Showing posts with label rumah kost. Show all posts
Showing posts with label rumah kost. Show all posts

Monday, October 6, 2025

Cerita Seks Bersama Teman Lamaku

Cerita Seks -  Mulanya aku jumpa tidak sengaja dengan teman yang sudah lama tidak bertemu. Aku mengenali temanku yang dulu kawan sepermainan di kampung. Dia tidak mengenaliku, tetapi aku masih ingat ciri-cirinya. Dia waktu itu sedang berdiri di pinggir jalan menunggu bus, sementara aku sedang jalan di kaki lima. Aku tegur dia “Gentar ya.”. 

Dia terkejut sambil mengernyit menatapku. “Iya, siapa ya,” tanyanya. Aku tidak menyebut namaku, tapi menyebut sepatah kata, “gua lempung”. “Hah kamu Ardian ya,” katanya sambil menjabat tanganku erat sekali. Sahabatku terlihat miskin. 

Bajunya lusuh dan bau keringatnya agak menyengat. “Mau kemana” tanyaku. “Pulang,” jawabnya singkat. Kami lalu ngobrol sebentar dan akhirnya aku memutuskan ikut ke rumahnya. Awalnya dia keberatan, karena malu rumahnya di dalam gang, kumuh. Namun aku memaksanya, sehingga dia tidak kuasa menolak. Sebenarnya aku bisa mencegat taxi agar lebih cepat ke tujuan, tetapi aku berusaha menyembunyikan keberadaanku, apalagi aku mengaku sedang mencari kerja. Ini setidaknya menjaga agar Gentar tidak minder terhadapku. 



 Kami naik bus yang penuh sesak, sekitar setengah jam Gentar mengajakku turun dan berjalan masuk ke gang, berliku-liku sampai gangnya kecil sekali sehingga untuk berpapasan saja harus saling memiringkan badan. Sebuah rumah, yang setengah berupa berupa bangunan tembok bata tidak berplester dan setengah atasnya anyaman bambu (tepas) yang sudah dilapisi kertas semen dan dicat. Lantainya semen biasa. Ada ruang tamu mungkin ukurannya sekitar 2 x 3 m lalu ada ruang di belakangnya yang mungkin itu kamar tidur. 

 Aku trenyuh melihat keadaannya, terlihat sangat miskin. Kami duduk di tikar. Gentar mengenalkan istrinya yang berpenampilan sederhana dan kelihatannya umurnya beda agak jauh dari Gentar. Jika Gentar sebaya aku sekitar 35 tahun, istrinya kelihatannya masih berusia di bawah 25 tahun. Istrinya biasa saja, tidak cantik, kulitnya sawo matang. Dia menyalamiku dan menyebut namanya Dina. Dari obrolan kami di ruang tamu yang bergaya lesehan, istrinya dikenalnya di wilayah tempat tinggalnya sekarang. Jadi Dina asli kelahiran kampung kumuh ini. 

 Mereka sudah 3 tahun berumah tangga, tetapi belum mendapat anak. Kami bertiga ngobrol ngalor – ngidul dan aku tetap berusaha menyembunyikan keadaan diriku. Aku berusaha mensejajarkan taraf hidupku dengan dia. Oleh karena itu, HP canggihku, aku sudah stel silent dan kusimpan di dalam tas. Itu semua aku kerjakan ketika mereka sedang sibuk di dalam rumah, mungkin mempersiapkan minuman kopiku. Aku sudah lama memiliki impian ingin merasakan hidup di tengah-tengah lingkungan kumuh rakyat jelata. Gentar yang secara kebetulan bertemu aku, memberi jalan masuk aku untuk mewujudkan keinginanku. Tanpa merasa canggung aku mengutarakan keinginanku mencari kamar kontrakan di daerah ini yang paling murah. 

Istri Gentar menyambut dengan mengatakan, cukup banyak, tinggal pilih saja. Pada saat itu juga aku minta diantar ketempat dimana-mana saja yang tersedia kontrakan itu. Setelah 4 – 5 tempat kami kunjungi sambil menelusuri gang-gang sempit, aku menemukan satu kamar yang letaknya diatas. Kamarnya hanya berukuran 2,5 x 2,5 m, yang merupakan rumah papan. Kamarnya kosong, tidak ada perabotan apa pun. Kamar mandi ada di bawah, yang merupakan fasilitas bersama untuk orang seisi rumah. Memang ada 2 kamar mandi untuk rumah ini yang mungkin dihuni oleh sekitar 10 orang. Biaya kontrakannya memang paling murah diantara semua yang diunjukin tadi. 

Aku tidak membayar langsung, tetapi memberi uang muka saja. Padahal di dompetku ada uang yang cukup untuk membayar lunas sekaligus setahun. Tapi ini aku tahan, agar tetap terlihat miskin. Sekitar 2 jam aku beranjang sana ke kediaman Gentar, aku lalu pamit. Aku mengatakan kepadanya bahwa aku tinggal di rumah saudara jauh. Di Jakarta ini aku sedang mencari kerja setelah tempat ku kerja di Jawa Tengah bangkrut. Padahal aku ke Jakarta untuk memeriksa operasional kantor cabangku yang ada 3 di kota ini. 

Aku membuka usaha di salah satu kota di Jawa Tengah dan di kota itulah aku tinggal bersama istri dan seorang anak. Dengan aset yang begitu besar seharusnya pakaianku perlente dan pastinya naik-turun mobil pribadi dari produk tahun mutakhir. Namun ketika aku bertemu dengan Gentar, aku sedang nyantai dengan blue jean buluk, kaos oblong hitam dan sendal jepit. Aku menyandang tas yang terbuat dari kain blacu dengan tulisan promosi dari produk tertentu. Aku memang sengaja tampil rada gembel, karena aku memang senang begitu. 

 Di Jakarta aku tinggal di apartemen sendirian. Kali ini aku akan tinggal di pemukiman kumuh dekat dengan rumah Gentar. Sebetulnya aku tidak punya pakaian yang bisa mendukung tampilan tinggal di daerah kumuh. Untuk menyempurnakan tampilanku, aku berburu pakaian bekas di pasar Senen. Beberapa hari kemudian saat agak sore,karena seharian aku pontang-panting dengan beban kerjaku. Sekitar jam 5 sore aku sudah sampai di daerah kumuh dan langsung menuju kamar kontrakanku. Aku temui pemilik kontrakan dan kubayar biaya sewa sebulan. Cerita Sex Aku masuk ke kamarku dan mengeluarkan handuk dan peralatan mandi. 



Untuk tidur aku menggelar matras gulungan yang biasa digunakan untuk anak-anak pecinta alam. Aku mencoba berbaring. Kamarku terasa gerah, karena tidak ada ventilasi. Sambil berbaring aku berpikir, berapa lama aku bisa tinggal dengan cara seperti ini. Aku mengenakan celana pendek, menyarungkan handuk, pakai kaos oblong yang kedodoran, memasukkan sabun dan sikat gigi serta pasta giginya di gayung. Aku turun untuk kekamar mandi. 

 Ternyata kamar mandi sedang terpakai semua. Si pemilik rumah memberi tahuku, kalau lagi penuh biasa antri. Dia menunjukkan bangku panjang di sisi rumah . Di situ sudah ada 2 orang yang sudah punya persiapan mandi. Sambil ngantri ke kamar mandi, akhirnya aku berkenalan dan kami ngobrol yang gak keruan juntrungnya. Sambil ngobrol aku menikmati pemandangan di dalam gang sempit, dimana anak-anak berlarian bermain, orang lalu lalang. Setengah jam kemudian giliranku tiba untuk masuk kamar mandi. 

Malam pertama aku tinggal di istana kumuh aku coba nikmati semaksimal mungkin. Meski suasananya gerah, aroma yang kurang enak serta berisik, dengan suara TV, motor, orang berbicara, anak-anak bermain, tetapi karena aku nikmati, rasanya ya nikmat-nikmat saja. Begitulah 3 hari aku berhasil menyesuaikan dengan kehidupan kaum jelata di daerah kumuh dan tidak ada seorangpun yang mencurigaiku, bahwa aku sebenarnya sedang menyamar Suatu sore aku duduk-duduk di depan rumah Gentar sambil merokok dan ngobrol. 

Terlihat oleh mataku seorang anak perempuan. Wajahnya lumayan cantik, kulitnya juga putih. Jika dilihat dari tingginya anak ini masih tergolong kanak-kanak dipantaran usia 7 – 8 tahun. Ia menarik perhatianku karena anak sekecil itu dadanya sudah nyembul. Sambil menyembunyikan rasa antusiasku aku bertanya mengenai anak itu. Gentar tanpa mencurigaiku malah bercerita mengenai keluarga anak itu. 

Anak itu bernama Chyntia, anak tunggal dari single parent, ibunya keturunan China bekerja menerima cucian. Langsung muncul gagasan di kepalaku dan mengatakan ke Gentar, aku membutuhkan tukang cuci. Dia lalu berdiri mengajakku berjalan ke kontrakan ibu dari anak itu. Rupanya ibunya mendiami kamar kontrakan yang lebih parah keadaannya dari kamarku dan tidak jauh dari tempat tinggalku. Dia memperkenalkan diri Nana. 

Kelihatannya masih di tataran usia remaja, karena wajahnya belum terlihat terlalu emak-emak. Badannya pun belum melar. Wajahnya lumayan jugalah, tapi terlihat kurang terawat. Aku deal memakai jasa cuci dari si Nana. Aku minta dia mengambil cucian 2 kali seminggu, hari Selasa dan Jumat sore. Jika aku tidak ada dirumah pakaian kotorku kubungkus plastik dan diletakkan di depan pintu kamar. 

Pakaian yang sudah selesai akan aku ambil sendiri. Gentar bercerita bahwa suami si Nana sudah tewas di dor Polisi karena terlibat perdagangan narkoba. Nana anak yatim piatu, setelah dia kawin, kedua orang tuanya meninggal dan dia tidak memiliki saudara kandung, karena anak tunggal. Kasihan sebetulnya kalau melihat kehidupannya. Gentar bercerita bahwa istrinya sering memberi nasi bungkus, atau kue-kue, kalau kebetulan pulang pengajian ada bawa berkat. Tidak perlu lama, Dua kali dia mengambil cucian aku sudah akrab dengan Nana. Dia mau saja aku ajak ngobrol di kamar kontrakanku. Aku tertarik pada Nana karena dia punya bahan dasar yang cukup bagus. Artinya kalau dirawat dan dipoles akan terlihat cantik. 

Yang lebih menarik bagi ku adalah anak perempuan satu-satunya. Aku menggemari anak-anak yang menjelang remaja. Tujuanku tinggal di daerah kumuh ini sesungguhnya ya berburu lolita. Nana kutawari kerja sebagai pembantu. Aku mengaku ada temanku mencari pembantu. Dia langsung tanya gajinya berapa. Aku sebutkan suatu angka yang kutahu jumlah itu pasti sangat mencukupi bagi biaya hidup dia dan anaknya, bahkan mungkin berlebih. “Mau dong,” kapan bisa kerja, dari pada kerja ginian, duitnya gak seberapa,” katanya. 

 Syaratnya dia harus tinggal di dalam, masalah anak, tidak menjadi hambatan, bahkan anaknya akan dibiayai sekolah, jika si tuan rumah merasa cocok mempekerjakan Nana. “Aduh mau dong, ayo dong buruan,” katanya sambil menggamit lenganku dan menggoyang-goyangkan. Aku mengemukakan syarat, agar merahasiakan dia akan bekerja apa dan dimana. “ Kenapa emangnya,” tanya dia mengernyit. “Ya gak tahulah, kalau bisa terima syarat itu, besok akan saya antar dan langsung cabut dari rumah.,” kataku. Memikirkan iming-iming gaji yang lumayan dan kerjanya tidak berat, serta anaknya sekolah dibiayai, maka segala syarat yang aku ajukan itu bisa dia terima.

Sunday, October 5, 2025

Cerita Sex-ku Indahnya Tubuh Bu Winda yang Montok

Cerita Seks - Pagi itu aku tengah sibuk membenahi kamarku. Sebuah kamar kontrakan yang baru kutempati sejak sebulan lalu. Maklum, kamar berukuran 3 x 4 meter itu berdinding papan dan terletak di bagian belakang rumah bersebelahan dengan kamar mandi. 

 Apalagi papannya sudah banyak yang renggang dan berlubang hingga bila malam tiba, angin gampang menerobos masuk dan menebarkan hawa dingin menusuk tulang. Sebelumnya aku nyaris patah semangat ketika mendapati harga sewaan kamar yang rata-rata sangat mahal dan tak terjangkau di kota tempatku kuliah di sebuah PTN. 

Hingga ketika Bu Winda pemilik warung makan sederhana menawariku untuk tinggal di tempatnya dengan harga sewa yang murah aku langsung menyetujuinya. Oh ya, Bu Winda, ibu kostku itu adalah seorang janda berusia sekitar 45 tahun. Sejak kematian suaminya tujuh tahun lalu, ia tinggal bersama putri tunggalnya Nastiti. Ia masih sekolah, kelas dua di sebuah SMTA di kota itu. 

Mereka hidup dari usaha warung makan sederhana yang dikelola Bu Winda dibantu Yu Nutty, seorang wanita tetangganya. Yu Nutty hanya membantu di rumah itu sejak pagi hingga petang setelah warung makan ditutup. Pembawaan keseharian Bu Winda tampak sangat santun. Ia selalu mengenakan busana terusan panjang terutama bila tampil di luar rumah atau sedang melayani pembeli di warungnya. Hingga kendati berstatus janda dengan wajah lumayan cantik, tak ada laki-laki yang berani iseng atau menggoda. “Ada memang laki-laki yang meminta ibu untuk menjadi istrinya. Tetapi ibu hanya ingin membesarkan Nastiti sampai ia berumah tangga. 

Apalagi sangat sulit mencari pengganti laki-laki seperti ayah Nastiti almarhum,” katanya suatu ketika aku berkesempatan berbincang dengannya di suatu kesempatan. Di tengah kesibukanku memperbaiki dinding kamar, tiba-tiba kudengar suara pintu kamar mandi dibuka. Lalu tak lama berselang kudengar suara pancaran air yang menyemprot kencang dari kamar mandi. 

 Padahal di sana tidak ada kran air yang memungkinkan menimbulkan bunyi serupa. Maka seiring dengan rasa ingin tahu yang muncul tiba-tiba, aku segera mencari celah lubang di dinding yang bersebelahan dengan kamar mandi untuk bisa mengintipnya. Ah, ternyata yang ada di kamar mandi adalah Bu Winda. Wanita itu tengah kencing sambil berjongkok. 





Mungkin ia sangat kebelet kencing hingga begitu berjongkok semprotan air yang keluar dari kemaluannya menimbulkan suara berdesir yang cukup kencang sampai ke telingaku. Aku jadi tersenyum simpul melihat kenyataan itu. Tadinya aku tidak berniat melanjutkan untuk mengintip. Namun ketika sempat kulihat pantat besar Bu Winda yang membulat, naluriku sebagai laki-laki dewasa jadi terpikat. Posisi jongkok Bu Winda memang membelakangiku.

 Namun karena ia menarik tinggi-tinggi daster yang dikenakannya, aku dapat melihat pantat dan pinggulnya. Ah, wanita berkulit kuning itu ternyata belum banyak kehilangan daya pikatnya sebagai wanita. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk terus mengintip, melihat adegan lanjutan yang dilakukan ibu kostku di kamar mandi yang ternyata membuat tubuhku panas dingin dibuatnya. 

 Betapa tidak, setelah selesai kencing, Bu Winda langsung mencopot dasternya untuk digantungkannya pada sebuah tempat gantungan yang tersedia. Tampak ia telanjang bulat karena dibalik dasternya ia tidak mengenakan celana dalam maupun kutangnya. 

Jadilah aku bisa menikmati seluruh keindahan lekuk-liku tubuhnya. Bongkahan pantatnya tampak sangat besar kendati bentuknya telah agak menggantung. Sepasang buah dadanya yang juga sudah agak menggantung, ukurannya juga tergolong besar dengan dihiasi sepasang pentilnya yang mencuat dan berwarna kecoklatan. Namun yang membuatku kian panas dingin adalah adegan lanjutan yang dilakukannya setelah ia mulai mengguyur air dan menyabuni tubuhnya. 

Sebab setelah hampir sekujur tubuhnya dibaluri busa sabun mandi, ia cukup lama memainkan kedua tangannya di kedua susu-susunya. Meremas-remas dan sesekali memilin puting-putingnya. Sepertinya ia tengah berusaha membangkitkan dan memuasi birahinya oleh dirinya sendiri. Lalu, dengan satu tangan yang masih menggerayang dan meremas di buah dadanya, satu tangannya yang lain menelusur ke selangkangannya dan berhenti di kemaluannya yang membukit. Kemaluan yang hanya sedikit ditumbuhi bulu rambut itu, berkali-kali diusap-usapnya dan akhirnya salah satu jarinya menerobos ke celahnya. Aku yakin Bu Winda melakukan semua itu sambil membayangkan bahwa yang mencolok-colok liang kenikmatannya adalah penis seorang laki-laki. 

 Terbukti ia melakukan sambil merem-melek dan mendesah. Membuktikan bahwa ia mendapatkan kenikmatan atas yang tengah dilakukannya. Disodori pertunjukkan panas yang diperagakan ibu kostku, aku kian tak tahan. Akhirnya, ketika tubuhnya terlihat mengejang, karena menahan birahi yang tak terbendung dan seiring dengan datangnya puncak kenikmatan yang didambakan, aku pun kian kencang meremas dan mengocok kemaluanku sambil terus memelototi tingkah polahnya. Dan tubuhku ikut mengejang dan melemas ketika dari ujung penisku memuntahkan mani yang menyembur cukup banyak. Dia tampak kaget dan mencoba mencari sesuatu di dinding kamar mandi yang berbatasan dengan kamarku. Mungkin ia sempat mendengar erangan lirih suaraku yang tak sadar sempat kukeluarkan saat mendapatkan orgasme. 

Namun karena aku segera menjauh dari dinding, ia tak sempat memergokiku. Tetapi… ah.. entahlah. Hanya sejak saat itu aku sering mencari kesempatan untuk mengintipnya saat ia mandi. Bahkan juga mengintip ke kamarnya saat ia tidur. Kamar Dia memang bersebelahan dengan kamarku. Rupanya, untuk memenuhi kebutuhan biologisnya, selama ini wanita itu mendapatkannya dari bermasturbrasi. Hingga aku sering memergoki ia melakukannya di kamarnya. 

 Dan seperti Dia, setiap aku mendapatkan kesempatan untuk melihat ketelanjangannya, selalu aku melanjutkan dengan mengocok sendiri kemaluanku. Tentu saja sambil membayangkan menyetubuhi ibu kostku itu. Sampai akhirnya, mengintip ibu kostku merupakan acara rutin di setiap kesempatan seiring dengan gairah birahiku yang kian menggelegak. Sampai suatu malam, setelah sekitar enam bulan tinggal di rumahnya, aku bermaksud keluar kamar untuk menonton televisi di ruang tamu. Maklum sejak sore aku terus berkutat dengan diktat dan buku-buku untuk tugas pembuatan paper salah satu mata kuliah. Namun yang kutemukan di ruang tamu membuatku sangat terpana. 

 Televisi 17 inchi yang ada memang masih menyala dan tengah menyiarkan satu acara infotainment dan disetel dengan volume cukup keras. Namun satu-satunya penonton yang ada, yakni Dia, tampak tertidur pulas. Ia tidur dengan menyelonjorkan kaki di sofa, sementara daster yang dikenakannya tersingkap cukup lebar hingga kedua kaki sampai ke pahanya nampak menyembul terbuka. 

 Ketika aku mendekat, tubuh wanita itu menggeliat dan posisi kakinya kian terbuka hingga mengundangku untuk melihatnya lebih mendekat. Berjongkok di antara kedua kakinya. Kini bukan hanya paha mulusnya yang dapat kunikmati. Aku juga dapat melihat organ miliknya yang paling rahasia karena ia tidak mengenakan celana dalam. Bibir luar kemaluannya terlihat coklat kehitaman dan nampak berkerut. Pertanda kemaluannya sering diterobos alat kejantanan pria. 

Sementara di celahnya, di bagian atas, tampak kelentitnya yang sebesar biji jagung terlihat mencuat. Melihat ketelanjangan tubuh ibu kostku sebenarnya telah cukup sering kulakukan saat mengintip. Namun melihatnya dari jarak yang cukup dekat baru kali itu kulakukan. 



Degup jantungku jadi terpacu, sementara penisku langsung menegang. Aku nyaris mengulurkan tanganku untuk mengusap vaginanya untuk merasakan lembutnya bulu-bulu halus yang tumbuh di sana atau merasakan hangatnya celah lubang kenikmatan itu. Tetapi takut resiko yang harus kutanggung bila ia terbangun dan tidak menyukai ulahku, aku urungkan niatku tersebut. Dan tak tahan terpanggang oleh gairah yang memuncak, kuputuskan untuk kembali ke kamar. Untuk beronani, meredakan ketegangan yang meninggi. Di dalam kamar, kulepaskan seluruh pakaian yang kukenakan. 

 Lalu tiduran telanjang diatas ranjang setelah sebelumnya menarik kain selimut untuk menutupi tubuh. Seperti itulah biasanya aku beronani sambil membayangkan keindahan tubuh dan menyetubuhi ibu kostku. Hanya, baru saja aku mulai mengelus burungku yang tegak berdiri tiba-tiba kudengar pintu kamarku yang tak sempat terkunci dibuka dan seseorang terlihat menerobos masuk ke dalam. “Hayo, lagi ngocok yah,” suara Dia mengagetkanku. Ternyata yang membuka pintu dan masuk kekamarku adalah ibu kostku. “Ti… tidak,” jawabku dan secara reflek segera kutarik selimut untuk menutupi tubuhku. “Jangan bohong Rin. Ibu tahu kok kamu sering mengintip ibu saat mandi atau dikamar. Juga tadi kamu melihati milik ibu saat tidur di sofa kan?” katanya lirih seperti berbisik.

 Ditelanjangi sedemikian rupa aku jadi malu dan menjadi tegang. Takut kepada kemarahan Dia atas semua ulah yang tidak pantas kulakukan. Penisku yang tadi tegak menantang kini mengkerut, seiring dengan kehadiran wanita itu di kamarku dan oleh pernyataanya yang telah menelanjangiku. Aku membungkam tak dapat bisa bicara. “Sebenarnya ibu nggak apa-apa kok, Rin. Malah, ee.. ibu bangga ada anak muda yang mengagumi bentuk tubuh ibu yang sudah tua begini. Kalau mau, sekarang kamu boleh melihat semuanya milik ibu dari dekat dan kamu boleh melakukan apa saja. Asal kamu bisa menjaga rahasia serapat-rapatnya,” ujarnya. Aku masih belum tahu arah pembicaraan ibu kostku hingga hanya diam membisu. 

Tetapi, Dia telah melepas daster yang dikenakannya. Dan dengan telanjang bulat, setelah sebelumnya mengunci pintu kamar, ia menghampiriku yang masih terbaring di ranjang. Duduk di tepi ranjang di sebelahku. Tak urung gairahku kembali terpacu kendati hanya menatapi ketelanjangan tubuh wanita yang lebih pantas menjadi ibuku itu. “Ayo Rin, jangan cuma melihati begitu. Tadi kamu sebenarnya ingin memegang punya aku kan? Ayo lakukan semua yang ingin dilakukan padaku,” suaranya terdengar berat ketika mengucapkan itu. Mungkin ia telah bernafsu dan ingin disentuh. 

Melihat aku tidak bereaksi, aku kostku akhirnya mengambil insiatif. Tangannya menjulur, menarik selimut yang menutupi tubuh telanjangku. Batang penisku yang tegak mengacung diraihnya dan diremasnya dengan gemas. Selanjutnya mengelus-elusnya perlahan hingga aku menjadi kelabakan oleh sentuhan-sentuhan lembut tangannya di selangkanganku. Dan sambil melakukan itu Dia mulai membaringkan tubuhnya di sisiku dalam posisi berhadapan denganku. Maka buah dadanya yang berukuran besar dan seperti buah pepaya menggantung berada tepat di dekat wajahku. Aku tetap tidak bereaksi kendati payudaranya seperti sengaja disorongkan ke wajahku. Namun ketika ia mulai mengocok penisku dan menimbulkan kenikmatan tak terkira, keberanianku mulai terbangkitkan. Payudaranya mulai kujadikan sasaran sentuhan dan remasan tanganku. Buah dadanya sudah tidak kencang memang, tetapi karena ukurannya yang tergolong besar masih membuatku bernafsu untuk meremas-remasnya. Puas meremas-remas, aku mulai menjilati pentilnya secara bergantian dan dilanjutkan dengan mengulumnya dengan mulutku. 

 Rupanya tindakanku itu membuat gairah Dia menjadi naik. Ia mulai mengerang dan kian mengaktifkan sentuhan-sentuhannya di di alat kelaminku. Ngocoks.com “Ya Rin, begitu. Ah… ah enak. Uh… uh.. terus terus sedot saja. Ya… ya. sshh.. ssh.. akhh” Dengan mulut masih mengenyoti susu Dia secara bergantian kiri dan kanan, tanganku mulai menyelusur ke bawah. Ke perutnya, lalu turun ke pusarnya dan akhirnya kutemukan busungan membukit di selangkangannya. Kemaluan yang hanya sedikit di tumbuhi rambut itu terasa hangat ketika aku mulai mengusapnya. Rupanya itu merupakan wilayah yang sangat peka bagi seorang wanita. Maka ketika aku mulai mengusap dan meremas-remas gemas, Dia mulai menggelinjang. Kakinya dibukanya lebar-lebar memberi keleluasaan padaku untuk melakukan segala yang yang kuiinginkan. Terlebih ketika jari telunjukku mulai menerobos ke celahnya. Lubang vaginanya ternyata tak cuma hangat. Tetapi telah basah oleh cairan yang aku yakin bukan oleh air kencingnya. Aku jadi makin bernafsu untuk mencolok-coloknya. Tidak hanya satu jari yang masuk tetapi jari tengahkupun ikut bicara. Ikut menerobos masuk ke lubang kenikmatan aku kostku. Mengocok dan terus mengocoknya hingga lubang vaginanya kian becek akibat banyaknya cairan yang keluar. Ia juga menggelinjang-gelinjang sambil terus mendesah. “Ah… ah.. ah aku tidak kuat lagi Rin. 


Cerita sex Ayo sekarang kamu naik ke tubuh aku,” bisiknya akhirnya. Rupanya ia sudah tidak tahan akibat kemaluannya terus diterobos oleh dua jariku. Maka tubuhku ditarik dan menindihnya. Dasar belum punya pengalaman sedikitpun dengan wanita. Kendati telah menindihnya, penisku tak kunjung dapat menerobos lubang kenikmatan aku kostku. Untung Dia cukup telaten. Dibimbingnya penisku dan diarahkannya tepat di lubang vaginanya. 

 “Sudah, dorong masuk tetapi pelan-pelan. Soalnya aku sudah lama melakukan seperti ini,” bisiknya di telingaku. Bleess! Sekali sentak amblas penisku masuk ke lubang kenikmatan aku kostku. Aku memang tidak mengindahkan permintaannya yang memintaku untuk memasukannya perlahan. Mungkin karena tidak berpengalaman dan sudah terlanjur naik ke ubun-ubun gairah yang kurasakan. Hingga ia sempat memekik saat penisku menancap di lubang vaginanya. 

 “Auu… ah. ah.. pe.. pelan-pelan Rin, shh.. ssh.. ah.. ah,” “Ma… ma.. maaf bu,” “Iya,. iya. Be… besar sekali punya kamu ya Rin,” “Punyamu juga besar dan enak,” kataku sambil terus meremasi kedua payudaranya. Namun baru beberapa saat aku mulai memaju mundurkan penisku ke lubang vaginanya, desah nafasnya kian keras kudengar. Tubuhnya terus menggelinjang dan mulai menggoyang-goyangkan pantatnya. Akibatnya baru beberapa menit permainan berlangsung aku sudah tak tahan. Betapa tidak, penisku yang berada di liang vaginanya terasa dijepit oleh dinding-dinding kemaluannya. 

 “Aduh… ah.. aku tidak tahan. Ah… ah.. ah.. aahh,” Aku terkapar di atas tubuhnya setelah menyemprotkan cukup banyak air mani di liang sanggamanya. Indah dan melayang tinggi perasaanku saat segalanya terjadi. Dan cukup lama aku menindihnya yang memelukku erat setelah pengalaman persetubuhan pertamaku itu. “Maaf Bu cepat sekali punya saya keluar. Jadinya cuma ngotorin” “Tidak apa-apa Rin. Kamu baru kali ini ya melakukannya? Nanti juga bisa tahan lebih lama” katanya setelah aku terbaring di sisinya sambil menenangkan gemuruh di dadaku yang mulai mereda.