah berpisah dari Mita, karena ia merasa memerlukan konsentrasi penuh untuk persiapan masa depannya. Tetapi bagi Mita rupanya agak lain. Gadis itu merasa inilah awal dari sebuah perpisahan panjang yg tak terelakkan.Malam itu mereka meminta ijin untuk menonton. Kedua orangtua Mita mengijinkan, dengan perjanjian agar mereka pulang sebelum pukul 11. Tetapi, mereka membatalkan acara menonton, karena ternyata film yg tadinya mereka akan tonton telah diganti dengan sebuah film silat. Akhirnya mereka duduk saja di pinggir alun-alun dekat pantai.Ada sebuah tembok pendek pembatas alun-alun dengan jalan. Di sana lah keduanya duduk berayun-ayun kaki, menghadap ke selatan ke arah laut yg menghitam nun di sana.

Awan hujan tak tampak di langit, tetapi angin terasa mulai dingin. Hendra memeluk pundak kekasihnya.“Apa rencana kamu setelah kursus?” tanya Mita sambi memainkan kancing bawah jaketnya.“Mmmm …, belum tahu. Mungkin langsung ikut test seleksi,” jawab Hendra.Ia memang membicarakan kemungkinan ini dengan ayahnya beberapa waktu yg lalu. Ayah dan ibu juga setuju jika Hendra ingin ikut test langsung di lokasi perguruan tinggi yg ditujunya, di kota B. Tetapi, menurut kedua orangtuanya, keputusan ada di tangan Hendra setelah ikut kursus.“Berarti kamu langsung ke B…,” ucap Mita sambil mengibaskan rambut yg menutupi mukanya.“Ya,.. senang sekali kalau bisa ikut test di sana. Aku ingin sekali melihat kampusnya. Kata orang, kampus itu besar sekali, berkali-kali lebih besar dari alun-alun ini!” jawab Hendra bersemangat.Ia merasa, ikut ujian seleksi di kampus itu akan menambah motivasi dan kemungkinan lulus.“Tetapi, itu berarti kita tak akan bertemu lagi,” bisik Mita.Hendra menoleh. Memandang kekasihnya yg kini menunduk. Rambutnya yg legam tergerai menutup wajahnya. Dengan lembut, Hendra mencoba menyibak rambut itu. Mita mengelak. Hendra mencoba lagi, Mita tetap mengelak, bahkan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.“Apa maksudmu?” tanya Hendra.Mita menggeser duduknya menjauh, lalu menghadapkan tubuhnya ke Hendra. Wajahnya serius, “Maksudku,… kita akan berpisah semakin lama. Lalu, kalau diterima di perguruan tinggi,… kamu dan aku akan sama-sama sibuk kuliah. Kemungkinan, kita tak akan bertemu lagi dalam waktu satu atau dua tahun. Atau mungkin lebih.”“Ya,… agaknya begitu,” ucap Hendra pelan.Ia memang juga punya dugaan yg sama, tetapi apa yg bisa dilakukannya? Bukankah sekolah tinggi-tinggi adalah keinginan mereka berdua? Kalau mereka terpaksa berpisah karena keinginan itu, apa yg bisa mereka lakukan?“Lalu kita akan saling melupakan…,” bisik Mita, matanya berkaca-kaca.“Kenapa saling melupakan?” sergah Hendra.“Karena kita akan sama-sama sibuk kuliah…”“Tetapi kita bisa saling menyurati. Kita bisa … ““Tetap saja….,” Mita memotong dengan cepat, “Kita tetap akan saling menjauh tanpa kita sengaja.”“Kita masih bisa bertemu lagi, Mita.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Aku pasti itu!” ucap Hendra mencoba tegas, walau ia sendiri tak tahu apakah suaranya betul-betul kedengaran tegas.Ia sendiri ragu, apakah memang ada kepastian di masa depan? Bukankah masa depan selalu samar-samar?Mita menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya dalam desah yg keras.“Yah .. pasti kita bertemu lagi, tetapi mungkin sebagai dua orang yg berbeda…” ucapnya pelan.Hendra terdiam. Tiba-tiba ia sadar, betapa ia tak kuasa mengatur aliran kehidupan. Betapa kecilnya ia menghadapi dunia yg begitu luas, yg berada di luar batas kendalinya. Ia ingin sekolah dan menjadi arsitek ulung, tetapi untuk itu ia harus meninggalkan banyak sekali kenangan manis.Tdk hanya Mita, tetapi juga Susi adik satu-satunya, ayah dan ibunya, teman-temannya, sungai tempatnya berenang, pantai yg menyimpan jutaan memori, hutan kenari, kota kecil yg damai ….. banyak sekali!“Melamun apa?” teguran Paman Herman di sampingnya membuat Hendra tersentak.Tak terasa, mereka sudah sampai di terminal. Hendra tersipu sambil berbohong, mengatakan bahwa ia sedang membaygkan kota M.Paman Herman tersenyum, lalu menepuk pundaknya.“Jangan bohong. Kamu pasti sedang melamunkan pacarmu,” ucapnya sambil tertawa pelan.“Yah,.. yg itu juga kulamunkan, sambil membaygkan kota M,” jawab Hendra tak mau kalah.Paman Herman tertawa lebih keras.Mereka naik ke kendaraan umum yg sudah menunggu. Hendra duduk dekat jendela, sementara teman ayahnya turun lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman. Hendra Hermanl di atas mobil, melanjutkan lamunannya.Setelah bosan duduk di alun-alun, Mita dan Hendra berjalan-jalan menyusur pantai. Pada malam hari, terutama di saat libur sekolah seperti ini, dan jika hujan tdk turun, pantai selalu ramai oleh warung-warung dan orang yg berjalan-jalan. Anak-anak tampak berlarian main kejar-kejaran.

Sekelompok orang tampak duduk mengelilingi sepasang lelaki bermain catur diterangi lampu petromaks.Di tempat lain, sekelompok remaja bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Berpasang-pasang kekasih tampak juga berjalan-jalan seperti halnya Hendra dan Mita. Sekali-kali mereka berpapasan dengan orang yg dikenal, saling bertegur sapa, atau sejenak berhenti untuk bercakap berbasa-basi.Mita dan Hendra lebih banyak diam sambil berjalan. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, terutama tentang telah tibanya saat perpisahan. Masing-masing mencoba mencari apa saja kah makna perpisahan itu? Tetapi mereka berdua hanya menemukan satu: perpisahan itu menyakitkan. Memedihkan. Membuatmu tak berdaya.Mita menggamit tekan kekasihnya, meremas pelan, lalu bertanya memecah keheningan,“Apakah kamu mencintai ku?”“Ya,” jawab Hendra pendek. Sial! Mengapa pendek sekali jawaban itu? umpat Hendra dalam hati. Tetapi, lalu seberapa panjang kah seharusnya? Satu kalimat? Dua kalimat? Satu halaman surat? Seberapa kah?“Kenapa kamu tdk pernah mengatakannya?” tanya Mita lagi.“Kenapa?” malah Hendra balik bertanya.“Aku yg bertanya duluan. Kamu, koq, malah bertanya kembali,” sergah Mita.“Ya. Aku juga bertanya sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakannya,”“Lalu, apa jawabnya?” desak Mita.“Aku tak tahu. Tetapi kenapa itu jadi persoalan, Mita? Aku memang tak pernah mengucapkannya. Aku tak bisa. Tak pandai,” jawab Hendra agak kesal.Mita menghentikan langkah. Hendra terpaksa juga ikut berhenti. Mereka telah berada agak jauh dari keramaian. Suara ombak berdebur keras.

Semakin terdengar keras di tengah keheningan.Mita memegang kedua tangan Hendra, menghadapnya dengan muka tengadah, memandang dengan mata beningnya. Sebagian rambut menutupi mukanya, melintang di hidungnya yg bangir, di bibirnya yg ranum, di pipi berlesung-pipitnya.Ah, Hendra melihat kecantikan semata di tengah samar-samar malam. Melihat sinar kerinduan di mata itu, bagai bintang-bintang berpijar lembut. Melihat seraut wajah tempat ia melabuhkan impian-impiannya. Mengapa semuanya tampak begitu mengesankan saat engkau harus berpisah?Mita terpejam merasakan nafas kekasihnya dekat sekali menerpa wajahnya. Bibir Hendra perlahan menyentuh bibirnya. Kedua tangan mereka saling meremas. Angin keras mengibarkan jaket-jaket mereka. Ciuman kali ini terasa sangat lembut, selembut awan putih di langit biru.Sangat hangat, sehangat mentari di pagi yg cerah. Mesra dan manja mengalunkan kerinduan. Mita membuka mulutnya, mengundang kekasihnya datang merasuki seluruh jiwa-raganya. Datang lah kekasih, reguk habis rinduku, bawa daku terbang setinggi mungkin.Keduanya berdiri rapat. Hendra mengulum mesra bibir kekasihnya, menghirup harum-sedap nafasnya, menggigit manja lidahnya yg nakal. Mita membuka sedikit matanya, memandang wajah Hendra yg dekat sekali di depannya. Sebentar lagi ia akan pergi jauh, gumam Mita dalam hati. Sebentar lagi wajah itu hanya akan ada di dompet ku, menjadi sebuah potret kekasih yg mungkin juga akan segera lusuh karena terlalu sering disentuh.Sambil membalas ciuman kekasihnya, diam-diam Mita merekam wajah itu sedetil mungkin. Mematrinya di benak. Ah, Hendra ….. dahinya yg selalu serius. Matanya yg tajam-tegas. Tulang pipinya yg mengguratkan ketakmenyerahan. Hidungnya yg menggemaskan (aku senang sekali mencubit hidung itu!). Bibirnya yg selalu bergairah. Selalu!Hendra melepaskan ciumannya, membuka mata dan menemukan sepasang mata kekasihnya memandang mesra. Ia berbisik,“Mita, aku ingin bercumbu malam ini. Mari kita pergi dari sini…”Mita tertawa pelan,“Kemana kamu hendak membawa ku?” tanyanya sambil memeluk leher Hendra.Hendra melihat sekeliling. Pantai tampak sepi, tetapi juga terlalu menakutkan di tengah malam seperti ini. Tdk di sini. Hendra memutuskan untuk mengajak Mita ke sebuah tempat yg selama ini menjadi “persembunyian” mereka: sebuah pondok di tengah kebun kopi. Tetapi lokasinya ada di sisi lain dari kota, sehingga untuk ke sana mereka perlu berjalan cepat.“Ke sana?” Mita bertanya ketika melihat Hendra diam saja.Ah, gadis ini memang bisa membaca pikiran ku, ucap Hendra dalam hati.“Ayo, kita ke sana…,” kata Hendra bergairah, menggulung kaki celananya dan menarik tangan Mita untuk meninggalkan pantai. Mita tertawa kecil, mengikuti tarikan tangan ke kasihnya. Sebentar kemudian mereka telah berlari-lari menyebrang jalan, menelusuri alun-alun menuju tengah kota. Lalu, di depan kantor camat mereka berbelok, melintasi persawahan, berjalan beriringan sambil sekali-sekali bercanda. Malam semakin larut….“Waahhh… melamun lagi!” Paman Herman telah naik kembali ke mobil.Hendra terperanjat dan tersipu lagi. Sialan! Lamunannya terpotong di tengah jalan.

“Nih,… makan kacang goreng supaya tdk terlalu banyak melamun,” ujar Paman Herman sambil menyodorkan sebungkus kacang.Hendra mengucapkan terimakasih dan mulai memasukkan beberapa butir ke mulutnya.Paman Herman lalu mengajak mengobrol, bertanya-tanya tentang sekolah Hendra. Terpaksa lah Hendra menimpalinya, menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap. Paman Herman lalu juga bercerita tentang dirinya dan anak-anaknya yg masih kecil.Tentang kota M yg katanya tumbuh pesat karena menjadi pusat perdagangan bagi kota-kota kecil sekitarnya. Paman Herman ini seorang pedagang yg konon sedang naik daun. Ia sering mundar-mandir ke ibukota mengurus bisnisnya. Hendra senang juga mendengar ulasannya tentang lika-liku bisnis, walaupun dunia itu sangat asing baginya.Tetapi ketika mobil mulai bergerak, Paman Herman berhenti bercerita. Bahkan tak lama kemudian ia terlihat terkantuk-kantuk. Baru 10 menit mobil melaju, Paman Herman telah menyandarkan kepalanya di jok dan tertidur nyenyak. Hendra masih mengunyah kacang, memandang ke luar jendela, melihat betapa kotanya dengan cepat terHermanl di belakang.Tanpa sadar, ia melamunkan lagi peristiwa semalam …..Pondok itu tetap sepi dan tetap bagai magnit, menarik kedua remaja itu untuk datang berkunjung, walau setiap kali pula mereka ingin menghindar. Mungkin juga bagai lampu yg menarik laron-laron terbang mendekat. Kalau terlalu dekat, pastilah mereka akan hangus terbakar, bukan? Tetapi bagaimana jika laron-laron itu sudah terbakar api asmara sebelum menghampiri sang lampu?Mita dan Hendra mengendap-endap mendekat, sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang melintas. Tampaknya tdk ada seorang pun di sekitar. Hendra menggenggam erat tangan kekasihnya, perlahan-lahan mendekati pondok. Serangga malam menghentikan musik mereka setiap kali sepasang remaja ini melangkah. Tetapi setelah mereka berlalu, serangga itu kembali ramai memperdengarkan musik mereka.Hendra langsung mengajak Mita masuk. Pondok itu tentu saja gelap gulita. Setelah beberapa saat, barulah mata mereka bisa menyesuaikan diri, bisa melihat ruang kosong dengan dipan kayu itu. Hendra segera duduk, dan Mita segera naik ke pangkuannya.Mereka langsung berciuman, tanpa bertukar kata lagi.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya


Cerita Sex Nafas Mita sudah memburu sejak tadi, bukan hanya karena harus berjalan cepat dan setengah berlari, tetapi juga karena ia memang selalu bergairah jika berduaan dengan Hendra.Ciuman mereka tak lagi lembut-mesra seperti ketika di pantai tadi, melainkan bergelora, saling pagut dan saling mengulum. Nafas mereka berdua berdesahan, saling menyerobot seperti hendak saling mengalahkan. Kedua pasang bibir mereka saling menekan memilin, bergantian menghisap-hisap. Kedua lidah mereka bergelut bergelung seperti dua naga kecil yg bermain-main di taman basah dan hangat yg adalah mulut mereka.Berkali-kali Mita seperti tersedak, tak tahan diperlakukan begitu bergairah oleh kekasihnya. Tetapi berkali-kali pula ia kembali mengulum bibir pemuda itu, membiarkan lidahnya bermain semakin jauh ke dalam mulutnya, menyentuh langit-langitnya, menimbulkan rasa geli dan hangat.Seperti biasanya, Mita hanya memakai kaos tebal dan jaket, tanpa beha. Dengan leluasa, tangan Hendra segera menelusup menelusuri bukit-bukit indah di balik kaos itu. Bukit-bukit yg naik turun, membusung penuh, kenyal-padat, hangat. Tangan Hendra langsung gemas meremas, memijat, menekan. Jari-jarinya bermain ringan di atas kedua puting yg telah menegang tegak.Mita pun mengerang merintih merasakan kedua budah dadanya bagai dipenuhi uap panas, bergulung-gulung seakan badai yg sedang melanda bumi. Sambil memeluk leher Hendra, gadis itu membusungkan dadanya, memajukan seluruh tubuhnya, menghenyakkan kedua payudaranya di tangan kekasihnya. Ia ingin diremas lebih keras lagi, lebih bergairah lagi.Mulut Hendra meninggalkan mulut Mita, kini menciumi lehernya yg jenjang. Menciumi kulit mulus-lembut nan harum di bawah telinganya. Menggigit cuping telinga itu, membuat Mita terkejut, tetapi juga sangat senang. Apalagi kemudian Hendra menggigit pula lehernya, pelan-pelan saja. Oh, geli sekaligus nikmat rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti disengat-sengat bara kenikmatan yg membangkitkan api birahi semakin besar.Mita memajukan duduknya, mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga mulut Hendra kini semakin turun. Cepat-cepat Mita mengangkat kedua tangannya, membiarkan Hendra menaikkan kaosnya.

Segera dua payudara gadis yg kenyal-padat itu terpampang, indah sekali dalam keremangan malam, putih bersih bagai bersinar.Hmmm,… Hendra menenggelamkan wajahnya di lembah harum di antara dua bukit indah itu. Hmmm …, tubuh Mita selalu penuh keharuman sabun wangi, dan juga bedak yg biasa dipakai bayi. Hmmm …., sungguh menggairahkan rasanya menciumi dada ranum yg agak basah oleh keringat itu. Dengan gemas, digigitnya sedikit daging di pangkal salah satu payudara itu. Mita mengerang. Mita merintih.“Uuuh ….,” Mita merintih ketika mulut Hendra naik dan mengulum puting sebelah kiri.Tubuh gadis itu menggelinjang ke kiri.“Aaaah ….,” Mita mengerang ketika Hendra meremas payudara sebelah kanan. Tubuh gadis itu bergeser ke kanan.Begitulah terus. Ke kiri. Ke kanan. Ke kiri ke kanan. Gerakan-gerakan Mita menimbulkan gesekan nikmat di bawah sana, di tempat selangkangannya yg terhenyak rapat di pangkuan Hendra. Ada cairan bening tipis mengalir pelan dari dalam tubuhnya, membasahi celana dalamnya. Ada rasa hangat turun bersama aliran itu. Ada rasa geli-nikmat yg merayap perlahan ke seluruh penjuru tubuh.Dengan satu tangannya yg masih bebas, Hendra menyingkap rok Mita lebih ke atas, sehingga antara dia dan gadis itu kini hanya ada seutas kain nilon tipis yg telah basah di sana-sini. Setelah itu, tangan Hendra masuk menelusup dari belakang. Mita mengerang merasakan tangan itu membawa kehangatan ke bagian belakang tubuhnya yg penuh-padat itu.Mita merintih ketika Hendra meremas-remas bagian itu, seakan-akan sedang memeras buah hendak mengambil airnya. Gadis itu semakin memajukan duduknya, semakin rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke pangkuan Hendra. Malam terasa semakin panas. Keringat muncul di beberapa bagian tubuh keduanya; di ketiak, di punggung, di tengkuk.Lalu celana dalam Mita terlepas sudah, entah oleh tangan Hendra atau oleh tangannya sendiri. Tdk jelas lagi, siapa melakukan apa dalam pergumulan bergairah yg tak terkendal ini. Kedua tangan Hendra kini ada di bawah. Yg satu meremas-remas di belakang, yg lain menelusup ke depan. Mita mengangkat tubuhnya, tdk lagi duduk di pangkuan Hendra, memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada kedua tangan pemuda itu.Hendra pun segera memanfaatkan keleluasaan itu. Jari-jarinya mengusap-menelusupi kewanitaan Mita yg terasa panas membara.

Cerita Seks Gadis itu menggelinjang hebat ketika merasakan ujung jari Hendra menyentuh-nyentuh bagian-bagian yg sangat sensitif di bawah sana.Rasanya, bagian-bagian itu telah berubah seluruhnya menjadi ujung saraf belaka, tdk dilapisi apa-apa. Sehingga setiap sentuhan, seberapa pun ringannya, sanggup mengirimkan sentakan-sentakan kenikmatan ke seluruh tubuh.Lalu celana panjang Hendra juga telah terbuka. Sekali lagi, entah siapa yg melakukannya. Mungkin Hendra, mungkin Mita, mungkin keduanya. Kejantanan Hendra tahu-tahu juga sudah di luar, tegak berdenyut. Mita meraihnya dengan gemas, tersentak merasakan betapa panasnya otot-kenyal yg menggairahkan itu.Hendra mengerang ketika merasakan tangan halus lembut meremasnya di bagian yg sangat sensitif, di ujung yg telah sedikit basah pula. Lalu tangan Mita menuntun kejantanan Hendra ke depan kewanitaannya.Oh, Mita menggosok-gosok kewanitaannya dengan otot-kenyal padat panas itu. Oh, rasanya nikmat sekali bagi keduanya. Menggelitik-gelitik, menimbulkan geli nikmat di mana-mana.Dengan kedua tangannya yg kokoh, Hendra kini menopang tubuh Mita. Kedua telapak tangannya menjadi tumpuan dari pantat gadis itu, sementara dengan tangannya Mita terus menggosok-gosokkan kejantanan Hendra. Pelan-pelan, kewanitaannya terasa semakin menguak, semakin membuka.Apalagi cengkraman tangan Hendra juga ikut merentangkan bagian bawah itu, membuatnya semakin terbuka. Kejantanan yg kenyal-tegang itu kini menelusuri permukaan kewanitaan Mita, menimbulkan rasa geli yg sangat nikmat. Membuat liangnya semakin basah dan licin. Berdenyut-denyut pula.Sesekali, ujung kejantanan Hendra menelusup sedikit ke dalam. Oh,… Mita terpejam merasakan tusukan-tusukan kecil menyeruak ke dalam tubuhnya. Ahhh …, Hendra juga terpejam merasakan ujung-ujung sarafnya seperti dibelai-belai mesra.Betapa hangat, basah dan licin permukaan liang kewanitaan itu. Betapa halus, bagai sutra. Mita mengerang-merintih, terus memainkan otot-kenyal di tangannya, menggosok ke depan ke belakang, memutar-mutar.Lalu pelan-pelan Hendra menurunkan tubuh Mita, ….. cuma sedikit saja, mungkin cuma tiga senti. Tetapi itu sudah cukup membuat Mita tersentak, mengerang “Aaah…”, merasakan sebuah benda tumpul hangat menyeruak ke dalam tubuhnya. Rasanya sedikit pedih, tetapi juga geli dan nikmat.

Bercampur baur. Mengejutkan.“Jangan, Hendra….,” desah Mita sambil berusaha mengangkat tubuhnya. Tetapi entah kenapa, ia tak sanggup melakukan hal itu. Rasa nikmat di bawah sana menahannya untuk bergerak. Maka akhirnya ia cuma menggeliat-geliat.Hendra mengerang pelan. Oh,.. hangat sekali di dalam sana. Ia merasakan ujung kejantanannya dibalut entah oleh apa. Terasa sempit tetapi juga licin, mencekal erat tetapi juga berdenyut-denyut. Dengan kedua tangannya, Hendra mempertahankan posisi tubuh Mita yg kini bagai mengambang: antara atas dan bawah, antara kenikmatan dan kekhawatiran.Mita merasakan nikmat luar biasa datang dari liang kewanitaannya yg kini bagai tersumbat sebentuk otot-kenyal. Tak sadar, ia menggoygkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menyebabkan si sumbat menyeruak dinding-dinding bagian dalam kewanitaannya, menimbulkan kenikmatan tambahan.Hendra tetap menahan tubuh Mita agar tdk melesak lebih ke bawah. Diam-diam ia khawatir akan apa yg mereka lakukan. Ia takut jika seluruh kejantanannya masuk dan merusak sesuatu di dalam sana, walau ia sendiri tak tahu, ada apa di dalam sana.“Aaaaaah!”, tiba-tiba Mita mengerang.Orgasmenya datang bagai banjir bandang. Kedua kakinya mengejang, dan ia ingin merapatkan pahanya, menjepit kejantanan Hendra untuk menimbulkan kenikmatan yg lebih lagi. Tetapi tangan pemuda itu sangat kokoh mencengkram tubuhnya, sehingga akhirnya Mita hanya menyerah saja.Membiarkan tubuhnya berguncang-guncang ketika ia mencapai klimaks yg sedap itu. Kedua tangan Mita mencengkram bahu Hendra. Tubuhnya meregang. Matanya terpejam erat, mulutnya setengah terbuka, mengeluarkan keluh berkepanjangan,“Nggggggg….”.Bersamaan dengan itu, Hendra merasakan ujung kejantanannya bagai dipilin-diremas oleh daging kenyal hangat yg bergerak-gerak liar. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh Mita yg sedang bergetar hebat. Keringat Hendra membasahi badannya, karena tubuh gadis itu tdklah ringan.

Apalagi kalau sedang meregang-mengejang seperti ini.Lalu, Hendra merasakan klimaksnya datang, ketika Mita masih mengerang-merintih dengan kedua tangan mencengkram bahunya. Cepat-cepat Hendra mengangkat tubuh gadis itu, walaupun Mita terdengar memprotes. Ia masih cukup waras untuk tdk menumpahkan cairan cintanya di dalam. Dengan satu gerakan, ia menggeser duduknya. Kejantanannya lepas dari cengkraman permukaan liang yg sebetulnya sangat menjanjikan kenikmatan itu.Mita pun akhirnya sadar apa yg dihindari Hendra. Gadis itu cepat-cepat menggeser ke arah berlawanan. Ia melihat ke bawah, ke arah otot-kenyal yg masih tegak dan seperti bergerak-gerak menggeliat. Oh,.. cepat-cepat diraihnya bagian tubuh Hendra yg tadi memberikan kenikmatan di tubuhnya itu. Cepat-cepat ia meremas, ingin berpartisipasi dalam pencapaian klimaksnya.“Aaaaah!” Hendra mengerang panjang, merasakan tubuhnya bagai disentak-sentak ketika cairan-cairan cinta memancar kuat dari kejantanannya.Tangan Mita yg halus terasa menambah nikmat pancaran itu, sekaligus menampung cairan-cairan kental panas yg berebut keluar.Mita terduduk di samping Hendra, dengan tangan tetap mencengkram, merasakan getaran-gejolak klimaks kekasihnya. Hendra berkali-kali mengerang, dengan tubuh meregang dan kedua tangan bertelektekan di dipan. Mita merasakan otot-kenyal berdenyut-denyut dalam genggamannya. Menakjubkan sekali!Betapa kuatnya klimaks Hendra kali ini, menyebabkan tubuhnya seperti dioyak-oyak, tulang-tulangnya seperti lepas, ototnya seperti meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di dipan, diikuti Mita yg berbaring di sebelahnya. Keduanya masih telanjang di bagian bawah, terengah-engah seperti habis berlari sepanjang hari.

Tangan Mita tetap menggenggam di bawah sana, senang bisa menampung tumpahan cinta kekasihnya. Hangat dan licin rasanya.Lamunan Hendra buyar ketika mobil yg ditumpanginya membelok tajam, menyebabkan tubuh Paman Herman membentur tubuhnya. Lelaki setengah baya itu tetap tertidur, cuma menggumam tak jelas, lalu kembali menegakkan tubuhnya di sandaran kursi.Hendra menghela nafas panjang. Kota kelahirannya semakin jauh terHermanl. Mobil melesat laju di jalan raya antarkota. Di kiri-kanan jalan, sawah luas terbentang, menghijau bagai hamparan karpet . Langit tampak biru dibercaki awan putih. Puluhan burung bangau tampak terbang ke arah selatan.Hendra tiba di kota M menjelang sore. Rumah Paman Herman cukup besar dan Hendra mendapat kamar di belakang, dekat dapur dan gudang. Setelah beristirahat sebentar, Paman Herman mengajak Hendra membicarakan agenda mereka untuk dua bulan mendatang.

Mendengar kata dua bulan, Hendra mengeluh dalam hati. Lama sekali rasanya dua bulan itu.Lalu, keesokan harinya Hendra diantar Paman Herman ke tempat kursus yg telah ramai oleh pemuda sebayanya. Ruang belajar tampak jauh lebih besar dari kelas di sekolah di kota kelahirannya. Teman-teman barunya juga jauh lebih banyak, dan jauh lebih banyak tingkah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bertingkah seperti layaknya remaja kota besar, memakai kaca mata hitam segala. Hendra tersenyum simpul melihat salah seorang dari mereka memakai kacamata secara terbalik. Pastilah itu kacamata pinjaman!Demikianlah, hari-hari berikutnya Hendra sibuk mengikuti kursus di kota M dan mulai bisa melupakan hal-hal lain. Konsentrasinya penuh ke pelajaran, dan hanya sekali-sekali ia teringat akan Mita dan kota kelahirannya. Hari-hari pun terasa semakin cepat berlalu. Demikian lah Cerita Porno Kisah Pengalaman Hendra Bersetubuh Dengan Pacarnya oleh Cerita sex hot

Friday, October 10, 2025

Aku Ajari Seks Shinta yang Polos

Cerita seks - Kadang juga ada truk atau pick up yang berbaik hati untuk mengantar dengan arah yang sama menuju ke masing masing sekolah , tak hayal juga kendaraan lainnya tidak mau berhenti karena jumlahnya yang berkelompok dan berjumlah puluran orang.

Saat itu aku hari senin aku agak terlambat untuk berangkat ke kantor yaitu pukul sudah menunjukan 06.50 wib, tak apalah karena semalam ada acara bola yang seru, ku keluarkan mobilku dan bergegas untuk berangkat kekantor, hari itu tak seperti biasanya karena sepanjang jalan yang aku biasanya lalui agak sepi, mungkin karena anak sekolah sudah mendapatkan kendaraan.

Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat ini), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan tangannya. Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan, “Mau ke mana dik?”.

Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku, “Pak boleh saya ikut sampai di SMA situ pak, dari tadi kendaraan umum penuh terus dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh harap. “Yaa…, OK lah.., naik cepat”, kataku. “Terima kasih paak”, katanya sambil membuka pintu mobilku.

Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira-kira 10 Km dan selama perjalanan kuselingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU di tersebut dan bernama Shinta Tinggi badannya kira-kira 155 cm, Shintana kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu.

Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah tersebut dan Shinta segera memberikan aba-aba. “Ooom…, sekolah saya ada di depan itu”, katanya sambil jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku Shinta mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil, Shinta masih sempat bertanya, “Oom…, besok pagi saya boleh ikut lagi.., nggak Oom, lumayan Oom…, bisa naik mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat ongkos.., boleh yaa.. Oom?”.

cerita-seks-bersama-shinta-yang-polos
cerita seks gambar Aku Ajari Seks Shinta yang Polos
Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu kujawab, “Boleh boleh saja Shinta ikut Oom, tapi jangan bergerombol ikutnya yaa”. “Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini”. Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, Shinta sudah ada di pinggir jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku.

Dalam setiap perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, Shinta bilang tidak apa-apa tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih jauh soal pacarnya. Shinta juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di Kuningan.

Seminggu kemudian di hari Jum’at, waktu Shinta akan naik di mobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan Shinta duduk tanpa banyak bicara. filmbokepjepang.net Karena penasaran, kusapa dia, “Shinta, habis nangis yaa…, kenapa..? coba Shinta ceritakan.., siapa tahu Oom bisa membantu”. Shinta tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan, tetapi kemudian dia berkata, “Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu”, lalu dia diam lagi.

“Kalau Shinta percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu”, kataku tetapi Shinta saja tetap membisu.

Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba Shinta berkata, “Oom…, boleh nggak Shinta minta waktu sedikit buat bicara di sini, mumpung masih belum sampai di sekolah”. Mendengar permintaannya itu, segera saja kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira jaraknya masih 2 Km dari sekolahnya.

“Ada apa Shinta…?”, Kataku. Shinta tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk memulai berbicara.”Ayoo…, lah Shinta (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Yuri diganti jadi 3 huruf terdepan), jangan takut atau ragu…, ada apa sebenarnya”, tanyaku lagi.

“Begini…, Oom, kata Shinta”, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti ulangan.

Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang tuanya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikimpoikan dengan tetangganya.

Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai dan karena Shinta juga terus diam, lalu kutanya, “Teruskan ceritamu sampai selesai Shinta”. Dia tidak segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata, “Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin Shinta ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat ke kantornya dan Shinta juga harus ke sekolah, serta lanjutnya lagi…, kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya”.

Setelah diam sejenak, lalu Shinta berkata lagi, “Oom, kalau ada dan tidak keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya”. Mendengar cerita Shinta walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan padanya.

“Lho Oom, kok banyak benar…, saya takut tidak dapat mengembalikannya”, katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya.”Shinta.., ambillah…, nggak apa-apa kok, sisanya boleh kamu belikan buku-buku atau apa saja…, saya yakin Shinta membutuhkannya”, dan segera kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan, “Shinta.., ini nggak usah kamu beritahukan kepada siapa-siapa, juga jangan kepada orang tuamu…, dan Shinta nggak perlu mengembalikannya”.

Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata, “Terima kasih banyak Oom.., Oom.. sudah banyak menolong saya”. Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar, bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa penisku menjadi tegang dan sementara Shinta masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya.

“Ayoo…, Shinta…, sudah lama kita di sini, nanti kamu terlambat sekolahnya”.Shinta tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya. Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil membuka pintu mobil, Shinta berkata, “Oom.., terima kasih yaa.. Ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita Shinta”.


“Kalau besok gimana..?, kataku.

“Boleh.., oom”, jawabnya cepat.

“Lho…, besok kan masih hari Sabtu dan Shinta kan harus sekolah”, jawabku.

“Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…, hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting”, kata Shinta.

“Oklah…, kalau begitu…, Shinta, kita ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu”.

Dalam perjalanan ke kantor setelah Shinta turun, masalah Shinta terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai di kantor. filmbokepjepang.net Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Bossku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus menginap dan pulang pada hari Minggu.

Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat Shinta tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis.

Lalu kutanya, “Shinta…, habis perang lagi yaa?, soal apa lagi?”.

“Oom, ceritanya nanti saja deh”, katanya agak malas.

cerita-seks-bersama-shinta-yang-polos
cerita-seks-bersama-shinta-yang-polos
“Kita mau kemana Oom?”, Tanyanya.

“Lho…, terserah Shinta saja.., Oom sih ikut saja”.

“Oom…, saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang lain…, jadi kalau-kalau Shinta nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali Oom”.

Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan Shinta, dan segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada sebuah lapangan Golf dan Cottage CPN.

Segera saja kukatakan padanya, “Shinta… Tempat yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi…, bagaimana kalau kita ke CPN saja..?”.

“Dimana itu Oom dan tempat apaan?”,tanya Shinta.

Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja, “Tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon dan…, begini saja deh.., Shinta.., kita ke sana dulu dan kalau Shinta kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi”. Setelah sampai di tempat dan mendaftar di receptionist serta memesan minuman ringan serta mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada Shinta–“gimana Shinta.., kamu mau disini..?, lihat saja tempatnya sepi (maklum saja masih pagi-pagi. Receptionistnya saja seperti terheran-heran, sepertinya berfikir kok ada tamu pagi-pagi sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota).

Setelah mobil kuparkir di depan KAMAR, sebelum turun kutanya dia kembali, “Shinta…, gimana.., mau di sini? atau mau cari tempat lain?”. Shinta tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku ke arah pintu kamar motel. Segera setelah sampai di dalam, dia langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan.

Karena kulihat dia tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat dan tiba-tiba saja Shinta memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak. Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, “Shinta coba tenangkan dirimu dan ceritakan semua masalah mu pada Oom…, siapa tahu Oom bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu”.

Shinta masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat tidur dan perlahan kutelentangkan Shinta di tempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan, “Shinta cobalah ceritakan masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu itu”.

Shinta tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya dia membuka matanya dan memandang ke arahku yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali. “Oom…”, katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi. “Shinta…”, kataku sambil kucium pipinya dan kuusap-usapkan jari tangan kananku di rambutnya, “cerita lah”.

Lalu Shinta mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Shinta dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikimpoikan pada bulan Maret akan datang.

Shinta katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin kimpoi, apalagi kimpoi dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. Shinta punya keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana. Shinta juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya pacarnya itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum apa-apa sudah keluar katanya.

“Jadi…, gimana.., Oom.., apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya.

“Shinta”, kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya di dekat bibirnya.

“Shinta…, masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu. Begini saja Shinta…, sebaiknya kamu minta kepada orangtuamu untuk menunda perkimpoian itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang saja…, kalau ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi”.

“Katakan lagi…, sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah. Shinta…, sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu”.

“Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian”.

Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya…, “Shinta…, bagaimana pendapatmu dengan saran Oom ini?”.



Seraya saja Shinta bangkit dari tidurnya dan memelukku erat-erat sambil menciumi pipiku dan berkata, “Ooom…, terima kasih.., atas saran Oom ini…, belum terpikir oleh saya sebelumnya hal ini…, Oom sangat baik terhadap Shinta entah bagaimana caranya saya membalas kebaikan Oom”, dan terasa air matanya menetes di pipiku.

Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan Shinta telentang dan kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa air matanya dan segera kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan ke hidungnya dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya. Karena Shinta masih tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan-lahan kugeser ciumanku ke arah bibirnya, dan tiba-tiba saja Shinta menerkam dan memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup.

Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke dalam mulutnya dan Shinta mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badannya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat di atas buah dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta Shinta bukan saja mencium bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu persatu kancing baju SMU-nya berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus tertutup BH putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar.

Cerita Sex Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan kanannya, Shinta kelihatannya tetap diam dan malah membantu dengan membengkokkan tangannya. filmbokepjepang.net Setelah berhasil melepas baju dari tangan kanannya, segera kucari kaitan BH-nya di belakang dan dengan mudah kutemukan serta kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman, kadang dibibir dan sesekali di seluruh wajah bergantian.

BH-nya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan ketika kusingkap BH-nya, tersembul b*******a Shinta yang ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan p****g susunya berShintana kecoklatan. Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan p******a kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus ke bawah dan sesampainya di payudaranya, kujilati p******a Shinta yang menantang itu dan sesekali kuhisap p****g susunya, sementara Shinta meremas-remas rambutku seraya terdengar suara lirih, “aahh…, aahh…, ooomm…, ssshh…, aahh”.

Aku paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta merta penisku semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap p******a Shinta, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah badan Shinta Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah.

Sambil masih tetap menjilati p******a Shinta, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus, badan Shinta terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara Shinta mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera kulepas. Bersambung...

Tuesday, October 7, 2025

Cerita Sex: Manisnya Teman SMP ku yang Gila Seks

Diary Cerita Sex ku Pengalaman Ku Memiliki Sahabat SMP Yang Edan Sex– Pada waktu itu saya masih duduk di SMP kelas III, sempat terjalin peristiwa yang sangat mengasyikan serta lebih baik ini jangan ditiru. Pada waktu di SMP, saya tercantum anak yang lumayan bandel serta sekolahku itu juga ialah sekolah yang banyak menampung para anak anak bandel, sehingga tanpa kusadari saya juga dapat dibilang cukup lebih banyak nakalnya dari pada baiknya. itu terdapat seseorang sahabat sekelasku yang bernama Stephanie. Stephanie memanglah wanita yang sangat dekat dengan laki- laki serta populer sangat nakal pula bandel. Tidak tidak sering sahabat sahabat juga merumuskan kalau ia wanita binal, sebab ia berpenampilan agak seronok dibanding sahabatnya, ialah dengan pakaian sekolah yang tidak dimasukkan ke dalam, melainkan cuma diikat antar ujung kain serta memakai rok yang sangat sedikit serta pendek, ialah satu telapak tangan dari lutut.


Fanni seseorang wanita yang lumayan manis dengan identitas besar yang pada waktu itu dekat 160 centimeter, berat tubuh 45 kilogram dengan kulit putih dan wujud wajah yang oval. Fanni mempunyai rambut sebahu, gelap tebal, pokoknya oke memiliki tuh doi. Sehabis bel kelas berbunyi yang tandanya masuk belajar, seluruh murid murid masuk ke kelas. Namun anehnya, 4 anak yang terdiri dari 3 laki- laki serta 1 wanita itu masih mengobrol di luar kelas yang tempatnya tidak jauh dari Toilet, serta kayaknya terjalin kesepatan diantara mereka. Sehabis pelajaran kedua berakhir, temanteman laki- laki yang bertiga itu memohon ijin keluar buat ke Toilet kepada guruku yang mengajar di pelajaran ketiga, sehingga membuatku curiga. Di dalam hatiku saya bertanya,“ Apa yang hendak mereka perbuat..?” Tidak lama sehabis sahabat sahabat laki- laki memohon ijin ke Toilet tadi, malah Fanni juga memohon ijin kepada guru yang kebetulan guru pelajaran Bahasa Indonesia yang cukup boring.


Rasa penasaranku kian meningkat serta sahabat temanku pula terdapat yang bertanyatanya menimpa apa yang hendak mereka perbuat di Toilet. Sebab saya tidak bisa menahan rasa penasaranku, kesimpulannya saya juga memohon ijin buat ke Toilet dengan alibi yang tentu. Saat sebelum hingga di Toilet kulihat sahabat sahabat laki- laki kelasku yang bertiga itu kelihatannya lagi menunggu seorang. Tidak lama setelah itu nampak Fanni mengarah tempat sahabat sahabat laki- laki tersebut serta mereka bersama- sama masuk ke kamar Toilet secara bertepatan. Rasa penasaranku mulai meningkat, sehingga saya mendekati kamar Toilet yang mereka masuki. Terdengar suara keributan semacam perebutan santapan di ruangan tersebut. Kesimpulannya saya masuk ke kamar Toilet, secara perlahanlahan kubuka pintu kamar Toilet yang bersampingan dengan kamar Toilet yang mereka masuki, sehingga obrolan serta perbuatan mereka bisa terdengar dengan jelas olehku.“ Hai Tun, Sep, siapa yang hendak duluan..?” tanya Iwan kepada mereka. Dijawab dengan serentak dari mulut Fanni seseorang wanita, ia menanggapi dengan nada menantang,“ Mari.., siapa saja yang hendak duluan.

Cerita Sex: Manisnya Teman SMP ku yang Gila Seks


Saya mampu kok kalaupun kamu langsung bertiga..!” Saya bingung, apa sih yang mereka perundingkan, sampaisampai silih menunjuk serta menantang semacam itu. Tetapi saya senantiasa terdiam membisu sembari mencermati kembali, apa yang hendak terjalin. Sehabis itu, tidak lama setelah itu Toni menanggapi dengan nada ringan,“ Yah udah, jika begitu Kita bertiga bareng bareng ajah. Supaya rame..!” katanya. Langsung disambut perkataan Toni tersebut oleh Ika,“ Mari cepetan..! Nanti keburu kembali sekolah.” Serta kesimpulannya Utun juga berucap,“ Mari Kita mulai..!” Sehabis itu tidak terdengar suara obrolan mereka lagi, namun terdengar suara reslueting yang kayaknya dibuka serta pula suara orang membuka pakaian. Tidak lama setelah itu terdengar suara riang mereka bertiga dengan perkataan menanyakan pada Fanni,“ Hey Fanni.., Siapa sih yang sangat besar perlengkapan kelamin Kami bertiga ini..?” Fannipun menanggapi dengan nada malumalu,“ Kayanya sih Utun yang sangat gede, gelap lagi.” dengan sedikit nada menyindir serta langsung dijawab oleh Utun,“ Hey Ka..! Cepetan buka tuh pakaian Kalian, supaya cepet asyik sang Joni, Kita nih enggak kokoh lagi..!” Sehabis terdengar Fannimembuka bajunya, tidak lama setelah itu terdengar suara temanteman laki- laki bertiga, Utun, Asep, Iwan dengan nada ganas,“ Wauw.., benar benar body Kalian Fanni, kaya gadis turun dari langit..!” Tidak lama setelah itu Toni bertanya pada Fanni,“ Fanni.., jika Saya boleh tidak meraba buah dadamu ini yang bagaikan mangkuk mie ini Fanni..?” Fannipun menanggapi dengan nada enteng,“ Yah sok aja, yang berarti jangan dirusak ajah..!” Utun juga kayaknya tidak ingin kalah dengan Asep, ia juga bertanya,“ Fanni.., Saya bolehkan memasukkan perlengkapan kelaminku ke lubang gua rawamu ini kan Ka..?” sembari meraba- raba perlengkapan kelamin Ika. Fanni juga menanggapi dengan nada menekan, sebab perlengkapan kelaminnya kayaknya lagi diraba- raba oleh Utun,“ Aahh.. uhh.. boleh Tun.. asal jangan sangar yah tun..!” Serta terakhir terdengar suara Iwan yang tidak ingin kalah pula,“ Fanni.., Saya boleh kan menciumimu mulai dari bibir sampai lehermu Ka.., boleh kan..?” Fannimenjawab dengan nada semacam kesakitan,“ Awww.. Uuuhh.. iyaiya, boleh deh seluruhnya..!” Suarasuara tersebut terdengar olehku di samping kamar Toilet yang mereka isi, yang mayoritas suarasuara tersebut membuat aku risih mencermatinya, semacam,“ Aaahh.. eehh.. aawww.. eheh.. owwoowww.. nikmat..!” Serta tidak lama setelah itu terdengar suara Fanni,“ Kamu jangan sangat nafsu dong..!” kata Fannikepada temanteman laki- laki tersebut,“ Sebab Saya kan sendirian.., sebaliknya Kamu bertiga enggak sebanding dong..!” Namun mereka bertiga tidak menanggapi perkataan Fannitersebut, serta kesimpulannya terdengar suara jeritan kesakitan yang cukup keras dari Ika,“ Aaawww.., sakit..!” Fanni setelah itu melanjutkan dengan perkataan,“ Aduh Tun.., Kalian udah memperoleh keperawanan Aku..!” Dijawab dengan kilat oleh Utun,“ Gimana Ka..? Hebatkan Aku.” Sehabis itu Utun juga mendesah semacam kesakitan,“ Adu.. aduh.., kayanya perlengkapan kelaminku baret deh serta hendak menghasilkan cairan penyubur.” kata- katanya diperuntukan kepada temantemannya.


Tidak lama setelah itu Iwan bertanya kepada Ika,“ Fanni saya bosan hanya menyiumi Kalian aja Fanni.., Saya kan kepingin pula kaya Utun..!” Iwan juga langsung bertukar posisi, yang anehnya posisi Iwan tidak sama semacam yang dicoba Utun, ialah memasukkan perlengkapan kelaminnya ke lubang pembuangan( anus) dari balik, sehingga Fannitidak lama setelah itu menjerit kedua kalinya.“ Aaawww.. Iiihh.. nyeri ketahui Wan..! Kalian sih salah jalan..!” rintih Fannimenahan sakit. Namun kayaknya Iwan tidak menghiraukan perkataan Ika, serta terus saja Iwan berupaya mau semacam Utun, hingga perlengkapan kelaminnya menggapai klimaks serta menghasilkan cairan penyejuk hati. Cuma berlangsung sebentar, Iwan juga menjerit kesakitan serta perlengkapan kelaminnya juga dikeluarkan dari lubang pembuangan dengan berkata,“ Aaahh.., uuhh.., uuhh.., enaak Fanni, makasih. Kalian hebat..!” Toni yang setia cuma meraba- raba buah dada Stephani edan sekali- kali menggigit buah dada Ika.


Namun nyatanya kesimpulannya Toni bosan serta mau semacam kedua temannya yang menghasilkan cairan penyubur tersebut sembari mengatakan,“ Fanni.., Saya pula ingin kaya mereka dong, mari Ka..! Kita mainkan..” Fannimenjawab dengan nada lemas,“ Aduh Sep..! Kayanya Saya udah letih Sep, sorry yah Sep..!” Kesimpulannya Toni jengkel pada Fannidan langsung saja Toni menarik tangan Fannikepada perlengkapan kelaminnya dengan menyodorkan perlengkapan kelaminnya.“ Fanni.., pokoknya Saya enggak mo ketahui.., Saya pinggin kaya mereka berdua..!” Fannimenjawab dengan nada lemas,“ Aduh Sep.., gimana yah, Saya benar benar lemas Sep..!” Saya senantiasa terdiam di kamar Toilet tersebut. Terdapat dekat 45 menit bersinambung, serta saya juga berpikir apakah bisa jadi mereka berbuat oral seks sebab masih duduk di SMP. Perihal ini mendesak rasa penasaran tersebut buat memandang apa yang sesungguhnya terjalin. Kesimpulannya saya bisa memandang mereka dari atas, sebab kamar Toilet di sekolahku pada waktu itu tembok pembaginya tidak tertutup hingga dengan atas langit, sehingga saya bisa memandang mereka berempat. Sebab jengkel akibat Toni tidak dipadati permintaannya, kesimpulannya Toni menarik kepala Fannike depan perlengkapan kelaminnya yang telah mengencang tersebut. Toni mengatakan dengan nada mengecam kepada Fanni,“ Mari Fanni..! Kalo gitu kelomohi perlengkapan kelaminku sampai Saya merasakan enaknya semacam mereka..!” Sehabis berupaya memanjat buat memandang adgean secara langsung, saya bisa memandang dengan jelas. Fanniseorang wanita langsung saja mengerjakan apa yang disuruh oleh Asep, sebaliknya temannya yang berdua lagi, Utun serta Iwan duduk di lantai, tergeletak menahan rasa lezat bercampur sakit yang mereka rasakan tersebut. Tidak berlangsung lama, Toni mengatakan kepada Ika,“ Fanni.., ahh.. aah.. awas Fanni..! Saya hendak mengirimkan cairan penyuburku yang hebat ini..!” Kulihat Fannilangsung menyopotkan perlengkapan kelamin Toni dari mulutnya, serta nampak raut wajah Fanniyang sayu serta sendu bercampur gembira sebab bisa duit serta pilu sebab keperawanannya telah lenyap oleh mereka bertiga.


Bawah Toni lagi jengkel, Toni menyemprotkan cairan penyuburnya kepada Fannidan kedua temannya dengan mendesis kesakitan terlebih dulu.“ Aaahh.., uuhh.., Awas cairan penyuburku ini diterima yah..!” kata Toni sembari tangannya senantiasa mengocokkan penisnya. Kulihat Toni menyempotkan cairan penyubur itu dari perlengkapan kelaminnya secara agresif. Sehabis terdapat 15 menit sehabis Toni menghasilkan cairan penyuburnya, kulihat mereka langsung berpakaian kembali sehabis mereka menyopotkan bajubaju mereka hingga tidak tersisa sehelai kain juga. Saat sebelum mereka keluar, saya langsung kilat keluar dari kamar mandi tersebut secara perlahanlahan supaya tidak terdengar oleh mereka. Setelah itu saya mengarah ke kelas yang sudah mengawali pelajarannya dari tadi. Cuma berselang sebagian menit, mereka masuk ke kelas seorangseorang supaya tidak ketahuan oleh guru kami.


Hari itu tidak terasa lama hingga bel keluar sekolah berbunyi. Kulihat mereka bertiga sahabat cowokku, Asep, Iwan, Utun sedikit letih, semacam kehilangan napas serta anehnya mereka berjalan semacam kehilangan tenaga. Sebab saya suka iseng ke temen, saya langsung bertanya kepada mereka bertiga,“ Hey Kamu kayanya pada lemes banget. Habis ngebuat su.., sumur yah..?” Langsung dijawab dengan enteng oleh perwakilan mereka bertiga, ialah Asep,“ Iya Bie, lezat ketahui kalo ngegali sumur tersebut dengan ramerame..!”“ Ohh gitu yah..?” jawabku dengan tersenyum sebab ketahui apa yang mereka perbuat tadi. Tidak jauh dari tempatku berdiri, kulihat Fanniberjalan sendirian dengan memegang tas kantongnya yang tiap hari tasnya senantiasa di atas pundaknya. Saat ini cuma dibawa dengan metode dijingjing olehnya. Langsung saja saya memanggilnya,“ Fanni


tunggu..!” Fanni menjawab dengan nada lemas,“ Terdapat apa Bie..?” Sebab saya pula mau iseng padanya, kulangsung bertanya,“ Fanni.., kayanya Kalian kecapean. Habis tertembak peluru nyasar yang menghajarmu, ya Fanni..?” Fannipun menanggapi dengan nada jengkel, bisa jadi apalagi tersindir,“ Yah.. Bie.., bukan peluru nyasar, tetapi burung gagak yang nyasar melanda sarang tawon serta goa Hiro, ketahui..!” Mendengar nadanya yang tersinggung, saya langsung memohon maaf kepada Ika.“ Fanni.., maaf.


Kok gitu aja dikira sungguh- sungguh, maaf yah Ka..?” kataku menenangkannya sembari tersenyum bersahabat. Sebab saya penasaran, saya langsung menyerempet menyerempet supaya terpepet.“ Fanni.., boleh enggak Fanni, Saya coba masuk ke goa Hiro tersebut..? Kayanya sih asyik.. dapat terbang kaya burung..!” pintaku sembari tertawa pelan. Sebab Fannisudah jengkel serta letih, Fannimenjawab,“ Apa sih Kalian Bie..? Kalian ingin goa Aku, nanti dong antri.., masih banyak burung yang ingin masuk ke goaku, ketahui..!” Serta kesimpulannya saya tertawa dengan rasa bahagia.


Efek Ekspedisi Dinas Terbaru


Cecilia merupakan salah seseorang manager pada bagian Treasury di suatu bank asing. Cecilia berusia 28 tahun, ia merupakan seseorang Sunda yang berasal dari wilayah Bogor. Cecilia sudah bersuami serta memiliki seseorang anak yang baru berusia 7 tahun. Badan Cecilia apat dikatakan kurus dengan besar tubuh kurang lebih 163 centimeter, dengan berat tubuhnya kurang lebih 49 kilogram. Buah dadanya berdimensi kecil namun padat, pinggangnya sangat ramping dengan bagian perut yang datar. Kulitnya kuning langsat dengan raut muka yang manis. Setibanya di Semarang, sehabis check in di hotel mereka langsung mengadakan kunjungan pada sebagian nasabah, yang dicoba hingga dengan sehabis makan malam. Sehabis berakhir berurusan dengan nasabah, mereka kembali ke hotel, dimana Andi serta Anita melanjutkan kegiatan mereka dengan duduk- duduk di bar hotel sembari mengobrol serta minum- minum. Cecilia pada awal mulanya diajak pula, tetapi sebab merasa sangat letih, serta di samping itu dia pula merasa tidak lezat mengusik mereka, hingga dia lebih dahulu kembali ke kamar hotel buat tidur. Menjelang tengah malam, Cecilia seketika terbangun dari tidurnya, perihal ini diakibatkan sebab dia merasa tempat tidurnya bergerak- gerak serta terdengar suara- suara aneh. Dengan lambat- laun Cecilia membuka matanya buat mengintip apa yang terjalin. Hatinya terkesiap memandang Andi serta Anita lagi bergumul. Keduanya terletak dalam kondisi polos sama sekali. Anita yang bertubuh kecil itu, lagi terletak di atas Andi semacam seperti seorang yang lagi menunggang kuda, dengan pantatnya yang naik turun dengan kilat. Dari mulutnya terdengar suara mendesis yang tertahan,


“ Ssshhh…, sshhh…”, sebab bisa jadi khawatir membangunkan Cecilia. Kedua tangan Andi lagi meremas- remas kedua buah dada Anita yang kecil namun padat berisi itu. Cecilia sangat panik serta terletak dalam posisi yang serba salah. Jadi ia cuma dapat terus berlagak semacam lagi tidur. Cecilia mengharapkan mereka kilat berakhir serta Andi lekas kembali ke kamarnya. Esok ia hendak menegur Anita supaya tidak melaksanakan perihal semacam itu lagi di kamar mereka. Sepatutnya mereka bisa melaksanakan perihal itu di kamar Andi sehingga mereka bisa melaksanakannya dengan leluasa tanpa tersendat oleh siapa juga. Dari bau whisky yang tercium, warnanya keduanya masih terletak dalam kondisi mabuk. Cecilia berupaya keras buat bisa tidur kembali, meski sesungguhnya dia merasa sangat tersendat dengan gerakan serta suara- suara yang ditimbulkan oleh mereka.


Pada dikala Cecilia mulai terlelap, seketika dia merasakan suatu lagi merayap pada bagian pahanya. Cecilia sangat kaget serta badannya mengejang, sebab pada dikala ia perhatikan, nyatanya tangan kanan Andi lagi berupaya buat mengusap- ngusap kedua pahanya yang masih tertutup selimut. Cecilia berpura- pura masih terlelap serta berupaya mengintip apa yang sesungguhnya lagi terjalin. Warnanya game Andi serta Anita telah berakhir serta Anita dalam kondisi keletihan dan hadapi kepuasan yang baru dinikmatinya, telah tergolek tidur. Andi yang masih terletak dalam kondisi polos dengan posisi tubuh separuh tidur disamping Cecilia, sembari bertumpu pada siku- siku tangan kiri, tangan kanannya lagi berupaya menyingkap selimut yang dipakai Cecilia. Cecilia jadi sangat panik, pada awal mulanya ia hendak bangun serta menegur Andi buat menghentikan perbuatannya, hendak namun di pihak lain ia merasa tidak lezat sebab tentu hendak membuat Andi malu, sebab dipikirnya Andi melaksanakan perihal itu lebih diakibatkan sebab Andi masih terletak dalam kondisi mabuk. Kesimpulannya Cecilia memutuskan buat senantiasa berpura- pura tidur dengan harapan Andi hendak menghentikan kegiatannya itu. Hendak namun harapannya itu nyatanya percuma belaka, apalagi secara lambat- laun Andi bangkit serta duduk di samping Cecilia. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi badan Cecilia dengan lambat- laun serta dari mulutnya menggumam lama- lama,“ Psssttt sayang, ayo kubantu menikmati suatu yang baru…, nih.., kubantu membebaskan celana dalammu…, tidak baik jika tidur gunakan celana dalam”, sembari tangannya yang sebelumnya mengelus- elus bagian atas paha Cecilia bergerak naik serta memegang tepi celana dalam Cecilia, setelah itu menariknya dengan lambat- laun ke dasar meluncur di antara kedua kaki Cecilia. Tubuh Cecilia jadi kaku serta ia tidak ketahui wajib berbuat gimana.


Cecilia seakan- akan berganti jadi arca, pikirannya jadi hitam serta matanya dirasakannya berkunang- kunang. Andi memandang kedua gundukan bukit kecil dengan belahan kecil di tengahnya, yang ditutupi oleh rambut gelap kecoklatan halus yang tidak sangat rimbun di antara paha atas Cecilia. Jari- jari Andi membuka satu persatu kancing daster Cecilia, sembari tangannya bergerak terus ke atas serta saat ini dia menyingkapkan segala selimut yang menutupi badan Cecilia, sehingga terlihatlah buah dada Cecilia yang membukit kecil dengan putingnya yang kecil bercorak coklat tua. Saat ini Cecilia tergolek dengan badannya yang tanpa busana, tungkai kakinya yang panjang serta pantat yang penuh berisi, dan buah dada yang kecil padat serta belahan di antara paha atas yang membukit kecil, betul- betul sangat memicu nafsu birahi Andi. Andi telah tidak mampu menahan nafsunya, penisnya yang baru saja terpuaskan oleh Anita, saat ini bangkit lagi, tegang serta siap tempur. Semenjak dikala itu Andi berniat buat tidak hendak melepaskan Cecilia. Dia sangat berharga buat di perkenankan, Andi hendak menikmati badan Cecilia berulang- ulang pada malam ini. Kemolekan badan Cecilia sangat sayang buat ditaruh oleh Cecilia sendiri pikir Andi. Andi mendesak badan Cecilia serta mulai meremas- remas buah dada Cecilia yang sudah terbuka itu,


“ Dengerin sayang, you hendak aku ajarin menikmati suatu yang nikmat, asal you baik- baik nurutin apa yang hendak aku tunjukkan”. Pemahaman Cecilia mulai kembali secara lambat- laun serta dengan badan gemetar Cecilia lambat- laun membuka matanya serta mencermati Andi yang lagi merangkak di atasnya. Cecilia berupaya mendesak tubuh Andi sembari mengatakan,“ Andi, apa yang lagi kau jalani ini?”,“ Sadarlah Andi, saya khan telah bersuami, jangan kau teruskan perbuatanmu ini!”. Sebab menyangka Andi terletak dalam kondisi mabuk, Cecilia berupaya membujuk serta menggugah pemahaman Andi. Hendak namun Andi yang sudah sangat terangsang memandang badan Cecilia yang molek halus lembut serta bugil di depan matanya mana ingin paham, terlebih penisnya sudah dalam kondisi sangat tegang.“ Edan! Cakep banget! Amati buah dadamu, padat banget. Sesuai sama seleraku! You emang pinter melindungi badanmu, sayang!”, kata Andi sembari memencet badannya ke badan Cecilia.


Cecilia berupaya bangun berdiri, hendak namun tidak dapat serta ia tidak berani sangat berperan agresif, sebab khawatir Andi hendak membalas berlaku agresif padanya.


Sebaliknya dalam letaknya itu saja dia telah tidak terdapat lagi mungkin buat lari.


Sembari menjilat bibirnya Andi tiduran di sisi Cecilia.“ Lin, lebih baik you menjajaki kemauanku dengan manis, jika tidak aku hendak maksa you serta aku perkosa you habis- habisan. Jika you nurutin, you hendak merasakan kenikmatan serta tidak hendak sakit”. Kemudian tangannya ditangkupkan di buah dada Cecilia, sembari meremas- remasnya dengan sangat bernafsu, sembari merasakan kehalusan serta kepadatan buah dada Cecilia.“ Bodi you oke banget!”, kata Andi.“ Coba you berbalik Cecilia!”. Lambat- laun dengan perasaan yang putus asa Cecilia berbalik membelakangi Andi. Serta dirasakanya tangan Andi saat ini terdapat di pantatnya meremas serta meraba- raba. Setelah itu Andi menyibakkan rambut Cecilia, serta dihirupnya leher Cecilia dengan hidungnya sedangkan lidahnya menelusuri leher Cecilia. Sembari melaksanakan perihal itu tangan Andi berpindah mengarah kemaluan Cecilia. Pada bagian yang membukit itu, tangannya bermain- main, mengelus- elus serta menekan- nekan, sembari mengatakan,“ Kasihan you, Cecilia, tentu suami you tidak ketahui metode membahagiakan you?”,


“ Tetapi tenang aja sayang, dengan aku, you tidak bakalan dapat kurang ingat seumur hidup, you bakalan merasakan gimana jadi perempuan sejati!”. Sembari memutar kembali badan Cecilia.


Sehabis itu Andi mengambil tangan Cecilia serta meletakkannya di kemaluannya yang sudah sangat tegang itu. Kala merasakan tangannya memegang barang hangat yang besar lagi keras itu, badan Cecilia tersentak, belum pernah Cecilia bisa berpikir dengan jelas, terasa tubuhnya sudah ditelentangkan oleh Andi serta dengan kilat Andi sudah berjongkok di antara kedua kakinya yang dengan paksa terkangkang akibat tekanan lutut Andi. Dengan sebelah tangannya menuntun penisnya yang besar, Andi kemudian melekatkan ujung penisnya ke bibir Miss V Cecilia,“ Apa you ingin aku masukin itu?”,


“ Aaahhh…, jangaaann…, jaaangaaann…, Toomm…”, Cecilia dengan suara mengiba- iba masih berupaya berupaya membatasi hasrat Andi.


Cecilia berupaya mengeser pinggulnya ke samping, berupaya menjauhi penis Andi supaya tidak bisa menerobos masuk ke dalam liang kewanitaannya.


Sembari tersenyum Andi mengatakan lagi,


“ You tidak bisa kemana- mana lagi, lebih baik you diam- diam saja serta menikmati game aku ini..!”. Andi kemudian memajukan pinggulnya dengan kilat serta memencet ke dasar, sehingga penis besarnya yang sudah melekat pada bibir kemaluan Cecilia dengan kilat menerobos masuk ke dalam liang Miss V Cecilia dengan tanpa bisa dihalangi lagi.


Testis Andi mengayun- ayun menampar bagian dasar Miss V Cecilia, sedangkan Cecilia megap- megap sebab dorongan keras Andi. Cecilia belum sempat merasakan dikala semacam ini, tiap bagian badannya serasa sangat sensitif terhadap rangsangan. Buah dadanya terangsang dikala ditindih oleh dada Andi. Dirinya telah kurang ingat jika lagi diperkosa, dia tidak hirau pada badan besar Andi yang lagi bergerak naik turun menindih badannya yang ramping. Cecilia mulai merasakan sesuatu sensasi kenikmatan yang menggelitik di bagian dasar badannya, vaginanya yang sudah terisi oleh penis besar serta panjang kepunyaan Andi, terasa menggelitik serta menyebar ke segala badannya, sehingga Cecilia cuma dapat menggeliat- geliat serta mendesis mirip orang kepedasan. Cecilia cuma berupaya menikmati segala rasa nikmat yang dialami badannya. Saat ini Cecilia berupaya buat berupaya aktif dengan turut menggerakkan pinggulnya menjajaki irama gerakan Andi di atasnya. Andi memandang Cecilia mengerang, merintih serta mengejang tiap kali dia bergerak. Serta Cecilia telah mulai terbiasa menjajaki gerakannya. Andi merasakan tangan Cecilia merangkul erat pada punggung bawahnya mengelus- elus ke dasar serta meremas- remas pantatnya dan menariknya ke depan supaya terus menjadi merapat pada badan Cecilia. Andi terus menggosok- gosokkan penisnya pada klitoris Cecilia. Andi saat ini mau membuat Cecilia orgasme terlebih dulu. Cecilia terus menjadi terangsang serta tidak terkontrol lagi tiap kali bagian badannya bergerak menjajaki tekanan serta sodokan Andi, saat ini mukanya terbenam di dada bidang Andi, mulutnya megap- megap semacam ikan terdampar di pasir, dengan lambat- laun mulutnya beralih pada dada Bossnya serta sembari terus menjilat kesimpulannya datang pada puting susu Andi. Saat ini Cecilia secara refleks mulai menyedot serta menghirup puting susu Andi, sehingga tubuh Andi mulai bergetar pula saking merasa nikmatnya. Penis Andi terasa terus menjadi keras, sehingga Andi terus menjadi ganas saja menggerakkan pantatnya memencet pinggul Cecilia dalam- dalam. Cecilia merasakan vaginanya berkontraksi, sembari berupaya menahan rasa geli yang tidak terlukiskan menggelitik segala bilik liang kemaluannya serta menjalar ke segala badannya. Perasaan itu kian lama kian kokoh menguasainya sehingga seakan- akan menutupi kesadarannya serta membawanya melayang- layang dalam kenikmatan yang tidak sempat dialaminya sepanjang ini serta tidak bisa dilukiskan maupun dijabarkan dengan perkata. Kenikmatan yang dirasakan Cecilia tercermin pada gerakan badannya yang meronta- ronta liar tanpa terkontrol bagaikan ikan yang menggelepar- gelepar terdampar di pasir. Desahan panjang penuh kenikmatan keluar dari mulutnya yang mungil,


“ Ooohhhh…., aagghh…, adduhhh..!”. Kedua pahanya melingkari pantat Andi serta dengan kokoh menjepit dan memencet ke dasar, diiringi badannya yang mengejang serta kedua tangannya mencengkeram alas tempat tidur dengan kokoh, betul- betul sesuatu orgasme yang dahsyat sudah menyerang Cecilia. Andi merasakan penisnya terjepit dengan kokoh oleh bilik kemaluan Cecilia yang berdenyut- denyut diiringi isapan kokoh seakan- akan hendak menelan batang penisnya. Terasa benar jepitan bilik Miss V Cecilia serta di ujung situ terasa terdapat“ tembok” yang mengelus kepala penisnya. Sehabis istirahat sejenak serta memandang Cecilia telah agak tenang, Andi mulai memompa lagi. Pompaan Andi kali ini lekas dibalas oleh Cecilia, pinggulnya bergerak- gerak“ aneh” tetapi efeknya luar biasa. Penis Andi serasa dilumat dari pangkal hingga kepalanya. Kemudian masih ditambah dengan alterasi, kala pinggul Cecilia menyudahi dari gerakan aneh itu, seketika Andi merasakan penisnya terjepit dengan kokoh serta dinding- dinding kemaluan Cecilia berdenyut- denyut secara tertib, dekat 4- 5 kali denyut menjepit, baru setelah itu bergoyang aneh lagi.


Wah, sesuatu sensasi menyerang perasaan Andi, sesuatu ikatan kelamin yang belum sempat dinikmatinya dengan perempuan manapun pula sepanjang ini. Menyesal Andi sebab tidak dari dulu- dulu menikmatinya. Gerakan aneh di dalam liang kemaluan Cecilia kian bermacam- macam. Terkadang Andi malah memohon Cecilia menyudahi bergoyang buat hanya menarik napas panjang. Lumatan bilik kemaluan Cecilia pada penis Andi buatnya geli- geli serta serasa hendak‘ meledak’. Andi tidak mau cepat- cepat hingga, sebab masih mau menikmati. Cerita Seks.


“ elusan” Miss V Cecilia. Namun gerakan- gerakan di dalam liang kewanitaan Cecilia terus menjadi merajalela serta terus menjadi liar. Sampai kesimpulannya Andi wajib menyerah, tidak sanggup menahan lebih lama lagi perasaan nikmat yang melandanya, terus menjadi kilat Andi bergerak mengimbangi goyangan pinggul Cecilia, terus menjadi terasa pula rangsangan yang hendak meletupkan lahar panas yang lagi mengarah klimaks, mendaki puncak, saat- saat yang sangat nikmat. Serta kesimpulannya, pada tusukan yang terdalam, Andi menyemprotkan maninya kuat- kuat di dalam liang kewanitaan Cecilia, sembari mengejang, melayang, bergetar. Pada detik- detik dikala Andi melayang tadi, seketika kaki Cecilia yang pada awal mulanya mengangkang, diangkatnya serta menjepit pinggul Andi kuat- kuat. Amat sangat kokoh. Kemudian badannya turut mengejang sebagian detik, mengendor serta terus mengejang lagi, lagi serta lagi…, Cecilia juga tidak mampu menahan dorongan orgasme yang melandanya lagi, punggungnya melengkung ke atas, matanya terbeliak- beliak, dan totalitas badannya bergetar dengan hebat tanpa terkontrol, bersamaan dengan meledaknya kenikmatan orgasme di vaginanya. Orgasme kedua dari Cecilia.“ Toommm, aduuuh, Toomm, aahhhhh…, aaduuhh…, nikmaaatt.., Toomm….!”. Andi tersenyum puas memandang badan Cecilia terguncang- guncang sebab orgasme sepanjang 15 detik tanpa henti- hentinya. Setelah itu tangan Cecilia dengan eratnya memencet pantat Andi ke arah selangkangannya sembari kakinya menggelepar- gelepar ke kiri kanan. Andi juga terus menggerakkan penisnya buat menyikat klitoris Cecilia. Sehabis orgasmenya berakhir, badan Cecilia langsung terkulai lemas tidak berdaya, terkapar, dengan kedua tangan serta kakinya terbentang melebar ke kiri kanan. Cecilia merasa bagian- bagian badannya seakan terlepas serta tubuhnya tidak bisa digerakkan sama sekali. Sehabis gelombang dahsyat kenikmatan yang melandanya surut, Cecilia kembali ke alam nyata serta menyadari kalau ia lagi terkapar di dasar tindihan tubuh perkasa lelaki bule berkulit putih yang bukan suaminya yang baru saja membagikan kepuasan yang tiada tara padanya. Sesuatu perasaan malu serta menyesal melandanya, gimana ia dapat begitu mudah ditaklukkan oleh lelaki tersebut. Tanpa terasa air mata penyesalannya bergulir keluar serta Cecilia mulai menangis tersedu- sedu. Dengan badannya yang masih menghimpit tubuh Cecilia, Andi berupaya membujuknya dengan membagikan bermacam alibi antara lain sebab dia sangat banyak minum sehingga tidak bisa mengendalikan dirinya. Sembari membujuk serta mengelus- elus rambut Cecilia dengan lambat- laun penisnya mulai tegang lagi serta dengan halus penisnya yang memanglah sudah terletak pas di depan kemaluan Elis ditekan lambat- laun supaya masuk ke dalam kewanitaan Cecilia. Pada dikala merasakan penis Andi mulai menerobos masuk ke dalam kewanitaannya, Cecilia bereaksi sedikit dengan berupaya memberontak lemah tetapi kesimpulannya diam pasrah serta membiarkan penis besar tersebut masuk seluruhnya ke dalam liang kewanitaannya. Dengan lambat- laun Andi menggerakkan tubuhnya naik- turun, sehingga lama- kelamaan badan Cecilia mulai terangsang kembali serta bereaksi, serta pergumulan kedua insan tersebut terus menjadi lama terus menjadi seru mendaki puncak kepuasan serta kenikmatan, terlupa hendak seluruh penyesalan. Pertarungan mereka terus bersinambung selama malam serta baru menyudahi menjelang fajar menyingsing keesokan harinya. Jam 10 pagi keduanya baru terbangun serta nampak Anita sudah berpakaian apik, lagi menikmati makan pagi paginya sembari mengerling ke arah mereka dengan senyum- senyum rahasia. Pada mulanya Cecilia merasa sangat malu terhadap Anita, tetapi memandang respon Anita yang semacam itu, seakan- akan mengajak bersekutu, kesimpulannya Cecilia. Demikian lah Cerita Seks Pengalaman Ku Memiliki Sahabat SMP Yang Edan Sex oleh Cerita sex hot