Showing posts with label cerita sekretaris. Show all posts
Showing posts with label cerita sekretaris. Show all posts

Wednesday, December 17, 2025

Enaknya Nge Seks Bersama Mantanku

 Cerita Seks  Gina merupakan mantan kekasihku beberapa tahun lampau. Ia menikah dengan pria lain tahun 1996, aku menyusul dua tahun kemudian, saat itu Gina sudah mempunyai anak satu. Kami berpisah baik-baik, dan sesudahnya kami masih berhubungan. Aku juga kenal baik dengan suaminya. Aku dan Gina sama-sama kerja di perusahaan konsultan. Sesudah menikah ia bertugas di salah satu proyek, sedangkan aku di head office, sehingga kami lama tidak ketemu.

ini terjadi pada pertengahan tahun 2000, saat ia kembali bertugas di Head office menjadi sekretaris salah seorang expert kami dari Hongkong. Aku sering berhubungan kerja dengannya. Semula kami bersama dalam tugas. Lama-lama berlanjut untuk hal-hal di luar kerjaan, hingga tidak terasa kebiasaan dulu kembali muncul. Misalnya makan siang. Seperti dulu waktu masih pacaran, sering ia ‘mencomot’ lauk dari piringku, atau sesuatu yang ia makan diberikan separuh ke piringku. Kebiasaanku menyiapkan sendok dan minuman untuknya, atau menghabiskan makanannya juga menjadi kegiatan rutin, seolah hal yang wajar saja dalam hubungan kami.

Untungnya teman-teman sekantor juga menganggapnya wajar. Sering juga kami ngobrol soal rumah tangga, suami(nya), istri(ku), dan anak-anak (kami). Tidak ada cerita jelek, semua baik-baik saja. Tapi di balik yang ‘baik-baik’ tersirat kerinduan (atau kecewaan?) tersembunyi. Dalam suasana seperti itulah hubungan kami berlanjut dan menghasilkan kisah-kisah yang sebagian kucuplik di sini, khusus yang punya kesan mendalam untukku. Pertama: Saung Ikan Mas Hari itu bossnya Gina sedang ke tempat client.

Si boss bawa mobil sendiri, maka seperti biasa Gina memanfaatkan mobil kantor yang menganggur buat jalan-jalan. Driver-nya cs kami, jadi ia mengajakku bergabung cari makan siang di luar. ( “Kamu yang traktir yaa..” katanya). Pukul 11.30 kami bertiga berangkat ke Cwie Mie Fatmawati. Baru sampai di Prapatan Pejaten (kantor kami di Buncit), si boss menelpon minta supaya driver-nya menyusul karena tidak enak badan. Maksudnya minta disupiri pulang.Driver kami turun sambil mengomel, minta uang taksi ke Gina terus menyusul bossnya di sekitar blok M. Gina menggantikan pegang kemudi (dulu, Gina yang mengajariku bawa mobil) dan melanjutkan perjalanan.

“Kalo dulu, sambil nyetir gini biasanya aku dipijitin..” Gina mulai membuka kenangan.
“Sekarang juga boleh..” kataku, sambil mengusap lututnya, biasanya aku pindah ke belakang, memijat leher dan pundaknya dari belakang, dan tentu saja berakhir di payudaranya.
“Jangaan ahh, kacanya terang..” kata Gina.

Usapan di lutut memang lebih aman dari pandangan mobil lain. Dari desahan ‘ahh’-nya kurasakan bahwa Gina menikmatinya.

“Kita ke saung aja yuk..!” lanjut Gina.

Saung merupakan istilah kami berdua untuk sebuah restoran pemancingan di sekitar Ragunan.Aku tidak menjawab, hanya semakin meningkatkan sentuhan di lutut dan ke atas ‘sedikit’ sambil mata tetap waspada memantau kiri kanan takut dilongok pengendara motor. Gina dengan trampil meluncurkan mobil di sepanjang jalan dengan meminimalkan penggunaan kopling supaya paha kirinya lebih mudah terjangkau jari-jariku.

“Berapa tahun aku tidak nyentuh ini..” kataku saat jariku mulai nyelusuri pinggiran CD-nya.

Gina agak tergetar oleh sentuhanku itu, sambil mendesis ia mengoyangkan kakinya.

“Kamu bangun enggak Mas..?” katanya (ia memanggilku ‘Mas’).
“Liat aja,” jawabku.

Ia melirik dan terkikik melihat tonjolan yang mengeras di celanaku.

“Hihihi.. masih mempan juga..”


“Masih dong, remasanmu belum ada duanya..” Restoran itu terletak di pinggir kolam, dihubungkan ke beberapa saung (gubuk dari bambu) di tengah kolam dengan jembatan kayu.

Saung beratap rumbia ukuran 2,5 m x 2,5 m itu diberi pagar bambu rapat setinggi 60 cm. Bagian atasnya terbuka sehingga dapat dipantau dari jauh, tapi dilengkapi krey bambu yang jarang-jarang, dan dapat diturunkan ‘kalau perlu’, juga disediakan bantal duduk. Tidak ada pengunjung lain. Kami meniti jembatan kayu, memilih saung yang paling jauh dari kasir, dan memesan makanan yang paling cepat saji. Tidak lupa kami minta krey diturunkan. Begitu pelayan pergi, aku segera menjatuhkan pantatku di sebelahnya. Ia menyandar ke tiang bambu di pojok, bersila di bantal dengan cuek. Aku meneruskan elusanku yang terhenti, menyusuri pahanya yang terbuka.

“Mana dong yang keras-keras tadi, aku pegang..” katanya tanpa mempedulikan jariku yang sudah terbenam di dalam roknya.

Aku merapatkan duduk agar terjangkau tangannya. Ia menekan-nekan celana di bagian penisku dengan keempat jarinya.Dengan hati-hati sabukku dibuka, lalu zipku diturunkan. Dari sela- sela baju dan singlet, dirogohnya penisku yang sudah mengeras lalu diusapnya lembut.

“Segini aja dulu, biar gampang ditutup,” katanya saat aku mau menurunkan celana panjang.Rasa nikmat yang halus merambat seperti aliran setrum dari selangkanganku, menjalar ke kaki, badan terus ke otak. Kami duduk berdampingan, aku selonjor dengan penis mencuat keluar dari celana, sementara paha kiri Gina menopang di atas paha kananku, kirinya mengusap lembut batangku sementara sambil menikmati elusannya, tangan kananku melakukan eksplorasi ke permukaan vaginanya yang terbungkus CD.

Percumbuan ringan itu terhenti ketika pelayan datang membawa pesanan.Aku menaikkan zipku kembali seraya merapatkan jaket.

“Sana kamu ke kamar mandi Mas, CD sama singletnya dikantongin aja. Sabuknya masukin tas,” ia berbisik memerintahku (Dari dulu aku suka ‘perintah- perintahnya’ Ia membereskan makanan sementara aku ke kamar mandi, membukai semua sesuai instruksi dan mencuci batangku supaya dingin dan segar kembali.

Keluar kamar mandi, aku berpapasan dengan Gina menuju ke tempat yang sama sambil mengedipi aku. Sambil menunggu, membayangkan ulah Gina batangku yang baru didinginkan mengeras lagi. Aku tidak menyentuh makanan, hanya minum Aqua untuk mengurangi bau mulut. Gina datang langsung duduk di bantal lagi.

“Udah lega.. ganjelnya udah masuk sini semua.. Beha, CD..” Gina melemparkan tasnya. Aku kembali merapat.
“Jangan deket-deket, kelihatan dari kasir,” ia mencegah.

Tangan kiriku beralih ke perutnya, pelan-pelan menggeser ke atas.Semua ‘daleman’ Gina sudah tersimpan dengan aman di dalam tas. Gina mengeluh saat tanganku menyentuh bulatan kenyal itu, menggeser posisi sehingga dapat mengawasi kasir di seberang, sekaligus memudahkan aku ‘bekerja’. Ia kembali mendesah lirih saat kusentuh putingnya. Darahku bergejolak merasakan lembutnya buah dada Gina. Beda dengan dulu, sekarang lebih berisi karena menyusui. Aku tidak berani mencium bibir atau mendekapnya karena kepala kami kelihatan sayup dari restoran.

Perlahan kubuka kancing blus dengan menyisakan satu kancing paling atas (Gina biasa begitu supaya cepat ‘memberesinya’) hingga aku dapat leluasa menciumi perutnya.Buah dada Gina mengembang segar, putingnya yang menonjol sudah mulai mengeras, coklat dilingkari semburat merah jambu. Dengan lembut jariku mengelus puting itu. Kuremas tubuh Gina dengan penuh perasaan. Lidahku menjelajahi perutnya, membuat Gina mendesah-desah dengan mata setengah terpejam. Bersembunyi di balik blus longgarnya, ciumanku beralih ke buah dada. Lidahku berputar-putar menyapu lingkaran merah di seputar puting, lalu diteruskan dengan mengulum ujungnya.

Sementara itu tanganku menjelajahi gunung yang sebelahnya. Gina semakin merintih-rintih menikmati sentuhanku. Birahinya semakin menggelora. Sambil tetap menciumi puting susu, tangan kiriku pindah menelusuri paha Gina sambil tangan lainnya menyusup ke belakang, membuka kaitan roknya. Sentuhan dan rabaanku akhirnya sampai ke pangkal pahanya yang tidak terbungkus apa apa.Usapanku pada bukit lembut yang ditumbuhi bulu halus membuat birahi Gina menggelegak, meluap ke seluruh nadi dan pori-pori. Ketika tanganku menyelusup ke celah kewanitaannya yang basah, Gina makin menggeliat tidak terkendali.

“Ahh.. Mass, ahh..” Gina merintih tidak karuan, sementara sekujur tubuhnya mulai dirangsang nikmat yang tidak tertahankan. 

Dengan hati- hati rok Gina kusingkapkan, pahanya yang mulus sudah menganga menantikan sentuhan lebih jauh.Celah di pangkal paha Gina yang ditutupi rambut halus, merekah indah. Kepalaku menyusup ke dalam roknya yang tersingkap, Gina mengangkangkan pahanya lebar-lebar seraya menyodorkan pangkal pahanya, memudahkanku mencapai lembahnya. Jariku mengusap-usap celah itu yang mulai basah dan menebal, sementara lidahku menciumi pinggiran bulu-bulu kemaluannya. Gina mengerang keenakan saat jari-jariku menggetar dan memilin kelentitnya.

“Akh.. Mas, gila..! Udah dong Mass..!” Jari-jariku membasahi kelentit Gina dengan cairan yang merembes keluar dari celahnya.

Setiap jariku mengorek lubang kemaluan untuk membasahi kelentit, Gina menggeliat kelojotan.Apalagi sambil membenamkan jari, aku memutar-mutarkannya sedikit. Sambil meremas rambutku yang masih menciumi pubisnya, Gina mencari- cari zipku, ketemu, terus dibukanya. Dan kemaluanku yang sudah menegang kencang terbebas dari ‘kungkungan’.Batangku tidak terlalu panjang, tapi cukup besar dan padat. Sementara ujungnya yang ditutupi topi baja licin mengkilat, bergerak kembang kempis. Di ujung topi itu, lubang kecilku sudah licin berair.

Sementara tubuh Gina makin melengkung dan tinggal punggungnya yang bersandar karena pahanya mengangkang semakin lebar, aku pun berusaha mencari posisi yang enak.Sambil menindih paha kirinya, wajahku membenam di selangkangan menjilati lipatan pangkal pahanya dengan bernafsu, dan tangan kiri tetap bebas menjelajahi liang kemaluannya. Pinggulku mendekat ke tubuhnya untuk memudahkan ia meraih batangku. Soal ‘keamanan lingkungan’ sepenuhnya kupercayakan kepada Gina yang dapat memandang sekeliling. Dengan gemas tangan Gina meraih tonggakku yang semakin tegak mengeras.

Jari-jarinya yang halus dan dingin segera menjadi hangat ketika berhasil menggenggam batang itu.
Ketika pangkal paha Gina mencuat semakin terbuka, ciumanku mendarat di pinggiran bibir vaginanya. Ciuman pada vaginanya membuat Gina bergetar.Ketika lidahku yang menjelajahi bibir kemaluan menggelitik kelentitnya, Gina semakin mengasongkan pinggulnya.Lalu.., tiba-tiba ia mengerang, kaki kanannya terlipat memiting kepalaku dan tangannya mencengkeram pangkal leherku, mendesakkan mulut vaginanya ke bibirku, dan mengejang di situ. Gina orgasme! Gina menyandar lemas di tiang pagar.

Tapi itu tidak berlangsung lama, segera didorongnya tubuhku telentang dan dimintanya merapat ke dinding bambu. Aku mengerti yang dimauinya, aku tahu orgasmenya belum tuntas, tapi aku masih ragu.Semula aku hanya ingin menawarkan kenikmatan lewat lidah dan jariku, tapi kini telanjur Gina ingin lebih.

“Kamu oke, Ki..?” tanyaku. Ia mengangguk.
“Aman..?” lanjutku sambil memutar biji mataku berkeliling. Ia kembali mengangguk.
“Ayo.. sini..!” kataku memberi kode tapak tangan menyilang, Gina langsung mengerti bahasa kami masa pacaran.

Ia mengangkang di atas badanku, jongkok membelakangiku dan kembali menghadap ke restoran. Ia mengangkat rok dan memundurkan pinggulnya hingga vaginanya tepat di mulutku. Tanganku yang menganggur merogoh saku, mengambil ‘sarung’ yang sudah kusiapkan, kuselipkan di tangan Gina.

“Ihh, udah siap-siap yaa..?” katanya, sambil mencubit batangku.

Dengan sebelah tangan bertumpu pada dinding bambu, Gina berjongkok di wajahku yang berkerudung roknya.Dengan mendesah ia menggerakkan pinggulnya, menyapukan vaginanya ke lidahku yang menjulur, kadang mendesak hidungku dengan tekanan beraturan.Tangannya sebelah lagi mengurut pelan penisku yang semakin tegang, lalu dengan susah payah berusaha memasang ‘sarung’ dengan sebelah tangan, gagal, malah dilempar ke lantai.Saat sapuan vaginanya di bibirku semakin kuat sementara lidahku yang menjulur sudah kebanjiran cairannya, pinggulnya ditarik dari mulutku, bergerak menuruni tubuhku ke arah selangkangan.

Aku tidak tinggal diam, vaginanya yang lepas dari lidahku kurogoh, kujelajahi dengan jari-jariku.Gina semakin menggelinjang, pahanya mengangkang mengharapkan datangnya tusukanku, sementara tangannya yang menggenggam mengarahkan kemaluan itu ke liang vaginanya yang sudah berdenyut keras.

“Mas.. masukin yaa..!” Gina merintih sambil menarik batang kemaluanku, sementara aku masih memainkan jari di kelentit dan liangnya.
“Hhh, kamu lepaass dulu.. Ini udah keras banget..!” Aku mengambil alih menggenggam tongkat.

Kusentuh dan kugosok-gosokkan otot perkasa yang ujungnya mulai basah itu ke kelentit Gina. Gina melenguh. Sentuhan dengan ujung kemaluan yang lembut dan basah membuat kelentitnya serasa dijilati lidah. Napas Gina semakin terengah-engah.Setelah puas membasahi kelentit, aku pindah ke mulut vagina. Kuputar- putarkan tongkat kenikmatanku di mulut lorong Gina. Membuatnya semakin kelojotan dan medesah dengan sendu. Ia berusaha menekan tapi terganjal tangan yang menggenggam batangku.

“Masukin dong Mas..!” Gina menjerit lirih.Dengan gemetar aku melepas tongkatku, topi bajaku menyentuh mulut vagina Gina.

Kemudian dengan hati-hati ia mendorong pelan-pelan, sampai kepala penisku membenam di liang itu. Aku mengerang, kepala kemaluanku seakan diremas oleh cincin yang melingkari liang sempit milik Gina.

“Uhh.. enak Yang..!” Gina tebeliak-beliak sambil melenguh ketika kemaluanku menyeruak masuk lebih dalam ke liang nikmatnya.

Dinding vaginanya yang lembut tergetar oleh nikmat yang menggelitik karena gesekan ototku.Gina kemudian pelan-pelan mengangkat pinggul, menarik keluar batang kemaluanku. Ia mendesis panjang. Menggumam sambil menggigit bibir. Demikian pula ketika mendorong, menelan tongkatku yang kembali membenam di liang vaginanya.Gina merasakan nikmat yang tidak habis-habisnya.

“Auughh.. Yang..! Teruus..!”
“E.. emhh.. kamu goyyaang teruss..!”Kemudian Gina memiringkan badannya, memberi kode padaku.

Ia ingin di bawah. Aku menjawab dengan mengangkat alis, sambil mata berkeliling.Ia mengangguk, artinya aman. Lalu, tanpa mencabut batangku, Gina berbaring pelan-pelan dan aku bangkit bertumpu pada palang dinding bambu. Dari sela-sela krey, di restoran tampak dua orang sedang asyik nonton TV membelakangi saung kami.Gina berbaring miring menghadap dinding pagar. Sebelah kakinya melonjor di lantai, sebelah lainnya mengait di palang bambu. Tanganku pindah memainkan klitoris, sementara batang kemaluanku keluar masuk di liang vagina Gina.Membuat birahi kami semakin menggelegak. Birahi yang makin memuncak membuat Gina dan aku terhanyut, tidak memperdulikan apa-apa lagi.

Gina kini telentang, ia meraih bantal untuk mengganjal pantat, memudahkan kocokan batang penis di liang vaginanya.Pinggul Gina dengan lincah berputar-putar, sementara aku semakin cepat mengayunkan pantat, menyebabkan gesekan penis dan vagina semakin terasa mengasyikkan. Tiba tiba Gina menegang. Pinggulnya menggelinjang dengan hebat.Matanya terbeliak dan tangannya mencakari pahaku dengan liar. Gerakannya semakin tidak beraturan, sementara kakinya membelit di pantatku.

“Akh.. cepetaan.. Yang..!” Gina mendesah-desah.
“Gila.. enaak banget..!” Ketika suatu desiran kenikmatan menyiram menjalari sekujur tubuhnya, ia menggelepar.
“Akuu.. keluaar.. laagii.. Yang.. kkamu..!” Cakaran itu sama sekali tidak menghentikan gerakanku yang tengah menikmati remasan-remasan terakhir vagina Gina di kepala dan batang kemaluanku.

Aku pun hampir mencapai orgasme. Lalu,

“Uhh.. aku keluaar Nik..!” Aku mengocok dengan cepat dan menggelepar- gelepar tidak beraturan.

Gerakan yang membuat Gina semakin melambung- lambung. Kemudian, kami berdua mengejang dengan saling mendesakkan pinggul masing-masing.Puncak birahi Gina menggelegak saat aku menumpahkan puncak kenikmatanku dalam-dalam membenam di vagina Gina yang meremas-remas dengan ketat, bersama semburan cairan kentalku. Beberapa saat kemudian, kami saling memandang dengan diam. Diam-diam pula kami gantian ke kamar mandi membersihkan sisa-sisa tisyu, menghabiskan makan dengan cepat (dan ternyata tidak habis). Sambil makan aku hanya bilang,

“Nik, kalau ada apa-apa semua tanggung jawabku.” Gina tidak menjawab hanya tersenyum, menggenggam tanganku erat sambil tersenyum penuh kasih.

Dalam perjalanan kembali ke kantor kami tidak banyak bicara.Hanya saat berpisah ia berbisik, “Terima kasih, aku bahagia. Tapi tolong lupakan..!”

Di Kantor Sejak peristiwa di saung itu aku berusaha untuk bersikap biasa, dia juga. Kami masih kerja bersama, makan siang sama-sama dan bercanda seperti biasa, terutama di depan teman-teman. Tapi kami menghindari percakapan yang lebih personal, apalagi membicarakan peristiwa itu. Kuat juga usahaku untuk melupakan hal itu, tapi yang ada aku makin sering melamunkannya. Membayangkan desahan dan rintihannya, gelinjang-gelinjangnya, terutama remasan liang nikmatnya di penisku.

Aku tidak dapat melupakannya! Semakin hari aku semakin tersiksa oleh bayangan Gina. Setiap kali lengan kami bergesekan, dan ini tidak dapat dihindarkan karena memang selalu bersama, getaran birahi menjalari tubuhku, dan berujung di selangkanganku yang mengeras. Ia sendiri nampaknya biasa saja.Suatu ketika dengan cuek ia menggayut di lenganku saat menaiki undakan ke kantin, burungku langsung menggeliat. Sesudahnya saat memesan makanan, sambil berdesakan ia menempelkan dadanya di lenganku.Aku langsung berkeringat, berusaha untuk tetap tenang ngobrol dengan yang lain di meja makan. Perlu setengah jam untuk ‘menenangkan’ burungku. Sampai suatu hari, ia datang ke tempatku.





Ruangku terbagi atas kotak bersekat setinggi dada.Setiap kotak berisi meja dan komputer untuk satu orang, yang kalau duduk tidak kelihatan, tapi kalau berdiri kelihatan sampai dada. Selain itu ada satu kotak yang agak besar berfungsi untuk ruang rapat, letaknya di ujung dan selalu sepi kecuali ada meeting. Ia menghampiriku saat aku sedang sendiri di ruang rapat.

“Yang, nanti bantuin yaa. Aku mau ngelembur.” Panggilan ‘Yang’ membuat darahku berdesir.
“Boleh. ‘Bor’-nya sapa yang mau dilempengin.” Aku melempar canda biar agak santai.

Istilah ‘ngelembur’ oleh orang kantoran seringkali dipanjangkan sebagai ‘nglempengin burung’.

“Nglempenginnya sih kamu buka internet aja. Aku sih bagian nglemesin..!” sahutnya cuek, sambil duduk di meja rapat, tepat di depanku.

Darahku berdesir, langsung kontak ke selangkangan dan mengeras. Aku menengok ke pintu masuk. Dua orang temanku sedang ngobrol asyik sekitar lima kotak dari tempatku, yang lain sedang keluar.

“Lagi sepi..!” katanya, menebak arah pandanganku.Lalu ia mengalihkan pandangannya ke bawah, arah celanaku.
“Tuuh.. lempeng..!” ia terkikik sambil menyentuh dengan kakinya.

Untuk menetralisir, aku duduk di kursi sambil melonggarkan bagian depan celanaku.

“Sorry, aku nggak bisa ngelupain kamu,” kataku sambil mencari posisi yang nyaman.
“Memangnya aku bisa..?” jawabnya.

Ia membuka pahanya sedikit sehingga aku makin blingsatan, memutar-mutar kursi yang kududuki sambil mengerakkannya maju mundur.

“Sini dong maju, aman kok..!” Aku memajukan kursi hingga pahanya tepat di depanku.

Tidak menyia-nyiakan tawaran yang kuimpikan siang malam, tanganku dengan gemetar mulai merayapi pahanya, tapi Gina menahannya.

“Sstt.. tunggu..!” ia mendorongku, lalu turun dari meja.

Gina menempelkan pantatnya di pinggiran meja setelah roknya disingkapkan sebatas pinggul.

“Biar gampang nutup kalo ada orang.” katanya.

Gina memang brilian dalam merancang ‘pengamanan’.Tanganku kembali menyusuri paha Gina, dengan berdebar-debar merayap terus ke dalam. Gina mulai mendesah, mengepalkan tangannya. Bibirku menciumi lututnya, dengan lidah kujelajahi sisi-sisi dalam pahanya hingga tanganku mencapai pangkalnya.Jariku menyusuri pinggiran CD-nya, tapi aku menyentuh bulu halus, celah basah, benjolan kecil, aku penasaran, kurenggangkan pahanya. Ternyata CD-nya dibolongi persis di sekitar vagina, terang saja jariku langsung menyentuh sasaran.

“Bolong..,” aku berbisik.
“Iya, biar gampang dipegang,” jawabnya.
“Kenapa nggak dilepas aja..?”
“Keliatan dong, ‘kan nyeplak di luar. Kalo gini ‘kan, kayaknya pake tapi bisa kamu pegang.” ia menjelaskan, lagi-lagi brilian! Aku mulai menggosok klitorisnya, sementara liangnya sudah semakin basah.

Gina mengangkangkan vaginanya, pahanya diangkat menopang di meja, kakinya sedikit jinjit. Dengan hati-hati lidahku kuselipkan di celah labia mayoranya, menyapu klitorisnya berulang-ulang. Jariku yang sudah basah oleh cairannya kubenamkan pelan-pelan di liangnya, kuputar-putar mencari ‘G-Spot’-nya. Saat kutemukan, G-spot- nya kugosok lembut dengan jari tengah, sementara dari luar lidahku memainkan bagian bawah klitoris.Tidak lama Gina langsung mengejang, menggenggam rambutku kencang. (Saat kami pacaran, aku belum tahu G-spot)

“Yang.. udaah..!” ia berbisik, memberikan saputangan untuk membersihkan jari, mulutku, dan liangnya, sekalian buat mengganjal celana bolongnya biar tidak netes-netes.

Tiba-tiba pandangan Gina berubah serius, dilanjutkan dengan omongan yang tidak jelas.

“Soalnya yang aku print kok laen sama yang dipegang bossku.” Aku bingung tapi langsung menimpali,
“Yang punyaku bener kok..” kataku sambil berdiri.

Benar saja, cewek-cewek Biro tempatku baru saja masuk ruangan.

“Ya udah, nanti dikopiin lagi aja,” lanjutnya sambil berjalan keluar,
“Terus yang ini jangan lupa disiapin..” saat melewatiku, tangannya menjulur meremas bagian depan celanaku.

Gina sempat ngobrol dulu dengan teman-temanku.Berbasa basi, lalu kembali ke ruangannya. Rasanya lama sekali menunggu sore. Jam 5 kantor bubar. Aku naik ke tempat Gina yang satu lantai di atasku. Gina sudah menunggu di ruangannya lalu mengajakku ke ruang komputer yang terletak di sebelah.Ia harus menyusun undangan seminar dari boss Hongkong-nya. Kubuatkan program konversi daftar client dari database ke format txt untuk di- merge dalam undangan, sementara Gina melakukan check ulang data undangan.Jam 7 malam satpam datang mengontrol seperti biasa. Gina memberitahu bahwa ia masih pakai ruang komputer sampai jam sembilan.

Aku sendiri makin asyik dengan programku, tidak menyadari kalau Gina sudah menghilang dari sebelahku.Sadarnya waktu HP-ku berbunyi, ternyata Gina telpon dari ruangannya di sebelah.

“Sini dong Mass..!” ia berbisik, membuat darahku kembali berdesir mengalir ke selangkangan.

Aku meng-execute programku lalu bergegas ke sebelah.Ruang di seberangku masih terang, tapi tempat Gina sudah gelap. Aku ragu-ragu, kucoba membuka ruang Gina, ternyata tidak terkunci, aku masuk langsung menutup pintu.

“Dikunci aja..” terdengar suara Gina berbisik lirih.Ruang itu terbagi jadi ruang pertama tempat Gina biasa duduk, ruang tengah untuk meeting, terus ruang ujung tempat bossnya.

Aku mengunci pintu terus menghampirinya di ruang tengah, tempat bisikan itu berasal.Dalam keremangan kulihat Gina duduk di meja meeting nyaris telanjang, hanya tersisa CD-nya.

“Buka baju Sayang, terus naik sini..!” Gina menyapa dengan lembut, sapaan yang membuat birahiku menggelegak.Gina duduk memeluk lutut kirinya yang ditekuk menopang dagu. Kaki kanannya terlipat di meja seperti bersila.

Di bawah cahaya lampu yang lemah menerobos dari luar, sosok Gina bagaikan bidadari yang sedang menanti cumbuan cahaya bulan. Aku berusaha tenang, membuka baju, sepatu, celana, lalu dengan berdebar melangkah keluar dari onggokan pakaian dan menyusul naik ke atas meja.Gina membuka tangannya, lutut kirinya juga rebah membuka. Aku mengusap pipinya dengan halus saat jari Gina menjelajahi leherku pelan, lalu dada, lalu naik mengelus lenganku, pelan dan lembut menyusuri bagian dalam lenganku ke arah ujung jari. Digenggamnya jari-jariku, dikecupnya lalu dibawa ke leher, dada, mendekapnya sesaat.

Lalu.. tiba-tiba aku telah terbenam dalam dekapannya.Dadanya yang bulat penuh menekan, memberikan kehangatan yang lembut ke dadaku, kehangatan yang menjalar pelan ke bawah perut. Tanganku mengusap punggung dan rambutnya, lalu entah gimana mulainya, tiba- tiba saja aku sudah menciumi lehernya.Kukecup hidungnya, keningnya, telinganya, Gina menggelinjang geli. Kusodorkan bibirku untuk meraih mulutnya, ia merintih lirih dan merangkulku sambil mulutnya bergeser mencari bibirku, lalu kami berpagutan dengan lahap bagaikan kelaparan.

Pelukan dan ciuman ini yang sebenarnya paling kurindukan, yang tidak dapat dilakukan saat di saung atau di ruanganku. Cinta dan ketulusannya kini dapat kurasakan lewat peluk dan ciumannya. Gina terpejam manja saat kujelajahi mulutnya dengan lidahku, bibirnya langsung menyedot dan melumat lidahku dalam-dalam.

“Oohh, Yang..!” Gina mengeluh saat tanganku mulai merayapi tubuhnya, bermain di sekitar puting susu, turun ke perut menyelusup ke CD-nya.

Masih dalam pelukan ia merebahkan badan di meja dengan dialasi jasnya si Hongkong.Setelah rebah berdampingan kami mengendorkan pelukan, membebaskan tangan agar lebih leluasa. Kami saling menyentuh bagian-bagian sensitif yang masing-masing sudah sangat hapal. Gina memejamkan mata menikmati sentuhan-sentuhanku, sementara jarinya mengurut lembut batang penisku, dari pangkal ke atas, memutari helm lalu turun lagi ke pangkal, membuat batangku keras membatu.

“Yang..! Jilat..!” ia mendesah, aku mengerti maksudnya.

Aku bangkit, lalu bibirku mulai menciumi seluruh tubuhnya, mulai dari lengan sampai ke ujung jari, kembali ke ketiak, menyusuri buah dadanya ke tangan satunya.

“Yaanng, Nik kangen jilatanmu..!” Gina mengerang dan menggelinjang semakin kuat.

Saat jilatanku mencapai pangkal lengannya, Gina berbalik menelungkup. Kini lidahku menyusuri pundak, Gina terlonjak saat lidahku mendarat di kuduknya, lalu perlahan menjelajahi punggungnya. Saat jilatanku mencapai pinggiran CD-nya, Gina kembali menelentang lalu sambil membuka CD-nya, lidahku pelan-pelan menyusur pinggang, perut terus ke bawah.Paha Gina membuka, menyodorkan bukit kemaluannya yang menggunduk dengan belahan merekah ke hadapanku. Melewati pinggiran gundukannya, lidahku meluncur ke samping, menjilati paha luar sampai ke jari kaki, lalu kembali ke atas lewat paha bagian dalam.Sampai di pangkal, lidahku menjelajahi lipatan paha, memutari pinggiran bulu-bulu halusnya, lalu menyeberang ke paha sebelah. Gina melenguh keras.

Aku menjelajahi kedua lipatan pahanya bolak balik, kadang lewat gundukan bulu-bulunya, kadang lewat bawah liang vaginanya. Pahanya terkangkang lebar, sementara cairannya semakin membanjir. Lalu tangannya menggenggam rambutku, menyeret kepalaku dibenamkan ke tengah selangkangannya yang basah dipenuhi cairan kenikmatannya. Aku langsung menyedot kelentitnya. Gina tersentak,

“Yaangg.. kamu.. nakal..!” rintihnya menahan nikmat yang menggelora.Dengan bertumpu kedua tangan, lidahku kini menjelajah dengan bebas di celah vagina, menjilati klitorisnya dengan putaran teratur, lalu turun, menjelajahi liang kewanitaannya.

Gina mengejang sambil mengerang-erang.


“Yaang, udaah.. masukin..!” Gina mencengkeram leherku dan menyeretnya ke arah bibirnya

Aku mengambil posisi konvensional. Batangku yang sudah tegang mengeras menyentuh gerbang kenikmatan yang licin oleh cairannya.Gina tersentak saat kepala penisku menyeruak di bibir vaginanya. Kubenamkan kepala penisku sedikit demi sedikit, oh.. hangatnya vagina Gina. Dinding vaginanya mulai bereaksi menyedot-nyedot, remasannya yang selalu kurindukan mulai beraksi.Kutarik lagi penisku, pinggul Gina menggeliat seolah ingin melumatnya. Kubenamkan lagi batang penisku perlahan, Gina menaikkan pinggulnya ke atas, sehingga setengah batang penisku ditelan vaginanya.Pinggulnya diputar-putarkan sambil melakukan remasan nikmatnya.

“Ooogghh, Giink.. aduuhh..!” desahanku membuat Gina semakin semangat menaik-turunkan pinggulnya, membuat batang penisku seolah dipilin-pilin oleh liangnya yang masih sempit.
“Maass.. tekaann Maass..! Giinii.. hh.. nikmaatt.. sekali..!” Pinggul dan badannya semakin sexy, perutnya yang sedikit membesar membuat nafsuku semakin menjadi-jadi.

Aku setengah duduk dengan bertumpu pada dengkul menggenjot penisku keluar masuk vagina Gina yang semakin berdenyut.

“Creekk.. creekk.. blees..” gesekan penisku dan vaginanya bagaikan kecipak cangkul Pak tani di sawah berlumpur.
“Yaang, aduuhh, batangnyaa.. oohh.. Giin.. nggaak tahaan..!” Gina badannya bergetar, pinggulnya naik turun dengan cepatnya, miring ke kiri dan ke kanan merasakan kenikmatan penisku.

Badan Gina berguncang-guncang keras, goyangan pantatnya tambah menggila dan lubangnya seakan mau memeras habis batang penisku. Spermaku rasanya sudah mengumpul di kepala penis, siap menyembur kapan saja, susah payah aku bertahan agar Gina mencapai klimaks lebih dulu.

“Teken teruuss..! Yuu bareng keluariin Maass..!” Goyangan kami makin menggila. Aku menusukkan batang penisku setengah, dan setiap coblosan ke delapan aku menekannya dalam-dalam. Akibatnya gelinjang pantat dan pinggul Gina semakin menjadi-jadi. Sambil mengelepar-gelepar keasyikan, matanya merem-melek.Kuciumi dan kulumat seluruh wajahnya, bibirnya, lidahnya, ludahnya pun kusedot dalam-dalam. Gina mencakar punggungku keras sekali sampai aku tersentak kesakitan. Itu tandanya ia mau mencapai klimaks. Kutahan mati-matian agar aku jangan muncrat dulu sebelum ia orgasme. Tiba-tiba,

“Yaanng.. oohh.. aduhh.. Giin.. keluaar.. oohh.. aduuh.. gilaa.. aahh. aahh.. uuhh.. uuhh.. uuhh..!” dia sekali lagi mencakariku, itu memang kebiasaannya kalau meregang menahan klimaks luar biasa.

Aku tidak perduli punggungku yang baret-baret oleh cakarannya. Aku terus menggenjotkan penis dengan teratur sambil konsentrasi merasakan nikmat yang semakin mendesak-desak di ujung penisku. Suatu gelombang dahsyat bagaikan menyedot seluruh perasaanku menyembur dari ujung kemaluanku, memancar dalam dalam di liang vaginanya. Aku mengejang beberapa detik, lalu terkulai dalam pelukannya.Beberapa menit kami berdiam sambil pelukan, sampai batangku melemas dengan sendirinya. Aku turun dari tubuhnya. Gina turun dari meja, mengambil tisyu dan teko air dari meja si Hongkong. Lalu kami bersih-bersih organ masing-masing, kembali berciuman sambil saling mengenakan pakaian.

Selesai berpakaian Gina keluar duluan mengintip, dengan kodenya aku keluar kembali ke ruang komputer, di sana satpam sudah menunggu.Kukatakan aku dari kamar mandi, dan Gina tidak tau kemana.

“Kenapa..? aku dari bawah barusan.. lewat tangga.” Gina muncul di pintu, memberi penjelasan.
“Lho, saya juga lewat tangga..” kata satpam.
“Ooo.. Naiknya sih lewat lift depan,” Gina berkilah.Program transferku sudah berhenti proses.

Baca Juga : Cerita Seks: Teman Suamiku Menghamili Aku

Setelah beres-beres, mematikan komputer, AC, dan lainnya, aku, Gina dan satpam turun. Kuantar Gina sampai mobilnya.

Friday, November 28, 2025

Kenikmatan Bermain Di Ranjang Tante Diva

Diary Cerita Seks ku – Hallo para pembaca setia Diary cerita seks ku 17+ perkenalkan nama saya Dendy (25 tahun), saya berdomisili di Bandung. Pada kesempatan ini saya ingin mengucapkan banyak terima kasih karena saya diberi kesempatan untuk menulis pengalam saya. Adapun cerita ini bukan bohong ataupun dibuat-buat, atau juga hanya karangang semata, melainkan apa yang saya ceritakan di bawah ini adalah benar-benar terjadi pada kehidupan saya hingga kini. Setelah SMA, dengan sedikit memaksa aku ingin kuliah di Bandung. Sedikit banyak jiwa pemberontakanku mulai nampak.

Aku bersikeras dengan keinginanku, meskipun pada awalnya kedua orangtua berusaha keras menolak. Di Bandung, awal-awal aku duduk di bangku kuliah, aku merasakan sebagai sosok lelaki yang kerdil. Dalam hati, aku seakan tidak dapat menerima pergaulan dengan mereka yang tidak bergaya hidup pas-pasan.

Aku merasakan dapat menempatkan diri di tengah mereka. Entah mengapa, aku cenderung memilih-milih pergaulan. Tipikal yang menjadi temanku adalah mereka yang bergaya hidup wah. Aku cenderung menjauh dari pergaulan yang gaya hidup pas-pasan. Hal ini dikarenakan perasaan superiority complex yang ada di benakku. Dari pakaian yang dikenakan atau gaya bicara, aku dapat menilai, apakah mereka anak orang kaya sepertiku atau tidak. Ketika itu usiaku sudah 20 tahun. Belakangan, aku merasakan cocok dengan salah seorang teman yang bernama Roni.

Kunilai dia anak orang kaya di kota lain terlihat dengan gemerlap kehidupannya yang suka sekali berfoya-foya. Kulihat lama-kelamaan dia pun seakan menunjukkan sikap yang cocok berteman denganku. Kami pun berteman baik. Namun di balik kebanggaanku bergaul dengannya, disitulah aku langkahkan kaki ke jalan yang salah untuk melangkah. Aku terlibat dalam pergaulan yang salah dan tidak wajar.

Kenikmatan Bermain Di Ranjang Tante Diva





Lambat laun, aku terbawa arus nakal Roni dan beberapa temannya. Kehidupanku yang gelamor dan banyak uang, seakan memuluskan jalan untuk berbuat seenaknya. Dari mulai minum-minum di beberapa cafe ataupun bar, menghisap ‘gele’ ataupun ‘ganja’ sampai ‘putaw’. Tidak hanya itu, pergaulanku yang akrab itu belakangan membawaku pada keinginan ‘main’ dengan ABG yang kami booking dari pinggir jalan utama kota kembang ini. Dari semua pengalaman yang tadinya didasari rasa coba-coba dan ingin tahu itu, lama-kelamaan membuatku keranjingan. Kenakalanku tidak itu saja, melalui Roni pula aku diperkenalkan dengan seorang tante-tante yang umurnya kutaksir 35 tahun.

Sebut saja namanya Tante Diva. Wanita itu, namanya membekas sampai sekarang, karena dialah wanita yang kuanggap mampu mengubah jalan hidupku. Dia wanita yang pertama kali kupeluk, kucium, dan juga wanita yang pertama kalinya yang tidur bersamaku. Sebenarnya, Tante Diva adalah isteri seorang pengusaha kaya. Karena sering kali kesepian akibat urusan bisnis suaminya, mengharuskan Tante Diva banyak ditinggal sendirian di rumah. Cerita Dewasa

Suaminya kerap kali melancong ke luar kota bahkan ke luar negeri dalam waktu lama. Awal perkenalan kami terjadi di sebuah cafe di sebuah hotel ternama di kawasan pusat kota di Bandung. Petang itu, aku datang bersama Roni yang lebih dulu akrab dengan Tante Diva. Sebenarnya aku tidak mengira kalau temanku itu sengaja menyodorkanku untuk memuaskan nafsu birahi Tante Diva. Semua itu baru terungkap saat temanku mohon diri dengan alasan ada kepentingan mendadak. Jadilah kami hanya menikmati lembutnya alunan musik live berduaan saja. Awalnya, hanya sekedar ngobrol sana-sini, namun satu ketika Tante Diva mengisyaratkan satu tingkah nakal.

Tak pelak sebagai lelaki normal, semua itu mengundang birahiku. Rasanya klop sudah, saat dia menawarkanku untuk menginap di hotel dimana dia telah booking kamar. Aku yang awalnya merasa ragu, akhirnya tidak berkutik, aku pun bagaikan kerbau dicocok hidungnya. Kuiyakan saja semua permintaan Tante Diva, termasuk keinginannya mengajaku menginap di hotel. Dalam hati aku berpikir, rasanya sangat disayangkan jika semuanya ini disia-siakan.

Meskipun tubuhnya tidak terlalu tinggi untuk seukuran wanita indonesia, wajahnya yang bersih dan terawat, menyiratkan bias kecantikannya. Gaya bicaranya yang mirip dengan yang dikatakan ABG kekinian, menambah kecentilan Tante Diva. Kuungkapkan keraguan jika nantinya Roni datang dan mencari kami dimana dia meninggalkan kami berdua di cafe tersebut, namun semua kekhawatiran itu hanya ditanggapi dengan senyum tenang dan menawan yang merekah di kedua bibir Tante Diva. Dia pun meyakinkanku bahwa Roni tidak akan kembali ke cafe lagi. Dapat ditebak apa yang akan terjadi, jika lelaki normal yang telah dewasa berduaan di dalam kamar bersama wanita cantik dan matang, yang ada tentu kobaran nafsu yang menggelora. Dan benar saja, hubungan badan pun terjadi di antara kami. Dibelainya rambutku, didekapnya tubuhku yang tak berbalut selembar kain pun. 

Dadaku dielus dan diciumi dengan penuh nafsu. Saling pagut dan raba pun tidak terelakkan lagi. Kemudian apa yang seharusnya hanya boleh dilakukan oleh suami-istri itu bersama Tante Diva dengan nafsu yang bergelora itu pun terjadi. Tidak hanya sekali, aku melakukannya saat malam itu. Tenaga Tante Diva yang sangat liar memacu gelora birahi. Aku merasa begitu tersanjung, sekaligus banyak belajar dari Tante Diva. Sungguh aku merasakan ada pengalaman baru dan sangat mengesankan yang selama ini belum pernah kualami. Kurasakan juga bagaimana gelora birahinya yang menggebu.

Kenikmatan Bermain Di Ranjang Tante Diva

Aku merasa tertantang untuk mengimbanginya. Dan ternyata aku berhasil memuasinya. Ini dikatakannya sendiri oleh Tante Diva. Setelah puas dengan permainan binal Tante Diva di atas ranjang, kembali kegundahan menyeriangi di benakku. Kepada Tante Diva kuwanti-wanti untuk tidak menceritakannya kepada Roni ataupun siapa saja. Namun dia hanya tersenyum tipis menghadapi kegundahanku. “Kenapa mesti risau..? Roni adalah kekasih gelapku juga. Dalam waktu-waktu tertentu, dengan senang hati dia melayaniku..” kata Tante Diva. Setelah itu, jadilah aku mulai ikut berpetualang sebagai pemuas nafsu seks, kukejar perasaan nikmat dan gairahku dengan Tante Erlyn, Tante Sofia, Tante Sally, dan beberapa tante lainnya. Aku pun seakan dimanjakan oleh mereka dengan limpahan uang yang datangnya bagaikan air yang mengalir. Namun aku memiliki langganan yang mengaku sangat terkesan dengan pelayananku. Dia seorang dokter di Jakarta.

Perkenalanku terjadi saat di suatu sore tiba-tiba HP-ku berdering. Dengan dalih untuk dipijat tubuhnya, suara wanita itu menginginkan agar aku datang ke sebuah hotel di kawasan jantung kota Bandung. Aku pun meluncur ke hotel yang dimaksud. Sore itu menjadi awal bagi permainan yang panas dengan sang dokter yang sedang mengikuti seminar di Bandung ini. Dokter yang berwajah cantik itu sangat ganas memperlakukanku, nafsu birahinya yang besar membuatku kewalahan. Tidak hanya di tempat tidur saja dia menginginkan permainan panas denganku. Itu semua dilakukan di sofa ruang tamu kamar hotel, di kamar mandi, ataupun di kaca rias kamar suite yang disewanya itu. Setelah puas, baru ia memberiku banyak uang, Dan rasanya itulah rekor bayaranku yang kuterima sebagai gigolo pemuas nafsu. Dia pun barjanji akan kembali lagi untuk memintaku untuk melayaninya.

Benar saja, beberapa bulan kemudian sang dokter itu kembali lagi ke Bandung, kali ini dia tidak sendiri, melainkan membawa 2 orang temannya yang mengaku Tante Lusi, dan Tante Nina. Setelah aku diminta melayani mereka bertiga, aku pun melakukannya dengan baik hingga mereka puas. Tidak hanya sekaligus kami bertiga bermain, melainkan aku melayaninya satu persatu. Keesokan paginya mereka pun kembali ke Jakarta. Tetapi alangkah terkejutnya aku, minggu kemudian sang dokter kembali lagi bersama temannya kembali, kali ini hanya seorang, dia bernama Tante Siska.

Seperti sebelumnya, dia meminta kupuasi nafsu seksnya, sebelum akhirnya memintaku untuk melakukan hal yang sama terhadap temannya itu. Kali ini dalam benakku ada berbagai pertanyaan, “Ada apa di balik keanehan ini..?” Dalam suatu kesempatan, terbukalah tabir rahasia itu. Menurut Tante Siska teman sang dokter itu, dia adalah salah satu anggota arisan yang bandarnya adalah Ibu dokter itu. Mereka beranggapan bahwa aku lah pria yang dipilih, dan yang paling hebat, dan kuat dalam memuasi mereka.

Baca Juga :  Cerita Seks ku: Ngewe dengan Gadis SMA Sangean

Jadi aku dijadikan komoditi arisan seks oleh mereka yang terdiri dari istri pengusaha dan pejabat. Gila, betapa terkejutnya aku mendapat jawaban itu. Namun aku berusaha mengendalikan kegundahanku, aku tidak perduli dengan perasaanku, toh aku mendapat imbalan jasa yang sangat besar dari mereka. Dan aku pun dapat memanfaat uang tersebut untuk kuliahku.

Saturday, November 22, 2025

Diary Cerita Sex ku: Mbaa Tina Pembantu ku yang Sexy

Diary Cerita Sex ku – Kisah ini kembali terulang ketika keluargaku membutuhkan seorang pembantu lagi. Kebetulan saat itu Mbaa Tina menganjurkan agar keponakannya Dewi yang bekerja disini, membantu keluarga ini. Mungkin menurut ortu aku dari pada susah susah cari kesana kesini, gak pa pa lah menerima tawaran Dian ini. Lagian dia juga sudah cukup lama berkerja pada keluarga ini. Mungkin malah menjadi pembantu kepercayaan keluarga kami ini. Akhirnya ortu menyetujui atas penawaran ini dan mengijinkan keponakannya untuk datang ke Jakarta dan tinggal bersama dalam keluarga ini.

Didalam pikiran aku gak ada hal yang akan menarik perhatian aku kalau melihat keponakannya. “Paling paling anaknya hitam, gendut, trus jorok. Mendingan sama bibinya aja lebih enak kemutannya.” Pikir aku dalam hati.

Sebelum kedatangan keponakannya yang bernama Dewi, hampir setiap malam kalau anggota keluarga aku sudah tidur lelap. Maka pelan pelan aku ke kamar belakang yang memang di sediakan keluarga untuk kamar tidur pembantu.

Pelan pelan namun pasti aku buka pintu kamarnya, yang memang aku tahu Mbaa Tina gak pernah kunci pintu kamarnya semenjak kejadian itu. Ternyata Mbaa Tina tidur dengan kaki mengangkang seperti wanita yang ingin melahirkan. Bagaimanapun juga setiap aku liat selangkangannya yang di halus gak di tumbuhi sehelai rambutpun juga. Bentuknya gemuk montok, dengan sedikit daging kecil yang sering disebut klitoris sedikit mencuat antara belahan vagina yang montok mengiurkan kejantanan gw. Perlahan lahan aku usap permukaan vagina Mbaa Tina yang montok itu, sekali kali aku sisipin jari tengah aku tepat ditengah vaginanya dan aku gesek gesekan hingga terkadang menyentuh klitorisnya. Desahan demi desahan akhirnya menyadarkan Mbaa Tina dari tidurnya yang lelap.

“mmmm….sssshh…..oooohh, Donn… kok gak bangun Mbaa sih. Padahal Mbaa dari tadi tungguin kamu, sampai Mbaa ketiduran.” Ucap Mbaa Tina sama aku setelah sadar bahwa vaginanya disodok sodok jari nakal gw. Tapi Mbaa Tina gak mau kalah, tanpa diminta Mbaa Tina tahu apa yang aku paling suka. Cerita Dewasa

Dengan sigap dia menurunkan celana pendek serta celana dalam gue hingga dengkul, karena kejantanan aku sudah mengeras dan menegang dari tadi.
Mbaa Tina langsung mengenggam batang kejantanan aku yang paling ia kagumi semenjak kejadian waktu itu.

Dijilat jilat dengan sangat lembut kepala kejantanan gw, seakan memanjakan kejantanan aku yang nantinya akan memberikan kenikmatan yang sebentar lagi ia rasakan. Tak sesenti pun kejantanan aku yang gak tersapu oleh lidahnya yang mahir itu. Dikemut kemut kantong pelir aku dengan gemasnya yang terkadang menimbulkan bunyi bunyi “plok.. plok”. Mbaa Tina pun gak sungkan sungkan menjilat lubang dubur gw. Kenikmatan yang Mbaa Tina berikan sangat diluar perkiraan aku malam itu.

“Mbaa….uuuh. enak banget Mbaa. Trus Mbaa nikmatin kontol saya Mbaa.” Guyam aku yang udah dilanda kenikmatan yang sekarang menjalar.
Semakin ganas Mbaa Tina menghisap kontol aku yang masuk keluar mulutnya, ke kanan kiri sisi mulutnya yang mengesek susunan giginya. Kenikmatan yang terasa sangat gak bisa aku ceritain, ngilu. Hingga akhirnya pangkal unjung kontol aku terasa ingin keluar.

“Mbaa… Donny mau keluar nih…” sambil aku tahan kontol aku didalam mulutnya, akhirnya aku muncratin semua sperma didalam mulut mungil Mbaa Tina yang berbibir tipis itu.

“Croot… croot… Ohhh… nikmat banget Mbaa mulut Mbaa ini, gak kalah sama memek Mbaa Tina. Namun kali ini Mbaa Tina tanpa ada penolakan, menerima muncratan sperma aku didalam mulutnya. Menelan habis sperma yang ada didalam mulutnya hingga tak tersisa. Membersihkan sisa sperma yang meleleh dari lubang kencing gw. Tak tersisa setetespun sperma yang menempel di batang kontol gw. Bagaikan wanita yang kehausan di tengah padang gurun sahara, Mbaa Tina menyapu seluruh batang kontol aku yang teralirkan sperma yang sempat meleleh keluar dari lubang kencing gw.

Lalu dengan lemas aku menindih tubuhnya dan berguling ke sisinya. Merebahkan tubuh aku yang sudah lunglai itu dalam kenikmatan yang baru tadi gue rasakan.

“Donn… memek Mbaa blom dapet jatah… Mbaa masih pengen nih, nikmatin sodokan punya kamu yang berurat panjang besar membengkak itu menyanggah di dalam memek Mbaa….” pinta Mbaa Tina sambil memelas. Mengharapkan agar aku mau memberikannya kenikmatan yang pernah ia rasakan sebelumnya.
“Tenang aja Mbaa… Mbaa pasti dapat kenikmatan yang lebih dari pada sebelumnya, karena punya saya lagi lemes, jadi sekarang Mbaa isep lagi. Terserak Mbaa pokoknya bikin adik saya yang perkasa ini bangun kembali. Oke.”

Tanpa kembali menjawab perintah gw. Dengan cekatan layaknya budak seks. Mbaa Tina menambil posisi kepalanya tepat di atas kontol gw, kembali Mbaa Tina menghisap hisap. Berharap keperkasaan aku bangun kembali. Segala upaya ia lakukan, tak luput juga rambut halus yang tumbuh mengelilingi batang kontol aku itu dia hisap hingga basah lembab oleh air ludahnya.

Memang aku akuin kemahiran pembantu aku yang satu ini hebat sekali dalam memanjakan kontol aku didalam mulutnya yang seksi ini. Alhasil kejantanan aku kembali mencuat dan mengeras untuk siap bertempur kembali.

Lalu aku juga gak mau lama lama seperti ini. aku juga mau merasakan kembali kontol aku ini menerobos masuk ke dalam memeknya yang montok gemuk itu. Mengaduk ngaduk isi memeknya. Cerita Bokep

Gw memberi aba aba untuk memulai ke tahap yang Mbaa Tina paling suka. Dengan posisi women on top, Mbaa Tina mengenggam batang kontol gue. Menuntun menyentuh memeknya yang dari setadi sudah basah. kontol aku di gesek gesek terlebih dahulu di bibir permukaan memeknya. Menyentuh, mengesek dan membelah bibir memeknya yang mengemaskan. Perlahan kontol aku menerobos bibir memeknya yang montok itu. Perlahan lahan kontol aku seluruhnya terbenam didalam liang kenikmatannya. Goyangan pinggulnya Mbaa Tina membuat aku nikmat banget. Semakin lama semakin membara pinggul yang dihiasi bongkahan pantat semok itu bergoyang mempermainkan kontol aku yang terbenam didalam memeknya.

“uh… Donn. Punya kamu perkasa banget sih. Nikmat banget….” dengan mimik muka yang merem melek menikmati hujaman kontol aku ke dalam liang senggamanya.


“memek Mbaa Tina juga gak kalah enaknya. Bisa pijit pijit punya saya… memek Mbaa di apain sih… kok enak banget.”
“Ih… mau tahu aja. Gak penting diapain. Yang penting kenikmatan yang diberikan sama memek Mbaa sama kamu Donn….” sahut Mbaa Tina sambil mencubit pentil tetek gw.
“Donn… ooohh…. Donn…. Mbaa mmmmauu kluuuuaaarr… ooohh.” Ujar Mbaa Tina sambil mendahakkan kepalanya ke atas, berteriak karena mencapai puncak dari kenikmatannya. Dengan lunglai Mbaa Tina ambruk merebahkan tubunya yang telanjang tepat di atas badan gw. Untung saja posisi kamar Mbaa Tina jauh dari kamar kamar saudara dan ortu gw. Takutnya teriakan tadi membangunkan mereka dan menangkap basah persetubuhan antara pembantu dengan anak majikannya. Gak kebayang deh jadinya kayak apa.

Lalu karena aku belum mencapai kenikmatan ini, maka dengan menyuruh Mbaa Tina mengangkatkan pantatnya sedikit tanpa harus mengeluarkan batang kontol aku dari dalam liang kenikmatannya. Masih dengan posisi women on top. Kembali kini gue yang menyodok nyodok memeknya dengan bringas. Sekarang aku gak perduli suara yang keluar dari mulut Mbaa Tina dalam setiap sodokan demi sodokan yang aku hantam kedalam memeknya itu.

“Donn…. kamu kuat banget Donn… aaah… uuuhhh… ssshhhh…. ooohhh…” erangan demi erangan keluar silih berganti bersama dengan keringat yang semakin mengucur di sekujur badan aku dan Mbaa Tina.
“Truuuus… Donn… sodok trusss memek Mbaa Doooonn. Jangan perduliin hantam truuuss.” Erangan Mbaa Tina yang memerintah semakin membuat darah muda aku semakin panas membara. Sekaligus semakin membuat aku terangsang.
“Suka saya ent*t yah Mbaa… kontol saya enak’kan… hhmmm.” Tanya aku memancing birahinya untuk semakin meningkat lagi.
“hhhhhmmmm… suka….sssshhh… banget Donn. Suka banget.” Kembali erangannya yang tertahan itu terdengar bersama dengan nafasnya yang menderu dera karena nafsu birahinya kembali memuncak.
“Bilang kalau Mbaa Tina adalah budak seks Donny.” Perintah gw.
“Mbaa budak seks kamu Donn, Mbaa rela meskipun kamu perkosa waktu itu…. Ohhhh… nikmatnya kontol kamu ini Donn.”

Semakin kencang kontol aku ent*tin memeknya Mbaa Tina. Mungkin seusai pertempuran ranjang ini memeknya Mbaa Tina lecet lecet karena sodokan kontol aku yang tak henti hentinya memberikan ruang untuk istirahat.

Merasa sebentar lagi akan keluar, maka aku balikkan posisi tubuh Mbaa Tina dibawah tanpa harus mengeluarkan kontol yang sudah tertanam rapi didalam memeknya. aku peluk dia trus aku
balikin tubuhnya kembali ke posisi normal orang melakukan hubungan badan.

Gw buka lebar lebar selangkangan Mbaa Tina dan kembali memompa memek Mbaa Tina. Terdengar suara suara yang terjadi karena beradunya dua kelamin berlainan jenis. “plok… plok…” semakin kencang terdengar dan semakin cepat daya sodokan yang aku hantam ke dalam liang vaginanya. Terasa sekali bila dalam posisi seperti ini, kontol aku seperti menyentuh hingga rahimnya. Setiap di ujung hujangan yang aku berikan. Maka erangan Mbaa Tina yang tertahan itu mengeras.

Baca Juga : Diary Cerita Sex ku: Ngewe dengan Pembantuku Ani

Sampai saatnya Cerita Dewasa Pembantu terasa kembali denyut denyutan yang semula aku rasakan, namun kali ini denyut itu semakin hebat. Seakan telah di ujung helm surga gw. aku tahan gak mau permainan ini cepat cepat usai. Setiap mau mencapai puncaknya. aku pendam dalam dalam kontol aku di dalam lubang senggamanya Mbaa Tina. Tiba tiba rasa nikmat ini semakin…. ooohhh…crottt…ssshhhh… sungguh nikmat rasanya ngentot memek pembantu dirumah. Tamat

Thursday, November 20, 2025

Diary Cerita Sex ku: Ketagihan Seks

 Diary Cerita Sex ku – Kisahku ini adalah kisah asli, namun namanama dan tempatnya sengaja aku ganti untuk menjaga kerahasiaan saja. Aku adalah seorang wanita setengah baya yang kini berusia 35 tahun. Singkatan namaku KN, tapi temantemanku sering memanggilku Yeni saja. Cerita Ml Hot Aku dilahirkan di Jepara, kota yang katanya banyak mempunyai wanitawanita ayu. Temantemanku sendiri sering bilang aku ayu dan cukup seksi dengan ukuran bra 34D, lingkar pinggang 27, dan celana nomor 32.

Kini tiba saatnya aku ingin menceritakan kisahku kepada pembaca sekalian, kisah yang terjadi beberapa saat lalu di Jakarta.

Aku terbangun dari tidurku di atas sebuah ranjang ukuran king size. Tubuhku telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Di kedua payudaraku masih tersisa air mani pria yang lengket di kulitku. Di samping kiriku, kulihat Anto juga dalam keadaan bugil sedang tidur tertelungkup. Di kananku, Cerita Ml Hot Tommy yang juga bugil tidur dalam posisi miring dengan kaki agak tertekuk.

Kudengar suara orang menggerakkan badannya agak jauh. Aku duduk di atas tempat tidurku, dan kulihat Desi dengan tubuh mulusnya yang telanjang bulat sedang membalikkan badan, dan meneruskan tidurnya. Di sampingnya ada Tony yang tidur telanjang bulat dalam posisi terlentang, dan mm..ini pemandangan yang menggairahkanku, batang kemaluannya dalam posisi tegang mengacung ke atas.

Aku turun dari tempat tidur, dan menuju ke arah Tony. Tanganku mulai nakal mengocokngocok batang kemaluannya. Tony mulai bereaksi, tanpa sadar pinggulnya ikut irama naikturun. Aku mempercepat kocokan tanganku di batang kemaluannya. Tony terbangun dan tersenyum melihatku.

Wow, Sus, enak banget kocokan kamu, terus sayang.. oh.. oh, Cerita Ml Hot Tony berkata padaku sambil mulai terengahengah.

Aku kemudian bangkit dan menaiki tubuh Tony. Kuarahkan batang kemaluannya yang telah besar dan menegang itu ke lubang kemaluanku. Kumasukkan pelanpelan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, dan aku mulai bergerak naik turun di atas tubuh Tony. Nikmatnya memang luar biasa sekali, aku merasakan batang kemaluan Tony menusuknusuk rahimku. Tony kini mulai mengimbangiku. Dia pun asyik memainkan pinggulnya, sementara kedua tangannya memegang erat pinggangku. Cerita Ml Hot Lidahnya mulai bermain mengisap dan menjilati payudaraku.





Ton, tetekku kan masih ada bekas pejunya, aku memperingatkan.

Ah, cuek, kata Tony sambil terus menjilati dan mengisap puting payudaraku.

Lalu dengan kecepatan luar biasa, Tony membalik tubuh kami berdua tanpa melepaskan batang kemaluannya dari lubang kemaluanku. Kini Tony yang di

atas, dia yang bergerak aktif memasukkeluarkan batang kemaluannya.

Ah.., ah.., awww.., sstt.., ah.., mulutku mulai mendesis berulangkali karena rangsangan yang ditimbulkan Tony.

Sedang asyiknya aku dan Tony bersenggama, Desi yang tidur di sebelah kami terbangun. Dia melihat kami sedang asyik bersenggama, lalu ikut bergabung bersama kami. Desi menyodorkan payudaranya yang luar biasa besar berukuran 38D ke mulut Tony. Lidah Tony segera menjilati payudara Desi dan kemudian mulutnya asyik mengisap puting payudara Desi berulangkali. Melihat itu, tanganku mulai nakal. Kususupkan jari telunjuk dan tengah tangan kananku ke lubang kemaluan Desi. Cerita Ml Hot Aku asyik memainkan jarijariku ke luar masuk lubang kemaluan Desi. Desi membiarkan saja, malah dia semakin lebar mengangkangkan kedua pahanya, sehingga jarijariku bisa leluasa keluar masuk lubang kemaluannya.

Aku sendiri sudah dua kali mencapai orgasme karena tak kuasa menahan nikmat yang ditimbulkan kocokan batang kemaluan Tony di lubang kemaluanku. Namun Tony tampaknya belum lelah, dia masih asyik menyetubuhiku sambil mulutnya mengisap payudara Desi. Anto yang terbangun melihat kami bertiga di lantai ikut bergabung. Anto meminta Desi mengisap batang kemaluannya, dan Desi tak menolaknya. Di sebelahku, Desi mengisap batang kemaluan Anto dengan penuh gairah. Tibatiba kulihat Tommy juga terbangun. Dia pun bergabung bersama kami. Tommy segera menyodorkan batang kemaluannya ke depan mulutku, dan aku segera membuka mulutku dan mengisap batang kemaluan lelaki yang tadi telah beberapa kali menyetubuhiku.

Kini, kami kembali berpesta orgy sex. Sebelumnya, kami sudah melakukan itu, dan karena lelah, kami semua tertidur. Setelah terbangun, rupanya kami termasuk aku masih belum puas, dan sekali lagi melanjutkan pesta orgy sex kami. Nikmatnya memang berbeda dibandingkan hanya bersenggama antara satu pria dan satu wanita saja. Cerita Ml Hot Kalau orgy sex rasanya lebih nikmat, karena aku yang wanita bisa merasakan berbagai batang kemaluan pria dan juga berbagai macam gaya dan posisi seks.

Tony tibatiba mempercepat goyangannya, rupanya dia sudah hampir sampai klimaksnya, dan tak berapa lama kemudian, Tony menyemprotkan air mani dari batang kemaluannya di dalam lubang kemaluanku. Tommy mencabut batang kemaluannya dari mulutku, dia mengambil tissue, membersihkan lubang kemaluanku sekedarnya saja, dan segera memasukkan batang kemaluannya yang sudah tegang membesar ke dalam lubang kemaluanku.

Kini, Tommy yang menggoyanggoyangkan pinggulnya dan menyetubuhiku. Aku lagilagi mencapai orgasmeku, sementara kulihat Anto juga telah mencapai klimaksnya dan menyemprotkan air mani dari batang kemaluannya di dalam mulut Desi. Sebagian air mani itu meleleh keluar mulut Desi, sementara Desi masih terus mengisap kuatkuat batang kemaluan Anto agar seluruh air mani Anto tertumpah habis dari batang kemaluannya. Cerita Ml Hot Anto kemudian mencabut batang kemaluannya dari mulut Desi, lalu Desi menyeka sisasisa air mani Anto dengan tangannya dan tangannya yang penuh dengan sisasisa air mani Anto disekanya ke payudaranya.

Biar tetek gue makin asyik kalau sering kena peju cowo, ujar Desi bergurau sambil tertawa.

Tapi aku tak sempat memperhatikan lagi kelanjutannya, karena bersamaan aku mencapai orgasmeku yang kesekian kalinya, Tommy juga mencapai klimaksnya dan menyemprotkan air maninya di dalam lubang kemaluanku. Namun Tommy dengan sigap mencabut batang kemaluannya dari lubang kemaluanku, lalu menyodorkannya ke depan mulutku.

Yeni, isep Tong, sayang, pintanya. Cerita Perkosaan

Aku segera memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutku dan mengisapnya kuatkuat. Kurasakan Tommy masih beberapa kali menyemprotkan air maninya yang tersisa di dalam mulutku. Cerita Ml Hot Wah, rasanya air mani Tommy banyak sekali sampai meleleh keluar mulutku.

Kini tiba saatnya aku ingin menceritakan kisahku kepada pembaca sekalian, kisah yang terjadi beberapa saat lalu di Jakarta.

Aku terbangun dari tidurku di atas sebuah ranjang ukuran king size. Tubuhku telanjang bulat tanpa sehelai benang pun. Di kedua payudaraku masih tersisa air mani pria yang lengket di kulitku. Di samping kiriku, kulihat Anto juga dalam keadaan bugil sedang tidur tertelungkup. Di kananku, Cerita Ml Hot Tommy yang juga bugil tidur dalam posisi miring dengan kaki agak tertekuk.

Kudengar suara orang menggerakkan badannya agak jauh. Aku duduk di atas tempat tidurku, dan kulihat Desi dengan tubuh mulusnya yang telanjang bulat sedang membalikkan badan, dan meneruskan tidurnya. Di sampingnya ada Tony yang tidur telanjang bulat dalam posisi terlentang, dan mm..ini pemandangan yang menggairahkanku, batang kemaluannya dalam posisi tegang mengacung ke atas.

Aku turun dari tempat tidur, dan menuju ke arah Tony. Tanganku mulai nakal mengocokngocok batang kemaluannya. Tony mulai bereaksi, tanpa sadar pinggulnya ikut irama naikturun. Aku mempercepat kocokan tanganku di batang kemaluannya. Tony terbangun dan tersenyum melihatku.

Wow, Sus, enak banget kocokan kamu, terus sayang.. oh.. oh, Cerita Ml Hot Tony berkata padaku sambil mulai terengahengah.

Aku kemudian bangkit dan menaiki tubuh Tony. Kuarahkan batang kemaluannya yang telah besar dan menegang itu ke lubang kemaluanku. Kumasukkan pelanpelan batang kemaluannya ke dalam lubang kemaluanku, dan aku mulai bergerak naik turun di atas tubuh Tony. Nikmatnya memang luar biasa sekali, aku merasakan batang kemaluan Tony menusuknusuk rahimku. Tony kini mulai mengimbangiku. Dia pun asyik memainkan pinggulnya, sementara kedua tangannya memegang erat pinggangku. Cerita Ml Hot Lidahnya mulai bermain mengisap dan menjilati payudaraku.

Ton, tetekku kan masih ada bekas pejunya, aku memperingatkan.

Ah, cuek, kata Tony sambil terus menjilati dan mengisap puting payudaraku.

Lalu dengan kecepatan luar biasa, Tony membalik tubuh kami berdua tanpa melepaskan batang kemaluannya dari lubang kemaluanku. Kini Tony yang di atas, dia yang bergerak aktif memasukkeluarkan batang kemaluannya.

Ah.., ah.., awww.., sstt.., ah.., mulutku mulai mendesis berulangkali karena rangsangan yang ditimbulkan Tony.

Baca juga: Cerita Seks ku: Ngewe dengan Selir Pak RT

Sedang asyiknya aku dan Tony bersenggama, Desi yang tidur di sebelah kami terbangun. Dia melihat kami sedang asyik bersenggama, lalu ikut bergabung bersama kami. Desi menyodorkan payudaranya yang luar biasa besar berukuran 38D ke mulut Tony. Lidah Tony segera menjilati payudara Desi dan kemudian mulutnya asyik mengisap puting payudara Desi berulangkali. Melihat itu, tanganku mulai nakal. Kususupkan jari telunjuk dan tengah tangan kananku ke lubang kemaluan Desi. Cerita Ml Hot Aku asyik memainkan jarijariku ke luar masuk lubang kemaluan Desi. Desi membiarkan saja, malah dia semakin lebar mengangkangkan kedua pahanya, sehingga jarijariku bisa leluasa keluar masuk lubang kemaluannya.

Aku sendiri sudah dua kali mencapai orgasme karena tak kuasa menahan nikmat yang ditimbulkan kocokan batang kemaluan Tony di lubang kemaluanku. Namun Tony tampaknya belum lelah, dia masih asyik menyetubuhiku sambil mulutnya mengisap payudara Desi. Anto yang terbangun melihat kami bertiga di lantai ikut bergabung. Anto meminta Desi mengisap batang kemaluannya, dan Desi tak menolaknya. Di sebelahku, Desi mengisap batang kemaluan Anto dengan penuh gairah. Tibatiba kulihat Tommy juga terbangun. Dia pun bergabung bersama kami. Tommy segera menyodorkan batang kemaluannya ke depan mulutku, dan aku segera membuka mulutku dan mengisap batang kemaluan lelaki yang tadi telah beberapa kali menyetubuhiku.

Kini, kami kembali berpesta orgy sex. Sebelumnya, kami sudah melakukan itu, dan karena lelah, kami semua tertidur. Setelah terbangun, rupanya kami termasuk aku masih belum puas, dan sekali lagi melanjutkan pesta orgy sex kami. Nikmatnya memang berbeda dibandingkan hanya bersenggama antara satu pria dan satu wanita saja. Cerita Ml Hot Kalau orgy sex rasanya lebih nikmat, karena aku yang wanita bisa merasakan berbagai batang kemaluan pria dan juga berbagai macam gaya dan posisi seks.

Tony tibatiba mempercepat goyangannya, rupanya dia sudah hampir sampai klimaksnya, dan tak berapa lama kemudian, Tony menyemprotkan air mani dari batang kemaluannya di dalam lubang kemaluanku. Tommy mencabut batang kemaluannya dari mulutku, dia mengambil tissue, membersihkan lubang kemaluanku sekedarnya saja, dan segera memasukkan batang kemaluannya yang sudah tegang membesar ke dalam lubang kemaluanku.

Kini, Tommy yang menggoyanggoyangkan pinggulnya dan menyetubuhiku. Aku lagilagi mencapai orgasmeku, sementara kulihat Anto juga telah mencapai klimaksnya dan menyemprotkan air mani dari batang kemaluannya di dalam mulut Desi. Sebagian air mani itu meleleh keluar mulut Desi, sementara Desi masih terus mengisap kuatkuat batang kemaluan Anto agar seluruh air mani Anto tertumpah habis dari batang kemaluannya. Cerita Ml Hot Anto kemudian mencabut batang kemaluannya dari mulut Desi, lalu Desi menyeka sisasisa air mani Anto dengan tangannya dan tangannya yang penuh dengan sisasisa air mani Anto disekanya ke payudaranya.

Biar tetek gue makin asyik kalau sering kena peju cowo, ujar Desi bergurau sambil tertawa.

Tapi aku tak sempat memperhatikan lagi kelanjutannya, karena bersamaan aku mencapai orgasmeku yang kesekian kalinya, Tommy juga mencapai klimaksnya dan menyemprotkan air maninya di dalam lubang kemaluanku. Namun Tommy dengan sigap mencabut batang kemaluannya dari lubang kemaluanku, lalu menyodorkannya ke depan mulutku.

Yeni, isep Tong, sayang, pintanya.

Aku segera memasukkan batang kemaluan Tommy ke dalam mulutku dan mengisapnya kuatkuat. Kurasakan Tommy masih beberapa kali menyemprotkan air maninya yang tersisa di dalam mulutku. Cerita Ml Hot Wah, rasanya air mani Tommy banyak sekali sampai meleleh keluar mulutku.

Thursday, October 30, 2025

Cerita Ngewe dengan Tante-tante Anggun

 

Cerita Ngewe dengan Tante-tante Anggun – Udara pagi ini terasa sejuk sekali, seakan menyambut baik datangnya hari Rabu ini. Secerah wajah tante Indah yg tengah bercengkrama dengan bunga bunga ditaman. Meskipun nampak angkuh, namun kecantikan wajahnya tak dapat disembunyikan.Aku baru saja selesai mandi dan berniat ngeteh diteras rumah sambil mnghirup udara pagi yg segar. Akan tetapi mataku melihat tante Indah tengah asyik menikmati keindahan bunga ditaman depan rumah. Dengan gaya ala petani bunga Cigondang, tante Indah nampak srius mmperhatikan tanaman itu. ” Pagi tan ” sapaku. ” Hmm… ” balasnya tanpa berpaling dari rumpunan bunga. ” Mau aku buatin minum nda tan!? ” tanyaku lagi setengah menawarkan jasa. ” Nda usah!! ” jawabnya juga seraya membelakangiku. Aku tak melihat tante Rita, Hendri ataupun Nita pagi ini. ” Ach, pada lari pagi kali? ” fikirku dalam hati.Aku kmbali mmperhatikan tante Indah yg mmblakangiku. Mulai dari betisnya yg putih mulus mskipun nampak kurus, pahanya yg lebih mulus dari betisnya, bokongnya meskipun trbalut clana pendek, namun trlihat jelas lekukannya. ” Coba dia bisa aku tiduri sperti tante Rita ya? ” gumanku dalam hati. Belum habis lamunanku,tiba tiba kulihat tubuh tante Indah trhuyung lemah ingin trsungkur. Dengan cepat aku mloncat dan mmegangi tubuhnya yg nyaris trsungkur itu, mninggalkan sisa lamunan cabulku.

Kurangkul tubuhnya yg mulus dan trlihat lemas sekali. “Ga papa kan tan??” tanyaku penuh rasa khawatir, sraya mmapah tubuh tante Indah. “Kpalaku trasa pusing Fad” jawab tante Indah lemah. “Ya udah, istirahat aja didalam” saranku sambil terus memapahnya ke dalam rumah. “Akhirnya aku bisa mrangkulmu Vone” ucapku dalam hati. Cerita Seks

Ada sjuta kebahagian dihatiku karna mampu mrangkul tubuh si angkuh trsebut.Stelah brada didalam rumah, dengan perlahan kududukan tante Indah disofa ruang tamu. Dengan mnarik nafas tante Indah duduk dan brsandar pada sandaran sofa. Stelah itu aku melangkah mninggalkannya sendiri. Tak brapa lama aku kembali dngn sgelas air hangat dan mnghampiri tante Indah yg tengah brsandar disandaran sofa. “Minum dulu tan, biar enakan!” ujarku sambil mnyerahkan gelas brisi air hangat yg kubawa. Tante Indah pun mminum air hngt yg kuberikan. “Makasih ya Fad” ucapnya lemah sambil mletakan gelas dimeja yg ada didepannya.“Kpalanya masih pusing ga tan!?” tanyaku. Tante Indah hanya mnganggukan kpalanya. “Mau dipijatin ga!?” tanyaku lagi. “E, em” jawab tante Indah prlahan seakan tengah mnahan sakit. Aku pun sgera memijat mulai dari kpalanya dngn prlahan lahan, kmudian dahinya yg dia bilang mrupakan pusat rasa sakitnya. “Wah, knapa tante Fad!?” tanya Nita yg baru saja pulang. “Tadi si tante hampir jatuh, kpalanya pusing Nit!” jawabku. ” Trlalu capek kali!? ” ujar Nita sambil mlangkah kedapur. “Dah aga mndingan Fad” jelas tante Indah dngn mata terpejam, menikmati pijatan pijatan jariku. Terasa hangat dahinya brsamaan dngn rasa hangat yg menjalari tubuhku. Harum aroma tubuh tante Indah trasa mnusuk kedua lobang hidungku. Mmbuat aku ingin lebih lama lagi memijat dan dekat dngnnya.“Masuk angin kali tan, dahinya aga anget ne!? ” jelasku, brupaya memancing agar niatku tercapai. “Iya kali? “ujarnya pula, seakan mngerti akan arti ucapanku. Membuatku makin brani lebih jauh. “Mau dikerikin ga!?” tanyaku dngn penuh haraf kepadanya. “Memang kamu bisa!?” tante Indah balik brtanya. Membuat hatiku trasa brdebar tak karuan. “Ya bisa… ” jelasku dngn cepat, takut tante Indah brubah fikiran lagi. “Ya udah, tapi dikamar ya…, ga enak disini” pinta tante Indah. Mmbuat hatiku brdebar makin cepat. Dengan prlahanku papah dia mlangkah mnuju kamarnya. Akupun brusaha untuk menahan dan menenangkan hatiku. Yang mulai dirasuki niat dan fikiran kotorku.Setelah brada didalam kamar, kusarankan agar dia istrahat diranjangnya. Tante Indah pun mrebahkan tubuhnya sraya brnafas panjang. Seolah olah ada beban berat yg dibawanya.

Aku sgera brlalu mngambil obat gosok dan coin untuk mengerik tubuh tante Indah. Stelah kudapati smua yg kubutuhkan, aku kembali mnghampiri tante Indah yg tengah menanti. Dengan mmbranikan diri aku memintamya agar dia mlepaskan pakaian yg dipakainya. Dia pun prlahan melepaskan pakaian atau baju yg dipakainya. Shingga tante Indah kini hanya mngenakan bra yg brwarna pink dan clana pendek saja. Ada getaran hangat mnjalari sluruh tubuhku, saat menyaksikan tante Indah mmbuka bajunya. Hingga mmbangunkan kjantanan dan hawa nafsuku. Yang memang telah mngendap dibenakku sejak awal, ketika memprhatikan dia ditaman.Dengan prasaan yg tak mnentu dan dibayangi nafsu dibenakku. Akupun mulai mngusap …..usap punggung mulus yg mmblakangiku, dngn hati hati sekali. “Tali branya dibuka aja ya tan??” pintaku pnuh haraf sambil trus mngusap dan mengerik punggung bagus dihadapanku. “Iya… ” jawabnya lirih. Menahan kerikan dipunggungnya, entah sakit atau geli aku tak tau. Yang pasti tanganku sgera melepaskan kait tali branya, sehingga mmbuat branya mlorot mnutupi sbagian payudaranya yg bulat dan berisi. Sperti payudara milik gadis kebanyakan. Stelah tiada lagi penghalang dipunggungnya, akupun membalurinya dngn minyak gosok. Dan jari jemarikupun menari mmbentuk garis dipunggung tante Indah.Sambil sekali kali mataku melirik kearah payudaranya yg brusaha ditutupi dngn bra dan kedua tlapak tangannya. Tapi hal trsebut mmbuatku smakin terangsang didorong rasa pnasaran yg tramat. Smentara tante Indah hanya trdiam sraya mmejamkan matanya yg bulat dan indah. ” Pelan pelan ya Fad!? ” pintanya masih dngn mata yg trpejam. Tiba tiba pintu kamar prlahan terbuka, nampak Nita tengah brdiri dimuka pintu. “Tan aku mo kerumah tman dulu ya!?” ujar Nita brpamitan sraya matanya mlirik kearahku. “Iya Nit… ” balas tante Indah tanpa brpaling kearahnya. Kmudian scara prlahan Nita mnutup pintu kembali dan brlalu pergi.Jari tanganku mulai nakal trhadap tugasnya, jariku trkadang nyelinap dibawah ketiaknya brusaha meraih benda yg bulat dan padat brisi yg ditutupinya. Tapi tangan tante Indah terkadang brusaha mnghalanginya, dngn merapatkan pangkal lengannya. “Jari kamu nakal ya Fad!? ” ucap tante Indah stengah berbisik seraya mlirik ke arahku.

Membuatku trsipu malu. “Habis ga kuat sich, tan…” jawabku jujur. Tapi tante Indah malah melepaskan branya shingga kini payudaranya nampak polos tanpa plindung lagi.Dan langsung menjadi santapan kedua mataku tanpa brkedip. Langsung mmbuat hatiku brdebar debar mnyaksikan pemandangan trsebut. “Sekarang bisa kamu plototin pe puas dech!!” ujar tante Indah tak lagi mnutupit buah dadanya dngn kedua tlapak tangannya lagi. Jantungku trasa bgitu cepat brdetak dan mmbuat lemas sluruh prsendianku. Kontolku brlahan tapi pasti mulai brdiri tegak mngikuti dorongan hasratku.“Memang dah selesai ngeriknya Fad!?” tegur tante Indah mngingatkanku. Mmbuat aku sgera mlanjutkan prkerjaanku yg trtunda sesaat. Hampir sluruh bagian belakang tubuh tante Indah telah kukerik dan brwarna merah brgaris garis. Hanya bagian bokongnya yg luput dari kerikanku karna trhalang dngn clana pendek serta CD yg dikenakannya. Tapi belahan bokongnya telah puas kuplototin.Akhirnya pekerjaanku selesai juga. Kemudian dngn prlahan jari jariku memijati pundaknya. Tante Indah mnundukan kpalanya, sekali sekali trdengar suara dahak dari mulutnya. “Sudah Fad!” printahnya, agar aku mnyudahi pijatanku.Dengan prasaan malas akupun mnghentikan pijatanku dan sgera mmbrsihkan sisa sisa minyak dikedua tlapak tngnku. ” Cuci tanganmu dulu biar bersih sana!!” pinta tante Indah skaligus printah. Akupun branjak pergi kekamar mandi yg memang ada didalam kamar trsebut. Stelah usai mncuci sluruh tanganku hingga bnar bnar bersih.

Akupun kembali menghampiri tante Ivon yg tengah telentang diatas ranjang masih dngn keadaan sparuh bugil. Sperti saat aku tinggalkan kekamar mandi. Hingga payudaranya yg bulat dan brisi nampak mmbusung besar didadanya, dngn puting yg brwarna coklat susu. “Ayo Fad, kamu mau mainin ini kan!?”. “Aku juga mau kok!?” ucap tante Indah sambil mremas salah satu payudaranya hingga putingnya mnonjol kearahku. Akupun mndekat mnghampirinya dngn perasaan nafsu. Membuat kontolku kian brdiri dan mngeras kencang dibalik clanaku.Akupun tak mnunggu lebih lama, sgeraku remasi payudaranya yg mnantang. Tante Indah brgelinjang saat tlapak tanganku mndarat dan meremas kedua payudaranya. ” Achh.., iya Fad trussss ” rintihnya prlahan.

Baca juga: Cerita Seks Ngewe dengan Asisten Dokter Gigi yang Super Hot

Jari jemariku kian liar mremasi sluruh daging bulat yg padat brisi. JariQ juga memainkan putingnya yg mulai mngeras. ” Iya,.., ayo diisep Fad.., aaaayooo “pinta tante Indah dngn nafas taj tratur. Akupun sgera mnjilati dan mengisapi puting payudaranya. “Aduhhh…, enaaaak, trusss….” desah tante Indah sraya mmegangi kpalaku. Aku smakin brnafsu dngn puting yg kenyal sperti urat dan mnggemaskan. Smentara tante Indah smakin mndesah tak karuan. Tangan kananku meluncur kearah slangkangan dibawah pusar, trus mnyusup masuk diantara clana dan CD tante Indah. Hingga jari jariku trasa mnyentuh rumput halus yg cukup lebat didalamnya. Tante Indah mmbuka pahanya tak kala jari tlunjukku brusaha masuk kedalam lobang yg ada ditengah bulu bulu halus miliknya. “Aowww…” jerit kecil tante Indah saat tlunjukku brhasil memasuki lobang memeknya. Dia pun mnggeliatkan tubuhnya penuh gairah nafsu. Smentara kontolku smakin mngeras hendak kluar dari bahan yg mnutupinya.Cukup lama jari tlunjukku kluar masuk didalam memek tante Indah, hingga lobang itu mulai trasa basah dan lembab. Sampai akhirnya tangan tante Indah menahan gerakan tanganku dan mminta mnyudahinya. “Aaaachhh.., udaahhh., Faddh.., aaachh” rintih tante Indah. Akupun menarik tanganku dari balik clananya dan mlepaskan putingnya dari mulutku.“Buka pakaianmu dong, Fad!!” seru tante Indah sraya bangkit dan mlepaskan clana pendek serta CDnya. Shingga dia bugil dan nampak rumput hitam ditengah slangkangannya yg baru saja ku obok obok.

Akupun mlepaskan smua pakaianku dan bugil sperti dirinya.Dengan senyum manis kearahku, tante Indah mendekat dan brjongkok tepat didepan slangkanganku. “Aouw, gede banget..!!” seru tante Indah sraya tlapak tangannya mraih kontolku yg telah brdiri dan keras. Dngn tangan kanan dia mmegang erat batang kontolku, sedangkan tlapak kirinya mngelus elus kpalanya. Hingga kpala kontolku trasa brdenyut hangat. Kmudian dimasukan kontolku kedalam mulutnya sraya matanya mlirik ke arahku. “Agghhh… “aku mlengguh tak kala sluruh kontolku tnggelam masuk kedalam mulutnya. Darahku brdesir hangt mnjalari sluruh urat ditubuhku. Aku hanya dapat memegangi kpala tante ……Indah, mremas serta mngusap usap rambutnya yg ikal sebahu. Smentara tante Indah smakin liar, sbentar mngulum dan mngemud seakan dia ingin melumat sluruh kontolku. Trnyata dia lebih buas dari tante Rita. Trkadang dia mnjilati dari batang hingga lobang kencing dikpalanya. ” Aaaaaaa… ” erangku menahan rasa nikmat nan tramat. Trasa tubuhku melayang jauh tak menentu.Entah brapa lama tante Indah mngemut, mnjilat dan mngulum kontolku. Yg jelas hal ini mmbuat tubuhku brgetar dan hampir kejang. ” Gantian dong tan, aQ juga mau jilatin memekmu! ” rengekku, hampir tak mampu mnahan nafsuku. Ingin rasanya memuntahkan keluar sebanyak banyak. Agar tante Indah mandi dngn air maniku.Tante Indah sgera bangkit brdiri meninggalkan kontolku yg masih brdiri tegak. Kmudian aku mminta agar dia duduk dikursi tanpa lengan yg ada. Akupun brjongkok mnghadap memeknya yg dihiasi bulu lebatnya.

Kedua kaki tante Indah trtumpu pada kedua bahuku. Maka mulutku mulai mnjarah memek yg tlah mnganga terkuak jari jemariku, hingga nampak jelas lobang memek yg brwarna merah dan lembab. Lidahku pun mulai mnjelajahi dan mnjilati lorong itu. “Aaaaowwh…, aaaa…, iyyyaaa.., trussss, aassstttssh” desah tante Indah saat lidahku brmain mnjilati lobang memeknya. “Aduuuhh,…, truuusss, lebihhh daallaaamm, aaah,… enaaakhh, agh, agh, aghhhh” rintihnya pula sambil mremas dan mnjambaki rambut dikpalaku. Lidahkupun smakin liar dan brusaha masuk lebih dalam lagi. “Aaaaghh,.., gilaaaa…, enaaaksss,.., ubss,.., aaaaachghhh” suara tante Indah tak karuan. Lidahku brhenti mnjilati dinding lobang memek, kini brpindah pada daging mungil sbesar biji kacang hijau. Ku jilati itil yg brwarna merah dan basah dngn air mazinya dan air liurku.“Aughh…..” suara tante Indah sperti tersedak sambil mrapatkan kedua pahanya, hingga mnjepit leherku, ketika ku isap itilnya. ” Aaaaa.., auwghhh…., yaaaaa ” ucap tante Indah lirih. ” Udahhh…, Fad…, udddaah Faadd ” rengek tante Indah sraya mndorong kpalaku dngn kakinya yg trkulai lemas dibahuku.Akupun mlepaskan isapan mulutku pada itil tante Indah dan bangkit brdiri dihadapannya dngn kontol yg masih tegak dan keras. Kemudian mminta tante Indah agar bangkit dari duduknya.

Kini aku yg mnggantikan posisinya duduk dikursi.Tante Indah naik keatas pahaku dan tubuhnya mnghadap kearahku, hingga tubuh kami saling brhimpitan. Kmudian tante Indah mmbimbing kontolku masuk kelobang memeknya dngan jarinya. ” Aagghhsss.. ” rintih kecil tante Indah ketika kontolku masuk menusuk memeknya. Tak lama kmudian bokongnya mulai turun naik, mngesek gesek kontolku didalamnya. Aqpun mngimbanginya dngn mmegangi pinggulnya mmbantu bokongnya turun naik. ” Aachhh.., yaaaa, oohhh, enaaak Fadd “. ” Auwwghhh…., aaaaaa…, oohhhh, yaaa ” racau tante Indah tak karuan jika tubuhnya turun mnenggelamkan kontolku dimemeknya.” Aauwww, aku ga tahan ne Fadd,…, aaaauwww, yessss ” rintih tante Indah sraya mnggerakan bokongnya dngn cepat. Akupun mmbalas reaksinya, dengan melumat lagi payudaranya .”Aaaaaawhhh……..”erang tante Indah sambil mnekan bokongnya lebih rapat dengan slangkanganku. Akupun mengejang mnahan tekanan bokong tante Indah. “Aaaachhhh…….” akhirnya aku tak mampu lagi mmbendung cairan kental dari dalam kontolku. Kamipun saling brpelukan dngn erat beberapa saat dngn brcampur peluh masing masing.Stelah cukup lama kami brpelukan, kamipun bangkit dngn malas, enggan branjak dari suasana yg ada. Stelah itu kamipun mandi mmbrsihkan tubuh kami masing masing yg basah dngn peluh syurga. Akhirnya aku bisa menidurimu dan menaklukan keangkuhanmu Indah Gienarsih

Pengalaman Ku Bersama Istriku Melakukan Threesome

Aku dan istriku, Mita yang biasa kupanggil dengan Mita, sudah menikah kira-kira 4 tahun. Istriku saat ini berprofesi sebagai ibu rumah tangga, meskipun sempat kuliah di sebuah perguruan tinggi negeri. Sedikit gambaran fisik tentang istriku, Mita pada saat ini berumur 29 tahun, berkulit putih, berambut ikal sepunggung, dengan payudara yang cukup besar (34B) berbentuk bagus sekal, tinggi 155 cm, berat 50 kg, dengan perut rata dan pinggang kecil namun sintal. Pinggulnya serasi dengan bentuk badannya dan kedua bongkahan pantatnya sekali. Secara umum, dia cukup seksi.Telah lama kami mempunyai fantasi untuk melakukan aktifitas seks three some. Biasanya, sebelum melakukan Making Love, kami mengawalinya dengan saling menceritakan fantasinya masing-masing. Fantasi yang paling merangsang bagi kami berdua, adalah membayangkan Mita melakukan hubungan seks dengan laki-laki lain dengan kehadiranku. Sekedar informasi, Mita memang mempunyai gairah seks yang sangat tinggi, sementara di sisi lain, aku biasanya cuma sanggup ejakulasi satu kali. Setelah ejakulasi, meskipun sekitar satu jam kemudian penisku bisa ereksi lagi, umumnya aku merasa lelah dan tidak bergairah, mungkin akibat beban pekerjaan yang cukup berat. Karenanya, biasanya ketika dia minta agar bisa mencapai orgasme berikutnya, paling banter aku melakukannya dengan tangan, atau membantunya bermasturbasi dengan dildo. Walaupun demikian selama ini dia bisa merasa puas dengan cara tsb.Setelah sekian lama mempunyai fantasi tsb, suatu hari aku tanya apakah ia mau merealisasikan fantasi tsb. Pada awalnya ia cuma tersenyum dan mengira aku cuma bercanda. Namun setelah aku desak, ia balik bertanya apakah aku serius. Aku jawab, ya aku serius. Terus dia tanya lagi apakah nanti aku masih akan tetap sayang sama dia, aku jawab ya, aku akan tetap menyayanginya sepenuh hati, sama seperti sekarang. Lalu aku tambahkan, bahwa motivasi utama aku adalah untuk membuatnya bahagia dan mencapai kepuasan setinggi-tingginya.

Melihat wajahnya ketika mencapai orgasme, selain sangat merangsang juga memberikan kepuasan tersendiri bagiku. Akhirnya dia jawab dia mau melakukannya kalau moodnya mengijinkan. Kemudian aku dan Mita mendiskusikan kira-kira dengan siapa kami melakukannya, akhirnya pilihan datang kepada seorang teman dekatku, namanya Stevence biasa kupanggil dengan Steven, yang telah lama kami kenal, namun jarang bertemu karena tinggal di kota lain. Sejak itu sering fantasi kami melibatkan kehadiran Steven. Usia Steven 33 tahun, sama denganku, meski demikian tubuhnya lebih tinggi kurang lebih 175 cm dan besar serta tegap, maklum dia adalah keturunan campuran Eropa-Indonesia.Akhirnya setelah beberapa bulan berlalu, aku menghubungi Steven dari kantorku. Setelah berbasa-basi sebentar, lalu aku mulai menceritakan tentang fantasi-fantasi kami. Sebagai sahabat lama, kami terbiasa berbicara terbuka, termasuk masalah seks. Steven tampak antusias mendengar ceritaku dan dia menyatakan kesanggupannya. Mengingat kesibukan bisnisnya, dia merencanakan untuk datang ke kotaku sekitar 2-3 Rabu lagi. Tidak lupa aku tegaskan, bahwa semua rencana ini sepenuhnya bergantung kepada kesediaan istriku. Artinya jika pada saat-saat terakhir Mita berubah pikiran, maka sama sekali tidak boleh ada satu pihakpun yang memaksakan kehendaknya. Aku katakan juga, dia tidak boleh berlaku kasar terhadap Mita, sebab kepuasan Mita adalah segala-galanya. Steven setuju dan dapat memakluminya.Akhirnya waktu yang yang ditunggu tiba, baik Mita maupun aku cukup gugup menghadapi apa yang telah kita rencanakan. Namun aku meyakinkan Mita bahwa dia boleh berubah pikiran kapanpun. Sekitar pukul 6 sore Steven datang, pada saat itu aku masih berada di kantor, Mita mengabarkan kedatangannya melalui telepon. Pukul 7 aku tiba di rumah, tampak Steven telah mandi dan ganti baju dan sedang menonton TV. Sementara itu Mita sedang berada di kamar mandi. Setelah ngobrol sebentar, kemudian aku masuk ke kamar untuk menyimpan tas dan mengganti pakaian. Pada saat bersamaan Mita baru keluar dari kamar mandi (kamar mandi terletak di dalam ruang tidur kami) dengan hanya memakai handuk.

Dia tampak sangat cantik malam itu. Sementara aku mengganti pakaian, Mita mengenakan daster pendek berwarna merah. Mita tampak cantik dengan daster tersebut, panjang daster tsb hanya sampai ke pertengahan paha, tampak kontras dengan pahanya yang berwarna putih mulus. Sementara Mita masih menyisir rambut dan memakai parfum, aku keluar menemui Steven.Setelah beberapa saat kami mengobrol, bercerita tentang keadaan masing-masing. Mita kemudian keluar kamar. Steven hampir tak berkedip menatap Mita yang benar-benar tampil seksi malam itu. Singkat cerita, setelah selesai makan malam kami sama-sama duduk di karpet, menonton acara TV yang saat itu sedang berlangsung. Posisinya Steven, kemudian Mita di tengah menyender di dadaku. Terus terang suasana saat itu agak canggung dan kami benar-benar tidak tahu cara untuk memulai semua rencana yang telah disusun.Akhirnya aku mengambil inisiatif dengan mulai menyentuh dan melingkarkan tangan di dada Mita dan menyentuh payudaranya dari luar daster. Mendapat tindakan demikian Mita mulai terangsang dan nafasnya mulai tidak teratur.

Segera setelah itu, aku lumat bibirnya dan tangan aku mulai menyusup ke balik dasternya. Ternyata saat itu Mita sudah tidak memakai BH. Mita benar-benar terangsang kini. Pada saat itu tangan Steven mulai mengelus-elus paha Mita yang telah terbuka, karena daster mininya telah terangkat ke atas. Kaki Mita yang tadinya tertekuk ditarik, sehingga sekarang Mita berada dalam posisi duduk sambil bersandar padaku dengan kedua pahanya yang agak terbuka dan kaki melonjor ke depan. Tangan Steven mulai bergerilya pada bagian paha atas Mita.Kemudian Steven menarik tangan Mita dan meletakkannya di atas pangkuan Steven. Secara reflek, dalam keadaan terangsang, Mita mengusap-usap kemaluan Steven yang telah tegang dari luar celananya. Bagian bawah celana Steven terlihat menggembung besar. Aku mengira-ngira betapa besar kemaluan Steven ini. Sementara bibirku mulai menyusur leher dan belakang telinganya (bagian yang paling sensitif baginya). Setelah itu aku berbisik di telinga Mita, inilah saat untuk merealisasikan fantasi kita. Lalu aku melepaskan pelukanku untuk memberi kesempatan pada Steven untuk beraksi. Sekarang Steven mulai mengambil alih permainan selanjutnya. Ditariknya Mita ke pelukannya dan tangannya yang satu langsung mendekap payudara Mita yang sebelah kanan, sedangkan tangannya yang satu mengelus-elus punggung Mita sambil mulutnya melumat bibir Mita dengan gemas. Tangan Steven yang berada di payudara Mita disisipkan pada belahan daster Mita yang terbuka dan mulai memelintir dengan halus ujung putingnya yang telah mengeras. Kemudian Steven menarik tangan Mita ke arah resluiting celana Steven yang telah terbuka dan menyusupkan tangannya memegang kemaluan Steven yang telah tegang itu. Kelihatan Mita agak tersentak ketika terpegang senjata Steven yang tampaknya besar itu.Setelah beberapa saat mengelusnya, kemudian Mita membuka celana Steven sehingga kemaluannya tiba-tiba melonjak keluar, seakan-akan baru bebas dari kungkungan dan sekarang dengan jelas terlihat.



Cerita Ngewe dengan Tante-tante Anggun


Aku sangat terkejut melihat kemaluan Steven yang sangat besar dan panjang itu. Kemaluan yang sebesar itu hanya ada di film-film BF barat saja. Batang penisnya berdiameter 7 cm dikelilingi oleh urat-urat yang melingkar dan pada ujung kepalanya berbentuk topi baja yang sangat besar, panjangnya mungkin lebih dari 20 cm, pada bagian pangkalnya ditumbuhi dengan rambut pirang yang lebat.Setelah keluar dari celananya kelihatan seram, jauh lebih panjang dan besar dari punyaku. Sesaat Mita menoleh ke arahku, dari sinar matanya yang agak panik, tampak dia agak ketakutan dan tidak menduga akan menghadapi penis yang sebesar itu. Aku mulanya juga agak ragu-ragu, tapi untuk menghentikan ini, kelihatannya sudah kepalang, karena tidak enak hati pada Steven yang telah bersedia memenuhi keinginan kami itu. Kemudian aku mengangguk sambil tersenyum memberi semangat pada Mita. Mendapatkan persetujuanku dan dorongan semangat itu, Mita kemudian dengan kedua tangannya memegang penis Steven dan mulutnya mendekat ke kemaluan Steven. Mita mulai menjilati kepala penis Steven yang besar itu. Kemudian setelah cukup basah oleh air ludahnya, perlahan Mita mulai memasukkan penis Steven ke dalam mulutnya. Terlihat sangat susah bagi Mita untuk bisa memasukkan penis yang besar itu ke dalam mulutnya. Terlihat mulutnya harus dibuka lebar-lebar untuk bisa menampung penis Steven yang dahsyat itu. Steven tampak sangat menikmati isapan Mita itu.Kira-kira sepuluh menit Mita mengulum kemaluan Steven, kemudian Steven menarik kepala Mita dan mendekatkan ke mukanya dan kemudian melumat bibir Mita. Mita balas melumat bibir Steven dengan ganasnya, sementara tangan Steven merambah ke payudara Mita dan mulai membuka daster Mita. Setelah daster terlepas, sambil tetap berciuman, tangan Steven mulai menyusup ke balik celana dalam Mita yang berwarna cream sambil memainkan clitoris Mita. Tangan Mita sendiri tidak tinggal diam, ia terus mengelus kemaluan Steven yang semakin menegang.Kemudian Steven menggendong Mita dan membawanya ke kamar tidur tamu. Terlihat Mita sangat kecil dalam gendongannya, dibandingkan badan Steven yang besar itu. Secara perlahan kemudian Steven meletakkan Mita di ranjang dan membuka celana dalam Mita.

Hingga kini Mita telah telanjang bulat. Tampak kulitnya yang putih dan vaginanya yang tanpa rambut (Mita biasa mencukur bulu vaginanya secara teratur) merekah dan tampak basah. Kemudian Steven perlahan-lahan mengarahkan bibirnya ke leher Mita, kemudian turun ke dadanya dan mulai melumat puting payudara Mita bergantian.Sementara itu aku terus memperhatikan dari pintu kamar dengan menahan birahi yang sangat memuncak. Setelah puas bermain-main di payudara Mita, Steven kemudian mulai menciumi pusar Mita sampai akhirnya mulai menjilati lubang vagina Mita yang semakin basah. Setelah berlangsung kira-kira 30 menit, tampak Mita mulai mendekati orgasme, mengetahui demikian, Steven kemudian mulai mengarahkan penisnya ke vagina Mita yang makin merekah. Sebelum memasukkan penisnya, tidak lupa Steven menggosok-gosok kepala penisnya pada bibir vagina Mita. Badan Mita menggelinjang kegelian merasakan gosokan penis Steven pada vaginanya.Perlahan-lahan Steven mulai memasukkan penisnya ke vagina Mita. Mita berusaha membantu dengan membuka bibir vaginanya lebar-lebar. Kelihatannya sangat sulit untuk penis sebesar itu masuk ke dalam lubang vagina Mita yang kecil. Tangan Steven yang satu memegang pinggul Mita sambil menariknya ke atas, sehingga pantat Mita agak terangkat dari tempat tidur, sedangkan tangannya yang satu memegang batang penisnya yang ditekan masuk ke dalam vagina Mita.Sementara Steven sedang berusaha memasukkan penisnya kedalam memek Mita, badan Mita terlihat menggelinjang-gelinjang dan dari mulutnya terdengar suara, “aahh.., aahh.., sshh.., sshh”, seperti orang sedang kepedasan. Pada waktu Steven mulai menekan penisnya, terdengar jeritan tertahan dari mulut Mita, “Aduuhh.., sakiitt.., Veenn.., pelan-pelan.., doong”.

Steven agak menghentikan kegiatannya sebentar untuk memberikan kesempatan pada Mita mengambil nafas, kemudian Steven melanjutkan kembali usahanya untuk menaklukkan vagina Mita. Aku agak kasihan juga melihat keadaan itu, disamping itu melihat badan Mita yang menggeliat-geliat dan tangannya yang mencengkeram alas tempat tidur dengan kuat, membuatku terangsang dengan hebat. Steven dengan pasti tetap mendorong kemaluannya masuk secara perlahan-lahan ke dalam vagina Mita.Akhirnya sesaat kemudian, hampir seluruh kemaluan Steven masuk ke dalam vagina Mita. Steven kemudian menggerakkan penisnya keluar masuk dengan irama yang teratur, sementara Mita mengimbangi dengan mengerakkan pantatnya. Tidak lama kemudian, Mita mencapai klimaks. Tubuhnya mengejang dan mulutnya mengeluarkan jeritan tertahan, “Aku sampaai Veenn.., peluk aku kuat-kuat”. Bersamaan dengan itu, kakinya melingkar di pinggang Steven dan mengunci dengan erat. Sementara Steven hampir tidak bisa bergerak dan hanya menekankan kemaluannya ke dalam vagina Mita sekuat mungkin. Tak lama, Mita mulai tampak rileks dan melonggarkan kakinya yang melingkar di pinggang Steven. Sementara Steven kemudian meneruskan gerakan keluar-masuk penisnya secara perlahan-lahan dan Mita hanya diam kelelahan dengan nafas yang tidak teratur. Tidak lama, tampaknya birahi Mita mulai bangkit lagi dan menggerakkan pantatnya lagi. Maklum wanita kan bisa mengalami multiple orgasme.Tidak lama kemudian, Steven mencabut penisnya dari vagina Mita dan meminta Mita untuk menungging. Kemudian Steven memasukkan kemaluannya ke vagina Mita dari belakang. Aku yang sejak tadi hanya menyaksikan mulai tidak tahan, kemudian aku mendekat, membuka celana, dan mengarahkan kemaluanku yang sudah sangat tegang ke mulut Mita. Dengan sangat bernafsu, Mita mengulum penisku sementara Steven tampak menggerakan pinggulnya semakin cepat. Tidak lama kemudian tampaknya Steven hampir mencapai klimaksnya dan mengerakkan pantatnya dengan sangat cepat.

Cerita Ngewe dengan Tante-tante Anggun


Mita mengimbangi gerakan Steven dan melepaskan penisku dari mulutnya, sambil mengeluarkan erangan Mita berkata, “Ayo Steven gerakkan yang cepat.., ah.., uh”. Setelah itu Steven ejakulasi dan menekankan pantatnya rapat-rapat sehingga pinggulnya menempel ketat pada pinggul Mita. Dan pada saat hampir bersamaan Mita pun kembali mencapai orgasme. Tak lama Steven mencabut penisnya dan tidur telentang di samping Mita. Aku kemudian duduk di kursi sofa yang ada di ruang tidur itu dan menarik Mita. Perlahan Mita jongkok di atasku dan mulai menurunkan vaginanya yang tampak membengkak ke arah kemaluanku (mungkin akibat barang Steven yang sangat besar itu). Dengan mudah penisku masuk ke dalam vagina Mita, maklum setelah cukup lama barang Steven yang besar itu keluar masuk, membuat vagina Mita agak melar. Walau demikian, aku tidak bisa menahan ejakulasi terlalu lama, mungkin akibat pengaruh situasi, tidak lama penisku memuntahkan cairan sperma di dalam vagina Mita, sampai meluber keluar.Tampak Steven terbaring dengan lesu di ranjang dan aku di sofa. Tampaknya energi kami benar-benar terkuras. Sementara Mita kemudian pergi ke kamar mandi, untuk pipis dan membersihkan sisa-sisa spermaku di vaginanya. Kira-kira setengah jam kami beristirahat, Mita berinisiatif mengulum kemaluan Steven yang masih mengkerut. Sementara aku hanya memperhatikan. Tidak lama, kemaluan Steven mulai membesar lagi setelah beberapa saat dikulum. Mita kemudian mengangkangkan kakinya di atas Steven yang telentang tidur dan menghadapkan wajahnya ke arah penis Steven. Steven kemudian menjilati vagina Mita sampai ke lubang anusnya, dan Mita sendiri sibuk mengulum dan menghisap penis Steven. Melihat pemandangan ini, kemaluanku pun mulai menegang kembali.

Tak lama Mita bangun dan duduk di atas Steven, kemudian Mita memasukkan penis Steven ke vaginanya dengan posisi Mita di atas. Mita menaik-turunkan pantatnya dengan bibir vagina mencengkeram penis Steven dengan erat. Ketika Mita menaikkan pantatnya, bibir vaginanya turut tetarik keluar mencengkeram kemaluan Steven. Sungguh pemandangan yang sangat mengairahkan. Makin lama gerakan Mita makin cepat dan tak lama Mita tampak mencapai orgasmenya dan menekankan pantatnya kuat-kuat sehingga penis Steven masuk seluruhnya. Setelah itu Mita menarik pantatnya dan jongkok di tepi ranjang sambil mengulum kemaluan Steven. Sementara vaginanya mengarah ke arahku. Melihat pemandangan demikian, aku memasukkan penisku ke vagina Mita dari belakang, sementara mulutnya sibuk mengulum kemaluan Steven keluar masuk.Kira-kira sepuluh menit kemudian, Mita kembali mencapai orgasmenya dan aku rasakan vaginanya menjepit penisku dengan erat. Tak lama aku pun kembali mencapai ejakulasi.

Setelah itu Mita mengelap sisa air maniku yang tertinggal di mulut vaginanya dengan handuk kecil, Mita kemudian berbaring di ranjang dan Steven kembali memasukkan penisnya ke vagina Mita.Setelah hampir satu jam, dan Mita telah mencapai dua kali orgasme lagi, barulah Steven pun mencapai orgasmenya, namun kali ini Steven mengeluarkan penisnya dari vagina Mita, sehingga spermanya muncrat ke payudara dan perut Mita. Sambil tersenyum Mita membalurkan sperma tsb ke seluruh dada dan perutnya, untuk menikmati kehangatannya. Setelah itu Mita kemudian mengelapnya dengan handuk kecil. Sementara Steven tampak kelelahan namun sangat menikmati. Steven kemudian mencium bibir Mita, istriku dan memeluknya. Mita berkata bahwa ia sangat menikmati malam itu dan tersenyum manis kepadaku. Kemudian mereka berdua tertidur di ranjang dengan tubuh telanjang, sementara aku tertidur kelelahan di atas sofa. Itulah cerita seks