Showing posts with label cerita seks teman. Show all posts
Showing posts with label cerita seks teman. Show all posts

Wednesday, November 12, 2025

Cerita Seks Pertama Kaliku PERAWAN ku Direnggut

Diary Cerita Sex ku – Aku masih duduk di kelas tiga SMP ketika bapakku memanggilku ke ruangan kerjanya, Dari kecil aku sudah terbiasa untuk hidup secara menyenangkan. Setiap keinginanku dituruti, sebagai anak bungsu, aku sangat dimanja dengan segala fasilitas. Aku mempunyai sopir pribadi yang siap mengantarkanku ke mana saja aku mau. Ayahku memberiku uang jajan yang bisa aku belikan apa saja sesukaku.Namun, ketika krismon tiba, musibah itupun tidak bisa dipungkiri oleh keluarga kami. Kami jatuh bangkrut. Itupun kami memiliki hutang pajak yang tertunggak. Sudah seminggu lamanya, tukang pajak menyatroni rumah kami dan menghutang segala berkas berkas perusahaan ayahku. Ketika aku dipanggil masuk, petugas pajak dan ayahku sedang duduk di ruang kerja. Petugas pajak itu sudah cukup tua. Kira-kira seumur ayahku, tapi matanya dengan nanar memandangi tubuhku yang termasuk bongsor. Dia tersenyum memandangku, wajahku memang termasuk lumayan, maklum dengan tampang orientalku yang klasik, banyak yang mengincarku. Termasuk petugas pajak bernama Pak Anto yang duduk di hadapanku. Cerita Perkosaan

Ayahku secara panjang lebar menceritakan kesulitannya yang dihadapinya dan bagaimana Pak Anto menawarkan bantuannya untuk mengurangi hutang pajak yang tertunggak kepadanya. Tapi untuk itu ada harga yang sangat mahal. Masalahnya, ayahku sedang tidak memiliki uang sama sekali. Sedangkan bila hutang pajak itu tidak diselesaikan, ayahku akan dimasukkan ke penjara. Pak Anto berkata, bisa dibayar asal aku mau memberikan keperawananku kepadanya. Ayahku hanya tertunduk saja. Aku sangat kaget karena mendengar hal yang sebelumnya tidak pernah aku bayangkan.



Setelah dijelaskan secara panjang lebar, akupun menuruti perintah ayah. Secara gontai, dia meninggalkan kami berdua keluar dari kamar kerja. Saat itu, aku mengenakan t-shirt dan rok mini. Pak Anto secara perlahan mulai mengelus tanganku. Aku hanya bisa memejamkan mata. Dia mulai berani dan mengelus rambutku, tiba-tiba aku mencium bau rokok, ternyata Pak Anto mulai menciumi bibirku. Aku tidak bisa bergerak karena tubuhnya yang besar telah menimpa tubuhku yang kecil. Ciumanpun turun ke dadaku yang membusung. Tangannya secara perlahan meraba betis dan naik ke pahaku.

Secara perlahan, rokku di kibaskan dan aku merasa kemaluanku dipermainkan oleh jarinya. Aku hanya bisa berteriak kecil ketika jarinya menusuk alat kemaluanku dan tak lama kemudian alat kemaluankupun menjadi basah. Tiba-tiba Pak Anto berdiri dan membuka celananya. Aku tidak bisa berbuat apa-apa ketika dia memaksa memasukkan alat kemaluannya ke mulutku. Aku mencoba berontak, tapi apa daya? Bau sekali penisnya tapi aku teringat akan nasib ayahku yang saat ini sedang berada di tanganku, mengingat hal itu, aku mencoba merubah sikapku dari pasif menjadi aktif. Aku tidak ragu lagi melahap penis Pak Anto yang besar itu dengan mulutku. Kukulum dan kuhisap seperti orang ahli. Dia memegang kepalaku seakan tidak mau penisnya keluar dari mulutku.Setelah puas, dia memaksaku membuka celana dalamku. Akupun hanya bisa telentang ketika lidahnya memainkan clitorisku. Aku hanya bisa merem-melek keasyikan, baru kali ini rasanya aku merasakan kenikmatan yang begitu dahsyat. Tak lama kemudian, tak hanya lidah saja yang berbicara.

Baca juga: Diary Cerita Sex ku: Ngewe Bersama Teman Kakak Kelas Sekolahku

Rupanya Pak Anto tidak sabar lagi untuk mencoba vaginaku yang masih perawan. Aku menjerit kecil ketika aku merasakan penisnya yang besar memasuki vaginaku untuk pertama kalinya. Aku hanya bisa mengaduh kesakitan ketika dia dengan ganasnya melahap keperawananku. Setelah bosan dengan posisi itu, dia memaksaku dengan posisi menungging dan dia menghantamku dari belakang. Aku hanya bisa memejamkan mata antara menikmati dan kesakitan.

Diapun berganti posisi dan duduk di bangku dan aku disuruhnya untuk duduk di atasnya, dengan posisi duduk, aku memiliki kendali atas dirinya dan entah kenapa aku telah lepas kendali, sehingga aku menggoyangkan penisnya dengan cepat sekali, dia tidak tahan lagi dan akupun dipaksa untuk menjilati air maninya, rasanya aneh. Tapi karena aku disuruh telan, akupun tanpa pikir panjang menelannya.

Selesai tugasku untuk membantu ayahku dan selesai pula pengalaman seks pertamaku dengan seorang petugas pajak yang sebenarnya lebih pantas menjadi ayahku. Apa mau dikata. Akupun tidak tahu apakah aku harus menyesal atau menikmati kejadian tersebut. Rasanya aku jadi ketagihan juga sih.

Saturday, October 11, 2025

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Cerita Seks Bersetubuh Hendra Dengan Pacarnya – Kota M terletak sekitar CERITA SEX 100-an kilometer dari kota kelahiran Hendra. Ke CERITA MESUM sanalah kini pemuda itu CERITA SEXmenuju, naik kendaraan umum bersama teman ayahnya, Paman Herman CERITA SKANDAL namanya, yg bersedia menampung Hendra selama ia mempersiapkan diri untuk seleksi perguruan tinggi. Pagi masih basah dan agak berembun ketika keduanya berangkat ke terminal berjalan kaki.Sambil melangkah, Hendra mengenang perpisahannya tadi malam dengan Mita. Ada kesenduan di raut muka gadis manis itu, walaupun Hendra berusaha menghiburnya dengan bercanda. Lagipula, apa yg dirisaukannya? Toh, mereka hanya akan berpisah dua bulan.Bagi Hendra, tak apa lah berpisah dari Mita, karena ia merasa memerlukan konsentrasi penuh untuk persiapan masa depannya. Tetapi bagi Mita rupanya agak lain. Gadis itu merasa inilah awal dari sebuah perpisahan panjang yg tak terelakkan.Malam itu mereka meminta ijin untuk menonton. Kedua orangtua Mita mengijinkan, dengan perjanjian agar mereka pulang sebelum pukul 11. Tetapi, mereka membatalkan acara menonton, karena ternyata film yg tadinya mereka akan tonton telah diganti dengan sebuah film silat. Akhirnya mereka duduk saja di pinggir alun-alun dekat pantai.Ada sebuah tembok pendek pembatas alun-alun dengan jalan. Di sana lah keduanya duduk berayun-ayun kaki, menghadap ke selatan ke arah laut yg menghitam nun di sana.

Awan hujan tak tampak di langit, tetapi angin terasa mulai dingin. Hendra memeluk pundak kekasihnya.“Apa rencana kamu setelah kursus?” tanya Mita sambi memainkan kancing bawah jaketnya.“Mmmm …, belum tahu. Mungkin langsung ikut test seleksi,” jawab Hendra.Ia memang membicarakan kemungkinan ini dengan ayahnya beberapa waktu yg lalu. Ayah dan ibu juga setuju jika Hendra ingin ikut test langsung di lokasi perguruan tinggi yg ditujunya, di kota B. Tetapi, menurut kedua orangtuanya, keputusan ada di tangan Hendra setelah ikut kursus.“Berarti kamu langsung ke B…,” ucap Mita sambil mengibaskan rambut yg menutupi mukanya.“Ya,.. senang sekali kalau bisa ikut test di sana. Aku ingin sekali melihat kampusnya. Kata orang, kampus itu besar sekali, berkali-kali lebih besar dari alun-alun ini!” jawab Hendra bersemangat.Ia merasa, ikut ujian seleksi di kampus itu akan menambah motivasi dan kemungkinan lulus.“Tetapi, itu berarti kita tak akan bertemu lagi,” bisik Mita.Hendra menoleh. Memandang kekasihnya yg kini menunduk. Rambutnya yg legam tergerai menutup wajahnya. Dengan lembut, Hendra mencoba menyibak rambut itu. Mita mengelak. Hendra mencoba lagi, Mita tetap mengelak, bahkan melepaskan diri dari pelukan kekasihnya.“Apa maksudmu?” tanya Hendra.Mita menggeser duduknya menjauh, lalu menghadapkan tubuhnya ke Hendra. Wajahnya serius, “Maksudku,… kita akan berpisah semakin lama. Lalu, kalau diterima di perguruan tinggi,… kamu dan aku akan sama-sama sibuk kuliah. Kemungkinan, kita tak akan bertemu lagi dalam waktu satu atau dua tahun. Atau mungkin lebih.”“Ya,… agaknya begitu,” ucap Hendra pelan.Ia memang juga punya dugaan yg sama, tetapi apa yg bisa dilakukannya? Bukankah sekolah tinggi-tinggi adalah keinginan mereka berdua? Kalau mereka terpaksa berpisah karena keinginan itu, apa yg bisa mereka lakukan?“Lalu kita akan saling melupakan…,” bisik Mita, matanya berkaca-kaca.“Kenapa saling melupakan?” sergah Hendra.“Karena kita akan sama-sama sibuk kuliah…”“Tetapi kita bisa saling menyurati. Kita bisa … ““Tetap saja….,” Mita memotong dengan cepat, “Kita tetap akan saling menjauh tanpa kita sengaja.”“Kita masih bisa bertemu lagi, Mita.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya

Aku pasti itu!” ucap Hendra mencoba tegas, walau ia sendiri tak tahu apakah suaranya betul-betul kedengaran tegas.Ia sendiri ragu, apakah memang ada kepastian di masa depan? Bukankah masa depan selalu samar-samar?Mita menghela nafas panjang, lalu menghempaskannya dalam desah yg keras.“Yah .. pasti kita bertemu lagi, tetapi mungkin sebagai dua orang yg berbeda…” ucapnya pelan.Hendra terdiam. Tiba-tiba ia sadar, betapa ia tak kuasa mengatur aliran kehidupan. Betapa kecilnya ia menghadapi dunia yg begitu luas, yg berada di luar batas kendalinya. Ia ingin sekolah dan menjadi arsitek ulung, tetapi untuk itu ia harus meninggalkan banyak sekali kenangan manis.Tdk hanya Mita, tetapi juga Susi adik satu-satunya, ayah dan ibunya, teman-temannya, sungai tempatnya berenang, pantai yg menyimpan jutaan memori, hutan kenari, kota kecil yg damai ….. banyak sekali!“Melamun apa?” teguran Paman Herman di sampingnya membuat Hendra tersentak.Tak terasa, mereka sudah sampai di terminal. Hendra tersipu sambil berbohong, mengatakan bahwa ia sedang membaygkan kota M.Paman Herman tersenyum, lalu menepuk pundaknya.“Jangan bohong. Kamu pasti sedang melamunkan pacarmu,” ucapnya sambil tertawa pelan.“Yah,.. yg itu juga kulamunkan, sambil membaygkan kota M,” jawab Hendra tak mau kalah.Paman Herman tertawa lebih keras.Mereka naik ke kendaraan umum yg sudah menunggu. Hendra duduk dekat jendela, sementara teman ayahnya turun lagi untuk membeli makanan kecil dan minuman. Hendra Hermanl di atas mobil, melanjutkan lamunannya.Setelah bosan duduk di alun-alun, Mita dan Hendra berjalan-jalan menyusur pantai. Pada malam hari, terutama di saat libur sekolah seperti ini, dan jika hujan tdk turun, pantai selalu ramai oleh warung-warung dan orang yg berjalan-jalan. Anak-anak tampak berlarian main kejar-kejaran.

Sekelompok orang tampak duduk mengelilingi sepasang lelaki bermain catur diterangi lampu petromaks.Di tempat lain, sekelompok remaja bernyanyi-nyanyi diiringi gitar. Berpasang-pasang kekasih tampak juga berjalan-jalan seperti halnya Hendra dan Mita. Sekali-kali mereka berpapasan dengan orang yg dikenal, saling bertegur sapa, atau sejenak berhenti untuk bercakap berbasa-basi.Mita dan Hendra lebih banyak diam sambil berjalan. Masing-masing tenggelam dalam lamunan, terutama tentang telah tibanya saat perpisahan. Masing-masing mencoba mencari apa saja kah makna perpisahan itu? Tetapi mereka berdua hanya menemukan satu: perpisahan itu menyakitkan. Memedihkan. Membuatmu tak berdaya.Mita menggamit tekan kekasihnya, meremas pelan, lalu bertanya memecah keheningan,“Apakah kamu mencintai ku?”“Ya,” jawab Hendra pendek. Sial! Mengapa pendek sekali jawaban itu? umpat Hendra dalam hati. Tetapi, lalu seberapa panjang kah seharusnya? Satu kalimat? Dua kalimat? Satu halaman surat? Seberapa kah?“Kenapa kamu tdk pernah mengatakannya?” tanya Mita lagi.“Kenapa?” malah Hendra balik bertanya.“Aku yg bertanya duluan. Kamu, koq, malah bertanya kembali,” sergah Mita.“Ya. Aku juga bertanya sendiri, kenapa aku tak pernah mengatakannya,”“Lalu, apa jawabnya?” desak Mita.“Aku tak tahu. Tetapi kenapa itu jadi persoalan, Mita? Aku memang tak pernah mengucapkannya. Aku tak bisa. Tak pandai,” jawab Hendra agak kesal.Mita menghentikan langkah. Hendra terpaksa juga ikut berhenti. Mereka telah berada agak jauh dari keramaian. Suara ombak berdebur keras.

Semakin terdengar keras di tengah keheningan.Mita memegang kedua tangan Hendra, menghadapnya dengan muka tengadah, memandang dengan mata beningnya. Sebagian rambut menutupi mukanya, melintang di hidungnya yg bangir, di bibirnya yg ranum, di pipi berlesung-pipitnya.Ah, Hendra melihat kecantikan semata di tengah samar-samar malam. Melihat sinar kerinduan di mata itu, bagai bintang-bintang berpijar lembut. Melihat seraut wajah tempat ia melabuhkan impian-impiannya. Mengapa semuanya tampak begitu mengesankan saat engkau harus berpisah?Mita terpejam merasakan nafas kekasihnya dekat sekali menerpa wajahnya. Bibir Hendra perlahan menyentuh bibirnya. Kedua tangan mereka saling meremas. Angin keras mengibarkan jaket-jaket mereka. Ciuman kali ini terasa sangat lembut, selembut awan putih di langit biru.Sangat hangat, sehangat mentari di pagi yg cerah. Mesra dan manja mengalunkan kerinduan. Mita membuka mulutnya, mengundang kekasihnya datang merasuki seluruh jiwa-raganya. Datang lah kekasih, reguk habis rinduku, bawa daku terbang setinggi mungkin.Keduanya berdiri rapat. Hendra mengulum mesra bibir kekasihnya, menghirup harum-sedap nafasnya, menggigit manja lidahnya yg nakal. Mita membuka sedikit matanya, memandang wajah Hendra yg dekat sekali di depannya. Sebentar lagi ia akan pergi jauh, gumam Mita dalam hati. Sebentar lagi wajah itu hanya akan ada di dompet ku, menjadi sebuah potret kekasih yg mungkin juga akan segera lusuh karena terlalu sering disentuh.Sambil membalas ciuman kekasihnya, diam-diam Mita merekam wajah itu sedetil mungkin. Mematrinya di benak. Ah, Hendra ….. dahinya yg selalu serius. Matanya yg tajam-tegas. Tulang pipinya yg mengguratkan ketakmenyerahan. Hidungnya yg menggemaskan (aku senang sekali mencubit hidung itu!). Bibirnya yg selalu bergairah. Selalu!Hendra melepaskan ciumannya, membuka mata dan menemukan sepasang mata kekasihnya memandang mesra. Ia berbisik,“Mita, aku ingin bercumbu malam ini. Mari kita pergi dari sini…”Mita tertawa pelan,“Kemana kamu hendak membawa ku?” tanyanya sambil memeluk leher Hendra.Hendra melihat sekeliling. Pantai tampak sepi, tetapi juga terlalu menakutkan di tengah malam seperti ini. Tdk di sini. Hendra memutuskan untuk mengajak Mita ke sebuah tempat yg selama ini menjadi “persembunyian” mereka: sebuah pondok di tengah kebun kopi. Tetapi lokasinya ada di sisi lain dari kota, sehingga untuk ke sana mereka perlu berjalan cepat.“Ke sana?” Mita bertanya ketika melihat Hendra diam saja.Ah, gadis ini memang bisa membaca pikiran ku, ucap Hendra dalam hati.“Ayo, kita ke sana…,” kata Hendra bergairah, menggulung kaki celananya dan menarik tangan Mita untuk meninggalkan pantai. Mita tertawa kecil, mengikuti tarikan tangan ke kasihnya. Sebentar kemudian mereka telah berlari-lari menyebrang jalan, menelusuri alun-alun menuju tengah kota. Lalu, di depan kantor camat mereka berbelok, melintasi persawahan, berjalan beriringan sambil sekali-sekali bercanda. Malam semakin larut….“Waahhh… melamun lagi!” Paman Herman telah naik kembali ke mobil.Hendra terperanjat dan tersipu lagi. Sialan! Lamunannya terpotong di tengah jalan.

“Nih,… makan kacang goreng supaya tdk terlalu banyak melamun,” ujar Paman Herman sambil menyodorkan sebungkus kacang.Hendra mengucapkan terimakasih dan mulai memasukkan beberapa butir ke mulutnya.Paman Herman lalu mengajak mengobrol, bertanya-tanya tentang sekolah Hendra. Terpaksa lah Hendra menimpalinya, menjawab semua pertanyaannya dengan lengkap. Paman Herman lalu juga bercerita tentang dirinya dan anak-anaknya yg masih kecil.Tentang kota M yg katanya tumbuh pesat karena menjadi pusat perdagangan bagi kota-kota kecil sekitarnya. Paman Herman ini seorang pedagang yg konon sedang naik daun. Ia sering mundar-mandir ke ibukota mengurus bisnisnya. Hendra senang juga mendengar ulasannya tentang lika-liku bisnis, walaupun dunia itu sangat asing baginya.Tetapi ketika mobil mulai bergerak, Paman Herman berhenti bercerita. Bahkan tak lama kemudian ia terlihat terkantuk-kantuk. Baru 10 menit mobil melaju, Paman Herman telah menyandarkan kepalanya di jok dan tertidur nyenyak. Hendra masih mengunyah kacang, memandang ke luar jendela, melihat betapa kotanya dengan cepat terHermanl di belakang.Tanpa sadar, ia melamunkan lagi peristiwa semalam …..Pondok itu tetap sepi dan tetap bagai magnit, menarik kedua remaja itu untuk datang berkunjung, walau setiap kali pula mereka ingin menghindar. Mungkin juga bagai lampu yg menarik laron-laron terbang mendekat. Kalau terlalu dekat, pastilah mereka akan hangus terbakar, bukan? Tetapi bagaimana jika laron-laron itu sudah terbakar api asmara sebelum menghampiri sang lampu?Mita dan Hendra mengendap-endap mendekat, sambil melihat sekeliling, kalau-kalau ada orang melintas. Tampaknya tdk ada seorang pun di sekitar. Hendra menggenggam erat tangan kekasihnya, perlahan-lahan mendekati pondok. Serangga malam menghentikan musik mereka setiap kali sepasang remaja ini melangkah. Tetapi setelah mereka berlalu, serangga itu kembali ramai memperdengarkan musik mereka.Hendra langsung mengajak Mita masuk. Pondok itu tentu saja gelap gulita. Setelah beberapa saat, barulah mata mereka bisa menyesuaikan diri, bisa melihat ruang kosong dengan dipan kayu itu. Hendra segera duduk, dan Mita segera naik ke pangkuannya.Mereka langsung berciuman, tanpa bertukar kata lagi.

Cerita Seks Hendra Dengan Pacarnya


Cerita Sex Nafas Mita sudah memburu sejak tadi, bukan hanya karena harus berjalan cepat dan setengah berlari, tetapi juga karena ia memang selalu bergairah jika berduaan dengan Hendra.Ciuman mereka tak lagi lembut-mesra seperti ketika di pantai tadi, melainkan bergelora, saling pagut dan saling mengulum. Nafas mereka berdua berdesahan, saling menyerobot seperti hendak saling mengalahkan. Kedua pasang bibir mereka saling menekan memilin, bergantian menghisap-hisap. Kedua lidah mereka bergelut bergelung seperti dua naga kecil yg bermain-main di taman basah dan hangat yg adalah mulut mereka.Berkali-kali Mita seperti tersedak, tak tahan diperlakukan begitu bergairah oleh kekasihnya. Tetapi berkali-kali pula ia kembali mengulum bibir pemuda itu, membiarkan lidahnya bermain semakin jauh ke dalam mulutnya, menyentuh langit-langitnya, menimbulkan rasa geli dan hangat.Seperti biasanya, Mita hanya memakai kaos tebal dan jaket, tanpa beha. Dengan leluasa, tangan Hendra segera menelusup menelusuri bukit-bukit indah di balik kaos itu. Bukit-bukit yg naik turun, membusung penuh, kenyal-padat, hangat. Tangan Hendra langsung gemas meremas, memijat, menekan. Jari-jarinya bermain ringan di atas kedua puting yg telah menegang tegak.Mita pun mengerang merintih merasakan kedua budah dadanya bagai dipenuhi uap panas, bergulung-gulung seakan badai yg sedang melanda bumi. Sambil memeluk leher Hendra, gadis itu membusungkan dadanya, memajukan seluruh tubuhnya, menghenyakkan kedua payudaranya di tangan kekasihnya. Ia ingin diremas lebih keras lagi, lebih bergairah lagi.Mulut Hendra meninggalkan mulut Mita, kini menciumi lehernya yg jenjang. Menciumi kulit mulus-lembut nan harum di bawah telinganya. Menggigit cuping telinga itu, membuat Mita terkejut, tetapi juga sangat senang. Apalagi kemudian Hendra menggigit pula lehernya, pelan-pelan saja. Oh, geli sekaligus nikmat rasanya diperlakukan seperti itu. Seperti disengat-sengat bara kenikmatan yg membangkitkan api birahi semakin besar.Mita memajukan duduknya, mengangkat sedikit tubuhnya, sehingga mulut Hendra kini semakin turun. Cepat-cepat Mita mengangkat kedua tangannya, membiarkan Hendra menaikkan kaosnya.

Segera dua payudara gadis yg kenyal-padat itu terpampang, indah sekali dalam keremangan malam, putih bersih bagai bersinar.Hmmm,… Hendra menenggelamkan wajahnya di lembah harum di antara dua bukit indah itu. Hmmm …, tubuh Mita selalu penuh keharuman sabun wangi, dan juga bedak yg biasa dipakai bayi. Hmmm …., sungguh menggairahkan rasanya menciumi dada ranum yg agak basah oleh keringat itu. Dengan gemas, digigitnya sedikit daging di pangkal salah satu payudara itu. Mita mengerang. Mita merintih.“Uuuh ….,” Mita merintih ketika mulut Hendra naik dan mengulum puting sebelah kiri.Tubuh gadis itu menggelinjang ke kiri.“Aaaah ….,” Mita mengerang ketika Hendra meremas payudara sebelah kanan. Tubuh gadis itu bergeser ke kanan.Begitulah terus. Ke kiri. Ke kanan. Ke kiri ke kanan. Gerakan-gerakan Mita menimbulkan gesekan nikmat di bawah sana, di tempat selangkangannya yg terhenyak rapat di pangkuan Hendra. Ada cairan bening tipis mengalir pelan dari dalam tubuhnya, membasahi celana dalamnya. Ada rasa hangat turun bersama aliran itu. Ada rasa geli-nikmat yg merayap perlahan ke seluruh penjuru tubuh.Dengan satu tangannya yg masih bebas, Hendra menyingkap rok Mita lebih ke atas, sehingga antara dia dan gadis itu kini hanya ada seutas kain nilon tipis yg telah basah di sana-sini. Setelah itu, tangan Hendra masuk menelusup dari belakang. Mita mengerang merasakan tangan itu membawa kehangatan ke bagian belakang tubuhnya yg penuh-padat itu.Mita merintih ketika Hendra meremas-remas bagian itu, seakan-akan sedang memeras buah hendak mengambil airnya. Gadis itu semakin memajukan duduknya, semakin rapat menempelkan bagian bawah tubuhnya ke pangkuan Hendra. Malam terasa semakin panas. Keringat muncul di beberapa bagian tubuh keduanya; di ketiak, di punggung, di tengkuk.Lalu celana dalam Mita terlepas sudah, entah oleh tangan Hendra atau oleh tangannya sendiri. Tdk jelas lagi, siapa melakukan apa dalam pergumulan bergairah yg tak terkendal ini. Kedua tangan Hendra kini ada di bawah. Yg satu meremas-remas di belakang, yg lain menelusup ke depan. Mita mengangkat tubuhnya, tdk lagi duduk di pangkuan Hendra, memberikan kebebasan dan keleluasaan kepada kedua tangan pemuda itu.Hendra pun segera memanfaatkan keleluasaan itu. Jari-jarinya mengusap-menelusupi kewanitaan Mita yg terasa panas membara.

Cerita Seks Gadis itu menggelinjang hebat ketika merasakan ujung jari Hendra menyentuh-nyentuh bagian-bagian yg sangat sensitif di bawah sana.Rasanya, bagian-bagian itu telah berubah seluruhnya menjadi ujung saraf belaka, tdk dilapisi apa-apa. Sehingga setiap sentuhan, seberapa pun ringannya, sanggup mengirimkan sentakan-sentakan kenikmatan ke seluruh tubuh.Lalu celana panjang Hendra juga telah terbuka. Sekali lagi, entah siapa yg melakukannya. Mungkin Hendra, mungkin Mita, mungkin keduanya. Kejantanan Hendra tahu-tahu juga sudah di luar, tegak berdenyut. Mita meraihnya dengan gemas, tersentak merasakan betapa panasnya otot-kenyal yg menggairahkan itu.Hendra mengerang ketika merasakan tangan halus lembut meremasnya di bagian yg sangat sensitif, di ujung yg telah sedikit basah pula. Lalu tangan Mita menuntun kejantanan Hendra ke depan kewanitaannya.Oh, Mita menggosok-gosok kewanitaannya dengan otot-kenyal padat panas itu. Oh, rasanya nikmat sekali bagi keduanya. Menggelitik-gelitik, menimbulkan geli nikmat di mana-mana.Dengan kedua tangannya yg kokoh, Hendra kini menopang tubuh Mita. Kedua telapak tangannya menjadi tumpuan dari pantat gadis itu, sementara dengan tangannya Mita terus menggosok-gosokkan kejantanan Hendra. Pelan-pelan, kewanitaannya terasa semakin menguak, semakin membuka.Apalagi cengkraman tangan Hendra juga ikut merentangkan bagian bawah itu, membuatnya semakin terbuka. Kejantanan yg kenyal-tegang itu kini menelusuri permukaan kewanitaan Mita, menimbulkan rasa geli yg sangat nikmat. Membuat liangnya semakin basah dan licin. Berdenyut-denyut pula.Sesekali, ujung kejantanan Hendra menelusup sedikit ke dalam. Oh,… Mita terpejam merasakan tusukan-tusukan kecil menyeruak ke dalam tubuhnya. Ahhh …, Hendra juga terpejam merasakan ujung-ujung sarafnya seperti dibelai-belai mesra.Betapa hangat, basah dan licin permukaan liang kewanitaan itu. Betapa halus, bagai sutra. Mita mengerang-merintih, terus memainkan otot-kenyal di tangannya, menggosok ke depan ke belakang, memutar-mutar.Lalu pelan-pelan Hendra menurunkan tubuh Mita, ….. cuma sedikit saja, mungkin cuma tiga senti. Tetapi itu sudah cukup membuat Mita tersentak, mengerang “Aaah…”, merasakan sebuah benda tumpul hangat menyeruak ke dalam tubuhnya. Rasanya sedikit pedih, tetapi juga geli dan nikmat.

Bercampur baur. Mengejutkan.“Jangan, Hendra….,” desah Mita sambil berusaha mengangkat tubuhnya. Tetapi entah kenapa, ia tak sanggup melakukan hal itu. Rasa nikmat di bawah sana menahannya untuk bergerak. Maka akhirnya ia cuma menggeliat-geliat.Hendra mengerang pelan. Oh,.. hangat sekali di dalam sana. Ia merasakan ujung kejantanannya dibalut entah oleh apa. Terasa sempit tetapi juga licin, mencekal erat tetapi juga berdenyut-denyut. Dengan kedua tangannya, Hendra mempertahankan posisi tubuh Mita yg kini bagai mengambang: antara atas dan bawah, antara kenikmatan dan kekhawatiran.Mita merasakan nikmat luar biasa datang dari liang kewanitaannya yg kini bagai tersumbat sebentuk otot-kenyal. Tak sadar, ia menggoygkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan, menyebabkan si sumbat menyeruak dinding-dinding bagian dalam kewanitaannya, menimbulkan kenikmatan tambahan.Hendra tetap menahan tubuh Mita agar tdk melesak lebih ke bawah. Diam-diam ia khawatir akan apa yg mereka lakukan. Ia takut jika seluruh kejantanannya masuk dan merusak sesuatu di dalam sana, walau ia sendiri tak tahu, ada apa di dalam sana.“Aaaaaah!”, tiba-tiba Mita mengerang.Orgasmenya datang bagai banjir bandang. Kedua kakinya mengejang, dan ia ingin merapatkan pahanya, menjepit kejantanan Hendra untuk menimbulkan kenikmatan yg lebih lagi. Tetapi tangan pemuda itu sangat kokoh mencengkram tubuhnya, sehingga akhirnya Mita hanya menyerah saja.Membiarkan tubuhnya berguncang-guncang ketika ia mencapai klimaks yg sedap itu. Kedua tangan Mita mencengkram bahu Hendra. Tubuhnya meregang. Matanya terpejam erat, mulutnya setengah terbuka, mengeluarkan keluh berkepanjangan,“Nggggggg….”.Bersamaan dengan itu, Hendra merasakan ujung kejantanannya bagai dipilin-diremas oleh daging kenyal hangat yg bergerak-gerak liar. Sekuat tenaga ditopangnya tubuh Mita yg sedang bergetar hebat. Keringat Hendra membasahi badannya, karena tubuh gadis itu tdklah ringan.

Apalagi kalau sedang meregang-mengejang seperti ini.Lalu, Hendra merasakan klimaksnya datang, ketika Mita masih mengerang-merintih dengan kedua tangan mencengkram bahunya. Cepat-cepat Hendra mengangkat tubuh gadis itu, walaupun Mita terdengar memprotes. Ia masih cukup waras untuk tdk menumpahkan cairan cintanya di dalam. Dengan satu gerakan, ia menggeser duduknya. Kejantanannya lepas dari cengkraman permukaan liang yg sebetulnya sangat menjanjikan kenikmatan itu.Mita pun akhirnya sadar apa yg dihindari Hendra. Gadis itu cepat-cepat menggeser ke arah berlawanan. Ia melihat ke bawah, ke arah otot-kenyal yg masih tegak dan seperti bergerak-gerak menggeliat. Oh,.. cepat-cepat diraihnya bagian tubuh Hendra yg tadi memberikan kenikmatan di tubuhnya itu. Cepat-cepat ia meremas, ingin berpartisipasi dalam pencapaian klimaksnya.“Aaaaah!” Hendra mengerang panjang, merasakan tubuhnya bagai disentak-sentak ketika cairan-cairan cinta memancar kuat dari kejantanannya.Tangan Mita yg halus terasa menambah nikmat pancaran itu, sekaligus menampung cairan-cairan kental panas yg berebut keluar.Mita terduduk di samping Hendra, dengan tangan tetap mencengkram, merasakan getaran-gejolak klimaks kekasihnya. Hendra berkali-kali mengerang, dengan tubuh meregang dan kedua tangan bertelektekan di dipan. Mita merasakan otot-kenyal berdenyut-denyut dalam genggamannya. Menakjubkan sekali!Betapa kuatnya klimaks Hendra kali ini, menyebabkan tubuhnya seperti dioyak-oyak, tulang-tulangnya seperti lepas, ototnya seperti meledak. Ia menghempaskan tubuhnya di dipan, diikuti Mita yg berbaring di sebelahnya. Keduanya masih telanjang di bagian bawah, terengah-engah seperti habis berlari sepanjang hari.

Tangan Mita tetap menggenggam di bawah sana, senang bisa menampung tumpahan cinta kekasihnya. Hangat dan licin rasanya.Lamunan Hendra buyar ketika mobil yg ditumpanginya membelok tajam, menyebabkan tubuh Paman Herman membentur tubuhnya. Lelaki setengah baya itu tetap tertidur, cuma menggumam tak jelas, lalu kembali menegakkan tubuhnya di sandaran kursi.Hendra menghela nafas panjang. Kota kelahirannya semakin jauh terHermanl. Mobil melesat laju di jalan raya antarkota. Di kiri-kanan jalan, sawah luas terbentang, menghijau bagai hamparan karpet . Langit tampak biru dibercaki awan putih. Puluhan burung bangau tampak terbang ke arah selatan.Hendra tiba di kota M menjelang sore. Rumah Paman Herman cukup besar dan Hendra mendapat kamar di belakang, dekat dapur dan gudang. Setelah beristirahat sebentar, Paman Herman mengajak Hendra membicarakan agenda mereka untuk dua bulan mendatang.

Mendengar kata dua bulan, Hendra mengeluh dalam hati. Lama sekali rasanya dua bulan itu.Lalu, keesokan harinya Hendra diantar Paman Herman ke tempat kursus yg telah ramai oleh pemuda sebayanya. Ruang belajar tampak jauh lebih besar dari kelas di sekolah di kota kelahirannya. Teman-teman barunya juga jauh lebih banyak, dan jauh lebih banyak tingkah. Sebagian dari mereka bahkan sudah bertingkah seperti layaknya remaja kota besar, memakai kaca mata hitam segala. Hendra tersenyum simpul melihat salah seorang dari mereka memakai kacamata secara terbalik. Pastilah itu kacamata pinjaman!Demikianlah, hari-hari berikutnya Hendra sibuk mengikuti kursus di kota M dan mulai bisa melupakan hal-hal lain. Konsentrasinya penuh ke pelajaran, dan hanya sekali-sekali ia teringat akan Mita dan kota kelahirannya. Hari-hari pun terasa semakin cepat berlalu. Demikian lah Cerita Porno Kisah Pengalaman Hendra Bersetubuh Dengan Pacarnya oleh Cerita sex hot

Friday, October 10, 2025

Aku Ajari Seks Shinta yang Polos

Cerita seks - Kadang juga ada truk atau pick up yang berbaik hati untuk mengantar dengan arah yang sama menuju ke masing masing sekolah , tak hayal juga kendaraan lainnya tidak mau berhenti karena jumlahnya yang berkelompok dan berjumlah puluran orang.

Saat itu aku hari senin aku agak terlambat untuk berangkat ke kantor yaitu pukul sudah menunjukan 06.50 wib, tak apalah karena semalam ada acara bola yang seru, ku keluarkan mobilku dan bergegas untuk berangkat kekantor, hari itu tak seperti biasanya karena sepanjang jalan yang aku biasanya lalui agak sepi, mungkin karena anak sekolah sudah mendapatkan kendaraan.

Saat perjalananku mencapai ujung desa Bedulan (tempat ini pasti dikenal oleh semua orang karena sering terjadi tawuran antar desa sampai saat ini), kulihat ada seorang anak sekolah perempuan yang melambai-lambaikan tangannya. Setelah kulihat di belakangku tidak ada kendaraan lain, aku mengambil kesimpulan kalau anak sekolah itu berusaha mendapatkan tumpangan dariku dan karena dia seorang diri di sekitar situ maka segera kuhentikan kendaraanku serta kubuka kacanya sambil kutanyakan, “Mau ke mana dik?”.

Kulihat anak sekolah itu agak cemas dan segera menjawab pertanyaanku, “Pak boleh saya ikut sampai di SMA situ pak, dari tadi kendaraan umum penuh terus dan saya takut terlambat?, dengan wajah yang penuh harap. “Yaa…, OK lah.., naik cepat”, kataku. “Terima kasih paak”, katanya sambil membuka pintu mobilku.

Jarak dari sini sampai di sekolahnya kira-kira 10 Km dan selama perjalanan kuselingi dengan pertanyaan-pertanyaan ringan, sehingga aku tahu kalau dia itu duduk di kelas 3 SMU di tersebut dan bernama Shinta Tinggi badannya kira-kira 155 cm, Shintana kulitnya bisa dibilang agak hitam bersih dan tidak cantik tapi manis dan menarik untuk dilihat, entah apanya yang menarik, mungkin karena matanya agak sayu.

Tidak terlalu lama, kendaraanku sudah sampai di daerah tersebut dan Shinta segera memberikan aba-aba. “Ooom…, sekolah saya ada di depan itu”, katanya sambil jarinya menunjuk satu arah di kanan jalan. Kuhentikan kendaraanku di depan sekolahnya dan sambil menyalamiku Shinta mengucapkan terima kasih. Sambil turun dari mobil, Shinta masih sempat bertanya, “Oom…, besok pagi saya boleh ikut lagi.., nggak Oom, lumayan Oom…, bisa naik mobil bagus ke sekolah dan sekalian menghemat ongkos.., boleh yaa.. Oom?”.

cerita-seks-bersama-shinta-yang-polos
cerita seks gambar Aku Ajari Seks Shinta yang Polos
Aku tidak segera menjawab pertanyaan itu, tapi kupandangi wajahnya, lalu kujawab, “Boleh boleh saja Shinta ikut Oom, tapi jangan bergerombol ikutnya yaa”. “Enggak deh Oom, saya cuma sendiri saja kok selama ini”. Setiap pagi sewaktu aku mencapai desa itu, Shinta sudah ada di pinggir jalan dan melambaikan tangannya untuk menghentikan mobilku.

Dalam setiap perjalanan dia makin lama makin banyak bercerita soal keluarganya, kehidupannya di desa, teman-teman sekolahnya dan dia juga sudah punya pacar di sekolahnya. Ketika kutanya apakah pacarnya tidak marah kalau setiap hari naik mobil orang, Shinta bilang tidak apa-apa tapi tanpa ada penjelasan apapun, sepertinya dia enggan menceritakan lebih jauh soal pacarnya. Shinta juga cerita bahwa selama ini dia tidak pernah kemana-mana, kecuali pernah dua kali di ajak pacarnya piknik ke daerah wisata di Kuningan.

Seminggu kemudian di hari Jum’at, waktu Shinta akan naik di mobilku kulihat wajahnya sedih dan matanya bengkak seperti habis menangis dan Shinta duduk tanpa banyak bicara. filmbokepjepang.net Karena penasaran, kusapa dia, “Shinta, habis nangis yaa…, kenapa..? coba Shinta ceritakan.., siapa tahu Oom bisa membantu”. Shinta tetap membisu dan sedikit gelisah. Lama dia diam saja dan aku juga tidak mau mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan, tetapi kemudian dia berkata, “Oom, saya habis ribut dengan Bapak dan Ibu”, lalu dia diam lagi.

“Kalau Shinta percaya pada Oom, tolong coba ceritakan masalahnya apa, siapa tahu Oom bisa membantu”, kataku tetapi Shinta saja tetap membisu.

Ketika mobilku sudah mendekati sekolahnya, tiba-tiba Shinta berkata, “Oom…, boleh nggak Shinta minta waktu sedikit buat bicara di sini, mumpung masih belum sampai di sekolah”. Mendengar permintaannya itu, segera saja kuhentikan mobilku di pinggir jalan dan kira-kira jaraknya masih 2 Km dari sekolahnya.

“Ada apa Shinta…?”, Kataku. Shinta tetap diam dan sepertinya ada keraguan untuk memulai berbicara.”Ayoo…, lah Shinta (sebenarnya pengarang penuliskan tiga harus terakhir dari namanya, tapi terpaksa oleh Yuri diganti jadi 3 huruf terdepan), jangan takut atau ragu…, ada apa sebenarnya”, tanyaku lagi.

“Begini…, Oom, kata Shinta”, lalu dia menceritakan bahwa tadi malam dia minta uang kepada orang tuanya untuk membayar uang sekolahnya yang sudah tiga bulan belum dibayar dan hari ini adalah hari terakhir dia harus membayar, karena kalau tidak dia tidak boleh mengikuti ulangan.

Orang tuanya ternyata tidak mempunyai uang sama sekali, padahal uang sekolah yang harus dibayar itu sebesar 80 ribu rupiah. Alasan orang tuanya karena panen padi yang diharapkan telah punah karena hujan yang terus menerus. Dan katanya lagi orang tuanya menyuruh dia berhenti sekolah karena tidak mampu lagi untuk membayar uang sekolah dan mau dikimpoikan dengan tetangganya.

Aku tetap diam untuk mendengarkan ceritanya sampai selesai dan karena Shinta juga terus diam, lalu kutanya, “Teruskan ceritamu sampai selesai Shinta”. Dia tidak segera menjawab tapi yang kulihat airmatanya terlihat menggenang dan sambil mengusap air matanya dia berkata, “Oom, sebetulnya masih banyak yang ingin Shinta ceritakan, tapi saya takut nanti Oom terlambat ke kantornya dan Shinta juga harus ke sekolah, serta lanjutnya lagi…, kalau Oom ada waktu dan tidak keberatan, saya ingin pergi dengan Oom supaya saya bisa menceritakan semua masalah pribadi saya”.

Setelah diam sejenak, lalu Shinta berkata lagi, “Oom, kalau ada dan tidak keberatan, saya mau pinjam uang Oom 80 ribu untuk membayar uang sekolah dan saya janji akan mengembalikan setelah saya dapat dari orang tua saya”. Mendengar cerita Shinta walaupun belum seluruhnya, hatiku terasa tersayat dan segera kurogoh dompetku dan kuambilkan uang 200 ribu dan segera kuberikan padanya.

“Lho Oom, kok banyak benar…, saya takut tidak dapat mengembalikannya”, katanya sambil menarik tangannya sebelum uang dari tanganku dipegangnya.”Shinta.., ambillah…, nggak apa-apa kok, sisanya boleh kamu belikan buku-buku atau apa saja…, saya yakin Shinta membutuhkannya”, dan segera kupegang tangannya sambil meletakkan uang itu ditangannya dan sambil kukatakan, “Shinta.., ini nggak usah kamu beritahukan kepada siapa-siapa, juga jangan kepada orang tuamu…, dan Shinta nggak perlu mengembalikannya”.

Belum selesai kata-kataku, tiba-tiba saja dari tempat duduknya dia maju dan mencium pipi kiriku sambil berkata, “Terima kasih banyak Oom.., Oom.. sudah banyak menolong saya”. Aku jadi sangat terkesiap dan berdebar, bukan karena mendapat ciuman di pipiku, tapi karena tangan kiriku tersentuh buah dadanya yang terasa sangat empuk sehingga tidak terasa penisku menjadi tegang dan sementara Shinta masih mencium pipiku, kugunakan tangan kananku untuk membelai rambutnya dan kucium hidungnya.

“Ayoo…, Shinta…, sudah lama kita di sini, nanti kamu terlambat sekolahnya”.Shinta tidak menjawab tapi kulihat dikedua matanya masih tergenang air matanya. Ketika sudah sampai di depan sekolahnya sambil membuka pintu mobil, Shinta berkata, “Oom.., terima kasih yaa.. Ooom dan kapan Oom ada waktu untuk mendengar cerita Shinta”.


“Kalau besok gimana..?, kataku.

“Boleh.., oom”, jawabnya cepat.

“Lho…, besok kan masih hari Sabtu dan Shinta kan harus sekolah”, jawabku.

“Sekali-kali mbolos kan nggak apa apa Oom…, hari Sabtu kan pelajarannya tidak begitu padat dan kurang penting”, kata Shinta.

“Oklah…, kalau begitu…, Shinta, kita ketemu besok pagi ditempat biasa kamu menunggu”.

Dalam perjalanan ke kantor setelah Shinta turun, masalah Shinta terasa mengganggu pikiranku sehingga tidak terasa aku sudah sampai di kantor. filmbokepjepang.net Sebelum pulang kantor, aku izin untuk tidak masuk besok Sabtu pada Bossku dengan alasan akan mengurus persoalan keluarga di Kuningan. Demikian juga waktu malamnya kukatakan pada istriku kalau aku harus ke Jakarta untuk urusan kantor dan kalau selesainya telat terpaksa harus menginap dan pulang pada hari Minggu.

Besok paginya dengan berbekal 1 stel pakaian yang telah disiapkan oleh Istriku, aku berangkat dan sampai di tempat yang biasa, kulihat Shinta tetap memakai baju seragam sekolahnya. Setelah dia naik ke mobil, kembali kulihat matanya tetap seperti habis menangis.

Lalu kutanya, “Shinta…, habis perang lagi yaa?, soal apa lagi?”.

“Oom, ceritanya nanti saja deh”, katanya agak malas.

cerita-seks-bersama-shinta-yang-polos
cerita-seks-bersama-shinta-yang-polos
“Kita mau kemana Oom?”, Tanyanya.

“Lho…, terserah Shinta saja.., Oom sih ikut saja”.

“Oom…, saya kepingin ke tempat yang agak sepi dan nggak ada orang lain…, jadi kalau-kalau Shinta nangis, nggak ada yang melihatnya kecuali Oom”.

Sambil memutar mobilku kembali ke arah Cirebon, aku berpikir sejenak mau ke tempat mana yang sesuai dengan permintaan Shinta, dan segera teringat kalau di pinggiran kota Cirebon yang ke arah Kuningan ada sebuah lapangan Golf dan Cottage CPN.

Segera saja kukatakan padanya, “Shinta… Tempat yang sesuai dengan keinginanmu itu kayaknya agak susah, tapi…, bagaimana kalau kita ke CPN saja..?”.

“Dimana itu Oom dan tempat apaan?”,tanya Shinta.

Aku jadi agak susah menjelaskannya, tapi kujawab saja, “Tempatnya sih nggak jauh yaitu sedikit di luar Cirebon dan…, begini saja deh.., Shinta.., kita ke sana dulu dan kalau Shinta kurang setuju dengan tempatnya, kita cari tempat lain lagi”. Setelah sampai di tempat dan mendaftar di receptionist serta memesan minuman ringan serta mengambil kunci kamarnya, segera aku kembali ke mobil dan kutanyakan pada Shinta–“gimana Shinta.., kamu mau disini..?, lihat saja tempatnya sepi (maklum saja masih pagi-pagi. Receptionistnya saja seperti terheran-heran, sepertinya berfikir kok ada tamu pagi-pagi sekali dan nomor mobilnya bukan dari luar kota).

Setelah mobil kuparkir di depan KAMAR, sebelum turun kutanya dia kembali, “Shinta…, gimana.., mau di sini? atau mau cari tempat lain?”. Shinta tidak segera menjawab pertanyaanku, tapi dia ikut turun dari mobil dan mengikutiku ke arah pintu kamar motel. Segera setelah sampai di dalam, dia langsung duduk di tempat tidur sambil memperhatikan seluruh ruangan.

Karena kulihat dia tetap diam saja, aku jadi merasa tidak enak dan segera kudekati dia yang masih tetap duduk di pinggiran tempat tidur dan sambil agak berlutut, kucium keningnya beberapa saat dan tiba-tiba saja Shinta memelukku dan terdengar tangisan lirih sambil terisak-isak. Sambil masih memelukku, kuangkat berdiri dari duduknya dan kuelus-elus rambutnya, sambil kucium pipinya serta kukatakan, “Shinta coba tenangkan dirimu dan ceritakan semua masalah mu pada Oom…, siapa tahu Oom bisa membantumu dalam memecahkan masalahmu itu”.

Shinta masih saja memelukku tapi senggukan tangisnya mulai mereda. Beberapa saat kemudian kubimbing dia ke arah tempat tidur dan perlahan kutelentangkan Shinta di tempat tidur dan kurangkulkan tangan kiriku di bahunya dan kupandangi wajahnya, sambil kukatakan, “Shinta cobalah ceritakan masalahmu itu dan biar Oom bisa mengetahui permasalahanmu itu”.

Shinta tetap diam saja dan memejamkan matanya, tapi tak lama kemudian, sambil menyeka air matanya dia membuka matanya dan memandang ke arahku yang jaraknya antara wajahnya dan wajahku sangat dekat sekali. “Oom…”, katanya seperti akan memulai bercerita, tapi lalu dia diam lagi. “Shinta…”, kataku sambil kucium pipinya dan kuusap-usapkan jari tangan kananku di rambutnya, “cerita lah”.

Lalu Shinta mulai bercerita dan dia menceritakan secara panjang lebar soal kehidupan keluarganya yang miskin, dia anak pertama dari 3 bersaudara, tentang pacarnya di sekolah tapi lain kelas yang sudah 2 tahun pacaran dan sekarang sudah meninggalkan dia karena mendapatkan pacar baru di kelasnya dan dia juga menceritakan kalau orang tuanya sudah menjodohkan dengan tetangganya yang sudah punya istri dan anak, tapi kaya dan rumahnya tidak terlalu jauh dari rumah Shinta dan dia harus segera berhenti dari sekolahnya karena akan dikimpoikan pada bulan Maret akan datang.

Shinta katanya kepingin sekolah dulu dan belum pingin kimpoi, apalagi kimpoi dengan orang yang sudah punya Istri dan anak. Shinta punya keinginan mau lari dari rumahnya, tapi tidak tahu mau ke mana. Shinta juga menceritakan bahwa sebetulnya dia masih cinta kepada kawan sekolahnya itu, apalagi dia sudah telanjur pernah tidur bersama sewaktu piknik ke Kuningan dulu, walaupun katanya dia tidak yakin kalau punya pacarnya itu sudah masuk ke vaginanya apa belum, karena belum apa-apa sudah keluar katanya.

“Jadi…, gimana.., Oom.., apa yang harus saya perbuat dengan masalah ini, katanya setelah menyelesaikan ceritanya.

“Shinta”, kataku sambil kembali kuelus-elus rambutnya dan kucium pipinya di dekat bibirnya.

“Shinta…, masalahmu kok begitu rumit, terutama persoalan lamaran tetanggamu itu. Begini saja Shinta…, sebaiknya kamu minta kepada orangtuamu untuk menunda perkimpoian itu sampai kamu selesai sekolah. Bilang saja…, kalau ujian SMA-mu hanya tinggal beberapa bulan lagi”.

“Katakan lagi…, sayang kalau biaya yang telah dikeluarkan selama hampir tiga tahun di SMA harus hilang percuma tanpa mendapatkan Ijasah. Shinta…, sewaktu kamu mengatakan ini semua, jangan pakai emosi, katakan dengan lemah lembut, mudah-mudahan saja orang tuamu mau mengerti dan mengundurkan perjodohanmu dengan tetanggamu itu”.

“Kalau orang tuamu setuju, jadi kamu bisa konsentrasi untuk menyelesaikan sekolahmu dan yang lainnya bisa dipikirkan kemudian”.

Setelah selesai memberikan saran ini, lalu kembali kucium pipinya seraya kutanya…, “Shinta…, bagaimana pendapatmu dengan saran Oom ini?”.



Seraya saja Shinta bangkit dari tidurnya dan memelukku erat-erat sambil menciumi pipiku dan berkata, “Ooom…, terima kasih.., atas saran Oom ini…, belum terpikir oleh saya sebelumnya hal ini…, Oom sangat baik terhadap Shinta entah bagaimana caranya saya membalas kebaikan Oom”, dan terasa air matanya menetes di pipiku.

Setelah diam sesaat, kembali kurebahkan badan Shinta telentang dan kulihat dari matanya yang tertutup itu sisa air matanya dan segera kucium kedua matanya dan sedikit demi sedikit cimmanku kuturunkan ke hidungnya dan terus turun ke pipi kirinya, setelah itu kugeser ciumanku mendekati bibirnya. Karena Shinta masih tetap diam dan tidak menolak, keberanianku semakin bertambah dan secara perlahan-lahan kugeser ciumanku ke arah bibirnya, dan tiba-tiba saja Shinta menerkam dan memelukku serta mencari bibirku dengan matanya yang masih tertutup.

Aku berciuman cukup lama dan sesekali lidahku kujulurkan ke dalam mulutnya dan Shinta mengisapnya. Sambil tetap berciuman, kurebahkan badannya lagi dan tangan kananku segera kuletakkan tepat di atas buah dadanya yang terasa sangat kenyal dan sedikit kuremas. Karena tidak ada reaksi yang berlebihan serta Shinta bukan saja mencium bibirku tapi seluruh wajahku, maka satu persatu kancing baju SMU-nya berhasil kulepas dan ketika kusingkap bajunya, tersembul dua bukit yang halus tertutup BH putih tipis dan ukurannya tidak terlalu besar.

Cerita Sex Ketika kucoba membuka baju sekolahnya dari tangan kanannya, Shinta kelihatannya tetap diam dan malah membantu dengan membengkokkan tangannya. filmbokepjepang.net Setelah berhasil melepas baju dari tangan kanannya, segera kucari kaitan BH-nya di belakang dan dengan mudah kutemukan serta kulepaskan kaitannya, sementara itu kami masih tetap berciuman, kadang dibibir dan sesekali di seluruh wajah bergantian.

BH-nya pun dengan mudah kulepas dari tangan kanannya dan ketika kusingkap BH-nya, tersembul b*******a Shinta yang ukurannya tidak terlalu besar tapi menantang dan dengan p****g susunya berShintana kecoklatan. Dan dengan tidak sabar dan sambil meremas pelan p******a kanannya, kuturunkan wajahku menyelusuri leher dan terus ke bawah dan sesampainya di payudaranya, kujilati p******a Shinta yang menantang itu dan sesekali kuhisap p****g susunya, sementara Shinta meremas-remas rambutku seraya terdengar suara lirih, “aahh…, aahh…, ooomm…, ssshh…, aahh”.

Aku paling tidak tahan kalau mendengar suara lirih seperti ini, serta merta penisku semakin tegang dan kugunakan kesempatan ini sambil tetap menjilati dan menghisap p******a Shinta, kugunakan tangan kananku untuk menelusuri bagian bawah badan Shinta Ketika sampai di celana dalamnya serta kuelus-elus vaginanya, terasa sekali ada bagian CD yang basah.

Sambil masih tetap menjilati p******a Shinta, kugunakan jari tanganku menyusup masuk dari samping CD-nya untuk mencari bibir vaginanya dan ketika dapat dan kuelus, badan Shinta terasa menggelinjang dan membukakan kakinya serta kembali terdengar, “aahh…, ssshh…, ssshh…, aahh”. Aku jadi semakin penasaran saja mendengar suara Shinta mengerang lirih seperti itu. Segera kulepas tanganku yang ada di vaginanya dan sekarang kugunakan untuk mencari kancing atau apapun yang ada di Rok sekolahnya untuk segera kulepas. Bersambung...

Monday, October 6, 2025

Cerita Seks Bersama Teman Lamaku

Cerita Seks -  Mulanya aku jumpa tidak sengaja dengan teman yang sudah lama tidak bertemu. Aku mengenali temanku yang dulu kawan sepermainan di kampung. Dia tidak mengenaliku, tetapi aku masih ingat ciri-cirinya. Dia waktu itu sedang berdiri di pinggir jalan menunggu bus, sementara aku sedang jalan di kaki lima. Aku tegur dia “Gentar ya.”. 

Dia terkejut sambil mengernyit menatapku. “Iya, siapa ya,” tanyanya. Aku tidak menyebut namaku, tapi menyebut sepatah kata, “gua lempung”. “Hah kamu Ardian ya,” katanya sambil menjabat tanganku erat sekali. Sahabatku terlihat miskin. 

Bajunya lusuh dan bau keringatnya agak menyengat. “Mau kemana” tanyaku. “Pulang,” jawabnya singkat. Kami lalu ngobrol sebentar dan akhirnya aku memutuskan ikut ke rumahnya. Awalnya dia keberatan, karena malu rumahnya di dalam gang, kumuh. Namun aku memaksanya, sehingga dia tidak kuasa menolak. Sebenarnya aku bisa mencegat taxi agar lebih cepat ke tujuan, tetapi aku berusaha menyembunyikan keberadaanku, apalagi aku mengaku sedang mencari kerja. Ini setidaknya menjaga agar Gentar tidak minder terhadapku. 



 Kami naik bus yang penuh sesak, sekitar setengah jam Gentar mengajakku turun dan berjalan masuk ke gang, berliku-liku sampai gangnya kecil sekali sehingga untuk berpapasan saja harus saling memiringkan badan. Sebuah rumah, yang setengah berupa berupa bangunan tembok bata tidak berplester dan setengah atasnya anyaman bambu (tepas) yang sudah dilapisi kertas semen dan dicat. Lantainya semen biasa. Ada ruang tamu mungkin ukurannya sekitar 2 x 3 m lalu ada ruang di belakangnya yang mungkin itu kamar tidur. 

 Aku trenyuh melihat keadaannya, terlihat sangat miskin. Kami duduk di tikar. Gentar mengenalkan istrinya yang berpenampilan sederhana dan kelihatannya umurnya beda agak jauh dari Gentar. Jika Gentar sebaya aku sekitar 35 tahun, istrinya kelihatannya masih berusia di bawah 25 tahun. Istrinya biasa saja, tidak cantik, kulitnya sawo matang. Dia menyalamiku dan menyebut namanya Dina. Dari obrolan kami di ruang tamu yang bergaya lesehan, istrinya dikenalnya di wilayah tempat tinggalnya sekarang. Jadi Dina asli kelahiran kampung kumuh ini. 

 Mereka sudah 3 tahun berumah tangga, tetapi belum mendapat anak. Kami bertiga ngobrol ngalor – ngidul dan aku tetap berusaha menyembunyikan keadaan diriku. Aku berusaha mensejajarkan taraf hidupku dengan dia. Oleh karena itu, HP canggihku, aku sudah stel silent dan kusimpan di dalam tas. Itu semua aku kerjakan ketika mereka sedang sibuk di dalam rumah, mungkin mempersiapkan minuman kopiku. Aku sudah lama memiliki impian ingin merasakan hidup di tengah-tengah lingkungan kumuh rakyat jelata. Gentar yang secara kebetulan bertemu aku, memberi jalan masuk aku untuk mewujudkan keinginanku. Tanpa merasa canggung aku mengutarakan keinginanku mencari kamar kontrakan di daerah ini yang paling murah. 

Istri Gentar menyambut dengan mengatakan, cukup banyak, tinggal pilih saja. Pada saat itu juga aku minta diantar ketempat dimana-mana saja yang tersedia kontrakan itu. Setelah 4 – 5 tempat kami kunjungi sambil menelusuri gang-gang sempit, aku menemukan satu kamar yang letaknya diatas. Kamarnya hanya berukuran 2,5 x 2,5 m, yang merupakan rumah papan. Kamarnya kosong, tidak ada perabotan apa pun. Kamar mandi ada di bawah, yang merupakan fasilitas bersama untuk orang seisi rumah. Memang ada 2 kamar mandi untuk rumah ini yang mungkin dihuni oleh sekitar 10 orang. Biaya kontrakannya memang paling murah diantara semua yang diunjukin tadi. 

Aku tidak membayar langsung, tetapi memberi uang muka saja. Padahal di dompetku ada uang yang cukup untuk membayar lunas sekaligus setahun. Tapi ini aku tahan, agar tetap terlihat miskin. Sekitar 2 jam aku beranjang sana ke kediaman Gentar, aku lalu pamit. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tinggal di rumah saudara jauh. Di Jakarta ini aku sedang mencari kerja setelah tempat ku kerja di Jawa Tengah bangkrut. Padahal aku ke Jakarta untuk memeriksa operasional kantor cabangku yang ada 3 di kota ini. 

Aku membuka usaha di salah satu kota di Jawa Tengah dan di kota itulah aku tinggal bersama istri dan seorang anak. Dengan aset yang begitu besar seharusnya pakaianku perlente dan pastinya naik-turun mobil pribadi dari produk tahun mutakhir. Namun ketika aku bertemu dengan Gentar, aku sedang nyantai dengan blue jean buluk, kaos oblong hitam dan sendal jepit. Aku menyandang tas yang terbuat dari kain blacu dengan tulisan promosi dari produk tertentu. Aku memang sengaja tampil rada gembel, karena aku memang senang begitu. 

 Di Jakarta aku tinggal di apartemen sendirian. Kali ini aku akan tinggal di pemukiman kumuh dekat dengan rumah Gentar. Sebetulnya aku tidak punya pakaian yang bisa mendukung tampilan tinggal di daerah kumuh. Untuk menyempurnakan tampilanku, aku berburu pakaian bekas di pasar Senen. Beberapa hari kemudian saat agak sore,karena seharian aku pontang-panting dengan beban kerjaku. Sekitar jam 5 sore aku sudah sampai di daerah kumuh dan langsung menuju kamar kontrakanku. Aku temui pemilik kontrakan dan kubayar biaya sewa sebulan. Cerita Sex Aku masuk ke kamarku dan mengeluarkan handuk dan peralatan mandi. 



Untuk tidur aku menggelar matras gulungan yang biasa digunakan untuk anak-anak pecinta alam. Aku mencoba berbaring. Kamarku terasa gerah, karena tidak ada ventilasi. Sambil berbaring aku berpikir, berapa lama aku bisa tinggal dengan cara seperti ini. Aku mengenakan celana pendek, menyarungkan handuk, pakai kaos oblong yang kedodoran, memasukkan sabun dan sikat gigi serta pasta giginya di gayung. Aku turun untuk kekamar mandi. 

 Ternyata kamar mandi sedang terpakai semua. Si pemilik rumah memberi tahuku, kalau lagi penuh biasa antri. Dia menunjukkan bangku panjang di sisi rumah . Di situ sudah ada 2 orang yang sudah punya persiapan mandi. Sambil ngantri ke kamar mandi, akhirnya aku berkenalan dan kami ngobrol yang gak keruan juntrungnya. Sambil ngobrol aku menikmati pemandangan di dalam gang sempit, dimana anak-anak berlarian bermain, orang lalu lalang. Setengah jam kemudian giliranku tiba untuk masuk kamar mandi. 

Malam pertama aku tinggal di istana kumuh aku coba nikmati semaksimal mungkin. Meski suasananya gerah, aroma yang kurang enak serta berisik, dengan suara TV, motor, orang berbicara, anak-anak bermain, tetapi karena aku nikmati, rasanya ya nikmat-nikmat saja. Begitulah 3 hari aku berhasil menyesuaikan dengan kehidupan kaum jelata di daerah kumuh dan tidak ada seorangpun yang mencurigaiku, bahwa aku sebenarnya sedang menyamar Suatu sore aku duduk-duduk di depan rumah Gentar sambil merokok dan ngobrol. 

Terlihat oleh mataku seorang anak perempuan. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya juga putih. Jika dilihat dari tingginya anak ini masih tergolong kanak-kanak dipantaran usia 7 – 8 tahun. Ia menarik perhatianku karena anak sekecil itu dadanya sudah nyembul. Sambil menyembunyikan rasa antusiasku aku bertanya mengenai anak itu. Gentar tanpa mencurigaiku malah bercerita mengenai keluarga anak itu. 

Anak itu bernama Chyntia, anak tunggal dari single parent, ibunya keturunan China bekerja menerima cucian. Langsung muncul gagasan di kepalaku dan mengatakan ke Gentar, aku membutuhkan tukang cuci. Dia lalu berdiri mengajakku berjalan ke kontrakan ibu dari anak itu. Rupanya ibunya mendiami kamar kontrakan yang lebih parah keadaannya dari kamarku dan tidak jauh dari tempat tinggalku. Dia memperkenalkan diri Nana. 

Kelihatannya masih di tataran usia remaja, karena wajahnya belum terlihat terlalu emak-emak. Badannya pun belum melar. Wajahnya lumayan jugalah, tapi terlihat kurang terawat. Aku deal memakai jasa cuci dari si Nana. Aku minta dia mengambil cucian 2 kali seminggu, hari Selasa dan Jumat sore. Jika aku tidak ada dirumah pakaian kotorku kubungkus plastik dan diletakkan di depan pintu kamar. 

Pakaian yang sudah selesai akan aku ambil sendiri. Gentar bercerita bahwa suami si Nana sudah tewas di dor Polisi karena terlibat perdagangan narkoba. Nana anak yatim piatu, setelah dia kawin, kedua orang tuanya meninggal dan dia tidak memiliki saudara kandung, karena anak tunggal. Kasihan sebetulnya kalau melihat kehidupannya. Gentar bercerita bahwa istrinya sering memberi nasi bungkus, atau kue-kue, kalau kebetulan pulang pengajian ada bawa berkat. Tidak perlu lama, Dua kali dia mengambil cucian aku sudah akrab dengan Nana. Dia mau saja aku ajak ngobrol di kamar kontrakanku. Aku tertarik pada Nana karena dia punya bahan dasar yang cukup bagus. Artinya kalau dirawat dan dipoles akan terlihat cantik. 

Yang lebih menarik bagi ku adalah anak perempuan satu-satunya. Aku menggemari anak-anak yang menjelang remaja. Tujuanku tinggal di daerah kumuh ini sesungguhnya ya berburu lolita. Nana kutawari kerja sebagai pembantu. Aku mengaku ada temanku mencari pembantu. Dia langsung tanya gajinya berapa. Aku sebutkan suatu angka yang kutahu jumlah itu pasti sangat mencukupi bagi biaya hidup dia dan anaknya, bahkan mungkin berlebih. “Mau dong,” kapan bisa kerja, dari pada kerja ginian, duitnya gak seberapa,” katanya. 

 Syaratnya dia harus tinggal di dalam, masalah anak, tidak menjadi hambatan, bahkan anaknya akan dibiayai sekolah, jika si tuan rumah merasa cocok mempekerjakan Nana. “Aduh mau dong, ayo dong buruan,” katanya sambil menggamit lenganku dan menggoyang-goyangkan. Aku mengemukakan syarat, agar merahasiakan dia akan bekerja apa dan dimana. “ Kenapa emangnya,” tanya dia mengernyit. “Ya gak tahulah, kalau bisa terima syarat itu, besok akan saya antar dan langsung cabut dari rumah.,” kataku. Memikirkan iming-iming gaji yang lumayan dan kerjanya tidak berat, serta anaknya sekolah dibiayai, maka segala syarat yang aku ajukan itu bisa dia terima.

Saturday, October 4, 2025

Cerita Seks ku Di Rumah Sakit

Cerita Seks Nama doktor itu  Dr Andri berusia 50 tahunan, ia adalah seorang yang jenius dan karismatik, Doktor spesialis bedah otak. Ia mempunyai seorang istri bernama Jennifer, Dr Andri sangat mencintai istrinya walaupun istrinya sakit-sakitan.

Dr. Andri berusaha keras untuk menyembuhkan penyakit istrinya, segala macam cara kedoktoran sudah ditempuh dan dicobanya namun penyakit istrinya tidak kunjung sembuh. Semakin lama penyakit istrinya bertambah parah, kodisi tubuh wanita yang disayanginya bertambah lemah.

“Andriee… aku sss udah tidak kuat lagi…”Carolina terkulai lemah dalam pelukan pria yang dicintainya. “Tidak… Tidakkkk sayanggg kamu harruss kuatt… aku tidak sanggup untuk kehilanganmu…”Dr Andri menangis terisak-isak. “Sellll..lepass kepergianku… khau Harus hidup dengan baikkk…”Carolina tampak kesulitan bernafas.

Dr. Andri menggenggam tangan wanita yang dicintainya erat-erat, Carolina tersenyum, perlahan-lahan nafasnya sirna, dan akhirnya berhenti, Dr Andri menangis terisak-isak menangisi kepergian wanita yang selama ini dicintainya.

DiaryCeritaSexku Dr. Andri seperti teringat sesuatu, dengan bersusah payah Dr Andri menggotong tubuh istrinya kesebuah ruangan. Dr Andri tampak sibuk, mempersiapkan sebuah tabung besar,mengisi tabung besar itu dengan cairan berwarna keperakan, berbagai macam kabel berbagai ukuran menempel ditabung itu, dengan terburu-buru, Dr Andri memasukkan tubuh istrinya kedalam tabung besar itu.

“Bersabarlah sayangku… sampai aku berhasil………..” Dr Andri berkata lirih sambil memandangi wanita yang dicintainya yang kini berbaring didalam tabung besar itu.

Semenjak kematian istrinya Dr Andri rajin melakukan berbagai macam experiment, sebuah buku tua menarik perhatiannya belakangan ini, wajahnya kini brewokan dan tampak lusuh, selama 8 bulan Dr Andri bekerja keras siang dan malam.

“Hmmmm….setelah ku-modifikas 70 % berhasil… namun jika gagal akibatnya sungguh mengerikan” Dr Andri memandangi hewan percobaannya, sorot matanya tampak dingin tanpa expresi, Dr Andri memandangi sebuah mesin barunya, “Mesin penukar roh X – 5 “(red : bacanya Ex Five he he he,kalo jadi sih T.T neh ceritanya  mengenai asal usul mesin X-5 akan dikupas diepisode Hospital episode sekian : X-5 The Origin  Crystal Liu Yi Fei Twin’s Babes), senyuman dingin tersungging diwajahnya,





Disuatu malam dibasement Dr Andri yang kedap suara

“Arggggghhhh…..” terdengar suara lolongan kesakitan seorang pria tua lusuh, namanya Arya seorang pengemis tua, wajahnya terlihat memelas didalam sebuah tabung besar terbuat dari kaca super kuat.

“Tollooonnnnnggggg….Ayahhhhh Hueggghhhhh….Hhhhhh” Tubuh anak kecil bernama Ade  itu kelojotan dan kemudian terkulai lemah didalam tabung besar lain, demikian juga tubuh sipengemis, suara mesin terdengar memekakkan telinga.


Perlahan-lahan tampak sebuah sinar yang berasap melayang-layang didalam kedua tabung itu. Sinar biru disebelah kanan dan Sinar kuning  disebelah kiri. Mesin itu kembali bersuara memekakkan telinga beberapa saat kemudian Sinar Biru dan Sinar Kuning itu bertukar tempat Dr Andri tertawa gembira melihat percobaannya berhasil.

Disebuah rumah dikota Jakarta.
“Ayahhh… ini Ade ” seorang pengemis tua memasuki rumah mewah, sang pemilik rumah melotot dan segera memanggil satpam untuk mengusir sipengemis yang menangis meraung-raung seperti anak kecil.
Pemilik rumah itu memang sedang mencari anaknya Ade , koq malah ada pengemis yang ngaku menjadi anaknya, sambil menghela nafas  pemilik rumah mewah itu masuk kedalam rumah.

“Tolongg Non………., saya belum makan dari kemarin ” sesosok anak kecil memohon dengan wajahnya yang memelas. Seorang gadis SMA berwajah cantik dan kaya memberikan uang 20 ribuan, bahkan bertanya dengan ramah. “Oo jadi Nama Kamu Arya ya….Ayo, masuk hujannn….”Sigadis dengan ramah mempersilahkan anak kecil itu untuk masuk kerumahnya, gadis cantik itu tidak memperhatikan senyuman aneh diwajah sang anak  yang tampak polos. “Esssttth… cantik amattt…rejeki gua  eh !!!” suara hati, sang anak

“Arya… emang kamu ngak punya orang tua ?” Gadis cantik bermata sipit itu bertanya pada Arya yang tengah makan dengan lahap.
Nama gadis itu Vina Olivia, berusia 17 tahun, kulitnya putih bersih, lekuk tubuhnya benar-benar menggoda , buah dadanya tidak begitu besar, namun nampak keras dibalik baju seragamnya.

Arya menggeleng-gelengkan kepala , wajahnya sengaja dibuat sedih “Uhukkk… uhukkkk… “Arya sampai keselek ketika tanpa sengaja melihat Paha Vina yang mulus tersibak.

“Ehhh kenapa…. Ini… duhhhh kasihannn….” Vina memberikan segelas air minum pada Arya.

“Waduhhh koqqq dikasih air sihhh…!!! yang gua mau isi didalam rok..!!! Gllekk Glekkkkk ” Arya menggerutu sambil memperhatikan Vina yang melangkah menghampiri telepon yang berdering diruangan itu.

“Hallo.. Ehhh mama… iya… emanggg sihhhh sepertinya begitu”Vina berbincang-bincang dengan orang tuanya
“Gimana Papa… sehattt ?”Vina menanyakan kabar ayahnya.
“Jadi kapannn pulangggg ?” Vina terlihat gembira.

“Ci Vina kenapa ? “setelah selesai makan Arya menghampiri Vina yang sedang duduk diatas Sofa empuk, Gadis itu agak manyun.

Vina menggeleng-gelengkan kepalanya “Ngak apa-apa…. Cuma Sebelll banyak PR”, Arya menatap Vina dengan wajah serius, matanya memperhatikan tonjolan didada Vina,melalui sela-sela kancing baju seragam Vina Arya bahkan bisa melihat sedikit gundukan daging putih itu.


“Cuppp…”sebuah kecupan mendarat dipipi Vina
“Heiiiii…. Ngapain sihhh…” Vina mendadak sewot karena pipinya dicium Arya

“Aa Aaku Cuma mau ngucapin terimakasih aja Vina…Ehh Ci Vina” Arya tersentak kaget.
“Yaa tapi ngak usah pake cium pipi segala….” Vina protes. ( red : cunihin banget nihh anakk!! Kaya crayon sincan “ho ho ho…. Cie Cie yang cantikkkkk…”)

“Maaffffff……Ci Vina”Arya pura-pura menyesal
“Ihhhhhh… lucunyaaaa…. He he he…”Vina mendadak mencubit pipi Arya kemudian gadis cantik itu memeluk Arya.
“Aduhhhh….. mampusss gua dahhhh !!!Uhhhhhh Asikkkkkkkkkkkkk” kata Arya dalam hati.

Pada saat Arya lagi bersenang-senang dipeluk oleh Vina tiba tiba suara bel berbunyi
“Kunyukkk…. Siapa sihhhh ganggu aja……” Arya down berat ketika Vina melepaskan tubuhnya yang kecil mungil dan melangkah menuju pintu.


“Mamahhhhhh…!!!! Ih sebelll tadi ditelopon bilangnya besok baru pulanggg” Vina terlihat manja.
“Haa Haa Haa… bolehhh donggg kita godain anak kita yang manjaaa” terdengar suara laki-laki , yang sepertinya ayah gadis itu.

“Oooo iya Mahhh… Pahhhh kenalin ini Arya…. Kasian deh dia ngak punya orang tua…. Vina mau ngajak dia untuk tinggal disini ya… boleh ngakkk ?lagian rumah kita kan besar” Vina bergelayutan ditangan ayahnya.
“Hmmm… Yaw dahhh… terserahhh kamu… Duhh anak siapa ini baek amattt…”mamah Vina mencubit hidung putrinya.

Arya cengengesan , kedua orang tua Vina sangat ramah,tanpa curiga mereka menerima sikecil berotak kotor dirumah mewah itu. Malam semakin larut, penghuni rumah itu masuk kekamarna masing-masing.
Dipagi hari , Arya memperhatikan kamar barunya, sebuah tempat tidur yang empuk, bersih, hangat, otaknya yang ngeres berkhayal dengan kreatif sambil membayangkan tubuh Vina yang telanjang.

“Tok.. tokkk tokkk…”pintu kamar diketuk
“Ehhh Ci Vina…ada apa Ci”Mata Arya seperti hendak menelanjangi tubuh gadis itu, yang kini memakai seragam SMAnya.

“Arya.. ayo kamu ikut kesekolah… ntar pulangnya temenin aku shooping…Eitttt kamu mandi ama ganti baju dulu”Vina tersenyum manis ketika Arya mendelik melihat baju barunya yang bermotifkan power ranger.

“Kamu suka ngakk ? tadi ada pedagang keliling lewat trus aku beliin buat kamu….”
“Su Su.. ehhh suka..” Arya gelagapan, jawabannnya tercampur dengan pikiran ngeres dikepalanya, agak manyun pahlawan kecil kita ketika melangkahkan kakinya kekamar mandi.

“Waduhhh masak gua pake baju ginian… norak amattt…. Pilihin baju yang rada-rada macho kek…”Arya memandangi dirinya dicermin, Arya ngak sempat berpikir lebih lanjut,karena Vina sudah berteriak-teriak memanggilnya.

Arya yang duduk didepan berkali-kali memandangi Vina yang sedang nyetir, sesekali Vina tertawa kecil ketika Arya membuat lelucon-lelucon konyol.

Akhirnya tiba juga mereka disekolahan elite itu, mata Arya melotot lebar-lebar,ia tampak kesulitan mengambil nafas ketika Vina menaikkan kaki kirinya untuk memakai sepatu, sepasang paha yang mulus dan tampak halus tersibak dari balik rok abu-abu, kedua paha mulus itu  bergerak-gerak karena pemiliknya kesulitan memakai sepatu dalam posisi duduk dihadapan Stir mobil.

“Kamu tunggu disini… ini kunci mobil… kantin ada disana…nih buat jajan ” Vina terburu-buru memberikan uang 10 ribuan.

Arya memandangi Vina yang berlari-lari kecil menuju kelasnya, tangannya menyelinap kebalik celana pendek, kemudian dengan instensif mengocok-ngocok penis kecilnya.

Arya tersenyum lebar melihat Vina menghampiri mobil, gadis itu menepuk-nepuk kepala Arya sambil berkata. “Kaciannn lama ya he he he” kemudian mobil yang mereka tumpangi berhenti disebuah mall.

“Yangg ini lebih baguss…”Arya menyarankan sebuah pakaian seksi pada Vina.
“Tapi itu terlalu terbuka… maluuu…”Vina memandangi sebuah tank-top lengkap dengan rok mini.
“Udahhh beli aja… Ci Vina bagus koq kalo pake baju ini…

”Arya mulai menjerumuskan Vina agar mau sedikit mengekspose keindahan tubuhnya, akhirnya Vina memberanikan diri membeli beberapa buah pakaian minim itu, Arya juga dibelikan beberapa buah pakaian anak, sesuai ukuran tubuhnya yang kini pendek dan kecil, sehabis makan dengan akal ngeresnya Arya mengajak Vina ke Sauna.

Mata Arya melotot melihat tubuh indah itu kini hanya berbalut sebuah kain handuk.
“Arya…  panas ya ?”Vina kepanasan.
“Ya iya lah panas, coba lepasin anduknya pasti adem…”Arya menjawab sambil tersenyum rada-rada mesum.
“Enak aja… sini anduk kamu aja yang dilepas…he he he ” Vina pura-pura hendak menarik handuk yang membalut tubuh pendek dihadapannya.

Walaupun Vina menarik dengan pelan namun Handuk itu terlepas, atau lebih tepatnya sikecil jagoan kita sengaja melepaskannya.

“Ehhhh…. Aduh….” Arya pura-pura terkejut ketika handuknya terlepas.

Vina menahan Nafasnya melihat sesuatu diselangkangan Arya, ada ulat kecil yang membengkak.
Dengan berani Arya menghampiri Vina, tangan Arya hinggap dilutut Vina.

“Apa boleh aku memanggilmu Vina..”Arya bertanya serius sambil mengusap-ngusap lutut Vina.
Mata Vina yang sipit memandangi Arya kemudian mengangguk pelan, gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain ketika Tangan Arya merayap semakin keatas.

“Ohhh…………” Nafas Vina memburu ketika Arya menciumi pahanya, Vina seperti kebingungan, disatu sisi ada rasa nikmat yang membuat penasaran, disatu sisi Vina kaget berat dengan keberanian Arya, mana mungkin anak sekecil Arya seberani ini…begitu pikiran gadis bermata sipit itu. (red : badan sih anak kecil tapi isinyaaa… pengemis tua berotak bejad…). Vina menggeliat resah antara mau menerima perlakuan Arya atau menolak pelecehan yang dilakukan oleh Arya.

Vina terdiam seribu bahasa ketika tangan kecil Arya menarik lepas kain handuk ditubuhnya.

Mata Arya terbuka lebar-lebar memandangi tubuh Vina yang mulus, buah dadanya tidak terlalu besar namun tampak keras, kulitnya yang putih mulus tampak lembab dan halus, rambutnya yang hitam sepunggung tampak basah. Kedua tangan Vina menutupi wilayah selangkangannya, tapi hal itu bukan masalah bagi Arya.

Perlahan-lahan Arya meletakkan tangannya digundukan buah dada Vina, “Arya… ahhh” Vina menepiskan tangan Arya, mata sipitnya menatap Arya, dengan berani Arya menatap dalam-dalam mata Vina.

Arya mengalungkan kedua tangannya keleher Vina, ditariknya leher gadis itu dan dengan lembut bibir mereka mulai menyatu dengan erat, tubuh Vina bergetar hebat ketika lidah Arya begitu hebat mengait-ngait lidahnya.

“Hmmmm Mmmmmhhh Mhhhh…” suara itu keluar dari mulut mulut Vina ketika Ciuman Arya mulai berubah begitu rakus dan liar.

“Oufffhhh Haaa ahhh.. Mmmmmhhhhhh” untuk sesaat Vina berhasil melepaskan bibirnya dari bibir Arya untuk mengambil nafas  namun Arya segera mengulum bibir mungil gadis itu kembali.

Rintihan-rintihan tertahan keluar dari mulut Vina ketika ciuman dan cumbuan Arya yang panas turun kearah dadanya, tubuhnya seperti tersengat aliran listrik ketika merasakan hisapan kuat diputing susunya.

“Wadowwh…. Blukkkkkkk” Arya terjengkang ketika Tangan Vina dengan reflek mendorong kepala kecil yang sedang menghisap putting Susunya kuat-kuat.

Setelah berusaha menekan rangsangan yang membara, Vina berdiri hendak meraih handuk yang tercecer namun dengan cekatan Arya menyambar handuk itu dilemparkannnya handuk itu jauh – jauh.
Tangan kanan Vina menutupi wilayah Vaginanya, sedangkan yang kiri disilangkan didepan dada ketika Arya menghampirinya kembali.

“Vina… he he he” sambil terkekeh-kekeh Arya mengambil posisi dibelakang Vina, tinggi kepalanya pas banget sebuah pantat Vina yang bulat padat, tangan mungil itu melingkar melingkari pinggul Vina, sedangkan wajahnya mendekati bulatan pantat yang empuk dan halus.

“Ohhh……..” Vina hanya dapat mengeluh panjang ketika lidah Arya menggelitiki sela-sela pantatnya, beberapa menit kemudian Vina tampak rileks, rasa nikmat yang diberikan oleh Arya sudah meracuni sekujur tubuhnya yang halus dan mulus.

Arya menarik Vina kearah bangku panjang diruangan sauna itu kemudian disuruhnya Vina untuk berbaring diatas bangku itu, Vina menuruti perintah Arya, tangan Arya mulai merayap dibuah dada Vina, dielus-elusnya bulatan Susu Vina, putting Susu Vina tampak mengeras dan meruncing, rintihan-rintihan semakin sering terdengar dari mulutnya.

“Haaaa Ahhhhhhhhh….”mata sipit Vina terbelak kemudian menatap langit-langit ruangan sauna itu dengan sayu, Kedua tangan Vina tampak terkulai lemas ketika merasakan jilatan kasar dibibir Vaginanya.

Mata Arya tambah melotot diperhatikannya baik-baik sebuah gundukan mungil dihadapan wajahnya, belahan tipis mungil  diselangkangan gadis itu tampak masih rapat dan selama ini belum terjamah oleh siapapun, bulu-bulu tipis menambah indah pemandangan bukit kecil diselangkangan Vina, ciuman-ciuman Arya membuat tubuh Vina menggeliat-geliat resah.

Dengan kedua jempolnya Arya berusaha membuka garis tipis diselangkangan Vina, berkali-kali Jempol Arya tergelincir karena licinnya bibir Vagina Vina, sampai suatu saat….

“Achhhhhhh…. “Vina mengeluh ketika merasakan sesuatu diselangkangannya seperti terbuka dengan tiba-tiba, rasanya nikmat mengiringi terbukanya sesuatu diselangkangan gadis itu.

Mata Arya memandangi belahan tipis itu yang kini sedikit terbuka, Harumnya Vagina Vina keluar dari belahan diselangkangannya, Arya menjulurkan lidah kecilnya dan dengan ahli lidah kecil Arya mulai mengorek-ngorek sela-sela diselangkangan Vina.

Tubuh mulus Vina sesekali tersentak kuat ketika jilatan Arya mengulas-ngulas dan mengait -ngait daerah sekitar bibir Vaginanya yang selama ingin belum pernah disentuh oleh lawan jenis bahkan oleh mahluk kecil seperti Arya.

“He… Ennnnnnnnnggghhhh… Crrrrrrrrrrr CRRRRRRTT ” Vina mengejang , matanya terpejam rapat-rapat merasakan sesuatu yang baru pertama ini dirasakannya.
“Slllllrrp Sllllllrrrpppppppppp SSSSSLLLLLLRRPP” berkali-kali Arya menghisap dan menelan cairan gurih diselangkangan Vina.

Arya tersenyum-senyum sambil menunggu Vina keluar dari kamar ganti, senyumnya semakin lebar melihat Sosok cantik yang kini sudah berpakaian lengkap, sebuah seragam SMA menutup rapih tubuhnya yang putih mulus, tanpa banyak bicara Vina berjalan mendahului Arya.

“Duhhh body bahenol… mulus padet kencenggg he he he” Arya merentangkan tangannya hendak bersandar ketembok yang putih.

“Heeeeiiii… kurang ajarrrrr” wajah Arya mendadak pucat ketika tembok yang disentuhnya berteriak dengan keras.

“Maa Maaaffff… kirain tembok….” Arya meminta maaf dengan gugup pada wanita bertubuh gemuk berbalutkan handuk putih dipinggirnya.

“Tembok muka-lu… Bletakkkkkkkkkk”Wanita gemuk itu menjitak kepala Arya, suara dentuman diatas kepalanya terdengar dengan kuat.

“WAdouuhhhhhhhhhhh… ” Arya sampai jatuh duduk diatas lantai, beberapa orang disana memandanginya.

“dasar mahluk cebol ngak tau diri… mau gua pencet lu kayak nyamukk hahhhh ?” wanita gemuk itu hendak menghampiri Arya kembali.

Tanpa perlu basa-basi Arya mengeluarkan jurus terhebatnya, dengan sigap ia berdiri.

“Heuupp ciattttt” tubuh kecil itu mengeluarkan tendangan sakti, dengan sekali kibas siwanita gemuk  membuat Arya terpelanting cium tanah.
“Hekkkkk…..” mata Arya melotot ketika tangan wanita itu mencekiknya.

“Sokkkk Ciatt-ciattt sagala!!!! gua remes lu biar tau tatakrama” Tangan Arya berusaha setengah mati meraih handuk yang melilit tubuh wanita gemuk itu, dengan sekali sentak akhirnya……!!!!!!!!

“Waaaaaaw….. dasar monster cebolllll ” sigemuk melepaskan cekikannnya dileher Arya, tangannya kelabakan menutupi tubuhnya yang gembrot, Arya buru-buru merangkak dengan cepat kemudian ngacir sebelum segemuk selesai membalutkan handuk ditubuhnya yang berukuran raksaksa bagi sikecil Arya.

Arya mencari-cari mobil Vina, waduh koq ngak ada.,Arya tampak panik apa salah inget kali ya , perasaan tadi sih disini mobilnya. Apa ia ditinggal pergi oleh Vina. Arya tertunduk lesu
“Ditttt….” Arya menolehkan kepalanya kearah klakson mobil, ia tersenyum setelah membuka pintu mobil ia meloncat masuk.

Arya dengan kurang ajar menyelinapkan tangannya kebalik rok seragam Abu-abu yang dikenakan oleh Vina. Gadis itu hanya menelan ludah, tanpa berani menepiskan tangan Arya yang semakin kurang ajar mengelus-ngelus pahanya.

Sebuah senyum kemenangan muncul diwajah Arya yang tampak mesum. Lagi asik-asiknya Arya melecehkan Vina tiba-tiba ia menarik tangannya dari paha Vina, Arya menundukkan tubuhnya kemudian ngumpet ketakutan melihat Wanita gemuk itu sedang mencari-cari dirinya.

“Majuuuu ayooo cepattt…..!!” Arya memberi perintah pada Vina agar segera melarikan diri. Malam itu Vina diam seribu bahasa, ia tampak risih ketika Arya memandanginya, masih terbayang kejadian diruangan sauna sian tadi.

“Vina bobo dulu mahh..”Vina berlalu kekamarnya sedangkan kedua orang tuanya masih asik menonton Super Soulmate.

Suasana hening dirumah mewah itu terusik oleh sosok kecil yang mengendap-ngendap ditengah malam, didorongnya perlahan-lahan pintu kamar dihadapannya. Mata kecilnya berbinar-binar melihat penghuni kamar itu yang sedang terlelap, tanpa suara tubuh kecil itu masuk kedalam kamar, pintu kamar Vina kembali tertutup perlahan-lahan.

Arya tersenyum disisi ranjang, tangannya mengusur selimut diatas tubuh Vina, perlahan-lahan dengan hati-hati dibukainya kancing baju piyama Vina, tangan mungil Arya bergerak menyibakkan kekiri dan kekanan, matanya memperhatikan gerakan buah Susu Vina yang bergerak dengan indah seirama dengan helaan nafas gadis itu.

Perlahan-lahan Arya merangkak naik, kedua tangannya memeluk pinggang Vina, tubuhnya yang kecil mulai meneduhi tubuh Vina, ciumannya lembut disekitar buah Susu Vina, lidahnya mengait-ngait putting Susu Vina.

“Uhhh.. Mmmmmm” Vina terbangun matanya yang sipit terbuka dan berkedip beberapa kali, ia mulai mengenali wajah kecil yang tersenyum-senyum dihadapannya, matanya yang sipit melirik kebawah, baju piyama yang dikenakannya sudah tersibak dengan lebar menampakkan dua buah Susunya yang kini sedang diremas-remas oleh tangan mungil Arya.

Nafas Vina terlihat memburu, bibirnya mendesah-desah merasakan remasan-remasan dibuah dadanya, Arya begitu ahli mempermainkan buah Susu Vina yang semakin mengeras, tangan Arya membelai-belai bulatan Susu Vina yang mulus dan halus, dicubitnya putting Susu Vina kemudian ditarik-tariknya dengan lembut.

“Ahhhh Mm Mmissssdiiii…. ” kedua tangan Vina menekan kepala Arya kearah buah dadanya, kedua kakinya melejang-lejang diatas ranjang empuk itu.

Lidah Arya mengelitiki putting Susu Vina, diemutnya puncak payudara Vina sampai gadis itu menggelepar-gelepar keenakan.

Arya bergerak mengangkangi wajah Vina sambil menyodorkan penisnya yang kecil. Vina terdiam memandangi batang kecil itu, namun pada saat Arya menjejalkan helm kecil miliknya mulut Vina terbuka perlahan , Arya tersenyum sambil menekankan selakangannya kearah mulut Vina.

Vina mulai belajar menghisap penis Arya, sebuah pelajaran mesum diajarkan oleh Arya , otak Vina diracuni oleh hal-hal berbau porno, mulut Vina tampak kempot ketika menghisap permen loli diselangkangan Arya.

Mata Arya terpejam-pejam menikmati emutan-emutan Vina sibintang pelajar “Vinaii kamu pinter bangettt…. He he he…Flopp”Arya mendadak mencabut penisnya dari mulut Vina.

Kini Arya merangkul tubuh Vina, bibir mereka bertaut rapat, suara decak rakus keluar dari mulut Arya, lidahnya terjulur mengait-ngait lidah Vina, kedua tangan Vina memeluk tubuh kecil yang berada diatas tubuhnya.

Vina tambah mendesah-desah ketika ciuman Arya kini semakin turun dan turun…
Sebuah hisapan membuat tubuh Vina menggelepar , kedua tangan Vina memegangi kepala kecil diselangkangannya yang sangat rakus dan kehausan.

Arya menekan belahan bibir Vagina Arya, lidahnya mengulas-ngulas daging kecil mungil didalam Vagina gadis itu, semakin kuat Arya mengulas-ngulas Clitoris Vina, daging kecil itu tampak semakin mengkilap, dikait-kaitnya dan diemut-emut dengan hisapan-hisapan yang teratur.

‘Hmmmmm Ohh Missd Ahhhhhhh” pinggul Vina terangkat keatas , Arya mengemut lubang Vagina Vina, mulutnya menghisap kuat-kuat, Vagina Vina
“Oww… CCCRRRRRRRTTTTT”Vina memekik kecil, merasakan semburan kenikmatan itu meledak – ledak dan meleleh dari dalam Vaginanya.

Tangan Vina mendorong kepala Arya yang masih asik melakukan jilatan-jilatan diselangkangannya, mata sipit Vina melirik kearah lubang Vaginanya, Arya telah menyedot cairan kenikmatan itu sampai kering.

Gadis Chinese itu terduduk diatas ranjang sambil memandangi Arya yang sedang berpakaian, sebelum keluar dari kamar Arya menghampiri Vina, sebuah kecupan mampir dikening gadis itu, entah apa artinya, mungkin sebuah rasa terimakasih Arya karena boleh menikmati kemulusan dan kehangatan tubuh Vina.

Disebuah meja makan tampak orang tua Vina, Vina dan juga Arya sedang menikmati sarapan pagi.
“Koqqq anak mama jadi pendiam sih”Mama Vina berusaha membuka pembicaraan.
“Ngak koqq… Cuma perasaan mama aja kali..”Vina mencoba seolah-olah tidak terjadi apa-apa, selanjutnya pembicaraanpun berlanjut diselingi oleh canda tawa.

“Wahhh ha ha ha ha” Arya ngakak ikut-ikutan tertawa walaupun ia tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan, sedari tadi ia sedang asik dengan segudang pikiran-pikiran mesum.

Vina dan kedua orang tuanya bengong memandangi Arya, aneh sekali anak ini bercandanya tadi tapi koq ketawanya baru sekarang, begitulah pikiran mereka.

“Vina berangkat dulu mah.. pahh…”
“Ya.. hati-hati ya nyetirnya…”

Arya buru-buru menyambar segelas air dimeja, ia tidak mau ketinggalan
“Lohhh emang Arya ikut kesekolah ?” papah Vina memandangi tubuh kecil itu yang bergegas minum dan bangkit.

“Ehhh anu… saya mau melindungi ci Vina.. supaya ngak ada yang godain kayak kemarin….”Arya mencari alasan.

Kedua orang tua Vina saling berpandangan kemudian tersenyum, lucu sekali anak kecil ini, kecil-kecil sudah jadi pahlawan ingin melindungi anak mereka.

Vina meraih tas sekolahnya dan kemudian dengan dibuntuti Arya ia masuk kemobil , tidak berapa lama Mobil BMW berwarna silver itu meluncur menuju sebuah sekolahan elite.

Jika diperhatikan gedung sekolahan itu tampak seperti biasa, beberapa murid sedang asik bersenda gurau, sambil menunggu jemputan.

Namun disebuah ruangan olah raga seorang gadis cantik tengah asik berbaring diatas Matras busa, kedua kaki gadis itu mengangkang, sesuatu bergerak-gerak dibalik rok seragam SMAnya.

Tubuh gadis itu meliuk-liuk , mengeliat-geliat dalam gerakan yang erotic, desahan demi desahan terdengar dari bibir mungilnya.

“Mmm MmArya.. aduhh Ohhhh ekhhhh…” kedua kaki gadis itu tiba-tiba merapat, matanya yang sipit terpejam-pejam.

“Ahhhh.. pelan-pelan Msss…..hdiiii Auhhhhhh ” Vina Olivia memekik kecil ketika merasakan cumbuan Arya dibalik rok seragamnya berubah menjadi liar dan kasar.

Kepala kecil Arya bergerak-gerak dengan liar dibalik rok seragam sekolah Vina, Arya tidak mempedulikan permohonan gadis bermata sipit yang sedang kewalahan menghadapi cumbuannya yang kasar dan liar.

Kepala Vina terkulai kekiri , kadang kadang terkulai kekanan, rintihan-rintihan kecilnya terdengar merdu dan asik untuk didengar.

“Ackkk ampunnnnnn Misdhiiiiiiiihhhhh Aww KCRRRTTTTTT CRRRRRTTTTTTTTTTT ” tubuh Vina kelojotan diatas matras ketika sebuah kenikmatan melanda selangkangan gadis itu.

“Ihhhhhh…. ” Vina menurunkan Rok seragamnya yang tersibak keatas ketika kepala Arya terangkat, jagoan kecil kita berlutut dihadapan Vina, mulutnya terbuka, didalam mulut itu tampak cairan putih seperti lem.
“Glekkk Glekkkk… he he he asikkk gurihhh lezat….”tanpa merasa jijik Arya menelan cairan kenikmatan dimulutnya.

Vina duduk diatas matra busa, gadis itu berusaha mengatur nafasnya setelah terhantam oleh golombang nafsu birahi yang terasa sangat nikmat. DiaryCeritaSexku.com

Arya berdiri kemudian duduk diatas paha Vina, kedua kakinya melingkari pinggul Vina, mereka berduduk saling berhadapan, tangannya membelit leher gadis Chinese berwajah cantik dihadapannya.

Ciuman-ciuman kasar mulai mencecar bibir Vina, kedua tangan Vina memeluk tubuh kecil yang menduduki pahanya, entah kenapa Vina mulai terbiasa menerima kehadiran Arya yang selalu dapat memuaskan dan memberikan sepercik kenikmatan yang tiada taranya, ataukah ini karena Vina merasakan aman untuk melampiaskan kebutuhan seksualnya pada Arya jagoan kecil kita ? ? ?

Arya menyuruh Vina untuk membuka mulut dan menjulurkan lidahnya, walaupun masih merasa bingung Vina menuruti keinginan Arya.

“Hmmm…” Mata Vina yang Sipit terbuka sedikit dengan tatapan mata yang tampak sayu ketika Arya menghisapi lidah gadis itu yang terjulur keluar. Lidah Arya mengait-ngait lidah Vina kemudian menghisapi lidah gadis itu, kedua tangannya melepaskan beberapa kancing baju seragam Vina, Tangan sikecil Arya kini menelusup kebalik BH yang dikenakan Vina melalui sela-sela baju seragam gadis itu yang kini tersibak oleh tangan nakal Arya.

Arya melepaskan hisapannya pada lidah Vina, kini gantian Arya yang menjulurkan lidah kecilnya keluar. Vina hanya menatap lidah kecil Arya yang terjulur keluar, wajahnya bersemu merah.

Tangan Arya bergerak kebelakang kepala gadis cantik dihadapannya, dengan lembut ditariknya kepala Vina , mulut Vina terbuka dan mencoba untuk menghisap lidah Arya, sebuah hisapan lembut yang pertama, Vina merasakan ada sedikit perasaan aneh yang mengiringi detak jantungnya.


Setelah menguatkan hati dan menekan perasaan jijik , Kali ini Vina memberanikan diri membuka mulutnya untuk menghisap lidah Arya, Arya semakin menjulurkan lidahnya ketika merasakan mulut mungil Vina menghisap lidahnya, saling hisap, saling mengkait lidah , dan kuluman-kuluman yang panas semakin menenggelamkan Vina kedalam sebuah dunia baru, sebuah dunia kenikmatan yang sulit untuk dilawan dan ditolak, Apalagi ketika tangan mungil Arya menjamahi buah Susunya yang semakin mengeras.

Kepala Arya kini hinggap dibuah dada Vina, jilatan-jilatannya mulai menjalar seputar bulatan Susu Vina yang empuk dan halus.
Tangan Vina menyangga punggung Arya, posisi gadis itu seperti sedang menyusui Arya.
“Ohhhh… geliii… Aryaii enakkk.. akkkkkhhhh” Vina semakin kuat menekan kepala Arya yang sedang asik menyusu diputing Susunya yang runcing kemerahan.

Sambil mengemuti putting susu gadis cantik itu, lidah Arya bergerak menggelitiki dan mengait putting Susu Vina yang runcing mengeras. Tangan Arya tidak mau diam bergerak mengelus-ngelus paha gadis yang sedang menyusuinya. (Red : duhhh udahh disusui masih juga ngusap-ngusap paha… serakah banget ya…)

“Ahhhh AaaaAAAAAAAAHHHH CRRRTTT CRRRRRRRRR” Suara merdu Vina terdengar seperti bergelombang, sebuah kemenangan bagi sikecil Arya.

Vina Olivia tampak sedang merapikan rambutnya, pakaian seragam telah rapi menutupi tubuhnya yang mulus. Tangan Arya masih berkeliaran dipermukaan Paha Vina.

Perlahan-lahan Vina dan Arya keluar dari ruangan olahraga, dari belakang Arya menatap pinggul Vina yang bergoyang-goyang seirama dengan langkah kaki gadis itu.