Sunday, December 14, 2025

Enaknya Seks Bersama Guruku Ditengah Hujan

 Cerita Seks – Seorang wanita dengan jilbab hijau lumut tampak berjalan terburu-buru menuju ruang guru, belahan rok yang cukup sempit memaksa wanita itu mengayun langkah kecil nan cepat. Namun saat dirinya tiba diruangan yang dituju, disana hanya didapatinya Bu Nita yang sibuk mengoreksi hasil ujian harian para siswa.

“Bu.. apa Pak Reynald sudah pulang?”

“Mungkin sudah,” jawab Bu Nita, memandang Regina dengan wajah penuh curiga, setau Bu Nita hubungan antara Regina dan Reynald memang tak pernah akur, meski sama-sama guru muda, pemikiran Regina dan Reynald selalu bersebrangan. Regina yang idealis dan Reynald yang liberal.

“Memangnya ada apa Bu?” lanjut wanita itu, penasaran.
“Oh… tidak.. hanya ada perlu beberapa hal,” elak Regina.
“Apa itu tentang pengajuan kenaikan pangkat dan golongan?” tambah Nita yang justru semakin penasaran.
“Bukan.. eh.. iya.. saya pamit duluan ya Bu,” ucap Regina bergegas pamit.

“Semoga saja SMS itu cuma canda,” ucapnya penuh harap, bergegas menuju parkir, mengacuhkan pandangan satpam sekolah yang menatap liar tubuh semampai dibalut seragam hijau lumut khas PNS, ketat membalut tubuhnya.

Mobil Avanza, Regina, membelah jalan pinggiran kota lebih cepat dari biasanya. Hatinya masih belum tenang, pikirannya terus terpaku pada SMS yang dikirimkan Reynald, padahal lelaki itu hanya meminta tolong untuk membantunya menyusun persyaratan pengajuan pangkat, tapi rasa permusuhan begitu lekat dihatinya.

Jantung Regina semakin berdebar saat mobilnya memasuki halaman rumah, di sana telah terparkir Ninja 250 warna hijau muda, “tidak salah lagi itu pasti motor Reynald,” bisik hati Regina. Di kursi beranda sudut mata wanita muda itu menangkap sosok seorang lelaki, asik dengan tablet ditangannya. “Kamu…” ucap Regina dengan nada suara tak suka.

Reynald membalas dengan tersenyum.

“Masuklah, tapi ingat suamiku tidak ada dirumah, jadi setelah semua selesai kamu bisa langsung pulang,” ucap Regina ketus, meninggalkan lelaki itu diruang tamu.

Beraktifitas seharian disekolah memaksa Regina untuk mandi, saat memilih baju, wanita itu dibuat bingung harus mengenakan baju seperti apa, apakah cukup daster rumahan ataukah memilih pakaian yang lebih formal.

“Apa yang ada diotak mu, Rey?!.. Dia adalah musuh bebuyutan mu disekolah,” umpat hati Regina, melempar gaun ditangannya ke bagian bawah lemari.

Lalu mengambil daster putih tanpa motif. Tapi sayangnya daster dari bahan katun yang lembut itu terlalu ketat dan sukses mencetak liuk tubuhnya dengan sempurna, memamerkan bongkahan payudara yang menggantung menggoda.

Regina kembali dibuat bingung saat memilih penutup kepala, apakah dirinya tetap harus mengenakan kain itu ataukah tidak, toh ini adalah rumahnya. Namun tak urung tangannya tetap mengambil kain putih dengan motif renda yang membuatnya terlihat semakin anggun, tubuh indah dalam balutan serba putih yang menawan.

Jam dinding sudah menunjukkan pukul 5 petang dan untuk yang kedua kalinya Regina menyediakan teh untuk Reynald. Sementara lelaki itu masih terlihat serius dengan laptop dan berkas-berkas yang harus disiapkan, sesekali Regina memberikan arahan.

Tanpa sadar mata Regina mengamati wajah Reynald yang memang menarik. “Sebenarnya cowok ini rajin dan baik, tapi kenapa sering sekali sikapnya membuatku emosi,” gumam Regina, teringat permusuhannya dilingkungan sekolah.

Pemuda yang memiliki selisih umur empat tahun lebih muda dari dirinya. Sikap keras Regina sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan berbanding terbalik dengan sikap Reynald yang kerap membela murid-murid yang melakukan pelanggaran disiplin.

“Tidak usah terburu-buru, minum dulu teh mu, lagipula diluar sedang hujan,” tegur Regina yang berniat untuk bersikap lebih ramah.
“Hujan?… Owwhh Shiiit.. Ibuku pasti menungguku untuk makan malam,” umpat Reynald.

Regina tertawa geli mendengar penuturan Reynald, “makan malam bersama ibumu? Tapi kamu tidak terlihat seperti seorang anak mami,” celetuk Regina usil, membuat Reynald ikut tertawa, namun tangannya terus bergerak seakan tidak tergoda untuk meladeni ejekan Regina.

“Bereeesss..” ucap Reynald tiba-tiba mengagetkan Regina yang asik membalas BBM dari suaminya.
“Jadi apa aku harus pulang sekarang?” tanya Reynald, wajahnya tersenyum kecut saat mendapati hujan diluar masih terlalu lebat.

“Di garasi ada jas hujan, tapi bila kamu ingin menunggu hujan teduh tidak apa-apa,” tawar Regina yang yakin motor Reynald tidak mungkin menyimpan jas hujan.
“Aku memilih berteduh saja, sambil menemani bu guru cantik yang sedang kesepian, hehehe…”
“Sialan, sebentar lagi suamiku pulang lhoo,”

Sesaat setelah kata itu terucap, Blackberry ditangan Regina menerima panggilan masuk dari suaminya, tapi sayangnya suaminya justru memberi kabar bahwa dirinya sedikit terlambat untuk pulang, dengan wajah cemberut Regina menutup panggilan.

“Ada apa, Rey..”
“Gara-gara kamu suamiku terlambat pulang,”

“Lhoo, kenapa gara-gara aku? Hahaha…” Reynald tertawa penuh kemenangan, dengan gregetan Regina melempar bantal sofa. Obrolan kembali berlanjut, namun lebih banyak berkutat pada dinamika kehidupan disekolah dan hal itu cukup sukses mencairkan suasana.
Regina seakan melihat sosok Reynald yang lain, lebih supel, lebih bersahabat dan lebih humoris. Jauh berbeda dari kacamatanya selama ini yang melihat guru cowok itu layaknya perusuh bagi dirinya, sebagai penegak disiplin para siswa.

“Aku heran, kenapa kamu justru mendekati anak-anak seperti Junot dan Darko, kedua anak itu tak lagi dapat diatur dan sudah masuk dalam daftar merah guru BK,” tanya Regina yang mulai terlihat santai. “Seandainya bukan keponakan dari pemilik yayasan, pasti anak itu sudah dikeluarkan dari sekolah,” sambungnya.

“Yaa, aku tau, tapi petualangan mereka itu seru lho, mulai dari nongkrong di Mangga Besar sampai ngintipin anak cewek dikamar mandi, guru juga ada lho yang mereka intipin,” “Hah? yang benar? gilaaa, itu benar-benar perbuatan amoral,” Regina sampai meloncat dari duduknya, berpindah ke samping Reynald. Cerita Dewasa

“Tapi tunggu, bukankah itu artinya kamu mendukung kenakalan mereka, dan siapa guru yang mereka intip?” tanya Regina dengan was-was, takut dirinya menjadi korban kenakalan kedua siswa nya.
“Sebanarnya mereka anak yang cerdas dan kreatif, bay
angkan saja, hanya dengan pipa ledeng dan cermin mereka bisa membuat periskop yang biasa digunakan oleh kapal selam,” ucap Reynald serius, memutar tubuhnya berhadapan dengan Regina yang penasaran.

“Awalnya mereka cuma mengintip para siswi tapi bagiku itu tidak menarik, karena itu aku mengajak mereka mengintip di toilet guru, apa kamu tau siapa yang kami intip?”

Wajah Regina menegang, menggeleng dengan cepat. “Siapa?,,,”

“kami mengintip guru paling cantik disekolah, Ibu Regina Raihani!”
“Apa? gilaaa kamu Van, kurang ajar,” Regina terkaget dan langsung menyerang Reynald dengan bantal sofa.
“ampuun Reeeey, Hahahaa,,”
“Sebenarnya kamu ini guru atau bukan sih? Memberi contoh mesum ke murid-murid, besok aku akan melaporkan mu ke kepala sekolah,” sembur Regina penuh emosi.

Enaknya Seks Bersama Guruku Ditengah Hujan


Reynald berusaha menahan serangan dengan mencekal lengan Regina. cerita seks

“Hahahaa, aku bohong koq, aku justru mengerjai mereka, aku tau yang sedang berada di toilet adalah Pak Tigor dan apa kamu tau efeknya? Mereka langsung shock melihat batang Pak Tigor yang menyeramkan, Hahaha,” Regina akhirnya ikut tertawa, tanpa sadar jika lengannya masih digenggam oleh Reynald.

“Tu kan, kamu itu sebenarnya lebih cantik jika sedang tertawa, jadi jangan disembunyikan dibalik wajah galakmu,” ucap Reynald yang menikmati tawa renyah Regina yang memamerkan gigi gingsulnya. Seketika Regina terdiam, wajahnya semakin malu saat menyadari tangan Reynald masih menggenggam kedua tangannya.

Tapi tidak berselang lama bentakan dari bibir tipisnya kembali terdengar, “Hey!.. Kalo punya mata dijaga ya,” umpat Regina akibat jelajah mata Reynald yang menyatroni gundukan payudara dibalik gaun ketat yang tak tertutup oleh jilbab, Regina beranjak dan duduk menjauh, merapikan jilbabnya.

“Punyamu besar juga ya,” balas Reynald, tak peduli akan peringatan Regina yang menjadi semakin kesal lalu kembali melempar bantalan sofa. “Ga usah sok kagum gitu, lagian kamu pasti sudah sering mengintip payudara siswi disekolah?,,”

“Tapi punyamu spesial, milik seorang guru tercantik disekolah,”

“Sialan..” dengus Regina merapikan jilbabnya, tapi sudut bibirnya justru tersenyum, karena tak ada wanita yang tidak suka bila dipuji. Wajah Regina memerah , kalimat Reynald begitu vulgar seakan itu adalah hal yang biasa.

“Rey… liat dong,”

“Heh? Kamu mau liat payudaraku , gilaa… Benda ini sepenuhnya menjadi hak milik suamiku,” Wanita itu memeletkan lidahnya, tanpa sadar mulai terbawa sifat Reynald yang cuek.
“Ayo dooong, penasaran banget nih,”
“Nanti, kalo aku masuk kamar mandi intipin aja pake piroskop ciptaan kalian itu, hahaha..” Regina tertawa terpingkal menutup wajahnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja diucapkannya.

“Yaaa, paling ngga jangan ditutupin jilbab keq,” sungut Reynald, keqi atas ulah Regina yang menertawakannya.
“Hihihi… Liat aja ya, jangan dipegang,” Ucap guru cantik itu dengan mata tertuju ke TV, lalu mengikat jilbabnya kebelakang.
“Kurang..”

“Apalagi? Bugil?” matanya melotot seolah-olah sedang marah, tetapi jantungnya justru berdebar kencang, menantang hatinya sejauh mana keberanian dirinya.
“satu kancing aja,”
“Dasar guru mesum,” Regina lagi-lagi memeletkan lidahnya lalu kembali menolehkan wajahnya ke TV, namun tangannya bergerak melepas kancing atas.

Tapi tidak berhenti sampai disitu, karena tangannya terus bergerak melepas kancing kedua lalu menyibak kedua sisinya hingga semakin terbuka, membiarkan bongkahan berbalut bra itu menjadi santapan penasaran mata Reynald. Entah apa yang membuat Regina seberani itu, untuk pertama kalinya dengan sengaja menggoda lelaki lain dengan tubuh nya.

“Punyamu pasti lebih kencang dibanding milik Anita,” sambung Reynald, matanya terus terpaku ke dada Regina sambil mengusap-usap dagu yang tumbuhi jambang tipis, seolah menerawang seberapa besar daging empuk yang dimiliki wanita cantik itu. Tapi kata-kata Reynald justru membuat Regina kaget, bingung sekaligus penasaran. “Hhmmm.. Ada hubungan apa antara dirimu dan Bu Nita?”

“Tidak ada, aku hanya menemani wanita itu, menemani malam-malamnya yang sepi,”
“Gilaaa.. Apa kamu… eeeenghhh,,,”

“Maksudmu aku selingkuhan Bu Anita kan? Hahaha…” Reynald memotong kalimat Regina setelah tau maksud kalimat yang sulit diucapkan wanita itu. “Bisa dikatakan seperti itu, hehehe.. Tapi kami sudah mengakhirinya tepat seminggu yang lalu,”

“Kenapa?” sambar Regina yang tiba-tiba penasaran atas isu skandal yang memang telah menyebar dikalangan para guru mesum. Reynald menghela nafas lalu menyandarkan tubuhnya. “Suaminya curiga dengan hubungan kami, meski Anita menolak untuk mengakhiri aku tetap harus mengambil keputusan itu, resikonya terlalu besar,”

“Apa kamu mencintai Bu Anita?”

Reynald tidak langsung menjawab tapi justru mengambil rokok dari kantongnya, setelah tiga jam lebih menahan diri untuk tidak menghisap lintingan tembakau dikantongnya, akhirnya lelaki itu meminta izin, “Boleh aku merokok?”

“Silahkan..” jawab Regina cepat.

“Aku tidak tau pasti, Anita wanita yang cantik, tapi dia bukan wanita yang kuidamkan,” beber lelaki itu setelah menghembuskan asap pekat dari bibirnya. Tapi wajah wanita didepannya masih menunjukkan rasa penasaran, “lalu apa saja yang sudah terjadi antara dirimu dan Anita?” cecarnya.

“Hahahaha.. Maksudmu apa saja yang sudah kami lakukan?”

Wajah Regina memerah karena malu, Reynald dengan telak membongkar kekakuannya sebagai seorang wanita dewasa. “Anita adalah wanita bersuami, artinya kau tidak berhak untuk menjamah tubuhnya,” ucap Regina berusaha membela keluguan berfikirnya.

Reynald tersenyum kecut, mengakui kesalahannya, “Tak terhitung lagi berapa kali kami melakukannya, mulai dari dirumahku, dirumahnya, bahkan kami pernah melakukan diruang lab kimia, desah suaranya sebagai wanita yang kesepian benar-benar menggoda diriku, rindu pada saat-saat aku menghamburkan spermaku diwajah cantiknya.”

Seketika wajah Regina terasa panas membayangkan petualangan, Anita, “Kenapa kamu tidak menikah saja?” tanya Regina berusaha menetralkan debar jantungnya. “Belum ada yang cocok,” jawab Reynald dengan simpel, membuat Regina menggeleng-gelengkan kepala, wanita itu mengambil teh dimeja dan meminumnya.
“Rey.. selingkuhan sama aku yuk..”

Brruuuuuffftttt…
Bibir tipis Regina seketika menghambur air teh dimulutnya.

“Dasar guru mesum,” umpat Regina membuang wajahnya, yang menampilkan ekspresi tak terbaca, kejendela yang masih mempertontonkan rinai hujan yang justru turun semakin deras.

“Aku masak dulu, lapar nih,” ucap Regina, beranjak dari sofa berusaha menghindar dari tatapan Reynald yang begitu serius, jantungnya berdegub keras masih tidak percaya dengan apa yang diucapkan Reynald.

“Rey…” Panggilan Reynald menghentikan langkah wanita itu.
“Kenapa wajahmu jadi pucat begitu, tidak perlu takut aku cuma bercanda koq,” ujar lelaki itu sambil terkekeh.
“Siaaal, ni cowok sukses mengerjai aku,” umpat hati Regina.

“Aku tau koq, kamu tidak mungkin memiliki nyali untuk menggoda guru super galak seperti aku,” ucapnya sambil memeletkan lidah. Diam-diam bibirnya tersenyum saat Reynald mengikuti ke dapur. Hatinya mencoba berapologi, setidaknya lelaki itu dapat menemaninya saat memasak.

Regina dengan bangga memamerkan keahliannya sebagai seorang wanita, tangannya bergerak cepat menyiapkan dan memotong bumbu yang diperlukan, sementara Reynald duduk dikursi meja makan dan kembali berceloteh tentang kenakalan dan kegenitan para siswi disekolah yang sering menggoda dirinya sebagai guru mesum jomblo tampan.

“Awas aja kalo kamu sampai berani menyentuh siswi disekolah,” Regina mengingatkan Reynald sambil mengacungkan pisau ditangan, dan itu membuat Reynald tertawa terpingkal.
“Ckckckck, mahir juga tangan mu Rey,” Reynald mengkomentari kecepatan tangan Regina saat memotong bawang bombay.
“Hahaha… ayo sini aku ajarin..” tawar Regina tanpa menghentikan aksinya.

Tapi Regina terkejut ketika Reynald memeluknya dari belakang, bukan.. cowok itu bukan memeluk, karena tangannya mengambil alih pisau dan bawang yang ada ditangannya. “Ajari aku ya..” bisik Reynald lembut tepat ditelinganya.

Kepala wanita itu mengangguk, tersenyum tersipu. Tangannya terlihat ragu saat menyentuh dan menggenggam tangan Reynald yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Perlahan pisau bergerak membelah daging bawang.

“tangan mu terlalu kaku, Hahahaa,”
“Ya maaf, tanganku memang tidak terlatih melakukan ini, tapi sangat terlatih untuk pekerjaan lainnya.”
“Oh ya? Contohnya seperti apa? Membuat periskop untuk mengintip siswi dikamar mandi? Hahaha,,,”

“Bukan, tapi tanganku sangat terampil untuk memanjakan wanita cantik seperti mu,” ucap lelaki itu, melepaskan pisau dan bawang, beralih mengusap perut Regina yang datar dan perlahan merambat menuju payudara yang membusung.

“Hahaha, tidaak tidaaak, aku bukan selingkuhanmu, ingat itu,” tolak Regina berusaha menahan tangan Reynald.
“Rey, jika begitu jadilah teman yang mesra untuk diriku, dan biarkan temanmu ini sesaat mengangumi tubuhmu, bila tanganku terlalu nakal kamu bisa menghentikanku dengan pisau itu, Deal?…”

Tubuh Regina gemetar, lalu mengangguk dengan pelan, “Ya, Deaaal.” ucap bibir tipisnya, serak. Regina kembali meraih pisau dan bawang dan membiarkan tangan kekar Reynald dengan jari-jarinya yang panjang menggenggam payudara nya secara utuh. Memberikan remasan yang lembut, memainkan sepasang bongkahan daging dengan gemas.

Mata Regina terpejam, kepalanya terangkat seiring cumbuan Reynald yang perlahan merangsek keleher yang masih terbalut jilbab. Romansa yang ditawarkan Reynald dengan cepat mengambil alih kewarasan Regina.

“Owwhhhh,” bibir Regina mendesah, kakinya seakan kehilangan tenaga saat jari-jari Reynald berhasil menemukan puting payudara yang mengeras.
“Rivaaaan,” ucap wanita itu sesaat sebelum bibirnya menyambut lumatan bibir yang panas.

Membiarkan lelaki itu menikmati dan bercanda dengan lidahnya, menari dan membelit lidahnya yang masih berusaha menghindar. “Eeeemmhhh…” wajahnya terkaget, Reynald dalam hisapan yang lembut membuat lidah nya berpindah masuk menjelajah mulut lelaki itu dan merasakan kehangatan yang ditawarkan.

Menggelinjang saat lelaki itu menyeruput ludah dari lidahnya yang menari. Jika Regina mengira permainan ini sebatas permainan pertautan lidah, maka wanita itu salah besar, karena jemari dari lelaki yang kini memeluknya penuh hasrat itu mulai menyelusup kebalik kancingnya.

“Boleh?”

Wanita berbalut jilbab itu tak berani menjawab, hanya memejamkan matanya dan menunggu keberanian silelaki untuk menikmati tubuhnya. Begitu pun saat tangan Reynald berusaha menarik keluar bongkahan daging padat yang membusung menantang dari bra yang membekap.

“Oooowwwhh, eemmppphhh,” tubuh Regina mengejang seketika, tangan lentiknya tak mampu mengusir tangan Reynald, hanya mencengkram agar jemari lelaki itu tidak bergerak terlalu lincah memelintir puting mungilnya.

“Rey.. Kenapa kamu bisa sepasrah ini?.. Benarkah kamu menyukai lelaki ini?.. Bukan.. Ini bukan sekedar pertemanan Rey.. Meski kau tidak menyadari aku bisa merasakan bibit rasa suka dihatimu akan lelaki itu, Rey…” hati kecil Regina mencoba menyadarkan. Tapi wanita itu justru berusaha memungkiri penghianatan cinta yang dilakoninya, berusaha mengenyahkan bisikan hati dengan memejamkan matanya lebih erat.

Wajahnya mendongak ke langit rumah, berusaha lari dari batinnya yang berteriak memberi peringatan. Pasrah menunggu dengan hati berdebar saat tangan Reynald mulai mengangkat dasternya keatas dan dengan pasti menyelinap kebalik kain kecil, menyelipkan jari tengah kecelah kemaluan yang mulai basah.

“Ooowwwhhhhhhh,” bibirnya mendesah panjang, berusaha membuka kaki lebih lebar seakan membebaskan jari-jari Reynald bermain dengan klitorisnya.

Kurihiiiing…
Kurihiiiing…

Dering HP mengagetkan keduanya, membuat pergumulan birahi itu terlepas. Kesadaran Regina mengambil alih seketika, dirinya semakin shock melihat nama yang tertera dilayar HP, ‘Mas Dimas’.

“Hallo mas, halloo,,” sambut Regina diantara usahanya mengkondisikan jantung yang berdegup kencang.
“Mas sedang dimana, kenapa belum pulang?” ucap Regina kalut dengan rasa takut dan bersalah yang begitu besar, seolah suaminya kini berdiri tepat didepannya.
“Mas masih dirumah sakit, mungkin tidak bisa pulang malam ini,” jawab suara besar diujung telpon.
“Iya.. Iya tidak apa-apa, Mas kerja saja yang tenang,”

Setelah mengucap salam, sambungan telpon dimatikan. Regina berdiri bersandar dimeja, menghela nafas panjang lalu meneguk liur untuk membasahi kerongkongannya yang terasa sangat kering.

“Reynald, terimakasih untuk semuanya, tapi kau bisa pulang sekarang,”
“Tidak Rey, kita harus menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”

“Apa maksudmu?… Tidak.. Aku bukan seperti Anita yang kesepian, aku tidak memiliki masalah apapun dengan suamiku, keluarga yang kumiliki saat ini adalah keluarga yang memang kuidamkan…” wajah Regina menjadi pucat saat Reynald mendekat menempel ketubuhnya, mengangkat dasternya lebih tinggi, memeluk dan meremas pantat yang padat berisi.

“Reynald, ingat!.. Kamu seorang guru, bukan pemerkosa..” didorongnya tubuh lelaki itu, tapi dekapan tangan Reynald terlalu erat.
“Yaa.. Aku memang bukan pemerkosa, aku hanya ingin menyelesaikan apa yang sudah kita mulai,”
“Gila kamu Reynald, aku adalah istri yang setia, tidak seperti wanita-wanita yang pernah kau tiduri ”
“Ohh ya?,,” Reynald tersenyum sambil menurunkan celananya dan memamerkan batang yang telah mengeras, batang besar yang membuat Regina terhenyak.

Tiba-tiba dengan kasar Reynald mencengkram tubuh Regina dan mendudukkan wanita itu diatas meja, dengan gerakan yang cepat menyibak celana dalam Regina, batang besar itu telah berada didepan bibir senggama Regina.

“Jangan Rivaaan, aku bisa berbuat nekat,” Regina mulai menangis ketakutan, meraih garpu yang ada disampingnya, mengancam Reynald.
“Kenapa mengambil garpu, bukankah disitu ada pisau?” Reynald terkekeh, wajah yang tadi dihias senyum menghanyutkan kini berubah begitu menakutkan.
“Aaaaaaaaaaaggghh…” Reynald berteriak kesakitan saat Regina menusukkan garpu ke lengan lelaki itu.

Lelaki itu menepis tangan Regina, merebut garpu dan melemparnya jauh, darah terlihat merembes dikemeja lelaki itu. “Bila ingin mengakhiri ini seharusnya kau tusuk tepat di ulu hatiku,” ucapnya dengan wajah menyeringai sekaligus menahan sakit.

“Tidaaak Rivaaaan, hentikaaan,” Regina berhasil berontak mendorong tubuh besar Reynald lalu berlari kearah kamar, tapi belum sempat wanita itu menutup kamar Reynald menahan dengan tangannya.

“Aaaaagghh…” Reynald mengerang kesakitan akibat tangannya yang terjepit daun pintu, lalu dengan kasar mendorong hingga membuat Regina terjengkal.
“Dengar Rey.. Sudah lama aku menyukai mu, dan aku berusaha menarik perhatianmu dengan menentang setiap kebijakan mu,”

Dengan kasar Reynald mendorong wanita itu kelantai dan melucuti pakaiannya, Regina berteriak meminta tolong sembari mempertahankan kain yang tersisa, tapi derasnya hujan mengubur usahanya. Lelaki itu berdiri mengangkangi tubuh Regina yang terbaring tak berdaya, memamerkan batang besar yang mengeras sempurna, kejantanan yang jelas lebih besar dari milik suaminya.

Wanita itu menangis saat Reynald dengan kasar menepis tangan yang masih berusaha menutupi selangkangan yang tak lagi dilindungi kain. “Cuu.. Cukup Reynald, sadarlaaah..” sambil terus menangis Regina berusaha menyadarkan, tapi usahanya sia-sia, mata lelaki itu terhiptonis pada lipatan vagina dengan rambut kemaluan yang terawat rapi.

Dengan kekuatan yang tersisa Regina berusaha merapatkan kedua pahanya, namun terlambat, Reynald telah lebih dulu menempatkan tubuhnya diantara paha sekal itu dan bersiap menghujamkan kejantanannya untuk mengecap suguhan nikmat dari wanita secantik Regina.

“Ooowwhhh… Vagina mu lebih sempit dibanding milik Anita,” desah Reynald seiring kejantanan yang menyelusup masuk ke liang si betina.

“Oohhkk.. Oohhkk..” bibir Regina mengerang menerima hujaman yang dilakukan dengan kasar, semakin keras batang besar itu menghujam semakin kuat pula jari-jari Regina mencakar tangan Reynald, air matanya tak henti mengalir.

Tubuhnya terhentak bergerak tak beraturan, Reynald menyetubuhinya dengan sangat kasar. Wajah lelaki itu menyeringai saat melipat kedua paha Regina keatas, memberi suguhan indah dari batang besar yang bergerak cepat menghujam celah sempit vagina Regina.

“Sayang, aku bisa merasakan lorong vaginamu semakin basah, ternyata kamu juga menikmati pemerkosaan ini, hehehe”

Plak…

Pertanyaan Reynald berbuah tamparan dari tangan Regina, tapi lelaki itu justru tertawa terpingkal, lidahnya menjilati jari-jari kaki Regina yang terangkat keatas dengan pinggul yang terus bergerak menghujamkan batang pusakanya. Puas bermain dengan kaki Regina, tangan lelaki itu bergerak melepas bra yang masih tersisa.

“Ckckckck… Sempurna, sejak dulu aku sudah yakin payudaramu lebih kencang dari milik Anita,”

Tubuh Regina melengkung saat putingnya dihisap lelaki itu dengan kuat. “Oooooouugghh..”

“Pasti Anita malam ini tidak bisa tidur karena menunggu batang kejantanan yang kini sedang kau nikmati, Oowwhhh kecantikan, keindahan tubuh dan nikmatnya vaginamu benar-benar membuatku lupa pada beringasnya permainan Anita,” ucap Reynald, membuat Regina kembali melayangkan tangannya kewajah lelaki itu.

“Bajingan kamu, Van..” umpat wanita itu, tapi tak berselang lama bibirnya justru mendesah saat lidah Reynald bermain ditelinganya. “Oooowwwhhhhh….”
“Hehehe…akuilah, jika kamu juga menikmati pemerkosaan ini, rasakanlah besarnya penisku divagina sempit mu ini,”

Mata wanita itu terpejam, air matanya masih mengalir dengan suara terisak ditingkahi lenguhan yang sesekali keluar tanpa sadar. Hatinya berkecamuk, sulit memang memungkiri kenikmatan yang tengah dirasakan seluruh inderanya.

“Reeeey… Sadarlah, kamu wanita baik-baik, seorang istri yang setia, setidaknya tutuplah mulut nakal mu itu,” teriak hatinya mencoba mengingatkan, membuat airmata Regina semakin deras mengalir.

Yaa.. meski hatinya berontak, tapi tubuhnya telah berkhianat, pinggulnya tanpa diminta bergerak menyambut hentakan batang yang menggedor dinding rahim. Reynald tersenyum penuh kemenangan

“Berbaliklah, sayang,” pintanya.

Tubuh Regina bergerak lemah membelakangi Reynald, pasrah saat lelaki itu menarik pantatnya menungging lebih tinggi, menawarkan kenikmatan dari liang senggama yang semakin basah. Jari-jari lentiknya mencengkram sprei saat lelaki dibelakang tubuhnya menggigiti bongkahan pantatnya dengan gemas.

“Oooowwwhhhh… Eeeeeenghhh..” pantat indah yang membulat sempurna itu terangkat semakin tinggi ketika lidah yang panas memberikan sapuan panjang dari bibir vagina hingga keliang anal.

Rasa takut dan birahi tak lagi mampu dikenali, matanya yang sendu mencoba mengintip pejantan yang membenamkan wajah tampannya dibelahan pantat yang bergetar menikmati permainan lidah yang lincah menari, menggelitik liang vagina dan anusnya, suatu sensasi kenikmatan yang tak pernah diberikan oleh suaminya.

Isak tangis bercampur dengan rintihan. Hati yang berontak namun tubuhnya tak mampu berdusta atas lenguhan panjang yang mengalun saat batang besar Reynald kembali memasuki tubuhnya, menghantam bongkahan pantatnya dengan bibir menggeram penuh nafsu.

Begitupun saat Reynald meminta Regina untuk menaiki tubuhnya, meski airmatanya jatuh menetes diatas wajah sipejantan tapi pinggul wanita itu bergerak luwes dengan indahnya menikmati batang besar yang dipaksa untuk masuk lebih dalam.

“Aaaawwhhhh Rey… Boleh aku menghamilimu?” ucap Reynald saat posisinya kembali berada diatas tubuh Regina, menunggangi tubuh indah yang baru saja meregang orgasme.

Wanita itu membuang wajahnya, bibirnya terkatup rapat tak berani menjawab hanya gerakan kepala yang menggeleng menolak, matanya begitu takut beradu pandang dengan mata Reynald yang penuh birahi.

Batang besar Reynald bergerak cepat, orgasme yang diraih siwanita membuat lorong senggamanya menjadi sangat basah. Hentakan pinggul lelaki itu begitu cepat dan kuat seakan ingin membobol dinding rahim, memaksa Regina berpegangan pada besi ranjang penikahannya untuk meredam kenikmatan yang didustakan.

“Reeeeey.. Boleh aku menghamilimuuu?.. Aaaagghhh, cepaaaaat jawaaaaaaaab,” teriak Reynald yang menggerakkan pinggulnya semakin cepat.

Regina menatap Reynald dengan kepala yang menggeleng. “Jangaaan.. kumohooon jangaaaan… Reynald tersenyum menyeringai “Kamu yakin? Tidak ingin merasakan sensasi bagaimana sperma lelaki lain menghambur dirahim mu?”

Plaaak..

Enaknya Seks Bersama Guruku Ditengah Hujan


Regina kembali menampar wajah Reynald untuk yang kesekian kalinya, tapi kali ini jauh lebih keras. Wanita menjerit terisak, tapi kaki jenjangnya justru bergerak melingkari pinggul silelaki, tangannya memeluk erat seakan ingin menyatukan dua tubuh.

Tangis Regina semakin menjadi, menangisi kekalahannya. Tangannya menyusuri punggung Reynald yang berkeringat lalu meremas pantat yang berotot seakan mendukung gerakan Reynald yang menghentak batang semakin dalam.

“Kamu jahaaaaat Rivaaaan.. jahaaaaat..” teriak Regina seiring lenguh kenikmatan dari bibir silelaki.

Menghambur bermili-mili sperma dilorong senggama, menghantar ribuan benih kerahim siwanita yang mengangkat pinggulnya menyambut kepuasan silelaki dengan lenguh orgasme yang kembali menyapa, tubuh keduanya mengejat, menggelinjang, menikmati suguhan puncak dari sebuah senggama tabu.

“Kenapa kau mempermainkan aku seperti ini,” isak Regina dengan nafas memburu, tangannya masih meremasi pantat berotot Reynald yang sesekali mengejat untuk menghantar sperma yang tersisa kerahim si wanita.

“Karena aku mencintaimu,” bisik lembut si penjantan ditelinga betina yang membuat pelukannya semakin erat, membiarkan tubuh besar itu berlama-lama diatas tubuh indah yang terbaring pasrah. Membisu dalam pikiran masing-masing.

“Apa kamu bersedia menjadi teman selingkuhku?”

Regina menggeleng dengan cepat, “Aku tidak berani, Reynald, Ooooowwhhhhhh..” wanita itu melepaskan pagutan kakinya dan mengangkang lebar, membiarkan silelaki kembali menggerakkan pingulnya dan memamerkan kehebatan kejantanannya dicelah sempit vagina Regina.

“Tapi bagaimana bila aku memaksa?..”

“Itu tidak mungkin Oooowwhhh… Aku sudah bersuami dan memiliki anak, aaaahhhhhh…” Regina menggelengkan kepala, berusaha kukuh atas pendirian, meski pinggul indahnya bergerak liar, tak lagi malu untuk menyambut setiap hentakan yang menghantar batang penis kedalam tubuhnya.

Regina tak ingin berdebat, tangannya menjambak rambut Reynald saat bibir lelaki itu kembali berusaha merayu, membekap wajah Reynald pada kebongkahan payudara dengan puting yang mengeras.

“Kamu jahat, Van.. Tak seharusnya aku membiarkan lelaki lain menikmati tubuhku.. Ooowwwhh.. Ooowwwhhh…”

Setelahnya tak ada lagi kalimat lagi yang keluar selain desahan dan lenguhan dan deru nafas yang memburu. Hingga akhirnya bibir Reynald bersuara serak memanggil nama si wanita.

“Reeeeey… Boleeeehkaaan?”

Regina menatap sendu wajah birahi Reynald, dengan kesadaran yang penuh wanita itu mengangguk lalu merentang kedua tangan dan kakinya, memberi izin kepada silelaki untuk kembali menghambur sperma kedalam rahimnya.

“Reeeey..” panggil lelaki itu kembali, membuat siwanita bingung, sementara tubuhnya telah pasrah menjadi pelampiasan dari puncak birahi Reynald.

Dengan wajah memelas tangan Reynald bergerak mengusap wajah Regina, telunjuknya membelah bibir tipis siwanita.

“Dasar guru mesum, ” ucap Regina sambil menampar pipi Reynald tapi kali ini dengan lembut,
“kamu menang banyak hari ini, Van..” ucapnya lirih dengan mata sembap oleh air mata.
“Boleeeh?..”

Regina memalingkan wajahnya, lalu mengangguk ragu. Reynald bangkit mencabut batangnya lalu mengangkangi wajah guru cantik itu. Sudut mata Regina menangkap wajah tampan silelaki yang menggeram sambil memainkan batang besar tepat didepan wajah nya.

Jemari lentiknya gemetar saat mengambil alih batang besar itu dari tangan Reynald. Memberanikan diri untuk menatap lelaki yang mengangkangi wajahnya, kepasrahan wajah seorang wanita atas lelaki yang menikmati tualang birahi atas tubuhnya.

“Aaaaaaaagghhh.. Aaaaagghhh.. Reeeeey..” wajah Reynald memucat seiring sperma yang menghambur kewajah cantik yang menyambut dengan mata menatap sendu. “Aaaaaagghhhh.. Sayaaaaaang..”

Tak pernah sekalipun Regina menyaksikan seorang pejantan yang begitu histeris mendapatkan orgasmenya, dan tak pernah sekalipun Regina membiarkan seorang pejantan menghamburkan sperma diwajah cantiknya. Dengan ragu Regina membuka bibirnya, membiarkan tetesan sperma menyapa lidahnya. Batang itu terus berkedut saat jari lentik Regina yang gemetar menuntun kedalam mulutnya.

Menikmati keterkejutan wajah Reynald atas keberaniannya. Bibirnya bergerak lembut menghisap batang Reynald, mempersilahkan lelaki itu mengosongkan benih birahi didalam bibir tipisnya.

“Ooooooowwwhhhhh.. Reeeeeeeey…” Reynald mengejat, menyambut tawaran Regina dengan beberapa semburan yang tersisa.
“Cepatlah pulang.. Aku tidak ingin suamiku datang dan mendapati dirimu masih disini,” pinta Regina setelah Reynald sudah mengenakan kembali seluruh pakaiannya.
“Masih belum puas?.. dasar guru mesum,” ucapnya ketus saat Reynald memeluk dari belakang.
“aku bukanlah selingkuhan mu, catat itu,” Regina menepis tangan Reynald.

“Yaa.. Aku akan mencatatnya disini, disini, dan disini..” jawab Reynald sambil menunjuk bibir tipis Regina, lalu beralih meremas payudara yang membusung dan berakhir dengan remasan digundukan vagina.

“Dasar gila ni cowok,” umpat hati Regina, yang kesal atas ulah Reynald tetap terlihat cuek setelah apa yang terjadi.

Regina menatap punggung Reynald saat lelaki itu melangkah keluar, hujan masih mengguyur bumi Jakarta dengan derasnya, dibibir pintu lelaki itu berhenti dan membalikkan tubuhnya, menampilkan wajah serius.

“Maaf Rey, sungguh ini diluar dugaanku, semua tidak lepas dari khayalku akan dirimu, tapi aku memang salah karena mencintai wanita bersuami, Love you Rey..” ucap Reynald lalu melangkah keluar kepelukan hujan.

“Rivaaan.. Love u too,” teriak Regina dengan suara serak, membuat langkah Reynald terhenti
“Tapi maaf aku tidak bisa jadi selingkuhanmu.” lanjutnya.

“Mamaaaaaa, Elminaaaa pulaaaaang,” teriak seorang bocah dengan ceria, coba mengagetkan wanita yang sibuk merapikan tempat tidur yang berantakan, gadis kecil itu langsung menghambur memeluk tubuh Regina, ibunya.

Usaha gadis itu cukup berhasil, Regina sama sekali tidak menduga, Ermina, putri kecilnya yang beberapa hari menginap ditempat kakeknya dijemput oleh suaminya.

“Ini buat mama dari Elmina,” ucapnya cadel, menyerahkan balon gas berbentuk amor yang melayang pada seutas tali. “Elmina kangen mamaa, selamat valentine ya, ma, Semoga mama semakin cantik dan sehat selalu..”

Wajah mungil itu tersenyum ceria, senyum yang begitu tulus akan kerinduan sosok seorang ibu. Regina tak lagi mampu membendung air mata, menatap mata bening tanpa dosa yang menunjukkan kasih sayang seorang anak. Sementara dibelakang gadis itu berdiri suaminya, Dimas, sambil menggenggam balon yang sama.

“Selamat valentine, sayang,” ucap Dimas, tersenyum dengan gayanya yang khas, senyum lembut yang justru mencabik-cabik hati Regina.

Seketika segala sumpah serapah tertumpah dari hatinya, atas ketidaksetiaannya sebagai seorang istri, atas ketidak becusannya menyandang sebutan seorang ibu.

“Maafin Mama, sayang,” ucap Regina tanpa suara, memeluk erat tubuh mungil Ermina, terisak dengan tubuh gemetar. “Maafin mama, Pah,”

Tengah malam, Regina berdiri dibalik jendela, menatap gulita dengan gundah. Suaminya dan Ermina telah terlelap.

PING!…

Tanpa hasrat wanita itu membuka BBM yang ternyata menampilkan pesan dari Reynald.

“Besok pukul 12 aku tunggu di lab kimia, ”

Baca Juga : Kisah Tono Birahi dan Ngeseks Bersama Tante Aya

Jemari kiri Regina erat menggenggam tangan suaminya yang tengah pulas tertidur, sementara tangan kanannya menulis pesan dengan gemetar. “Ya, aku akan kesitu,”

Saturday, December 13, 2025

Kisah Tono Birahi dan Ngeseks Bersama Tante Aya

Cerita Seks – “Koran.. Koran ya Koran.. Pempek ya pempek.. Pempek Koran..”

Aya memicingkan telinganya mendengar suara tersebut. Di siang hari seperti itu memang tak jarang ada penjual yang masuk kedalam komplek menjajakan barang dagangan. Pengalaman Aya selama 10 tahun tinggal disana, ia sudah hapal mana-mana saja penjaja makanan atau barang yang lewat di muka rumahnya. Namun kali itu Aya merasa tidak familiar dengan suara tersebut. Iseng, Aya pun berjalan kedepan dan melongok keluar.

“Dek, sini masuk.”

Aya melambaikan tangannya memanggil si penjual tersebut. Dan memang benar tebakannya, ia baru kali ini melihat si pemuda penjaja koran ini di sekitaran komplek.

“Jualan apa, Dek?”
“Koran bu, tabloid, semua ada.”
“Oh.. itu apa di dalam?”
“Pempek bu. Masih hangat bu baru digoreng.”



Aya mengangguk-angguk sembari memandangi si pemuda tanggung tersebut mengeluarkan koran-korannya di pelataran teras rumah agar Aya bisa pilih.“Kok saya baru lihat kamu dek. Biasanya yang dagang koran ada lagi langganan saya yang sudah tua. Pak Romli kalo ga salah namanya.”

“Iya bu, itu paman saya. Beliau sakit semenjak awal bulan, jadi tidak bisa dagang.” Jawab si pemuda itu singkat. Aya menerka-nerka umurnya mungkin sepantaran dengan anaknya yang paling sulung.
“Oh, sakit apa dia pak romli? Parah sakitnya?”
“Sakit gula bu, sekarang paman hanya tidur saja dirumah. Saya yang bantu jualan koran juga.”
“Astaghfirullah, semoga sehat-sehat saja ya Pak Romli. Nama kamu siapa, nak?” Tanya Aya melembut.
“Saya Tono, bu.” Jawab Tono sopan.
“Kamu kelas berapa? Masih sekolah?”

Tono menggeleng malu-malu.

“Saya terakhir lulus SMP tahun 2 tahun lalu bu. Tadinya hanya jualan pempek sepulang sekolah, bantu-bantu paman dan adik-adik sepupu saya yang masih kecil-kecil. Tapi sekarang saya full jualan pempek saja di sekitar pasar pagi. Sekarang Karena paman sakit, saya juga jualan koran.” Ujar Tono bercerita dengan polosnya.

“Orangtua kamu kemana?”

Tono lagi-lagi menggeleng malu-malu. Luluh rasanya hati Aya, apalagi terbayang apabila anak-anaknya harus menjalani hidup seperti Tono. Bulat hati Aya ingin meringankan beban Tono.

“Yasudah, kalo gitu saya beli tabloidnya satu dan korannya satu ya. Pempeknya juga saya bungkus 5 ya, Nak.”
“Baik bu. Saya bungkusin sekarang Bu.” Jawab Tono cepat dengan sumringah. Aya tersenyum kecil melihat sedikit pancaran kebahagian di mata Tono.
“Kamu sering-sering kesini ya, saya juga udah ga pernah langganan koran dan tabloid. Nanti biar ibu beli koran sama tabloid kamu.” Ujar Aya sambal tersenyum hangat. Tono hanya mengangguk-angguk sambal mengulum senyum membungkus pempek pesanan Aya.

Dan seperti itulah persahabatan kecil antara Aya dan Tono terjalin. Dua-tiga hari sekali Tono pastri mampir membawa koran dan tabloid pesanan Aya. Tak jarang Aya memborong pempek dagangan Tono, sampai heran suami dan anak-anaknya selalu saja ada pempek di meja makan terhidang. Aya yang kesehariannya hanya tinggal di rumah sendiri sebagai ibu rumah tangga turut senang dengan adanya Tono yang sesekali mampir menemaninya siang-siang untuk sekedar berteduh dan mengobrol sejenak dengannya.

Hingga di suatu siang di musim hujan, hujan deras mengguyur komplek sedari subuh. Hujan gerimis dan deras yang datang silih berganti tak pelak membuat komplek banjir di beberapa titik. Aya sendiri harus terjebak di pasar swalayan menunggu hujan reda. Barulah ketika hujan berganti gerimis Aya baru berani untuk naik gojek pulang ke rumah.

Hujan masih mengguyur agak deras ketika Aya masuk kedalam kawasn komplek. Dari belakang jok tukang ojek mata Aya menangkap sesosok Tono yang berdiri berteduh di pos satpam.

“Eh, eh pak stop bentar pak. Din! Tono!”

Tono memicingkan mata melihat sesosok wanita berkerudung diseberang jalan yang berhenti diatas motor. Segera ia mengenali sosok Aya diantara rintik hujan.

“Kamu ngapain disitu din? Jangan neduh disana, nanti basah! Kamu lari kerumah saya aja ya cepet! Ibu tunggu!” Teriak Aya. Tono sayup-sayup mendengar ucapan Aya dan mengangguk-anggukan kepalanya.

Tak lama berselang Aya turun dari ojek, Tono pun tiba sembari setengah berlari. Aya buru-buru melambaikan tangan menyuruh Tono masuk kedalam rumah Karena hujan kembali menderas. Tono tiba di teras rumah agak terengah-engah, korannya terlihat aman Karena ditutupinya dengan plastrik. Namun baju dan rambutnya benar-benar basah kuyup akibat berlindung di pos satpam.

“Astaghfirullah, udah taro aja didepan korannya Din. Masuk aja sini kedalem gapapa.” Ujar Aya seraya membuka kunci pintu rumah.

Tono berdiri canggung di muka pintu sembari badannya agak menggigil. Aya berdecak sambal bergeleng iba melihat kondisi Tono.

“Sebentar ya Ibu carikan handuk. Baju ibu juga basah nih. Kamu langsung mandi aja Din, daripada kamu demam. Yuk ibu antar kedalam.”

Aya membimbing Tono menuju kamar mandi tengah. Tono baru kali itu masuk kedalam rumah. Dipandanginya furniture dan foto-foto keluarga Aya seraya ia berjalan kedalam rumah. Tak lama Aya muncul dari dalam kamar dan menyerahkan Tono handuk bersih untuk ia gunakan.

“Tuh kamu pake, kamu masuk aja langsung mandi ya. Ibu juga mau ganti baju. Ibu masuk juga ya.” Ujar Aya cepat sambil kemudian menghilang lagi kedalam kamar.

Tono keluar dari kamar mandi dengan hanya lilitan handuk di pinggangnya. Lagi-lagi ia hanya bisa berdiri canggung didepan kamar mandi sementara Aya belum keluar dari kamar. Tak lama pintu kamarpun terbuka dan Aya keluar masih sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.

“Eh yaampun ibu lupa, sebentar ya Din ibu tadi udah ambilin bajunya raffa sementara baju kamu basah. Nih pake dulu, Din. Baju kamu biar kering dulu aja.” Ujar Aya lagi sembari menyodorkan baju anaknya ke tangan Tono.

Tono hanya melongo tatkala Aya menyodorkan baju tersebut ke tangannya. Baru kali itu Tono melihat sisi lain dari Astrid yang tak mengenakan kerudung dan hanya berdaster saja. Rambut Aya yang masih basah bergantung bebas pendek sedikit dibawah kuping, sekilas mengingatkan akan model rambut Desy Ratnasari. Memang ada sedikit perbedaan disana sini, dari bentuk badan Aya yang sedikit lebih berisi mungkin Karena memang faktor umur, atau mata Aya yang agak sedikit lebih sipit dari Desy Ratnasari yang asli, namun secara keseluruhan mereka memang tak berbeda jauh.

“Loh kok diem aja Din? Ini ambil bajunya, kamu ganti di kamar mandi gih.” Ujar Aya sembari masih asik mengeringkan rambutnya dengan handuk.
“I-iya bu..”

Tono pun menghilang kedalam kamar mandi untuk berganti baju. Aya dengan santai memunguti baju basah Tono dan membawanya kebelakang ke tempat cucian untuk sekedar dijemur.

“Udah ganti bajunya din? Baju kamu ibu jemur dulu ya di belakang biar kering.”

Tono hanya mengangguk-angguk sambil duduk dengan canggung mengenakan kaus dan celana basket longgar. Aya tersenyum kecil melihat Tono yang sedari tadi berusaha untuk tidak memandangi Aya.

“Kenapa kamu din? Kok kaya heran gitu ngeliatin Ibu. Heran ya baru kali ini liat ibu ga pake kerudung? Hehe”

Tono hanya tersenyum kecut menanggapi candaan Aya. Memang agak sedikit kaget Tono dibuatnya. Aya yang kerap berkerudung sopan hingga mengenakan kauskaki tipis, kini melenggang santai hanya mengenakan daster kutung (daster tanpa lengan) sebatas dengkul. Cerita Dewasa

“Gapapalah Din, sekali-kali ini. Lagian didalem rumah juga ga ada yang liat. Yang liat juga kan kamu aja ga ada orang lain.” Hibur Aya lagi sambil tersenyum lembut.

Setelah itu Aya dan Tono pun makan dengan khidmat dengan lauk seadanya di meja makan. Pelan-pelan Tono bisa menyesuaikan diri kembali dan merekapun berdua asyik mengobrol seperti biasanya. Di luar hujan masih terus menggelegar, Aya mengintip keluar dari balik jendela mengamati air yang tercurah begitu banyaknya dari langit.

“Untung aja tadi ya Din, ibu ngeliat kamu. Coba liat nih, ujannya masi ga berenti juga malah makin deres. Bisa banjir ni komplek.. ckck” Ujar Aya sambil memijat-mijat tengkuknya sendiri.
“Iya bu..” Jawab Tono pelan.
“Duh kayanya ibu masuk angin deh, tengkuk ibu berat banget ini rasanya. Kamu bisa ngerok ga din?” Keluh Aya.

Tono hanya menggeleng pelan.

“Tapi jangan dikerok juga sih, nanti heran lagi suami saya kok bisa ada yang ngerok? Bisa berabe.. hahaha. Ibu minta tolong pijitin aja ya din?” Pinta Aya lagi sembari beranjak kedalam kamar mencari minyak urut. “Sini aja Din, masuk nggapapa..” Panggil Aya lagi dari dalam kamar.

Tono melangkah dengan lambat, masih ragu karena merasa tidak enak, untuk pertama kalinya ia masuk kedalam kamar tidur orang lain tentu saja menimbulkan rasa canggung.

“Nih minyak urut din, kamu olesin aja nih ke pundak sama leher belakang ibu. Tolong yah?” Ujar Aya sembari bersendawa sendiri yang kini sudah duduk di pinggir kasur.

Tono mau tidak mau mengikuti permintaan Aya. Dengan hati-hati Tono menumpahkan sedikit minyak angin ke permukaan tangannya dan mengusap tengkuk Aya pelan.

“Hmm.. anget. Iya gitu din, agak dipencet-pencet Din.”

Dengan patuh Tono menuruti komando Aya. Sempat terpesona Tono oleh halus lembutnya kulit Aya yang selama ini selalu terbalut kerudung. Namun dientaskannya pikiran itu jauh-jauh. Aya mengangguk-angguk terpejam menikmati urutan Tono.

“Din, sambil tiduran bisa ngga din? Ibu pegel juga duduk nyamping gini.” Tukas Aya cepat. Dengan santainya Aya melengos dan menelungkupkan wajah berbaring tengkurap diatas kasur.

Tono lagi-lagi tercekat menelan ludah melihat Aya dalam posisi seperti itu. Masih dengan takut-takut Tono bergerak ikut naik keatas kasur. Aya kemudian melebarkan kedua kakinya memberikan ruang bagi Tono untuk bersimpuh diantara kakinya. Sekelebat putih halusnya paha dalam Aya membuat jantung Tono berdegup kencang. Tono mulai meraba pelan punggung Aya dan mulai memijitnya perlahan.

“Hmm iya din gitu din.. kuat juga ya pijitan kamu..” ujar Aya sembari tetap telungkup dan memejamkan mata. “Atasan lagi din di pundak kaya tadi.” Pinta Aya lagi.

Tono dengan agak kesusahan mencondongkan diri makin kedepan berusaha meraih pundak Aya. Meski Aya sudah melebarkan kakinya tetap saja Tono kesulitan karena mau tak mau Tono harus makin merapat diantara sela kaki Aya. Dan benar saja, baru ketika Tono hendak memajukan badannya, tanpa sengaja tubuh bagian bawah Tono menyenggol pantat Aya.

“M-maap bu, p-permisi.” Tukas Tono cepat-cepat. Aya hanya terkekeh kecil karena canggungnya Tono. “Iya gapapa, cepet pijit lagi.” Jawab Aya tak sabar.

Tono kembali memijat sambil berusaha menahan bagian bawahnya agar tidak menyenggol lagi. Namun tentu saja sia-sia karena posisinya tidak memungkinkan. Sehingga Tono berupaya agar tidak terlalu sering menempel ke pantat Aya. Diam-diam Tono juga berusaha sekuat tenaga agar tidak terbangun dedek kecilnya, karena jujur saja lembutnya pantat Aya mau tak mau merangsang kemaluannya jadi terbangun. Tiap kali menempel rasanya darah di dalam diri Tono berdesir.

Aya juga sebenarnya mengetahui Tono yang berusaha keras menahan diri dan tetap sopan. Aya tahu betul di umur segitu baik Tono maupun anak tertuanya sudah mulai menjalani proses menjadi dewasa dan tertarik dengan lawan jenis, sehingga Aya paham betul apa yang dialami Tono saat ini. Namun Aya diam-diam saja, malahan agak sedikit geli melihat Tono seperti itu. Akhirnya Aya menyuruh Tono untuk santai saja.

“Udah din gapapa, nempel dikit juga gapapa kok.” Ujar Aya sambil tetap telungkup.

Tono tidak langsung menjawab dan hanya diam saja. Akhirnya Tono memberanikan diri untuk mengiyakan perkataan Aya.

Tono akhirnya mencondongkan badannya kedepan dan menempelkan tubuh bagian bawahnya ke pantat Aya. Tono malu-malu menghela napas ketika ia merasakan burungnya melekat tepat di tengah-tengah pantat Aya yang lembut. Begitu pula Aya yang akhirnya merasakan bonggolan kenyal di bagian belakangnya. Aya agak terkekeh merasakan burung Tono yang sudah setengah mengeras. Dasar anak muda, pikir Aya dalam hati. 

Namun dengan begitu tak lantas membuat Tono malah menjadi biasa saja, justru kebalikannya Tono makin tersiksa menahan ereksinya. Tono berusaha mengalihkan perhatiannya dengan berpikir hal yang lainnya. Namun sialnya di sisi kasur terdapat cermin berukuran besar yang melekat di lemari. Tatkala Tono melirik, ia melihat dirinya seakan tengah berhubungan badan dengan Aya dalam posisi seperti itu. Tono jadi makin tercekat dan sialnya hal tersebut malah membuat ereksi Tono makin menjadi-jadi.

Aya yang tadinya setengah mengantuk malah jadi melek terbangun merasakan gundukan lembek di pantatnya kini malah membongkah. Diam-diam Aya jadi merasa agak geli-geli juga tiap kali burung Tono yang menempel erat di pantatnya berkedut pelan. Namun Aya memilih diam saja karena apabila ia bergerak membetulkan posisinya, Tono pastri jadi malu sekali. Jadi Aya memilih untuk diam saja berpura-pura tidur.

Di lain pihak Tono sudah merah padam wajahnya, keringat dingin mengalir di lehernya. Tono memilih untuk menunduk saja mengalihkan pandangannya kebawah. Namun Tono kaget bukan kepalang manakala ia mengetahui ujung bawah daster Aya sudah setengah tersingkap keatas. Sekilas Tono bisa melihat bongkahan pantat Aya setengah mengintip dari sisi dasternya. Tono merasa terpaku takut untuk bergerak namun juga takut untuk berhenti. Takut malah apabila ia berhenti dan membetulkan dasternya, Aya malah terbangun dan memergokinya.

Aya awalnya tidak merasa ujung dasternya tersingkap ketas, dan samasekali lupa ia tak mengenakan celana dalam waktu itu. Sehabis mandi ia buru-buru mengenakan baju dan mencarikan baju untuk Tono hingga ia terlupa. Namun suatu saat tiba-tiba Aya merasa geli di bagian bawah tubuhnya, manakala ujung bonggol Tono yang mengeras dari balik celana menggosok permukaan kemaluannya yang tak tertutup apa-apa. Aya agak panik, namun tak berani untuk bergerak maupun bersuara manakala tiap kali Tono bergerak, ujung kemaluan Tono menggosok lembut bibir kemaluannya. Aya terdiam menggigit bantal berusaha agar tidak bersuara samasekali.

Sekali, dua kali, tiga kali, hingga berkali-kali, lama kelamaan memberi efek yang makin intens dalam diri Aya. Badannya jadi lemas keenakan oleh gesekkan Tono. Matanya jadi pelan-pelan sayu, khidmat menerima tiap gerakkan yang ditimbulkan oleh Tono. Apalagi saat itu Tono hanya menggunakan boxer tipis tanpa celana dalam, yang tentu saja terasa oleh kemaluan Aya terutama setelah menjadi semakin sensitif akibat gesekkan ujung penis Tono. Aya hanya bisa berharap Tono tidak merasakan badan Aya yang kaku menahan gelinjang tiap kali Tono menyenggol kemaluannya, dan tidak menyadari kemaluannya yang kian berembun akibat gesekkan tersebut.

Hingga akhirnya pada suatu ketika Aya yang sudah begitu lemas tak berdaya merasa Tono menghentikan aksinya. Kesadarannya yang sudah hampir setengah menipis sedikit bangkit kembali. Hati kecilnya bertanya-tanya kenapa Tono malah menghentikan aksinya disaat ia sudah nyaris pasrah dalam kenikmatan. Namun pertanyaannya terjawab tak lama berselang ketika kembali Aya merasakan sensasi geli itu datang lagi, namun kali ini Aya dapat merasakan jelas hangat daging keras Tono bersentuhan langsung dengan kulitnya.

Aya terbelalak namun tetap terdiam meskipun kaget. Kembali digigitnya bantal dibawah mukanya itu kencang-kencang. Aya tak menyangka Tono berani berbuat sejauh ini. Terdengar napas Tono yang juga agak tersengal-sengal dibelakangnya. Entah mengapa dalam kepanikan seperti itu Aya memilih untuk diam mematung ketimbang menghentinkan aksi Tono. Mungkin Aya juga sudah terbuai keenakan, entah karena alasan lainnya. Yang jelas Aya merasakan badannya kembali lemas digelitiki rasa geli ketika Tono kembali menggesekkan moncong kemaluannya di bibir kemaluan Aya yang kini tak lagi dihadang celana.

Tono merasa kepalanya begitu berat, dan sekelilingnya semakin kabur. Nafasnya memburu dan gelora nafsunya tidak bisa lagi dibendung. Apalagi ketika ujung penisnya merasakan hangat daging kemaluan Aya yang mulai mengeluarkan sesuatu. Tangannya tak lagi memijat pundak Aya melainkan menahan beban tubuhnya di sisi kanan dan kiri tubuh Aya. Tiap gesekan seakan membuat kemaluan Aya merekah lebih lebar dari sebelumnya. Kemaluan Tono seperti ikut ketagihan ingin mencicipi terus lubang Aya yang seakan-akan memanggil manggil dirinya.

Rangsangan yang amat lembut dan pelan itu membuat akal sehat Aya dan Tono buyar entah kemana. Tono dan Aya diam-diam makin larut dalam cumbuan malu-malu kemaluan mereka. Aya yang juga sudah kegatalan jadi terbayang-bayang apabila Tono benar-benar memasukkan batangnya kedalam kemaluannya. Badannya jadi merinding membayangkan apabila hal itu benar terjadi.

Kemaluan Aya yang merekah itu seakan memancing kemaluan Tono untuk bergerak masuk. Tono secara naluriah kini tak hanya menggesekan pucuk senjatanya saja, namun juga mulai menekan lembut kedepan. Kemaluan Aya yang semakin lembab membuat ujung penis Tono semakin mudah membelah dan membukanya. Aya juga ikut merasa bibirnya kemaluannya merekah tiap kali Tono menempelkannya dan sedikit mendorongnya kedepan. Aya serasa melayang tiap kali Tono melakukan hal tersebut.

Pelan tapi pastri, Tono mendorong pelan dan menariknya moncong kemaluannya lagi kebelakang. Baik Aya dan Tono menyadari tiap kali kepala helm itu masuk semili lebih dalam tiap kali Tono merangsek maju. Tono yang sudah tidak lagi berpikir sehat, terus berusaha menerobos maju lebih dalam, membuat Aya dibawahnya menggigit jarinya was-was tak sabar. Hingga akhirnya di puncak birahi mereka, kepala jamur merah itu berhasil mendobrak masuk.

Napas Tono serasa tercekat didada ketika ujung kemaluannya hilang terhisap masuk kedalam rongga kemaluan Aya. Waktu seakan berhenti ketika akhirnya Aya merasakan kemaluannya menjepit mesra bonggol milik Tono. Aya ingin mendesah sekuat tenaga namun ditahannya. Akhirnya setelah disiksa begitu lama Aya merasa plong dan lega, kemaluannya yang sudah begitu gatal bisa merasakan bonggol yang sedari tadi meluluh lantakkan imannya.

Tono yang kini akhirnya berhasil mengecap lubang indah milik Aya itu kini tak lagi mau menariknya keluar. Ingin rasanya Tono memasukkan batangnya selama mungkin disana. Rasa nikmat yang dirasakannya mendorong Tono memasukkannya lebih dalam lagi, hingga seluruhnya diselimuti oleh kemaluan Aya. Dengan sangat hati-hati Tono yang masih mengira Aya tertidur itu melesakkan kemaluannya maju. Aya begitu terbuai dalam kenikmatan. Dalam gerakan lambat seperti itu Ia dapat merasakan dengan seksama tiap kerut dan urat batang Tono di dinding kemaluannya. Baru kali itu rasanya Aya menikmati ditembusi kemaluan seperti itu.

Cerita Seks Terbaik | Hingga akhirnya Tono menghela napas tertahan manakala ia melihat sisa batangnya menghilang masuk kedalam rongga kemaluan Aya. Tono mengerjap-ngerjapkan matanya terhipnotis oleh sensasi yang baru kali itu ia rasakan seumur hidupnya, ketika segenap rongga kemaluan Aya membungkus batangnya erat-erat tak lepas. Hangat, becek, lembut menjadi satu. Diam-diam Aya juga menggigit bibirnya manakala akhirnya batang kemaluan Tono masuk hingga mentok, berjejalan didalam rongga kemaluannya yang berkedut manja. Didorong oleh nafsu yang tak lagi terbendung, Tono menggerakkan pinggulnya seakan berusaha mengeksplorasi segenap isi liang kemaluan Aya. Aya tak kuasa ikut menggoyangkan pinggulnya pelan akibat gocekkan Tono.

Aya tanpa sadar mengangkat pinggulnya sedikit keatas, seakan membenarkan posisi penetrasi Tono. Tono yang juga sudah tak sadarkan diri, tak lagi memperhatikan gerakkan pinggul Aya, hanya mengikuti naluri alaminya untuk mulai menggerakkan pinggulnya maju dan mundur. Dengan lembut Tono menarik pinggulnya mundur hinggga batangnya tertarik keluar, dan kemudian mendorongnya lagi masuk kedepan. Tono mendesis merasakan nikmat gesekkan antara batangnya dan dinding kemaluan Aya yang basah.

Aya yang juga telah terbuai genjotan Tono, menggigit sarung bantalnya hingga basah. Matanya membeliak keatas menikmati sodokan senjata Tono. Pinggul Aya secara otomatis bergerak semakin keatas hingga setengah menungging, yang kemudian dipegang oleh kedua tangan Tono seperti sedang menunggangi kuda. Bunyi kecipak basah karena gesekkan kemaluan mereka mulai nyaring terdengar di seantero kamar, terlebih lagi karena hujan sudah usai diluar sehingga bunyinya semakin jelas menggaung.

Mereka berdua makin bergelora oleh percintaan terlarang itu. Aya dan Tono lengah oleh bisikkan setan. Aya merasakan kenikmatan seksual yang belum pernah ia alami sebelumnya. Apalagi semakin ia berusaha mengingat-ingat bahwa ini adalah suatu hal yang salah, semakin birahinya memuncak. Ia tengah berselingkuh dengan seseorang diluar pernikahannya, dan orang tersebut masih seumuran dengan anak sulungnya.

“Oh tidak, aku tengah bercinta dengan Tono. Ouhgg aku akan klimaks.. ohh oohhh!” jerit Aya dalam hati.

Aya mencengkram bantal kuat-kuat ketika dari dalam kemaluannya mengalir cairan tak dikenal. Kedutan liar kemaluan Aya yang tengah orgasme hebat membuat Tono tak lagi bisa menahan ejakulasinya.

“Mhh..b-bu Aya.. b-bu.. To-no mau..ma—“

Mereka orgasme nyaris berbarengan. Ketika Aya menyiram kemaluan Tono dengan cairan cintanya, Tono membalas menyemprotkan spermanya banyak-banyak kedalam rahim Aya. 3-4 kali semprotan yang luar biasa melimpah, diserap semuanya oleh kemaluan haus Aya. Tono diam mematung menikmati ejakulasi yang paling nikmat yang ia pernah rasakan, hingga akhirnya batangnya mengempis dan terlepeh dengan sendirinya dari dalam kemaluan Aya.

Baca Juga : Cerita Seks ku: Bersama dengan 3 Perempuan

Aya mendengus pelan tatkala ia kembali turun dari langit ketujuh. Tono yang juga akhirnya kembali kesadarannya, berubah panik dan pucat manakala ia melihat spermanya mengalir pelan dari dalam kemaluan Aya jatuh hingga ke kasur. Didorong oleh rasa takut, Tono segera meloncat dari atas kasur. Ia nyaris terjerembap sangking lemas dengkulnya ia rasa. Seperti maling yang ketahuan, Tono segera berlari keluar secepat mungkin kabur dari kamar dan keluar rumah meninggalkan Aya yang juga masih terhuyung lemas dan kebingungan karena Tono telah hilang entah kemana.

Tuesday, December 9, 2025

Cerita Seks ku: Bersama dengan 3 Perempuan

Cerita Dewasa Seks – Sebenarnya aku tidak istimewa, wajahku juga tidak terlalu tampan, tinggi dan bentuk tubuhku juga biasabiasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Tapi entah kenapa aku banyak disukai wanita. Bahkan ada yang terangterangan mengajakku berkencan. Tapi aku tidak pernah berpikir sampai ke sana. Aku belum mau pacaran. Waktu itu aku masih duduk di bangku kelas dua SMA. Padahal hampir semua temantemanku yang laki, sudah punya pacar. Bahkan sudah ada yang beberapa kali ganti pacar. Tapi aku sama sekali belum punya keinginan untuk pacaran. Walau sebenarnya banyak juga gadisgadis yang mau jadi pacarku.

Waktu itu hari Minggu pagi. Iseng-iseng aku berjalanjalan memakai pakaian olah raga. Padahal aku paling malas berolah raga. Tapi entah kenapa, hari itu aku pakai baju olah raga, bahkan pakai sepatu juga. Dari rumahku aku sengaja berjalan kaki. Sesekali berlari kecil mengikuti orangorang yang ternyata cukup banyak juga yang memanfaatkan minggu pagi untuk berolah raga atau hanya sekedar berjalanjalan menghirup udara yang masih bersih.

Tidak terasa sudah cukup jauh juga meninggalkan rumah. Dan kakiku sudah mulai terasa pegal. Aku duduk beristirahat di bangku taman, memandangi orangorang yang masih juga berolah raga dengan segala macam tingkahnya. Tidak sedikit anakanak yang bermain dengan gembira.

Belum lama aku duduk beristirahat, datang seorang gadis yang langsung saja duduk di sebelahku. Hanya sedikit saja aku melirik, cukup cantik juga wajahnya. Dia mengenakan baju kaos yang ketat tanpa lengan, dengan potongan leher yang lebar dan rendah, sehingga memperlihatkan seluruh bahu serta sebagian punggung dan dadanya yang menonjol dalam ukuran cukup besar. Kulitnya putih dan bersih celana pendek yang dikenakan membuat pahanya yang putih dan padat jadi terbuka. Cukup leluasa untuk memandangnya. Aku langsung berpurapura memandang jauh ke depan, ketika dia tibatiba saja berpaling dan menatapku.



Lagi ada yang ditunggu?, tegurnya tibatiba.
Aku terkejut, tidak menyangka kalau gadis ini menegurku. Cepatcepat aku menjawab dengan agak gelagapan juga. Karena tidak menduga kalau dia akan menyapaku.
Tidak.., Eh, kamu sendiri..?, aku balik bertanya.
Sama, aku juga sendirian, jawabnya singkat.

Aku berpaling dan menatap wajahnya yang segar dan agak kemerahan. Gadis ini bukan hanya memiliki wajah yang cukup cantik tapi juga punya bentuk tubuh yang bisa membuat mata lelaki tidak berkedip memandangnya. Apalagi pinggulnya yang bulat dan padat berisi. Bentuk kakinya juga indah. Entah kenapa aku jadi tertarik memperhatikannya. Padahal biasanya aku tidak pernah memperhatikan wanita sampai sejauh itu.
Jalanjalan yuk.., ajaknya tibatiba sambil bangkit berdiri.
Kemana?, tanyaku ikut berdiri.
Kemana saja, dari pada bengong di sini, sahutnya.

Tanpa menunggu jawaban lagi, dia langsung mengayunkan kakinya dengan gerakan yang indah dan gemulai. Bergegas aku mengikuti dan mensejajarkan ayunan langkah kaki di samping sebelah kirinya. Beberapa saat tidak ada yang bicara. Namun tiba-tiba saja aku jadi tersentak kaget, karena tanpa diduga sama sekali, gadis itu menggandeng tanganku. Bahkan sikapnya begitu mesra sekali. Padahal baru beberapa detik bertemu. Dan akujuga belum kenal namanya.

Dadaku seketika jadi berdebar menggemuruh tidak menentu. Kulihat tangannya begitu halus dan lembut sekali. Dia bukan hanya menggandeng tanganku, tapi malah mengge1ayutinya. Bahkan sesekali merebahkan kepalanya dibahuku yang cukup tegap.
Eh, nama kamu siapa..?, tanyanya, memulai pembicaraan lebih dulu.
Angga, sahutku.
Akh.., kayak nama perempuan, celetuknya. Aku hanya tersenyum saja sedikit.
Kalau aku sih biasa dipanggil Fia, katanya langsung memperkenalkan diri sendiri. Padahal aku tidak memintanya.
Nama kamu bagus, aku memuji hanya sekedar berbasabasi saja.
Eh, boleh nggak aku panggil kamu Mas Angga?, Soalnya kamu pasti lebih tua dariku,? katanya meminta.

Aku hanya tersenyum saja. Memang kalau tidak pakai seragam Sekolah, aku kelihatan jauh lebih dewasa. Padahal umurku saja baru tujuh belas lewat beberapa bulan. Dan aku memperkirakan kalau gadis ini pasti seorang mahasiswi, atau karyawati yang sedang mengisi hari libur dengan berolah raga pagi. Atau hanya sekedar berjalanjalan sambil mencari kenalan baru.
Eh, bubur ayam disana nikmat lho. Mau nggak..?, ujarnya menawarkan, sambil menunjuk gerobak tukang bubur ayam. Cerita Dewasa
Boleh, sahutku.

Kami langsung menikmati bubur ayam yang memang rasanya nikmat sekali. Apa lagi perutku memang lagi lapar. Sambil makan, Fia banyak bercerita. Sikapnya begitu riang sekali, membuatku jadi senang dan seperti sudah lama mengenalnya. Fia memang pandai membuat suasana jadi akrab. 


Selesai makan bubur ayam, aku dan gadis itu kembali berjalanjalan. Sementara matahari sudah naik cukup tinggi. Sudah tidak enak lagi berjalan di bawah siraman teriknya mentari. Aku bermaksud mau pulang. Tanpa diduga sama sekali, justru Fia yang mengajak pulang lebih dulu.
Mobilku di parkir disana.., katanya sambil menunjuk deretan mobilmobil yang cukup banyak terparkir.
Kamu bawa mobil..?, tanyaku heran.
Iya. Soalnya rumahku kan cukup jauh. Malas kalau naik kendaraan umum, katanya beralasan.
Kamu sendiri..?
Aku tidak menjawab dan hanya mengangkat bahu saja.
Ikut aku yuk.., ajaknya langsung.

Belum juga aku menjawab, Fia sudah menarik tanganku dan menggandeng aku menuju ke mobilnya. Sebuah mobil starlet warna biru muda masih mulus, dan tampaknya masih cukup baru. Fia malah meminta aku yang mengemudi. Untungnya aku sering pinjam mobil Papa, jadi tidak canggung lagi membawa mobil. Fia langsung menyebutkan alamat rumahnya. Dan tanpa banyak tanya lagi, aku langsung mengantarkan gadis itu sampai ke rumahnya yang berada di lingkungan komplek perumahan elite. sebenarnya aku mau langsung pulang. Tapi Fia menahan dan memaksaku untuk singgah.

Ayo.., Sambil menarik tanganku, Fia memaksa dan membawaku masuk ke dalam rumahnya. Bahkan dia langsung menarikku ke lantai atas. Aku jadi heran juga dengan sikapnya yang begitu berani membawa lakilaki yang baru dikenalnya ke dalam kamar.
Tunggu sebentar ya.., kata Fia setelah membawaku ke dalam sebuah kamar.

Dan aku yakin kalau ini pasti kamar Fia. Sementara gadis itu meninggalkanku seorang diri, entah ke mana perginya. Tapi tidak lama dia sudah datang lagi. Dia tidak sendiri, tapi bersama dua orang gadis lain yang sebaya dengannya. Dan gadisgadis itu juga memiliki wajah cantik serta tubuh yang ramping, padat dan berisi.

Aku jadi tertegun, karena mereka langsung saja menyeretku ke pembaringan. Bahkan salah seorang langsung mengikat tanganku hingga terbaring menelentang di ranjang. Kedua kakiku juga direntangkan dan diikat dengan tali kulit yang kuat. Aku benarbenar terkejut, tapi tidak bisa berbuat apaapa. Karena kejadiannya begitu cepat dan tibatiba sekali, hingga aku tidak sempat lagi menyadari.

Aku dulu.., Aku kan yang menemukan dan membawanya ke sini, kata Fia tibatiba sambil melepaskan baju kaosnya.

Kedua bola mataku jadi terbeliak lebar. Fia bukan hanya menanggalkan bajunya, tapi dia melucuti seluruh penutup tubuhnya. Sekujur tubuhku jadi menggigil, dadaku berdebar, dan kedua bola mataku jadi membelalak lebar saat Fia mulai melepaskan pakaian yang dikenakannya satu persatu sampai polos sama sekali.. Akhh tubuhnya luar biasa bagusnya.. baru kali ini aku melihat payudara seorang gadis secara dekat, payudaranya besar dan padat.

Bentuk pinggulnya ramping dan membentuk bagai gitar yang siap dipetik, Bulubulu vaginanya tumbuh lebat di sekitar kemaluannya. Sesaat kemudian Fia menghampiriku, dan merenggut semua pakaian yang menutupi tubuhku, hingga aku henarbenar polos dalam keadaan tidak berdaya. Bukan hanya Fia yang mendekatiku, tapi kedua gadis lainnya juga ikut mendekati sambil menanggalkan penutup tubuhnya.
Eh, apaapaan ini? Apa mau kalian..?, aku membentak kaget.

Tapi tidak ada yang menjawab. Fia sudah menciumi wajah serta leherku dengan hembusan napasnya yang keras dan memburu. Aku menggelinjang dan berusaha meronta. Tapi dengan kedua tangan terikat dan kakiku juga terentang diikat, tidak mudah bagiku untuk melepaskan diri. Sementara itu bukan hanya Fia saja yang menciumi wajah dan sekujur tubuhku, tapi kedua gadis lainnya juga melakukan hal yang sama.

Sekujur tubuhku jadi menggeletar hebat Seperti tersengat listrik, ketika merasakan jarijari tangan Fia yang lentik dan halus menyambar dan langsung meremasremas bagian batang penisku. Seketika itu juga batang penisku tibatiba menggeliatgeliat dan mengeras secara sempurna, aku tidak mampu melawan rasa kenikmatan yang kurasakan akibat penisku di kocok-kocok dengan bergairah oleh Fia. Aku hanya bisa merasakan seluruh batangan penisku berdenyutdenyut nikmat.

Aku benarbenar kewalahan dikeroyok tiga orang gadis yang sudah seperti kerasukan setan. Gairahku memang terangsang seketika itu juga. Tapi aku juga ketakutan setengah mati. Berbagai macam perasaan berkecamuk menjadi satu. Aku ingin meronta dan mencoba melepaskan diri, tapi aku juga merasakan suatu kenikmatan yang biasanya hanya ada di dalam hayalan dan mimpimimpiku.

Aku benar-benar tidak berdaya ketika Fia duduk di atas perutku, dan menjepit pinggangku dengan sepasang pahanya yang padat. Sementara dua orang gadis lainnya yang kutahu bernama Rika dan Sari terus menerus menciumi wajah, leher dan sekujur tubuhku. Bahkan mereka melakukan sesuatu yang hampir saja membuatku tidak percaya, kalau tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri.

Saat itu juga aku langsung menyadari kalau gadisgadis ini bukan hanya menderita penyakit hiperseks, tapi juga biseks. Mereka bisa melakukan dan mencapai kepuasan dengan lawan jenisnya, dan juga dengan sejenisnya. Bahkan mereka juga menggunakan alatalat untuk mencapai kepuasan seksual. Aku jadi ngeri dan takut membayangkannya.

Sementara itu Fia semakin asyik menggerakgerakkan tubuhnya di atas tubuhku. Meskipun ada rasa takut dalam diriku, tetapi aku benarbenar merasakan kenikmatan yang amat sangat, baru kali ini penisku merasakan kelembutan dan hangatnya lubang vagina seorang gadis, lembut, rapat dan sedikit basah, Riapun merasakan kenikmatan yang sama, bahkan sesekali aku mendengar dia merintih tertahan. Fia terus menggenjot tubuhnya dengan gerakangerakan yang luar biasa cepatnya membuatku benarbenar tidak kuasa lagi menerima kenikmatan bertubitubi aku berteriak tertahan.

Fia yang mendengarkan teriakanku ini tibatiba mencabut vaginanya dan secara cepat tangannya meraih dan menggenggam batang penisku dan melakukan gerakangerakan mengocok yang cepat, hingga tidak lebih dari beberapa detik kemudian aku merasakan puncak kenikmatan yang luar biasa berbarengan dengan spermaku yang menyemprot dengan derasnya. Fia terus mengocokngocok penisku sampai spermaku habis dan tidak bisa menyemprot lagi tubuhku merasa ngilu dan mengejang.

Tetapi Fia rupanya tidak berhenti sampai disitu, kemudian dengan cepat dia dibantu dengan kedua temannya menyedot seluruh spermaku yang bertebaran sampai bersih dan memulai kembali menggenggam batang penisku eraterat dengan genggaman tangannya sambil mulutnya juga tidak lepas mengulum kepala penisku. Perlakuannya ini membuat penisku yang biasanya setelah orgasme menjadi lemas kini menjadi dipaksa untuk tetap keras dan upaya Fia sekarang benarbenar berhasil. Penisku tetap dalam keadaan keras bahkan semakin sempurna dan Fia kembali memasukkan batangan penisku ke dalam vaginanya kembali dan dengan cepatnya Fia menggenjot kembali vaginanya yang sudah berisikan batangan penisku.

Aku merasakan agak lain pada permainan yang kedua ini. Penisku terasa lebih kokoh, stabil dan lebih mampu meredam kenikmatan yang kudapat. Tidak lebih dari sepuluh menit Fia memperkosaku, tibatiba dia menjerit dengan tertahan dan Fia tiba-tiba menghentikan genjotannya, matanya terpejam menahan sesuatu, aku bisa merasakan vagina Fia berdenyutdenyut dan menyedotnyedot penisku, hingga akhirnya Fia melepaskan teriakannya saat ia merasakan puncak kenikmatannya. Aku merasakan vagina Fia tibatiba lebih merapat dan memanas, dan aku merasakan kepala penisku seperti tersiram cairan hangat yang keluar dari vagina Fia. Saat Fia mencabut vaginanya kulihat cairan hangat mengalir dengan lumayan banyak di batangan peni

Setelah Fia Baru saja mendapatkan orgasme, Fia menggelimpang di sebelah tubuhku. Setelah mencapai kepuasan yang diinginkannya, melihat itu Sari langsung menggantikan posisinya. Gadis ini tidak kalah liarnya. Bahkan jauh lebih buas lagi daripada Fia. Membuat batanganku menjadi sedikit sakit dan nyeri. Hanya dalam tidak sampai satu jam, aku digilir tiga orang gadis liar. Mereka bergelinjang kenikmatan dengan dalam keadaan tubuh polos di sekitarku, setelah masingmasing mencapai kepuasan yang diinginkannya.

Sementara aku hanya bisa merenung tanpa dapat berbuat apaapa. Bagaimana mungkm aku bisa melakukan sesuatu dengan kedua tangan dan kaki terikat seperti ini..?

Aku hanya bisa berharap mereka cepatcepat melepaskan aku sehingga aku bisa pulang dan melupakan semuanya. Tapi harapanku hanya tinggal anganangan belaka. Mereka tidak melepaskanku, hanya menutupi tubuhku dengan selimut. Aku malah ditinggal seorang diri di dalam kamar ini, masih dalam keadaan telentang dengan tangan dan kaki terikat tali kulit. Aku sudah berusaha untuk melepaskan diri. Tapi justru membuat pergelangan tangan dan kakiku jadi sakit. Aku hanya bisa mengeluh dan berharap gadisgadis itu akan melepaskanku.

Sungguh aku tidak menyangka sama sekali. Ternyata ketiga gadis itli tidak mau melepaskanku. Bahkan mereka mengurung dan menyekapku di dalam kamar ini. Setiap saat mereka datang dan memuaskan nafsu birahinya dengan cara memaksa. Bahkan mereka menggunakan obatobatan untuk merangsang gairahku. Sehingga aku sering kali tidak menyadari apa yang telah kulakukan pada ketiga gadis itu. Dalam pengaruh obat perangsang, mereka melepaskan tangan dan kakiku. Tapi setelah mereka mencapai kepuasan, kembali mengikatku di ranjang ini. Sehingga aku tidak bisa meninggalkan ranjang dan kamar ini.

Dan secara bergantian mereka mengurus makanku. Mereka memandikanku juga di ranjang ini dengan menggunakan handuk basah, sehingga tubuhku tetap bersih. Meskipun mereka merawat dan memperhatikanku dengan baik, tapi dalam keadaan terbelenggu seperti ini siapa yang suka? Berulang kali aku meminta untuk dilepaskan. Tapi mereka tidak pernah menggubris permintaanku itu. Bahkan mereka mengancam akan membunuhku kalau berani berbuat macammacam. Aku membayangkan kalau orang tua dan saudarasaudara serta semua temanku pasti kebingungan mencariku.

Karena sudah tiga hari aku tidak pulang akibat disekap gadisgadis binal dan liar ini. Meskipun mereka selalu memberiku makanan yang lezat dan bergizi, tapi hanya dalam waktu tiga hari saja tubuhku sudah mulai kelihatan kurus. Dan aku sama sekali tidak punya tenaga lagi. Bahkan aku sudah pasrah. Setiap saat mereka selalu memaksaku menelan obat perangsang agar aku tetap bergairah dan bisa melayani nafsu birahinya. Aku benarbenar tersiksa. Bukan hanya fisik, tapi juga batinku benarbenar tersiksa. Dan aku sama sekali tidak berdaya untuk melepaskan diri dari cengkeraman gadisgadis binal itu.

Tapi sungguh aneh. Setelah lima hari terkurung dan tersiksa di dalam kamar ini, aku tidak lagi melihat mereka datang. Bahkan sehari semalam mereka tidak kelihatan. Aku benarbenar ditinggal sendirian di dalam kamar ini dalam keadaan terikat dan tidak berdaya. Sementara perutku ini terus menerus menagih karena belum diisi makanan. Aku benarbenar tersiksa lahir dan batin. 

Namun keesokan harinya, pintu kamar terbuka. Aku terkejut, karena yang datang bukan Fia, Santi atau Rika Tapi seorang lelaki tua, bertubuh kurus. Dia langsung menghampiriku dan membuka ikatan di tangan dan kaki. Saat itu aku sudah benarbenar lemah, sehingga tidak mampu lagi untuk bergerak. Dan orang tua ini memintaku untuk tetap berbaring. Bahkan dia memberikan satu stel pakaian, dan membantuku mengenakannya.
Tunggu sebentar, Bapak mau ambilkan makanan, katanya sambil berlalu meninggalkan kamar ini.

Dan memang tidak lama kemudian dia sudah kembali lagi dengan membawa sepiring nasi dengan lauk pauknya yang mengundang selera. Selama dua hari tidak makan, membuat nafsu makanku jadi tinggi sekali. Sebentar saja sepiring nasi itu sudah habis berpindah ke dalam perut. Bahkan satu teko air juga kuhabiskan. Tubuhku mulai terasa segar. Dan tenagaku berangsur pulih.
Bapak ini siapa?, tanyaku
Saya pengurus rumah ini, sahutnya.
Lalu, ketiga gadis itu.., tanyaku lagi.
hh.., Mereka memang anakanak nakal. Maafkan mereka, Nak.., katanya dengan nada sedih.
Bapak kenal dengan mereka?, tanyaku.
Bukannya kenal lagi. Saya yang mengurus mereka sejak kecil. Tapi saya tidak menyangka sama sekali kalau mereka akan jadi binal seperti itu. Tapi untunglah, orang tua mereka telah membawanya pergi dari sini. Mudahmudahan saja kejadian seperti ini tidak terulang lagi, katanya menuturkan dengan mimik wajah yang sedih.

Aku juga tidak bisa bilang apaapa lagi. Setelah merasa tenagaku kembali pulih, aku minta diri untuk pulang. Dan orang tua itu mengantarku sampai di depan pintu. Kebetulan sekali ada taksi yang lewat. Aku langsung mencegat dan meminta supir taksi mengantarku pulang ke rumahku. Di dalam perjalanan pulang, aku mencoba merenungi semua yang baru saja terjadi.

Baca Juga :  Cerita Sex Ku : Ngewe untuk Melunasi Hutang

Aku benarbenar tidak mengerti, dan hampir tidak percaya. Seakanakan semua yang terjadi hanya mimpi belaka. Memang aku selalu menganggap semua itu hanya mimpi buruk. Dan aku tidak berharap bisa terulang lagi. Bahkan aku berharap kejadian itu tidak sampai menimpa orang lain. Aku selalu berdoa semoga ketiga gadis itu menyadari kesalahannya dan mau bertobat. Karena yang mereka lakukan itu merupakan suatu kesalahan besar dan perbuatan hina yang seharusnya tidak perlu terjadi.