Showing posts with label cerita seks cewek salon. Show all posts
Showing posts with label cerita seks cewek salon. Show all posts

Saturday, December 13, 2025

Kisah Tono Birahi dan Ngeseks Bersama Tante Aya

Cerita Seks – “Koran.. Koran ya Koran.. Pempek ya pempek.. Pempek Koran..”

Aya memicingkan telinganya mendengar suara tersebut. Di siang hari seperti itu memang tak jarang ada penjual yang masuk kedalam komplek menjajakan barang dagangan. Pengalaman Aya selama 10 tahun tinggal disana, ia sudah hapal mana-mana saja penjaja makanan atau barang yang lewat di muka rumahnya. Namun kali itu Aya merasa tidak familiar dengan suara tersebut. Iseng, Aya pun berjalan kedepan dan melongok keluar.

“Dek, sini masuk.”

Aya melambaikan tangannya memanggil si penjual tersebut. Dan memang benar tebakannya, ia baru kali ini melihat si pemuda penjaja koran ini di sekitaran komplek.

“Jualan apa, Dek?”
“Koran bu, tabloid, semua ada.”
“Oh.. itu apa di dalam?”
“Pempek bu. Masih hangat bu baru digoreng.”



Aya mengangguk-angguk sembari memandangi si pemuda tanggung tersebut mengeluarkan koran-korannya di pelataran teras rumah agar Aya bisa pilih.“Kok saya baru lihat kamu dek. Biasanya yang dagang koran ada lagi langganan saya yang sudah tua. Pak Romli kalo ga salah namanya.”

“Iya bu, itu paman saya. Beliau sakit semenjak awal bulan, jadi tidak bisa dagang.” Jawab si pemuda itu singkat. Aya menerka-nerka umurnya mungkin sepantaran dengan anaknya yang paling sulung.
“Oh, sakit apa dia pak romli? Parah sakitnya?”
“Sakit gula bu, sekarang paman hanya tidur saja dirumah. Saya yang bantu jualan koran juga.”
“Astaghfirullah, semoga sehat-sehat saja ya Pak Romli. Nama kamu siapa, nak?” Tanya Aya melembut.
“Saya Tono, bu.” Jawab Tono sopan.
“Kamu kelas berapa? Masih sekolah?”

Tono menggeleng malu-malu.

“Saya terakhir lulus SMP tahun 2 tahun lalu bu. Tadinya hanya jualan pempek sepulang sekolah, bantu-bantu paman dan adik-adik sepupu saya yang masih kecil-kecil. Tapi sekarang saya full jualan pempek saja di sekitar pasar pagi. Sekarang Karena paman sakit, saya juga jualan koran.” Ujar Tono bercerita dengan polosnya.

“Orangtua kamu kemana?”

Tono lagi-lagi menggeleng malu-malu. Luluh rasanya hati Aya, apalagi terbayang apabila anak-anaknya harus menjalani hidup seperti Tono. Bulat hati Aya ingin meringankan beban Tono.

“Yasudah, kalo gitu saya beli tabloidnya satu dan korannya satu ya. Pempeknya juga saya bungkus 5 ya, Nak.”
“Baik bu. Saya bungkusin sekarang Bu.” Jawab Tono cepat dengan sumringah. Aya tersenyum kecil melihat sedikit pancaran kebahagian di mata Tono.
“Kamu sering-sering kesini ya, saya juga udah ga pernah langganan koran dan tabloid. Nanti biar ibu beli koran sama tabloid kamu.” Ujar Aya sambal tersenyum hangat. Tono hanya mengangguk-angguk sambal mengulum senyum membungkus pempek pesanan Aya.

Dan seperti itulah persahabatan kecil antara Aya dan Tono terjalin. Dua-tiga hari sekali Tono pastri mampir membawa koran dan tabloid pesanan Aya. Tak jarang Aya memborong pempek dagangan Tono, sampai heran suami dan anak-anaknya selalu saja ada pempek di meja makan terhidang. Aya yang kesehariannya hanya tinggal di rumah sendiri sebagai ibu rumah tangga turut senang dengan adanya Tono yang sesekali mampir menemaninya siang-siang untuk sekedar berteduh dan mengobrol sejenak dengannya.

Hingga di suatu siang di musim hujan, hujan deras mengguyur komplek sedari subuh. Hujan gerimis dan deras yang datang silih berganti tak pelak membuat komplek banjir di beberapa titik. Aya sendiri harus terjebak di pasar swalayan menunggu hujan reda. Barulah ketika hujan berganti gerimis Aya baru berani untuk naik gojek pulang ke rumah.

Hujan masih mengguyur agak deras ketika Aya masuk kedalam kawasn komplek. Dari belakang jok tukang ojek mata Aya menangkap sesosok Tono yang berdiri berteduh di pos satpam.

“Eh, eh pak stop bentar pak. Din! Tono!”

Tono memicingkan mata melihat sesosok wanita berkerudung diseberang jalan yang berhenti diatas motor. Segera ia mengenali sosok Aya diantara rintik hujan.

“Kamu ngapain disitu din? Jangan neduh disana, nanti basah! Kamu lari kerumah saya aja ya cepet! Ibu tunggu!” Teriak Aya. Tono sayup-sayup mendengar ucapan Aya dan mengangguk-anggukan kepalanya.

Tak lama berselang Aya turun dari ojek, Tono pun tiba sembari setengah berlari. Aya buru-buru melambaikan tangan menyuruh Tono masuk kedalam rumah Karena hujan kembali menderas. Tono tiba di teras rumah agak terengah-engah, korannya terlihat aman Karena ditutupinya dengan plastrik. Namun baju dan rambutnya benar-benar basah kuyup akibat berlindung di pos satpam.

“Astaghfirullah, udah taro aja didepan korannya Din. Masuk aja sini kedalem gapapa.” Ujar Aya seraya membuka kunci pintu rumah.

Tono berdiri canggung di muka pintu sembari badannya agak menggigil. Aya berdecak sambal bergeleng iba melihat kondisi Tono.

“Sebentar ya Ibu carikan handuk. Baju ibu juga basah nih. Kamu langsung mandi aja Din, daripada kamu demam. Yuk ibu antar kedalam.”

Aya membimbing Tono menuju kamar mandi tengah. Tono baru kali itu masuk kedalam rumah. Dipandanginya furniture dan foto-foto keluarga Aya seraya ia berjalan kedalam rumah. Tak lama Aya muncul dari dalam kamar dan menyerahkan Tono handuk bersih untuk ia gunakan.

“Tuh kamu pake, kamu masuk aja langsung mandi ya. Ibu juga mau ganti baju. Ibu masuk juga ya.” Ujar Aya cepat sambil kemudian menghilang lagi kedalam kamar.

Tono keluar dari kamar mandi dengan hanya lilitan handuk di pinggangnya. Lagi-lagi ia hanya bisa berdiri canggung didepan kamar mandi sementara Aya belum keluar dari kamar. Tak lama pintu kamarpun terbuka dan Aya keluar masih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Eh yaampun ibu lupa, sebentar ya Din ibu tadi udah ambilin bajunya raffa sementara baju kamu basah. Nih pake dulu, Din. Baju kamu biar kering dulu aja.” Ujar Aya lagi sembari menyodorkan baju anaknya ke tangan Tono.

Tono hanya melongo tatkala Aya menyodorkan baju tersebut ke tangannya. Baru kali itu Tono melihat sisi lain dari Astrid yang tak mengenakan kerudung dan hanya berdaster saja. Rambut Aya yang masih basah bergantung bebas pendek sedikit dibawah kuping, sekilas mengingatkan akan model rambut Desy Ratnasari. Memang ada sedikit perbedaan disana sini, dari bentuk badan Aya yang sedikit lebih berisi mungkin Karena memang faktor umur, atau mata Aya yang agak sedikit lebih sipit dari Desy Ratnasari yang asli, namun secara keseluruhan mereka memang tak berbeda jauh.

“Loh kok diem aja Din? Ini ambil bajunya, kamu ganti di kamar mandi gih.” Ujar Aya sembari masih asik mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“I-iya bu..”

Tono pun menghilang kedalam kamar mandi untuk berganti baju. Aya dengan santai memunguti baju basah Tono dan membawanya kebelakang ke tempat cucian untuk sekedar dijemur.

“Udah ganti bajunya din? Baju kamu ibu jemur dulu ya di belakang biar kering.”

Tono hanya mengangguk-angguk sambil duduk dengan canggung mengenakan kaus dan celana basket longgar. Aya tersenyum kecil melihat Tono yang sedari tadi berusaha untuk tidak memandangi Aya.

“Kenapa kamu din? Kok kaya heran gitu ngeliatin Ibu. Heran ya baru kali ini liat ibu ga pake kerudung? Hehe”

Tono hanya tersenyum kecut menanggapi candaan Aya. Memang agak sedikit kaget Tono dibuatnya. Aya yang kerap berkerudung sopan hingga mengenakan kauskaki tipis, kini melenggang santai hanya mengenakan daster kutung (daster tanpa lengan) sebatas dengkul. Cerita Dewasa

“Gapapalah Din, sekali-kali ini. Lagian didalem rumah juga ga ada yang liat. Yang liat juga kan kamu aja ga ada orang lain.” Hibur Aya lagi sambil tersenyum lembut.

Setelah itu Aya dan Tono pun makan dengan khidmat dengan lauk seadanya di meja makan. Pelan-pelan Tono bisa menyesuaikan diri kembali dan merekapun berdua asyik mengobrol seperti biasanya. Di luar hujan masih terus menggelegar, Aya mengintip keluar dari balik jendela mengamati air yang tercurah begitu banyaknya dari langit.

“Untung aja tadi ya Din, ibu ngeliat kamu. Coba liat nih, ujannya masi ga berenti juga malah makin deres. Bisa banjir ni komplek.. ckck” Ujar Aya sambil memijat-mijat tengkuknya sendiri.
“Iya bu..” Jawab Tono pelan.
“Duh kayanya ibu masuk angin deh, tengkuk ibu berat banget ini rasanya. Kamu bisa ngerok ga din?” Keluh Aya.

Tono hanya menggeleng pelan.

“Tapi jangan dikerok juga sih, nanti heran lagi suami saya kok bisa ada yang ngerok? Bisa berabe.. hahaha. Ibu minta tolong pijitin aja ya din?” Pinta Aya lagi sembari beranjak kedalam kamar mencari minyak urut. “Sini aja Din, masuk nggapapa..” Panggil Aya lagi dari dalam kamar.

Tono melangkah dengan lambat, masih ragu karena merasa tidak enak, untuk pertama kalinya ia masuk kedalam kamar tidur orang lain tentu saja menimbulkan rasa canggung.

“Nih minyak urut din, kamu olesin aja nih ke pundak sama leher belakang ibu. Tolong yah?” Ujar Aya sembari bersendawa sendiri yang kini sudah duduk di pinggir kasur.

Tono mau tidak mau mengikuti permintaan Aya. Dengan hati-hati Tono menumpahkan sedikit minyak angin ke permukaan tangannya dan mengusap tengkuk Aya pelan.

“Hmm.. anget. Iya gitu din, agak dipencet-pencet Din.”

Dengan patuh Tono menuruti komando Aya. Sempat terpesona Tono oleh halus lembutnya kulit Aya yang selama ini selalu terbalut kerudung. Namun dientaskannya pikiran itu jauh-jauh. Aya mengangguk-angguk terpejam menikmati urutan Tono.

“Din, sambil tiduran bisa ngga din? Ibu pegel juga duduk nyamping gini.” Tukas Aya cepat. Dengan santainya Aya melengos dan menelungkupkan wajah berbaring tengkurap diatas kasur.

Tono lagi-lagi tercekat menelan ludah melihat Aya dalam posisi seperti itu. Masih dengan takut-takut Tono bergerak ikut naik keatas kasur. Aya kemudian melebarkan kedua kakinya memberikan ruang bagi Tono untuk bersimpuh diantara kakinya. Sekelebat putih halusnya paha dalam Aya membuat jantung Tono berdegup kencang. Tono mulai meraba pelan punggung Aya dan mulai memijitnya perlahan.

“Hmm iya din gitu din.. kuat juga ya pijitan kamu..” ujar Aya sembari tetap telungkup dan memejamkan mata. “Atasan lagi din di pundak kaya tadi.” Pinta Aya lagi.

Tono dengan agak kesusahan mencondongkan diri makin kedepan berusaha meraih pundak Aya. Meski Aya sudah melebarkan kakinya tetap saja Tono kesulitan karena mau tak mau Tono harus makin merapat diantara sela kaki Aya. Dan benar saja, baru ketika Tono hendak memajukan badannya, tanpa sengaja tubuh bagian bawah Tono menyenggol pantat Aya.

“M-maap bu, p-permisi.” Tukas Tono cepat-cepat. Aya hanya terkekeh kecil karena canggungnya Tono. “Iya gapapa, cepet pijit lagi.” Jawab Aya tak sabar.

Tono kembali memijat sambil berusaha menahan bagian bawahnya agar tidak menyenggol lagi. Namun tentu saja sia-sia karena posisinya tidak memungkinkan. Sehingga Tono berupaya agar tidak terlalu sering menempel ke pantat Aya. Diam-diam Tono juga berusaha sekuat tenaga agar tidak terbangun dedek kecilnya, karena jujur saja lembutnya pantat Aya mau tak mau merangsang kemaluannya jadi terbangun. Tiap kali menempel rasanya darah di dalam diri Tono berdesir.

Aya juga sebenarnya mengetahui Tono yang berusaha keras menahan diri dan tetap sopan. Aya tahu betul di umur segitu baik Tono maupun anak tertuanya sudah mulai menjalani proses menjadi dewasa dan tertarik dengan lawan jenis, sehingga Aya paham betul apa yang dialami Tono saat ini. Namun Aya diam-diam saja, malahan agak sedikit geli melihat Tono seperti itu. Akhirnya Aya menyuruh Tono untuk santai saja.

“Udah din gapapa, nempel dikit juga gapapa kok.” Ujar Aya sambil tetap telungkup.

Tono tidak langsung menjawab dan hanya diam saja. Akhirnya Tono memberanikan diri untuk mengiyakan perkataan Aya.

Tono akhirnya mencondongkan badannya kedepan dan menempelkan tubuh bagian bawahnya ke pantat Aya. Tono malu-malu menghela napas ketika ia merasakan burungnya melekat tepat di tengah-tengah pantat Aya yang lembut. Begitu pula Aya yang akhirnya merasakan bonggolan kenyal di bagian belakangnya. Aya agak terkekeh merasakan burung Tono yang sudah setengah mengeras. Dasar anak muda, pikir Aya dalam hati. 

Namun dengan begitu tak lantas membuat Tono malah menjadi biasa saja, justru kebalikannya Tono makin tersiksa menahan ereksinya. Tono berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berpikir hal yang lainnya. Namun sialnya di sisi kasur terdapat cermin berukuran besar yang melekat di lemari. Tatkala Tono melirik, ia melihat dirinya seakan tengah berhubungan badan dengan Aya dalam posisi seperti itu. Tono jadi makin tercekat dan sialnya hal tersebut malah membuat ereksi Tono makin menjadi-jadi.

Aya yang tadinya setengah mengantuk malah jadi melek terbangun merasakan gundukan lembek di pantatnya kini malah membongkah. Diam-diam Aya jadi merasa agak geli-geli juga tiap kali burung Tono yang menempel erat di pantatnya berkedut pelan. Namun Aya memilih diam saja karena apabila ia bergerak membetulkan posisinya, Tono pastri jadi malu sekali. Jadi Aya memilih untuk diam saja berpura-pura tidur.

Di lain pihak Tono sudah merah padam wajahnya, keringat dingin mengalir di lehernya. Tono memilih untuk menunduk saja mengalihkan pandangannya kebawah. Namun Tono kaget bukan kepalang manakala ia mengetahui ujung bawah daster Aya sudah setengah tersingkap keatas. Sekilas Tono bisa melihat bongkahan pantat Aya setengah mengintip dari sisi dasternya. Tono merasa terpaku takut untuk bergerak namun juga takut untuk berhenti. Takut malah apabila ia berhenti dan membetulkan dasternya, Aya malah terbangun dan memergokinya.

Aya awalnya tidak merasa ujung dasternya tersingkap ketas, dan samasekali lupa ia tak mengenakan celana dalam waktu itu. Sehabis mandi ia buru-buru mengenakan baju dan mencarikan baju untuk Tono hingga ia terlupa. Namun suatu saat tiba-tiba Aya merasa geli di bagian bawah tubuhnya, manakala ujung bonggol Tono yang mengeras dari balik celana menggosok permukaan kemaluannya yang tak tertutup apa-apa. Aya agak panik, namun tak berani untuk bergerak maupun bersuara manakala tiap kali Tono bergerak, ujung kemaluan Tono menggosok lembut bibir kemaluannya. Aya terdiam menggigit bantal berusaha agar tidak bersuara samasekali.

Sekali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali, lama kelamaan memberi efek yang makin intens dalam diri Aya. Badannya jadi lemas keenakan oleh gesekkan Tono. Matanya jadi pelan-pelan sayu, khidmat menerima tiap gerakkan yang ditimbulkan oleh Tono. Apalagi saat itu Tono hanya menggunakan boxer tipis tanpa celana dalam, yang tentu saja terasa oleh kemaluan Aya terutama setelah menjadi semakin sensitif akibat gesekkan ujung penis Tono. Aya hanya bisa berharap Tono tidak merasakan badan Aya yang kaku menahan gelinjang tiap kali Tono menyenggol kemaluannya, dan tidak menyadari kemaluannya yang kian berembun akibat gesekkan tersebut.

Hingga akhirnya pada suatu ketika Aya yang sudah begitu lemas tak berdaya merasa Tono menghentikan aksinya. Kesadarannya yang sudah hampir setengah menipis sedikit bangkit kembali. Hati kecilnya bertanya-tanya kenapa Tono malah menghentikan aksinya disaat ia sudah nyaris pasrah dalam kenikmatan. Namun pertanyaannya terjawab tak lama berselang ketika kembali Aya merasakan sensasi geli itu datang lagi, namun kali ini Aya dapat merasakan jelas hangat daging keras Tono bersentuhan langsung dengan kulitnya.

Aya terbelalak namun tetap terdiam meskipun kaget. Kembali digigitnya bantal dibawah mukanya itu kencang-kencang. Aya tak menyangka Tono berani berbuat sejauh ini. Terdengar napas Tono yang juga agak tersengal-sengal dibelakangnya. Entah mengapa dalam kepanikan seperti itu Aya memilih untuk diam mematung ketimbang menghentinkan aksi Tono. Mungkin Aya juga sudah terbuai keenakan, entah karena alasan lainnya. Yang jelas Aya merasakan badannya kembali lemas digelitiki rasa geli ketika Tono kembali menggesekkan moncong kemaluannya di bibir kemaluan Aya yang kini tak lagi dihadang celana.

Tono merasa kepalanya begitu berat, dan sekelilingnya semakin kabur. Nafasnya memburu dan gelora nafsunya tidak bisa lagi dibendung. Apalagi ketika ujung penisnya merasakan hangat daging kemaluan Aya yang mulai mengeluarkan sesuatu. Tangannya tak lagi memijat pundak Aya melainkan menahan beban tubuhnya di sisi kanan dan kiri tubuh Aya. Tiap gesekan seakan membuat kemaluan Aya merekah lebih lebar dari sebelumnya. Kemaluan Tono seperti ikut ketagihan ingin mencicipi terus lubang Aya yang seakan-akan memanggil manggil dirinya.

Rangsangan yang amat lembut dan pelan itu membuat akal sehat Aya dan Tono buyar entah kemana. Tono dan Aya diam-diam makin larut dalam cumbuan malu-malu kemaluan mereka. Aya yang juga sudah kegatalan jadi terbayang-bayang apabila Tono benar-benar memasukkan batangnya kedalam kemaluannya. Badannya jadi merinding membayangkan apabila hal itu benar terjadi.

Kemaluan Aya yang merekah itu seakan memancing kemaluan Tono untuk bergerak masuk. Tono secara naluriah kini tak hanya menggesekan pucuk senjatanya saja, namun juga mulai menekan lembut kedepan. Kemaluan Aya yang semakin lembab membuat ujung penis Tono semakin mudah membelah dan membukanya. Aya juga ikut merasa bibirnya kemaluannya merekah tiap kali Tono menempelkannya dan sedikit mendorongnya kedepan. Aya serasa melayang tiap kali Tono melakukan hal tersebut.

Pelan tapi pastri, Tono mendorong pelan dan menariknya moncong kemaluannya lagi kebelakang. Baik Aya dan Tono menyadari tiap kali kepala helm itu masuk semili lebih dalam tiap kali Tono merangsek maju. Tono yang sudah tidak lagi berpikir sehat, terus berusaha menerobos maju lebih dalam, membuat Aya dibawahnya menggigit jarinya was-was tak sabar. Hingga akhirnya di puncak birahi mereka, kepala jamur merah itu berhasil mendobrak masuk.

Napas Tono serasa tercekat didada ketika ujung kemaluannya hilang terhisap masuk kedalam rongga kemaluan Aya. Waktu seakan berhenti ketika akhirnya Aya merasakan kemaluannya menjepit mesra bonggol milik Tono. Aya ingin mendesah sekuat tenaga namun ditahannya. Akhirnya setelah disiksa begitu lama Aya merasa plong dan lega, kemaluannya yang sudah begitu gatal bisa merasakan bonggol yang sedari tadi meluluh lantakkan imannya.

Tono yang kini akhirnya berhasil mengecap lubang indah milik Aya itu kini tak lagi mau menariknya keluar. Ingin rasanya Tono memasukkan batangnya selama mungkin disana. Rasa nikmat yang dirasakannya mendorong Tono memasukkannya lebih dalam lagi, hingga seluruhnya diselimuti oleh kemaluan Aya. Dengan sangat hati-hati Tono yang masih mengira Aya tertidur itu melesakkan kemaluannya maju. Aya begitu terbuai dalam kenikmatan. Dalam gerakan lambat seperti itu Ia dapat merasakan dengan seksama tiap kerut dan urat batang Tono di dinding kemaluannya. Baru kali itu rasanya Aya menikmati ditembusi kemaluan seperti itu.

Cerita Seks Terbaik | Hingga akhirnya Tono menghela napas tertahan manakala ia melihat sisa batangnya menghilang masuk kedalam rongga kemaluan Aya. Tono mengerjap-ngerjapkan matanya terhipnotis oleh sensasi yang baru kali itu ia rasakan seumur hidupnya, ketika segenap rongga kemaluan Aya membungkus batangnya erat-erat tak lepas. Hangat, becek, lembut menjadi satu. Diam-diam Aya juga menggigit bibirnya manakala akhirnya batang kemaluan Tono masuk hingga mentok, berjejalan didalam rongga kemaluannya yang berkedut manja. Didorong oleh nafsu yang tak lagi terbendung, Tono menggerakkan pinggulnya seakan berusaha mengeksplorasi segenap isi liang kemaluan Aya. Aya tak kuasa ikut menggoyangkan pinggulnya pelan akibat gocekkan Tono.

Aya tanpa sadar mengangkat pinggulnya sedikit keatas, seakan membenarkan posisi penetrasi Tono. Tono yang juga sudah tak sadarkan diri, tak lagi memperhatikan gerakkan pinggul Aya, hanya mengikuti naluri alaminya untuk mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Dengan lembut Tono menarik pinggulnya mundur hinggga batangnya tertarik keluar, dan kemudian mendorongnya lagi masuk kedepan. Tono mendesis merasakan nikmat gesekkan antara batangnya dan dinding kemaluan Aya yang basah.

Aya yang juga telah terbuai genjotan Tono, menggigit sarung bantalnya hingga basah. Matanya membeliak keatas menikmati sodokan senjata Tono. Pinggul Aya secara otomatis bergerak semakin keatas hingga setengah menungging, yang kemudian dipegang oleh kedua tangan Tono seperti sedang menunggangi kuda. Bunyi kecipak basah karena gesekkan kemaluan mereka mulai nyaring terdengar di seantero kamar, terlebih lagi karena hujan sudah usai diluar sehingga bunyinya semakin jelas menggaung.

Mereka berdua makin bergelora oleh percintaan terlarang itu. Aya dan Tono lengah oleh bisikkan setan. Aya merasakan kenikmatan seksual yang belum pernah ia alami sebelumnya. Apalagi semakin ia berusaha mengingat-ingat bahwa ini adalah suatu hal yang salah, semakin birahinya memuncak. Ia tengah berselingkuh dengan seseorang diluar pernikahannya, dan orang tersebut masih seumuran dengan anak sulungnya.

“Oh tidak, aku tengah bercinta dengan Tono. Ouhgg aku akan klimaks.. ohh oohhh!” jerit Aya dalam hati.

Aya mencengkram bantal kuat-kuat ketika dari dalam kemaluannya mengalir cairan tak dikenal. Kedutan liar kemaluan Aya yang tengah orgasme hebat membuat Tono tak lagi bisa menahan ejakulasinya.

“Mhh..b-bu Aya.. b-bu.. To-no mau..ma—“

Mereka orgasme nyaris berbarengan. Ketika Aya menyiram kemaluan Tono dengan cairan cintanya, Tono membalas menyemprotkan spermanya banyak-banyak kedalam rahim Aya. 3-4 kali semprotan yang luar biasa melimpah, diserap semuanya oleh kemaluan haus Aya. Tono diam mematung menikmati ejakulasi yang paling nikmat yang ia pernah rasakan, hingga akhirnya batangnya mengempis dan terlepeh dengan sendirinya dari dalam kemaluan Aya.

Baca Juga : Cerita Seks ku: Bersama dengan 3 Perempuan

Aya mendengus pelan tatkala ia kembali turun dari langit ketujuh. Tono yang juga akhirnya kembali kesadarannya, berubah panik dan pucat manakala ia melihat spermanya mengalir pelan dari dalam kemaluan Aya jatuh hingga ke kasur. Didorong oleh rasa takut, Tono segera meloncat dari atas kasur. Ia nyaris terjerembap sangking lemas dengkulnya ia rasa. Seperti maling yang ketahuan, Tono segera berlari keluar secepat mungkin kabur dari kamar dan keluar rumah meninggalkan Aya yang juga masih terhuyung lemas dan kebingungan karena Tono telah hilang entah kemana.

Monday, November 24, 2025

Diary Cerita Sex ku: Ngewe dengan Pembantuku Ani

Diary Cerita Sex ku – Sepeninggal Lastri, kami mendapat seorang pembantu baru dari sebuah yayasan penyalur tenaga kerja yaitu seorang wanita berumur 23 tahun bernama Ani. Ani berambut lurus sebahu, berperawakan sedang , berkulit sawo matang dengan wajah yang manis, tinggi sekitar 160 cm , badan ramping dengan berat badan sekitar 50 kg, dengan tetek yang besarnya sedang saja. Yang agak istimewa dari penampilan Ani adalah matanya yang bagus dengan lirikan-lirikan yang kelihatannya sedikit nakal.

Hari pertama kedatangannya , saat memperkenalkan diri , ia tampak tidak banyak bicara, hanya saya melihat bahwa matanya sering melirik dan memperhatikan celana saya terutama pada bagian kemaluan. Saya berpikir, ” akh, nakal juga nih… “. Ternyata Ani ini baru menikah dua bulan lalu dan karena desakan kebutuhan ekonomi saat ini sedang terpisah dari sang suami yang bekerja menjadi TKI di Timur Tengah.

Setelah beberapa hari bekerja pada kami, ternyata Ani cukup rajin dan dapat menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat. Memasuki minggu kedua, saya mendapat gilirin kerja shift dari kantor, yaitu shift ke 2, sehingga saya harus mulai bekerja mulai dari jam 15:00 sampai dengan jam 23:00. Jadi bila pulang telah larut malam, biasanya isteri saya sudah tidur dan bila ia tidur, ia mempunyai kebiasaan tidur yang sangat lelap dan sangat susah sekali untuk dibangunkan ; dan bila saya terbangun pada pagi hari, isteri sudah berangkat kerja, sehingga biasanya kami hanya berhubungan melalui telephone saja atau ia menuliskan pesan dan menempelkannya di kulkas.

Suatu malam sepulang kerja, Ani seperti biasa membuka pintu dan setelah itu ia biasanya menyiapkan air panas untuk saya mandi. Sedang saya asyik mandi dan menggosok-gosok tubuh saya, saya mendengar suatu bunyi halus dibalik pintu kamar mandi, sambil berpura-pura tidak tahu saya tiba-tiba menunduk dan mencoba melihat dari celah yang ada dibawah pintu tersebut.





” hah….” , saya kaget juga, karena disitu terlihat sepasang kaki yang dalam posisi sedang men-jinjit menempel dipintu kamar mandi. Wah, ternyata saya sedang diintip , oleh siapa lagi kalau bukan Ani. Saya tetap pura-pura tidak tahu saja dan mulai memasang aksi ; saya mulai menggosok-gosokan sabun kebagian saya, meremas-remas sehingga saya pun mulai bangun dan menjadi keras, sambil terus meng-kocok-kocok saya, saya juga berusaha untuk berkonsentrasi mendengar suara dibelakang pintu itu. Dari situ terdengar desahan halus yang sedikit lebih keras dari tarikan nafas.
“Naah…lo….rasain ” , kata saya dalam hati. Selesai mandi, saya langsung saja keluar dengan memakai handuk yang dililitkan kebadan bagian bawah saya, saya masih dalam posisi menegang keras, jadi terlihat menonjol dari balik handuk. Saya tetap berpura-pura tidak tahu apa-apa dan berjalan kearah belakang untuk menaruh pakaian kotor.
“pep…..pak….. bapak mau emm.. makan”, sapa Ani ,
“oh… enggak Ni, sudah makan… tolong bikinkan kopi saja”, jawab saya sambil saya perhatikan wajahnya. Ternyata wajah Ani terlihat pucat dengan tangan yang agak gemetaran.
“eeh…kamu kenapa Ni,…..sakit yaa ?”, tanya saya
“ah , tidak pak….. saya cuma sedikit pusing aja”, jawab Ani
“Iyaa…Ni….saya juga sedikit pusing… apa kamu bisa mijitin kepala saya”
“beb…bis…bisa pak”, jawab Ani tergagap, sembari matanya terus menerus melirik kearah saya yang menyembul. Sayapun masuk kekamar dan mengganti handuk dengan sarung tanpa memakai celana dalam lagi, dan tidak lupa memeriksa isteri saya; setelah saya perhatikan ternyata isteri saya tetap tertidur dengan pulas sekali. Sayapun duduk disofa didepan televisi sambil menunggu Ani membawa kopi, yang kemudian ditaruhnya dimeja didepan saya.
“Ni….tolong nyalakan tv-nya”
Ani berjalan kearah televisi untuk menyalakan , saat televisi telah menyala saya bisa melihat bayangan tubuh Ani dari balik dasternya. “wah….boleh juga”, terasa denyutan di saya, nafsu saya mulai memuncak.
“Ni…. tolong kecilkan sedikit suaranya”, kata saya, Saat ia mengecilkan suara televisi itu, Ani sedikit membungkuk untuk menjangkau tombol tv tersebut, langsung tubuhnya terbayang dengan jelas sekali , Ani ternyata tidak memakai BH dan puting teteknya terbayang menonjol bagaikan tombol yang minta diputar.
“lagi sedikit Ni….” kata saya mencari alasan untuk dapat melihat lebih jelas. Aduh , denyutan di saya pun makin keras saja.
“Ayo ..Ni..pijitin kepala saya” kata saya sambil bersandar pada sofa. Dengan agak ragu, Ani mulai memegang kepala saya dan mulai memijat-mijat kepala saya dengan lembut.
“nah..gitu….baru enak, kata saya lagi, “tapi film-nya kok jelek banget yaa…”
“iya..pak…film-nya film tua..” katanya.
“kamu mau lihat film baru”, kata saya sambil langsung berdiri dan menuju kearah lemari televisi untuk mengambil sebuah laser disk dan langsung saja memasangnya, film itu dibintangi oleh Kay Parker, sebuah film jenis hardcore yang sungguh hot. Ani kembali memijat kepala saya sambil menanti adegan film tersebut. Cerita Dewasa

Saat adegan pertama dimana Kay Parker mulai melakukan french kiss dan meraba lawan mainnya , tangan Ani mengejang dikepala saya, terdengar ia menarik nafas panjang dan pijatan tangannya bertambah keras. Saya mengangkat kepala dan melihat keatas kearah Ani; terlihat matanya terpaku pada adegan di layar, biji matanya kelihatan seperti tertutup kabut tipis, ia benar-benar berkonsentrasi melihat adegan demi adegan yang diperankan oleh Kay Parker. Sekitar seperempat jam kemudian, terasa pijatan dikepala saya berkurang, karena hanya satu tangannya saja yang dipakai untuk memijat sedangkan setelah saya tengok kebelakang ternyata tangannya yang satu lagi terjepit diantara selangkangannya dengan gerakan menggosok-gosok. Desahan nafasnya menjadi keras buru memburu. Ani terlihat bagai orang sedang mengalami trance dan tidak sadar akan perbuatannya.

Saya langsung saja berdiri dan menuju kebelakangnya; sarung saya jatuhkan kelantai dan dalam keadaan telanjang saya tekan saya ke arah belahan pantatnya sedangkan mulut saya mulai menjalar ke leher Ani, menjilat-jilat sambil menggigit pelahan-lahan. Kedua tangan saya bergerak kearah teteknya yang menantang dan meremas-remas sambil sesekali memuntir-muntir putingnya yang cukup panjang. Ani tetap seperti orang yang tidak sadar, matanya hanya terpaku kelayar kaca melihat bagaimana Kay Parker menjepit pinggang lawan mainnya sambil mengayunkan pinggulnya ke kanan kekiri. Dengan cepat saya membuka dasternya sampai terlepas; Ani diam saja juga saat saya memelorotkan celana dalamnya. Sambil tetap memeluknya dari belakang, saya menggeser kakinya agar selangkangannya lebih terbuka sehingga saya bisa mengarahkan saya ke lubang memeknya. Saat kepala saya mulai memasuki memeknya yang sudah basah, Ani sedikit tersentak, tapi saya terus menyodok kedalam sehingga saya terbenam seluruhnya.

“aaaaaaaakh…..pak” , desah Ani lirih, “ennnaaaak….paaaaak”
Saya tetap menekan dan kemudian mulai menarik saya. Waah…. memek Ani bagaikan menjepit saya dan seperti tidak mau melepaskan saya. Memek Ani ternyata sempit sekali dan saya terasa bagaikan dihisap-hisap dan diremas-remas dengan denyutan-denyutan yang sungguh nikmat sekali. Saya menarik dan menekan dengan kuat secara berulang-ulang sehingga biji saya terdengar beradu dengan pantat Ani yang mulus, plak….plak….plak….. saya tetap memeluknya dari belakang dengan tangan kiri yang tetap berada di tetek sedangkan jari tangan kanan saya berada di dalam mulut Ani.

Mulut Ani menghisap-hisap jari saya bagaikan anak bayi yang telah kelaparan mendapatkan susu ibunya , matanya terpejam bagai orang sedang bermimpi. Badannya separuh , dari pinggang keatas condong kedepan, membungkuk pada sandaran sofa, sedangkan pinggangnya berusaha untuk mengimbangi gerakan maju mundur yang saya lakukan. Bila saya menekan saya untuk membenamkannya lebih dalam kelubang memeknya, Ani segera mendorong pantatnya kebelakang untuk menyambut gerakan saya dan kemudian secara cepat mengayunkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan bergantian. Aah ….. Ani, ternyata luar biasa enaknya memek kamu. Saya benar-benar menikmati tubuh dan memek Ani. Kami melakukan gerakan-gerakan seperti ini selama beberapa waktu, sampai suatu saat badan Ani mengejang , kedua kaki nya juga mengejang serta terangkat kebelakang . Memeknya meremas dan menghisap-hisap saya dengan keras dan berusaha untuk menelan saya seluruhnya.

Baca juga: Diary Cerita Sex ku: Ketagihan Seks

“aaaaaaaaaaaaahhhhh …..” desah Ani panjang Akhirnya saya juga tidak tahan lagi, saya peluk badannya dan saya tekan saya kuat-kuat kedalam memek Ani. Saya pun melepaskan cairan mani saya kedalam lubang memek Ani yang begitu hangat dan menghisap.
“hhhhheeeeeeeeeh” creeet…….creettt…..creet tttt Kami berdua langsung lunglai dan tertekuk kearah sandaran sofa dengan posisi saya masih ada di dalam jepitan memek Ani. Setelah kami recover, saya buru-buru memungut sarung, mematikan televisi dan berdua berjalan kearah belakang ; Ani langsung berbelok kekamarnya, tapi sebelumnya ia berkata halus, ” terima kasih yaa… pak” dan sambil tersenyum nakal ia meremas saya. Saya langsung mandi lagi untuk membersihkan keringat yang mengalir begitu banyak, setelah itu ke kekamar berbaring sambil memeluk isteri saya dan tertidur lelap dengan puas. Dipagi hari saya tersentak bangun karena merasakan sepasang tangan yang mengelus-elus saya, secara refleks saya melihat jam dinding dan melihat jam sudah menunjukan pukul sembilan pagi.
” looo ..” , pikir saya ” kok isteri saya tidak bekerja hari ini”
Langsung saya mengangkat kepala melihat kebawah; lho…. ternyata bukan isteri saya yang sedang mengelus-elus saya tetapi Ani yang sedang menunduk untuk mencium saya, yang sudah keras dan tegang.
“Ni….. ayo naik kesini”, kata saya kepadanya, sambil bangun terduduk saya menarik badannya dan mulai membuka dasternya, ternyata Ani sudah tidak memakai apa-apa dibalik dasternya. Langsung saya balikkan badannya dan mulai mencium memeknya yang wangi, sedangkan Ani langsung juga mengulum saya dimulutnya yang kecil; waah Ani langsung cepat belajar dari tontonan film tadi malam rupanya.

Saya mulai menjilat-jilat memeknya dan sesekali mengulum serta mempermainkan klentitnya dengan lidah saya, Ani tergelinjang dengan keras dan terdengar desahannya, “hheeeh….heeeehhh” Dari lubang memeknya mengalir cairan hangat dan langsung saja saya jilat ….. mmmh…enaknya… Setelah itu saya tarik Ani untuk jongkok di atas badan saya, sedangkan saya tetap terlentang dan Ani mulai menurunkan badannya dengan lubang memeknya yang sempit itu tepat kearah batang saya yang sudah sangat tegang sekali.

“hhhheeehhhh”….cleeeep, batang saya masuk langsung kedalam lubang memeknya dan terbenam sampai keujung biji saya, “oooohh enak bener Ni….memek kamu” kata saya, Ani sudah tidak menjawab lagi, dia menaikkan pantatnya dan kemudian dengan cepat menurunkannya dan memutar-mutar pinggulnya dengan cepat sekali berkali-kali, sambil terpejam dia mendesah-desah panjang terus menerus karena keenakkan….. Batang saya terasa mau putus karena enaknya memek Ani, benar-benar nikmat sekali permainan dipagi hari ini; Sesekali saya duduk untuk memeluknya dan terus meremas-remas teteknya yang keras. “ooooh …. Ani….ennaaaak” Ani kemudian berhenti sebentar dan memutarkan badannya sehingga pantatnya menghadap wajah saya, sambil terus menaik-turunkan pantatnya, memeknya tetap menjepit batang saya dengan jepitan yang keras dan berdenyut-denyut…..Akh , akhirnya saya tidak tahan lagi, sambil memeluk pinggangnya saya berusaha menekan batang saya sedalam-dalamnya dilubang memek Ani , badan Ani pun mengejang dan bersama-sama kita mencapai orgasme. Pagi hari itu saya dan Ani bermain sampai jam 13:00 siang, berkali-kali dan berbagai-bagai gaya dengan tidak bosan-bosannya. Cerita Seks

Sejak pagi itu, saya selalu dibangunkan oleh isapan lembut dari mulut mungil Ani, kecuali bila hari libur dimana isteri saya berada di rumah.

Kami rasa hanya itu saja Cerita Dewasa Gairah Sex Ani Si Pembantu yang Ganjen yang dapat kami berikan kepada anda, semoga anda menyukai cerita yang baru kami berikan pada kesempatan hari ini.

Sunday, October 26, 2025

Cerita Seks Bersama Cewek Salon Cantik

Diaryceritasexku - Sebut saja namaku Luigi, Aku adalah seorang Pria single/bujang, Disini saya akan menceritakan Cerita sex-ku yang sangat menarik. Cerita ini bermula dari ajakan seorang temanku untuk pangkas rambut di sebuah salon yang letaknya di sekitar Universitas ternama di Jakarta pada awal bulan oktober lalu. Dari ajakan temanku itu kini aku-pun tahu bahwa semua wanita yang bekerja di salon itu bisa dikencani.

Pada waktu tepatnya pada hari akhir pekan, Cerita Mendesah kami sepakat untuk ketemuan di salon X itu pada pukul 01:00 siang. Saat itu aku-pun segera bergegas pergi ke salon itu bermaksud untuk memangkas rambutku. Setelah beberapa waktu, akhrnya aku-pun sampai disalon itu. Saat itu aku melihat jam tanganku menunjukan pukul 1 kurang 5 menit, dan saat itu juga aku memutuskan untuk masuk kesalon itu.

Sewajarnya salon, saat itu suasana di salon itu terasa normal sekali dan tidak tidak ada hal yang ganjil sedikit-pun. Ketika aku masuk, saat itu aku-pun menuju pada receptionis. Cerita Mendesah Disana aku-pun mengatakan bahwa aku berniat untuk pangkas rambut. Dari balik meja receptionis itu seorang wanita cantik berkata padaku, agar aku menunggu sejenak karena saat itu pekerja salon sedang sibuk melayani para pelangganya.

Saat itu sembari menunggu antrian, aku-pun mencoba untuk melihat-lihat suasana salon itu dan sembari mencari temanku yang sebelumnya sudah berjanjian denganku. Namun saat itu temanku tidak ada. Kuakui bahwa hampir semua wanita yang bekerja di salon ini rata-rata cantik, putih dan mempunyai body yang sexy. Ditambah lagi rata-rata mereka masih muda, Cerita Mendesah kalau aku perkirakan umurnya sekitar 20-27 tahun.

Cerita Seks Bersama Cewek Salon Cantik

Melihat para wanita salon itu aku jadi teringat dengan omongan temanku, bahwa para wanita salon ini bisa diajak kencan. Berhubung aku aku baru pertama kali ke salon itu ragu, karena salon itu benar-benar seperti salon biasa tidak nampak jika ada ++ nya. Kira-kira setelah beberapa waktu aku menungguantrian, pada akhirnya aku mendapat gilirianku. Cerita Mendesah Saat itu reception berkata bahwa sekarang giliranku untuk pangkas rambut.

Receptionis itu saat itu menunjuk kekursi yang kosong dan aku bergegas menuju ke kursi itu. kemudian setelah aku duduk, tidak lama kemudian seorang wanita salon yang muda nan cantik datang kearahku dan memegang rambutku,

“ Mau model Mas, potong rambutnya ?, ” Cerita Mendesah ucapnya sembari melihatku lewat cermin, dengan masih tetap memegang rambutku.
“ Eummm apa yah Mba’, apa aja deh Mba” yang penting rapi, ” ucapku sekena-nya.

Lalu layaknya di salon pada umumnya, aku-pun kemudian diberi penutup badan untuk agar rambut yang dipangkas tidak mengenai bajuku. Pada awalnya suasana terasa kaku, namun saat itu aku mencoba untuk mencairkan suasana agar terasa relax,

“ Ngomong-ngomong, Cerita Mendesah udah berapa lama Mba’ kerja di sini?, ” tanyaku basa-basi.

“ Baru kog Mas, baru 5 bulan, ngomong-ngomong Mas baru pertama kali ya cukur di sini?, ” ucapnya sembari memangkas rambutku.

“ Iya nih Mba’, Cerita Mendesah kebetulan saya kemarin lewat dan melihat ada salon, ya udah deh akhirnya saya mau coba cukur di sini, lagian saya juga lagi janjian sama temen buwat ketemu disini Mba’, Eh… malah sampai sekarang belum datang juga ?, ” jawabku.

“ Ouhhh… ” jawabnya singkat dan berkesan cuek.
Tidak lama setelah itu pada akhirnya temanku-pun datang juga,

“ Woy… ” suara temanku semabri menepuk pundakku dari belakang.

“ Lama banget sih loe, Cerita Mendesah kemana aja loe ?, ” tanyaku.

“ Sory bray, tadi di jalan macet, yaudah gue pangkas rambut dulu yah bray… ” jawabnya sambil berlalu.

Temanku-pun berlalu begitu saja. Saat itu-pun pangkas rambut sembari mengobrol. Singkat cerita dari obrolan-obrolan itu kami-pun mulai relax. Dari obrolan kami, aku mengetahui bahwa dia bernama Nita, dan dia berusia baru berusia 21 tahun. Cerita Mendesah Nita tinggal di kost-kostsan sekitar salon itu. Kini akupun sudah selesai, kemudian aku-pun memberikan tips sekedarnya, sembari aku menanyakan apakah dia mau aku ajak keluar.

Saat itu Nita-pun menyetujui dan dia menulis nomor handphone-nya pada selembar kertas kecil. Setelah selsai aku tidak pulang begitu saja, saat itu aku masih mnunggu Roni temanku tadi. Cerita Mendesah Sembari menunggu Roni, aku-pun mengobrol dengan Nita, saat itu aku sempat diperkenalkan oleh beberapa teman-temanya. Teman Nita juga memang cantik, namun menurutku Nita-lah yang paling cantik.

Singkat cerita pada akhirnya kami-pun ketemuan pada hari Senin di tempat yang sudah kami sepakati sebelumnya. Setelah makan siang, kami nonton bioskop.Saat itu Nita terlihat cantik sekali. Cerita Mendesah Dalam hati aku berkata, cantik sekali Nita hari ini. Saat itu Nita yang mengenakan kaos ketat berwarna biru muda ditambah dengan rompi yang dikanNitgkan dan dipadu dengan celana jeans ketat serta sandal yang tebal. Kami serius mengikuti alur cerita film itu, hingga akhirnya semua penonton dikagetkan oleh suatu adegan.

Nita tampak kaget, terlihat dari bergetarnya tubuh dia. Entah ada setan apa, secara reflek aku memegang tangan kanannya. Lama sekali aku memegang tangannya dengan sesekali meremasnya dan dia diam saja. Cerita Mendesah Singkat cerita, aku mengantarkan dia pulang ke kostnya, di tengah jalan Nita memohon kepadaku untuk tidak langsung pulang tapi putar-putar dulu. Kukabulkan permintaannya karena aku sendiri sedang bebas.

Lalu aku memutuskan untuk naik tol dan putar-putar kota Jakarta. Cerita seks Mendesah Sambil menikmati musik, kami saling berdiam diri, hingga akhirnya Nita mengatakan.

“ Eummm… Gi, aku mau ngomong sesuatu sama kamu, memang semua ini terlalu cepat, namu aku harus mengatakan hali ini ke kamu, Eeee… aku suka sama kamu Gi… ” ucapnya lirih.

Saat itu aku merasa seperti tersambar petir mendengar ucapnya itu, dan secara refleks aku-punmenengok kearah-nya. Cerita Mendesah Ketika itu nampaknya raut mukanya sangat serius dengan apa yang barusan dia katakan sembari matanya menatap tajam padaku,

“ Apa kamu sudah yakin dengan omonganmu yang barusan, Nit?, ” tanyaku sambil kembali konsentrasi ke jalan.

“ Aku nggak tau kenapa, aku merasa kalau kamu itu beda sama cowok-cowok yang pernah aku kenal sebelumnya, kamu itu baik, dan kayaknya kamu itu care banget sama cewek. Cerita Mendesah Aku nggak mau kalau setelah aku pulang ini, kita nggak bisa ketemu lagi, Gi. Aku nggak mau kehilangan kamu, ” ucap-nya panjang lebar.

“ Eummm… kalau aku boleh jujur sih, aku juga suka sama kamu, Nit… tapi langkah baiknya jika kita saling mengenal lebih dalam lagi baru nanti kita pacaran?, ” jawabku tegas.

“ Baiklah kalau itu mau kamu Gi, Eummm… aku boleh cium kamu nggak, ini bukti bahwa aku nggak main-main sama omonganku yang barusan Gi ?, ” ucapnya dengan wajah serius.

Wah rasanya seperti mau mati, jantungku mau copot, nafas jadi sesak. Cerita Mendesah Edan ini anak, seperti benar-benar! Sekali lagi, aku menengok ke kiri melihat wajahnya yang bulat dengan bola mata yang berwarna coklat, dia menatapku tajam dan serius sekali,

“ Emmm… Sekarang Nit ?, ” tanyaku sambil menatapnya.

Saat itu dia hanya menganguk dan, “ Okey, sekarang kamu boleh cium aku, ” ucapku sembari kembali ke jalanan.

Beberapa detik kemudian Nita-pun beranjak dari tempat duduknya dan mengambil posisi untuk memberi sebuah cium di pipi kiriku. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku sambil memeluk. Cerita Mendesah Lama sekali dia mencium dan ditempelkannya buah dada-nya di lengan kiriku. Beuhhh, empuk sekali kawan, mak nyosss. Buah dada-nya yang cukup menantang itu sedang menekan lengan kiriku. Edan, enak sekali, aku jadi sangek gilak.

Sebagai laki-laki normal secara otomatis batang kejantananku pun menegang. Dengan pelan sekali, Nita berbisik,
“ Gi, aku suka sama kamu, ” ucapnya sembari dia kembali mencium pipiku dan tetap menekankan buah dada-nya pada lengan kiriku. Konsentrasiku buyar, Cerita Mendesah sepertinya aku benar-benar sudah horny dengan perlakuan Nita, dan beberapa kendaraan yang melaluiku melihat ke arahku menembus kaca filmku yang hanya 40%. Lalu,

“ Kamu horny ya, Gi?, ” ucapnya lirih.

Saat itu aku tidak menjawab, dan tangan kirinya saat itu mulai meraba tubuhku dan mengarah ke bawah, Cerita Mendesah saat itu aku sudah benar-benar horny. Sekali lagi Nita berbisik,

“ Gi, aku tahu kamu horny, boleh nggak aku lihat punya kamu ? emmm… punya kamu besar yah!, ” ucapnya.

Saat itu aku hanya mengangguk saja, akhirnya dibukalah celana panjangku dengan tangan kirinya, seperti dia agak kesulitan pada saat ingin membuka ikat pinggangku sebab dia hanya menggunakan satu tangan. Aku bantu dia membuka ikat pinggang setelah itu aku kembali memegang setir mobil. Cerita Mendesah Dielus-elus batang kejantananku yang sudah keras dari luar. Tidak lama kemudian ditelusupkan telapak kirinya ke dalam dan digenggamlah kejantananku.
“ Oughhhhh… ” desahku pelan.

Sedikit demi sedikit wajahnya bergerak. Pertama, ia cium bibirku dari sebelah kiri lalu turun ke bawah. Lalu dia-pun mencium leherku, saat itu dia sempat berhenti di bagian dadaku, mungkin dia menikmati aroma parfumku. Cerita Mendesah Lalu dia-pun semakin turun ke bawah. Beberapa kali Nita melakukan gerakan mengocok kejantananku. Pertama-tama dijilatinya pangkal batang kejantananku lalu berpindah naik ke atas.

Kini ujung lidahnya sudah berada pada bagian buah zakarku. Salah satu tangannya menyelinap di antara belahan pantatku, menyentuh anusku, dan merabanya. Nita melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke atas, perlahan-lahan. Setiap gerakan nyaris dalam beberapa detik, teramat perlahan. Melewati bagian tengah, naik lagi. Ke bagian leher batangku. Kedua tanganku tak kusadari sudah mencengkeram setir mobil. Ujung lidahnya naik lebih ke atas lagi.

Pelan-pelan setiap jilatannya kurasakan bagaikan kenikmatan yang tak pernah usai, begitu nikmat, begitu perlahan. Setiap kali kutundukkan wajahku melihat apa yang dilakukannya setiap kali itu pula kulihat Nita masih tetap menjilati kejantananku dengan penuh nafsu. Sesaat Nita kulihat melepas tangannya dari kejantananku dan menyibakkan rambutnya ke samping. Cerita Mendesah Kini jemarinya kembali menarik bagian bawah batang kejantananku dan memiringkan kepalanya.

Cerita Seks Bersama Cewek Salon Cantik


Nita kemudian mulai menurunkan wajahnya mendekati kepala kejantananku, dan kini mulailah merekahkan kedua bibirnya dengan perlahan lalu dia mulai memasukkan kepala kejantananku ke dalam mulutnya tanpa tersentuh sedikitpun oleh giginya. Kemudian dia-pun mulai menggerakan secara perlahan semakin jauh hingga di bagian tengah batang kejantananku. Saat itulah kurasakan kepala kejantananku menyentuh bagian lidahnya.

Tubuhku bergetar sesaat dan terdengar suara khas dari mulut Nita. Cerita Mendesah Kedua bibirnya sesaat kemudian merapat. Kurasakan kehangatan yang luar biasa nikmatnya mengguyur sekujur tubuhku. Perlahan-lahan kemudian kepala Nita mulai naik. Bersamaan dengan itu pula kurasakan tangannya menarik turun bagian bawah batang tubuh kejantananku hingga ketika bibir dan lidahnya mencapai di bagian kepala, kurasakan bagian kepala itu semakin sensitif.

Begitu sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan jilatan Nita begitu merasuk dan menggelitik seluruh urat-urat syaraf yang ada di sana. Kuraba punggungnya dengan tangan kiriku, kuelus dengan lembut lalu mengarah ke bawah. Cerita Mendesah Kudapatkan buah dada sebelah kanan, aku buka telapak tanganku mengikuti bentuk buah dada-nya yang bulat, kemudian aku meremas-nya dengan lembut.

Lalu aku buka satu persatu kanNitg rompinya, dan kembali aku membuka tepak tangan mengikuti bentuk buah dada-nya. Sambil tetap mengkulum, tangan kanannya bergerak menyentuh tanganku, ia tarik baju ketatnya dari selipan celana panjangnya. Dipegangnya tanganku dan diarahkannya ke dalam. Di balik baju ketatnya, aku meremas-remas buah dada-nya yang masih terbungkus BRA.

Kmeudian aku-pun mulai meremas satu persatu buah dada-nya sambil mendesah menikmati kuluman pada kejantananku. Kuremas agak kuat dan Nita pun berhenti mengkulum sekian detik lamanya. Cerita Mendesah Kuelus-elus kulit dadanya yang agak menyembul dari BRA-nya dengan sesekali menyelipkan salah satu jariku di antara buah dada-nya yang kenyal,
“ Sssssss… Arh…. ” desahku nikmatku merasakn kuluman Nita yang makin cepat.

Aku turunkan BRA-nya yang menutupi buah dada sebelah kanan, aku dapat meraih putingnya yang sudah mengeras. Kupilin dengan lembut,

“ Oughhhhh… Sssss… ” desahnya melepas kuluman dan terdengar suara akibat melepaskan bibirnya dari kejantananku.

Menjilat, menghisap, naik turun. Ia begitu menikmatinya. Begitu seterusnya berulang-ulang. Aku tak mampu lagi melihat ke bawah. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Kupejamkan mataku. Nita begitu luar biasa melakukannya. Tak sekalipun kurasakan giginya menyentuh kulit kejantananku. Cerita Mendesah Gila, belum pernah aku dihisap seperti ini, pikirku.

Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah ke mana. Tak kusadari lagi sekelilingku oleh gelombang kenikmatan yang mendera seluruh urat syaraf di tubuhku yang semakin tinggi. Aku berhenti sejenak meraba buah dada-nya. Kutengok ke bawah, tangan kanannya menggenggam dengan erat persis di bagian leher batang kejantananku, dan dia terlihat tersenyum kepadaku,

“ Kamu luar biasa Nit… Oughhhhh… ” bisikku sambil menggeleng-gelengkan kepala terkagum-kagum oleh kehebatannya.
Saaat itu Nita hanya tersenyum manis dan berkesan manja,

“ Nit, bisa keluar aku kalau kamu kayak gini terus, ” Cerita Mendesah bisikku lagi merasakan genggaman tangannya yang tak kunjung mengendur pada kejantananku. Nita hanya tersenyum,

“ Kalau kamu udah nggak pengen keluar, keluarin aja, nggak usah ditahan-tahan, ” jawabnya.
Lalu setelah itu Nita menjulurkan lidahnya keluar dan mengenai ujung batang kejantananku. Rupanya dia mengerti aku sedang berjuang untuk menahan orgasme-ku.

“ Ssss… Oughhhhh… ” Cerita Mendesah racauku sedikit keras menahan rasa ngilu bercampur nikmat.

Bukan kepalang nikmat yang kurasakan, tubuhnya bergerak tidak karuan, seiring dengan gerakan kepalanya yang naik turun, kedua tangannya tak henti-henti meraba dadaku, terkadang dia memilin kedua puting susuku dengan jarinya. Terkadang dia juga melepaskan kuluman untuk mengambil nafas sejenak lalu melanjutkannya lagi. Semakin lama gerakannya makin cepat. Aku sudah berusaha semaksimal untuk menahan orgasme.

Saat itu aku mengalihkan perhatianku dari buah dada-nya. Cerita Mendesah Aku meraba ke arah bawah. Kubuka kanNitg celananya. Agak lama kucoba membuka dan akhirnya terlepas juga. Pelan-pelan kuselipkan tangan kiriku di balik celana dalamnya. Aku dapat rasakan rambut kewanitaan-nya tipis. Mungkin dipelihara, pikirku dalam hati. Kuteruskan agak ke bawah. Nita mengubah posisinya, dengan merenggangkan kedua kakinya.

Hal ini memudah aku dapat menyentuh kewanitaan-nya. Beberapa saat telunjukku bermain-main di bagian atas kewanitaan-nya. Aku naik-turunkan jari telunjukku. Cerita Mendesah 5, nikmat sekali rasanya, pikirku. Sesekali kumasukkan telunjukku ke dalam liang senggama-nya. Mulailah aku menjelajahi setiap sudut liang senggama Nita. Aku temukan sebuah kelentit di dalamnya, lalu aku umainkan clitoris itu dengan telunjukku.

Oughhhhh, pegal juga rasanya tangan kiriku. Sejenak kukeluarkan jariku dari dalam. Lalu aku menikmati setiap kuluman Nita. Rasanya sudah beberapa tetes air maniku keluar. Aku benar-benar dibuat mabuk kepayang olehnya. Cerita Mendesah Kembali kumasukkan jariku, kali ini dua jari, jari telunjuk dan jari tengahku. Pada saat aku memasukkan kedua jariku, Nita tampak melengkuh dan mendesah pelan.

Semakin lama semakin cepat aku mengeluar-masukkan kedua jariku di liang senggama-nya dan Nita beberapa menghentikan kuluman pada batang kejantananku sambil tetap memegang batang kejantananku. Entah sudah berapa orang yang melihat kegiatan kami terutama para supir atau kenek truk yang kami lewati, namun aku tidak peduli. Kenikmatan yang kurasakan saat itu benar-benar membiusku sehingga aku sudah melupakan segala sesuatu.

Saat itu Nita kembali menjilat, menghisap dan mengkulum batang kejantananku dan entah sudah berapa lama kami melakukan ini. Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang dikerjakan Nita pada kejantananku. Kali ini Nita melakukan dengan penuh kelembutan, ia julurkan lidahnya hingga mengenai ujung kepala kejantananku lagi. Ia memutar-mutarkan lidahnya tepat di ujung lubang kejantananku.

Baca juga: Cerita Sexku Bersama Mama Mertuaku Hot

Sungguh dashyat kenikmatan yang kurasakan. Beberapa kali tubuhku bergetar namun ia tetap pada sikapnya. Sesekali ia masukkan semua batang kejantananku di dalam mulutnya dan ia mainkan lidahnya di dalam,

“ Oughhhhh.. Nit… nikmat… Sssss… Ahhhh… ” desahku sambil melepaskan tangan kiriku dari liang senggama-nya.

Saat itu aku memegang kepalanya mengikuti gerakan naik turun, lalu,

“ Oughhhhh… Nit, aku udah nggak kuat nihhh… Arh… ” ucapku agak lirih menahan orgasme.

Namun gerakan Nita makin cepat dan beberapa kali dia buka matanya namun tetap mengkulum dan terdengar suara-suara dari dalam mulutnya,

“ Arhh… ” desahku keras diiringi dengan keluarnya air mani dari dalam batang kejantananku di dalam mulutnya.

Ketika itu keadaan mobil kami saat itu sedikit tersentak oleh pijakan kaki kananku. Aku menikmati setiap air mani yang keluar dari dalam kejantananku hingga akhirnya habis. Cerita Mendesah Nita tetap menjilati kejantananku dengan lidahnya. Dapat kurasakan lidahnya menyapu seluruh bagian kepala kejantananku. Oughhh, nikmat sekali rasanya. Setelah membersihkan seluruh air maniku dengan lidahnya, Nita bergerak ke atas.

Kulihat dia, tampak ada beberapa air maniku menempel di sebelah kanan bibirnya dan pipi kirinya. Aku mulai bergerak memperbaiki posisi dudukku, perlahan-lahan. Sambil tetap digenggamnya batang kejantananku yang sudah lemas, Nita beranjak ke atas melumat bibirku, masih terasa air maniku. Sekian detik kami bercumbu dan aku memejamkan mata. Akhirnya Nita merapikan posisinya, lalu dia duduk dan merapikan pakaiannya.

Saat itu aku-pun merapikan pakaianku sekedarnya. Aku kenakan celana panjangku namun tidak kumasukkan kemejaku. Beberapa hari setelah itu, aku main ke kost Nita dan pada saat itu pula kami mengikat tali kasih. Cerita Mendesah Awal bulan Maret lalu Nita kembali dari Manado setelah 2 minggu dia berada di sana dan dia tidak kembali lagi bekerja di salon itu. Sekarang kami hidup bersama di sebuah tempat di daerah Grogol.

Kini Nita-pun diterima sebagai operator di salah satu perusahaan penyedia jasa komunikasi handphone. Sedangkan aku tetap sebagai animator yang bekerja di sebuah perusahaan di daerah Kedoya tapi aku harus meninggalkan kostku. Cerita Mendesah Setelah kami hidup seatap, Nita mengakui padaku bahwa selama enam bulan ia bekerja di salon itu, ia pernah melayani pelanggannya dan dia mengatakan bahwa semua pekerja yang bekerja di salon itu juga pekerja seks.

Nita tidak mengetahui bagaimana asal mulanya. Nita sendiri tidak tahu apakah salon merupakan sebuah kedok atau seks adalah sebuah tambahan. Dia mengatakan bahwa untuk mengajak keluar salah satu karyawati di situ, Cerita Mendesah seseorang harus membayar di muka sebesar Rp 500.000. Rasanya Jakarta hanya milik kami berdua, tiap malam setelah mandi sepulang dari kerja atau setelah makan malam, kami melakukan hubungan seks.

Entah sampai kapan semua ini akan berakhir dan entah kapan kami akan resmi menikah. Kami sungguh menikmati setiap hari yang akan kami lalui dan telah kami lalui bersama. Cerita Mendesah Aku sungguh tidak peduli dengan asal-usulnya pekerjaan Nita sebab makin hari aku makin terbius oleh kenikmatan seks dan mataku seolah-seolah tertutup oleh rasa sayangku pada dia.